60 Tahun Berdoa Memohon Dikarunia Anak

60 Tahun Berdoa Memohon Dikarunia Anak



WartaIslami ~ Diantara ujian pernikahan yang dialami oleh seseorang adalah belum hadirnya seorang anak sebagai buah cinta pasangan suami istri. Padahal, kehadiran anak-banyak maupun sedikit-merupakan bentuk ujian juga. Hal inilah yang menjelaskan bahwa keseluruhan hidup adalah ujian dengan segala pernak-perniknya.

Oleh karena itu, sebagai seorang hamba, penting bagi kita untuk selalu menyandarkan hidup hanya kepada Allah Swt. Kedekatan kepada-Nya adalah kekuatan yang tiada tanding maupun bandingnya. Ketika dekat dengan-Nya, seberat apa pun ujian akan terasa kecil karena ada Allah Swt Yang Mahabesar.

Ujian terkait belum hadirnya seorang anak tidak hanya dialami oleh seorang manusia biasa, bahkan para Nabi yang merupakan hamba-hamba pilihan Allah Swt juga mengalalami ujian jenis ini. Sebut saja misalnya nabi Zakariya As. Sosok ayah dari ‘Imran yang kelak melahirkan siti Maryam yang disucikan oleh Allah Swt ini mengalami ujian yang amat berat terkait belum hadirnya seorang anak.

Dikisahkan dalam sebuah riwayat, beliau diuji dengan ketiadaan anak sampai usia beliau menginjak 80 tahun. Beliau sendiri memohon kepada Allah Swt agar dikaruniai seorang anak sejak usianya 20 tahun. Dalam kurun waktu 60 tahun inilah, beliau senantiasa berdoa kepada Allah Swt dengan takut dan harap sepenuh hati.

Tentu, masa 60 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Apalagi beliau seorang Nabi dan Rasul, hamba pilihan yang dimuliakan oleh Allah Swt. Tentu, beliau adalah sosok yang dosanya diampuni. Munajat dan kedekatannya kepada Allah Swt tidak pula diragukan.

Dari kisah ini, ada pelajaran amat berharga. Bahwa hadir atau tidaknya seorang anak dalam sebuah pernikahan, tidak selalu berhubungan dengan dosa pasangan suami istri. Di balik itu semua, ada ujian dan hikmah yang tengah Allah Swt siapkan. Dia berkehendak menguji hamba-hamba-Nya itu.

Meski demikian, penting bagi pasangan suami istri untuk terus memperbaiki diri guna meminimalisir dosa. Sebab ia merupakan pangkal kemalangan hidup seseorang. Dosa yang membuat seseorang susah di dunia dan sengsara di akhirat. Dengan keshalihan pula, semua ujian akan terasa lebih ringan nan bisa diatasi.

Diluar itu semua, belum hadirnya seorang anak bisa jadi berhubungan dengan kelayakan. Bisa jadi, adanya anak membuat sepasang suami istri semakin jauh dari Allah Swt. Makanya, Allah Swt menahannya sehingga belum diberikan. Hal itu pun berlaku sebaliknya.

Maka yang perlu dilakukan adalah terus menerus memperbaiki diri. Sehingga anak bisa menjadi sarana semakin dekatnya sepasang suami istri kepada Tuhannya. Baik adanya maupun kebelum atau ketiadaannya. Karena ketentuan Allah Swt adalah yang terbaik. Mustahil Dia salah dalam memperhitungkan.


Resource Berita : kisahikmah.com
Berkah Doa Nabi Ini, 100.000 Orang Bertaubat

Berkah Doa Nabi Ini, 100.000 Orang Bertaubat



WartaIslami ~ “Setelah kembali ke Nirnawa,” tulis Salim A. Fillah dalam Lapis-Lapis Keberkahan, “seluruh kaumnya justru telah beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Berapakah jumlahnya? Lanjut penulis shalih asal Yogyakarta ini, “Jumlah mereka lebih dari 100.000 orang kiranya.”

Kisahnya dimulai ketika sang Nabi merasa putus asa. Sekian lama berdakwah, semakin banyak yang menolak. Semakin beragam strategi yang digunakan, tak jarang pula lahir pembangkangan dari kaumnya. Alih-alih diterima, sang Nabi hanya ditertawakan, dicemooh, dihina, diumpat, dimaki, dan segala jenis keburukan serta fitnah murahan lainnya.

Maka atas ijtihad pribadinya, sang Nabi pun hijrah. Padahal, seorang Nabi hanya boleh melakukan suatu perbuatan atas perintah Allah Ta’ala. Pasalnya, di dalam ujian pembangkangan dari kaumnya itu, Allah Ta’ala selipkan bagi sang Nabi pelajaran kesabaran sebagimana pendahulu dan penerusnya kelak.

Sebagaimana kita ketahui alur kisahnya, sang Nabi pun menempuh jalur laut dalam upaya ‘kaburnya’ dari medan dakwah. Malang, perahu yang ditumpanginya kepenuhan muatan, cuaca pun membadai. Lalu diundi; siapa pun nama yang muncul, maka ia harus dicemplungkan ke laut. Sebanyak tiga kali, muncullah nama itu. Yunus bin Mata. Ironi sebenarnya. Pasalnya, sang nahkoda kapal pun menyaksikan bahwa Yunus adalah orang baik. Tapi, siapa yang bisa melawan Kehendak Allah Ta’ala?

