Lebih Utama Mana, Membaca Al-Qur'an Sampai Hatam atau Menghafalnya?

Lebih Utama Mana, Membaca Al-Qur'an Sampai Hatam atau Menghafalnya?



WartaIslami ~ Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Tidak diragukan lagi membaca Al-Qur'an memiliki keutamaan besar dan pahala banyak. Membaca Al-Qur'an menjadikan hati tenang dan hidup tenteram. Bacaan Al-Qur'an mendatangkan keberkahan di dunia dan akhirat. Bahkan kedekatan kepada Al-Qur'an menjadi bukti cinta seorang muslim kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, karena Al-Qur'an adalah kalam-Nya.

Sebagian orang yang semangat membaca Al-Qur'an berkeinginan menghafalkannya, agar ada Al-Qur'an yang bersarang di dalam dadanya. Sering dalam perjalannya ia bimbang mencari keutamaan antara meyelesaikan (menghatamkan) bacaan Al-Qur'an dari mushaf atau menghafalkannya.

Jika memungkinkan untuk menghafal Al-Qur'an sambil juga menghatamkan bacaan dari mushaf, maka itu yang terbaik. Ini lebih utama. Jika tidak mungkin, maka menghafalkan Al-Qur'an lebih diutamakan daripada sebatas membacanya sampai hatam. Dasarnya, hadits yang menganjurkan untuk meghafalkan Al-Qur'an, di antaranya:

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا

“Kelak akan dikatakan kepada pemilik Al-Qur'an: ‘Bacalah dan naiklah serta tartillah sebagaimana engkau di dunia mentartilkannya. Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca (hafal).” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Shahih kata Syaikh Al Albani)

Maksud Shahib Al-Qur'an (pemilik/pembaca Al-Qur'an) dalam hadits ini adalah orang-orang yang menghafal Al-Qur'an.

Syaikh Al Albani berkata tentang hadits ini,

واعلم أن المراد بقوله : صاحب القرآن حافظه عن ظهر قلب على حد قوله صلى الله عليه وسلم : يؤم القوم أقرؤهم لكتاب الله . . أي أحفظهم

“Ketahuilah bahwa yang dimaksudkan dengan Shahib Al-Qur'an (orang yang membaca Al Qur’an) di sini adalah orang yang menghafalkannya dari hati sanubari. Sebagaimana hal ini ditafsirkan berdasarkan sabda beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang lain, ‘Suatu kaum akan dipimpin oleh orang yang paling menghafal Kitabullah (Al Qur’an).’ Yaitu yang paling hafal.” (Silsilah Shahihah no. 2440)

Kemudian beliau menjelaskan bahwa perbedaan derajat di surga sesuai dengan hafalannya, bukan semata memperbanyak membacanya di saat itu sebagaimana dipahami sebagian orang.

Dalam hadits ini terdapat bukti tentang keutamaan yang besar bagi penghafal Al-Qur'an. Tetapi dengan syarat, menghafalnya untuk mencari keridhaan Allah Tabaaraka wa Ta’aalaa, bukan untuk mendapat dunia, dirham dan niar.

Keterangan di atas dikuatkan dengan penjelasan pengarang ‘Aun al-Ma’bud dalam menjelaskan hadits di atas, “disimpulkan dari hadits itu, tidak akan mendapatkan pahala yang besar ini kecuali oleh orang yang menghafalkan Al-Qur'an, mantap mengamalkan dan membacanya sebagaimana mestinya.”

Dari sini nampak jelas bahwa menghafalkan Al-Qur'an itu lebih utama daripada hanya membacanya melalui mushaf tanpa menghafalnya. Namun perlu diperhatikan, saat menghafal Al-Qur'an tidak boleh melalaikan kewajiban mempelajari ilmu-ilmu lain yang lebih pokok seperti hukum-hukum dalam akidah dan ibadah seperti shalat, puasa, zakat, dan selainnya. Ilmu-ilmu ini lebih pokok untuk dipahami. Karena menghafal Al-Qur'an itu tidak wajib kecuali surat Al-Fatihah saja. Wallahu A’lam.


Resource Berita : voa-islam.com
Ternyata Sesekali ''Nyeker'' itu Sunnah

Ternyata Sesekali ''Nyeker'' itu Sunnah



WartaIslami ~ Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Berjalan kaki memakai sandal termasuk sunnah. Begitu juga sesekali nyeker (telanjang kaki) juga sunnah. Hendaknya seseorang menyengaja sesekali tidak memakai sandal saat berjalan untuk menunjukkan bahwa ini termasuk sunnah. Tujuannya, agar orang-orang tidak menilai orang yang tidak pakai sandal sebagai orang jahil dan melakukan kesalahan. Karenanya, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam memerintahkan para sahabat untuk sesekali tidak pakai sandal.

Fadhalah bin Ubaid Radhiyallahu 'Anhu berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا أَنْ نَحْتَفِيَ أَحْيَانًا

"Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam terkadang memerintahkan kami untuk bertelanjang kaki.” (HR. Abu Dawud & Ahmad. Dishahihkan Syaikh Al-Albani)

Dalam hadits Ibnu Umar, sejumlah sahabat yang ikut bersama Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjenguk Sa’ad bin Ubadah maka sebagian mereka tidak beralas kaki dan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak mengingkarinya. (HR. Muslim)

Petunjuk lainnya kita temukan dalam sabda beliau tentang larangan berjalan dengan satu sandal, hendaknya ia pakai semuanya atau lepas semuanya sehingga berjalan tanpa alas kaki.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

لَا يَمْشِ أَحَدُكُمْ فِي نَعْلٍ وَاحِدَةٍ لِيُنْعِلْهُمَا جَمِيعًا أَوْ لِيَخْلَعْهُمَا جَمِيعًا

“Janganlah salah seorang kalian berjalan dengan satu sandal; hendaknya ia pakai kedua-duanya semuanya atau dia lepas kedua-duanya semuanya.” (Muttafaq ‘alaih)

Syaikh Utsaimin berkata: Maka sunnah, seseorang memakai sandal. Tapi hendaknya sesekali ia berjalan di hadapan orang tanpa alas kaki untuk menunjukkan sunnah ini yang sebagian orang melihat orang yang berjalan telanjang kaki ia mengkritiknya dan mengatakan ini perbuatan orang jahil.

Namun perlu diingat, sunnahnya telanjang kaki saat berjalan ini untuk sesekali saja, bukan sering. Sebab, sering memakai sandal saat berjalan ini bentuk pemuliaan terhadap kaki yang melindunginya dari sesuatu yang menyakiti kaki, seperti duri, pecahan kaca, batu, dan selainnya.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga memerintahkan untuk sering bersandal saat berjalan.

اسْتَكْثِرُوا مِنْ النِّعَالِ فَإِنَّ الرَّجُلَ لَا يَزَالُ رَاكِبًا مَا انْتَعَلَ

“Perbanyaklah memakai sandal, karena seseorang senantiasa berkendaraan selama dia memakai sandal.” (HR. Muslim)

Yakni memakai sandal itu diserupakan dengan orang yang berkendaraan dalam ringannya beban, tidak terlalu capek, dan kaki selamat dari gangguan di jalan. Wallahu a’lam.


Resource Berita : voa-islam.com
Nafkah ke Istri Lebih Didahulukan daripada Nafkah ke Orang Tua

Nafkah ke Istri Lebih Didahulukan daripada Nafkah ke Orang Tua



WartaIslami ~ Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam- keluarga dan para sahabatnya.

Suami memiliki kewajiban nafkah kepada istri dan anak-anaknya. Ia juga berkewajiban menafkahi orang tuanya jika keduanya miskin; tidak punya harta dan pekerjaan yang mencukupi kebutuhannya.

Ibnul Mundzir berkata: "Para ulama sepakat, menafkahi kedua orang tua yang miskin yang tidak punya pekerjaan dan tidak punya harta merupakan kewajiban yang ada dalam harta anak, baik kedua orang tua itu muslim atau kafir, baik anak itu laki-laki atau perempuan."

Beliau mendasarkannya kepada firman Allah Ta'ala,

وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

"Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik." (QS. Luqman: 15) di antaranya melalui nafkah dan pemberian yang membuat mereka senang.

Jika ia mampu menafkahi semuanya secara keseluruhan maka ia wajib melakukannya. Jika tidak mampu –karena hartanya sedikit atau penghasilannya tidak mencukupi- maka ia wajib mendahulukan nafkah istri dan anak-anaknya atas selain mereka.

Memang benar tidak ditemukan keterangan dalam Al-Qur'an agar mendahulukan istri atas lainnya dalam urusan nafkah. Namun, kita temukan dalam Sunnah Nabawiyah petunjuknya.

Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu 'Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Mulailah bershadaqah dengannya untuk dirimu sendiri. Jika masih ada sisanya, maka untuk keluargamu. Jika masih ada sisanya, maka untuk kerabatmu. Dan jika masih ada sisanya, maka untuk orang-orang di sekitarmu.” (HR. Muslim)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالصَّدَقَةِ فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ عِنْدِي دِينَارٌ فَقَالَ تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى نَفْسِكَ قَالَ عِنْدِي آخَرُ قَالَ تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى وَلَدِكَ قَالَ عِنْدِي آخَرُ قَالَ تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى زَوْجَتِكَ أَوْ قَالَ زَوْجِكَ قَالَ عِنْدِي آخَرُ قَالَ تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى خَادِمِكَ قَالَ عِنْدِي آخَرُ قَالَ أَنْتَ أَبْصَرُ

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam memerintahkan bersedekah. Lalu ada seseorang yang  berkata, “Wahai Rasulullah, aku punya dinar.” Beliau bersabda, “Sedekahkanlah untuk dirimu.” Ia berkata, “Aku masih punya yang lain.” Beliau bersabda, “Sedekahkanlah untuk istrimu.” Ia berkata, “Aku masih punya yang lain.” Beliau bersabda, “Sedekahkanlah untuk orang tuamu.” Ia berkata, “Aku masih punya yang lain.” Beliau bersabda, “Sedekahkanlah untuk pembantumu.” Ia berkata, “Aku masih punya yang lain.” Beliau bersabda, “Kamu lebih tahu”.” (HR. Abu Dawud dan Al-Nasai, ini lafadz Abu Dawud. Dihassankan Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa’ no. 895)

Al-Muhallab berkata, “Nafkah kepada keluarga adalah wajib berdasarkan ijma’. Sesungguhnya Syari’ (Allah) menyebutnya sedekah karena takut mereka menduga bahwa menunaikan kewajiban ini tidak ada pahala di dalamnya. Padahal mereka telah tahu, ada pahala dalam sedekah. Lalu Allah memberitahu mereka bahwa nafkah itu menjadi sedekah mereka sehingga mereka tidak mengeluarkannya kepada selain keluarganya kecuali setelah mencukupkan kebutuhan mereka. Ini sebagai dorongan untuk mereka agar memberikan sedekah yang wajib sebelum sedekah sunnah.” (Dinukil dari Fathul Baari: 9/623)

Al-Khathabi berkata, “Urutan ini, apabila kamu perhatikan niscaya kamu tahu bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam  mendahulukan yang utama, lalu baru yang paling lebih dekat (hubungannya).” Kemudian beliau memberikan urutannya: diri sendiri, anak, istri, orang tua, pembantu, lalu orang lain. (Aunul Ma’bud: 5/76)

Imam Nawawi berkata: apabila ada beberapa orang yang sangat membutuhkan uluran tangan dari orang yang wajib dinafkahi oleh seseorang, maka ia lihat; jika cukup hartanya atau penghasilannya untuk menafkahi mereka semua maka ia wajib menafkahi mereka semuanya yang dekat maupun yang jauh. Jika tidak tersisa setelah kebutuhan pribadinya kecuali untuk satu orang, ia utamakan nafkah istrinya atas kerabat-kerabatnya. . . karena kewajiban menafkahinya lebih ditekankan. Sebab, menafkahi istri terus berlaku baginya sepanjang masa dan dalam kondisi pailit.” (Raudhah al-Thalibin: 9/93)

Al-Mardawi dalam al-inshaf (9/392), menyebutkan pendapat yang shahih dari madhab Hambali kewajiban menafkahi kedua orang tua apabila masih ada kelebihan untuk dirinya dan istrinya.

Al-Syaukani berkata: Sesungguhnya telah tegak ijma’ atas wajibnya menafkahi istri, lalu apabila masih ada sisa maka diberikan kepada kerabat dekatnya.” (Nailul Authar: 6/381)

Ringkasnya, tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama untuk mendahulukan istri dalam nafkah atas orang tua. Maka bagi seorang suami (kepala keluarga) agar mencukupkan nafkah kepada istri dan anak-anaknya dengan baik. Jika masih ada kelebihan, maka wajib atasnya untuk memberikan nafkah untuk kedua orang tuanya. Wallahu Ta’ala A’lam.


