Subhanallah! Non Muslim Memeluk Islam di PBNU Terus Berdatangan

Subhanallah! Non Muslim Memeluk Islam di PBNU Terus Berdatangan



WartaIslami ~ Berkah Nahdlatul Ulama (NU) semakin banyak non Islam percaya terhadap Islam. Kepercayaan mereka tak sekadar ungkapan lisan. Mereka benar-benar percaya terhadap islam. Mereka lantas berikrar dan memeluk agama Islam.

Terbukti, belum dua pekan berlalu sudah empat non muslim memeluk Islam di PBNU. Pertama pemuda asal Lampung Timur Panca Windu Sugara. Kemudian Tjindrawati dan Tan Ke Moy warga Jakarta. Sekarang ada lagi. Dia pemuda bernama Febri Widianto (29), warga Tanggerang, Banten. Subhanallah!

Febri memeluk Islam dibimbing langsung Ketum PBNU Said Aqil Siraj di Gedung PBNU Jakarta, Rabu (18/10). Dia berikrar dengan membaca dua kalimat syahadat dengan dituntun Kiai Said.

Setelah memeluk Islam, Febri tetap dengan nama asalnya. Hanya saja Kiai Said menambah Muhammad di bagian depan. Namanya kini menjadi Muhammad Febri Widianto.

Kepada Febri, Kiai Said menceritakan tentang satu dari banyaknya kelebihan agama Islam yakni Al-Qur'an. Menurut Kiai Said, Al-Qur'an adalah kitab suci agama Islam yang sudah lima belas abad tidak berubah karena ada yang menghafal.

Meski demikian, Kiai Said tidak meminta Febri untuk mulai belajar agama Islam dengan tergesa-gesa. 

"Nanti kalau sudah iya (masuk Islam) mandi ya, ikut-ikut shalat di masjid, lama-lama bisa baca surat Fatihah, kalau ada orang tahlilan ikut," nasihat Kiai Said kepada Febri.



Resource Berita : dutaislam.com
Bagaimana Hukum Aqiqah Sekaligus Kurban Dijadikan Satu?

Bagaimana Hukum Aqiqah Sekaligus Kurban Dijadikan Satu?



WartaIslami ~ Tidak sedikit orang ketika sudah dewasa belum diaqiqahi oleh orang tuanya. Mungkin karena pada waktu itu orang tuanya belum mampu, atau disebabkan hal lain. Ketika orang tersebut sudah dewasa, ia ingin mengaqiqahi dirinya, kebetulan berketepatan dengan hari raya Kurban. Lalu bagaimana hukumnya jika aqiqah dan kurban niatnya jadi satu?

Hukum aqiqah sendiri adalah sunnah, dan disunnahkan pula dikerjakan pada hari ketujuh dengan menyembelih 1 kambing bagi perempuan, dan 2 kambing bagi laki-laki. Jika seseorang telah menginjak dewasa, dan waktu kelahirannya belum diaqiqahi oleh orang tuanya, maka ia diberi pilihan untuk mengaqiqahi dirinya sendiri atau boleh pula meninggalkannya.

فإن تأخرت للبلوغ سقط حكمها في حق العاق عن المولود؛ أما هو فمخير في العق عن نفسه والترك.

Artinya: Apabila aqiqah belum dilaksanakan sedang anak sudah baligh, maka hukum aqiqah bagi haknya orang tua terhadap anak telah gugur. Adapun si anak (yang sudah baligh) maka boleh memilih antara mengaqiqahi dirinya sendiri atau meninggalkannya. (Fathul Qarib, Dar Ibnu Hazm, Beirut, h. 315)

Sedangkan apabila ia mengaqiqahi dirinya sendiri kebetulan bersamaan antara tanggal 10-13 Dzulhijjah, dan berkeinginan melakukan kurban, maka para ulama berbeda pendapat mengenai hal ini (niat aqiqah dan kurban jadi satu).

Menurut Imam Ibnu Hajar Al Haitami, orang tersebut hanya berhasil mendapatkan pahala salah satunya saja. Sedangkan menurut Imam Romli, ia bisa mendapatkan pahala kedua-duanya.

 (مسألة): لو نوى العقيقة والضحية لم تحصل غير واحدة عند (حج) ويحصل الكل عند (م ر)

Artinya: (Masalah) Jika ada orang berniat melakukan aqiqah dan kurban (secara bersamaan) tidak menghasilkan pahala kecuali hanya salah satunya saja menurut Imam Ibnu Hajar Al Haitami dan menghasilkan pahala kedua-duanya menurut Imam Romli. (Ibnu Hajar Al Haitami, Itsmidil Ain, Darul Fikr, h:127).

Dengan demikian, jika Anda mengalami hal seperti di atas, Anda boleh memilih di antara dua pendapat tersebut. Namun saran kami, apabila Anda termasuk orang yang diberikan Allah harta yang lebih, pilihlah pendapat Imam Ibnu hajar Al Haitami, sebab dengan demikian Anda akan lebih banyak membantu terhadap sesama.


Resource Berita : dutaislam.com
Kehebatan Metode Utawi Iki Iku dalam Kitab Kuning

Kehebatan Metode Utawi Iki Iku dalam Kitab Kuning



WartaIslami ~ Satu anak didik saya yang sekarang saya titipkan kepada seorang ustadz balik ke rumah. Saya tanya, "Krasan (betah) mondoknya?"

“Tidak," jawabnya.
“Kenapa tidak krasan?"

“Karena ustadznya mengajarnya tidak pakai 'utawi iki iku', saya jadi kesulitan memahami pelajaran-pelajaran beliau."

Saya tersentak. Saya merasa bersalah. Memang ustadz yang saya titipi bisa dikatakan alim, dia mutakharrij (lulusan) Rubath Tarem. Tetapi jika mengajar tidak pakai rumus 'utawi iki iku' bagi santri Jawa ya repot. Lalu saya teringat paparan tentang hal ini. Dituturkan oleh kakak saya saat menjadi wakil keluarga dalam rangka Haul ayah saya, Kiai Mas’udi. Saya ambil bagian pentingnya saja. Meskipun panjang, insyaallah paparan beliau menarik. Sebab selain menjelaskan tentang pentingnya 'utawi iki iku', juga menerangkan banyak hal yang berhubungan dengan ranah keilmuan dunia pesantren Jawa.

Beliau pada bagian terakhir menerangkan begini, “Mbah Fadhol Senori sesudah menulis kitab Kasyf at-Tabarih , beliau pernah didatangkan oleh Kiai Mas’udi ke masjid ini dan beliau ajarkan kitab tersebut di hadapan para masyarakat terutama para kiai. Masjid mutih ini luar biasa, banyak orang-orang hebat pernah shalat di sini. Setidaknya yang pernah saya ketahui diantaranya Kiai Fadhol Senori, Mbah Raden Asnawi Kudus, beliau pernah juga memberikan pengajarannya di masjid ini, dan Mbah Kiai Idris bin Kamali Kempek, saat pernikahan Kiai Ali Murtadho. Mbah Idris datang ke sini tiga hari dan ikut shalat Jum’at di sini. Mbah Idris ini adalah menantunya Hadhratus Syaikh Kiai Hasyim Asy’ari.

Kiai Mas’udi pernah mengaji dengan Mbah Fadhol. Mbah Fadhol muridnya Kiai Makmun Jam’an al-Bogori. Kiai Makmun Jam’an muridnya Syaikh Nawawi al-Bantani. Jadi Kiai Mas’udi ini punya jalur sanad dari Kiai Sholeh Darat dan juga punya sanad dari Syaikh Nawawi al-Bantani.

Kiai Mas’udi muridnya Mbah Sanusi. Mbah Sanusi muridnya Mbah Maksum Lasem
(selain mengaji kepada Mbah Kholil Lasem). Mbah Maksum Lasem muridnya Syaikhona Kholil Madura. Berarti Kiai Mas’udi ini punya sanad keilmuan juga ke Syaikhona Kholil Bangkalan Madura.

Tiga orang ini; Mbah Kholil Bangkalan, Mbah Sholeh Darat dan Mbah Nawawi Banten adalah Pendobrak Tanah Jawa. Tiga serangkai yang punya jasa besar dalam dunia Pesanteren Indonesia terutama tanah Jawa. Dimana sesudah tiga orang kiai besar ini, rata-rata ulama Jawa adalah murid mereka atau muridnya salah satu dari mereka. Ketiga orang ini adalah selain alim juga merupakan orang-orang yang dekat dengan Allah Ta’ala, kita mengenalnya sebagai Waliyullah, kekasih Allah Ta’ala.

Kiai Mas’udi sangat membanggakan Kiai Sholeh Darat. Beliau sangat suka dengan Kiai Sholeh Darat. Sementra Kiai Sholeh Darat ini, menurut guru saya Abah Dim Kaliwungu, adalah Mujaddid Tanah Jawa di masanya. Santri-santri Jawa sekarang ini bisa membaca Kitab Kuning karena jasa besar beliau.

Saat Mbah Sholeh masih belajar di Makkah, belum pulang ke Jawa, para anak negeri kalau ingin mengaji kitab susahnya minta ampun. Tetapi begitu Mbah Sholeh pulang ke Jawa, beliau membuat rumus:

والمبتداء بلأتوي اكو خبر # افـا لفاعل ايغ لمفعول ظهر

Walmubtada bil-Utawi Iku Khobar # Afa li-Fa'ilin Ing li-Maf’ulin Dzahar

Pokok jika seorang kiai ngomong 'Utawi', santri akan paham kalau itu adalah Mubtada’. 'Iku' artinya Khobar. 'Apa' adalah Fail. Dan sudah jelas 'Ing' adalah Maf’ul. Ini rumus yang luar biasa. Metodologi pesantren yang dirumuskan oleh Kiai Sholeh tersebut punya pengaruh besar, punya manfaat besar dalam memintarkan para santri. Buktinya metodologi beliau tersebut masih dipakai hingga sekarang.

Kalau mau mengaji ke Jawa tanpa 'utawi iki iku' itu tidak akan berhasil (baik) meskipun sudah S-3 Mesir sekalipun. Saya punya sahabat sudah S-3; S-1 di al-Azhar, S-2 dan S-3 di Maroko. Tetapi kelamaan di sana selama 20 tahun, saat pulang ke Jawa 'utawi iki iku'nya lupa. Dia mengeluh kepada saya, “Aku paham kitab, tetapi di sini tanpa 'utawi iki iku', murid-muridku tidak paham. Aku jadi bingung. Tolong aku diingatkan lagi...”

Saya jawab, “Ok, gampang. Almubtada bil-Utawi Iku Khobar # Afa li-Fa'ilin Ing li-Maf’ulin Dzahar…”

Kiai Sholeh Darat memang seorang Alim besar sekaligus Waliyullah. Sehingga Kiai Mas’udi sangat menyukainya.

Abah Dim Kaliwungu berkisah kepada saya, “Pernah Syaikh Nawawi Banten itu, pulang ke Indonesia. O ya, tiga orang ini, Kiai Nawawi Banten, Kiai Sholeh Darat dan Kiai Kholil Bangkalan mengajinya sama-sama di Makkah. Sama-sama mengaji kepada as-Sayyid Bakri Syatha. Sayyid Bakri Syatha mengaji kepada Syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan al-Makki, Mufti Syafi'iyyah Makkah. Ketiganya sangat akrab, dan termasuk satu angkatannya adalah Syaikh Khathib Minangkabau. Tetapi budayanya beda, akhlaknya beda.

Kalau akhlaknya kiai Jawa akhlaknya orang Jawa Mutawadhi’ (tawadhu'). Sedangkan akhlaknya orang Sumatra –soal perbedaan karakter ini kesimpulan bukan dari Abah Dim, tetapi saya ambil dari sebuah buku milik orang Belanda dari Universitas Leiden yang mengutip dari laporan Snouck Hurgronje, seorang oreantalis yang pernah hidup menyamar sebagai Abdul Ghoffar di Makkah, (tetapi kabar Snouck Hurgronje sampai mengimami di Masjidil Haram itu Hoax, kalau dia pernah di Makkah memang ya). Snouck Hurgronje berkata, “Kalau kiai Sumatra memang alim, kritis tetapi akhlaknya bukan seperti Kiai Jawa. Mereka itu lebih terlihat sebagai orang-orang yang cerdas, sedangkan kiai-kiai Jawa itu terlihat sisi-sisi ketawadhu’annya."