Ketika dilemparkan ke laut itulah, Allah Ta’ala membawa sang Nabi kepada episode lain. Ditelan ikan Nun. Al-Qur’an menyebutkannya dengan ‘Tiga Kegelapan’. Ialah gelapnya malam, gulitanya laut, dan kelamnya perut ikan. Sebagian ahli tafsir justru mengatakan, Yunus ditelan ikan kecil, dan ada ikan lebih besar yang menelan ikan kecil itu.

Di dalam perut ikan itulah, Yunus menyadari kesalahan dirinya. Hingga meluncur deraslah kalimat pertaubatan yang sekaligus menjadi doa dan pujian kepada Allah Ta’ala. Berulang kali, harap-harap dikabulkan, dan cemas yang mendalam.

Tiada Ilah yang haq selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang yang zhalim. (al-Anbiya’ [21]: 87)

Sebuah doa yang paripurna. Tidak merinci-merinci, mendesak-desak, meminta disegerakan, apalagi dibayangkan layaknya ajaran beberapa oknum akhir-akhir ini. Namun, inilah pinta terbaik yang darinya lahir keberkahan yang amat melimpah.

Doa sang Yunus dikabulkan. Ia pun dikeluarkan dengan cara yang amat memesona; bukan dimuntahkan di laut hingga ia harus berenang, tetapi dimuntahkan dengan perlahan di sebuah daratan, di bawah pohon Yaqthin. Ialah sejenis labu yang sekaligus menaungi Yunus dari panas dan hujan sebelum sadarkan diri.

Ketika mulai sadarkan diri dan naluri manusianya merasa lapar, pohon sejenis labu itulah yang disantapnya sebagai panganan yang dipenuhi gizi.

Masih menurut Salim dalam buku yang sama, “Nabi Yunus pun segar kembali, bersemangat, dan berjanji kepada Allah untuk nanti teguh, istiqamah, dan tak menyerah dalam berdakwah kepada kaumnya; apa pun yang terjadi ke depannya.”

Berkahnya, lantaran doa nan sederhana dengan muatan penyesalan yang mendalam dan pengakuan tulus akan kemahaagungan Allah Ta’ala, sesampainya di Ninawa, tempatnya berdakwah, 100.000 orang lebih telah beriman kepada Allah Ta’ala.


Resource Berita : kisahikmah.com
Benarkah Nabi Isa ‘Alaihis salam Mampu Berjalan di Atas Air? Inilah Penjelasannya

Benarkah Nabi Isa ‘Alaihis salam Mampu Berjalan di Atas Air? Inilah Penjelasannya



WartaIslami ~ Sang sufi besar Imam al-Harits al-Muhasibi mengatakan dalam Risalah al-Mustarsyidin, “Tidak satu pun manusia yang mampu menggapai puncak keyakinan karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, ‘Tidak seorang pun hamba Allah Ta’ala yang mampu mencapai hakikat-Nya.’”

Imam al-Harits al-Muhasibi melanjutkan, “Para sahabat bertanya, ‘Konon, Isa bin Maryam ‘Alaihis salam mampu berjalan di atas air?’ Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam menjawab, ‘Jika keyakinan dan rasa takutnya lebih dari itu, niscaya dia mampu berjalan di udara.’”

Benarkah Nabi Isa ‘Alaihi salam mampu berjalan di atas air? Apa derajat hadits yang menyebutkan, ‘Jika keyakinan dan rasa takutnya (Nabi Isa ‘Alaihis salam) lebih dari itu, niscaya dia mampu berjalan di udara.’?

Menjelaskan perkataan Imam al-Harits ini, Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah membedahnya. Kata beliau, “(Derajat) hadits ini maudhu’ (palsu). Jalur periwayatannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam tidak benar, sebagaimana dijelaskan dalam Ihya’ ‘Ulumuddin.”

Beliau menambahkan, kalimat ini merupakan perkataan Bakr bin Abdillah al-Muzni yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya di dalam kitabnya, al-Yaqin.

Disebutkan dalam al-Yaqin, para Hawari mencari Nabi Isa ‘Alaihi salam. Sebagian penduduk mengatakan bahwa anak Maryam ini menuju ke arah laut. Mereka menyusul, lalu melihat Nabi Isa berjalan di atas air. Nabi yang kelak diutus di akhir zaman ini, tutur Bakr bin Abdillah melanjutkan penuturannya, berkata, “Jika manusia sudah yakin, meski keyakinannya sebesar rambut, niscaya dia mampu berjalan di atas air.”

Dari jalur yang lebih lengkap, Imam Ahmad bin Hanbal menyebutkan dalam kitab az-Zuhd dari Bahz, dari Abu Hilal, dari Bakr bin Abdillah. Disebutkan sekelompok Hawari melihat Nabi Isa ‘Alaihis salam sedang berjalan di atas air. Salah seorang di antara mereka berkata, “Wahai Nabi Allah, bisakah kami berjalan di atas air?”

