Ini Aturan Terbaru Taksi Online

Ini Aturan Terbaru Taksi Online



WartaIslami ~ Setelah melalui serangkaian proses pembahasan, uji publik, dan sosialisasi, Kemenhub terbitkan Peraturan pengganti Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 26 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak dalam trayek yang menjadi payung hukum angkutan taksi online.

Seperti diketahui Mahkamah Agung telah menganulir 14 pasal yang terdapat Permenhub tersebut. Peraturan pengganti tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 108 tahun 2017 yang ditandatangani oleh Menhub tanggal 24 Oktober 2017 dan akan berlaku efektif mulai 1 November 2017.

Dalam prosesnya, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melakukan dialog publik di beberapa kota di Indonesia seperti di Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, dan Makassar untuk mendengar langsung respons masyarakat diberbagi daerah terkait dengan aturan taksi online ini. Berdasarkan masukan dari berbagai pihak di berbagai kota tersebut, semua pihak mengharapkan agar diatur kembali.

"Karena kalau tidak diatur maka per 1 November akan terjadi kekosongan hukum. Maka kami mencari masukan dari berbagai pihak di berbagai lokasi," kata Sektetaris Jenderal Kemenhub, Sugihardjo.

Sugihardjo menambahkan peraturan ini mungkin tidak seluruhnya bisa memuaskan semua pihak. Kemenhub berdiri di tengah berusaha mengakomodir semua pihak, mengutamakan kepentingan masyarakat luas, kepentingan nasional dan juga kepentingan pengguna jasa dlm hal keselamatan, perlindungan konsumen, kesetaraan dan kesempatan berusaha.

Ada sembilan substansi yang menjadi perhatian khusus dalan PM 108 Tahun 2017 yaitu, argometer, wilayah operasi, pengaturan tarif, STNK, kuota, domisili TNKB, persyaratan izin, SRUT, dan pengaturan peran aplikator.

Substansi pertama Argometer, yaitu bahwa besaran biaya angkutan sesuai yang tercantum pada argometer yang ditera ulang atau pada aplikasi berbasis teknologi informasi. Kedua Wilayah Operasi, taksi online beroperasi pada wilayah operasi yang ditetapkan.

Ketiga Pengaturan Tarif yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan antara pengguna jasa dan penyedia jasa transportasi melalui aplikasi teknologi informasi dengan berpedoman pada tarif batas atas dan batas bawah yang ditetapkan oleh Dirjen Perhubungan Darat, dan Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ)/Gubernur sesuai dengan kewenangannya.

Keempat STNK, atas nama Badan Hukum atau dapat atas nama perorangan untuk Badan Hukum berbentuk Koperasi. Kelima Kuota, yang ditetapkan oleh Dirjen Perhubungan Darat/Kepala BPTJ/Gubernur sesuai kewenangannya.

Keenam Domisili TNKB, menggunakan tanda nomor kendaraan bermotor sesuai dengan wilayah operasi. Ketujuh Persyaratan Izin, memiliki paling sedikit 5 (lima) kendaraan yang dibuktikan dengan STNK atas nama Badan Hukum atau dapat atas nama perorangan untuk Badan Hukum berbentuk Koperasi.

Kedelapan SRUT, salinan Sertifikat Registrasi Uji Tipe (SRUT) kendaraan bermotor atau salinan bukti lulus uji berupa buku uji/kartu lulus uji yang masih berlaku. Kesembilan Pengaturan Peran Aplikator, perusahaan aplikasi dilarang bertindak sebagai Perusahaan Angkutan Umum.

Diharapkan dengan terbitnya PM 108 Tahun 2017, semua pemangku kepentingan termasuk angkutan online dan konvensional dapat memahami dan mematuhi peraturan ini, karena proses penyusunannya sudah mengakomodir semua pihak, dengan mempertimbangkan UU 20 Tahun 2008 ttg UMKM dan UU 22 Tahun 2009 ttg LLAJ. (Red: Kendi Setiawan)



Resource Berita : nu.or.id
Tips Agar Amal Ibadah Diterima Allah Menurut Ibnu Athaillah

Tips Agar Amal Ibadah Diterima Allah Menurut Ibnu Athaillah



WartaIslami ~ Setiap orang boleh mengamalkan ibadah apapun antara lain shalat sunah, sedekah, puasa sunah, umrah, zikir, shalawat, bakti kepada orang tua, bantuan untuk mereka yang membutuhkan, dan lain sebagainya. Tetapi mereka juga sebaiknya memerhatikan status penerimaan amal ibadah itu di sisi Allah. Hal ini disinggung oleh Syekh Ibnu Athaillah dalam hikmah berikut ini.

لا عمل أرجي للقبول من عمل يغيب عنك شهوده ويتحقر عندك وجوده

Artinya, “Tiada amal yang paling diharapkan untuk diterima selain amal yang lenyap dari pandanganmu dan keberadaannya sepele menurutmu.”

Syekh Ibnu Abbad menyarankan kita untuk melupakan amal yang telah kita lakukan. Menurutnya, dengan cara melupakannya amal itu akan naik ke langit. Kalau amal ibadah itu masih tersangkut di bumi, yaitu amal yang selalu teringat dan terkenang atau selalu disebut-sebut, maka amal itu masih menggantung, belum bisa naik.

وقال على بن الحسين رضى الله تعالى عنه كل شيء من أفعالك إذا اتصلت به رؤيتك فذلك دليل على أنه لا يقبل منك لأن القبول مرفوع مغيب عنك وما انقطعت عنه رؤيتك فذلك دليل على القبول... فعلامة رفع الحق تعالى ذلك العمل أن لا يبقى عندك منه شيء فإنه إذا بقي فى نظرك منه شيء لم يرتفع إليه لبينونة بين عنديتك وعنديته فينبغى للعبد إذا عمل عملا أن يكون نسيا منسيا بما ذكرناه من اتهام النفس ورؤية التقصير حتى يحصل له قبوله

Artinya, “Ali bin Husein RA mengatakan bahwa setiap apapun dari amal-ibadahmu yang berkaitan dengan pandanganmu menjadi tanda penolakan atas amal tersebut. Pasalnya, penerimaan amal itu adalah sesuatu yang diangkat dan lenyap darimu. Sedangkan keterputusan amal ibadah dari pandanganmu menjadi tanda penerimaan atas amal tersebut...

Tanda bahwa Allah mengangkat amalmu itu adalah ketiadaan amal yang tersisa di ingatanmu. Bila sedikit saja amal itu masih terkenang di benakmu, maka amal itu takkan naik ke hadirat-Nya karena tergantung antara dirimu dan Allah. Karena itu sebaiknya seseorang melupakan dan mengabaikan amal ibadahnya dengan cara memandang kekurangan seperti adanya ego atau nafsu pada amal itu dan memandang ketidaksempurnaannya sehingga penerimaan Allah atas amal itu dapat terwujud,” (Lihat Syekh Ibnu Abbad, Syarhul Hikam, Semarang, Maktabah Al-Munawwir, tanpa catatan tahun, juz I, halaman 44).

Kalau menghilangkan ingatan atas amal ibadah yang kita lakukan terasa sulit, cara lain bisa ditempuh. Syekh Zarruq RA menyarankan agar kita memandang amal kita penuh kekurangan. Bahkan ia menganjurkan kita untuk melepaskan kaitan kita dan amal kita sendiri karena pada hakikatnya amal itu bukan milik kita. Amal itu lahir dari kita karena Allah memberi taufiq kepada kita.

قلت: تقدير الكلام لا عمل أرجي للقلوب قبوله وحصول النفع به في إفادة ما يترتب عليه من تنوير وتعريف وكمال وثواب وغير ذلك من عمل يغيب عنك شهوده بشهود مدبره حتى لا ترى لنفسك نسبة فيه. بل لا تدرى له وجودا فى ذاته ويتحقر عندك وجوده لما هو عليه من نقص وعيب ظاهر أو خفي منه. فحاصله أن يرى نفسه مقصرا فيه ويراه مع تقصيره منة من الله عليه، إذ لا يليق به من حيث ذاته ومن هو حتى وفق له يوما ما وإلا لكان ممن هم مطرحون فى الخسائس بل فى أرذل الكفر والنفاق نسئل الله العافية

Artinya, “Menurut saya, bunyi kalimat itu kira-kira begini, ‘Tiada amal yang paling diharapkan dalam hati untuk diterima dan dipetik manfaatnya untuk menghasilkan buah cahaya, makrifat, kesempurnaan, pahala, dan sebagainya selain amal yang lenyap dari pandanganmu karena menyaksikan Allah sehingga kau tidak melihat hubungan dirimu dan amal itu. Bahkan kau sendiri tak mengetahui keberadaan substansi amal itu. Tiada amal yang paling diharapkan selain amal yang keberadaannya sepele menurutmu karena di dalamnya mengandung kekurangan serta cacat baik yang nyata maupun tersembunyi.

Simpulannya, ia memandang dirinya lalai pada amal itu dan memandang di tengah kelalaiannya karunia Allah karena dari segi zatnya ia tak layak atas anugerah itu dan siapa dia sampai diberikan taufiq di suatu hari. Tanpa anugerah itu, ia akan dicampakkan di zat-zat yang hina, bahkan di lembah hina kekufuran dan kemunafikan. Semoga Allah memberikan perlindungan-Nya untuk kita. amiiin,’” (Lihat Syekh Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431, halaman 65).

Hikmah ini mengajarkan banyak hal. Hikmah ini mengajarkan kita agar tidak menjadi takabbur dengan amal ibadah yang pernah kita lakukan. Hikmah ini juga mengingatkan untuk tidak puas dengan amal ibadah karena ketidaksempurnaan amal itu dalam pandangan kita.

Hikmah ini juga mendorong kita untuk tidak pernah hadir dalam amal ibadah itu karena hakikatnya amal itu anugerah Allah berupa taufiq-Nya kepada kita. Semua itu merupakan cara agar amal ibadah yang kita lakukan diterima Allah SWT. Wallahu a ‘lam. (Alhafiz K)


Resource Berita : nu.or.id
Alhamdulillah, Lagi-lagi PBNU Bimbing Dua Warga Jakarta Masuk Islam

Alhamdulillah, Lagi-lagi PBNU Bimbing Dua Warga Jakarta Masuk Islam



WartaIslami ~ Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) KH Mahbub Maafi membimbing dua orang dalam membaca dua kalimat syahadat di Kantor Lembaga Takmir Masjid PBNU, Jalan Kramat Raya Nomor 164, Lantai 4, Jakarta Pusat, Selasa (31/10/2017) pagi.

Kiai Mahbub meminta dua warga yang berniat masuk agama Islam untuk mengikutinya membaca ikrar kalimat syahadat yang disaksikan sejumlah pengurus LTM PBNU.

Usai pengucapan dua kalimat syahadat itu Kiai Mahbub menyalami keduanya. “Alhamdulillah sah. Selamat bapak dan ibu sudah menjadi saudara kami sesama Muslim,” kata Kiai Mahbub.

Ia menganjurkan kedua muallaf ini mandi besar dan mempelajari tatacara shalat sebagai kewajiban harian seorang Muslim dan Muslimah.

“Tidak perlu susah-susah. Pelajari saja surat Al-Fatihah. Niatkan saja sambil belajar. Puasa pada waktunya. Haji kalau ada rezeki,” kata Kiai Mahbub.

Sementara Jimmi, salah seorang muallaf yang datang ke PBNU, mengatakan bahwa ia memeluk Islam tanpa paksaan dari pihak manapun.

“Saya tinggal di Setiabudi. Saya memeluk Islam karena kemauan saya sendiri,” kata Jimmi kepada NU Online.

Sementara salah seorang wanita yang baru memeluk Islam tampak mengamati buku tatacara shalat harian. Ibu ini berasal dari kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.


Resource Berita : dutaislam.com
Berkaca dari Kekhusyukan Mereka

Berkaca dari Kekhusyukan Mereka



WartaIslami ~ Kita bisa belajar atau mengambil hikmah dari siapa pun, termasuk dari perilaku orang non-Muslim dalam kehidupan keseharian mereka. Beberapa kali pindah tempat kerja, saya hampir selalu punya teammate non-Muslim yang cukup akrab. Salah satu indikator kearaban adalah seringnya kami makan siang bersama. Di momentum  itu kami bertukar cerita, dan salah satu hal yang saya amati  adalah cara berdoa ketika hendak makan.