Kiai Nawawi Banten pulang ke Indonesia, beliau kangen dengan seorang sahabatnya dari kota Batang, namanya Kiai Anwar. Kiai Anwar ini juga dulunya di Makkah, seorang yang sangat Alim ilmu fikih, punya karangan kitab berjudul ‘Aysul Bahri. Kiai Anwar punya murid namanya Kiai Amir Pekalongan. Kiai Amir Pekalongan punya murid namanya Kiai Yasin Bareng Kudus. Kiai Yasin punya murid namanya Mbah Muhammadun Pondowan Pati. Kiai Muhammadun punya murid Kiai Mas’udi.

Dalam kitab ‘Aysul Bahri ada kalimat seperti ini:

وامـا الكفتيغ والكيوغو فكلاهمـا حلالان

Wa-ammal kepitingu wal kiyongu fakilahuma halalani. Jadi yang pertama dan satu-satunya ulama Indonesia saat itu yang menghalalkan kepiting cuma Kiai Anwar saja. Semua ulama Jawa mengharamkan kepiting.

Di lain tempat Mbah Kiai Sholeh Darat juga tergerak hatinya untuk silaturrahim ke Kiai Anwar ini. Lebih menakjubkan lagi, yang di Madura, Mbah Kiai Kholil juga tergerak untuk berjumpa dengan Kiai Anwar.

Akhirnya kesemua kiai itu, Kiai Nawawi, Kiai Sholeh Darat dan Kiai Kholil Bangkalan berkumpul di waktu yang sama di tempatnya Kiai Anwar di Kota Batang. Para sahabat lama ini terlibat dalam obrolan yang mengasyikkan, terutama antara Kiai Kholil Bangkalan dengan Kiai Nawawi Banten. Saking Asyiknya mereka nyaris lupa waktu. Beberapa menit sebelum datang waktu salat Ashar, Kiai Sholeh Darat mengingatkan mereka, "Wahai Syaikhoni, qad qarubal Ashru. Kiai-kiai, sudah mau Ashar."

Akhirnya tangan kanan Kiai Kholil dipegang oleh Kiai Nawawi Banten, sambil berkata, “Ayo, kita cari air dan tempat salat yang tidak bikin kita mengqadha salat Dzuhur."
“Oh, mangga..." jawab Kiai Kholil.

Mereka berdua pun keluar rumah. Tetapi begitu keluar pintu, keduanya tidak lagi ada di Kota Batang. Namun mereka berdua sudah ada di Kota Makkah al-Mukarromah. Jadi kini mereka berdua, Kiai Kholil dan Kiai Nawawi mendapati waktu tidak lagi mau Ashar, bukan lagi jam 3 siang tetapi jam 11 siang, mundur empat jam!

Begitulah kiranya orang-orang yang punya kedekatan dengan Allah Ta’ala, sepertinya waktu dan tempat tidak lagi mengikat mereka, sebagai bagian dari kemuliaan (karamah) yang diberikan oleh Allah kepada mereka.


Resource Berita : dutaislam.com
Allah Ganti Setiap yang Kau Infakkan!!!

Allah Ganti Setiap yang Kau Infakkan!!!



WartaIslami ~ Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Apa saja yang diinfakkan untuk kebaikan karena Allah maka Allah siapkan ganti lebih baik. Karenanya, tidak akan berkurang harta yang disedekahkan. Tidak akan jatuh miskin orang yang dermawan, suka menunaikan infak dan mengeluarkan sedekah. Sebaliknya, dengan infak, Allah akan tambahkan harta dan lapangkan rizki.

Allah Subahanahu wa Ta'ala berfirman,

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِين

"Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya." (QS. Saba': 39)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam menafsirkan ayat di atas,

مهما أنفقتم من شيء فيما أمركم به وأباحه لكم، فهو يخلفه عليكم في الدنيا بالبدل، وفي الآخرة بالجزاء والثواب

"Apapun yang kamu infakkan dalam apa yang diperintahkan kepadamu atau yang dimubahkan bagimu, maka Dia akan memberikan gantinya untukmu di dunia, dan di akhirat dengan ganjaran dan pahala."

Beliau kuatkan penafsiran ini dengan firman Allah di hadits Qudsi,

أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ

"Berinfaklah, niscaya Aku berinfak kepadamu." (Muttafaq 'Alaih)

Juga hadits Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam,

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا. وَيَقُولُ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

"Tiada hari melainkan pada pagi harinya ada dua malaikat yang turun. Lalu salah satunya berucap (berdoa): Ya Allah, berilah ganti untuk orang yang berinfaq. Sedangkan yang lain berdoa: Ya Allah timpakanlah kehancuran kepada orang yang kikir (tidak berinfaq)." (Muttafaqun 'alaih)

أَنْفِقْ بِلَالًا وَلَا تَخْشَ مِنْ ذِي الْعَرْشِ إِقْلَالًا

"Berinfakanlah wahai Bilal, jangan takut pemilik ‘Arsy (Allah) kurangi hartamu.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman dan Al-Thabrani dalam al-Kabir, dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Al-Misykat, no. 1885)

Keutamaan infak atau sedekah yang langsung disebutkan Al-Qur'an, ia akan menjadi sebab bertambahnya harta dan lapangnya rizki.

Allah Subahanahu wa Ta'ala berfirman,

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

 “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah: 245)

Siapa saja yang menginfakkan hartanya dalam kebaikan –khususnya jihad fi sabilillah- dari harta yang halal dan hanya mencari ridha Allah, maka Allah akan lipat gandakan pahala dan balasan untuknya. 1 kebaikan menjadi sepuluh sampai 700 kali lipatnya. Bahkan sampai jumlah tak terbatas. Ini sesuai kondisi orang berinfak, niat dan kebutuhannya. (Disarikan dari Tafsir Al-Sa’di)

Dari ayat ini, Allah juga sanggah anggapan sebagian orang, kalau ia keluarkan infak maka akan miskin. Bahwa Allah yang mengatur rizki para hamba-Nya. Dialah yang melapangkan dan menyempitkan rizki seseorang. Orang yang berinfak tidaklah menyempitkan rizkinya. Sebaliknya, pelit infak tidaklah melapangkan rizkinya. Bersamaan itu, dalam ayat ini, Allah akan berinfak akan mendapatkan balasan memuaskan atas infaknya; baik di dunia dengan ganti berlipat maupun di akhirat dengan balasan kenikmatan yang tiada tara.

Keyakinan ini akan menjadi penawar atas bisikan syetan yang menakut-nakuti orang berinfak dengan kemiskinan sehingga tidak menginfakkanya dalam keridhaan Allah.

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلا وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

"Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 268)

Ibnu Katsir berkata tentang firman Allah Ta'ala,

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ

"Syetan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan", maksudnya: ia menakut-nakuti kalian dengan kefakiran supaya kalian tetap menggenggam tangan kalian, sehingga tidak menginfakkanya dalam keridhaan Allah.

وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ

“Dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir)” maksudnya: bersamaan dengan melarang kalian berinfak karena takut miskin, syetan menyuruh kalian berbuat maksiat, dosa, keharaman, dan menyelisihi keridhaan pencipta (Allah).”

Kemudian Allah janjikan ampunan atas perbuatan jahat dari godaan syetan dan janjikan “anugerah harta” untuk melawan godaan syetan yang menakut-nakkuti dengan kefakiran.

Ibnul Qayyim rahimahullah juga menjelaskan yang serupa,

وأما الله سبحانه فإنه يعد عبده مغفرة منه لذنوبه، وفضلاً بأن يخلف عليه أكثر ما أنفق أضعافه إما في الدنيا أو في الدنيا والآخرة

“Adapun Allah menajanjikan ampunan untuk dosa-dosa hambanya, dan menjanjikan “karunia” dengan memberi ganti yang lebih banyak dan berlipat-lipat atas apa yang sudah diinfakkannya; baik di dunia atau di dunia dan di akhirat.” (Thariq al-Hijratain: 384)

Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin berkata, "Apabila seseorang bersedekah maka syetan berkata kepadanya: 'Apabila kamu sedekah hartamu pasti berkurang. Kamu punya 100 riyal, apabila kamu sedekahkan 10 riyal, maka hartamu tinggal 90 riyal. Jika hartamu berkurang, jangan bersedekah. Karena setiap engkau sedekah maka hartamu berkurang."

Nabi kita Shallallahu 'Alaihi Wasallam memberitahukan hakikat, sebenarnya sedekah tidak mengurangi harta kita.

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ

"Sedekah tidaklah mengurangi harta." (HR. Muslim dari hadits Abu Hurairah)

Secara perhitungan, saat kita keluarkan memang berkurang. Tapi setelah itu sedekah akan menambah hartanya, baik jumlah maupun berkah. Wallahu A’lam.


Resource Berita : voa-islam.com
Akan Terjadi Dua Peperangan Besar Pada Akhir Zaman?

Akan Terjadi Dua Peperangan Besar Pada Akhir Zaman?



WartaIslami ~ Kaum Muslimin akan menghadapi dua peperangan besar di akhir zaman, sekaligus sebagai penutup segala perang karena setelah itu tidak ada lagi perang.  Kedua peperangan tersebut dijelaskan dalam nubuat akhir zaman.  Yang pertama adalah perang al-Malhamah kubra, perang tersebut terjadi setelah kaum muslimin menaklukkan Persia yang sekarang sebagai republik Iran.  Perang al-malhamah kubra terjadi antara kaum muslimin dengan Rum. Sebagaimana dijelaskan dalam hadist tentang urutan peperangan akhir zaman.

“Kalian akan perangi jazirah Arab sehingga Allah menangkan kalian atasnya. Kemudian (kalian perangi) Persia sehingga Allah menangkan kalian atasnya. Kemudian kalian perangi Ruum sehingga Allah menangkan kalian atasnya. Kemudian kalian perangi Dajjal sehingga Allah menangkan kalian atasnya.” (HR Muslim).

Didalam hadist diatas dijelaskan bahwa perang terakhir umat Islam terjadi dengan Rum dan Dajjal. Peperangan dengan rum desibut dengan perang al-malhamah kubra sedangkan peperangan dajjal disebut dengan perang armageddon atau perang Gog Magog (Ya’juj dan Ma’juj). Perang al-malhamah kubra itu pusat peperangannya adalah di Suriah sebagaimana dalam dalam hadist

“Sungguh Rum benar-benar akan memasuki Syam (Suriah) selama empat puluh hari tidak ada yang selamat selain Damaskus dan Amman” (HR Abu Daud)

Sedangkan perang Armageddon pusat peperangannya terjadi di Palestin wilayah negara Israel sekarang ini. Karena Dajjal akhir zaman akan menjadi pemimpin negara Israel yang mengusai wilayah Plaestin. Mageddon adalah sebuah bukit yang terletak diwilayah Palestin. sehingga perang Armageddon adalah perang dalam misi pembebasan Palestin dari jajahan kaum Yahudi. Perang al-malhamah kubra itu terjadi sebelum penaklukkan Konstantinopel sekarang sebagai rezim sekuler Turki dan perang Armageddon itu terjadi setelah penaklukkan Konstantinopel. Sebagaimana hadist

“Makmurnya Baitul Maqdis adalah tanda kehancuran kota Madinah, hancurnya kota Madinah adalahl tanda terjadinya peperangan besar (Al-malmah kubra), terjadinya peperangan besar adalah tanda dari pembukaan kota Konstantinopel, & pembukaan kota Konstantinopel adalah tanda keluarnya Dajjal. Kemudian beliau menepuk-nepuk paha orang yg beliau ceritakan tentang hadits tersebut, atau dalam riwayat lain, 'pundaknya'. Kemudian bersabda: Semua ini adalah sesuatu yg benar, sebagaimana engkau -Mu'adz bin Jabal- sekarang berada di sini adalah sesuatu yg benar”. (HR. Abu Daud)

Didalam hadist di atas secara jelas dinyatakan bahwa perang al-Malhamah kubra terjadi sebelum penaklukkan konstantinopel sedangkan perang Dajjal atau perang armageddon itu terjadi setelah penaklukkan Konstantinopel.

Adapun Rum yang dimaksudkan dalam hadist di atas adalah Rum timur yang dulunya pusat pemerintahannya berada di Konstantinopel. Karena dalam Islam tidak pernah dikenal romawi barat, Romawi barat telah runtuh seratus tahn sebelum munculnya Islam dan berdiri kembali setelah seratus tahun wafatnya Rasulullah saw. Sehingga Rum yang dimasudkan dalam al-Quran surah Rum adalah Romawi tmur yang berpusat di Kostantinopel.

