Wawancara Dr. Nikolaos Van Dam: Myanmar Hanya Mau Mendengar Indonesia



WartaIslami ~ Malam itu, Mantan Dubes Belanda untuk Indonesia, Dr. Nikolaos Van Dam, segera menarik perhatian pada Resepsi Diplomatik dalam rangka Hari Ulang Tahun ke-72 RI, di residensi Duta Besar RI, Rabu waktu setempat atau Kamis (7/9/2017) WIB.

Setelah mengucapkan selamat kepada tuan rumah, Dubes I Gusti Agung Wesaka Puja, didampingi Deputy Chief of Mission Ibnu Wahyutomo, dan istri masing-masing, Dubes Van Dam segera berbaur dengan tamu dalam resepsi berformat pesta kebun.

Diplomat senior dan dubes aktif terlama (22 tahun) dalam berbagai jabatan tertinggi dan pernah bertugas di Jakarta (2005-2010) itu menerima kumparan Den Haag (kumparan.com), di sela-sela kesibukannya beramah-tamah dengan tamu kalangan diplomatik, politik dan pemerintahan lainnya.

Sejak meninggalkan Jakarta tujuh tahun lalu, apakah Pak Van Dam masih mengikuti perkembangan Indonesia? Jika iya, isu apa yang paling menarik?

Tentu saya masih terus mengikuti. Isu paling menarik adalah pertemuan Menlu Retno dan Aung San Su Kyi, yang juga mendapat perhatian media di sini (Belanda, red). Bagaimana Indonesia dengan cepat mengambil inisiatif untuk membantu menangani isu Rohingya, yang kembali mencuat.

Tapi rezim Myanmar terkesan tak cukup sensitif dengan reaksi dunia, bahkan menutup akses PBB. Diperlukan sanksi lagi atau sikap lebih tegas?

Untuk mencapai sesuatu, dialog akan lebih berdaya guna daripada sanksi atau apa pun. Sanksi tak banyak membantu, berbagai macam bentuk sanksi terbukti tidak mengubah apa pun sesuai dengan tujuan dijatuhkannya sanksi tersebut. Dialog dan sekali lagi dialog itu lebih efektif.

Sebagian kalangan menginginkan lebih dari itu. Bagaimana Pak Van Dam melihat hal ini?

Dialog kunci penting dalam konflik di mana pun di dunia. Banyak politisi kurang memahami hal ini. Mereka menilai dialog tidak selalu membuahkan hasil, tapi saya termasuk yang meyakini dialog. Bahkan jika kita mengira dialog tak akan berhasil, kita tetap harus mencoba lagi. Sebab alternatif lainnya telah terbukti sia-sia.

Dalam isu Rohingya yang menjadi perhatian dunia, Indonesia saat ini memainkan peran yang sangat diperlukan. Kita tidak selalu bisa menuntut hal-hal substantif, tapi kadang perlu merangkul dengan sikap bersahabat. Pendekatan konstruktif, sikap bijaksana yang diambil Indonesia ini terbukti berhasil mengubah pendirian para pemimpin Myanmar.

Dalam misi ke Myanmar, Menlu Retno membawa prakarsa formula 4+1 untuk Rakhine State dan berhasil disampaikan ke Aung San Su Kyi. Apa pendapat Pak Van Dam?

Indonesia dengan Menlu Retno merupakan figur yang tepat untuk membantu menangani isu Rohingya. Pemimpin Myanmar tetap bergeming dengan segala tekanan dan sanksi. Dunia menyaksikan bahwa mereka hanya mau mendengar dan membuka diri untuk Indonesia. Dan saya ikut gembira Retno dapat dengan mulus masuk ke sana untuk menyampaikan pesan.

Sebagai profesional dan pribadi, Pak Van Dam mengenal siapa Menlu Retno?

Saya mengenal Retno dalam berbagai jenjang. Sejak mula-mula dia Direktur Eropa, kemudian saya diundang makan siang perpisahan sebelum dia berangkat mendapat promosi sebagai Dubes untuk Norwegia, lalu kembali lagi ke Jakarta sebagai Dirjen Amerika dan Eropa. Selanjutnya saya mengenal lebih dekat ketika dia bertugas di sini (Dubes RI di Den Haag, red).

Dia seorang negosiator ulung dan ulet. Sebagai Dubes dan Menlu dia menunjukkan kinerja yang sangat bagus. Cara Retno menyampaikan sesuatu itu adalah kekuatannya. Saya punya banyak kenangan sangat berkesan dengan Retno, saya berharap juga sebaliknya.

Sekarang soal hubungan bilateral Indonesia-Belanda saat ini, bagaimana menurut Pak Van Dam?