Sepengamatan saya, banyak orang Islam, termasuk saya,  tidak terlalu fokus berdoa saat hendak makan. Memang ada kalimat yang dirapalkan, bisa dilihat dari gerak bibir, tetapi bacaan itu diucapkan sembari beraktivitas lain seperti mengaduk makanan, menyiapkan minum dan lain-lain.

Berbeda halnya  dengan teman-teman non-Muslim, khususnya yang beragama Nasrani,  yang pernah saya akrabi. Biasanya mereka menundukkan kepala beberapa saat, terlihat kehusyukan dari mimik mereka, setelah selesai mereka mengangkat kepala dan kembali bercengkerama. Sikap tunduk, diam, khusyuk, fokus berdoa, relatif jarang saya temui dalam perilaku teman-teman Muslim saya.

Meski ada yang membid’ahkan, saya sendiri tetap membaca do’a “Bismillah, Allahumma bariklana fiimaa rozaqtanaa waqinaa adzabannar” seperti yang pernah diajarkan sewaktu kecil. Dengan catatan, tambahan “Allahummabariklanaa…” tidak saya yakini berasal dari Rasulullah SAW. Karena setelah membaca tulisan-tulisan asatidz, diketahui hadits yang menyebutkan doa tersebut tidak sahih. Makanya ada yang membid’ahkan. Saya sendiri ikut pendapat yang menyatakan boleh selama tidak dianggap berasal dari Rasulullah.

Saya tahu, teman-teman Muslim pun membaca doa itu ketika makan. Banyak yang hafal doa ini. Tetapi jarang saya temui keseriusan saat membacanya. Introspeksi kepada diri sendiri, saya pun sering tidak menghadirkan hati ketika membaca doa itu. Ketika menyebut nama Allah, tidak menghadirkan kesadaran bahwa Allah-lah yang telah menyediakan rezeki yang terhidang di atas meja di hadapan saya.

Saya beriman dengan firman Allah SWT berikut yang ditujukan kepada orang kafir, “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan…” (QS: Al-Furqaan : 23). Artinya, kekhusyukan mereka memang sia-sia belaka bila tidak dilandasi iman kepada Allah swt. Tapi bukan berarti saya bisa merasa tenang. Ada ayat lain yang “membayangi” saya. Yaitu:

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS Al-Hadid: 16)

“Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada Engkau dari ilmu yang tak bermanfaat, hati yang tidak khusyu’, jiwa yang tak kenal puas dan doa yang tak diterima.”


Resource Berita : republika.co.id
Wudhu Amalan yang Mudah, Tapi Besar Balasannya

Wudhu Amalan yang Mudah, Tapi Besar Balasannya



WartaIslami ~ Ada sebuah amalan yang sangat mudah dilakukan namun besar balasannya yakni berwudhu. Wudhu sendiri ialah mensuci atau membasuh seluruh anggota badan tertentu dengan air sebelum mengerjakan shalat (shalat wajib maupun shalat sunah). Wudhu adalah syarat sah shalat, bila seseorang melakukan shalat tanpa berwudhu maka shalatnya tidaklah sah.

Seperti Sabda Nabi Muhammad SAW : “Tidak diterima Sholatmu tanpa Bersuci atau Wudhu “(HR. Muslim). Juga sabda nabi ” Bersuci atau Berwudhu adalah sebagian dari iman” (HR. Muslim)

Namun berwudhu dengan tidak berpakaian apakah dilarang? Bahwa tidak ada yang salah jika seseorang berwudhu dalam keadaan tidak memakai pakaian. Sebab ada alasan yang membuat seseorang tersebut berwudhu tanpa pakaian.

Berwudhu tidak dalam berpakain tidak masalah. Sebab Rasulullah SAW. mengajarkan kita mandi wajib. Dimana itu didahului dengan membersihkan kemaluan kemudian kita berwudhu. Ketika itu tentu saja tidak dalam berpakaian.

Namun, jika di luar alasan tersebut, alangkah baiknya ketika berwudhu menggunakan pakaian. Hal tersebut memang tidak dilarang, namun berkaitan dengan adab dan etika dalam berwudhu.

Selain itu berwudhu memiliki banyak manfaat bagi manusia seperti yang dijelaskan Rasulullah dalam sabdanya seperti berikut ini : “Barang Siapa yang Berwudhu secara Sempurna, maka dosa – dosanya akan gugur atau hilang di jasad-nya hingga keluar juga dari bawah kuku-kukunya” (HR. Muslim)

Seseorang yang tidur dalam keadaan suci atau telah berwudhu, maka para Malaikat mendoakan orang tersebut, memintakan ampun pada Sang Rabb. Al-Imam ath-Thabrani meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sucikanlah badan-badan kalian, semoga Allah mensucikan kalian, karena tidak ada seorang hamba pun yang tidur malam dalam keadaan suci melainkan satu Malaikat akan bersamanya di dalam syi’aar, tidak satu saat pun dia membalikkan badannya melainkan satu Malaikat akan berkata: ‘Ya Allah, ampunilah hamba-Mu ini, karena ia tidur malam dalam keadaan suci.”

Al-Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anuma, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang tidur dalam kedaan suci, maka Malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dan tidaklah ia bangun melainkan Malaikat berdo’a: ‘Ya Allah, ampunilah hamba-Mu si fulan karena ia tidur dalam keadaan suci".


Resource Berita : republika.co.id
Mengapa Iblis tak Mau Sujud kepada Nabi Adam?

Mengapa Iblis tak Mau Sujud kepada Nabi Adam?



WartaIslami ~ Mengapa iblis tidak mau bersujud kepada Nabi Adam as? Sebab, iblis sangat dengki terhadapnya. Karena itu, barang siapa di antara kita memiliki sifat dengki, maka sungguh kita telah memiliki salah satu sifat iblis. Rasulullah SAW bersabda, "Melepaskan dua ekor srigala lapar di kandang kambing tidak lebih besar bahayanya di bandingkan dengan seorang Muslim yang rakus terhadap harta dan dengki terhadap agama. Sesungguhnya dengki itu memakan habis kebaikan, seperti api melalap habis kayu". (HR. At-Tirmidzi)

Seorang pendengki hidupnya tidak akan mulia di dunia. Malaikat pun akan muak kepadanya. Jika kelak mati, ia akan mendapatkan kedudukan yang teramat hina di hadapan Allah. Demikian pula di Yaumul Hisab timbangannya akan terbalik, sehingga neraka Jahanam pun siap menerkamnya. Itulah nasib malang yang akan Allah timpakan kepada seorang pendengki.

Apakah dengki itu? Secara garis besar sifat ini terbagi ke dalam dua bagian. Pertama, dengki yang diharamkan. Seseorang merasa tidak senang atas kenikmatan yang diperoleh orang lain dan merasa bahagia kalau orang lain mendapat musibah. Atau setidaknya, ia menginginkan nikmat yang ada pada orang lain tersebut hilang. Ini dengki yang diharamkan, karena sifat seperti ini termasuk ke dalam tingkatan ketiga dari penyakit hati.

Kedua, dengki yang diperbolehkan berupa rasa iri kepada kenikmatan orang lain, tapi tidak ingin menghilangkan kenikmatan tersebut darinya. Melihat orang lain memiliki rumah bagus, kita merasa iri ingin pula memiliki hal yang sama dan tidak dengan cara menjadikan orang tersebut jatuh miskin. Keinginan seperti ini wajar-wajar saja selama tidak bergeser menjadi perasaan tidak enak, yang berlanjut pada hasrat ingin melenyapkan kenikmatan orang tersebut.

Bahkan, 'kebolehan' merasa dengki seperti ini insya Allah akan berpahala bila kita berbuat. Pertama, ketika melihat orang berilmu dan gemar mengamalkan ilmunya, giat berdakwah dengan penuh keikhlasan, dan kita pun menginginkan untuk berbuat seperti itu. Kedua, ketika melihat orang kaya yang gemar membelanjakan hartanya di jalan Allah, lantas kita menginginkan berbuat hal serupa.

Dengki biasanya akan berpasangan dengan keadaan yang dihadapi pemiliknya. Mahasiswa akan dengki kepada sesama mahasiswa. Orang pintar akan dengki kepada orang yang pintar lagi, demikian seterusnya. Pendek kata, akan sulit terjadi seseorang merasa dengki terhadap orang lain yang memiliki kapasitas berbeda.

 Secara umum ada empat hal yang bisa menyebabkan munculnya sifat dengki, yaitu: pertama, kebencian dan permusuhan. Sifat ini bisa muncul karena pernah disakiti, difitnah, salah satu haknya dilanggar, atau sebab-sebab lain yang merugikan diri sendiri. Kedua, hadirnya naluri untuk selalu lebih dari orang lain. Naluri ini merupakan jalan tol menuju penyakit dengki. Seseorang yang merasa pakaiannya paling bagus misalnya, akan mudah dihinggapi rasa dengki ketika melihat ada orang yang pakaiannya lebih bagus dan lebih mahal daripada yang dipakai dirinya.

Kita hidup seharusnya seperti orang memandikan mayat. Ia akan senang bila ada yang membantu. Ketika berkiprah dalam dakwah, hendaknya kita bersyukur tatkala ada saudara seiman yang memiliki misi yang sama, dan ditakdirkan ilmu dan jamaahnya lebih banyak dari kita. Allah SWT berfirman dalam QS An-Nisaa: 32, ''Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak daripada sebagian lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi wanita pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.''

Penyebab dengki yang ketiga adalah ambisi kepemimpinan. Obsesi ingin selalu memimpin yang disertai ambisi untuk merebut pucuk pimpinan adalah sarana yang paling rawan munculnya kedengkian. Bahkan bisa menjadi awal hancurnya sebuah negara dan umat. Karena itu, dalam konteks kepemimpinan umat, orang yang pertama kali terbenam ke dalam neraka adalah ulama-ulama pendengki yang selalu berambisi menjadi pemimpin dan mengejar popularitas. Munculnya kedengkian dalam hati para ulama dan pemimpin umat sedikit demi sedikit akan menghapuskan cita-cita luhur untuk mewujudkan ittihadul ummah; persatuan umat dalam cahaya Islam.

Dalam QS Al-Hujurat ayat 12 disebutkan: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka karena sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah pula sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.

Penyebab keempat adalah akhlak yang buruk. Orang yang buruk akhlaknya akan kikir berbuat kebaikan dan tidak suka melihat orang lain mendapatkan kebaikan. Jika melihat sesuatu yang tidak disukainya, ia pasti akan menggerutu dan sibuk menyalahkan. Orang seperti ini hidupnya akan selalu sengsara, dan di akhirat nanti akan mendapatkan transfer pahala yang ia miliki kepada orang yang didengkinya. Rasulullah menyebutnya sebagai orang bangkrut, mufhlis. Ia membawa pahala kebaikan, tapi pahala itu habis untuk menggantikan dosa yang diperbuatnya pada orang lain.

Oleh karena itu, Ibnu Sirrin pernah berucap, "Saya tidak sempat dengki di dunia ini. Kengapa saya harus dengki, apalagi perkara di dunia dan terlebih lagi dengki kepada orang saleh? Bukankah dunia ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan akhirat nanti. Apa perlu kita dengki? Wallahu a'lam bish-shawab.



Resource Berita : republika.co.id
Di Meksiko Ada Tradisi Nyatus, Nyewu, seperti tradis Islam Nusantara

Di Meksiko Ada Tradisi Nyatus, Nyewu, seperti tradis Islam Nusantara



WartaIslami ~ Nurul Friska Dewi, saat berkesempatan mengikuti Festival Dia De Los Muertos di Meksiko, Ahad malam (29/10/2017) menceritakan, di Meksiko juga ada 3 dina, 7 dina, nyatus – nyewu, dan lainnya seperti di Nusantara. Menurut dia, saat dihubungi via telepon, menjelaskan bahwa meski caranya berbeda, akan tetapi orang Meksiko masih memegang teguh nilai-nilai untuk menghormati orang yang sudah mati yang secara substansi sama seperti tradisi Islam di Nusantara ini, khususnya bagi orang-orang Islam di Jawa.