Setelah Romawi timur runtuh pusat pemerintahan berpindah ke Rusia yang disebut dengan Tsar Rusia. Tsar adalah asal kata dari kaisar yang mengadopsi sistem kekaisaran romawi Timur. Di dalam wikipedia dijelaskan Setelah kota konstantinopel direbut oleh kaum muslimin maka kekaisaran Byzantine beralih ke Rusia. Peran kaisar sebagai pelindung Ortodoks timur diklaim oleh Ivan III, Adi Pati Agung Mokswa. Ia telah menikah Saudara Andreas , Shopia Paleologue. Cucunya Ivan IV akan menjadi Tsar Rusia yang pertama. Tsar adalah istilah dulu yang digunakan bangsa Slavia untuk kekaisaran Byzantine.

Penerus-penerus mereka mendukung  gagasan bahwa moskwa adalah penerus kekaisaran Byzantine yang berpusat di Konstantinopel.  Gagasan Kekaisaran Rusia adalah sebagai kekaisaran Rum itu  tetap hidup hiingga meletusnya revolusi Rusia tahun 1917 M. Setelah berdirinya Uni soviet kekaisaran Rum runtuh dan digantikan dengan sistem komunis, akan tetapi setelah uni Soviet runtuh kekaisaran Rum dilanjutkan kembali oleh negara Rusia modern sekarang ini.

Maka Secara jelas bahwa Rum yang dimaksudkan dalam hadist adalah Romawi timur yang merupakan Rusia hari ini, sikap Rusia yang menentang zionis Dajjal menjadikan sebab Islam akan berdamai dengan Rusia. Sebagaimana disebutkan dalam hadist,

 “Kamu akan berdamai dengan Rum dalam keadaan aman, kemudian kamu dan mereka akan memerangi suatu musuh. Dan kamu akan mendapatkan kemenangan serta harta rampasan perang dengan selamat. Kemudian kamu berangkat sehingga sampai ke sebuah padang rumput yang luas dan berbukit-bukit. Maka seorang laki-laki dari kaum salib mengangkat tanda salib seraya berkata, ‘Salib telah menang’. Maka marahlah seorang laki-laki dari kaum Muslimin kepadanya, lalu ia mendorongnya dan jatuh (meninggal). Pada waktu itu orang-orang Rum berkhianat, dan mereka berkumpul untuk memerangi kamu di bawah 80 bendera, dimana tiap-tiap bendera terdapat 12 ribu tentara.” ”(HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).

Perdamaian dengan Rusia belum terjadi untuk saat ini karena perdamaian tersebut terjadi disaat kaum muslimin memerangi Persia yang merupakan Iran sekarang. Untuk saat ini Iran masih bersekutu dengan Rusia menentang zionis Dajjal. Akan tetapi pada masa al-Mahdi Rusia akan meninggalkan sekutunya Iran dan berdamai dengan kaum muslimin. Sedangkan Iran akan beralih bersekutu dengan zionis dajjal Amerika. Hal ini bisa kita lihat sikap Iran yang membantu rezim Iraq yang merupakan boneka zionis untuk mempertahankan hegemoni zionis di timur tengah. Tentang perdamaian dengan Rum pada masa al-Mahdi dijelaskan  oleh Imam as Sayuti, Abu Nua’im meriwayatkan dari Abi Umamah katanya, Rasulullah SAW bersabda,

“Di antara kamu dan orang-orang Rum akan berlaku 4 kali perdamaian.  Pada kali keempatnya berlaku di tangan salah seorang daripada keluarga  Hiraqlu. Perjanjian itu berterusan selama 7 tahun”. Ada seorang sahabat bertanya Rasulullah SAW,  “Wahai Rasulullah! Siapakah Imam orang ramai (orang Islam) pada hari itu?” Rasulullah SAW menjawab, “Al Mahdi daripada anak cucuku. Dia berumur 40 tahun, mukanya bagai  bintang yang bersinar-sinar, di pipi sebelah kanannya terdapat tahi  lalat hitam, dia memakai dua jubah Qatwaniyyah bagaikan pemuda Bani  Israel. Dia mengeluarkan gedung-gedung dan menaklukan negeri-negeri  syirik”.

Setelah Rum di taklukkan kemudian kaum muslimin menaklukkan Turki tanpa peperangan. Setelah Turki ditaklukkan maka keluarlah Dajjal. Maka terjadilah perang Armageddoon atau Perang Dajjal atau disebut juga dalam hadist sebagai perang Gog Magog (Ya’juj dan Majuj). Ketiga-tiganya adalah sama karena disebut perang armageddon pusat peperangannya di bukit Mageddon palestin, disebut perang Dajjal karena pada saat itu Dajjal sebagai presiden negara Israel, disebut dengan perang Ya’juj dan Ma’juj karena pasukan koalisi dunia yang mempertahankan negara zionis dari serang kaum muslimin  yang tergabung dalam negara negara Eropa dan Amerika disebut sebagai pasukan Ya’juj dan Ma’juj. Sebagaimana dijelaskan dalam hadist yang  diriwayatkan oleh Abu Hurairah dalam manuskrip yang ditulis ulang oleh peneliti berjudul : “Salam wa Harb fi Akhir Zaman ar Rabb“.

Dalam perang itu keluar seorang ratu dunia, pelaku makar dan pelacur. Namanya Amirika. Ia menggoda dunia waktu itu dalam kesesatan dan kekafiran. Sementara itu Yahudi dunia saat itu berada di tempat yang paling tinggi. Mereka menguasai seluruh al-Quds dan al-Madinah al-Muqaddasah (Kota yang disucikan).                 

Semua negeri datang dari laut dan udara, kecuali negeri salju yang menakutkan dan negeri panas yang menakutkan. Al-mahdi melihat bahwa seluruh dunia melakukan makar buruk kepada dirinya dan ia melihat bahwa makar Allah lebih hebat lagi. Ia melihat bahwa seluruh alam Tuhan berada dalam kekuasaannya. Akhir dari perang itu ada di tangannya, dan seluruh dunia merupakan pohon yang dimilikinya dari dahan hingga ranting-rantingnya.

Di tanah Isra’ dan Mi’raj terjadi perang dunia yang disitu al-Mahdi memberi peringatan kepada orang-orang kafir bila mereka tidak mau keluar. Maka orang-orang kafir dunia berkumpul untuk memerangi Al-Mahdi dalam pasukan sangat besar yang belum pernah dilihat sebelumnya. Dalam kelompok kekuatan Yahudi al-Khazar dan Bani Israel masih terdapat pasukan lain yang tidak diketahui jumlahnya. Al Mahdi melihat bahwa siksa Allah sangat mengerikan dan bahwa janji Allah benar-benar telah datang dan tidak diakhirkan lagi. Kemudian Allah melempari mereka dengan lemparan yang dahsyat. Bumi, lautan dan langit terbakar, untuk mereka, dan langit menurunkan hujan yang sangat buruk. Seluruh penduduk bumi mengutuk orang kafir dunia, dan Allah mengizinkan lenyapnya seluruh orang kafir di Perang Dajjal, dan perangnya terjadi di negeri Syam dan kejahatan………”.

Itu adalah sebagian cuplikan dari isi buku tentang nubuwah tersebut. Manuskrip langka tersebut berasal dari abad ke 2 H  ditulis oleh salah seorang Tabi’at – Tabi’in yang berasal dari Syam (wilayah Lebanon, Palestina). Manuskrip ini tersimpan di perpustakaan Turki di Istanbul.


Resource Berita : voa-islam.com
Ini Keunikan dan Resiko Panggilan 'Gus' kepada Seseorang

Ini Keunikan dan Resiko Panggilan 'Gus' kepada Seseorang



WartaIslami ~ Oleh: Hartono Ahmad Jaiz

Sahabat VOA-Islam...

Panggilan “Gus” digunakan di Jawa oleh orang tua terhadap anak-anak lelaki. Panggilan lainnya, bisa juga “le” dari kata “thole” untuk anak lelaki, dan “ndhuk” dari kata “gendhuk” untuk anak perempuan.

Contohnya: Reneo gus, reneo le, reneo, ndhuk. Artinya, ke sinilah gus (wahai anak kecil laki-laki), ke sinilah le (wahai anak kecil laki-laki), ke sini lah ndhuk (wahai anak kecil perempuan).

Ada yang mengatakan, sebutan gus itu dari German. The meaning of Gus in German is Revered, Exalted. It is a baby boy name. (lihat: http://namafb.com/).

(Arti dari Gus di Jerman adalah yang terhormat, Maha. Ini adalah nama bayi laki-laki).

Gus, le, dan ndhuk itu semua adalah panggilan dengan rasa kasih sayang kepada anak-anak.  Panggilan itu akan terasa nglunjak, tidak sopan, bahkan menghina atau menantang bila diucapkan oleh orang yang umurnya sejajar, apalagi umurnya lebih muda atau statusnya lebih jembel.

Misalnya, anak kelas 5 SD berkata kepada anak kelas 6 dengan perkataan: Napa le, matamu plerak-plerek nyang aku? (ngapain lu, matamu melotot lotok ke gue) (Maaf, ini bahasa kasar, karena memang untuk contoh kalimat yang isinya penentangan).

Lafal “le” di situ walau sudah diterjemahkan dengan lu (loe) bahasa Betawi, namun masih belum begitu mewakili, karena lafal “le” di Bahasa Jawa di situ ada sikap penentangan dan penghinaan (dari yang muda kepada yang lebih tua). Jadi lafal “le” di situ pantang diucapkan oleh orang yang umurnya sejajar, apalagi lebih muda, atau statusnya di masyarakat lebih jembel/ rendah, kecuali memang sengaja untuk menentang atau bahkan menghinanya.

Anehnya, lafal gus tidak dapat digunakan untuk itu. Misalnya: ngapain gus matamu melotot lotot ke gue; kalimat itu menjadi hambar maknanya. Karena gus di situ sebutan yang mengandung penghormatan, jadi tidak tepat ketika digandengkan dengan lafal penentangan yang mengandung hinaan tersebut. Kecuali lafal gus di situ bukan panggilan penghormatan tetapi adalah nama, misalnya Gusbush. Barangkali saja itu juga menjadi sebab, sebutan gus tidak dianggap nglunjak ketika diucapkan oleh orang yang lebih muda kepada yang lebih tua. Padahal kalau sebutan “le” pasti mengandung penghinaan atau penentangan bila pelontarnya itu orang yang lebih muda. Apalagi misalnya pejabat lalu disebut “le” oleh rakyat maka jelas mengandung penghinaan.

Begitu juga, entah kenapa, sebutan gus itu padahal aslinya untuk kanak-kanak, tetapi juga masih dipakai ketika orangnya sudah sampai umur tua, bahkan sampai meninggal sekalipun. Dan entah kenapa pula apakah ada kaitannya atau tidak, kadang yang punya sebutan gus itu ada sifat kekanak-kanakannya.

Misalnya, terkesan agar perkataannya itu ditertawakan orang. Terbukti dengan suka humor, yang mungkin bagi orang yang tidak suka disebutnya cengengesan. Apakah merasa bahwa dirinya masih kanak-kanak karena disebut gus atau sebab lainnya, belum ada penelitian yang hasilnya terdengar. Oleh karena itu, tampaknya hanya barisan dari orang-orang yang tidak tahu gelagat prilaku secara cermat  saja yang mau mengangkat orang yang julukannya pakai gus jadi pengarep/ orang terdepan.

Sebutan gus tampaknya ada kemaafan-kemaafan tertentu dalam bahasa maupun pergaulan. Namun bukan berarti kalis dari resiko. Justru sebutan terhormat itu mengandung resiko yang kadang bisa drastis.

Ketika sebutan terhormat dalam hal ini gus, digandengkan dengan kalimat untuk menjatuhkannya juga bisa. Misal, sebutanmu gus, tapi kelakuanmu tidak bagus! Itu justru menambah mantapnya penjatuhan. Bahkan hanya digandengangkan dengan lafal abal-abal (gus abal-abal) begitu saja sudah menjatuhkannya. Dan itu tidak berlaku pada sebuta “le” (thole). Mau dikatain “thole abal-abal”? Ya ngga’ ngaruh, kata orang Betawi Jakarta.

Penjatuhan alias penghinaan dengan sebutan terhormat itu justru terasa tandas. Sebagaimana dalam Al-Qur’an ada ayat untuk menghinakan namun justru dengan panggilan mulia.