Resource Berita : voa-islam.com
Awas!! Makanan Haram Bikin Ibadah Tak Diterima dan Doa TakTerkabul

Awas!! Makanan Haram Bikin Ibadah Tak Diterima dan Doa TakTerkabul



WartaIslami ~ Al-Hamdulillah, puja dan puji milik Allah Subhanahu wa Ta'ala. Shalawat dan salam teruntuk hamba dan utusan-Nya, Nabi Muhammad –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Kenapa umat Islam sangat memperhatikan urusan halal-haram dalam apa yang dikonsumsinya dari makanan dan minuman? Karena makanan yang halal menjadi salah satu syarat diterimanya amal ibadah dan dikabulkannya doa. Sebaliknya, sesuatu yang haram menyebabkan tidak diterimanya amal dan dikabulkannya doa. Padahal setiap muslim yakin, ia diciptakan untuk ibadah. Dan keselamatan dan kebahagiaan di akhirat melalui ibadah dan amal shalihnya. Sehingga setiap yang menghalangi dari diterimanya ibadah akan sangat-sangat ia perhatikan dan tinggalkan.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ) وَقَالَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) ». ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

"Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang thoyyib (baik). Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin sebagaimana yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: 'Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.' Dan Allah juga berfirman: 'Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah kami rezekikan kepadamu.'" Kemudian Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo'a: "Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku." Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan dikenyangkan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do'anya?" (HR. Muslim)

Hadits di atas menjadi bukti nyata bahwa suatu amal tidak akan diterima kecuali dengan makan yang halal. Karenanya Allah dahulukan perintah untuk makan yang halal atas beramal shalih. Karena sia-sia amal yang dikerjakan jika tenaga yang dihasilkan dari makanan dan minuman yang haram. Berarti, makanan haram itu merusak amal shalih  dan menghalangi dari diterima.

Ibnu Daqiq berkata dalam syarah hadits di atas, " . . . Dan bahwa makanan lezat yang tidak mubah akan menjadi bencana atas pemakannya serta amalnya tidak diterima oleh Allah."

Dalam hadits di atas hanya disebutkan doa sebagai contohnya, karena doa adalah inti dari semua amal shalih dan ibadah. Jika doa sebagai permintaan tidak dikabulkan maka ibadah yang di dalamnya terkandung pemohonan (agar diterima dan diberi pahala) juga tidak akan diterima dan tidak diberi pahala.

Hal ini seperti yang dikatakan Ibnu Umar Radhiyallahu 'Anhuma,

مَنْ اشْتَرَى ثَوْبًا بِعَشَرَةِ دَرَاهِمَ وَفِيهِ دِرْهَمٌ حَرَامٌ لَمْ يَقْبَلْ اللَّهُ لَهُ صَلَاةً مَادَامَ عَلَيْهِ

"Siapa membeli pakaian dengan 10 dirham, satu dirham di antaranya adalah uang haram maka Allah tidak akan menerima shalatnya selama pakaian itu dikenakannya."

Maksud dari tidak diterima adalah tidak diberi pahala dan ganjaran di akhirat kelak. Sedangkan gugurnya kewajiban atas dirinya telah terpenuhi, jika ia telah menunaikan ibadah tersebut dengan syarat dan rukunnya. Terdapat perbedaan antara hukum dunia dan akhirat, sebagaimana keadaan shalatnya orang yang pergi ke dukun yang tidak akan diterima selama empat puluh hari, tapi kewajiban shalat telah gugur darinya. Dari sini  para ulama salaf sangat takut dengan ayat, "Sesungguhnya Allah hanya akan menerima dari orang-orang bertakwa." (QS. Al-Maidah: 27), mereka sangat takut tidak termasuk orang-orang bertakwa yang amal mereka diterima.

Ringkasnya, ada hubungan erat antara diterima ibadah dengan status makanan yang dikonsumsi. Makanan haram sebabkan ibadah seorang muslim tak diterima dan doanya tak dikabul. Karena itu, kejelasan status makanan dan minuman menjadi satu kebutuhan.Wallahu Ta'ala A'lam.


Resource Berita : voa-islam.com
Terapi Saat Tertimpa Bencana dan Musibah

Terapi Saat Tertimpa Bencana dan Musibah



WartaIslami ~Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah -Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Saat tertimpa musibah, bencana, dan kesusahan sering orang kalut. Ia berusaha mencari solusi dari agar bisa keluar darinya. Berbagai upaya dilakukan, terkadang, tidak memperhatikan halal dan haram. Di sisi lain, ada orang yang saat ditimpa musibah ia putus asa. Seolah tidak ada lagi harapan hidup dan masa depan. Ia lupa bahwa Allah Maha Kuasa. Sehingga ia menjadi stress berat dan bisa jadi bunuh diri.

Yang perlu diketahui pertama saat ditimpa musibah, bahwa itu terjadi dengan kehendak Allah dan Izin-Nya. Ditimpakan kepada hamba dengan hikmah yang dikehendaki-Nya. Kewajiban hamba tersebut adalah menerima ketetapan Allah tersebut, bersabar dan berhusnudzan kepada-Nya. Berikut ini beberapa solusi dan terapi saat seseorang tertimpa musibah agar ia tidak menjadi orang 'sudah jatuh masih tertimpa tangga'.

Solusi menghindarkan diri dari kesengsaraan, bencana, dan musibah adalah dengan iman dan amal sholeh.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

"Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Al-Nahl: 97)

Dari Shuhaib bin Sinan Radhiyallahu 'Anhu berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

"Sungguh menakjubkan urusan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik; ?dan itu tidak dimiliki kecuali orang mukmin. Jika ia mendapat kelapangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika mendapat kesulitan/kesusahan, ia bersyukur, maka itu baik baginya." (HR. Muslim)

Penawar lainnya adalah membaca Al-Qur'an dan merenunginya. Karena di antara fungsi Al-Qur'an adalah menjadi penyejuk dalam hati, cahaya di dada, pelipur kesedihan, pelenyap bagi kegelisahan, dan obat bagi semua penyakit fisik maupun hati.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

"Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman." (Yunus: 57)

وَلَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا أَعْجَمِيًّا لَقَالُوا لَوْلَا فُصِّلَتْ آيَاتُهُ أَأَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّ قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِي آذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى أُولَئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ

"Dan jika Kami jadikan Al Qur'an itu suatu bacaan dalam selain bahasa Arab tentulah mereka mengatakan: "Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?".? Apakah (patut Al Qur'an) dalam bahasa asing, sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: "Al Qur'an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Qur'an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh"." (QS. Fushshilat: 44)

Hal ini sesuai dengan isi doa yang diajarkan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam untuk menghilangkan kesedihan dan kegundahan, "Tidaklah seseorang tertimpa kegundahan (galau) dan kesedihan lalu berdoa

اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِي بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي وَنُورَ صَدْرِي وَجِلَاءَ حُزْنِي وَذَهَابَ هَمِّي

Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba laki-laki-Mu, dan anak hamba perempuan-Mu. Ubun-ubunku berada di tangan-Mu. Hukum-Mu berlaku pada diriku. Ketetapan-Mu adil atas diriku. Aku memohon kepada-Mu dengan segala nama yang menjadi milik-Mu, yang Engkau namakan diri-Mu dengannya, atau Engkau turunkan dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau rahasiakan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu, agar Engkau jadikan Al-Qur'an sebagai penyejuk hatiku, cahaya bagi dadaku dan pelipur kesedihanku serta pelenyap bagi kegelisahanku," melainkan Allah akan menghilangkan kesedihan dan kegelisahan (keundahan)-nya serta menggantikannya dengan kegembiraan.

Ibnu Mas'ud berkata, "Ada yang bertanya, 'Ya Rasulallah, bolehkah kita mempelajarinya?' Beliau menjawab, 'Ya, sudah sepatutnya orang yang mendengarnya untuk mempelajarinya'." (HR. Ahmad, Al-Hakim, dan selainnya. Dihasankan oleh Al-Hafidz dalam Takhriij Al-Adzkaar dan dishahihkan oleh Al-Albani? dalam al-Kalim al Thayyib hal. 119 no. 124 dan Silsilah Shahihah no. 199.)

Terapi saat tertimpa bencana dan musibah lainnya adalah dengan berdoa sebagaimana doa Nabi Yunus 'Alaihis Salam saat berada di perut ikan. Yakni,

أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

"Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim."

Dr Sya'ban Ismail ?guru besar Ilmu Qira'at di Universitas Ummul Qura, Makkah al-Mukarramah berkata, "Di antara doa-doa Al-Qur'an al-Karim yang menghilangkan kegundahan dan musibah adalah firman Allah Ta'ala,

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ

"Dan (ingatlah kisah) Zun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim." Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman." (QS. Al-Anbiya': 87-88)." Wallahu Ta'ala A'lam.


Resource Berita : voa-islam.com
Amal-amal yang Menerangi Kubur

Amal-amal yang Menerangi Kubur



WartaIslami ~ Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Kubur adalah tempat singgah pertama setelah kematian untuk menuju akhirat. Di Barzah seseorang akan melihat sebagian balasan dari amalnya. Jika selamat di dalamnya maka perjalanan berikutnya akan ebih mudah. Sebaliknya, jika sengsara padanya maka perjalanan berikutnya jauh lebih sulit.

Ada kalanya kubur seseorang terasa gelap karena kurangnya amal-amal baiknya dan sebab maksiat yang telah dikerjakan.

Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda tentang kubur seorang wanita berkulit hitam yang bertugas membersihkan masjid, wanita itu meninggal, kemudian beliau menyalatkan wanita itu di atas kuburnya,

إِنَّ هَذِهِ الْقُبُورَ مَمْلُوءَةٌ ظُلْمَةً عَلَى أَهْلِهَا وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنَوِّرُهَا لَهُمْ بِصَلَاتِي عَلَيْهِمْ

“Sungguh kuburan-kuburan ini penuh dengan kegelapan atas penghuninya dan sungguh Allah‘Azza wa Jalla akan meneranginya untuk mereka dengan shalatku atas mereka.” (HR. Muslim)

Ibnu ‘Alan di Syarh Riyadhus Shalihin menerangkan maknanya, “sesungguhnya kubur penuh kegelapan karena tidak ada jendela yang bisa dimasuki cahaya. Tidak bisa menyinari (menerangi)-nya kecuali amal-amal shalih dan syafa’at yang diterima oleh Allah Ta’ala.”

Kewajiban kita adalah mengusahakan amal-amal shalih yang bisa menghantarkan kepada kebahagiaan di kehidupan dunia, alam barzakh, dan akhirat. Di antaranya, amal-amal yang bisa menjadi sebab diteranginya kubur kita. Bersamaan dengan itu kita jauhi segala maksiat yang menyebabkan gelapnya kubur.

Semua amal shalih –secara umum- menjadi sebab terangnya kubur. Di antara amal utamanya adalah sabar dan shalat. Ini masuk dalam keumuman makna firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Disebutkan dalam hadits shahih,

وَالصَّلَاةُ نُورٌ وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ  وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ

"Shalat adalah cahaya, sedekah merupakan bukti nyata, sabar itu sinar, dan Al-Qur’an adalah pembelamu atau penuntutmu.” (HR. Muslim)

Sebagian ulama –seperti Ibnu Taimiyah- menyebutkan bahwa haji dan umrah bisa menjadi sebab terangnya alam kubur seseorang. Ini seperti disebutkan hadits yang disebutkan Ibnu Katsir, Al-Qurthubi, dan dikomentari Ibnu Taimiyah, “memiliki beberapa dalil-dalil yang menguatkan keshahihannya.”

Ikut serta dalam mengaji Al-Qur'an dan belajar ilmu syar’i bisa dijadikan sarana untuk terangnya kubur. Ini tidak lepas dari sifat Al-Qur'an sebagai cahaya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُّبِينًا

“Dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur'an).” (QS. Al-Nisa’: 174)

Doa shalat jenazah atas mayit juga bisa menjadi sebab diteranginya cahaya kubur seorang muslim. Ini seperti hadits riwayat Muslim, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah mendoakan Abu Salamah saat wafat,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأَبِي سَلَمَةَ وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي الْمَهْدِيِّينَ وَاخْلُفْهُ فِي عَقِبِهِ فِي الْغَابِرِينَ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ وَافْسَحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ وَنَوِّرْ لَهُ فِيهِ

“Ya Allah, ampunilah Abu Salamah, angkatlah derajatnya bersama orang-orang yang mendapat petunjuk, berilah penggantinya bagi orang-orang yang ditinggalkan, ampunilah kami dan dia, wahai Rabb seluruh alam. Lapangkanlah kuburannya dan berilah cahaya di dalamnya.”

Terangnya kubur menjadi harapa setiap kita, hendaknya kita berdoa kepada Allah meminta kebaikan ini. Dan juga kita doakan saudara muslim kita agar mendapat cahaya dikuburnya. Wallahu A’lam.