“Bisa.” jawab Nabi Isa ‘Alaihis salam.

Salah seorang di antara mereka pun melangkahkan satu kaki di air dan diikuti kaki kedua. Seketika itu juga, dia tenggelam.

Kata Nabi Isa ‘Alaihis salam, “Ulurkan tanganmu, hai orang yang imannya kurang. Apabila manusia memiliki keyakinan seberat biji sawi, maka ketika itu pula, dia akan mampu berjalan di atas air.”

Di akhir penjelasannya, Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah mengatakan, “Ini kisah Israiliyat. Tidak perlu dipercaya, tidak pula dianggap bohong. Kita boleh mengisahkannya demi mengambil hikmah dan pelajaran.”

Wallahu a’lam.


Resource Berita : kisahikmah.com
Penjelasan Tentang Berdiri Sebagai Rukun Shalat

Penjelasan Tentang Berdiri Sebagai Rukun Shalat



WartaIslami ~ Di dalam kitab-kitab fikih Syafi’iyah para ulama menyebutkan ada 17 (tujuh belas) hal yang termasuk rukun shalat, baik shalat fardlu maupun shalat sunah. Penyebutan tujuh belas hal ini bila empat tuma’ninah yang ada di dalamnya masing-masing dianggap sebagai rukun tersendiri. Bila keempat tuma’ninah tersebut hanya dianggap sebagai satu rukun maka rukun shalat hanya berjumlah 14 (empat belas) saja.

Di antara rukun-rukun itu salah satunya adalah berdiri. Berdiri adalah satu kewajiban yang harus dilakukan ketika seseorang melaksanakan ibadah shalat. Juga berarti bahwa shalat dikatakan sah apabila dilakukan dengan berdiri.

Hal ini ditetapkan oleh para ulama dengan berdasar kepada sabda Rasulullah SAW ketika sahabat Imran bin Hushain yang terkena sakit wasir bertanya perihal bagaimana shalatnya. Beliau bersabda sebagai berikut.

صَلِّ قَائِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ

Artinya, “Lakukanlah shalat dengan berdiri. Bila kau tak mampu, maka dengan duduk. Bila kau tak mampu juga, maka dengan tidur miring,” (HR Imam Bukhari).

Dari hadits tersebut para ulama mengambil satu simpulan hukum bahwa berdiri adalah satu kewajiban yang mesti dilakukan oleh orang yang melakukan shalat. Kebolehan shalat sambil duduk atau tidur miring berlaku bila orang yang shalat karena alasan tertentu tidak mampu berdiri.

Lalu bagaimana batasan seseorang dianggap berdiri?

Musthafa Al-Khin dalam karyanya Al-Fiqhul Manhajî menuturkan bahwa seseorang dianggap berdiri apabila ia berdiri secara tegak. Bila tanpa sebab tubuhnya membungkuk atau miring di mana sekiranya telapak tangannya dapat menyentuh lutut, maka ia tidak dianggap berdiri sehingga shalatnya batal karena rukun berdiri tidak terpenuhi di dalam sebagian shalatnya. Sedangkan bila orang tersebut mampu berdiri di sebagian shalatnya dan tak mampu berdiri pada sebagian yang lain, maka ia shalat dengan berdiri semampunya dan selebihnya dilakukan dengan duduk (Lihat Musthofa Al-Khin, dan kawan-kawan, Al-Fiqhul Manhajî, Damaskus, Darul Qalam, 1992, juz I, halaman 130).

Lebih lanjut Syekh Nawawi Banten memberikan batasan kondisi yang membolehkan seseorang melakukan shalat fardlu dengan tidak berdiri. Menurutnya, apapun yang menjadikan hilangnya kekhusyukan atau kesempurnaan dalam shalat atau yang menyebabkan terjadinya masyaqqah atau kesusahan yang secara adat-kebiasaan tidak bisa ditanggung, maka hal itu membolehkan seseorang untuk tidak berdiri dalam melakukan shalat fardlu, baik fardlu ‘ain maupun fardlu kifayah.

Lain dari itu para ulama juga menetapkan bahwa kewajiban berdiri ketika shalat hanya berlaku bagi shalat fardlu, bukan shalat sunah. Di dalam shalat sunah seseorang secara mutlak diperbolehkan melakukannya dengan duduk atau tidur miring meskipun tidak ada halangan untuk berdiri. Khusus bagi orang yang shalat sunah dengan posisi tidur miring ketika ruku‘ dan sujud ia wajib melakukan kedua rukun tersebut secara sempurna, yakni ia mesti bangun duduk untuk kemudian melakukan ruku‘ dan sujud. Tidak cukup hanya dengan isyarat, (Lihat Muhammad Nawawi Al-Jawi, Kâsyifatus Sajâ, Cyprus, Daru Ibni Hazm, 2011, halaman 210).

Shalat sunah boleh dilakukan dengan duduk atau tidur miring yang didasarkan pada hadits yang juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, bahwa Rasulullah SAW bersabda.