{إِنَّ شَجَرَتَ الزَّقُّومِ (43) طَعَامُ الْأَثِيمِ (44) كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِ (45) كَغَلْيِ الْحَمِيمِ (46) خُذُوهُ فَاعْتِلُوهُ إِلَى سَوَاءِ الْجَحِيمِ (47) ثُمَّ صُبُّوا فَوْقَ رَأْسِهِ مِنْ عَذَابِ الْحَمِيمِ (48) ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ (49) إِنَّ هَذَا مَا كُنْتُمْ بِهِ تَمْتَرُونَ} [الدخان: 43 - 50]

43. Sesungguhnya pohon zaqqum itu

44. makanan orang yang banyak berdosa

45. (Ia) sebagai kotoran minyak yang mendidih di dalam perut

46. seperti mendidihnya air yang amat panas

47. Peganglah dia kemudian seretlah dia ke tengah-tengah neraka

48. Kemudian tuangkanlah di atas kepalanya siksaan (dari) air yang amat panas

49. Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia

50. Sesungguhnya ini adalah azab yang dahulu selalu kamu meragu-ragukannya

[Ad Dukhan,43-50]

Ayat itu menegaskan:

ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ (49)

Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia (Ad Dukhan/44: 49).

Di situ panggilan “yang perkasa lagi mulia” bukan berisi penghormatan, tetapi justru penjatuhan sejatuh-jatuhnya. Orang yang banyak dosa kemudian disiksa sehebat-hebatnya sambil diucapi “Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia”; itu lebih tandas tuntas dibanding hanya diucapi “rasain lu...”. Sama-sama menghinakannya, namun ketika diucapi dengan sebutan yang secara perkataan aslinya sebutan terhormat, itu justru lebih menghinakannya.

Bagaimana pula bila yang berbuat membela maksiat goyang Inul misalnya, justru orang yang sebutannya terhormat, misalnya kyai haji, masih pula gus lagi? Tentu saja ketika ada yang melontarkan sebutan terhormat itu dengan disambung ucapan sentilan sedikit saja pasti akan lebih terasa. Misalnya, ya tidak usah saya misal- misalkan, perkara begini mah ga’ usah diberi contoh.

Itulah di antara keunikan dan resiko dari sebutan terhormat. Dalam hal ini sebutan “Gus”.


Resource Berita : voa-islam.com
Cara Efektif Membuka Pintu Rezeki

Cara Efektif Membuka Pintu Rezeki



WartaIslami ~ Berdagang adalah salah satu cara efektif dalam membuka pintu rezeki. Para sahabat yang utama juga rerata berprofesi sebagai pedagang. Rasulullah SAW sendiri juga ditempa dalam sebuah misi perdagangan.

Tak ada yang lain harapan bagi sosok pedagang tentu untuk mengambil keuntungan. Saat keuntungan berlimpah ruah, disitulah letak ujiannya. Apakah kita hendak menjadi insan penuh syukur hingga bertambah-tambah kekayaan. Ataukah kita yang diancam dengan nikmat kufur.

Semua pilihan itu bisa dengan mudah diputuskan jika seseorang paham bagaimana letak sebuah kekayaan.  Bagi orang beriman materi adalah sarana. Jika dengannya dakwah bisa berjalan, maka materi tersebut adalah sebuah kebaikan. Jika dengan materi itu hati tertawan, maka materi tersebut harus dilepaskan.

Bagi orang beriman, meteri hanya diletakkan di tangan. Ia tak sampai merasuk dalam hati dan menjadi obsesi. Kedudukannya tak lebih dari sekadar sarana. Sarana bisa berubah-ubah. Suatu kesempatan mungkin materi menjadi sarana efektif, di lain kesempatan bisa jadi materi jadi sarana yang membahayakan.

Seperti yang sedang dilakukan Shuhaib. Harga imannya jauh lebih tinggi dibandingkan semua harta kekayaannya. Ya semua. Kita, bahkan perlu mengeryitkan dahi kala kotak infak mampir sementara ada dua lembaran Rp 50 ribu terselip manis. Sementara di lain waktu amat mudah merogoh ratusan ribu demi sepatu model terbaru saat koleksi sepatu di rumah sudah menggunung.

Pemahaman yang utuh atas materi itulah yang harus tertanam. Saat orang beriman menyadari hakikat harta, maka yang tercipta adalah sebuah keindahan dalam beramal.

Seperti yang lantas dicontohkan Shuhaib. Kisah kepahlawanannya tak hanya berhenti disitu. Shuhaib adalah pula seorang pemurah dan dermawan. Tunjangan yang diperolehnya dari Baitul Mal dibelanjakan semuanya di jalan Allah.

Tak mampir sedikitpun harta yang ia peroleh melainkan habis untuk membantu orang yang kemalangan dan menolong fakir miskin. Amalnya hanya untuk menerapkan firman Allah SWT,"dan diberikannya makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang tawanan."  (QS al-Insan [76]:8)

Sampai-sampai kemurahannya yang amat sangat itu mengundang peringatan dari Umar bin Khattab RA. Umar berkata pada Shuhaib, "Saya lihat kamu banyak sekali mendermakan makanan hingga melewati batas!"

Shuhaib dengan lembut menjawab, "Sebab aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, 'Sebaik-baik kalian ialah yang suka memberi makanan'."


Resource Berita : republika.co.id
Ciri Hamba yang Diberi Keberkahan

Ciri Hamba yang Diberi Keberkahan



WartaIslami ~ Sebagian ulama yang berpendapat bahwa nazar merupakan salah satu bentuk ketaatan kepada Allah SWT, salah satunya karena mereka menggunakan dalil sebagai berikut, "(Yaitu) mata air (dalam surga) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana." (QS al-Insan [76]: 6-7)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa salah satu ciri hamba Allah yang diberi keberkahan di surga kelak adalah mereka yang menunaikan nazar. Jika nazar itu dikatakan sesuatu yang makruh, niscaya Allah tidak akan membalas mereka dengan kebaikan di surga.

Nazar merupakan sebuah janji yang harus umat Islam tepati karena janji adalah utang yang harus dibayar. Jika tidak bisa dibayar di dunia, tentunya Allah akan membayarnya di akhirat kelak sesuai dengan yang telah mereka perbuat.

Sementara, jika seseorang bernazar untuk selain Allah, hukumnya syirik karena nazar hakikatnya ibadah yang hanya diarahkan kepada Allah. Ibadah sendiri memiliki arti luas, yaitu segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah baik perkataan maupun perbuatan yang lahir maupun yang batin, dan nazar termasuk di dalamnya (Al Qoul As-Sadiid, hal 50).

Namun, sebagian ulama seperti Syekh Ibnu Utsaimin melihat hukum nazar adalah makruh. Bahkan, Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah cenderung memandang ke arah pengharamannya. Hal ini didasarkan pada hadis Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda yang artinya, "Janganlah kalian bernazar, sesungguhnya ia tidak bisa memengaruhi takdir. Ia hanya dilakukan oleh orang yang bakhil (kikir)." (HR Bukhari dan Muslim).

Nazar memiliki beberapa prinsip yang harus dipatuhi. Pertama, keinginan nazar harus diucapkan atau dilafalkan, bukan hanya diucapkan dalam hati. Kedua, tujuan nazar harus karena Allah. Ketiga, nazar tidak dibenarkan untuk suatu perbuatan yang dilarang. Keempat, jika orang yang bernazar meninggal sebelum melaksanakannya, nazar harus dilaksanakan oleh keluarganya.

Dalam Alquran Allah berfirman, "Mereka (orang-orang yang baik) menunaikan nazar dan merasa takut akan suatu hari di mana ketika itu azab merata di mana-mana." (QS al-Insan [76]: 7).

Dalam ayat tersebut Allah memuji orang-orang yang menunaikan nazar. Hal itu berarti menunjukkan bahwa menunaikan nazar adalah perkara yang disukai Allah, jika hal itu dilaksanakan. Karena itu, Rasululullah SAW bersabda, "Barang siapa yang bernazar untuk melakukan ketaatan maka hendaklah dia laksanakan ketaatan itu kepada-Nya." (HR Bukhari).


Resource Berita : republika.co.id
Tangisan Ibrahim bin Adham saat Membeli Budak

Tangisan Ibrahim bin Adham saat Membeli Budak



WartaIslami ~ Dalam kitab Tadzkirah al-Auliya’, Fariduddin Attar mengisahkan Imam Ibrahim bin Adham dan budak yang baru saja dibelinya. Diceritakan:

أنه اشترى غلاما، قال: ما اسمك؟ قال: ما تدعوني به. قال: أيُّ شيءٍ تأكل؟ قال: ما تُطعمني أطعم. قال: ما تلبس؟ قال: ما تُعطيني ألبس. قال: وماذا شغلك وعملك؟ قال: ما ترسم وتأمر أعمل بتوفيق الله. قال: أليس لك اختيار؟ قال: أنا عبد، وما للعبد اختيار. فبكيت حتي غشي عليّ، وقلت لنفسي: تعلّمي العبودية من هذا العبد.

Suatu ketika Imam Ibrahim bin Adham membeli seorang budak. Ia bertanya kepada budak itu, “Siapa namamu?” Budak itu menjawab, “Tuan hendak memanggilku apa?”

Ibrahim bertanya lagi, “Apa yang biasa kau makan?” Jawabnya, “Apa pun yang tuan berikan, aku akan memakannya.”

Ibrahim bertanya lagi, “Pakaian apa yang ingin kau pakai?” Jawabnya, “Apa pun yang tuan berikan, aku akan memakainya.”

Ibrahim bertanya lagi, “Apa yang akan kau lakukan dan kerjakan?” Jawabnya, “Apa pun yang tuan perintahkan, aku akan mengerjakannya dengan pertolongan Allah.”

Ibrahim bertanya lagi, “Apakah kau tidak memiliki keinginan?” Jawabnya, “Saya seorang budak, untuk apa budak memiliki keinginan.”

Kemudian Aku (Ibrahim bin Adham) menangis hingga tak sadarkan diri, lalu aku berkata pada diriku sendiri, “Budak ini telah mengajariku bagaimana menjadi seorang hamba (ubudiyyah).” (Fariduddin Attar, Tadzkirah al-Auliya’, alih bahasa Arab oleh Muhammad al-Ashîliy al-Wasthâni al-Syâfi’i (836 H), Damaskus: Darul Maktabi, 2009, hlm 142).

****

Arti dari menghamba adalah kepasrahan, melepaskan segala ketergantungan selain kepada Tuhan. Bukan berarti seorang hamba adalah wayang yang tidak memiliki kemampuan bertindak dengan kehendaknya sendiri, tidak. Kepasrahan adalah pengetahuan yang memperluas hati manusia dari kesempitan.

Ketika seorang hamba telah berjuang sekuat tenaga dan berdoa siang malam, tapi hasil yang dia harapkan belum juga terwujud, kepasrahan itulah yang menjadi sandaran. Pengetahuan akan kepasrahan mutlak kepada Tuhan membuat manusia merdeka. Segala tindakannya berasal dari dan untuk Tuhan. Dalam bahasa agama disebut tawakkal.

Imam Ibrahim bin Adham mendapatkan pelajaran berharga dari hamba sahaya itu. Pengetahuannya tentang menjadi hamba bertambah, bahwa seorang hamba harus menerima apa pun yang ditetapkan tuannya. Namun, tetap saja ada perbedaan besar antara hubungan hamba dengan Tuhan dan hamba dengan tuan (manusia). Perbedaan mendasarnya terletak pada kasih sayang Tuhan yang tak berbatas. Segala yang diperintahkan Tuhan kepada hambanya adalah demi kebaikan hambanya. Sedangkan segala yang diperintahkan tuan (manusia) kepada budaknya—sebagian besar—demi kebaikan tuannya sendiri.

Tuhan tidak akan berkurang kasih sayangNya meskipun hambaNya berulangkali menentangnya, tapi tidak dengan tuan dan budaknya. Artinya, meski manusia sebagai hamba harus berserah diri kepada Tuhan, mereka diberikan ruang untuk memilih; ke arah kebaikan atau keburukan. Semua itu mutlak kehendak manusia. Hanya saja, ketika manusia memilih keburukan, dia telah abai dari fitrahnya sebagai seorang hamba. Sebab, seorang hamba harus menuruti kehendak Tuhannya tanpa bertanya dan meminta alasan. Dan, kehendak Tuhan adalah agar manusia memilih kebaikan, bukan keburukan.

Dengan berbincang dengan budakanya, Imam Ibrahim bin Adham menyadari bahwa sebagian besar manusia telah mengabaikan kasih sayang Tuhan yang tertinggi, yaitu kehendakNya agar manusia memilih jalan kebaikan dan kebajikan, seperti banyak firman dan sabda nabiNya.

Karena itu, kita harus mulai menyiapkan ketawakkalan kita dalam menjalani kehidupan. Bukan untuk siapa-siapa atau demi siapa-siapa, tapi untuk diri kita sendiri. Memahami bahwa diri kita adalah ‘hamba’ tidak berbeda dengan kebutuhan hidup sehari-hari seperti makanan dan minuman. Kita harus menyadari Allah telah memberikan begitu banyak fasilitas kehidupan untuk seorang hamba. Sudah selayaknya kita berserah diri kepadaNya, berusaha tidak bergantung selain kepadaNya.