Resource Berita : voa-islam.com
Mencegah Turunnya Adzab

Mencegah Turunnya Adzab



WartaIslami ~ Ada dua hal penghalang turunnya adzab, menurut salah satu ayat di surah Al-Anfal: 33. Pertama keberadaan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Kedua istighfar.

Allah Subahanahu wa Ta'ala berfirman,

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (QS. Al-Anfal: 33)

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sudah wafat. Tinggal satu pencegah turunnya adzab, yaitu istighfar. "Tidaklah layak Allah mengazab mereka, sedangkan mereka senantiasa beristighfar ."

Air sudah menggenang di Pacitan, Wonogiri, Bantul. Juga daerah-daerah lain yang memang selama ini menjadi langganan banjir. Jurug siaga merah. Samin siaga kuning. Bendungan Colo siaga hijau. Beberapa daerah lain keadaannya seperti itu, antara banjir dan siaga hijau, kuning atau merah.

Jika berkehendak, Allah bisa mengirimkan debit air lebih banyak atau sebaliknya menyurutkannya. Jika berkehendak, Allah bisa menurunkankan hujan lebih lebat. Dan terjadilah banjir hebat di mana-mana.

Mari ucapkanlah istighfar lebih banyak. Selain menghapuskan dosa, mudah-mudahan istighfar itu mencegah datangnya bencana.

Satu lagi, jangan lupa menggalakkan amar makruf nahi munkar. Ditinggalkannya amar makruf nahi munkar menjadi sebab yang mengundang turunnya azab kolektif. Wallahu a'lam.


Resource Berita : voa-islam.com
Bangkai Kecoa Najis?

Bangkai Kecoa Najis?



WartaIslami ~ Soal:

Assalammu 'Alaikum,,, Ustadz apakah bangkai kecoa itu najis? Dan apakah pakaian yang terkena bangkai kecoa itu masih sah dipakai shalat tanpa dicuci dahulu ?

Jawab:

Wa'alaikumus salam warahmatullah.. Al-Hamdulillah. shalawat dan salam atas Rasulillah dan keluarganya.

Bangkai kecoa tidak najis sebagaimana lalat, lebah, dan semisalnya. Karena termasuk hewan yang tak memiliki darah mengalir. Hanya saja termasuk hewan kotor dan menjijikkan sehingga haram untuk dimakan.

Apabila ia terkena pakaian maka tidak wajib dicuci saat akan dipakai shalat.  Wallahu a'lam.


Resource Berita : voa-islam.com
[Kerja dan Doa] Hujan Turun Begitu KH Nawawi Banten Doa Jawa di Depan Ka'bah

[Kerja dan Doa] Hujan Turun Begitu KH Nawawi Banten Doa Jawa di Depan Ka'bah



WartaIslami ~  Kita semua sepakat menginginkfan keberuntungan dunia dan akhirat. Secara lahir kita bekerja, usaha. Bekerja harus, maka Allah berfirman: harrik yadaka ungzil ‘alaikar rizqa (gerakkan tanganmu, kamu Ku beri rizki).

Anda tidak boleh mengharap rizki dari Allah jika tidak bernah “menggerakkan tangan” untuk bekerja. Jangan hanya menerima pemberian orang lain (krido lumahing asto) –mohon maaf-  itu  namanya tidak muruah (pendremisan).

Semua para nabi bekerja. Nabi Adam dan istrinya Hawa, bertani. Nabi Nuh seorang tukang: kayu bisa, bangunan bisa, pandai besi bisa. Kalau sekarang, Nabi Nuh seperti alumni SMK. Nabi Sulaiman pandai merangkai janur, ahli dekorasi. Bahkan Nabi Sulaiman penyayang binatang-binatang. Nabi Sulaiman juga mampu menguasai arah mata angin. Maka Allah berfirman dalam Al-Quran: “Wa li Sulaimana rieh”. Nabi Sulaiman menguasai [mengerti] cuaca: besok hujan, besok reda, besok banjir, besok surut, besok pasang, besong angin ke utara, besok ke selatan. Barangkali kalau sekarang beliau adalah pakar metreologi dan geofisika.

Sedangkan secara batin adalah ibadah dan berdoa. Apabila bisa, sekian banyak doa semua dihafalkan. Bila tidak bisa, semampunya. Jika terpaksa tidak bisa bahasa Arab, memakai bahasa Jawa tidak apa-apa.

Romo KH. Idris Marzuki, Lirboyo, pernah dawuh kepada saya: 

“Koe ki nek nompo dungo-dungo Jowo seko kiai sing mantep. Kae kiai-kiai ora ngarang dewe. Kiai-kiai kae nompo dungo-dungo Jowo seko wali-wali jaman mbiyen. Wali ora ngarang dewe kok. Wali nompo ijazah dungo Jowo seko Nabi Khidlir. Nabi Khidlir yen ketemu wali Jowo ngijazaji dungo nganggo boso Jowo. Ketemu wali Meduro nganggo boso Meduro.”

“[Kamu jika mendapat doa-doa Jawa dari kiai yang mantap, jangan ragu. Kiai-kiai itu tidak mengarang sendiri. Mereka mendapat doa Jawa dari wali-wali jaman dahulu. Wali itu mendapat ijazah doa dari Nabi Khidlir. Nabi Khidlir jika bertemu wali Jawa memberi ijazah doa memakai bahasa Jawa. Jika bertemu wali Madura menggunakan bahasa Madura]”

Maka, saya sering berdoa dengan doa Jawa. Saya mendapat doa Jawa dari Romo KH. Achmad Abdul Haq dan KH. Dalhar Watucongol Magelang. Doa Jawa yang membuat tekun bekerja dan kelapangan rizki.

“Allāāhumma ubat-ubet, biso nyandang biso ngliwet. Allāāhumma ubat-ubet, mugo-mugo pinaringan slamet. Allāāhumma kitra-kitri, sugih bebek sugih meri. Allāāhumma kitra-kitri, sugih sapi sugih pari.”

Almarhum KH. Nawawi Banten pernah diminta untuk berdoa di Makkah dan tetap menggunakan bahasa Jawa. Padahal beliau ahli bahasa Arab. Hasil karyanya diatas 40 kitab, semuanya berbahasa Arab. Kejadiannya, suatu ketika di Tanah Arab lama sekali tidak turun hujan. Ulama-ulama Makkah dan Madinah didatangkan untuk berdoa minta hujan di depan ka’bah. Selesai berdoa, malah semakin panas, sampai beberapa bulan. Sang raja teringat, ada seorang ulama yang belum diajak berdoa. Setelah dicari, ketemu. Orangnya pendek, kecil dan hitam. Mungkin kalau melamar perawan jama sekarang langsung ditolak. Kenapa? Karena bukan tipe idola, walaupun mungkin bisa masuk facebook.

Kemudian, ulama asal dusun Tanara, Tirtayasa, Banten tersebut dipanggil oleh sang raja agar supaya berdoa kepada Allah di depan ka’bah: meminta hujan. 

Anehnya, meski KH. Nawawi Banten mampu berbahasa Arab dengan fasih, di depan ka’bah, berdoa meminta hujan dengan memakai bahasa Jawa. Para ulama Makkah dan Madinah berdiri di belakangnya menyadongkan tangan sambil berkata “amin”.

Mbah Nawawi berdoa: “Ya Allah, sampun dangun mboten jawah, nyuwun jawah.”

Seketika hujan datang. Yang berdoa berbahasa Arab dengan fasihnya tidak mujarab, sedangkan dengan bahasa Jawa malah justeru ampuh. Maka, jika anda mendengan orang berdoa dengan fasih menggunakan bahasa Arab, jangan minder karena belum tentu mujarab. Jadi, berdoa memakai bahasa Jawa, boleh-boleh saja, asalkan diluar shalat. Kalau berdoa di dalam shalat, wajib berbahasa Arab.
Itu tadi doa yang menyangkut dengan pekerjaan. Saya punya doa yang terkait dengan keamanan. Berbahasa Jawa:

“Bismillāhirrahmānirrahīm. Kun Fayakun, rinekso dhening Allah, jinogo dhening moloekat papat, pinayungan dhening poro nabi, Lailāhaillallāh Muhammadur Rasūlullah.”

Jadi, secara lahir bekerja, secara batin berdoa. Bahkan, untuk strata yang lebih rendah – mohon maaf – jika Arab tidak bisa, Jawa tidak bisa, boleh tidak berdoa, asalkan mau berdzikir yang banyak. Karena dzikir itu sama dengan berdoa.

Allah berfirman: man saghalahu dzikri ‘an mas alati, a’thaituhu qabla an yas alani. [Barangsiapa terlena berzdikir kepadaKu sampai tidak sempat meminta apa-apa, niscaya Kuberi dia apa-apa, sebelum dia meminta apa-apa.


Resource Berita : dutaislam.com
Kepada Mufassir Ini, Mbah Hamid: "Kowe (Iseh) 'Alim Aku"

Kepada Mufassir Ini, Mbah Hamid: "Kowe (Iseh) 'Alim Aku"



WartaIslami ~ Disebutkan dalam kitab Jami'us shoghir sebuah hadits Nabi Muhammad ﷺ, yakni: Wali Abdal ditengah-tengah ku ada 30 laki-laki, berhati Ibrohim dan setiap satu diantara mereka wafat maka Allah SWT memberi gantinya, wafat 3 orang wali abdal maka akan diganti 3 orang wali abdal lagi, untuk melengkapi 30 wali abdal yang berhati Nabi Ibrahim.

Suatu saat ada ulama, yang 'alim, beliau mengarang kitab tafsir berbahasa arab, hanya sampai surat al-Kahfi. Pada suatu ketika beliau bertemu dengan KH. Abdul Hamid Pasuruan, Kiai Hamid melontarkan kata-kata spesifik tentang wali-wali tertentu. Kiai Hamid dawuh kepada beliau: "Kowe (iseh) 'alim aku" (dibanding kamu, masih 'alim saya).

Kalau Nabi Ibrahim ingin mendoakan untuk ayah (atau pamannya dalam satu riwayat), tapi dilarang oleh Allah SWT setelah ayahnya dipastikan musyrik.  Kyai Hamid dawuh: Nabi Ibrahim hanya ingin menepati janjinya "إلا عن موعدة وعدها إياه". Janji yang berupa "Aku akan mintakan ampun bagimu kepada Rabbku." (Q.S. Maryam 47).

Samudra ilmu Kiai Hamid sangat dalam, luas tak bertepi. Nabi Ibrahim disebut 69 x dalam al Qur'an, Ibrahim memiliki arti abun rohim - ayah yang penyayang (kitab tahqiq kalimatil qur'an).

Maka seorang Wali Abdal adalah seorang wali yang memposisikan kasih sayang yang paling utama, Kholifah yang menjadi wali maka dia penuh kasih sayang, Bupati yang menjadi wali maka dia penuh kasih sayang.

Diantara ciri-ciri seorang Wali Abdal yang berhati Ibrahim adalah :

1. ما كان ابراهم يهوديا و لا نصرانيا ولكن كان حنيفا مسلما
Nabi Ibrahim bukan yahudi dan juga bukan nasrani, beliau condong pada sifat-sifat yang mulia, luhur, teguh dan taat pada aturan Allah SWT.

Sayyidina Umar bin Khottob (dalam sunanul kubro lil baihaqi) ketika datang di Palestina, beliau dipersilahkan untuk masuk ke dalam gereja untuk jamuan makan, lalu beliau berkata: "kami tidak bisa masuk meskipun hanya untuk makan, disitu ada gambar-gambar yang tidak sesuai dengan syari'at) ajaran kami. Inilah tanda Wali Abdal. Kita memang tidak boleh mengganggu nasrani/yahudi, tidak diperkenankan menganiaya mereka, merusak tempat ibadah mereka, tapi menyampur adukkan ajaran juga tidak diperbolehkan.

2. و إبراهيم اللذي وفى
Nabi Ibrahim tidak pernah ingkar janji.

Kita semua semestinya menerapkan hal ini, yakni menepati janji. Siapapun orangnya, apakah itu pejabat, ulama atau ustadz juga semestinya menepati janji.

Dalam kitab an Nawadir - al Qolyubi dikisahkan: Ada segerombolan perampok setelah melakukan aksinya, rombongan perampok ini mampir ke salah satu pesantren milik seorang ulama, begitu masuk rumah sang kiai, mereka mengucapkan salam; "assalaamualaikum kiai, kami ini rombongan pejuang/mujahidin fi sabilillah". Mendengar pengakuan perampok sebagai mujahidin fii sabilillah maka mereka diterima dengan baik oleh kiai, diberi jamuan makan layaknya pejuang, disediakan fasilitas, tempat tidur.