Hubungan bilateral Indonesia-Belanda boleh dikata saat ini mulus cerah, secerah cuaca hari ini. Saya senang kedua negara semakin dewasa dan mantap. Tentu masih bisa lebih baik lagi dan bisa lebih ditingkatkan. Ini menjadi tugas Kementerian dan Kedutaan kedua pihak. Dan saya melihat Dubes menjalankan tugasnya dengan baik dan berkontribusi besar ke arah itu.

Semakin dewasa dan mantap, maksud Pak Van Dam persisnya seperti apa?

Kedua negara kini telah memiliki Comprehensive Partnership Agreement/CPA (Perjanjian Kemitraan Menyeluruh, red). Tapi saya ingin mengatakan bahwa perjanjian ini terlalu berlarut-larut ditandatangani. Seharusnya sudah bisa ditandatangani saat saya masih bertugas di Jakarta, antara lain karena ada penundaan kunjungan kenegaraan Presiden.

Setelah periode itu pembicaraan dimulai kembali antara Menlu Wirajuda dan Ben Bot. Begitulah dalam politik, yang memerlukan persetujuan di tingkat tinggi. Ini yang membuat (proses) perjanjian itu begitu lama. Namun dalam praktiknya kedua negara telah memiliki hubungan kerja sama yang sangat baik. Perjanjian ini sebagai payung kerja sama yang sudah ada.

Cukup lama telah meninggalkan Jakarta, pernahkah Pak Van Dam merasa rindu atau justru sebaliknya?

Kalau ditanya rindu, tentu saya sangat rindu. Saya sangat menikmati Indonesia, juga Jakarta. Jadi sangat berat bagi saya ketika harus berpisah meninggalkan Indonesia. Kalau soal makanan, di sini di Belanda pun saya juga bisa mendapatkannya, meskipun jika kita memasak nasi goreng di sini rasanya beda dengan di Jakarta.

Saya ingin ke sana tapi bukan untuk konferensi sehari atau apa, tapi berpekan-pekan, sehingga saya betul-betul bisa menikmati dan memupuk kemampuan bahasa. Terutama masyarakatnya, budayanya, suasananya. Itu saya sangat kehilangan.

Tentang Dubes Dr. Nikolaos van Dam

Tempat, Tanggal Lahir: 

Amsterdam, 1 April 1945

Pendidikan: 

Hubungan Internasional dan Sejarah Modern Timur Tengah, merangkap Bahasa Arab dan Islam, FISIP University of Amsterdam, cum laude (1973).

Meraih gelar doktor pada University of Amsterdam setelah mempertahankan tesis The Role of Sectarianism, Regionalism and Tribalism in the Struggle for Political Power in Syria (1977).

Karier:

Dubes aktif terlama (22 tahun) dalam sejarah Belanda, menjadi Dubes pertama di Baghdad (1988-1991) dan pensiun setelah mengakhiri tugas di Indonesia (2005-2010).

Anggota Dewan Penasihat Kemlu Belanda, Komisi Perdamaian dan Keamanan (2011 - kini)

Anggota Dewan Penasihat bidang Pendidikan dan Penelitian The Clingendael Netherlands Institute of International Relations (2011 - kini)

Anggota Dewan Pengawas The Indonesia Netherlands Society (2012 - kini).

Laporan Reporter kumparan di Den Haag: Eddi Santosa 



Resource Berita : kumparan.com
2 Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

2 Responses to "Wawancara Dr. Nikolaos Van Dam: Myanmar Hanya Mau Mendengar Indonesia "

  1. Dapatkan BONUS 100RB . Tersedia SEMUA Permainan
    BONUS CASHBACK TERTINGGI s/d 10%
    Pembayaran AMAN dan TERJAMIN! SIAP BAYAR BERAPAPUN!
    Info Lebih Lanjut Hubungi :
    Bolavita. co / 855sm. net
    BBM : D8C363CA
    WA : 0813-7705-5002

    ReplyDelete
  2. Disini aku mau Sharing aja ya
    Banyak temen aku yang tercukupi kebutuhannya tanpa kerja
    Caranya bagaimana?? hanya mengeluarkan 10 ribu
    untuk bermain di www. pokerayam .com hanya hitungan menit saja
    ratusan hingga jutaan pun didapat dikarenakan pokerayam
    selalu memberikan promo dan keberuntungan kepada member setianya
    banyak promo dan hadiah menarik yang akan update disetiap saat
    yuk silahkan bergabung pada pokerayam jangan lewatkan
    MODAL 10 ribu MENJADI 1 JUTA
    info keberuntungan lebih lanjut bbm : D8C0B757
    Capsa Susun
    Bandar Ceme
    Live Poker
    Texas Poker
    Domino QQ
    Ceme Keliling
    Poker Terbaik

    ReplyDelete

close
Banner iklan disini