مَنْ صَلَّى قَائِمًا فَهُوَ أَفْضَلُ، وَمَنْ صَلَّى قَاعِدًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ القَائِمِ، وَمَنْ صَلَّى نَائِمًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ القَاعِدِ

Artinya, “Barangsiapa yang shalat dengan berdiri, maka itu lebih utama. Barangsiapa yang shalat dengan duduk, maka baginya separuh pahala orang yang shalat dengan berdiri. Barangsiapa yang shalat dengan tidur (miring), maka baginya separo pahala orang yang shalat dengan duduk.” Wallahu a‘lam.


Resource Berita : nu.or.id
Inilah Waktu Terkabulnya Doa di Hari Jumat

Inilah Waktu Terkabulnya Doa di Hari Jumat



WartaIslami ~ Hari Jumat adalah hari spesial bagi umat Islam. Jumat adalah hari raya mingguan bagi mereka. Hari di mana Nabi Adam AS diciptakan dan dicabut nyawanya, terompet Malaikat Israfil ditiupkan, berakhirnya kehidupan manusia di dunia dan beberapa peristiwa besar lainnya yang terjadi di hari Jumat.

Hari Jumat adalah waktu yang tepat untuk memperbanyak shalat, zikir, shalawat, dan ibadah lainnya. Bahkan di hari itu, pengajian-pengajian para kiai dan ulama diliburkan sebagaimana yang telah mentradisi sejak dulu dengan tujuan untuk memfokuskan diri beribadah di hari tersebut.

Di antara hal yang sangat dianjurkan dilakukan di hari Jumat adalah memperbanyak doa baik di malam harinya ataupun di waktu siangnya. Sebagaimana dijelaskan banyak hadits Nabi, terdapat satu waktu di antara satu kali 24 jam di hari Jumat yang sangat manjur untuk dibuat berdoa.

Ulama mengisitilahkan waktu tersebut dengan “Sa’atul Ijabah” (waktu terkabulnya doa). Barangsiapa berdoa di waktu tersebut, maka segala permintaannya akan terkabul.

Dalam hadits riwayat Al-Bukhari disebutkan.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ فِيهِ سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا

Artinya, “Dari Sahabat Abi Hurairah RA, sungguh Rasulullah SAW menyebut hari Jumat kemudian berkomentar perihal Jumat, ‘Pada hari itu terdapat waktu yang tidaklah seorang Muslim menemuinya dalam keadaan beribadah seraya ia meminta kepada Allah sesuatu hajat, kecuali Allah mengabulkan permintaannya.’ Rasulullah memberi isyarat dengan tangannya bahwa waktu tersebut sangat sebentar,” (HR Al-Bukhari).

Tidak ada keterangan hadits Nabi yang secara tegas menjelaskan penentuan waktu ijabah tersebut, bahkan beberapa di antaranya saling berlawanan. Karena itu, ulama berbeda pendapat mengenai penentuan waktunya.

Menurut mayoritas ulama madzhab Syafi’i, waktu ijabah yang paling diharapkan adalah waktu di antara duduknya khatib di atas mimbar sebelum ia berkhutbah dan salamnya Imam jamaah shalat Jumat.

Pendapat tersebut bertendensi kepada hadits riwayat Imam Muslim dan Imam Abi Dawud sebagai berikut.

عَنْ أَبِي مُوْسَى اَلْأَشْعَرِيِّ قَالَ قَالَ لِيْ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ أَسَمِعْتَ أَبَاكَ يُحَدِّثُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِيْ شَأْنِ سَاعَةِ الْإِجَابَةِ؟ قَالَ قُلْتُ نَعَمْ سَمِعُتُهُ يَقُوْلُ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ هِيَ مَا بَيْنَ أَنْ يَجْلِسَ الْإِمَامُ إِلَى أَنْ تُقْضَى الصَّلَاةُ

Artinya, “Dari Abi Musa Al-Asy’ari, ia berkata, ‘Abdullah bin Umar berkata kepadaku, ‘Apakah kau pernah mendengar ayahmu bercerita dari Rasulullah Saw tentang waktu ijabah?’ Aku menjawab, ‘iya.’ Aku pernah mendengar ayahku mendengar dari Rasulullah bahwa beliau bersabda, ‘Waktu ijabah adalah waktu di antara duduknya imam sampai selesainya shalat Jumat,’” (HR Muslim dan Abi Dawud).

Mengenai rentang waktu sebagaimana diterangkan hadits tersebut, Syekh Ibnu Hajar al-Haitami menjelaskan.

وَالْمُرَادُ أَنَّهَا لَا تَخْرُجُ عَنْ هَذَا الْوَقْتِ لَا أَنَّهَا مُسْتَغْرِقَةٌ لَهُ لِأَنَّهَا لَحْظَةٌ لَطِيْفَةٌ

Artinya, “Yang dimaksud adalah bahwa waktu ijabah tersebut tidak keluar dari rentang waktu ini, bukan keseluruhan rentang waktu tersebut, karena waktu ijabah sangat singkat sekali,” (Lihat Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami, Al-Minhajul Qawim, Hamisy Hasyiyah At-Tarmasi, Jeddah, Darul Minhaj, cetakan pertama, 2011, juz 4, halaman 345).