Kiai ini mempunyai seorang putra yang lumpuh, maka sang kiai berdo'a, "yaa Allah dengan wasilah para pejuang ini, tolong berikan kesembuhan kepada anak kami". Bahkan sisa air minum segerombolan perampok tersebut diambil semua(tabarrukan), dibawa dan diberikan pada putranya, lalu dioleskan kepada tubuhnya, dan ternyata berbekal kemantaban hati dan berprasangka baik sang kiai bertawassul kepada perampok hingga putranya menjadi sembuh.

Keesokan malamnya segerombolan perampok datang dan bermalam lagi di rumah kiai, begitu melihat putra sang kiai yang sudah berdiri, para perampok kaget, mereka bertanya; "kiai dari mana anda mendapatkan obat untuk putra anda ini?

Sang kiai menjawab; "kami mengumpulkan sisa air anda semua kemaren dan kami ber-tabarruk dengan air itu, akhirnya sembuh lah putra kami. Seketika para perampok menangis, dan sekaligus meminta maaf kepada kiai, "wahai kiai kami ini bukan pejuang, kami murni perampok, cuman karena husnudzon kiai lah Allah mengabulkan doa kiai.

Maka pandang lah seseorang dengan pandangan yang terbaik, insyaallah akan diberi kelebihan oleh Allah SWT. "Jangan sekali-sekali seorang ustadz punya kemantaban seraya menyatakan bahwa muridnya bodoh, para guru/ustadz harus mantab kalau muridnya jadi anak sholih dan 'alim.

3. امة اى اماما قانة اي مطيعا لله
Beliau menghiasi dirinya dengan 'nilai-nilai' ibadah, Kiai Hamid tidak pernah putus dari ibadah, baik yaqodhotan (terjaga) atau manaman (tidur fisik) beliau ibadah terus menerus.

Apakah ada orang ibadah tapi tak bernilai? Ada. Bahkan ada dzikir yang hanya untuk berstrategi.
Al jahit (mu'tazilah) menulis kitab "al hayawan" mengisahkan sebuah anekdot; "ada seorang ustadz yang akan berceramah di sebuah masjid, sang ustadz ini kebanyakan makan buncis, sehingga dia menjadi sering keluar angin (kentut). Setelah imam selesai berjamaah, lalu sang ustadz maju kedepan untuk berpidato menghadap jamaah, sedang imam sholat yang sudah tua berada tepat dibelakangnya. Kondisi masjidnya tertutup tirai. Karena kebanyakan makan buncis, sang ustadz saat ditengah ceramahnya merasa ingin keluar angin (kentut), padahal dibelakanngnya pas terdapat imam jamaah. Karena bingung bagaimana kentutnya supaya tak tedengar,  maka sang ustadz mengajak para jamaah berteriak bersama mengucap 'laa ilaa ha illah', saat itulah dia kentut, dilanjutkannya lagi ceramah, tiba-tiba terasa mau kentut lagi maka dia mengulangi cara yang sama. Sampai pada kesekian kalinya imam jamaah tidak kuat menahan emosi. Saat ustadz mau mengajak dzikir, imam seketoka berdiri dan berkata ; "jangan mau, bisa-bisa mati saya". Ini lah contoh dzikir untuk strategi (ibadah yang tak bernilai).

KH. Abdul hamid itu seseorang yang 'alim syari'ah sekaligus wali, tak sekedar wali. Seorang wali abdal karomahnya beda-beda, ada ulama/wali ikhlas tapi teruji seperti kisah Imam Bukhori RA, Imam Bukhori pernah menaiki sebuah kapal, lalu ada seorang lelaki yang iseng ingin kenalan dengan beliau, Imam Bukhori merasa senang hatinya saat bertemu dengan seseorang yang ingin berkenalan, taaruf dengan ulama.

Saking senangnya Imam Bukhori, beliau menjamu lelaki tersebut. Akhirnya beliau bercerita; "pak.. kami alhamdulillah memiliki bekal 1000 dinar (kepingan emas) barangkali bapak mau membeli sesuatu bisa pakai uang ini, kami lebih dari cukup kalau sekedar untuk makan dan kebutuhan lainnya.

Setelah jeda waktu lelaki itu teriak menangis, lalu dihampiri oleh pihak keamanan dan ditanya; "ada apa pak? Ia menjawab ; "uang kami hilang isinya 1000 dinar, berarti ada orang dikapal ini yang mengambil uang kami. Maka petugas menggeledah semua penumpang kapal, umtuk mencari uang 1000 dinar, termasuk Imam Bukhori.

Imam bukhori lalu berkata; "masyaallah ini ujian, kalau kami ditangkap bawa uang 1000 dinar maka nama kami yang tidak baik, kami ulama, diamanahi oleh Allah SWT berupa ilmu, sebagai pemimpin ulama, kalau kami diketahui membawa 1000 dinar maka kami dituduh sebagai pencuri.

Akhirnya uang 1000 dinar tersebut dibuang ke laut, begitu Imam Bukhori digeledah maka tidak ditemukan uang 1000 dinar itu. Selesai penggeledahan, lelaki itu datang kembali kepada Imam Bukhori dan bertamya ; "kamu sudah digeledah?" Sudah, uangnya saya buang" jawab Imam Bukhori.

Maka seseorang bercerita kalau mempunyai uang itu bahaya, walaupun niatnya baik, itu beresiko. Lha orang sekarang kredit saja diceritakan.

Wali abdal itu "وقورا" / tenang, "صدوقا" / jujur, "مهيبا" / wibawa, "صموتا" / pendiam. Maka dalam teori Wali Abdal ada beberapa catatan Imam Muhyiddin Ibn arobi; "Wali Abdal itu berganti-ganti hatinya, kadang berjiwa Nabi Ibrahim yakni pengasih/penyayang, kadang berjiwa Nabi Musa (keras), kadang berjiwa Nabi Adam.

Karena para Nabi sifat walayahnya itu, diberikan kepada auliya, maka ketika seorang Wali jika diberikan karomah bisa menghidupukan orang mati maka dia diberikan karomah lewat jalur Nabi Isa as, jika seorang Wali diberikan karomah bisa menguasai teknologi maka dia diberikan karomah lewat jalur Nabi Daud as, seorang Wali jika diberikan karomah bisa mengetahui semua nama-nama, maka dia diberikan karomah lewat jalur Nabi Adam, seorang Wali jika diberikan karomah bisa berbicara dengan hewan maka dia diberikan karomah lewat jalur Nabi Sulaiman as.

Kita walau belum belum sampai sana (Wali Abdal), paling tidak kita cinta kepada mereka. Ada yang tanya, wali dan wartawan itu pinter mana? Wartawan dapat berita itu sangat cepat.

Disebutkan dalam kitab Ihya'  bahwa Imam ghozali pernah ditanya : "kenapa negara islam yang dijajah oleh orang kafir, walinya kok tidak pernah menampilkan diri ?

Imam Ghozali menjawab: "Peraturan Wali itu berbeda, Wali ada yang disebut dengan "dairotul walayah" (zona walayah), misalkan ada seorang Wali dari Pasuruan ingin mengeluarkan karomahnya di wilayah lain, maka dia harus izin terlebih dahulu ke wali daerah tersebut, ada juga yang disebut "khirqotul walayah" (baju kewaliyan), ada yang disebut dengan "qobdul walayah" (dijabut), pagi jadi wali malam nya tidak.

Wali dapat haqiqoh itu diatur oleh Allah SWT. Adabul haqiqoh. Jangankan untuk perang, ada seorang wali yang mempunyai doa untuk perpanjangan waktu dunia, ada seorang wali jika berdo'a minta kiamat ditunda bakal ditunda. ( يمحو الله ما يشاء ويثبت)

Ada seseorang wali yang dimintai doa oleh seseorang tetapi tidak dikabulkan oleh Allah SWT, karena yang meminta didoakan belum memenuhi syarat untuk diijabah. Misalkan, tidak pernah sholat minta didoakan agar bisa cepat berangkat haji. Maka wali akan mendoakan untuk yang lain.

Wali abdal kita harus tiru yang kita bisa, baik itu memenuhi janji, akhlaqnya, atau ibadahnya. Imam Ghozali mempunyai kitab yang diberi judul "Sulwatil 'Arifin": dikisahkan didalamnya; "ada seorang majusi kalau anaknya makan di siang hari pas di bulan romadhon, maka seketika dipukul anaknya. Sekarang ada orang mengatakan jangan memaksa orang untuk berpuasa, ini kan tidak cocok.

Ulama yang berjumpa KH. Abdul Hamid tadi mempunyai sholawat, tapi sholawat ini tidak bisa diartikan, bahkan ulama itu saya tanya langsung apakah tahu artinya? Beliau menjawab tidak tahu. Waktu di Tebuireng, beliau mimpi bertemu seseorang dan memberikan sholawat yang berbunyi "Allahumma solli alal khodiri almuhmali ba'du"

Ketika beliau bicara tentang Kiai Hamid; "Kiai Hamid itu kewaliannya semenjak anak-anak, umpama nabi itu punya irhas (tanda-tanda jadi nabi). Yai hamid itu mujabub da'wah.

Kiai Manshur Lasem (Abah Gus Qoyyum) pernah sakit yang sudah lama dan tak kunjung sembuh, sampai akhirnya Kiai Hamid memerintah Kiai Manshur dengan ayat al Qur'an :

إن الله يأمركم ان تذبحوا بقرة
Lalu beliau menyemebelih seekor sapi dan (bi idznillah) beliau sembuh.

Ada seorang ulama yang doanya diijabah oleh Allah SWT tapi dibatasi. Imam Ibnu Jauzi mengisahkan; "Ada seorang wali yang dijatah oleh Allah dikabul doanya hanya 3x saja. Ulama ini memiliki istir yang jelek, sang istri tahu jika suaminya dijatah oleh Allah SWT ijabah 3x doa, lalu sang istri berkata : 'bah tolong doakan saya biar menjadi cantik, maka kyai ini memenuhi permintaan sang istri, selesai didoakan istrinya langsung berubah menjadi cantik. Doa yang tersisa tunggal 2. 

Setelah istri menjadi cantik, malah dia cinta kepada orang lain, maka sang ulama menjadi, akhirnya beliau berdo'a kembali, 'yaa Allah kami kecewa, kesal, jatah doa kami yang kedua tolong jadikan wajah istri kami seperti anjing, spontan langsung istrinya berubah menjadi anjing. Tersisa 1 doa. Istrinya menangis, anak-anaknya juga menangis, sang istri meminta maaf, dan memohon agar wajahnya kembali seperti semula, walaupun jelek, akhirnya suami berdoa untuk yang terakhir kalinya; "Yaa aallah kembalikan istri kami seperti semula. Tidak cantik tapi tidak cinta kepada orang lain. (Zaadul masiir fi ilmit tafsir)

Kiai Abdul Hamid, itu mujabud dakwahnya sewaktu-waktu, tak terbatas, banyak bahasa isyarah sulit dicerna tapi tidak mengada-ada. Beliau maksyuf (dibukakan mata batinnya oleh Allah SWT), bahrul haqiqoh (lautan hakikat) bahrus syari'ah (lautan syari'ah), masyhud (disaksikan orang banyak) diakui ulama'.

Ibnu Qoyyim mengisahkan dalam kitab "Ighotsatul Lahwan": Ada sebuah gereja, didalamnya ada patung perempuan, yang dari payudaranya keluar air susu, sehingga banyak orang yang datang berziaroh, akhirnya para peziarah memberi uang kepada juru kunci, jadilah juru kunci kaya raya, beberapa waktu kemudian diketahui ternyata air susu yang keluar itu berasal dari pipa yang dihubungkan ke dapur belakang, akhirnya dia tertangkap dan dihukum mati. Ini contoh bukan wali tapi gaya wali. Ada wali melayani pasang susuk, ini kan nggak pantes.

Wali itu ketaatannya ditunjukkan namun tanpa dibarengi penyakit hati. Syekh Abdul Qodir al Jailani, awal-awal diberikan karomah berupa tashorrufan (wali diberi karomah dengan perubahan alam, misal pasir jadi gula pasir, kalau butuh makan, tangannya digenggamkan, dan hati merenung membayangkan apel, keluar lah apel). 

Syekh Abdul Qodir al Jailani 25 tahun karomah kewaliannya adalah tashorrufan, namun beliau tidak suka. Akhirnya beliau i'tidzar/mohon kepada Allah; "yaa Allah saya kok begini, pasir jadi gula pasir, kenpa kami punya karomah seperti ini,  kami khawatir tidak beradab kepada engkau yaa Allah, semestinya ini pasir kok menjadi gula pasir. Kami ingin biasa saja, pada akhirnya tashorrufan nya diambil sama Allah, atas permintaan beliau.

Kiai Hamid didepan ulama beliau tunjukkan ahli ilmu nya, didepan orang awam beliau tunjukkan akhlaknya, bersuci dari hadats, sopan, didepan ahli kitab beliau tunjukkan keahliannya dalam kitab, dan seterusnya.