Peraih Program Beasiswa 5000 Doktor Kemenag dan Program Sandwich Austria ini menjelaskan, Festival Dia De Los Muertos menjadi budaya unik di Meksiko tersebut. Menurut dia, tradisi itu hampir sama seperti di Jawa, di Nusantara yang intinya menghormati orang-orang yang sudah mati. Meski berbeda, orang Meksiko juga punya cara untuk menghormati orang yang sudah mati yang substansinya sama seperi orang Jawa, khususnya yang melestarikan tradisi Islam khas Nusantara seperti tahlilan, ziarah kubur, nyadran, nyewu, nyatus dan lainnya.

Jika di Eropa dan Amerika ada festival Halloween, di Indonesia ada Takbir Keliling, tradisi nyewu, nyatus, maka di Meksiko ada festival unik. Festival El Dia de Los Muertos merupakan hari orang mati di Meksiko. Perayaan tradisional dimulai pada tengah malam pada malam, biasanya mulai tanggal 29-30 Oktober atau tanggal 1 dan 2 November setiap tahunnya. Hari tersebut manjadi hari libur nasional. Di Amerika Serikat festival tersebut juga dirayakan oleh komunitas Mexican atau masyarakat Meksiko yang menetap di sana.

“Malam ini (29 Oktober 2017 waktu wina) dosen STAINU Temanggung saya mendatangi acara Dia De Los Muertos (Day of the Dead) yang diadakan oleh masyarakat Meksiko. Acara ini dihadiri anak-anak, orang dewasa, maupun keluarga. Ketika saya masuk di Kursalon, saya melihat orang-orang dengan wajah yang dilukis. Saya kemudian masuk, di ruang tersebut sudah ada pertunjukan. Kelap kelip lampu dan dekorasi warna warni di atas ruangan tersebut mempercantik ruangan. Saya pun melihat ruangan lain yang isinya adalah makanan dan barang-barang handmade dari Meksiko. Setelah saya mencicipi camilan dan roti, saya pun menuju ruang pertama tadi. Di pojok saya melihat tempat untuk merias wajah atau melukis wajah,” jelas Dosen PAI Jurusan Tarbiyah STAINU Temanggung itu.

Sementara saya menunggu giliran, kata dia, saya disapa beberapa orang dan langsung bicara cas cis cus bahasa Spanyol. “Hmmm... di situ saya mulai roaming. Akhirnya kami bicara Bahasa Inggris, ternyata oh ternyata saya dikira orang Spanyol. Hadeh padahal beda. Dalam acara tersebut juga terdapat ritual bagaimana mereka menghormati orang-orang yang sudah meninggal. Hal ini hampir sama dengan tradisi di Jawa misalnya 3 dina, 7 dina, nyatus – nyewu, dan lainnya,” tegas Alumnus Pascasarjana UGM Yogyakarta tersebut.

Saya pun memberanikan diri untuk dilukis setelah giliran teman saya, kata tida, dan ini hasilnya, nggak menakutkan sih. “Tapi malah lucu kaya Panda dan setelah acara tersebut, saya pulang, nah di situ saya mulai merasakan bagaimana saya menjadi hantu karena orang di luar sana yang tidak tahu akan kaget, untung deh di lift ga ketemu orang pas buka pintu,” ujarnya.

Ia menilai, ternyata orang Meksiko juga mengenal tradisi seperti di Jawa, yaitu nyewu, nyatus, tahlilan, ziarah kubur, meskipun cara merayakannya berbeda. Akan tetapi ia menilai, tradisi itu sebagai bentuk tradisi menghormati orang yang sudah mati. Menurutnya, jika warga nahdiyin menghormatinya dengan membaca doa-doa, tahlil, atau ziarah kubur, namun di Meksiko memiliki cara sendiri. Akan tetapi, menurutnya sama, tradisi ini menjadi wujud penghormatan bagi orang yang sudah meninggal. 


Resource Berita : dutaislam.com
Dzikir-dzikir Pemberat Timbangan Amal di Akhirat

Dzikir-dzikir Pemberat Timbangan Amal di Akhirat



WartaIslami ~ Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Seorang muslim wajib menyiapkan bekal-bekal untuk hari kiamat. Di antaranya menyiapkan amal-amal yang memberatkan timbangannya di akhirat.

Allah Subahanahu wa Ta'ala berfirman tentang timbangan amal ini,

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِن كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَاوَكَفَىٰ بِنَا حَاسِبِينَ

“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala) nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan.” (QS. Al-Anbiya’: 47)

وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ

“Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barang siapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf: 8-9)

فَأَمَّا مَن ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ. فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَّاضِيَةٍ. وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ. فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ. وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ. نَارٌ حَامِيَةٌ

“Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan) nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan) nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu?” (QS. Al-Qari’ah: 6-11)

Setiap amal yang dikerjakan seorang muslim dengan berharap kepada Allah akan memberatkan timbangan kebaikannya sehingga ia akan beruntung dengan karunia Allah. Di antara amal-amal tersebut adalah dzikrullah.

Sejumlah dzikir yang diajarkan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam akan memberatkan timbangan amal seorang muslim di hari kiamat kelak. Karenanya kita wajib mengetahuinya, mempelajari dan mengajarkannya kepada kaum muslimin.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu berkata, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ : سُبْحَانَ اللَّهِ ، وبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

"Dua kalimat yang ringan diucapkan lisan, berat ditimbangan, dan dicintai oleh Al-Rahman (Allah): Subhaanallaahi Wa Bihamdihi Subhaanallaahil 'Adzim." (HR. Muttafaq 'Alaih)

Dari Ummul Mukminin Juwairiyah binti al-Khuwairits Radhiyallahu 'Anha, bahwasanya Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah keluar dari rumahnya di pagi buta untuk shalat shubuh, sementara Juwairiyah sudah berada di tempat shalatnya. Kemudian Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam kembali ke rumah salah satu istrinya ini setelah masuk Dhuha, sementara ia masih duduk di tempat shalatnya. Kemudian beliau bersabda,

لَقَدْ قُلْتُ بَعْدَكِ أَرْبَعَ كَلِمَاتٍ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ لَوْ وُزِنَتْ بِمَا قُلْتِ مُنْذُ الْيَوْمِ لَوَزَنَتْهُنَّ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

"Sungguh aku membaca empat kalimat tiga kali seandainya ditimbang dengan apa yang kamu baca seharian niscaya menyamainya; yakni Subhanallah Wabihamdih 'Adada Khalqih, Wa Ridhaa Nafsih, Wazinata 'Arsyih, Wamidada Kalimatih. (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya sebanyak jumlah makhluk-Nya, sesuai dengan keridhaan jiwa-Nya, seberat timbangan 'Arasy-Nya, dan sebanyak jumlah kalimat-kalimat-Nya)." (HR. Muslim)

Dari Abu Malik al-Asy’ari Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

الحمدُ للهِ تملأ الميزانَ ، و سبحان اللهِ و الحمدُ للهِ تملآنِ أو تملأ ما بين السماءِ و الأرضِ

“Dan Al-Hamdulillah memenuhi timbangan, Subhanallah dan Alhamdulillah memenuhi ruang antara langit dan bumi.” (HR. Muslim)

Dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu 'Anhu, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang bersabda,

خَصْلَتَانِ أَوْ خَلَّتَانِ لَا يُحَافِظُ عَلَيْهِمَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ هُمَا يَسِيرٌ وَمَنْ يَعْمَلُ بِهِمَا قَلِيلٌ: يُسَبِّحُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ عَشْرًا، وَيَحْمَدُ عَشْرًا وَيُكَبِّرُ عَشْرًا؛ فَذَلِكَ خَمْسُونَ، وَمِائَةٌ بِاللِّسَانِ وَأَلْفٌ وَخَمْسُ مِائَةٍ فِي الْمِيزَانِ، وَيُكَبِّرُ أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ إِذَا أَخَذَ مَضْجَعَهُ وَيَحْمَدُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَيُسَبِّحُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ؛ فَذَلِكَ مِائَةٌ بِاللِّسَانِ وَأَلْفٌ فِي الْمِيزَانِ

“Ada dua sifat atau kebiasaan yang tidaklah seorang muslim memelihara keduanya melainkan ia akan masuk ke dalam Surga. Dua kebiasaan tersebut mudah dilakukan sedangkan yang mengamalkan keduanya adalah sedikit. Yaitu bertasbih sepuluh kali, bertahmid sepuluh kali dan bertakbir sepuluh kali di setiap selesai shalat wajib. Semuanya berjumlah seratus lima puluh ucapan di lisan dan seribu lima ratus dalam timbangan amal. (kedua) Bertakbir tiga puluh empat kali, bertahmid tiga puluh tiga kali dan bertasbih tiga puluh tiga kali apabila hendak tidur. Maka yang demikian itu berjumlah seratus ucapan di lisan dan seribu dalam timbangan amal.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Al-Tirmidzi, al-Nasai, dan Ibnu Majah. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih di Shahih al-Targhib wa al-Tarhib)

Oleh karenanya, mari kita manfaatkan waktu kita dengan memperbayak dzikrullah. Senantiasa kita basahi lisan kita dengan menyebut nama Allah yang Maha pengasih dan penyayang. Khususnya beberapa kalimat dzikir tasbih dan tahmid di atas.

Ajarkan dzikir-dzikir ini kepada pasangan dan anak-anak kita. Jangan pernah bosan dan merasa penat menyampaikan pesan agung ini kepada saudara-saudara seiman. Sesungguhnya orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain akan senantiasa mendapat ampunan dari Allah, dan doa kebaikan dari para malaikat, hewan-hewan –dari semut yang di sarangnya sampai ikan di lautan-.

Sesungguhnya orang yang menunjukkan kepada kebaikan akan mendapat pahala seperti pahala setiap orang yang mengerjakannya. Wallahu A’lam.


Resource Berita : voa-islam.com
Hakikat Orang Bertakwa

Hakikat Orang Bertakwa



WartaIslami ~ Pebincangan para sahabat adalah sebaik-baik perbincangan. Mereka tak memperbincangkan sesuatu kecuali kebaikan. Tak ada diskusi yang sia-sia, melainkan di dalamnya membicarakan amal. Jarang muncul perdebatan tentang sebuah perkara, melainkan banyak percakapan soal amal.

Seperti percakapan indah dua sahabat Umar bin Khattab RA dan Ubay bin Ka'ab ini. Umar yang meriwayatkan atsar ini bertanya kepada Ubay, "Wahai Ubay, apa makna takwa?" Ubay yang ditanya justru balik bertanya. "Wahai Umar, pernahkah engkau berjalan melewati jalan yang penuh duri?"

Umar menjawab, "Tentu saja pernah." "Apa yang engkau lakukan saat itu, wahai Umar?" lanjut Ubay bertanya. "Tentu saja aku akan berjalan hati-hati," jawab Umar. Ubay lantas berkata, "Itulah hakikat takwa."

Percakapan yang sarat akan ilmu. Bukan hanya bagi Umar dan Ubay, melainkan juga bagi kita yang mengaku manusia bertakwa ini. Menjadi orang bertakwa hakikatnya menjadi orang yang amat berhati-hati. Ia tidak ingin kakinya menginjak duri-duri larangan Allah SWT.

Ia rela mengerem lajunya, memangkas egonya, menajamkan pandangan, menelisik sekitar, dan mencari celah jalan selamat. Semua fungsi tubuh ia maksimalkan agar ia tak celaka. Agar sebiji duri pun tak melukai kemudian mengucurkan darah dari kakinya. Takwa hakikatnya hati-hati.


Resource Berita : republika.co.id
Kartu SIM tak Diregistrasi Ulang Setelah Tanggal Ini Diblok

Kartu SIM tak Diregistrasi Ulang Setelah Tanggal Ini Diblok



WartaIslami ~  Menkominfo Rudiantara mengatakan waktu registrasi ulang kartu SIM diwajibkan mulai 31 Oktober dan diberi batas sampai 28 Februari 2018. Menurut Rudiantara, sosialisasi ini telah disampaikan sejak dua pekan lalu.

Tercatat hingga saat ini sudah ada 47 juta yang melakukan verifikasi dari 300 juta pengguna kartu SIM aktif. "Kalau setelah 28 Februari, dikasih waktu sebulan, kalau sebulan belum registrasi, ya itu diblok tidak bisa telepon, nantinya juga diblok incoming, dan diblok sepenuhnya. Besok diwajibkan registrasi mulai 31 Oktober," kata Menkominfo di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Senin (30/10).