Pertanyaannya kemudian, bukankah saat khutbah berlangsung dianjurkan untuk diam dari bicara? Bukankah sibuk berdoa justru bertentangan dengan anjuran mendengarkan khutbah secara seksama?

Syekh Jalaluddin Al-Bulqini sebagaimana dikutip Syekh Mahfuzh At-Tarmasi menjawab sebagai berikut.

وَسُئِلَ الْبُلْقِيْنِيُّ كَيْفَ يُسْتَحَبُّ الدُّعَاءُ فِيْ حَالِ الْخُطْبَةِ وَهُوَ مَأْمُوْرٌ بِالْإِنْصَاتِ؟ فَأَجَابَ بِأَنَّهُ لَيْسَ مِنْ شَرْطِ الدُّعَاءِ اّلتَّلَفُّظُ بَلِ اسْتِحْضَارُ ذَلِكَ بِقَلْبِهِ كَافٍ فِيْ ذَلِكَ

Artinya, “Imam Al-Bulqini ditanya. ‘Bagaimana mungkin jamaah Jumat disunahkan berdoa saat berlangsungnya khutbah sementara ia diperintahkan diam?’ Ia menjawab, ‘Doa tidak disyaratkan untuk diucapkan. Menghadirkan doa di dalam hati saat khutbah berlangsung sudah cukup,’” (Lihat Syekh Mahfuzh Termas, Hasyiyah At-Tarmasi ‘alal Minhajil Qawim, Jeddah, Darul Minhaj, cetakan pertama, 2011, juz 4, halaman 344).

Dari keterangan tersebut dapat dipahami bahwa cara berdoa saat khutbah berlangsung adalah dengan dibaca dalam hati, tidak perlu diucapkan dengan lisan.

Demikianlah penjelasan mengenai waktu yang paling ampuh untuk berdoa di hari Jumat. Perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini tidak bisa dihindarkan. Tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan waktu ijabah terjadi. Oleh karena itu, sebaiknya selama hari Jumat berlangsung kita dianjurkan untuk senantiasa memperbanyak doa dan ibadah serta melepas urusan-urusan duniawi, dengan harapan dapat menjumpai waktu ijabah yang sangat sebentar tersebut. Wallahu a'lam.


Resource Berita : nu.or.id
Sibuk Abadikan Khutbah dengan HP Hilangkan Pahala Jum'at?

Sibuk Abadikan Khutbah dengan HP Hilangkan Pahala Jum'at?



WartaIslami ~ Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Era smartphon dan gadget yang dilengkapi kamera menumbuhkan keinginan untuk mengabadikan moment-moment istimewa. Kalau tidak berkaitan dengan ibadah –semisal shalat Jum’at- mengabadikan moment tersebut dalam bentuk foto atau video, tidaklah terlalu masalah. Namun, ketika objek moment adalah ibadah Jum’at –khutbah dan shalatnya- maka ini menimbulkan tanda tanya kebolehannya.

Mengabadikan khutbah Jum’at dengan sarana Hand Phone (HP) memiliki perincian. Pertama, jika record khutbah tersebut menyebabkan dirinya sibuk dengan HP –jari sibuk menggeser layar atau menekan tombol- di tengah-tengah khutbah maka ini dilarang. Sifat ini termasuk bentuk sibuk sendiri dari menyimak khutbah Jum’at. sehingga menyebabkan hilang pahala shalat Jum’at bagi pelakunya.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda tentang mendengarkan khutbah,

وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا

"Barangsiapa bermain-main krikil –saat berlangusng khutbah-, maka sia-sialah Jum'atnya." (HR. Muslim dari hadits Abu Hurairah)

Imam an Nawawi rahimahullah dalam Syarh Muslim menjelaskan,

فيه النهي عن مس الحصى وغيره من أنواع العبث في حال الخطبة، وفيه إشارة إلى إقبال القلب والجوارح على الخطبة، والمراد باللغو ها هنا الباطل المذموم المردود

"Dalam hadits ini terdapat larangan memegang-megang krikil dan lainnya dari hal yang tak berguna pada waktu khutbah. Di dalamnya terdapat isyarat agar menghadapkan hati dan anggota badan untuk mendengarkan khutbah. Sedangkan makna laghaa (perbuatan sia-sia) adalah perbuatan batil yang tercela dan hilang pahalanya."

Masih dari Abu Hurairah dalam Shahihain, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ

"Jika engkau berkata pada temanmu pada hari Jum'at, "Diamlah!", sewaktu imam berkhutbah, berarti kemu telah berbuat sia-sia." (Muttafaq 'Alaih, lafadz milik al Bukhari)

Al-Hafidh Ibnul Hajar dalam Fathul Baari berkata, "dalam hadits ini, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah menetapkan bahwa memerintahkan diam saat khutbah adalah bentuk lahwun, walaupun bentuknya perintah yang ma'ruf dan melarang dari yang munkar. Hadits ini juga menunjukkan bahwa setiap perkataan yang mengganggu dari mendengarkan khutbah, hukumnya lahwun. Dan bila ingin memerintahkan diam orang yang bicara, maka dengan isyarat."