Adab berinteraksi dengan penguasa. Seorang ulama harus membatasi diri dengan penguasa. Menjaga kewibawaan ilmunya. Syekh Abdul Qodir al Jailani pernah tidur di dalam istana, akhirnya selama tidur itu beliau mimpi keluar sperma berkali-kali, dan mandi berkali-kali.

Imam Sya'roni, mengisahkan dalam kitabnya Mizanul Kubro, ada seorang ulama yang bernama Muhammad bin Zain, beliau seorang yang ahli bertemu Nabi Muhammad ﷺ, bukan hanya bermimpi, jika beliau berziarah kepada Nabi Muhammad ﷺ, beliau mengucap salam kepada Nabi dan langsung dijawab oleh Nabi ﷺ, semua orang yang disana bisa mendengar dengan jelas. 

Suatu ketika ada orang yang meminta tolong kepadanya untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya yang berkaitan dengan penguasa, masuk lah beliau di kantor pemerintahan, otomatis beliau dijamu dan menikmati beberapa fasilitas pemerintahan, setelah selesai permasalahnya, lalu beliau pulang ke rumah, dan semenjak itu lah beliau tidak bisa lagi berjumpa dengan Nabi ﷺ,  sulit mimpi bertemu Nabi, sampai akhirmya diingatkan langsung oleh Nabi ﷺ ; "kamu sudah tidak bisa lagi bertemu aku, karena kamu menikmati primadani di istana".

Imam Jalaluddin Assuyuti mempunyai sebuah surat untuk pemerintah yang isinya balasan surat ketika beliau dimintai tolong oleh pihak pemerintah agar datang ke istana untuk menyelesaikan sebuah masalah. Beliau membalas surat itu dengan penjelasan; "Maaf kami ini ulama, ahli hadits, takhrij hadits kami langsung dengan Nabi Muhammad ﷺ, kalau kami masuk istana maka kami tidak bisa lagi mentakhrij hadits secara langsung kepada Nabi Muhmmad ﷺ .

Sayyid Qutub pernah sakit, namun beliau tidak memiliki uang sama sekali untuk berobat. Tiba-tiba datang seorang tamu dengan membawa uang 1 koper yang diantar oleh diplomat, semua uang tersebut dihadiahkan kepada beliau. Tetapi beliau menolak, karena menjaga kewibawaan ulama.

,صحف ابراهيم و موسى
Lembaran-lembaran ajaran Nabi Ibrohim dan Nabi Musa, diantaranya; Imam al alusi dalam kitabnya Ruuhul ma'ani menyebutkan diantara isi suhufi Ibrohim;

- على العاقل ان يكون بصيرا لزمانه مقبلا على شأنه حافظا للسانع
Orang yang cerdas dia bisa membaca dan melihat zamannya, mana yang berbahaya dan mana yang tidak, selalu menengok apa kewajibannya, displin atas urusannya, dan menjaga lisannya. 


Resource Berita : dutaislam.com
Ya Rasulullah, Masjid Apa yang Pertama Kali Didirikan?

Ya Rasulullah, Masjid Apa yang Pertama Kali Didirikan?



WartaIslami ~ Masjid secara bahasa bermakna tempat sujud. Pemuda yang menautkan hatinya di masjid-masjid Allah Ta’ala, baginya janji naungan di hari ketika tak ada lagi naungan selain naungan-Nya. Sedangkan kaum muslimin yang bersegera mendatangi masjid pada shalat lima waktu, baginya janji pengampunan dosa dan diangkat derajatnya di sisi Allah Ta’ala.

Di dalam masjid ada ketenangan, kedamaian, kebahagiaan, dan kecukupan atas dunia yang semakin ganas dan tak beradab. Di dalam masjid ada ketundukan dan kepatuhan. Pasalnya, dari sekian banyak kaum muslimin di suatu daerah, di zaman ini; hanya beberapa yang menautkan hati dan menyimpan kerinduan kepada rumah-rumah Allah Ta’ala itu.

Semua masjid adalah tempat pilihan. Di dalamnya senantiasa disebut-sebut nama Allah Ta’ala melalui tasbih, tahmid, tahlil dan juga takbir, serta shalawat kepada Nabi-Nya yang mulia. Ialah sebentuk pengakuan tulus dari seorang hamba kepada Rabb dan utusan-Nya.

Namun, dari sekian banyak jumlah masjid di muka bumi ini, ada masjid-masjid pilihan sebab keutamaannya. Ialah masjid yang memiliki sejarah sebagai awal perjuangan Islam, dan diberkahi oleh Allah Ta’ala.

Di dalam riwayat Imam Bukhari, Imam Muslim, dan Imam Ahmad bin Hanbal, Abu Dzarr al-Ghifari bertanya, “Ya Rasulullah, masjid apa yang pertama kali didirikan?”

Jawab Nabi, “Masjidil Haram.”

“Kemudian,” lanjut Abu Dzarr sampaikan tanya, “masjid apa lagi?”

“Masjid al-Aqsha,” tutur Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Maka ketika Abu Dzarr sampaikan tanya ketiga, “Berapa lama jarak (pembangunan) antara keduanya?”, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Empat puluh tahun.”

“Kemudian,” pungkas Rasulullah menyampaikan jawaban kepada sahabatnya itu, “di mana pun waktu shalat tiba, maka shalatlah di sana. Karena semua bumi ini adalah masjid (tempat sujud).”

Itulah Masjidil Haram yang diberkahi. Siapa yang masuk ke dalamnya, terjamin baginya keamanan. Bahkan seorang pembunuh yang masuk ke dalam Masjidil Haram yang terletak di Makkah, ia tak akan dibunuh kecuali keluar dari dalamnya.

Selain diberkahi, Masjidil Haram juga menjadi petunjuk bagi umat manusia.

Semoga Allah Ta’ala segera kurniakan kemampuan kepada kita untuk menunaikan Haji Wajib dan Umrah; menapaki jejak perjuangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan para sahabatnya. Aamiin.


Resource Berita : kisahikmah.com
Sahabat yang Dijamin Surga, Padahal Amalnya Sedikit

Sahabat yang Dijamin Surga, Padahal Amalnya Sedikit



WartaIslami ~ Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Sebentar lagi akan lewat seorang yang termasuk penduduk surga.” Para sahabat yang berada di lokasi itu pun memperhatikan dengan seksama, siapakah sosok yang disebut sebagai penduduk surga itu?

Tak lama setelahnya, lewatlah seorang sahabat dari kalangan Anshar. Dalam riwayat yang dibawakan dari Anas bin Malik ini, sosok salah satu penduduk surga ini berjalan sembari membersihkan jenggot dan membawa sandal dengan tangan kirinya.

Di hari kedua, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun mengulangi sabdanya, “Sebentar lagi akan lewat seorang yang termasuk penduduk surga.” Tak lama kemudian, lewatlah sosok yang sama. Dan, kejadian itu terulang hingga tiga hari.

Didorong oleh penasaran yang besar dan niat meneladani, ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash pun mengikuti sahabat penduduk surga tersebut, lalu memberanikan diri untuk izin menginap di rumahnya. Selama tiga hari menginap, ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash pun berlagak seperti pengintai yang tak ingin melewatkan sedetik pun aktivitas sosok tuan rumah.

Kelar menginap selama tiga hari, ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash pun bingung. Pasalnya, sepanjang siang dan malam hari selama tujuh puluh dua jam, ia tidak mendapati satu pun amalan istimewa yang dilakukan oleh sosok yang disebut penduduk surga oleh Rasulullah itu. Bahkan, di malamnya, ia tidur, bukannya berdiri semalaman dalam qiyam, dzikir, dan munajat kepada Allah Ta’ala.

Agar tidak berprasangka, ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash pun memberanikan diri bertanya. Sebelumnya, ia mengisahkan sabda Nabi terkait dirinya yang diulang tiga kali dalam tiga hari, dan maksud menginapnya. Ujarnya, “Apakah amalan istimewa yang selalu Anda kerjakan? Aku tidak mendapatinya dalam tiga hari sejak bersama Anda.”

“Tidak ada apa pun, selain yang kau saksikan,” jawab sosok sahabat terjamin surga ini.

“Hanya saja,” lanjutnya beberkan rahasia amalannya, “aku tidak pernah menaruh sedikit pun iri atau dengki kepada siapa pun kaum Muslimin atas nikmat yang Allah Ta’ala kurniakan padanya.”

Jawab ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash seraya membenarkan, “Tingkatan yang Anda capai inilah yang belum bisa kami rengkuh.”

Shadaqallahul ‘azhim, wa shadaqa Rasuluhun nabiyyul habibul kariim.


Resource Berita : kisahikmah.com
Mengenal Pengelana Paling Berpengalaman di Dunia

Mengenal Pengelana Paling Berpengalaman di Dunia



WartaIslami ~  Ibnu Battuta, Bathuthah, demikian sapaan kecilnya. Tokoh yang bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad Ibn Abdullah al-Lawati al-Tanji Ibnu Battuta ini lahir pada 1304 di Kota Tangier, Maroko. Ia dikenal sebagai pengelana Muslim abad ke-14.

Namanya bahkan sampai hari ini dikenang sebagai pelancong paling berpengalaman di dunia. Hampir seluruh pelosok bumi pernah ia jelajahi. Mulai dari Afrika Utara, Mali, Spanyol, Mesir, Palestina, Istanbul, Mekkah, Madinah, Yaman, Somalia, Mombassa, Persia, Irak, Anatolia, Bukhara, Laut Arab, Delhi, Kalkuta, Sri Lanka, Samudra Pasai, Vietnam, hingga Kanton, dan Hang-chou di Cina.

Perjalanan yang ditempuh selama 29 tahun itu (1325-1354) menempuh banyak kerajaan di masa itu, antara lain, Kesultanan Marinid, Kerajaan Mali, Kesultanan Mamluk, Kerajaan Kipchak Khan, Kerajaan Cagatay Khan, Kerajaan Ilkhanid Khan, Kesultanan Delhi, Kerajaan Samudra Pasai, dan Kerajaan Mongol.

Ibnu Battuta hidup pada masa Dinasti Marinid. Ia berasal dari keluarga ulama fikih Islam di Tangier, Maroko. Keluarganya keturunan suku barbar yang terkenal dengan nama suku Lawata. Kedua orang tua Ibnu Battuta masih hidup saat ia memulai pengembaraannya pada 1325. Tangier adalah titik pertemuan geografi empat benua yaitu Afrika, Eropa, Atlantik, dan Laut Tengah. Kota Tangier adalah sebuah kota antarbangsa yang ditentukan oleh arus lalu lintas maritim yang sering digunakan oleh para pedagang, prajurit, dan ilmuwan.

Ross E Dunn, dalam The Adventures of Ibn Battuta (2005) menjelaskan, Tangier adalah kota perbatasan pada abad ke-14. Berbagai insiden yang menimbulkan ketegangan kerap terjadi di kota ini. Seperti anggota tentara barbar yang kasar, pedagang-pedagang Kristen dan Islam bertengkar satu sama lain di galangan kapal dan di gudang penyimpanan serta bajak laut yang menjual hasil rompakan mereka di pasar.

Negara membantu kondisi ekonomi Tangier yang sedang krisis dengan menyediakan pekerjaan bagi penduduk dalam urusan konstruksi kapal, muatan kapal, menyewa prajurit dan pelaut, berdagang senjata dan persediaan barang. Pada masa mudanya, Ibnu Battuta bersekolah di sebuah madrasah fikih bermazhab Maliki yang merupakan bentuk dominan dari pendidikan Afrika Utara saat itu. Ia memperoleh prestasi di bidang akademik ini.

Keluarga Ibnu Battuta memiliki kedudukan terhormat sebagai cendekiawan. Pada abad ke-14, Kota Tangier bukanlah sebuah pusat kegiatan pendidikan di Afrika Utara. Kota ini tidak seperti kota Fez, Tlemcen, ataupun Tunis. Ketika Ibnu Battuta tumbuh besar, tidak ada satu pun madrasah atau perguruan tinggi yang didirikan oleh Dinasti Marinid sebagai pemerintah baru di ibu kota mereka.

Pendidikan yang diterima Ibnu Battuta adalah suatu yang berharga bagi keluarga ahli hukum. Ibnu Battuta rajin belajar Alquran di masjid terdekat, sehingga pada umur 12 tahun dia telah menghapal  Alquran.

Ibnu Battta juga mempelajari ilmu tafsir Alquran, hadis, tata bahasa, retorika, teologi, logika, dan ilmu hukum. Ibnu Battuta juga mempelajari imu sufi. Ia tidak pernah menjadi seorang pengikut sufisme yang terikat dengannya. Beliau seorang sufi awam yang menghadiri pertemuan-pertemuan tarekat, mencari doa, dan makrifat serta menyendiri pada waktu-waktu tertentu.