Namun, yang perlu dipahami adalah, menjadi hamba bukan berarti diam atau tidak berbuat apa-apa. Konsep tawakkal tidaklah seperti itu. Imam Sahl bin Abdullah al-Tustari mengatakan:

التَّوَكُّلُ حَالُ النَّبِيِّ صلي الله عليه وسلم وَالْكَسْبُ سُنَّتُهُ. فَمَنْ بَقِيَ عَلي حَالِهِ, فَلَا يَتْرُكَنَّ سُنَّتَهُ

“Tawakkul adalah keadaan spiritual Nabi SAW, sedangkan kasab (berusaha) adalah cara hidupnya. Barang siapa yang hendak mendiami keadaan spiritualnya, jangan tinggalkan cara hidupnya.” (Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi, Risalah al-Qusyairiyyah, hlm 298)

Berserah dirilah kepada Tuhan seperti rasul, yang meski telah dijamin kemaksuman dan tempatnya di surga, tetap menjalankan shalat melebihi orang biasa karena alasan syukur dan memohon ampunan Tuhan (istighfar) setiap hari tanpa henti. Bukankah kita seharusnya begitu sebagai seorang hamba yang bergelimang dosa?

Di sisi lain, perbincangan Ibrahim bin Adham dengan budaknya membuka kesadaran bahwa tidak ada satu punmanusia yang berhak menjadi tuan atas manusia lainnya. Jika seseorang bertindak sebagai tuan atas manusia lainnya, secara tak sadar dia telah menyamakan dirinya dengan Tuhan. Padahal, seluruh kelahiran atau yang dilahirkan pada mulanya suci (fitrah), tidak ada yang berhak atas hidupnya selain Tuhan sendiri. Oleh karena itu, kisah di atas adalah kisah tentang pentingnya kesadaran ‘hamba’ untuk memerdekakan diri sendiri dan memanusiakan manusia lainnya. Wallahu a’lam..

Muhammad Afiq Zahara, alumnus Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan dan Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.



Resource Berita : nu.or.id
Ini Saat-saat Manusia Dekat dengan Allah menurut Ibnu Athaillah

Ini Saat-saat Manusia Dekat dengan Allah menurut Ibnu Athaillah



WartaIslami ~ Pengalaman batin kerap kali dirasakan mereka pada suasana genting di mana hajat mereka kepada Allah menguat. Saat melewati masa-masa genting, manusia kerap merasakan kedekatan dengan Allah dibanding ketika ibadah formal seperti shalat, puasa, zakat, atau haji. Hal ini disinggung oleh Syekh Ibnu Athaillah RA pada hikmah berikut ini.

ربما وجدت من المزيد في الفاقات مالا تجده في الصوم والصلاة

Artinya, “Kadang kamu menemukan bonus di saat hajat-kritis yang tak kaudapati di saat shalat dan puasa.”

Syekh Ibrahim Al-Aqshara’i As-Syadzili memahami dua kewajiban manusia terhadap Allah. Menurutnya, manusia memiliki kewajiban umum dan khusus. Kewajiban umum merupakan kewajiban shalat, puasa, zakat, haji, dan perintah formal lainnya. Sedangkan kewajiban khusus merupakan pernyataan kefakiran manusia di hadapan-Nya bahwa kita bukanlah apa-apa dan siapa-siapa saat menjalani ibadah shalat, puasa, atau ibadah lainnya.

أقول: وذلك أن مطلوب الحق من الخلق مطلوبان: مطلوب عام وهو الأعمال التي منها الصوم والصلاة ومطلوب خاص وهو شهود الفاقات منك ومما لك من الأعمال لشهود ما قام بك ربها من تجليات الأسماء والصفات، وهذا هو مفاد المطلوب الخاص منك في القيام بالمطلوب العام فإنك تجد به من المزيد لفنائك عنك وعنه ما لا تجده في الصلاة والصيام لثبوتك معك ومعهما

Artinya, “Menurut saya, Allah memiliki dua tuntutan untuk manusia. Pertama, tuntutan umum, yaitu amal ibadah berupa puasa dan shalat. Kedua, tuntutan khusus, yaitu menyaksikan kondisi hajat-kritismu dan amal-amal yang dilekatkan padamu agar kamu menyaksikan penampakan asma dan sifat Allah yang diperbuat oleh-Nya terhadapmu. Ini merupakan makna dari tuntutan khusus terhadapmu di dalam memenuhi tuntutan umum-Nya. Pasalnya, kamu menemukan bonus ini karena kau fana dari dirimu dan dari tuntutan khusus tersebut yang tak kaudapati di saat shalat dan puasa karena kau hadir bersama shalat dan puasamu,” (Lihat Syekh Burhanuddin Ibrahim Al-Aqshara’i As-Syadzili, Ihkamul Hikam, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, cetakan pertama, 2008 M/1429 H, halaman 113).

Syekh Ibnu Abbad mencoba menjelaskan kenapa perasaan lebih dekat dengan-Nya dialami ketika manusia dalam kondisi genting dan hajat dibanding saat shalat, puasa, dan lain sebagainya. Menurutnya, ibadah shalat, puasa, dan seterusnya rawan disusupi nafsu dan syahwat yang menghalangi pandangan mata batin atas kehadiran dan peran Allah dalam ibadah kita.

ورود الفاقات يحصل للمريد بها مزيد كثير من صفاء القلب وطهارة السريرة وقد لا يحصل له ذلك بالصوم والصلاة لأن الصوم والصلاة قد يكون له فيهما شهوة وهوى كما تقدم وما كان هذ سبيله لا يؤمن عليه فيه من دخول الآفات فلا يفيده تحلية ولا تزكية بخلاف ورود الفاقات فانها مباينة للهوى والشهوة على كل حال

Artinya, “Kondisi hajat-kritis kerap memberikan banyak bonus berupa kebersihan hati dan kesucian batin bagi murid. Bonus ini kadang tidak ditemukan ketika shalat atau puasa karena syahwat dan dorongan nafsu menyertainya saat menjalani kedua ibadah itu sebagai uraian yang lalu. Kalau jalan itu memang tak selamat dari kemungkinan hama/penyakit, maka tidak berfaidah lagi padanya sifat-sifat terpuji dan upaya pembersihan dari sifat tercela, berbeda dengan kondisi hajat-kritis karena kondisi kritis ini bertolak belakangan dengan syahwat dan dorongan nafsu dalam segala keadaan,” (Lihat Syekh Ibnu Abbad, Syarhul Hikam, Semarang, Maktabah Al-Munawwir, tanpa keterangan tahun, juz II, halaman 13).

Hikmah ini tidak menganjurkan orang lain untuk mengurangi amal-ibadahnya. Pada hikmah ini Syekh Ibnu Athaillah menyatakan bahwa kewajiban manusia kepada Allah terbagi dua di mana kedekatan kepada-Nya bisa saja dirasakan meningkat ketika batin diliputi perasaan genting mencekam di luar ibadah formal. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)


Resource Berita : nu.or.id
Doa Sapu Angin Agar Tidak Mudah Lelah

Doa Sapu Angin Agar Tidak Mudah Lelah



WartaIslami ~ Pekerjaan sehari-hari yang seringkali padat tentu akan membuat badan lelah. Jika sudah demikian, keinginan untuk istirahat semakin kuat. Padahal, kita sedang bekerja kepada orang lain. Tak bisa seenaknya donk untuk istirahat.

Terus bagaimana caranya? Ya ditahan sampai pekerjaan kelar. Kecuali memang ada jatah untuk istirahat maka alangkah baiknya jika digunakan untuk istirahat.

Tapi kalau mau tidak mau harus tetap kerja, padahal badan lelah, anda bisa menggunakan amalan berikut ini. Amalan tersebut bernama Doa Sapu Angin (Ngelipet Bumi) Agar Tidak Mudah Lelah dari Abinal Karim KH. Shodiq Hamzah Utsman. Kiai Shodiq mendapata dari K H. Muhyi dari Simbah Waliyullah KH. Abdul Hadi Girikusumo Demak.

Doanya begini:

بسم الله على الأرض حتى تطوى
بسم الله على القلب حتى يروى
بسم الله على الركب حتى تقوى

Bismillah 'Ala al-Ardhi Hatta al-Tuthwa
Bismillah 'Ala al-Qalbi Hatta Yurwa
Bismillah 'Ala al-Rakbi Hatta Taqwa

Terus tambah tulis di kertas Asma Allah Ya Muqiitu (يا مقيت). Kemudian dimasukkan ke dalam air. Kemudian diaca tujuh kali tanpa nafas. Setelah itu tiupkan ke air tadi dan diminum. Fa Insyaallah, Bi Idznillah, capek capek akan hilang.


Resource Berita : dutaislam.com
Buat Jomblo, Ini Kiat untuk Mendapatkan Istri Sholehah Ala Salafush Shaleh

Buat Jomblo, Ini Kiat untuk Mendapatkan Istri Sholehah Ala Salafush Shaleh



WartaIslami ~ Kali ini saya akan berbagi kiat bagaimana mendapatkan seorang istri seperti istri-istri para Salafush Shaleh terdahulu. Memangnya bisa bib? Lha, kenapa enggak? 

Sebagai pengantar, dahulu Imam Al-Haddad memiliki seorang menantu yang sholehah, alimah, afifah. Pokoknya masya Allah! Ini tak lain lantaran amaliyah dan mujahadah anak Imam al-Haddad sendiri. Yakni Al-Habib Hasan ibn Abdullah Al-Haddad.

Mengenai sosok istrinya itu, Al-Habib Hasan ibn Abdullah pernah berkomentar. "Sejak aku menikahinya, aku tidak pernah mendengar satu kalimat yang tidak pantas diucapkan kecuali satu kali. Lisannya tidak pernah berhenti dari dzikir kepada Allah, shalatnya panjang sekali terutama sujudnya".

Masya Allah, bahkan sebagian putri dari al-Habib Hasan juga pernah berkata tentang Ibundanya tersebut. "Sesungguhnya aku kagum kepada ibundaku. Ketika seseorang sakit di antara kami atau meninggal, beliau tidak seperti perempuan pada umumnya”.

Pertanyaannya, mau tidak punya istri shalehah seperti itu? Jangankan Anda, saya sendiri juga mendambakan yang seperti itu.

Karena itu, di sini saya akan berbagi resepnya biar barokah. Kalau saya belum dapat yang seperti itu, eh ternyata Anda lebih dulu. Ya saya jangan dilupakan. Minimal saya ikut di doakan biar segera menyusul.

Amalan ini sejatinya sederhana. Yang terpenting adalah kesungguhan niat dan istiqamah. Saya akan mengutip perkataan Al-Habib Hasan ibn Abdullah sehingga beliau bisa mendapatkan istri yang begitu agung pribadinya. Al-Habib Hasan berkata:

"Dalam setiap raka’at shalat Fardhu dan Sunnah aku berdoa kepada Allah agar diberikan rezeki Imratan Shalehah, Abidatan, Maimunatan, Kaamilatal-aqli wad-diin. Waluudan waduudan. Watathuuli Hayatiha." kata al-Habib Hasan,

"Maka, Allah pun mengabulkan rezeki seperti yang sering aku doakan tersebut,” lanjutnya
Siapa saja boleh langsung mengamalkan amalan tersebut. Khususnya Jomblo. Misalnya ketika sujud dalam shalat, sambil memohon kepada Allah: 

"Ya Allah, berilah aku rezeki berupa istri yang baik, ahli ibadah, mulia, ta’at, sempurna akal dan agamanya, banyak anak, penuh kasih sayang dan panjang umurnya.”

Fa Insya Allah, dengan kesungguhan niat dan keistiqamahan, Allah akan mewujudkannya. Bi-barkatil atsar Salafush Shaleh. Maqbulin Insya Allah. Amin


Resource Berita : dutaislam.com
13 Waktu Ini Mustajabah untuk Berdoa

13 Waktu Ini Mustajabah untuk Berdoa



WartaIslami ~ Manusia diciptakan dengan tubuh sempurna, dengan akal pula sehingga berbeda dengan makhluk lain. Seringkali kita telah berfikir dan membuat rancangan begitu hebat, namun ternyata tak sesuai harapan. Apa yang kita usahakan pun akhirnya sia-sia tanpa hasil.

Harus kita sadari bahwa ada sebuah kekuatan yang mustahil. Dialah doa. Mestinya secara hukum akal tidak bisa terjadi, tapi dengan kekuatan doa jadilah ia. Laut yang begitu luas menjadi jalan yang bisa dilewati, api yang begitu panas hingga jarak beberapa kilo bisa dingin dan dinikmati. Itulah salah satu kekuatan di luar nalar yang diberikan Allah kepada nabi.