Kedua, Jika merekamnya tidak menjadikan pemiliknya sibuk mengontrol kamera -dengan menggeser layar, menekan tombol, atau menggerakkan kamera ke kiri dan kanan-; yaitu sudah menyiapkan kamera sebelum dimulainya khutbah maka tidak mengapa. Mengabadikan khutbah dengan cara semacam ini tidak membahayakan ibadah jum’atnya.

Tidak ada keutamaan dan keistimewaan mengabadikan khutbah Jum’at. Jika merekamnya tidak terlalu dibutuhkan, lebih baik tidak ikut-ikutan trend mengabadikan moment khutbah Jum’at. Wallahu a’lam.


Resource Berita : voa-islam.com
Telat Shalat Shubuh Berjamaah Karena Mandi Janabat; Berdosakah?

Telat Shalat Shubuh Berjamaah Karena Mandi Janabat; Berdosakah?



WartaIslami ~ Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Ada seorang pemuda mimpi basah di tidur malamnya. Ia bangun 10 menit sebelum Shubuh. Ia bangunkan ibu dan saudaranya. Keduanya masuk ke kamar mandi dan berwudhu’. Setelah itu giliran saudarinya masuk kamar mandi terebut. Ia habiskan 10 menit di dalamnya. Setelah mereka selesai dari kamar kecil baru ia masuk untuk mandi. Akibatnya, ia terlambat mendapati shalat Shubuh berjamaah di masjid. Apakah ia berdosa karena sebab itu?

Pada dasarnya, mandi junub tidak harus segera. Bagi orang junub boleh menunda mandinya sampai waktu yang nyaman selama masih mendapatkan shalat di waktunya.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu 'Anha, bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam memasuki waktu fajar masih dalam kondisi junub (berhubungan) dengan sebagian istri beliau, kemudian beliau mandi dan tetap berpuasa. (Muttafaq ‘Alaih)

Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa dalam hadits ini ada dua faidah: pertama, beliau tetap menggauli istrinya di (malam) Ramadhan dan mengakhirkan mandi janabat sampai terbit fajar; untuk menjelaskan bolehnya melakukan itu.

Kedua, junub beliau karena jima’ dan bukan karena mimpi. Karena beliau tidak bermimpi basah. Sebabnya, ihtilam (mimpi basah) itu berasal dari syetan dan beliau terlindungi dari hal itu.

Apabila seseorang yang sedang junub lalu tertidur; jika ia bangun di waktu yang masih memungkinkan mandi dan shalat di waktunya, maka ia wajib mandi lalu shalat.

Jika ia bangun setelah lewat waktu, ia pun tetap mandi janabat lalu shalat walau waktu telah lewat. Misal, ia bangun pukul 06.00 WIB, maka ia mandi besar lalu shalat. Ia tidak berdosa karena itu bukan dari pilihan dirinya.

Harus pula diperhatikan, sebagian ulama mewajibkan seseorang yang ‘mungkin’ telat bangun agar memasang alat membangunkan –seperti alarm dan semisalnya-, atau berpesan ke orang untuk membangunkannya. Jika ia meremehkan sebab-sebab ini yang menjadikan dirinya telah bangun sehingga lewat waktu shalat maka ia berdosa, namun ia tetap mengerjakan shalat shubuh tersebut.

Adapun menunda thaharah (bersuci) sehingga terlewat waktu shalat yang bukan karena tertidur maka ini bentuk peremehan ibadah, menyia-nyiakan shalat, dan mengerjakan shalat di luar waktunya. Ini perbuatan dosa besar.

Bagi laki-laki tadi yang terlambat shalat shubuh berjamaah karena harus mandi janabat terlebih dahulu maka ia tidak berdosa. Namun, hendaknya, ke depan ia lebih menjaga diri dan bersegera mandi sehingga tak tertinggal shalat berjamaah karena keutamaannya yg sangat besar.

Menurut Jumhur, bagi seseroang yang sedang junub agar tetap mandi janabat terlebih dahulu walaupun waktu shalat yang tersisa tinggal sebentar.  Wallahu A’lam.


Resource Berita : voa-islam.com
Orang Tua Tak Mampu, Berdosa Tidak Aqiqahi Anaknya?

Orang Tua Tak Mampu, Berdosa Tidak Aqiqahi Anaknya?



WartaIslami ~ Soal:

Assalam ‘Alaikum Wr. Wb.  Bpk ustad. Bagaimana hukumnya kalau anak kita tidak di aqiqahi sedangkan  kita gak mampu. Apakah itu wajib....?

Jawab:

Wa’alaikumus Salam Wr. Wb.

Al-Hamdulillah. Shalawat dan salam atas Rasullillah, keluarga dan para sahabatnya.

Mengaqiqahi anak adalah sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, para sahabatnya dan tabi’in. Yaitu orang tua menyembelih hewan aqiqah (domba atau kambing) atas kelahiran anaknya sebagai bentuk syukur kepada Allah Subahanahu wa Ta'ala.

Hukumnya, menurut jumhur ulama, adalah sunnah mu’akkadah. Tugas ini tertuju kepada orang tua si bayi.