Resource Berita : republika.co.id
Kisah Umar yang Membuat Para Orang Tua Menangis

Kisah Umar yang Membuat Para Orang Tua Menangis



WartaIslami ~ Minggu lalu saya kembali Jum’atan di Graha CIMB Niaga Jalan Sudirman setelah lama sekali nggak sholat Jum’at di situ. Sehabis meeting dengan salah satu calon investor di lantai 27, saya buru-buru turun ke masjid karena takut terlambat.

Dan bener aja sampai di masjid adzan sudah berkumandang. Karena terlambat saya jadi tidak tau siapa nama Khotibnya saat itu. Sambil mendengarkan khotbah saya melihat Sang Khotib dari layar lebar yg di pasang di luar ruangan utama masjid.

Khotibnya masih muda, tampan, berjenggot namun penampilannya bersih. Dari wajahnya saya melihat aura kecerdasan, tutur katanya lembut namun tegas. Dari penampilannya yang menarik tersebut, saya jadi penasaran, apa kira-kira isi khotbahnya.

Ternyata betul dugaan saya!
Isi ceramah dan cara menyampaikannya membuat jamaah larut dalam keharuan. Banyak yang mengucurkan air mata (termasuk saya), bahkan ada yang sampai tersedu sedan.

Weleh-weleh, sampai segitunya ya. Lalu apa sih isi ceramahnya? Dengan gaya yang menarik Sang Khotib menceritakan “true story”.

Seorang anak berumur 10 th namanya Umar. Dia anak pengusaha sukses yang kaya raya. Oleh ayahnya si Umar di sekolahkan di SD Internasional paling bergengsi di Jakarta. Tentu bisa ditebak, bayarannya sangat mahal. Tapi bagi si pengusaha, tentu bukan masalah, wong uangnya berlimpah.

Si ayah berfikir kalau anaknya harus mendapat bekal pendidikan terbaik di semua jenjang, agar anaknya kelak menjadi orang yang sukses mengikuti jejaknya.

Suatu hari isterinya kasih tau kalau Sabtu depan si ayah diundang menghadiri acara “Father’s Day” di sekolah Umar.

“Waduuuh saya sibuk ma, kamu aja deh yang datang.” begitu ucap si ayah kepada isterinya.

Bagi dia acara beginian sangat nggak penting, dibanding urusan bisnis besarnya. Tapi kali ini isterinya marah dan mengancam, sebab sudah kesekian kalinya si ayah nggak pernah mau datang ke acara anaknya. Dia malu karena anaknya selalu didampingi ibunya, sedang anak-anak yang lain selalu didampingi ayahnya.

Nah karena diancam isterinya, akhirnya si ayah mau hadir meski agak ogah-ogahan. Father’s day adalah acara yg dikemas khusus dimana anak-anak saling unjuk kemampuan di depan ayah-ayahnya.

Karena ayah si Umar ogah-ogahan, maka dia memilih duduk di paling belakang, sementara para ayah yang lain (terutama yang muda-muda) berebut duduk di depan agar bisa menyemangati anak-anaknya yang akan tampil di panggung.

Satu persatu anak-anak menampilkan bakat dan kebolehannya masing-masing. Ada yang menyanyi, menari, membaca puisi, pantomim. Ada pula yang pamerkan lukisannya, dll. Semua mendapat applause yang gegap gempita dari ayah-ayah mereka.

Tibalah giliran si Umar dipanggil gurunya untuk menampilkan kebolehannya..
“Miss, bolehkah saya panggil pak Arief.” tanya si Umar kepada gurunya. Pak Arief adalah guru mengaji untuk kegiatan ekstra kurikuler di sekolah itu.

”Oh boleh..” begitu jawab gurunya.
Dan pak Ariefpun dipanggil ke panggung.“Pak Arief, bolehkah bapak membuka Kitab Suci Al Qur’an Surat 78 (An-Naba’)” begitu Umar minta kepada guru ngajinya.

”Tentu saja boleh nak..” jawab pak Arief.
“Tolong bapak perhatikan apakah bacaan saya ada yang salah.”

Lalu si Umar mulai melantunkan QS An-Naba’ tanpa membaca mushafnya (hapalan) dengan lantunan irama yang persis seperti bacaan “Syaikh Sudais” (Imam Besar Masjidil Haram).

Semua hadirin diam terpaku mendengarkan bacaan si Umar yang mendayu-dayu, termasuk ayah si Umar yang duduk dibelakang.

”Stop, kamu telah selesai membaca ayat 1 s/d 5 dengan sempurna. Sekarang coba kamu baca ayat 9..” begitu kata pak Arief yg tiba-tiba memotong bacaan Umar.

Lalu Umarpun membaca ayat 9.
”Stop, coba sekarang baca ayat 21..lalu ayat 33..” setelah usai Umar membacanya…lalu kata pak Arief, "Sekarang kamu baca ayat 40 (ayat terakhir)”.

Si Umarpun membaca ayat ke 40 tersebut sampai selesai."
“Subhanallah…kamu hafal Surat An-Naba’ dengan sempurna nak,” begitu teriak pak Arief sambil mengucurkan air matanya.

Para hadirin yang muslimpun tak kuasa menahan airmatanya. Lalu pak Arief bertanya kepada Umar, ”Kenapa kamu memilih menghafal Al-Qur’an dan membacakannya di acara ini nak, sementara teman-temanmu unjuk kebolehan yang lain?” begitu tanya pak Arief penasaran.

Begini pak guru, waktu saya malas mengaji dalam mengikuti pelajaran bapak, Bapak menegur saya sambil menyampaikan sabda Rasulullah SAW, ”Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab, "Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.” (H.R. Al-Hakim).

“Pak guru, saya ingin mempersembahkan “Jubah Kemuliaan” kepada ibu dan ayah saya di hadapan Allah di akherat kelak, sebagai seorang anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya..”

Semua orang terkesiap dan tidak bisa membendung air matanya mendengar ucapan anak berumur 10 th tersebut…

Ditengah suasana hening tersebut..tiba-tiba terdengan teriakan “Allahu Akbar!” dari seseorang yang lari dari belakang menuju ke panggung.

Ternyata dia ayah si Umar, yang dengan ter-gopoh-gopoh langsung menubruk sang anak, bersimpuh sambil memeluk kaki anaknya.

”Ampuun nak.. maafkan ayah yang selama ini tidak pernah memperhatikanmu, tidak pernah mendidikmu dengan ilmu agama, apalagi mengajarimu mengaji.” ucap sang ayah sambil menangis di kaki anaknya.

”Ayah menginginkan agar kamu sukses di dunia nak, ternyata kamu malah memikirkan “kemuliaan ayah” di akherat kelak. Ayah maluuu nak" ujar sang ayah sambil nangis ter-sedu-sedu.

Subhanallah... Sampai di sini, saya melihat di layar Sang Khotib mengusap air matanya yang mulai jatuh. Semua jama’ahpun terpana, dan juga mulai meneteskan airmatanya, termasuk saya.

Diantara jama’ahpun bahkan ada yang tidak bisa menyembunyikan suara isak tangisnya, luar biasa haru. Entah apa yang ada dibenak jama’ah yang menangis itu. Mungkin ada yang merasa berdosa karena menelantarkan anaknya, mungkin merasa bersalah karena lalai mengajarkan agama kepada anaknya, mungkin menyesal karena tidak mengajari anaknya mengaji, atau merasa berdosa karena malas membaca Al-Qur’an yang hanya tergeletak di rak bukunya.

Dan semua, dengan alasan sibuk urusan dunia. Saya sendiri menangis karena merasa lalai dengan urusan akherat, dan lebih sibuk dengan urusan dunia, padahal saya tau kalau kehidupan akherat jauh lebih baik dan kekal dari pada kehidupan dunia yang remeh temeh, senda gurau dan sangat singkat ini, seperti firman Allah SWT dalam Q.S. Al-An'Am ayat 32:

”Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?

Astagfirullah... Innallaaha ghofururrohim, hamba mohon ampunan kepada Allah yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Wallahu ‘alam bishshawab.


Resource Berita : dutaislam.com
Rahasia Sukses Haji Agus Salim saat Anak-anak

Rahasia Sukses Haji Agus Salim saat Anak-anak



WartaIslami ~ Haji Agus Salim merupakan salah satu tokoh utama dalam sejarah kemerdekaan Republik Indonesia. Beliau terlahir pada 8 Oktober 1884 dari seorang ayah bernama Sutan Muhammad Salim dan seorang Ibu bernama Zainab. Sosok yang bernama asli Masyhudul Haq ini merupakan anak keempat dari lima belas bersaudara.

Sejak kecil, beliau memang gila belajar. Sifat ini pulalah yang berhasil mengantarkannya menjuarai sekolah ELS (setingkat Sekolah Dasar) se Kota Gadang dan menjadikannya layak mendapatkan beasiswa melanjutkan ke sekolah setingkat SMA di Batavia kala itu.

Tentunya, ada kebiasaan-kebiasaan positif yang senantiasa beliau lakukan sejak kecil hingga mengantarkannya menjadi tokoh nasional yang mendunia. Berikut kami rangkumkan beberapa di antara kebiasaan tersebut sebagaimana dituturkan oleh Haidar Musyafa dalam Cahaya dari Koto Gadang, sebuah novel biografi sosok pemimpin negeri yang menguasai sembilan bahasa asing ini.

Mengulang Pelajaran

Hal ini dilakukan pada siang hari sepulang sekolah. Setelah mengulang pelajaran, Agus Salim kecil juga belajar untuk pelajaran esok hari. Saking getolnya mengulang pejaran, beliau pun menggunakan plavon rumahnya yang gelap sebagai tempat belajar yang mengasyikkan.

Lantaran kebiasaan ini, beliau berhasil menjadi juara umum di sekolah Belanda se-kota Gadang. Dan menjadi idaman para guru-guru di sekolah itu. Padahal, beliau hanya satu dari beberapa anak pribumi yang berhasil bergabung dengan banyak anak-anak Belanda di sekolah itu.

Tak Lalai dengan Tugas Rumah

Sejak kecil, Ibu Zainab sudah memberikan amanah pekerjaan rumah kepada anaknya ini. Padahal di rumah sang Ayah ada pembantu rumah tangga, si Emak, yang asal Jawa dan sudah dianggap keluarga sendiri.

Hikmahnya, Ibu Zainab menginginkan agar anaknya menjadi pribadi yang bertanggungjawab dan kelak berguna bagi kehidupan dewasanya, khususnya setelah menjadi seorang suami. Meski sempat menolak, Agus Salim kecil berhasil menjalankan amanah ini dengan tidak melupakan jadwal belajarnya. Beliau ditugasi membersihkan halaman dan menyirami tanaman (bunga).

Tidak Asyik Bermain

Sebagaimana anak kecil lainnya, beliau pernah alami proses asyik bermain. Tetapi, keasyikan bermain menyita sebagian besar waktunya. Karenanya, nilai sekolahnya pun turun drastis. Hingga, Ayah dan Ibunya marah. Pun dengan guru-guru yang menyayangi beliau karena kecerdasannya. Sejak penurunan nilai itulah, beliau ‘bertaubat’ dari asyik bermain dan kembali mengencangkan ikat pinggang untuk getol belajar.


Resource Berita : kisahikmah.com
Pemimpin Dunia yang Tetap Mencium Kaki Ibunya

Pemimpin Dunia yang Tetap Mencium Kaki Ibunya



WartaIslami ~ Di negeri ini, ada hikayat Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu lantaran durhaka kepada orang tuanya, ibu. Merantau sebagai sosok miskin papa, berupaya keras mengubah takdir, hingga menikah dengan wanita kaya dan usahanya berhasil menjadi kaya. Malangnya, memiliki harta dunia justru membuat dirinya miskin nurani. Tak akui ibunya, hingga terkutuk menjadi batu.

Sudah menjadi sunnatullah, berbakti kepada kedua orang tua adalah kunci kesuksesan hidup di dunia dan kebahagiaan abadi di surga-Nya. Hal ini pula yang menjadi inspirasi amat berharga bagi banyak tokoh di dunia.

Satu di antaranya adalah sosok sederhana yang kini menjadi salah satu pemimpin terbaik di zaman ini. Pemimpin negeri kaum Muslimin yang berani menyampaikan kritik kepada pemimpin Yahudi karena ulahnya membunuhi anak-anak dan orang tak berdosa di bumi Gaza, Palestina.

Mulanya, beliau adalah seorang tukang adzan di sebuah masjid di ibu kota negaranya, Istanbul Turki. Bagi sebagian kita, barangkali tukang adzan bukanlah predikat yang membanggakan. Padahal, amat banyak pahala yang disediakan oleh Allah Ta’ala bagi sosok yang mengingatkan kaum Muslimin bahwa waktu shalat telah tiba.

Sosok ini juga sempat bercita-cita menjadi pemain sepak bola profesional pada salah satu klub ternama di negerinya. Karenanya, dalam sebuah pertandingan persahabatan yang tersebar di banyak media sosial, beliau terlihat piawai dalam mengolah si kulit bundar. Bahkan, sosok dengan senyum inspiratif ini mencetak tiga gol cantik nan spektakuler dalam laga tersebut untuk membawa timnya menuju kemenangan.