Demikian kekuatan doa. Seorang hamba tidak diperbolehkan meninggalkan doa karena ia adalah bahasa lain dari harapan dan keinginan. Nabi besar Muhammad SAW membeberkan waktu-waktu yang kita tidak boleh meninggalkan doa. Karena pada waktu tersebut adalah waktu mustajabah. Waktu-waktu itu ialah:

1. Hari Arafah, خير الدعاء  يوم عرفة. "Sebaik-baik doa adalah yang diapanjatkan pada hari Arafah". tepat seperti hari ini.

2. Doa pada malam Lailatul Qodar

3. Sepertiga malam. Yang disebutkan didalam Hadist bahwa rahmat Allah turun di sepertiga malam. من يدعوني. "Siapa yang berdoa pada-Ku, maka Aku akan kabulkan baik". من يسألوني فأعطيه. "Barang siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku berikan". من يستغفروني فأغفر له. Barang siapa yang memohon ampun padaku, maka aku akan ampuni.

4. Setiap sesudah sholat قيل يا رسول الله ايّ الدعاء اسمع ؟ قال جوف الليل  ودبر الصلاة المكتوبة
"Doa yang paling didengar pada saat apa wahai Rasul? Yaitu pada sepertiga malam terakhir dan setiap bakda sholat.

5. Diantara Adzan dan Iqamah فقد صح عن النبي صلى الله عليه وأله وسلم أنه لا يرد الدعاء بين الأذن والإقامة
"Tidak akan ditolak doa antara adzan dan iqamah".

6. Ketika bertemunya barisan perang.

7. Ketika turunnya air hujan . الدعاءعند النداء وتحت المطر

8. Doa pada hari jumat.

9. Ketika minum air zam-zam, karena ماء زمزم لم شرب له. "meminum air zam-zam itu untuk apa yang dia niatkan".

10. Memperbanyak doa pada saat sujud, karena  أقرب ما يكون العبد الى ربه وهوساجد. "Lebih dekatnya seorang hamba kepada Tuhan-Nya adalah ketika dia dalam keadaan sujud". Oleh karena itu perbanyaklah didalam sujud harapan-harapan, cita-cita, asa dan impian-impian.

11. Ketika mendengarkan suara kokok ayam. "Ketika engkau mendengarkan kokok ayam, maka mintalah kepada Allah anugerah-Nya. Karena sesungguhnya ayam itu melihat malaikat".

12. Doanya orang tua kepada anaknya (دعاء الوالد لولده). Jangan sampai engkau lupa untuk senantiasa didoakan orang tua. Karena doa orang tua itu doa yang mustajabah. Banyak orang yang aslinya dia tergolong orang yang dholim, akan tetapi berkah dari pada doa kedua orang tua jadilah apa yang terjadi, menjadi orang yang diberikan hidayah oleh Allah. Begitu juga sebaliknya.

13. Doanya anak shalih kepada orang tua.
Mungkin anda dulu sibuk bekerja hingga tidak sempat belajar dan pada saat ini anaknya dipondokkan, jangan lupa untuk selalu dipeseni agar senantiasa tidak lupa mendoakan orang tuanya setiap bakda shalat.

Dan juga masih banyak waktu-waktu yang mustajabah yang lainnya, akan tetapi 13 waktu ini sangat mujarrab untuk terkabulnya doa. Semoga doa yang kita panjatkan di terima oleh Allah.

Sambil berdo'a dengan sungguh-sungguh harus pula disertai dengan perbuatan yang pantas. Sebagaimana pesan  Imam ibnu 'Athoillah As-Sakandary didalam Kitab Hikamnya Al-'Athoiyyah; Bagaimana engkau menginginkan sesuatu yang luar biasa, padahal engkau sendiri tak merubah dirimu dari kebiasaanmu.

Kita banyak meminta dan berharap pada Allah, tetapi sibuknya meminta kadang membuat kita tak sempat menilai kelakuan diri sendiri, pantas ataukah tidak untuk menerimanya. Padahal kalau kita meminta sembari berusaha untuk mengubah diri kita, Allah akan memberikan apa yang kita minta. Karena doa itu hakikatnya adalah penggiring agar kita bisa mengubah diri, mengubah menjadi hamba-hamba  yang taat


Resource Berita : dutaislam.com
Kirab Hari Santri Semarang Berhadiah Umroh dan Sepeda Motor

Kirab Hari Santri Semarang Berhadiah Umroh dan Sepeda Motor



WartaIslami ~ Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang bersama Pemerintah Kota Semarang akan memeriahkan Hari Santri Nasional tahun 2017 dengan berbagai macam kegiatan. Puncak kegiatan Hari Santri Nasional dipusatkan di Lapangan Pancasila Simpang Lima pada Ahad (22/10/2017) pukul 06.00 sampai 11.00.

"Sebelum berkumpul di Simpang Lima, ribuan santri akan mengadakan tahlil di Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal dan dilanjutkan Kirab Santri menuju Simpang Lima," kata Ketua Tanfidziyah PCNU, KH Anasom MHum dalam rilisnya (17/10/2017).

Tahlil kebangsaan akan dipimpin oleh Habib Umar Muthohar dan akan dihadiri oleh seluruh ulama, umaro dan masyarakat Semarang. "Kita akan berdoa bersama untuk kemakmuran bangsa Indonesia dan kesejahteraan masyarakat Semarang dengan tetap hidup damai dan rukun," ungkap Anasom.

Pondok pesantren, sekolah, kampus, santri, tokoh lintas agama dan masyarakat umum sangat antusias untuk mengikuti Kirab Santri ini. Pesan dari kirab santri ini adalah mengawal 99 bendera merah putih sebagai lambang kebulatan tekad menjaga keutuhan NKRI dari rongrongan desintegrasai bangsa.

Di tengah lapangan Simpang Lima yang menjadi kebanggaan Jawa Tengah, para santri akan memekikkan cinta tanah air dan kejayaan Pancasila. "Negeri ini sudah besar dan damai, maka harus dijaga secara bersama-sama jangan sampai hancur," tegas dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo ini.

Kirab santri ini juga akan dimeriahkan dengan parade budaya nusantara, barongsai, drum band, rebana dan atraksi pencak silat pagar nusa. "Bagi peserta kirab disediakan ratusan hadiah yang berasal dari infaq para donatur yang berasal dari Pemerintah, DPR, pengusaha dan masyarakat," jelasnya. Ada hadiah utama berupa tiket umroh dari PT Kaisa Lil Haj dan sepeda motor dari Walikota Semarang.

Bagi masyarakat yang ingin mengikuti Kirab Santri dapat segera mendaftar ke nomer WA Puji 081226461146 atau WA Olla 08993010930. Kupon undian hadiah akan dibagikan di Taman Makam Pahlawan pada 22 Oktober 2017 jam 06.00 WIB.


Resource Berita : dutaislam.com
Kesiangan Bangun, Tetap Wajib Shalat Shubuh Saat Terbangun

Kesiangan Bangun, Tetap Wajib Shalat Shubuh Saat Terbangun



WartaIslami ~ Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta Alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –SAW-, keluarga dan para sahabatnya.

Kesiangan bangun pagi lalu tidak shalat Shubuh adalah keputusan yang salah. Kesalahan ini bisa menyebabkan seseorang mendapat siksa dahsyat di alam kuburnya. Dikabarkan dalam hadits yang panjang, seseorang dibaringkan lalu ditimpa batu besar di atas kepalanya, kepala itu pecah berdarah-darah dan batu menggelinding. Dan itu diulang terus-menerus sampai terjadinya kiamat. Semua itu akibat dari asyik tidur sehingga meninggalkan shalat wajib.

Benar, shalat telah ditentukan waktunya. Dan waktu shalat shubuh itu sejak terbitnya fajar shodiq sampai terbitnya matahari.

وَوَقْتُ صَلَاةِ الصُّبْحِ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ مَا لَمْ تَطْلُعْ الشَّمْسُ فَإِذَا طَلَعَتْ الشَّمْسُ فَأَمْسِكْ عَنْ الصَّلَاةِ فَإِنَّهَا تَطْلُعُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ

"Dan waktu shalat Shubuh adalah dari terbitnya fajar sampai sebelum terbit matahari. Maka apabila matahari sudah terbit, berhentilah dari shalat karena matahari itu terbit di antara dua tanduk syaithan." (HR. Muslim)

Namun jika seseorang terlambat bangun -bukan karena sengaja- maka waktu shalatnya adalah saat ia bangun tidur tersebut. Ia segera wudhu dan shalat Shubuh walau matahari sudah meninggi.

. . . kewajiban bagi orang yang telat bangun pagi, ia wajib bersegera mengambil air wudhu dan mengerjakan shalat shubuh saat terbangun . . .

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ نَسِيَ صَلَاةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا

“Siapa yang lupa mengerjakan satu shalat atau tertidur maka kafaratnya adalah ia mengerjakannya apabila teringat.” (HR. Muslim) dalam riwayat lain terdapat tambahan, “tidak ada kafarat baginya kecuali itu.”

Maka kewajiban bagi orang yang telat bangun pagi, ia wajib bersegera mengambil air wudhu dan mengerjakan shalat shubuh saat terbangun. Perasaan merasa bersalah harus, tapi tidak boleh terlalu larut sehingga menyangka tidak ada lagi kesempatan shalat. Shalat bagi orang yang tertidur adalah saat ia terbangun. Tetapi hendaknya, ia bersungguh-sungguh menyiapkan diri untuk bangun sebelum masuk waktu, seperti berwudhu sebelum tidur, membaca zikir sebelum tidur, menggunakan jam beker atau alarm, dan sarana lainnya. Wallahu A’lam.


Resource Berita : voa-islam.com
2 Kesalahan Fatal dalam Membasuh Tangan Saat Wudhu'?

2 Kesalahan Fatal dalam Membasuh Tangan Saat Wudhu'?



WartaIslami ~ Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Salah satu rukun wudhu –tidak sah wudhu kecuali dengannya- adalah membasuh kedua tangan sampai siku. Para ulama sepakat tentang wajibnya membasuh kedua tangan ketika berwudhu. Berdasarkan firman Allah tentang wudhu,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ

"Wahai orang-orang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan kedua tangannya sampai siku." (QS. Al-Maidah: 6)

Makna “ilaa” pada ayat di atas memiliki ma’na (مع) “bersama” seperti firman Allah,

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَهُمْ إِلَى أَمْوَالِكُمْ

“Dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu.” (QS. Al-Nisa’: 2)

Membasuh tangan dari ujung jari-jari sampai kedua siku. Artinya, semua siku harus ikut dibasuh. Minimal sekali, yaitu sekali basuhan sudah membasahi tangan dari ujung jari sampai siku secara keseluruhan, tidak boleh ada sedikitpun bagian yang luput.

Disunnahkan membasuhnya sebanyak tiga kali. Yakni dalam basuhan pertama seluruh tangan dari ujung jari sampai kedua siku terbasahi semua, dengan cara apapun (maksudnya: memulai basuhan dari ujung jari atau dari siku).

Apabila seseorang berwudhu dan membasahi seluruh tangan dari ujung jari sampai kedua siku, orang tadi telah melakukan basuhan sekali. Kemudian ia lakukan lagi untuk kedua kalinya dan ketiga kalinya. Wallahu A’lam.

2 Kesalahan Fatal

Ada 2 kesalahan fatal yang sering dilakukan kaum muslimin berkaitan hal ini. Pertama, tidak memasukkan siku dalam bagian yang dibasuh. Sebagaimana keterangan di atas, siku termasuk bagian yang wajib dibasuh. Tidak sah wudhu, jika siku luput dari basuhan.

Kedua, tidak merata dalam membasuh kedua lengan bawah. Ada bagian sisi, seringnya sisi bagian belakang, yang tidak basah. Tentu menyebabkan wudhu tidak sah, karena tidak terpenuhi rukun membasuh tangan dengan sempurna.

Anas Radliyallaahu 'Anhu berkata:

رَأَى اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم رَجُلًا وَفِي قَدَمِهِ مِثْلُ اَلظُّفْرِ لَمْ يُصِبْهُ اَلْمَاءُ فَقَالَ: اِرْجِعْ فَأَحْسِنْ وُضُوءَكَ

“Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam melihat seorang laki-laki yang pada telapak kakinya ada bagian sebesar kuku yang belum terkena air maka beliau bersabda: Kembalilah lalu sempurnakan wudlumu." (HR. Abu Dawud dan Nasa'i)

Hadits ini mengandung makna wajibnya membasuh dengan rata semua anggota wudhu. meninggalkan sedikit saja dari anggota wudhu' tersebut menyebabkan tidak sah wudhu yang dilakukan. (Dinukil dari Taudhih al-Ahkam, Syaikh Abdullah bin AbdurrahmanAl-Bassam: I/248)

Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam memerintahkan orang tadi untuk mengulangi wudhu'nya karena wudhu yang telah dikerjakannya tidak sah.