Registrasi kartu ini memakai NIK/Nomor KTP dan Kartu Keluarga (KK). Ini berlaku bagi seluruh penyedia jasa layanan telekomunikasi.

Registrasi ulang, menurutnya, sangat mudah, paling tidak membutuhkan waktu satu menit. Menurutnya dengan meregister ulang, kenyamanan pelanggan jadi meningkat. "Yang tadinya suka ada SMS 'Papa mama minta pulsa', ketahuan. SMS prank, bohong, tipu-tipu udah ketahuan gampang kan ini bagus untuk operator dan masyarakat juga. Penipuan hilang, industri rugi triliunan," kata dia.

Sementara apakah setelah diblok, kartu SIM tersebut masih bisa dipakai atau tidak, kata dia, bergantung pada operator selular. "Tergantung operator, karena kan bisnis juga," ujarnya.


Resource Berita : republika.co.id
Lewat Pagar Nusa, Noe Letto Ajak Generasi Milenial Siapkan...

Lewat Pagar Nusa, Noe Letto Ajak Generasi Milenial Siapkan...



WartaIslami ~ Noe Letto didaulat menjadi Duta Pagar Nusa. Selama ini, Sabrang Mowo Damar Panuluh, atau Noe Letto, dikenal sebagai musisi dan seniman yang peduli dengan gerakan keislaman, kebangsaan dan national security. Noe didaulat langsung sebagai Duta Pagar Nusa, oleh Ketum Pagar Nusa M Nabil Haroen di NU Center, Boyolali, Ahad (29/10).

Di hadapan ribuan pendekar Pagar Nusa, M Nabil Haroen menyematkan simbol Pagar Nusa kepada Noe Letto. Agenda ini berlangsung dalam rangkaian Pelantikan Pengurus Cabang Pagar Nusa Boyolal.

"Kami memberikan kehormatan kepada Noe Letto, sebagai Duta Pagar Nusa. Kami memberikan penghargaan sekaligus kesempatan sebagai Duta Pagar Nusa kepada orang-orang khusus, tidak sembarangan figur. Pimpinan Pagar Nusa melihat kiprah Noe Letto dalam memperjuangkan nilai-nilai kebangsaan sekaligus pengabdian pada persatuan negeri ini. Ini selaras dengan visi Pagar Nusa," kata Nabil Haroen.

Nabil mengajak setiap pendekar dan kader Pagar Nusa untuk menjaga diri dan siap dengan amanah untuk mengabdi pada kiai serta menjaga Indonesia. "Peran Pagar Nusa semakin berat, tantangan yang menghadang di depan akan semakin besar. Negeri ini menghadapi berbagai gelombang ancaman, baik dari internal maupun dari luar. Pagar Nusa harus cerdas membaca geopolitik, sekaligus mempersiapkan diri. Silaturahmi sangat penting, untuk menguatkan barisan," jelas Nabil.

Mendapat penghargaan sebagai Duta Pagar Nusa, Noe Letto ingin agar Pagar Nusa tidak hanya menjadi simbol. "Pagar Nusa ini kekuatan besar, yang tidak mudah dibaca oleh pihak lawan. Ini kekuatan kita, bagaimana pola-pola kaderisasi internal Pagar Nusa menjadi keistimewaan. Gerakan para pendekar Pagar Nusa yang solid, terkontrol, terkomando dan bergerak dalam senyap, menjadi kekuatan utama," kata Noe Letto.

Ia juga mengajak anak muda generasi milenial negeri ini untuk peduli pada bangsa Indonesia. "Lapisan baru anak muda, generasi milenial kita, harus peduli pada bangsa. Apalagi di era big data, era cyber war sekarang ini, isu national security sebagai kepedulian pada bangsa menjadi penting," jelas Noe.

Dalam kesempatan ini, Noe Letto mengajak generasi milenial bergabung dalam Pagar Nusa, untuk mengasah kekuatan mental, fisik dan spiritual. "Kepedulian pada bangsa menjadi sangat penting, apalagi di era sekarang ini. Pertahanan mental, fisik dan spiritual menjadi prasyarat penting untuk berkontribusi di era sekarang. Menjadi bagian dari Pagar Nusa, merupakan keistemewaan bagi generasi muda sekarang," ungkapnya.

Wakil Ketua Umum Pagar Nusa KH Athoillah Habib (Gus Atho) menegaskan bahwa pada masa depan Pagar Nusa harus siap dengan medan kompetisi baru. "Kita harus mampu berkontribusi di era cyber sekarang ini. Namun, pertahanan fisik dan spiritual masih sangat penting. Untuk itu, pencak silat masih sangat relevan. Kita bisa melihat, bagaimana negara China, Jepang dan beberapa negara lain, tetap menjaga warisan bela dirinya, di tengah perkembangan teknologi. Bahkan, keahlian bela diri dan kecerdasan mental-spiritual menjadi krusial untuk kehidupan masa sekarang," jelas Gus Atho.

Dalam beberapa tahun ini, Pagar Nusa telah melatih sekitar tiga juta pendekar dan kader yang tersebar di penjuru Indonesia dan beberapa negara, semisal Malaysia, Hongkong dan Taiwan. Para pelatih Pagar Nusa juga diundang ke beberapa negara Eropa dan Asia untuk menjalani program residensi bela diri dan pertemuan antarperguruan bela diri lintas Negara. (Red Alhafiz K)


Resource Berita : nu.or.id
Ketika Universitas Soka Jepang Kembali ‘Menghadirkan’ Gus Dur

Ketika Universitas Soka Jepang Kembali ‘Menghadirkan’ Gus Dur



WartaIslami ~ Hj Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid didaulat memberikan kuliah umum di depan para mahasiswi akademi perempuan Universitas Soka, Tokyo, Jepang pada Rabu (25/10) lalu.

Universitas yang mempunyai komitmen kuat di bidang perdamaian dan kebudayaan ini mengundang istri mendiang Gus Dur untuk menyampaikan prinsip-prinsip perdamaian, khususnya dalam Islam.

Shinta Nuriyah didampingi putri sulung Alissa Wahid dan putri bungsunya Inayah Wahid dalam lawatan ke universitas yang didirikan oleh Daisaku Ikeda, teman baik Gus Dur dan pendiri Soka Gakkai.

Kepada NU Online, Alissa Wahid menerangkan poin-poin penting yang disampaikan ibundanya di depan sekitar 400 mahasiswi Universitas Sokka, di antaranya terkait prinsip-prinsip Islam dalam menjaga dan merawat perdamaian.

“Kedatangan ibu ke Universitas Sokka untuk menyampaikan kuliah umum di depan para mahasiswi akademi perempuan universitas tersebut,” jelas Alissa Wahid.

Yang diminta adalah, sambung Alissa, berbicara tentang Islam dan prinsip-prinsip perdamaian. Di mana dalam Islam prinsip-prinsip perdamaian itu sangat kuat.

“Yang ibu sampaikan adalah apa arti kata Islam dan bagaimana diejawantahkan, Islam rahmatan lil 'alamin dan bagaimana Islam hidup berdampingan dengan kelompok yang berbeda,” ujar Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian ini.



Menghadirkan Shinta Nuriyah bagi Universitas Soka merupakan upaya kembali menghadirkan sosok Gus Dur. Alissa menerangkan, dialog perdamaian dan kebudayaan global sudah lama dibangun Gus Dur dan Daisaku Ikeda.

Salah satu universitas terkemuka di Tokyo ini pernah menganugerahi Doktor Kehormatan kepada Gus Dur di bidang perdamaian dan kebudayaan. Daisaku Ikeda yang dikenal sebagai Sense di Jepang berusaha memberikan pelajaran penting bagi para generasi muda di Jepang untuk berkomitmen kuat dalam mewujudkan perdamaian dan mengembangkan kebudayaan.

Alissa juga menyampaikan, pada tahun 2012 lalu Gus Dur kembali mendapatkan penghargaan kehormatan dari Universitas Soka. Namun, karena Gus Dur sudah mangkat, pemberian penghargaan diterima oleh Shinta Nuriyah.

“Pada saat itu ibu menyampaikan sambutannya dan sekarang mereka juga memutuskan menghadirkan ibu untuk menyampaikan kuliah umum,” ucap Alissa.



Dalam memenuhi undangan tersebut, Shinta Nuriyah disambut beragam kehangatan. Mulai dari lantunan lagu khusus Sokka Gakai saat dirinya tiba di universitas tersebut hingga penampilan seni musik yang ditampilkan para aktivis perempuan International Women Center Universitas Soka.

“Yang menarik adalah ketika kami disambut permainan Koto (alat musik tradisional khas Jepang, red). Mereka memainkan nada dari lagu Bengawan Solo,” terang Alissa.



Menghadirkan sosok Gus Dur yang ada pada diri Shinta Nuriyah merupakan hal penting. Karena menurut Alissa, banyak orang di Jepang tidak mengenal bagaimana Islam merawat perdamaian.

“Dan apa yang disampaikan ibun bagi mereka sangat membuka mata, mencerahkan, dan feedback-nya mereka jadi ingin tahu lebih mendalam tentang Islam,” tandasnya. (Fathoni)


Resource Berita : nu.or.id
Adab Mengagungkan dan Memuliakan Al Qur’an

Adab Mengagungkan dan Memuliakan Al Qur’an



WartaIslami ~ Al Quran merupakan kitab suci yang diturunkan Allah merupakan kitab yang mulia yang menjadi pedoman umat Islam. Karena ia merupakan kitab yang mulia dan tidak ciptakan oleh manusia maka membacanya harus dengan tata cara yang baik. Tidak diperkenankan membaca Al Quran di tempat-tempat yang kotor.

Al Quran merupakan kitab agung yang harus diangungkan oleh umat Islam. Mengagungkan Al Quran berarti berusaha menjalankan ajaran yang diperintahkan di dalam Al Quran. Ketika membaca Al Quran hendak disertai dengan ahlak yang semestinya.

Berikut beberapa pedoman dan tata cara memuliakan dan mengangungkan kitab Al Quran sebagai kitab yang datang dari Allah swt.

1. Membacanya dalam keadaan suci.

2. Menyentuhnya hanya ketika dalam keadaan suci saja.

3. Bersiwak dan membersihkan gigi ketika hendak membacanya.

4. Duduk tegap saat membacanya, kecuali pada saat salat. Jadi seseorang tidak boleh membacanya dengan posisi berbaring.

5. Membacanya dengan mengenakan pakaian yang baik dan bersih, karena ketika membaca Al-Qur’an sama artinya sedang bermunajat kepada Allah.

6. Membacanya dengan posisi menghadap kiblat.

7. Berkumur sehabis mengeluarkan dahak.

8. Menahan bacaan ketika sedang menguap.

9. Membacanya dengan pelan-pelan dan tartil (sesuai kaidah tajwid).

10. Memperhatikan setiap hurufnya sesuai dengan makhraj-nya.

11. Tidak meletakkannya di sembarang tempat.

12. Tidak meletakkan buku lain di atasnya, sehingga selamanya Al-Qur’an akan menjadi kitab suci yang paling mulia dari pada buku-buku lainnya.

13. Meletakkannya pada tempat khusus Al-Qu’an saat membacanya atau di atas sesuatu yang tingginya antara kedua tangan. Sehingga tidak meletakkannya di lantai.

14. Tidak membuka setiap lembarnya dengan tangan yang dibasahi dengan air ludah, akan tetapi memakai air yang bersih.

15. Tidak memakai lembaran Al-Qur’an yang rusak untuk menjaga (menyampuli) buku-buku lain.Namun jika hal yang seperti ini (membuat sampul buku dari lembaran Al-Qur’an yang telah rusak dan usang) dilakukan, maka itu termasuk perbuatan yang kurang terpuji. Oleh karena itu hendaklah lembaran-lembaran yang telah usang dan tidak bisa dipakai lagi itu dilebur menggunakan air.

16. Tidak membacanya di pasar,di tempat yang gaduh dan ramai, dan di tempat berkumpulnya orang-orang bodoh.

Demikian beberapa etika mengangungkan dan memuliakan Al Quran sebagaimana telah diajarkan para ulama kepada kita. Semoga kita benar-benar menjadi orang yang bertaqwa dan mengikuti petunjuk-petunjuk sesuai dengan petunjuk Al Quran.