Ketika beliau mengunjungi Madinah dan bertemu dengan nenek-nenek asal negerinya, beliau tak sungkan untuk menyalami si wanita layaknya hormatnya kepada ibunya. Tulus. Tak ada sedikit pun kesan dibuat-buat apalagi pencitraan yang memuakkan.

Rupanya, beliau memang sangat hormat kepada orang tuanya. Dan, salah satu kejadian di hari raya Idul Fithri menjadi bukti betapa beliau adalah sosok yang berusaha mengamalkan ajaran al-Qur’an dan Sunnah terkait birrul walidain.

Sebagaimana biasa, beliau mengunjungi orang tuanya. Seketika setelah sampai, sosok yang terdepan dalam membantu pengungsi Suriah ini langsung mencium kaki ibunya. Hening. Syahdu. Penuh hormat.

Dalam jenak, sang ibu berkata, “Nak, kamu itu sudah jadi Presiden. Tak perlu lagi mencium kaki ibumu.”

Lalu, sosok yang dua kali menjabat Perdana Menteri Turki dan kini menjadi orang nomor satu di negeri itu berkata dengan amat lembut, “Bu, sejak kapan seorang Presiden tidak boleh masuk surga?”

Semoga Allah Ta’ala melindungi Anda hingga akhir hayat, Recep Tayyip Erdogan.


Resource Berita : kisahikmah.com
Dosa Jariyah??

Dosa Jariyah??



WartaIslami ~ Dosa jariyah adalah dosa yang terus mengalir pada diri seseorang sekalipun orang itu telah meninggal dunia. Dosa yang akan tetap ditimpakan kepada orang tersebut, sekalipun dia tidak lagi mengerjakan perbuatan maksiat itu.

Dosa jariyah ada dalam ajaran Islam. Hal ini dapat kita pahami dari hadis Nabi Muhammad SAW. Rasul bersabda, "Tidaklah setiap jiwa yang terbunuh secara zalim, kecuali putra Adam yang pertama (Qabil) mendapatkan bagian dari dosa penumpahan darah, karena dialah orang pertama yang melakukan pembunuhan." (Muttafaqun alaih).

Dalam hadis lain, "Barang siapa yang memprakarasai suatu keburukan dalam Islam maka ia mendapatkan dosa keburukan itu sendiri sekaligus dosa orang yang meniru perbuatannya itu, tanpa berkurang sedikit pun dosa-dosa mereka." (HR Muslim).

Dalam hadis lain, "Dan barang siapa yang mengajak kepada kesesatan, maka ia mendapat dosa seperti dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun." (HR Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Dari hadis-hadis di atas, dapat kita pahami bahwa seseorang mendapatkan dosa jariyah disebabkan; Pertama, menjadi pelopor atau inisiator suatu dosa. Dia merupakan orang yang pertama kali membuat suatu dosa atau memberikan inisiatif pada orang lain untuk melakukan suatu perbuatan dosa, walaupun ia tidak mengajak orang lain untuk berbuat dosa, akan tetapi apa yang dilakukannya menjadi sebab orang lain melakukan suatu perbuatan dosa. Tegasnya, perbuatan dosa yang dilakukannya menjadi panutan atau menginspirasi orang lain untuk mengikuti perbuatan dosa yang dilakukannya. Kedua, mengajak orang lain untuk melakukan dosa yang dilakukannya. Artinya, orang lain melakukan dosa karena ajakan atau pernah diajak olehnya untuk melakukan suatu perbuatan dosa.

Ketiga, menyediakan sarana bagi orang lain untuk melakukan suatu dosa atau membuat kebijakan dengan mengizinkan suatu tempat dipergunakan untuk melakukan kemaksiatan (lokalisasi). Tegasnya, tidaklah orang lain melakukan suatu perbuatan dosa di suatu tempat dikarenakan disediakan atau diizinkan untuk melakukan suatu perbuatan dosa di tempat tersebut. Demikianlah yang dimaksud dengan dosa jariyah.

Suatu dosa yang aka terus mengalirkan dosa terhadap seseorang, walaupun dia tidak lagi mengerjakannya ataupun dirinya sudah meninggal dunia. Selama orang lain melakukan suatu perbuatan dosa maka selama itu pula dosa-dosanya akan ikut mengalir kepada orang yang pernah memeloporinya, mengajaknya dan menyediakan tempat atau mengizinkan suatu tempat untuk melakukan suatu dosa.

Untuk itu, mari kita berupaya agar diri kita terhindar dari perbuatan dosa yang membuat orang lain mengikuti perbuatan dosa yang pernah kita lakukan karena hal ini akan merugikan dan mencelakakan diri kita baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Terakhir, mari kita renungi perkataan Imam al- Ghazali, dalam kitab Ihya' Ulumuddin sebagai bahan renungan bagi kita agar diri kita berupaya untuk tidak terjerumus pada dosa jariyah. Al-Ghazali menyatakan, "Sungguh beruntung orang yang meninggal dunia maka putuslah dosa-dosanya. Dan sungguh celaka seseorang yang meninggal dunia, tetapi dia meninggalkan dosa yang ganjaran kejahatan terus berjalan tiada hentinya." Alangkah bahagianya mereka yang memiliki amal jariyah dan alangkah sengsaranya seseorang yang menanam dosa jariyah. Wallahu a'lam.


Resource Berita : republika.co.id
Ini Semua Gara-gara Nabi Adam, ya Gus!

Ini Semua Gara-gara Nabi Adam, ya Gus!



WartaIslami ~  Al kisah, pada suatu hari ada seorang santri yang sedang berdialog dengan Gus Dur.

Persoalannya menjadi rumit tapi asyik dan penuh hikmah, karena yang dibahas adalah Nabi Adam dan Iblis. Berikut kisahnya:

Santri : "Ini semua gara-gara Nabi Adam, ya Gus!"

Gus Dur : "Loh, kok tiba-tiba menyalahkan Nabi Adam, kenapa Kang."

Santri : "Lah iya, Gus. Gara-gara Nabi Adam dulu makan buah terlarang, kita sekarang merana. Kalau Nabi Adam dulu enggak tergoda Iblis kan kita anak cucunya ini tetap di surga. Enggak kayak sekarang, sudah tinggal di bumi, eh ditakdirkan hidup di Negara terkorup, sudah begitu jadi orang miskin pula. Emang seenak apa sih rasanya buah itu, Gus?"

Gus Dur : "Ya tidak tahulah, saya kan juga belum pernah nyicip. Tapi ini sih bukan soal rasa. Ini soal khasiatnya."

Santri : "Kayak obat kuat aja pake khasiat segala. Emang Iblis bilang khasiatnya apa sih, Gus? Kok Nabi Adam bisa sampai tergoda?"

Gus Dur : "Iblis bilang, kalau makan buah itu katanya bisa menjadikan Nabi Adam abadi."

Santri : "Anti-aging gitu, Gus?"

Gus Dur : "Iya. Pokoknya kekal."

Santri : "Terus Nabi Adam percaya, Gus? Sayang, iblis kok dipercaya."

Gus Dur : "Lho, Iblis itu kan seniornya Nabi Adam."

Santri : "Maksudnya senior apa, Gus?"

Gusdur : "Iblis kan lebih dulu tinggal di surga dari pada Nabi Adam dan Siti Hawa."

Santri : "Iblis tinggal di surga? Masak sih, Gus?"

Gus Dur : "Iblis itu dulunya juga penghuni surga, terus di usir, lantas untuk menggoda Nabi Adam, iblis menyelundup naik ke surga lagi dengan berserupa ular dan mengelabui merak sang burung surga, jadi iblis bisa membisik dan menggoda Nabi Adam."

Santri : "Oh iya, ya. Tapi, walau pun Iblis yang bisikin, tetap saja Nabi Adam yang salah. Gara–garanya, aku jadi miskin kayak gini."

Gus Dur : "Kamu salah lagi, Kang. Manusia itu tidak diciptakan untuk menjadi penduduk surga. Baca surat Al-Baqarah : 30. Sejak awal sebelum Nabi Adam lahir… eh, sebelum Nabi Adam diciptakan, Tuhan sudah berfirman ke para malaikat kalo Dia mau menciptakan manusia yang menjadi khalifah (wakil Tuhan) di bumi."

Santri : "Lah, tapi kan Nabi Adam dan Siti Hawa tinggal di surga?"

Gus Dur : "Iya, sempat, tapi itu cuma transit. Makan buah terlarang atau tidak, cepat atau lambat, Nabi Adam pasti juga akan diturunkan ke bumi untuk menjalankan tugas dari-Nya, yaitu memakmurkan bumi. Di surga itu masa persiapan, penggemblengan. Di sana Tuhan mengajari Nabi Adam bahasa, kasih tahu semua nama benda. (lihat Al- Baqarah : 31).

Santri : "Jadi di surga itu cuma sekolah gitu, Gus?"

Gus Dur : "Kurang lebihnya seperti itu. Waktu di surga, Nabi Adam justru belum jadi khalifah. Jadi khalifah itu baru setelah beliau turun ke bumi."

Santri : "Aneh."

Gus Dur : "Kok aneh? Apanya yang aneh?"

Santri : "Ya aneh, menyandang tugas wakil Tuhan kok setelah Nabi Adam gagal, setelah tidak lulus ujian, termakan godaan Iblis? Pendosa kok jadi wakil Tuhan."

Gus Dur : "Lho, justru itu intinya. Kemuliaan manusia itu tidak diukur dari apakah dia bersih dari kesalahan atau tidak. Yang penting itu bukan melakukan kesalahan atau tidak melakukannya. Tapi bagaimana bereaksi terhadap kesalahan yang kita lakukan. Manusia itu pasti pernah keliru dan salah, Tuhan tahu itu. Tapi meski demikian nyatanya Allah memilih Nabi Adam, bukan malaikat."

Santri : "Jadi, tidak apa-apa kita bikin kesalahan, gitu ya, Gus?"

Gus Dur : "Ya tidak seperti itu juga. Kita tidak bisa minta orang untuk tidak melakukan kesalahan. Kita cuma bisa minta mereka untuk berusaha tidak melakukan kesalahan. Namanya usaha, kadang berhasil, kadang enggak."

Santri : "Lalu Nabi Adam berhasil atau tidak, Gus?"

Gus Dur : "Dua-duanya."

Santri : "Kok dua-duanya?"

Gus Dur : "Nabi Adam dan Siti Hawa melanggar aturan, itu artinya gagal. Tapi mereka berdua kemudian menyesal dan minta ampun. Penyesalan dan mau mengakui kesalahan, serta menerima konsekuensinya (dilempar dari surga), adalah keberhasilan."

Santri : "Ya kalo cuma gitu semua orang bisa. Sesal kemudian tidak berguna, Gus."

Gus Dur : "Siapa bilang? Tentu saja berguna dong. Karena menyesal, Nabi Adam dan Siti Hawa dapat pertobatan dari Tuhan dan dijadikan khalifah (lihat Al-Baqarah: 37). Bandingkan dengan Iblis, meski sama-sama diusir dari surga, tapi karena tidak tobat, dia terkutuk sampe hari kiamat."

Santri : "Ooh…"

Gus Dur : "Jadi intinya begitulah. Melakukan kesalahan itu manusiawi. Yang tidak manusiawi, ya yang iblisi itu kalau sudah salah tapi tidak mau mengakui kesalahannya justru malah merasa bener sendiri, sehingga menjadi sombong."

Santri : "Jadi kesalahan terbesar Iblis itu apa, Gus? Tidak mengakui Tuhan?"

Gus Dur : "Iblis bukan atheis, dia justru monotheis. Percaya Tuhan yang satu."

Santri : "Masa sih, Gus?"

Gus Dur : "Lho, kan dia pernah ketemu Tuhan, pernah dialog segala kok."

Santri : "Terus, kesalahan terbesar dia apa?"

Gus Dur : "Sombong, menyepelekan orang lain dan memonopoli kebenaran."

Santri : "Wah, persis cucunya Nabi Adam juga tuh."

Gus Dur : "Siapa? Ente?"

Santri : "Bukan. Cucu Nabi Adam yang lain, Gus. Mereka mengaku yang paling bener, paling sunnah, paling ahli surga. Kalo ada orang lain berbeda pendapat akan mereka serang. Mereka tuduh kafir, ahli bid'ah, ahli neraka. Orang lain disepelekan. Mereka mau orang lain menghormati mereka, tapi mereka tidak mau menghormati orang lain. Kalau sudah marah nih, Gus. Orang-orang ditonjokin, barang-barang orang lain dirusak, mencuri kitab kitab para ulama. Setelah itu mereka bilang kalau mereka pejuang kebenaran. Bahkan ada yang sampe ngebom segala loh."