Hadits ini juga berlaku pada anggota wudhu' yang wajib dibasuh lainnya, seperti wajah, tangan dan kaki. Syaikh Al-Bassam mengatakan, “maka bagi orang yang memakai jam tangan atau cincin hendaknya ia menggerak-gerakkan jam atau cincinnya untuk memastikan air sampai ke kulit tangan yang ada dibaliknya.” Wallahu A’lam.


Resource Berita : voa-islam.com
Jum'at Sore Waktu Mustajab untuk Berdoa

Jum'at Sore Waktu Mustajab untuk Berdoa



WartaIslami ~ Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Salah satu bagian waktu istimewa di hari Jum’at adalah di penghujungnya. Yakni waktu sore di hari Jum’at, saat matahari mulai merendah untuk tenggelam. Sebagaimana penjelasan Imam al Khaththabi rahimahullah yang disebutkan dalam Fath al-Baari.

Jika seorang muslim berdoa bertepatan dengan waktu itu, niscaya doanya dikabulkan. Dan waktu istimewa tersebut tidak lama. 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radliyallah 'Anhu, dia bercerita: "Abu Qasim (Rasululah) Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا مُسْلِمٌ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ. (وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا)

"Sesungguhnya pada hari Jum'at itu terdapat satu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim berdiri berdoa memohon kebaikan kepada Allah bertepatan pada saat itu, melainkan Dia akan mengabulkannya." Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya, yang kami pahami, untuk menunjukkan masanya yang tidak lama (sangat singkat)." (Muttafaq 'Alaih)

Dalam riwayat lain, hadits Jabir bin Abdillah Radliyallah 'Anhu, dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda:

يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً لَا يُوجَدُ فِيهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ شَيْئًا إِلَّا آتَاهُ إِيَّاهُ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ

"Hari Jum'at terdiri dari 12 waktu, di dalamnya terdapat satu waktu yang tidaklah seorang muslim pada saat itu memohon sesuatu kepada Allah, melainkan Dia akan mengabulkan permintaannya. Oleh karena itu, carilah saat tersebut pada akhir waktu setelah 'Ashar." (HR. Al-Nasai dan Abu Dawud. Disahihkan oleh Ibnul Hajar dalam al Fath dan dishahihkan juga oleh al Albani dalam Shahih an Nasai dan Shahih Abu Dawud)

Abdullah bin Salam pernah bercerita: "Aku berkata, 'sesungguhnya kami mendapatkan di dalam Kitabullah bahwa pada hari Jum'at terdapat satu saat yang tidaklah seorang hamba mukmin bertepatan dengannya lalu berdoa memohon sesuatu kepada Allah, melainkan akan dipenuhi permintaannya.' Lalu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengisyaratkan dengan tangannya bahwa itu hanya sebagian saat. Kemudian Abdullah bin Salam bertanya; 'kapan saat itu berlangsung?' beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjawab, "saat itu berlangsung pada akhir waktu siang." Setelah itu  Abdullah bertanya lagi, 'bukankah saat itu bukan waktu shalat?' beliau menjawab,

بَلَى إِنَّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ إِذَا صَلَّى ثُمَّ جَلَسَ لَا يَحْبِسُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ فَهُوَ فِي الصَّلَاةِ

"Benar, sesungguhnya seorang hamba mukmin jika mengerjakan shalat kemudian duduk, tidak menahannya kecuali shalat, melainkan dia berada di dalam shalat." (HR. Ibnu Majah. Syaikh al Albani menilainya hasan shahih).

Hadits Anas bin Malik menguatkan lagi, bawah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

الْتَمِسُوا السَّاعَةَ الَّتِي تُرْجَى فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ بَعْدَ الْعَصْرِ إِلَى غَيْبُوبَةِ الشَّمْسِ

"Carilah saat yang sangat diharapkan pada hari Jum'at, yaitu setelah 'Ashar sampai tenggelamnya matahari." (HR. Al-Tirmidzi; dinilai Hasan oleh al Albani di dalam Shahih al-Tirmidzi dan Shahihh al-Targhib).

Al-Hafidz Ibnul Hajar rahimahullah berkata: "diriwayatkan Sa'id bin Mansur dengan sanad shahih kepada Abu Salamah bin Abdirrahman, ada beberapa orang dari sahabat Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam berkumpul lalu saling menyebut satu saat yang terdapat pada hari Jum'at. Kemudian mereka berpisah tanpa berbeda pendapat bahwa saat tersebut berlangsung pada akhir waktu dari hari Jum'at." (Fath al-Baari :II/421 dan Zaad al-Ma'ad oleh Ibnul Qayim I:391)

Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata, "diriwayatkan Sa'id bin Jubair dari Ibnu 'Abbas, dia berkata: 'saat (mustajab) yang disebutkan ada pada hari Jum'at itu terletak di antara shalat 'Ashar dan tenggelamnya matahari.' Sa'id bin Jubair jika sudah melaksanakan shalat 'Ashar dia tidak mengajak bicara seseorang pun hingga matahari terbenam. Demikian ini pendapat mayoritas ulama salaf, dan mayoritas hadits mengarah pada pendapat itu. Selanjutnya, pendapat lain menyatakan bahwa saat tersebut terdapat pada waktu shalat Jum'at. Adapun pendapat-pendapat lainnya tidak memiliki dalil." (Zaad al-Ma'ad: I/394)

Dari ucapannya ini, Ibnul Qayyim mengakomodir pendapat lain yang mengatakan bahwa waktu mustajab tersebut saat berlangsungnya shalat Jum’at. Yakni, sejak duduknya imam di atas mimbar sampai dengan berakhirnya shalat.

Dari Abu Burdah bin Abi Musa al-'Asy'ari, dia bercerita: "Abdullah bin Umar pernah berkata kepadaku: 'apakah engkau pernah mendengar ayahmu menyampaikan hadits dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengenai satu waktu yang terdapat pada hari Jum'at?' Aku (Abu Burdah) menjawab, "Ya, aku pernah mendengarnya berkata, aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

هِيَ مَا بَيْنَ أَنْ يَجْلِسَ الْإِمَامُ إِلَى أَنْ تُقْضَى الصَّلَاةُ

"Saat itu berlangsung antara duduknya imam sampai selesainya shalat." (HR. Muslim)

Ibnul Qayyim berkata, "menurut saya, saat shalat merupakan waktu yang diharapkan pengabulan doa. Keduanya merupakan waktu pengabulan meskipun satu saat yang khusus itu di akhir waktu setelah shalat 'Ashar. Itu merupakan saat tertentu dari hari Jum'at yang tidak akan mundur atau maju. Adapun saat ijabah pada waktu shalat, ia mengikuti waktu shalat itu sendiri sehingga bisa maju atau mundur. Karena ketika berkumpulnya kaum muslimin, shalat, ketundukan, dan munajat mereka kepada Allah memiliki pengaruh terhadap pengabulan (doa). Dengan demikian, saat pertemuan mereka merupakan saat yang diharap dikabulkannya doa. Dengan demikian itu, seluruh hadits berpadu antara yang satu dengan lainnya. . ." (Zaad al Ma'ad: I/394)

Syaikh Ibnu Bazz Rahimahullah berkata, "hal itu menunjukkan bahwa sudah sepantasnya bagi orang muslim untuk memberikan perhatian terhadap hari Jum'at. Sebab, di dalamnya terdapat satu saat yang tidaklah seorang muslim berdoa memohon sesuatu bertepatan dengan saat tersebut melainkan Allah akan mengabulkannya, yaitu setelah shalat 'Ashar. Mungkin saat ini berlangsung setelah duduknya imam di atas mimbar. Oleh karena itu, jika seseorang datang dan duduk setelah 'Ashar menunggu shalat Maghrib seraya berdoa, doanya akan dikabulkan. Demikian halnya jika setelah naiknya imam ke atas mimbar, seseorang berdoa dalam sujud dan duduknya maka sudah pasti doanya akan dikabulkan." (DR. Sa'id bin Ali bin Wahf al Qahthani, Ensiklopedi Shalat menurut al Qur'an dan as Sunnah : II/349)

. . . jika seseorang datang dan duduk setelah 'Ashar menunggu shalat Maghrib seraya berdoa, doanya akan dikabulkan. . . (Syaikh Ibnu Bazz rahimahullah)

Penutup

Waktu sore di hari Jum’at ada saat mustajab untuk berdoa. Siapa meminta kebaikan kepada Allah di waktu itu, pasti Allah kabulkan. Karenanya, manfaatkan waktu sesudah Ashar hingga matahari tenggelam dengan duduk berzikir dan berdoa kepada Allah. Wallahu A’lam.


Resource Berita : voa-islam.com
Polda Kumpulkan Ulama dan Habaib, Ada Apa?

Polda Kumpulkan Ulama dan Habaib, Ada Apa?



WartaIslami ~ Polda Metro Jaya mengumpulkan ulama dan habaib se DKI Jakarta. dalam acara giat zikir bersama bakda zuhur pukul 14.00 zikir dan doa akan dipimpin langsung Habib Umar bin Fafiz dari Tarim Hadhramaut, Yaman.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan, kegiatan ini merupakan agenda internal Polda Metro dalam mempersatukan ulama dan polisi. "Kita udah persiapan kegiatan zikir. Intinya kita ada silaturahim polisi dan ulama-ulama. Apalagi mayoritas polisi juga Muslim," kata Argo saat ditemui Republika.co.id di kantornya, Selasa (17/10).

Argo berharap, melalui zikir bersama yang dipimpin langsung oleh pengasuh pesantren Daarul Musthofa Tarim Hadhramaut ini kehidupan bangsa dan negara Indonesia dapat aman dan sentosa. "Zikir dan doa ini digelar biar negara kita ini diberi berkah, keselamatan oleh Allah SWT dan agar tidak terjadi apa-apa," katanya.

Dikatakan Argo, agenda zikir bersama ini memang terbilang spontan karena memanfaatkan momentum Habib Umar yang dijuluki wali qutb afdal atau waliyullah yang hanya ada seribu tahun sekali muncul kewaliannya ini berada di Indonesia. Untuk itu, dia berharap, semua personel Polda Metro Jaya dapat memanfaatkan momentum ini untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT bersama guru mulia habib Umar bin Hafidz.


Resource Berita : republika.co.id
Hukum Menghususkan Malam Jum'at untuk Yasinan

Hukum Menghususkan Malam Jum'at untuk Yasinan



WartaIslami ~ Soal:

Assalamuallaikum, Ustadz, apa hukumya mengkhususkan malam Jum'at untuk Yasinan, terima asih atas jawabanya.

Zainuri - Pacitan

 Jawab:

Al-Hamdulillah. Shalawat dan salam atas Rasulillah, keluarga dan para sahabatnya.

Bapak Zainuri di Pacitan –Baarakallahu fiik-, dilarang mengistimewakan (menghususkan) malam Jum’at dengan melaksanakan ibadah tertentu untuk mengagungkannya, seperti shalat dan tilawah yang tidak biasa dilakukan pada hari-hari lain, kecuali ada dalil khusus yang memerintahkannya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda;

لَا تَخُصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِي ، وَلَا تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الْأَيَّامِ ، إلَّا أَنْ يَكُونَ فِي صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ

“Janganlah menghususkan malam Jum’at untuk mengerjakan shalat dari malam-malam lainnya, dan janganlah menghususkan siang hari Jum’at untuk mengerjakan puasa dari hari-hari lainnya, kecuali bertepatan dengan puasa yang biasa dilakukan oleh salah seorang kalian.” (HR. Muslim, al-Nasai, al-Baihaqi, dan Ahmad)

Adapun menghususkan surat Yasin di malam Jum’at tidak ada hadits shahih memerintahkannya. Terdapat hadits tentangnya, namun statusnya sangat lemah sehingga tidak sah dijadikan landasan amal.

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ يس فِي لَيْلَةِ الْجُمعَةِ غُفِرَ لَهُ

"Siapa yang membaca surat (Yasin) pada malam Jum'at diampuni dosanya."

Syaikh Al-Albani berkata: "Dhaif Jiddan (sangat lemah,-ter)" (Lihat: Dhaif al-Targhib wa al-Tarhib: no. 450). Dan tidak terdapat satu haditspun yang shahih tentang keutamaan surat Yasin."