Resource Berita : dutaislam.com
Ini Air Mata Buaya dan Penyesalan Palsu Menurut Ibnu Athaillah

Ini Air Mata Buaya dan Penyesalan Palsu Menurut Ibnu Athaillah



WartaIslami ~ Penyesalan dan rasa sedih atas sekian banyak amal ibadah dan kesempatan berbuat baik yang terlewat seharusnya dibarengi dengan upaya pembenahan diri ke depan dan pemanfaatan kesempatan semaksimal mungkin. Tanpa ada upaya untuk mengejar ketertinggalan, penyesalan dan rasa sedih itu hanya tinggal omong kosong belaka sebagai disebut oleh Syekh Ibnu Athaillah dalam hikmah berikut ini.

الحزن على فقدان الطاعة مع عدم النهوض إليها من علامات الاغترار

Artinya, “Kesedihan atas ketertinggalan kebaikan tanpa disertai gerakan perbaikan adalah salah satu tanda terpedaya.”

Penyesalan atas masa lalu seharusnya disusul dengan bukti konkret pemanfaatan kesempatan berbuat baik. Penyesalan dan kesedihan tanpa aktivitas konkret ke depan hanya tinggal menjadi air mata kepalsuan dan semu belaka. Hal ini disebut oleh Syekh Syaqawi dalam hikmah berikut ini.

الحزن على فقدان الطاعة) بضم الفاء وكسرها أى عدم وجودها فى الحال (مع عدم النهوض إليها) فى المستقبل (من علامات الاغترار) أى التعويل على ما لا حقيقة له.

Artinya, “(Kesedihan atas ketertinggalan kebaikan) ketiadaan ibadah saat ini (tanpa disertai gerakan perbaikan) di masa mendatang (adalah salah satu tanda terpedaya) ratapan atas sesuatu yang semu,” (Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, Semarang, Maktabah Al-Munawwir, tanpa catatan tahun, juz I, halaman 62-63).

Syekh Ibnu Abbad menyatakan bahwa banyak sekali air mata semu dan penyesalan palsu tak membuahkan apa-apa sehingga penyesalan dan rasa sedih itu hanya tinggal sia-sia. Syekh Ibnu Abbad juga memotivasi mereka yang bergerak bangkit mengejar ketertinggalan dalam beribadah. Mereka dapat memangkas waktu tempuh jauh lebih cepat dibanding mereka yang tidak bersedih.

هذا هو الحزن الكاذب الذي يكون معه البكاء الكاذب كما قالوا كم من عين جارية وقلب قاس وهو آمن مكر الله تعالى الخفي حيث منعه ما ينفعه وأعطاه ما يغترّ به من الحزن والبكاء... قال الشيخ أبو على الدقاق رضي الله تعالى عنه صاحب الحزن يقطع من طريق الله عز وجل في شهر ما لا يقطعه من فقد حزنه في سنين. وفي الخبر أن الله يحب كل قلب حزين...وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم متواصل الأحزان دائم الفكر...

Artinya, “Ini adalah kesedihan palsu yang dibarengi dengan tangisan dusta sebagai dikatakan, ‘Berapa banyak bola mata mengalirkan airnya dan hati yang keras sementara mereka merasa aman dari ujian Allah SWT yang tersembunyi di mana Allah mencegah hal yang bermanfaat untuk mereka dan menganugerahkan kesedihan dan tangis, suatu hal yang memperdaya kepada mereka...’

Syekh Abu Ali Ad-Daqqaq mengatakan, ‘Orang yang bersedih dalam sebulan dapat menempuh perjalanan menuju Allah sejauh sekian tahun waktu tempuh mereka yang tidak bersedih.’ Di dalam hadits Rasulullah SAW bersabda, ‘Allah mencintai orang dengan hati bersedih...’ Rasulullah SAW sendiri adalah orang yang terus menerus bersedih, dan selalu berpikir,” (Lihat Syekh Ibnu Abbad, Syarhul Hikam, Semarang, Maktabah Al-Munawwir, tanpa catatan tahun, juz I, halaman 63).

Hikmah ini memotivasi mereka yang telah kehilangan kesempatan beribadah dan berbuat baik untuk membenahi diri di masa depan. Tetapi hikmah ini juga mengecam mereka yang hanya meratapi dan menyesali kelalaiannya tanpa disusul dengan pembenahan diri. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)


Resource Berita : nu.or.id
Saat Shalawat Sharla Martiza Membius Agnez Mo dan Maher Zain

Saat Shalawat Sharla Martiza Membius Agnez Mo dan Maher Zain



WartaIslami ~ Gadis asal Jombang, Jawa Timur, Sharla Martiza (13) ramai dibicarakan warganet (netizen) saat tampil dalam blind audition di ajang pencarian bakat The Voice Kids Indonesia. Ia menyanyikan lagu Memory (Cats-Musical) dan berhasil membius penonton.

Suaranya yang merdu dan khas juga menyihir ketiga mentor atau coach, Agnez Mo, Tulus, dan Bebi Romeo. Bahkan perempuan yang dijkenal bernama Agnes Monica ini menyalakan tombol putih untuk memilihnya dalam Team-nya.

Kekaguman para mentor tersebut membuat Sharla tak bisa memendam rasa bahagianya. Namun, Agnez Mo tidak berhenti menantang Sharla untuk kembali membius pemirsa dengan suaranya.

Akhirnya, Agnez meminta Sharla menyanyikan lagu yang ia sukai. Tak ada yang menyangka dara bernama lengkap Sharla Martiza Isya’iyah Putri ini kembali menunjukkan kemampuannya dalam dunia tarik suara dengan menyanyikan lagu “Assalamualaika” yang dipopulerkan Maher Zain.

"Bagus loo... Suara kamu bagus banget, stabil," ungkap Agnez Mo sesaat setelah Sharla menyenandungkan shalawat “Assalamualaika” milik Maher Zain itu.

Bukan hanya Agnez yang terkesima dengan suara perempuan yang pernah menjuarai lomba baca Al-Qur’an dan puisi tingkat kabupaten ini, bahkan sang penyanyi asli, Maher Zain lewat akun Instagramnya, @maherzainofficial, juga turut mengungkapkan kekagumannya terhadap penampilan Sharla.

"Amazing mashaAllah, May Allah bless you Sharla," tulis Maher Zain.

Tonton videonya :


Maher Zain memposting video penampilan Sharla ketika dirinya berada di Birmingham, Inggris. Video berdurasi sekitar 4 menit dalam akun Maher tersebut ditonton sebanyak 447.375 kali dan dikomentari 6.505 orang.

Ketertarikan warganet terhadap penampilan Sharla juga terdapat di YouTube ketika akun resmi The Voice Kids memposting video penampilan Sharla. Saat ini, video Sharla di YouTube telah ditonton oleh sekitar 2,8 juta viewer sejak diposting pertama kali pada Kamis, 26 Oktober 2017 lalu atau dalam waktu 4 hari saja.

Melihat antusiasme masyarakat terhadap bakatnya dalam dunia tarik suara, tidak sedikit pemirsa yang tidak sabar menunggu penampilan-penampilan selanjutnya di The Voice Kids setiap Kamis pukul 18.00 WIB di channel GTV. (Fathoni)



Resource Berita : nu.or.id
Indahnya Adab Kiai Maimoen Zubair Ketika Mencium Tangan Habib Yusri Mesir

Indahnya Adab Kiai Maimoen Zubair Ketika Mencium Tangan Habib Yusri Mesir



WartaIslami ~ Para santri dan pesantren akrab dengan adab yang sudah diajarakan oleh Rasulullah. Atas dasar cinta, bukan hanya logika, para santri diajarkan tawadlu kepada guru, dan utamanya kepada dzurriyah Rasulullah.

Mencium tangan guru atau ulama adalah tradisi para santri dalam menunjukkan hormat atas ilmu dan akhlaq, bukan karena harta dan kedudukan. Di bawah ini adalah status dari Gus Ghofur, putra KH Maimoen Zubair yang memberikan keterangan catatan atas abahnya yang sedang mencium tangan Habib Yusri al-Hasani, walau secara usia, lebih muda.

Sejumlah literatur yang akrab di pesantren banyak mengajarkan kita mengenai tata-ungguh kepada para guru dan keluarga Rasul SAW. Salah satunya dipesankan melalui kisah berikut ini:

Zaid bin Tsabit—pencatat resmi wahyu Al-Quran, salah satu pimpinan Ulama di Madinah, dan ketua panitia penulisan Al-Quran—bermaksud menaiki hewan kendaraan. Ibnu Abbas ingin membantunya, lalu memegangi sanggurdinya. Zaid melarangnya, namun Ibnu Abbas menjawab:

“Demikianlah kita diperintahkan untuk bertakdzim kepada para ulama.”

“Tunjukkan tanganmu padaku .. ,” kata Zaid.

Ibnu Abbas memperlikatkan tangannya. Zaid pun menundukkan kepala dan mencium tangan Ibnu Abbas, lalu berkata:

“Demikianlah kita diperintahkan untuk menghormat kepada keluarga Rasulullah.”

Ibnu Abbas—sepupu Rasulullah dan ahli tafsir kesohor era sahabat—adalah murid aktif Zaid bin Tsabit. Jika ia bermaksud mengaji kepada gurunya tersebut, ia yang datang menghadap kepanya. Kata Ibnu Abbas:

“Ilmu didatangi, bukan didatangkan ..” 

Di kalangan wahabi dan Islam garis keras, tradisi mencium tangan dzurriyyah Nabi dan ulama jelas tidak akan ditemukan. Soalnya mereka mengharamkan mencium tangan ulama, apalagi dzurriyah, ada yang malah tidak mengakui eksistensi keturunan Nabi hingga kini.



Resource Berita : dutaislam.com
Kala Ra Lilur, Wali Jadzab Cicit Syaikhona Kholil, Nyamar Jadi Petani

Kala Ra Lilur, Wali Jadzab Cicit Syaikhona Kholil, Nyamar Jadi Petani



WartaIslami ~ Waktu itu, seorang pengusaha sedang mengadakan hajatan besar-besaran dalam rangka pernikahan anaknya, laiknya orang-orang madura yang memang dikenal kecintaannya yang kuat terhadap ilmu dan ulama. Ia mengundang puluhan alim-ulama dan para kiai dalam acara tersebut (termasuk abahku yang menyaksikan dan menceritakan kejadian ini).

Sementara acara masih berjalan, datang dua orang bersepeda motor memasuki halaman acara, tepat di hadapan para kiai dan ulama. Kontan saja, keduanya langsung menjadi pusat perhatian hadirin. Yang satu pengemudi, satunya lagi adalah lelaki tua, duduk di belakangnya. Lelaki itu memakai peci putih, kaos singlet dan celana sederhana setinggi lutut, laiknya seorang petani. Ia juga membawa senter kecil di tangan.

Saat almarhum KH. Abdullah Schal selesai membaca sholawat dan turun dari panggung, lelaki tua itu segera menaiki panggung. Tak ada satupun yang berani menegur atau menghalanginya. Semua seakan-akan sedang menunggu apa yang akan dilakukan orang ini.

Ia mengambil mic dan mulai berceramah. Subhanallah, dengan bahasa Arab yang fasih ia mulai mengkritik dan menasehati para ulama zaman sekarang yang mulai terlena oleh perkara-perkara duniawi. Sebuah pemandangan yang unik. Di hadapan para kiai dan ulama, seorang kakek berpakaian petani itu nampak bagaikan seorang syaikh yang sedang memberi petuah kepada murid-muridnya.

Selesai berceramah, ia langsung menuju sepeda motornya. Supirnya sudah menunggu. Shabihul bait sampai menangis demi mengejar lelaki tua itu. Ia mencium tangannya lalu memberi sebuah amplop tebal yang entah berapa isinya. Namun lelaki tua itu menggeleng dan menolak mentah-mentah. Ia segera menaiki sepedanya dan beranjak pulang.

Lelaki tua itu adalah Kiai Kholilurrahman atau yang biasa dipanggil dengan Ra Lilur, salah satu cicit Mbah Kholil Bangkalan yang terkenal sebagai wali jadzab. Mulai saat itu, orang-orang yang dulu hanya mengetahui Ra Lilur sebagai sosok yang nyeleneh, akhirnya mulai mengakui kealiman beliau. Padahal konon beliau hanya pernah mondok selama tiga bulan.