Gus Dur : "Wah, persis Iblis tuh."

Santri : "Tapi mereka siap mati, Gus. Karena kalo mereka mati nanti masuk surga katanya."

Gus Dur : "Siap mati, tapi tidak siap hidup."

Santri : "Bedanya apa, Gus?"

Gus Dur : "Orang yang tidak siap hidup itu berarti tidak siap menjalankan agama."

Santri : "Lho, kok begitu?"

Gus Dur : "Nabi Adam dikasih agama oleh Tuhan kan waktu diturunkan ke bumi (lihat Al- Baqarah: 37). Bukan waktu di surga."

Santri : "Jadi, artinya, agama itu untuk bekal hidup, bukan bekal mati?"

Gus Dur : "Pinter kamu, Kang!"

Santri : "Santrinya siapa dulu dong? Gus Dur."


Resource Berita : dutaislam.com
Menutup Pertemuan dengan Shalawat, Bagaimana sih Hukumnya?

Menutup Pertemuan dengan Shalawat, Bagaimana sih Hukumnya?



WartaIslami ~ Sudah menjadi tradisi di masyarakat hampir setiap kali pertemuan ditutup dengan pembacaan shalawat. Shalawat seakan menjadi aba-aba perpisahan dan rasanya tidak lengkap jika tidak dilakukan.

Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw memang dianjurkan Allah kepada umat islam. Setidaknya 17 kali dalam sehari semalam karena shalawat menjadi salah satu rukun shalat dalam lima waktu. Di luar shalat pun kita dianjurkan membaca shalawat dimana pun dan kapan pun.

Bagaimana dengan tradisi membaca shalawat usai pertemuan?

Imam Sakhawi dalam kitabnya al-Qawl al-Badi’ fi al-Shalah ‘Ala al-Habib al-Syafi’menuliskan satu bab mengenai membaca shalawat setelah pertemuan. Beliau mengataan:

واما الصلاة عليه عند تفرّق القوم بعد اجتماعهم ففيه حديث ما جلس قوم مجلسا ثم تفرّقوا عن غير ذكر الله, الحديث. (القول البديع في الصلاة على الحبيب الشفيع, 242)

“Adapun (mengenai persoalan) membaca shalawat ketika akan bubar dari suatu pertemuan, maka ada hadits “ma jalasa qaumun” dan seterusnya”. (al-Qawl al-Badi’ fi al-Shalah ‘Ala al-Habib al-Syafi’, 242)

Kelanjutan hadits tersebut disampaikan dalam kitab Sunan al-Tirmidzi. Rasulullah bersabda:

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلّم قال ما جلس قوم مجلسا لم يذكرو الله فيه ولم يصلّوا علي نبيّهم الاّ كان عليهم ترة فان شأ عذّبهم وان شاء غفرلهم. (سنن الترمذي, رقم 3302)

“Dari Abi Hurairah RA dari Nabi SAW, beliau bersapda, ‘Tidak ada suatu kaum yang berkumpul dalam satu pertemuan kemudian mereka berpisah, tapi mereka tidak berdzikir kepada Allah SWT dan tidak membaca shalawat kepada Nabi Muhamad SAW kecualai mereka akan ditimpa penyesalan (kesedihan) pada hari kiamat kelak. Apabila Allah SWT berkehendak maka akan menyiksa mereka. Dan jika Allah SWT berkenan, maka akan memberikan ampunan kepada mereka’. (Sunan al-Tirmidzi 3302).

Dari hadits ini menunjukkan bahwa membaca shalawat seusai pertemuan memang dianjurkan Rasulullah. Membaca shalawat ketika mau berpisah dalam satu pertemuan bukan hanya  boleh, bahkan Sunnha dilakukan.


Resource Berita : dutaislam.com
Kisah Nabi Idris Naik Ke Langit

Kisah Nabi Idris Naik Ke Langit



WartaIslami ~ Nabi Idris ‘alaihissalam adalah seorang nabi yang Allah puji akan sifat pembenaran yang sempurna, mempunyai ilmu yang sempurna, keyakinan yang kokoh, dan banyaknya amal shaleh. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengangkat namanya ke seluruh penjuru alam, serta Allah angkat kedudukannya di antara makhluk yang dekat dengan-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikianlah komentar Syaikh As-Sa’di dalam menafsirkan Surat Maryam: 56-57.

Dalam Alquran dan sunah tidaklah terlalu panjang lebar cerita akan Nabi Idris ‘alaihissalam. Dalam Alquran hanya tiga ayat yang menyebut langsung tentangnya. Di antaranya,

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِدْرِيسَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَّبِيًّا {56} وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا {57}

“Dan ingatlah apa di dalam al-Kitab tentang Nabi Idris. Dia adalah seorang sangat pembenar, lagi seorang Nabi.” (QS. Maryam: 56-57)

Mujahid menjelaskan tentang ayat tersebut bahwa Nabi Idris ‘alaihissalam diangkat ke langit dalam keadaan tidak mati seperti Nabi Isa ‘alaihissalam (Tafsir Ath-Thabari, 72:16 dengan sanad yang shahih). Ada riwayat lain yang menjelaskan bahwa dia diangkat malaikat ke langit, kemudian datanglah malaikat maut mencabut nyawanya di sana, wallahu a’lam.

Nabi Idris ‘alaihissalam bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di langit yang keempat saat peristiwa mi’raj. Hal ini menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menempatkan kedudukannya pada derajat yang tinggi di antara para nabi lainnya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat yang lain,

وَإِسْمَاعِيلَ وَإِدْرِيسَ وَذَا الْكِفْلِ كَلٌّ مِّنَ الصَّابِرِينَ

“Dan Nabi Ismail, Nabi Idris, Nabi Dzulkifli, mereka termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anbiya: 85)

Demikian juga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan dalam hadis sesuatu yang mengisyaratkan tentang sifat Nabi Idris ‘alaihissalam. Beliau bersabda:

“Adalah seorang nabi dari para nabi yang menggaris nasib, maka barang siapa yang mampu melakukannya (dengan bekal ilmu yang pasti dan mencocoki), maka hal itu boleh baginya.” (HR. Muslim)

Sebagian ahli ilmu mengatakan bahwa nabi yang dimaksud (dalam hadis di atas) adalah Nabi Idris ‘alaihissalam. Imam Nawawi menjelaskan tentang hadis ini, “Maksud yang sesungguhnya menggaris nasib itu hukumnya haram, dikarenakan hal itu tidaklah dilakukan kecuali dengan syarat harus dengan ilmu yang pasti dan mencocoki, dan tidak ada bagi kita. Adapun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyebutkan hukumnya, supaya tidak salah tafsir bahwa apa yang dilakukan nabi tersebut haram, karena memang nabi tersebut punya ilmunya sehingga boleh melakukannya. Adapun kita tidak punya ilmu tentangnya.” (Syarh Muslim, 5:21)

KAPAN MASA HIDUP NABI IDRIS ‘ALAIHISSALAM?

Terjadi perbedaan yang mendasar tentang riwayat Nabi Idris ‘alaihissalam, apakah dia seorang nabi yang hidup sebelum Nabi Nuh ‘alaihissalam ataukah sesudahnya? Ahli sejarah seperti Ibnu Katsir, Ath-Thabari, Ibnu Ishaq, Ibnu Jarir, Asy-Syaukani, As-Suyuthi, dan lainnya menjelaskan bahwa Nabi Idris ‘alaihissalam hidup sebelum Nabi Nuh ‘alaihissalam. Alasan mereka:

1. Ditinjau dari nasab bahwa Nabi Idris itu nama aslinya adalah Khonukh yang termasuk nenek moyang nabi Nuh ‘alaihissalam.

2. Tafsir ayat:

أُوْلَئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ مِن ذُرِّيَّةِ ءَادَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِن ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَاءِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ ءَايَاتُ الرَّحْمَـنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا

“Mereka itulah adalah orang-orang yang Allah telah beri nikmat, yaitu kalangan para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang yang Kami angkat bersama Nuh dari keturunan Ibrohim dan Israil, dan dari orang-orang yang Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyangka dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam: 58)

Makna (من ذرية آدم) adalah nabi Idris ‘alaihissalam. Sebab dalam ayat itu diurutkan tentang silsilah keturunannya. Dan Nabi Idris ‘alaihissalam termasuk keturunan Nabi Adam ‘alaihissalam yang tidak bersama Nabi Nuh ‘alaihissalam dalam perahu. Berarti Nabi Idris ‘alaihissalam urutannya sebelum Nabi Nuh ‘alaihissalam.

3. Imam an-Nawawi berkata, “Perkataan Nabi Idris (مرحبا بالنبي الصالح والأخ الصالح) ) tidak menghalangi bahwa keberadaan Nabi Idris ‘alaihissalam sebagai bapak nabi kita yakni Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebab perkataan ‘saudara yang shaleh’ mengandung pengertian bahwa itu sebagai bahasa lembut dan beradab, di mana memakai lafaz saudara sekalipun ia anak laki-lakinya karena para nabi semuanya bersaudara, demikian juga orang-orang mukmin semuanya bersaudara.” (Syarh Muslim, 2:220).

Adapun ulama yang lain, seperti Al-Qurthubi, Muhammad bin Abdul Wahab, Ibnu Utsaimin, dan lainnya menyatakan bahwa Nabi Idris ‘alaihissalam itu hidup sesudah Nabi Nuh ‘alaihissalam. Mereka beralasan:

1. Perkataan manusia kepada Nabi Nuh ‘alaihissalam di saat meminta syafa’at:

“Wahai Nuh…! Engkau adalah rasul pertama yang Allah utus untuk penduduk bumi.”

Di sini telah jelas bahwa tidak ada rasul sebelum Nabi Nuh. Jadi kalau Nabi Idris termasuk rasul maka tidak mungkin dia hidup sebelum Nabi Nuh.

2. Tafsir QS. An-Nisa: 163. Di sini para nabi diurutkan sesudah Nabi Nuh ‘alaihissalam, termasuk di antaranya Nabi Idris ‘alaihissalam, berarti masanya setelah Nabi Nuh ‘alaihissalam.

3. Ucapan Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya bahwa Nabi Idris ‘alaihissalam adalah Nabi Ilyas ‘alaihissalam. Dan telah jelas diketahui bahwa Nabi Ilyas ‘alaihissalam hidupnya setelah Nabi Nuh.

4. Perkataan Nabi Idris ‘alaihissalam sendiri ketika bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di langit keempat (dalam peristiwa mi’raj) (مرحبا بالنبي الصالح والأخ الصالح) (“Selamat datang wahai Nabi yang shaleh dan saudara yang shaleh!”). kalau Nabi Idris ‘alaihissalam hidup sebelum Nabi Nuh ‘alaihissalam. Tentu ia akan mengatakan: (مرحبا بالنبي الصالح والأخ الصالح) (“Selamat datang wahai Nabi yang shaleh dan anak yang shaleh!”) sebagaimana ucapan Nabi Adam dan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Ada lagi pendapat yang tidak memihak, di antaranya adalah:

1. Ibnu Hajar berkata, “Pengertian bahwa Nabi Nuh sebagai rasul yang pertama itu berkaitan dengan penduduk bumi. Sebab di zaman Nabi Adam tidak ada penghuni di bumi ini melainkan keluarganya saja, jadi kerasulan Nabi Adam ibarat pendidikan untuk anak-anaknya. Juga mengandung pengertian bahwa kerasulan Nabi Nuh itu untuk anak-anaknya dan selainnya yang sudah menyebar di beberapa daerah. Adapun Nabi Adam, kerasulannya hanya terbatas pada anaknya dan mereka dalam satu daerah saja. Adapun tentang Nabi Idris terjadi masalah, karena keberadaannya sebelum atau sesudah Nabi Nuh diperselisihkan.” (Fathul Bari, 6:418)

2. Al-Qadhi Iyadh berkata, “Bila Nabi Idris itu adalah Nabi Ilyas dari Bani Israil maka berarti ia hidup sesudah Nabi Nuh, sehingga benarlah bahwa Nabi Nuh adalah seorang nabi dan rasul yang pertama dan Nabi Idris pun juga seorang nabi dan rasul. Adapun Nabi Adam dan anaknya Syits, sekalipun juga seorang rasul, tetapi hanya terbatas pada anak-anaknya dan keluarganya; mengingat saat itu belum ada orang kafir. Keduanya mengajarkan iman dan taat kepada Allah Ta’ala. Lain lagi dengan Nabi Nuh, ia diutus kepada orang-orang kafir yang sudah mulai ada di bumi. Dan inilah barangkali pedanpat yang lebih dekat bahwa Nabi Adam dan Idris ‘alaihissalam keduanya bukanlah seorang rasul melainkan keduanya nabi.” (Syarh Muslim oleh Imam an-Nawawi, 3:55)


Resource Berita : kisahmuslim.com
close
Banner iklan disini