Ulama Lajnah Daimah berkata,

العقيقة سنة مؤكدة ، عن الغلام شاتان تجزئ كل منهما أضحية ، وعن الجارية شاة واحدة ، وتذبح يوم السابع ، وإذا أخرها عن السابع جاز ذبحها في أي وقت ، ولا يأثم في تأخيرها ، والأفضل تقديمها ما أمكن

“Aqiqah adalah sunnah mu’akkadah (sangat ditekankan). Untuk anak laki-laki dengan 2 ekor kambing; setiap ekornya sudah boleh untuk kurban. Sedangkan anak wanita satu ekor saja. Disembelih hari ketujuh. Apabila diakhirkan setelah hari ketujuh, tetap boleh, menyembelihnya kapan saja. Tidak berdosa mengakhirkannya. Paling utama, menyegerakannya secepat mungkin.” Fatawa al-Lajnah al-Daimah: 11/439)

Tugas aqiqah ini berlaku bagi orang tua yang mampu atau berkecukupan. Jika orang tuanya faqir, tidak harus melaksanakan segera. Tidak menunaikan aqiqah karena faqir atau miskin tak berdosa. Ini berdasarkan firman Allah Subahanahu wa Ta'ala,

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

 “Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

“Dan Allah tidak menjadikan atas kalian kesulitan dalam mengamalkan dien.” (QS. Al-Hajj: 78)

اتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Maka bertakwalah kepada Allah semampu kalian.” (QS. Al-Taghabun: 16)

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

إِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ ، وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Apabila aku perintahkan kepadamu satu perintah maka kerjakan semampumu. Apabila aku larang dari sesuatu maka jauhilah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Aqiqah ini bisa ditunda sampai orang tua memiliki kemapanan untuk melaksanakannya. Wallahu A’lam.


Resource Berita : voa-islam.com
Dengan Satu Kata Ini, Nabi Selamat dari Pembunuhan

Dengan Satu Kata Ini, Nabi Selamat dari Pembunuhan



WartaIslami ~ Banyak sekali kisah keajaiban dalam dakwah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Keseluruhan keajaiban itu bermuara pada satu kesimpulan bahwa Allah Ta’ala pasti menolong siapa yang menolong agama-Nya. Allah Ta’ala mustahil berlaku zalim dengan menyia-nyiakan para pejuang di jalan-Nya.

Di antara kisah itu, ada satu kata yang diucapkan Nabi dan berhasil menyelamatkan beliau dari pembunuhan seorang badui. Padahal, saat itu, tak ada jarak antara pedang dan leher Nabi yang mulia.

Lelaki badui ini bernama Ghaurats bin Harits. Seorang badui. Dia diutus untuk membunuh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sebagaimana dikisahkan dari Jabir bin ‘Abdullah, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya beristirahat di bawah pepohonan dalam sebuah perjalanan.

Nabi menyandarkan pedangnya di sebuah batang pohon berduri, agak jauh dari tempatnya merebahkan diri. Seraya mengendap-endap, sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya, “Ada orang badui yang mendatangi pedang Rasulullah, lalu ia mengambil dan mencabutnya dari sarungnya.”

Dengan hati-hati agar tidak ketahuan oleh para sahabat, lelaki badui ini pun menuju tempat Nabi beristirahat. Sembari menodongkan pedang tepat di leher Nabi, ia berkata, “Siapakah yang akan menghalangimu dariku?” Jawab Nabi penuh keyakinan, “Allah.”

Tidak puas dengan tetap mengancam, lelaki badui ini melontarkan pertanyaan yang sama sebanyak dua atau tiga kali. Namun, Nabi tak mengubah jawabannya. Beliau berujar dengan sangat mantap, “Allah.”

Gentar dengan jawaban Nabi, lelaki badui itu pun kembali menyarungkan pedang Nabi. Beliau pun memanggil para sahabat dan memberitahukan apa yang terjadi. Saat para sahabat datang, lelaki itu terduduk di samping tempat duduk Nabi. Dan, Nabi tidak menghukumnya.

Demikian itulah di antara keajaiban dakwah. Allah Ta’ala pasti menolong siapa yang menolong agama-Nya. Karenanya, tak perlu gentar, takut, atau khawatir. Lakukan dengan niat yang benar, dan bertawakkallah kepada Allah Ta’ala. Kelak, dan sudah menjadi janji-Nya, bahwa pertolongan Allah Ta’ala lebih dekat dari urat nadi seorang hamba.

Semoga Allah Ta’ala memberikan kepada kita kekuatan untuk senantiasa bergabung dalam kafilah dakwah. Aamiin.


Resource Berita : kisahikmah.com
Kisah Doa Mujahid Buta Huruf Rontokkan Pesawat Musuh

Kisah Doa Mujahid Buta Huruf Rontokkan Pesawat Musuh



WartaIslami ~ Doa adalah sejata orang-orang yang beriman. Banyak kisah doa yang langsung dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala; dalam berbagai tempat, waktu dan kesempatan.