Meski sulit ditemui, alhamdulillah saya pernah bertemu beliau di kediamannya di desa Banjar (sekitar 15 menit dari rumah). Wajah beliau persis seperti sabda Nabi ketika menerangkan ciri-ciri ulama akhirat, yakni "mereka yang ketika dipandang wajahnya akan mengingatkan kita kepada Allah".

Bagi saya, beliau adalah sosok yang mewarisi kezuhudan Syaikhona Kholil. Beliau berpakaian seperti itu bukan tanpa alasan. Hanya ingin memberi pesan bahwa semua yang ada di dunia ini akan menuju ke-fana-an. Konon, sambil menangis sesenggukan, beliau pernah berkata (dengan Bahasa Arab) kepada salah satu tamunya:

"Kalau ulama sudah lupa kepada kedudukannya dan mencintai harta serta kemewahan, berat, berat, dihadapan Allah SWT. Dampaknya, mereka akan pecah. Ya, Allah, selamatkanlah mereka".
 
Aku jadi teringat kisah Syaikhona Kholil, yang saat itu baru mendapat hadiah sarung mewah dari salah satu pencintanya. Beliau justru menangis dan berkata: "aku takut ini akan mengurangi pahalaku kelak di akhirat".

Ulama akhirat seperti Ra Lilur ibarat paku bumi, yang dengannya Allah masih tetap menjaga bumi ini dari adzab yang sudah menunggu turun akibat dosa-dosa yang telah dilakukan oleh para pendosa seperti kita.

ولولاهم بين الأنام لدكدكت * جبال و أرض لارتكاب الخطيئة

Artinya: "Andai tiada mereka (para wali) ada di antara para manusia # Maka banyak gunung dan bumi akan gonjang-gonjing akibat perbuatan dosa (manusia)"

Semoga Allah selalu memberi beliau kesehatan dan afiah, memanjangkan umur beliau dan senantiasa mengalirkan barokah beliau kepada kita semua.


Resource Berita : dutaislam.com
Karomah: Diam-Diam Kiai Hamid Pasuruan Sering ke Baghdad Tiap Tahun

Karomah: Diam-Diam Kiai Hamid Pasuruan Sering ke Baghdad Tiap Tahun



WartaIslami ~ Kisah tentang Kyai Hamid ini saya dengar langsung dari Kyai Masyhudi Sanan Kulon Blitar sekitar tahun 2007-2008 sebelum beliau wafat. Santri Kyai Baidlowi Lasem yang merupakan paman Kyai Hamid ini bercerita kepada saya waktu saya sowan ke ndalem beliau.

“Awakmu takono abahmu (mertua; KH. Idris Hamid), opo tau Kyai Hamid nang Baghdad”

“Lha kok ngaten Yai?” jawab saya

“Iyo, sebab awal tahun 80 an, aku pas lungo haji, ndek masjidil haram pas sholat Jumat aku sandingan karo Syekh Hassan teko Baghdad. Deweke terus ngajak kenalan, yo mesthi nganggo boso Arab, takon jenengku lan asalku. Yo tak jawab ..

“Ana min Jawa Syarqiyah” (saya dari Jawa Timur). Lha kok beliau langsung takon:

“Halla ta’lam Syaikh Abdal Hamid min Basuruan?” (apa kamu mengenal Kyai Hamid dari Pasuruan)” Yo tak jawab

“Thob’an, huwas syaikhuna al masyhur li ‘ilmih” (Tentu, beliau adalah guru kami yang terkenal karena kealimannya).

“Lajeng Yai, kok saget Syekh Hasan beliau kenal Romo Kyai Hamid?” Tanya saya

“Yo akhire deweke tak takoni lan crito karo, yen saben haule Syekh Abdul Qodir al-Jailani ning Baghdad, Kyai Hamid mesthi rawuh lan nginep ning ndaleme syekh Hassan kuwi. Iku saben tahun lho ngendikane..”.

Saya pun makin khusyuk mendengarkan lanjutan cerita Kyai Masyhudi..

“Bar sholat Jumat sak durunge pisah, syekh Hassan langsung dawuh “Sallim lis syaikh Abdil Hamid, wa qul ana fintidzorih ‘amal muqbil” (Sampaikan salam saya kepada Kyai Hamid, saya tunggu beliau di rumah saya tahun depan).

“Lajeng Yai?” saya bertanya penasaran..

“Bar muleh haji oleh pirang dino ngunu, aku langsung sowan Kyai Hamid nyang Pasuruan. Lha ndilalah pas nyampe ning ngarepe ndalem, Kyai Hamid koyo wis nunggu aku lan langsung manggil ngunu. Bar salaman sungkem, Kyai Hamid langsung mbisiki ning kupingku:

“Nak Masyhudi, mpun ngendikan sinten-sinten geh yen mantun kepanggih Syekh Hassan. Salam sampun kulo trami, alaika wa alaihis salam. Saestu lho geh mpun ngendikan sinten-sinten”

Kyai Masyhudi pun langsung tertawa saat bercerita itu, sedangkan saya makin ndomblong mendengar cerita beliau.

“Ya Allaaah, yo koyo ngunu kuwi waliyullah tenanan. Aku urung crito kok yo Kyai Hamid wis weruh disek” saut Kyai Masyhudi mengomentari cerita beliau.

Saya yang ndomblong pun hanya bisa berkata:

“Lha nopo Kyai Hamid panci natos dateng Baghdad, Yai?” tanya saya kepada beliau.

“Lha mangkane, awakmu tak omongi iki supoyo koe takon nyang abahmu. Takono, opo tau Kyai Hamid nyang Baghdad. Lha wong aku wis dipeseni Kyai Hamid supoyo ora pareng crito-crito kok. Dene saiki crito nyang awakmu kan sebab Kyai Hamid wis sedho. Yen aku sih ora yakin Kyai Hamid tau nyang Baghdad. Lamun hadiro (ke Baghdad) kuwi mung ruh lan tasyakkul jasade.”

“Lha kok saget Yai” tanya saya

“Lha waliyullah iku kan ono sing diparingi ilmu ‘fakkur ruh’ (ilmu membelah ruh) lan ilmu ‘thoyyul ardl’ (melipat bumi) karo Gusti Allah. Sehinggo biso hadir ning panggonan liyo lan bumi liyo ingdalem sak wayah kang podho. Mangkane takono wae nyang abahmu, opo tahu Kyai Hamid nyang Baghdad” saya pun yang penasaran dan berkecamuk pertanyaan hanya bisa jawab:

“Injeh Yai..” jawab saya kepada Kyai Masyhudi.

*****

Lama setelah itu, saya pun bertemu dengan abah mertua saya, Kyai Idris Hamid. Hingga saya pun bertanya:

“Ngapunten abah, nopo abah natos mirsani menawi mbah Kyai Hamid meniko natos sering tindakan ten Baghdad saben tahun?” tanya saya. Dan beliau pun langsung menjawab

“Ora tau.. Sak ngertiku sih abah (kyai Abdul Hamid) ora tahu nang luar negeri kejobo nang Makkah kangge nglakoni haji. Lamun iyo yo ora saben tahun ngunu. Opo’o se?” tanya beliau kepada saya..

Fikiran dan perasaan saya pun langsung berkecamuk takjub mendengar jawaban itu. Dan saya tidak ada kata untuk menjawab beliau kecuali jawaban singkat.

“Mboten abah, namung tanglet kemawon..” sambil fikiran dan perasaan saya berkata:

“Ya Allah, subhanAllah.. La haula wala quwwata illa billaaah…”

                                                                       *****

Walhasil sering masyarakat kita di hari ini sudah kesulitan untuk menjelaskan apa itu waliyullah, apa makna ma’rifat billah, bagaimana hakikat akhlakul karimah hingga makna tawassul dan tabarruk. Maka biarlah cerita Kyai Hamid ini menjelaskan.

Intinya Kyai Hamid tidak mungkin akan menjadi waliyullah dan mendapat karomah ma’rifat billah tanpa menjaga keagungan akhlak sebagai manusia, menjauhi syuhroh (ketenaran) dan kegemaran beliau untuk selalu bertawassul dan bertabarruk kepada pemimpin para wali Allah, Syekh Abdul Qodir Jailani sebagai bagian kebutuhan mutlak dalam bersuluk thoriqot yang beliau jalani.

Dan itulah makna pesan Kyai Hamid kepada Gus Ali Masyhuri Tulangan yang disampaikan dengan bahasa kiasan “Lamun gak iso budal dewe, nunuto!”.

Artinya, jika tidak mampu untuk dekat kepada Allah sendiri, maka menumpanglah kepada orang yang dekat kepadaNya. Itulah makna tawassul dan tabarruk yang diajarkan Kyai Hamid kepada kita.

Sehingga jangankan menyebutkan dalam tawassul doa dan dzikir, Kyai Hamid saja tidak pernah absen untuk mengikuti haul Syekh Abdul Qodir al-Jailany di Baghdad, panutan beliau. Bagaimana dengan kita manusia biasa yang penuh dosa akibat maksiat selalu merasa paling baik dan benar ini?

*****

Maka bagi teman-teman yang ingin bertawassul dan bertabarruk kepada Allahu Yarham Kyai Hamid Pasuruan, monggo diaturi untuk rawuh pada acara haul beliau besok Sabtu, 10 Desember 2016 mulai Subuh hingga siang.

Semoga kita mampu menjadi pribadi yang memiliki keagungan akhlak seperti beliau serta mendapatkan rahmat dan barokah dari Allah melalui keberkahan Beliau. Amiin.


Resource Berita : dutaislam.com
Gus Miek ke Gus Dur: Jenengan Itu Paku Bumi NU. Sepeninggal Sampean, NU Kena Fitnah

Gus Miek ke Gus Dur: Jenengan Itu Paku Bumi NU. Sepeninggal Sampean, NU Kena Fitnah



WartaIslami ~ Ternyata benar dawuh Gus Miek yang mengatakan jika Gus Dur itu adalah paku buminya NU. Buktinya, sewaktu Gus Dur masih hidup, tidak ada yang berani menganggu NU dan memfitnah NU.

Bila Gus Dur menunjuk batang hidung seseorang dengan sebutan "pengacau", maka orang itu tidak akan berani melanjutkan aksi ngacaunya. Di masa beliau, NU berhasil menempatkan dakwah Islam yang murni rahmatan lil'alamin tanpa tindakan destruktif, apalagi anarkhis.

Pada tahun 1992, kala masih memimpin NU, Gus Dur melakukan show of power NU menghadapi tekanan rezim Orde Baru ketika itu. Gus Dur mengadakan Rapat Akbar Nasional NU di Parkiran sebelah Timur Senayan. Rapat akbar NU itu diperkirakan dihadiri ratusan ribu bahkan jutaan warga nahdliyyin dari seluruh tanah air.

Barisan ulama yang hadir antara lain KH. Kholil Bisri, KH. Ilyas Ruhiyat, KH. Muslim Rifa'I Imam Puro, KH. Abdullah Faqih, KH. Abdullah Abbas dan lain-lain. Bahkan dari pesantren Buntet konon ikut mengirim ribuan jin ke acara itu. Makanya di tengah-tengah lapangan terlihat ada arena yang sengaja dikosongkan. Di situlah konon jama'ah jin dari Buntet berkumpul.

Itulah unjuk kekuatan NU terbesar sepanjang massa. Tidak ada satupun organisasi massa yang sanggup menghimpun jama'ah begitu banyak dalam satu acara selain NU.

Gus Miek pernah berkata kepada Gus Dur saat berada di beranda langgar area makam auliya Tambak, "Gus, sampean itu paku buminya NU. Kelak sepeninggal sampean, NU bakal kena fitnah," kata Gus Miek.

"Kenapa bisa begitu Gus, apakah sudah tidak ada lagi para masyayikh yang menjaga NU?" tanya Gus Dur.

"Bukan karena itu, tapi itu disebabkan dunia sudah ada di atas kepala warga NU dan banyak orang bodoh yang mencabik NU," jawab Gus Miek.

Kemudian kedua tokoh besar NU berdoa dengan khusyu' sambil sesekali sesenggukkan menahan tangis. Selesai berdo'a, wajah Gus Miek sumringah sambil mengatakan: "fitnah itu hanya seumur jagung". Mendengar itu Gus Dur tertawa lepas. Allah yarham keduanya. Alfaatihah.