Apa yang Disyariatkan Dibaca Pada Malam dan Hari Jum'at?

Salah satu amal ibadah khusus yang diistimewakan pelakasanaannya pada hari Jum’at adalah membaca surat Al-Kahfi. Berikut ini kami sebutkan beberapa dalil shahih yang menyebutkan perintah tersebut dan keutamaannya.

1. Dari Abu Sa'id al-Khudri radliyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَنْ َقَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ فِيْمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيْقِ

"Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada malam Jum’at, maka dipancarkan cahaya untuknya sejauh antara dirinya dia dan Baitul 'atiq." (Sunan Ad-Darimi, no. 3273. Juga diriwayatkan al-Nasai dan Al-Hakim serta dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Targhib wa al-Tarhib, no. 736)

2. Dalam riwayat lain masih dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu 'anhu,

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ فِي يَوْمِ الْجُمْعَةِ أَضَآءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ مَا بَيْنَ الْجُمْعَتَيْنِ

"Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka akan dipancarkan cahaya untuknya di antara dua Jum'at." (HR. Al-Hakim: 2/368 dan Al-Baihaqi: 3/249. Ibnul Hajar mengomentari hadits ini dalam Takhrij al-Adzkar, “Hadits hasan.” Beliau menyatakan bahwa hadits ini adalah hadits paling kuat tentang surat Al-Kahfi. Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam Shahih al-Jami’, no. 6470)

3. Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ فِي يَوْمِ الْجُمْعَةِ سَطَعَ لَهُ نُوْرٌ مِنْ تَحْتِ قَدَمِهِ إِلَى عَنَانِ السَّمَاءَ يُضِيْءُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَغُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَ الْجُمْعَتَيْنِ

“Siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka akan memancar cahaya dari bawah kakinya sampai ke langit, akan meneranginya kelak pada hari kiamat, dan diampuni dosanya antara dua jumat.”

Al-Mundziri berkata: hadits ini diriwayatkan oleh Abu Bakr bin Mardawaih dalam tafsirnya dengan isnad yang tidak apa-apa. (Dari kitab at-Targhib wa al- Tarhib: 1/298)”

Kapan Membacanya?

Sunnah membaca surat Al-Kahfi pada malam Jum’at atau pada hari Jum’atnya. Dan malam Jum’atdiawali sejak terbenamnya matahari pada hari Kamis. Kesempatan ini berakhir sampai terbenamnya matahari pada hari Jum’atnya. Dari sini dapat disimpulkan bahwa kesempatan membaca surat Al-Kahfi adalah sejak terbenamnya matahari pada hari Kamis sore sampai terbenamnya matahari padahari Jum’at.

Imam Al-Syafi'i rahimahullah dalam Al-Umm menyatakan bahwa membaca surat al-Kahfi bisa dilakukan pada malam Jum'at dan siangnya berdasarkan riwayat tentangnya. (Al-Umm, Imam al-Syafi'i: 1/237).

Mengenai hal ini, al-Hafidzh Ibnul Hajar rahimahullaah mengungkapkan dalam Amali-nya:Demikian riwayat-riwayat yang ada menggunakan kata “hari” atau “malam” Jum’at. Maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud “hari” temasuk malamnya. Demikian pula sebaliknya, “malam” adalah malam jum’at dan siangnya. (Lihat: Faidh al-Qadir: 6/199).

DR. Muhammad Bakar Isma’il dalam Al-Fiqh al Wadhih min al Kitab wa al Sunnah menyebutkan bahwadi antara amalan yang dianjurkan untuk dikerjakan pada malam dan hari Jum’at adalah membaca surat al-Kahfi berdasarkan hadits di atas. (Al-Fiqhul Wadhih minal Kitab was Sunnah, hal 241).

Penutup

Menghususkan malam Jum’at dengan membaca surat Yasin tidak disunnahkan –di sana ada sebagian pihak yang masih meyakininya sebagai amal sunnah-. Masuk dalam keumuman larangan menghususkan malam Jum’at dengan jenis amal ibadah khusus. Adapun hadits yang statusnya lebih baik –hasan- menganjurkan untuk membaca surat Al-Kahfi. Wallahu A’lam.


Resource Berita : voa-islam.com
Shalat Lima Waktu dengan Sekali Wudhu', Bolehkah?

Shalat Lima Waktu dengan Sekali Wudhu', Bolehkah?



WartaIslami ~ Soal:

Bolehkah kita shalat lima waktu dengan wudhu' sekali.

Jawab:

Al-Hamdulillah. Shalawat dan salam atas Rasulillah, keluarga dan para sahabatnya.

Penanya yang dirahmati Allah, wudhu’ wajib bagi orang akan melaksanakan shalat jika ia berhadats.

dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

"Tidak akan diterima shalat seseorang yang berhadats sehingga dia berwudhu." (Mutaafaq ‘alaih)

Hadits ini mengabarkan, shalatnya orang yang berhadats tidak akan diterima sehingga ia menyucikan dirinya darinya. Hadats besar dengan mandi janabat. Sedangkan hadats kecil –seperti buang angin, buang hajat, tertidur pulas- dengan berwudhu’.

Maksud dari tidak diterima di sini adalah tidak sahnya shalat seseorang dan belum tertunaikan kewajiban shalatnya sehingga saat shalat ia dalma kondisi suci darinya.

Jika Anda sudah berwudhu’ untuk satu shalat  dan belum batal, maka tidak wajib bagi Anda mengulangi wudhu’ untuk shalat berikutnya. 

Tidak apa-apa Anda shalat lima waktu dengan satu wudhu, selama tidak mengalami hadats (pembatal wudhu'). Namun dianjurkan (tidak wajib) untuk memperbaharui wudhu’ di setiap shalat fardhu.

Imam al-Nawawi Rahimahullah berkata,

اتَّفَقَ أَصْحَابُنَا عَلَى اسْتِحْبَابِ تَجْدِيدِ الْوُضُوءِ : وَهُوَ أَنْ يَكُونَ عَلَى وُضُوءٍ ، ثُمَّ يَتَوَضَّأُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُحْدِثَ

“Para sahabat kami bersepakat sunnah memperbaharui wudhu’. Yaitu ia dalam kondisi punya wudhu’ (suci), lalu wudhu lagi tanpa sebab berhadats.” (Al-Majmu’: 1/495). Wallahu A’lam.


Resource Berita : voa-islam.com
Untuk Islam Lebih Berkualitas, Tinggalkan Aktifitas yang Tak Berguna!

Untuk Islam Lebih Berkualitas, Tinggalkan Aktifitas yang Tak Berguna!



WartaIslami ~ Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Nikmat Iman adalah nikmat terbesar yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Nikmat ini hanya diberikan kepada hamba yang Dia cintai semata. Dengan nikmat ini, amal-amal shalih akan diterima dan pelakunya mendapat pahala.

Allah Subahanahu wa Ta'ala berfirman,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

"Barang siapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Al-Nahl: 97)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Sa’di Rahimahullah, menjelaskan tentang ayat ini, “sesungguhnya iman adalah syarat sah dan diterimanya amal shalih. Bahkan tidak disebut amal shalih kecuali dengan iman. Iman menuntut amal shalih. Yaitu pembenaran yang pasti dalam hati yang membuahkan amal-amal anggota badan berupa melaksanakan yang wajib atau yang sunnah.”

Tanpa iman amal-amal kebaikan tidak akan diterima dan pelakunya akan merugi di akhirat. Sebagaimana firman Allah tentang amal  baik orang kafir,

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.”  (QS. Al-Furqan: 23)

Aisyah radliyallah 'anha bertanya kepada suaminya, 'Ya Rasulallah, Ibnu Jud'aan sewaktu Jahiliyah telah menyambung silaturahim dan memberi makan orang miskin, apakah hal itu bermanfaat baginya?" Beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjawab, "Tidak bermanfaat baginya karena tak pernah sehari pun dia berucap, "Ya Allah Tuhanku, ampunilah dosa kesalahanku pada hari pembalasan." (HR. Muslim)

Imam an Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menerangkan makna hadits ini, "Bahwa apa yang telah dikerjakannya berupa menyambung silaturahim, memberi makan, dan berbagai kemuliaan lainnya tidak memberikan manfaat baginya di akhirat, dikarenakan dia seorang kafir."

Bagi kaum  muslimin wajib menyadari nikmat agung ini. Bahwa keselamatan, kemuliaan, dan kebahagiaannya ditentukan pada iman dan amal shalihnya tersebut. Karenanya, dengan nikmat yang menjadi sebab sah dan diterimanya amal kebaikan, kaum muslimin memanfaatkan setiap waktunya untuk menghasilkan kebaikan.

Allah Subahanahu wa Ta'ala berfirman,

لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia.  Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS. Al-Nisa’: 114)

Ayat ini berisi larangan berbicara dan mengobrol yang tidak memiliki manfaat. Baik obrolan yang tak ada faidahnya seperti ngobrol berlebihan dalam tema mubah.  Lebih-lebih obrolan yang berisi keharaman seperti menggunjing, mengadu domba, menfitnah, dan semisalnya.

Bersamaan dengan itu, seseorang didorong untuk berucap dan berbincang-bincang dengan tema yang membawa manfaat; seperti mendorong orang untuk bersedekah dengan berbagai bentuknya, memerintahkan orang lain berbuat baik dan ketaatan, dan mendamaikan orang-orang yang sedang berselisih. Agar pahalanya sempurna, maka hendaknya menghadirkan niat ikhlas untuk Allah dalam melakukan aktifitas baik itu.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, 

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

 “Di antara tanda baiknya Islam seseorang ia meninggalkan sesuatu yang tak berguna untuknya.”  (HR. Al-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini adlaah shahih)

Hadits ini adalah bagian dari Jawami’ Kalim al-Nabawiyah. Yaitu kalimat ringkas dengan makna luas dan hikmah agung yang keluar dari lisan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam; mencakup perkataan dan perbuatan.

Ini adalah kaidah Islam dan panduan hidup muslim; menyibukkan diri dengan yang manfaat dan meninggalkan perkara perbuatan yangtak bermanfaat. Jika seorang muslim komitmen di atas manhaj ini pasti ia akan memperoleh kebaikan banyak dan selamat dari keburukan tak terkira.

Baiknya keislaman dan kesempurnaan iman seseorang ditandai dengan sikapnya yang selektif dalam beraktifitas (dalam bentuk ucapan atau perbuatan). Hanya beraktifitas yang mendatangkan manfaat untuk dunia dan akhiratnya. Sedangkan aktifitas yang tak penting, tak berguna, dan tak mengandung manfaat ditinggalkan. Di antaranya berlebihan pada aktifitas yang tidak terlalu penting berkaitan urusan dien dan agamanya. Seperti dalam berbicara, melihat, mendengar, beraktifitas dengan tangan, berjalan, berfikir, dan semua gerakan lahir maupun batin.

Imam al-Hasan al-Bashri berkata,

علامة إعراض الله تعالى عن العبد أن يجعل شغله فيما لا يعنيه

“Tanda Allah berpaling dari seorang hamba adalah Allah menjadikannya sibuk dalam aktifitas yang tak berguna.”

Imam al-Syafi’i berkata,

ثلاثة تزيد في العقل: مجالسة العلماء، ومجالسة الصالحين، وترك الكلام فيما لا يعني

“Tiga aktifitas yang akan menambah kecerdasan akal: Bermajelis bersama Ulama, Bermajelis bersama orang-orang shalih, dan meninggalkan ucapan yang tak penting (tak berguna).”

Muhammad bin ‘Ajlan berkata,

إنما الكلام أربعة: أن تذكر الله، وتقرأ القرآن، وتسأل عن علم فتخبر به، أو تكلم فيما يعنيك من أمر دنياك

“Perkataan (baik) itu ada empat macam: engkau berdzikir kepada Allah, Membaca Al-Qur'an, bertanya tentang ilmu sehingga engkau diberi tahu, atau berkata yang bermanfaat dari urusan duniamu.”

Kaidah Islam dan panduan hidup muslim:

menyibukkan diri dengan yang manfaat dan meninggalkan perkara perbuatan yangtak bermanfaat.

Sesungguhnya waktu adalah modal berharga untuk meraih keberuntungan hidup. Jika seorang muslim ingin memanfaatkan waktunya dan menjaga diennya maka ia harus meninggalkan aktifitas yang tak penting (tak bawa guna dan manfaat). Kemudian ia sibukkan diri –dalam menggunakan waktunya- dengan aktifitas yang membawa manfaat untuk dirinya; berkaitan dunia atau akhiratnya. Wallahu A’lam.


Resource Berita : voa-islam.com
close
Banner iklan disini