Resource Berita : dutaislam.com
Para Wali Mendatangi, Mengambil Dosa-Dosa Kalian, Lalu Pergi

Para Wali Mendatangi, Mengambil Dosa-Dosa Kalian, Lalu Pergi



WartaIslami ~ Syeikh Abdul Qadir Jailani kala itu sedang berada di Baqhdad. Beliau dengan murid terbaiknya mendaki bukit yang sangat tinggi. Beliau ingin mengujinya. Didorongnya murid itu agar jatuh ke sungai. Murid itu menyerah, tunduk pada syaikhnya. Dia adalah bayangan syaikhnya. “Bayangan” berarti kalian menyerah, namun tidak secara total. Masih ada keraguan di dalam hati . Apakah yang dimaksud sebagai ‘menyerah secara total’?

Para syaikh mengatakan: “Kami tidak ingin seseorang datang pada kami seperti mayat, karena meskipun sudah jadi mayat, mereka masih menyimpan keinginan.”

Ketika kalian meninggal, kalian masih mempunyai keinginan dan belum menyerah secara total. Nabi (kedamaian tercurah pada beliau) bersabda bahwa ketika seseorang meninggal dan kalian memandikannya dengan air dingin, maka jasad itu akan mengatakan: “Ini terlalu dingin. Buatlah hangat sedikit”. Jika terlalu panas, jasad itupun mengatakan: “Buatlah agak dingin sedikit”. Dan jika kalian menggosok mayat itu dengan kasar, diapun bisa merasakan sakit.

Itulah mengapa Nabi mengatakan, "Sayangilah jasad orang mati, karena meskipun tidak bisa bicara, dia bisa merasakan”. Itulah mengapa dalam Islam tidak diizinkan memotong jasad atau melakukan otopsi apalagi membakarnya. Mereka merasakan apapun tanpa kalian sadari.

Walaupun dalam keadaan seperti ini, mayat itu masih belum ada penyerahan total. Penyerahan diri yang benar adalah ibarat selembar daun. Jika mengering, diapun jatuh dan daun itu pergi kemanapun angin membawanya, ke utara atau selatan atau barat. Bahkan jika angin itu terseret ke dalam api, daun itu tidak mengatakan apapun.

Menyerah total seperti inilah yang kami inginkan dari para murid. Tidak ada keinginan lagi. Ketika sayyidina Abdul Qadir mendorong muridnya, maka yang terjadi adalah dia memang menyerah, namun masih ada tanda tanya di dalam hatinya, “Atas alasan apa syaikh mendorongku terjun ke sungai?” Murid itu menerima apapun, jika syaikhnya menginginkan dia mati, diapun rela mati demi syaikhnya. Tapi dia masih bertanya: atas alasan apa? apakah kearifan dibalik ini?

Kearifannya, hai kalian murid-murid yang idiot, adalah untuk memberikan rahasia kalian. Segera setelah murid sampai ke air, tangan syaikh berada di bawahnya. Syaikh mampu mendeteksi apa yang ada di dalam hati muridnya. Itulah mengapa kami mengatakan bahwa duduk di dekat syaikh seperti duduk di dekat api. Satu kesalahan saja mampu membakar kalian.

Dan itulah sebabnya murid sayyidina ‘Ubaydu-l-Lah al-Ahrar selalu memilih duduk di dekat deretan sepatu-sepatu daripada di dekat syaikhnya. Mereka sadar akan maqamnya, biarkan yang lain ingin mengambil apa yang ingin diambil, aku tidak tertarik. Batasku masih sampai sepatu, aku tidak lebih baik dari sepatu. Itulah maqamku di hadapan syaikhku, yaitu membersihkan sepatu.

Maqam seperti itulah yang dibutuhkan. Bukannya duduk dengan sombong agar dikira seorang alim besar. Kalian belum sampai tingkatan itu. Jika waktunya sampai, syaikh akan memberikan kekuatan itu. Jika belum siap, syaikhpun tidak akan memberikannya.

Kalian masih harus berjalan terus sampai meraih pemahaman yang benar tentang syaikh. Bai’at sebenarnya bukanlah sesuatu yang mudah untuk diberikan. Di abad ini, sebagaimana saya katakan, para auliya bertanya pada Nabi: Ya Rasulullah, apa yang bisa kami lakukan? Ini sungguh sulit.

Para auliya ada di seluruh penjuru dunia. Sedikitnya sekali dalam seminggu, setiap manusia, walaupun dia sedang duduk di puncak gunung manapun pasti bertemu dengan seorang wali yang datang mengucapkan salam padanya. Kadang hanya melihatnya dan pergi. Kalian bahkan tidak sadar bahwa dia adalah seorang wali. Beliau mendatangi kalian dengan berbagai macam samaran.
Beliau memandang kalian, mengambil dosa-dosa kalian dan pergi.

Itulah tugas seluruh auliya dan mereka ada dimana-mana. Ketika para auliya ini melihat segala macam kegelapan dan ketidakpedulian menutupi dunia ini, mereka meminta dan memohon pada Nabi dan Nabi memohonkannya pada Allah SWT agar diberi izin lebih dan kekuatan lebih bagi para wali untuk menanggung berbagai tanggung jawab murid-muridnya.


Resource Berita : dutaislam.com
Sejarah Seorang Laki-Laki Berjenggot yang Menggertak Rasulullah

Sejarah Seorang Laki-Laki Berjenggot yang Menggertak Rasulullah



WartaIslami ~ Pada zaman kenabian sudah ada kasus seorang pria berjenggot lebat dengan celana cingkrang serta tanda bekas sujud di dahi yang pernah menyentak Rasulullah yang mulia.

Pria berjenggot lebat itu tiba-tiba menggertak Rasulullah SAW saat membagi-bagikan emas rampasan perang kepada sejumlah kalangan sahabat. Ia melakukan hal itu karena merasa tidak mendapatkan jatah harta rampasan perang. Ia juga mengganggap Rasulullah SAW tidak berbuat adil.

Nama laki-laki berjenggot lebat dan berjidat hitam tersebut adalah Hurqush bin Zuhair, lebih dikenal dengan sebutan Dzul Khuwaishirah al-Tamimi.

Kepada Rasulullah SAW agar bersikap adil kepada seluruh sahabatnya, tidak pilih kasih serta membagikan harta rampasan perang kepada para sahabatnya secara merata.

“Wahai Muhammad, berbuatlah adil,” gertak Dzul Khuwaishirah.

Sikap Dzul Khuwaishirah kepada Rasulullah SAW ini dipandang sangat tidak sopan dan lancang sekali sehingga membuat para sahabat lainnya marah, sebagaimana reaksi Umar bin Khattab dan Khalid bin Walid.

Kedua sahabat yang marah itu ingin membunuhnya, namun dicegah oleh Rasulullah SAW demi menghindari api fitnah di kalangan umat Islam, karena ia (Dzul Khuwaishirah) memiliki pengikut yang tidak sedikit.

“Celakalah kamu, siapalah lagi yang akan berbuat adil jika aku saja dipandang tidak adil?”
timpal Rasulullah SAW.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يحقر أحدكم صلاته مع صلاتهم وصيامه مع صيامهم وقراءته مع قراءتهم يقرؤون القرآن لا يجاوز حناجرهم يمرقون من الإسلام كما يمرق السهم من الرمية

Salah seorang kalian meremehkan sholatnya di hadapan sholat mereka, puasanya di hadapan puasa mereka, dan bacaannya di hadapan bacaan mereka, mereka membaca Al Quran (akan tetapi) tidak melampaui tenggorokan mereka, mereka keluar dari agama Islam seperti anak panah keluar (saat menembus) sasarannya. (HR. Bukhari (3610), (3344), Muslim (1064) dari hadits Abi Sa’id)

“Sesungguhnya akan muncul dari keturunan orang ini sekelompok orang yang membaca Al-Quran namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka (bacaannya tidak diterima oleh Allah SWT). Mereka membunuh umat Islam dan membiarkan para penyembah berhala (orang-orang kafir). Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah melesat dari busurnya,” pungkas Rasulullah SAW.
(Muttafaqun ‘aIaihi, HR. AI-Bukhari no. 3344, 7432, 7562; Muslim no. 1064, 1065)

Maka, hati-hatilah terhadap orang berjenggot, jidat hitam dan celana cingkrang yang mengaku paling nyunnah sendiri. Lha wong orang tua Nabi saja dikafir-kafirkan, apalagi orang tua Anda. Mereka tidak paham ilmu bayan, atau disiplin ilmu tentang tatacara mengambil keterangan hadits, langsung bisa menyimpulkan. Betulah kaum oon hakikat agama.


Resource Berita : dutaislam.com
Makan Berjamaah Ala Rasul, Ini Manfaatnya

Makan Berjamaah Ala Rasul, Ini Manfaatnya



WartaIslami ~ Makan berjamaah atau berkelompok adalah cara makan yang disunahkan dan lebih mengikuti Rasulullah SAW. Makan secara bersama-sama ini  dapat mendatangkan keberkahan. Selain itu dapat menjalin kekerabatan dan kekompakkan antarsesama.

Dikutip dari buku yang berjudul “ 20 Amalan Pelancar Rezeki” karya Abu Ibrahim, bahwa makan secara berjamaah juga dapat menjadi solusi bagi orang-orang yang selalu merasa lapar. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah SAW menyarankan makan secara berjamaah kepada orang yang makan tetapi tidak pernah merasa kenyang.

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan dan tidak merasa kenyang?” Beliau  bersabda, “Kemungkinan kalian makan sendiri-sendiri.” Mereka menjawab, “Ya”. Beliau bersabda, “Hendaklah kalian makan secara bersama-sama, dan sebutlah nama Allah, maka kalian akan diberi berkah padanya.” (H.R. Abu Daud)

Dalam dunia bisnis atau kerja bahkan dalam lingkup keluarga, makan berjamaah atau bersama-sama membuat hubungan menjadi semakin akrab antara sesam. Inilah cara makan yang lebih mendatangkan berkah karena makanan satu orang sebenarnya cukup untuk dua orang, dan makanan untuk dua orang cukup untuk empat orang. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “Makanan porsi dua orang sebenarnya cukup untuk tiga, makanan tiga cukup untuk empat.”

Dalam hadist lain yang disebutkan bahwa, “Makanan porsi satu orang sebenarnya cukup untuk dua, makanan dua sebenarnya cukup untuk empat, dan makanan empat sebenarnya cukup untuk delapan.” (H.R. Bukhari & Muslim).

Aisyah juga menyebutkan : “Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam pernah makan bersama enam orang sahabatnya, lantas Arab Badui datang lalu memakan makanan beliau dengan dua suapan.” (H.R. Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah)

Ibnu Umar bahkan tidak makan kecuali bersama-sama dengan orang-orang miskin. Suatu ketika beliau melihat ada orang yang makan begitu banyak, kemudian beliau berkata,  “Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah bersabda : ‘Seorang mukmin makan untuk satu usus, namun orang kafir untuk tujuh usus.’ (H.R. Bukhari & Muslim)

Dalam buku tersebut disebutkan pula bahwa banyak makan adalah bagian dari buruknya akhlak seseorang, adapun sedikit makan adalah bagian dari baiknya akhlak seseorang. Tidak ada cara makan yanng lebih baik selain makan secara bersama-sama. Suasana kedekatan antar sesama dapat terjalin dengan lebih intim. Selain itu kita akan mudah merasa kenyang dengan cara ini.

Ada efek sangat luar biasa yang dihasilkan dari makan secara berjamaah. Pertama adalah membantu menaikkan nafsu makan bagi mereka yang sedang kurang enak badan. Mereka akan teromotivassi untuk ikut-ikutan mencicipi hidangan ketika orang sekitarnya makan. Manfaat kedua, kebalikan dari yang pertama, makan berjamaah dapat mebantu orang-orang yang memiliki kelebihan berat badan untuk menahan nafsu makannya.

Ketika makan bersama-sama, takaran porsi makanan dapat lebih terkontrol. Hasilnya, orang-orang yanng mengalami obesitas akan berhenti makan sebelum benar-benar kenyang sehingga cara ini cukup ampuh untuk menurunkan berat badan. Makan berjamaah adalah sunnah Rasulullah SAW yang sudah mulai banyak ditinggalkan orang. Mari kita hidupkan kembali kebiasaan ini ditempat kerja, bersama rekan-rekan, maupun di rumah bersama keluarga.


Resource Berita : republika.co.id
Abdul Qadir al-Jazairi dan Para Tawanan Kristen

Abdul Qadir al-Jazairi dan Para Tawanan Kristen



WartaIslami ~ Ahmad Bouyerdene mengatakan bahwa Amir Abdul Qadir al-Jazairi (1808-1883 M) adalah, “Saints among the Princess, the Prince among the Saints—orang suci di antara penguasa, penguasa di antara orang suci.”

Sebelum masuk dalam kisah-kisah beliau dengan para tahanan perang, penting untuk mengetahui terlebih dahulu siapa beliau. Amir Abdul Qadir al-Hasani al-Jazairi adalah seorang syarif (sayyid) dan mursyid Tarekat Qadiriyyah. Ia hafal Al-Qur’an di usia 14 tahun, menguasai berbagai disiplin ilmu, dari mulai fiqih, tasawuf, hingga sastra. Ketika Aljazair dijajah Prancis pada tahun 1832 M, ayahnya diangkat sebagai Amirul Mu’minin dalam sebuah pertemuan berbagai kabilah wilayah Barat Aljazair. Ayahnya menolak karena merasa dirinya terlalu tua.

Lima hari kemudian, di Masjid Agung Mascara, Abdul Qadir al-Jazairi diangkat sebagai Amirul Mu’minin menggantikan ayahnya. Dalam waktu satu tahun, Abdul Qadir berhasil menyatukan berbagai kabilan dan wilayah, memberikan perlawanan sengit kepada Prancis yang memaksa mereka masuk ke meja perundingan dan menyepakati perjanjian damai (Treaty of Tafna). Setelah itu, Ia mendirikan sebuah negara berdaulat, tapi selalu menolak pemberian gelar sultan oleh para bawahan dan pengikutnya. Beberapa tahun kemudian, dengan berbagai intrik dan kelicikannya, Prancis menangkap Amir Abdul Qadir al-Jazairi dan mengasingkannya di Touloun.

Dalam buku The Life of Abdel Kadir: Ex-Sultan of The Arabs and Algeria karangan seorang diplomat Inggris, Kolonel Charles Henry Churchill (1807-1869 M) diceritakan:

Suatu malam seorang wanita muda dengan anak kecil di tangannya, tergesa-gesa masuk ke tenda Uskup Aljazair di perkemahan pasukan Prancis. Ia berlutut dan menyentuh kakinya, sembari berucap dengan wajah penuh duka: “My husband, the father of my child—suamiku, ayah dari anakku.”

Suaminya menghilang dalam perang, tidak kembali bersama pasukan lainnya. Ia tidak tahu keadaan suaminya sekarang, menjadi tawanan atau mati di medan perang.

Uskup itu membayangkan nasib seorang tahanan Prancis di tangan orang-orang Arab. Karena tersentuh oleh wanita muda itu, ia menulis surat kepada Abdul Kadir al-Jazairi, yang secara singkat tertulis:

“Tuan tidak mengenalku, tapi profesiku adalah melayani Tuhan, dan atas namaNya mencintai seluruh manusia, anak-anak dan saudaranya. Andai aku dapat mengendarai kuda, aku tak takut kegelapan malam maupun deru badai. Aku akan hadir di depan pintu tenda tuan dan memanggil-manggil tuan. Jika kesanku tentang tuan tidak salah, tuan tidak akan menolaknya. Bebaskan saudaraku yang malang itu, tapi aku tidak bisa datang sendiri.”

“Izinkan saya mengirimkan salah satu murid untuk menyerahkan surat yang kutulis tergesa-gesa ini kepada tuan... Saya tidak memiliki emas dan perak untuk ditawarkan kepada tuan. Satu-satunya yang bisa saya berikan adalah doa yang tulus dan rasa terima kasih yang dalam dari keluarga yang membuatku menulis surat ini. Berbahagialah orang yang penuh belas kasih, karena mereka mendapatkan rasa belas kasihan.” (Charles Henry Churchill, The Life of Abdel Kadir: Ex-Sultan of The Arabs and Algeria, London: Champan and Hall,hlm 206-207).

Abdul Qadir bin Muhyiddin al-Jazairi membalas surat uskup itu dengan mengatakan:

“Aku telah menerima surat tuan, apa yang tuan minta sama sekali tidak mengejutkanku karena karakter suci tuan. Namun demikian, izinkan aku mengamati titel ganda tuan, sebagai ‘pelayan Tuhan’ dan ‘teman manusia’. (Dengan dua titel itu), seharusnya tuan menuntut tidak hanya kebebasan seorang tawanan saja, tapi semua orang Kristen yang telah menjadi tawanan perang. Dua titel itu membuat tuan tidak akan merasa puas dengan membebaskan dua atau tiga ratus orang Kristen, karenanya tuan harus memperbanyak jumlahnya ke hitungan yang sama dengan orang-orang Islam yang merana di penjara tuan.” (Charles Henry Churchill, hlm 207-208).

Pada 21 Mei 1841 M terjadi pertukaran tawanan perang di Sidi Khalifa, buah dari peleburan dua hati mulia itu.

Kemudian, Amir Abdul Kader dengan keluasan hatinya mengirimkan sekawanan domba dan anak-anaknya ketika mendengar uskup itu mengadopsi anak yatim-piatu akibat perang. Dalam suratnya Ia menulis: “I send you a flock of goat, with their young who are still sucking. With these you will be able for some time longer to nourish the little children you have adopted, and who have lost their mothers—aku mengirimkan tuan sekawanan domba, dengan anak-anaknya yang masih menyusu. Dengan domba-domba ini, tuan akan sedikit terbantu untuk memberi makan anak-anak kecil yang telah tuan adopsi, dan yang telah kehilangan ibu-ibu mereka.” (Charles Henry Churchill, hlm 208).

Kemurahan-hati Amir Abdul Qadir al-Jazairi terhadap tawanan perangnya tercatat rapi di berbagai tulisan orang-orang Barat. Kolonel Churchill menggambarkannya dengan, “almost unparalleled in the annals of warfare—hampir tak tertandingi dalam sejarah peperangan.” Ia memberikan kebebasan terhadap setiap tawanan perang untuk melaksanakan ajaran agamanya, bahkan ia pernah membebaskan semua tawanan perang Prancis dengan mengatakan, “without the food to properly feed them, Islam did not permit him to keep them as captives—tanpa makanan untuk diberikan dengan baik, Islam tidak mengizinkannya untuk menahan mereka sebagai tawanan.”

Kapan pun para tahanan perang berhadapan dengan Amir Abdul Qadir, mereka diperlakukan seperti tamu. Ia sering mengirimi mereka makanan dari dapurnya sendiri. Mereka diberikan pakaian yang baik untuk dikenakan. Salah satu bukti perhatian Amir Abdul Qadir terhadap kebebasan melaksanakan ajaran agama para tawanan perang, ia menulis surat kepada uskup Aljazair.

“Kirimkan seorang pendeta ke perkemahanku. Aku akan berhati-hati menghormatinya sebagai pelayan Tuhan dan wakil Anda. Ia akan berdoa dengan para tahanan setiap hari, menghibur mereka dan menjadi penghubung mereka dengan keluarga mereka. Dengan demikian, ia bisa menjadi sarana bagi mereka untuk mendapatkan uang, pakaian, buku, surat atau segala sesuatu yang mereka inginkan, agar dapat meringankan sukarnya hidup sebagai tahanan. Hanya saja, saat ia tiba di sini, ia tidak diperbolehkan menyinggung pergerakan militer dan keadaan perkemahan dalam surat-suratnya.” (Charles Henry Churchill, hlm 209).

Karena kemurahan-hatinya, beberapa kali para tawanan Prancis menyatakan diri hendak memeluk Islam, tidak sedikit dari mereka yang kemudian memilih Islam sebagai agamanya. Untuk memastikan bahwa tindakan mereka memilih Islam bukan karena ketakutan dibunuh, ia selalu menjawab:

“If you do so in good faith, well and good. But if you are needlessly alarmed at your present situation, you will do wrong. Though you are, and remain Christians, not a hair of your heads shall be touched. Consider rather what will happen to you should you return to your countrymen after having renounced your faith. "Would you not be treated as the most criminal of deserters? How can you hope to benefit by the occasion should an exchange of prisoners take place?—jika kau melakukannya karena iktikad baik, itu bagus. Tapi, jika kau melakukannya karena khawatir atas keadaanmu saat ini, kau salah. Meskipun kau orang Kristen dan tetap menjadi Kristen, tidak satupun rambut dikepalamu akan disentuh. Petimbangkanlah apa yang akan terjadi padamu jika kau kembali ke bangsamu setelah meninggalkan keyakinanmu. “Maukah kau diperlakukan sebagai penjahat paling kriminal? Bagaimana bisa kau berharap mendapatkan keuntungan dari hal itu ketika pertukaran tawanan perang terjadi?” (Charles Henry Churchill, hlm 209-210).

Suatu ketika ada seorang tawanan Prancis yang berbicara dengan berani di depan Amir Abdul Qadir al-Jazairi. Ia mengatakan, “I will never renounce my religion. You maycut off my head, but make me a renegade, never!—aku tidak akan pernah meninggalkan agamaku. Kau boleh memenggal kepalaku, tapi membuatku murtad, tidak akan pernah terjadi.”

Amir Abdul Qadir tersenyum dan berkata, “Be perfectly easy, your life is sacred with me, I like to hear such language. You are a brave and loyal man, and merit my esteem. I honour courage in religion more than courage in war—tenanglah, hidupmu aman denganku. Aku menyukai ungkapan semacam itu. Kau adalah seorang pemberani dan loyal, serta pantas dihargai. Aku lebih menghormati keberanian dalam agama daripada keberanian dalam perang.” (Charles Henry Churchill, hlm 210).

Ketinggian pekerti dan kelembutan hatinya membuat petinggi militer Prancis pusing. Mereka memerintahkan para tahanan Prancis yang dilepaskan oleh Amir Abdul Qadir tidak menceritakan keluhuran budinya kepada tentara Prancis lainnya. Jika ada yang melanggar, akan dihukum secara militer. Mereka telah dibuat pusing oleh kekuatan militer Abdul Qadir, ditambah tidak sedikit tentara Prancis yang beralih agama menjadi muslim.

Banyak sekali kisah keteladanan Amir Abdul Qadir al-Jazairi. Keteladanan yang diakui seluruh dunia.Di Amerika Serikat terdapat kota yang mengabadikan namanya, kota Elkader di Iowa. Timothy Davis, John Thompson dan Chester Sage sebagai pendiri kota itumemilih nama Elkaderpada tahun 1846. Sebagai bentuk penghormatan atas keberanian, kemurah-hatian dan kemanusiaan Amir Abdul Qadir al-Jazairi. (www.elkader-iowa.com/Histroy).

William Makepeace Thackeray (1811-1863 M), seorang sastrawan Inggris, menulis puisi khusus untuk Amir Abdul Qadir al-Jazairi dengan judul The Caged Hawk at Touloun (Elang Terpenjara di Touloun) yang menggambarkan keberanian, ketenangan dan kemurahan-hati Amir Abdul Qadir al-Jazairi, serta kelicikan Prancis dalam menjebaknya hingga Ia ditangkap dan dipenjara di Touloun, Prancis. (William Makepeace Thackeray, The Works of William Makepeace Thackeray, vol 25, hlm 19). Bahkan Abraham Lincoln pernah mengirimkan hadiah sepasang pistol sebagai bentuk penghormatan kepadanya.

Apa yang dilakukan Amir Abdul Qadir al-Jazairi bukan tanpa dasar. Ia sedang mempraktikkan ajaran Islam yang luhur, yang dicontohkan oleh Nabi Agung Muhammad Saw. Berbeda dengan yang dilakukan ISIS, membunuhi para tahanan perang dan memperbudak mereka sejadi-jadinya. Bukankah al-Qur’an sendiri mengatakan:

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

“Mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.” (Q.S. al-Insan [76]: 8).

Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.


Muhammad Afiq Zahara, alumnus Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan dan Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.



Resource Berita : nu.or.id
close
Banner iklan disini