Di antara doa-doa yang dikabulkan Allah adalah doa orang beriman yang berjihad di jalan-Nya. Saat itu mujahid berdoa dengan doa yang sungguh-sungguh dan seyakin-yakinnya. Ia tidak berharap kecuali kepada Allah. Ia sangat membutuhkan pertolongan lalu menengadahkan tangan kepada Allah. Doanya keluar dari lubuk hati yang paling dalam disertai keyakinan besar bahwa Allah akan mengabulkan doa itu dan harapan tunggal hanya kepadaNya. Ia pun tidak terhalang oleh kemaksiatan sebab saat itu antara dirinya dan kematian sangat dekat hingga ia bersiap menghadap Rabbnya kapan saja. Hari-harinya dipenuhi ibadah dan ketaatan. Jiwa raganya ia persembahkan untuk Allah, Tuhan semesta alam.

Salah satu kisah terkabulnya doa mujahid secara ajaib dikisahkan oleh Syaikh DR Abdullah Azzam dalam bukunya Tarbiyah Jihadiyah. Kisah ini terjadi pada jihad Afghanistan, saat para mujahidin berperang melawan Uni Soviet.

Hari itu, tanggal 10 November. Pesawat-pesawat Uni Soviet membombardir daerah Chakri, membuat para mujahidin bersembunyi di tempat yang aman. Namun, tidak demikian dengan seorang lelaki buta huruf yang bernama Haji Muhammad Umar.

Ia melihat pesawat tempur itu dan berdoa sambil menengadahkan tangan, “Wahai Rabbku, Engkau lebih kuat dari pesawat-pesawat tempur itu. Apakah Engkau akan membiarkan orang-orang kafir itu membantai kami dengan pesawat dan roket-roket mereka? Wahai Rabbku, mana yang lebih kuat; Engkau ataukah mereka?…”

Belum selesai munajat itu, tiba-tiba pesawat tempur tersebut meledak dan jatuh. Menurut siaran radio, di dalam pesawat tersebut terdapat dua orang jenderal Soviet.

Demikianlah kisah ajaib terkabulnya doa mujahid. Ketika militer Uni Soviet bingung menganalisa mengapa pesawat tempur mereka tiba-tiba meledak dan jatuh; apakah karena rusak atau ditembak dengan roket anti-pesawat, para mujahidin seperti Syaikh DR Abdullah Azzam telah mengetahui sebuah rahasia yang tidak bisa dijelaskan oleh pakar militer. Allah-lah yang meledakkan dan menjatuhkannya, sebagai bentuk ijabah atas doa hambaNya.

“Banyak sekali kisah-kisah ajaib seperti ini,” tegas Syaikh DR Abdullah Azzam dalam sub judul Karamah-Karamah.


Resource Berita : kisahikmah.com
‘Penyesalan’ Orang yang Mati Syahid

‘Penyesalan’ Orang yang Mati Syahid



WartaIslami ~ Semoga Allah Ta’ala menghidupkan kita dalam ma’rifat kepada-Nya, dan mati dalam keadaan syahid di jalan-Nya. Sesungguhnya Dialah sebaik-baik Pelindung dan Pembela.

Syahid adalah kematian yang terindah. Ialah kemuliaan yang diberikan kepada sosok-sosok pilihan-Nya. Baik di medan jihad, dibunuh musuh Allah, atau di atas tempat tidur sebagaimana dialami Nabi dan beberapa sahabatnya.

Orang-orang Islam yang benar imannya dan wafat dalam keadaan syahid, mereka tidaklah mati; melainkan hidup dengan kemuliaan dan ampunan di alam barzakh hingga datangnya Hari Kiamat.

Ruh mereka disebutkan oleh Nabi berada dalam perut burung berwarna hijau yang terbang ke mana saja sesuai kehendaknya di dalam surga.

Kepada mereka yang telah menjual dirinya kepada Allah Ta’ala akan ditanya oleh Rabbnya, “Apakah yang kalian inginkan?”

“Ya Rabb kami,” jawabnya santun, “apa yang harus kami inginkan?” Pasalnya, berdasarkan pengakuan mereka, “Sedang Engkau telah memberikan kepada kami apa yang tidak Engkau berikan kepada seorang pun dari makhluk-Mu?”

Namun, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Imam Muslim ini, “Allah Ta’ala kembali bertanya. Dan, setelah mengetahui bahwa mereka tidak bisa lepas dari pertanyaan itu, mereka pun menyampaikan keinginannnya.”

“Kami ingin,” ujar mereka sampaikan harap, “Engkau mengembalikan kami ke dunia.”

Apakah yang menyebabkan mereka ingin kembali ke dunia? Bukankah mereka mendapatkan balasan terbaik atas pengorbanannya di jalan Allah Ta’ala? Untuk apa mereka meminta dikembalikan ke dunia yang nista dengan perhiasannya?

“Dan,” pinta orang yang syahid jika dibolehkan kembali ke dunia, “agar kami bisa berperang kembali di jalan-Mu.” Sehingga, “Kami bisa terbunuh untuk kedua kalinya karena-Mu.”

Itulah yang mereka kehendaki; kembali ke dunia agar bisa berperang dan mati kedua kali sebagai syihada’. Mereka melakukan itu sebab memahami dan telah merasakan betapa agungnya balasan yang Allah Ta’ala berikan.

Namun, permintaan itu tertolak. Allah Ta’ala telah menetapkan. “Sesungguhnya Aku telah menetapkan,” lanjut-Nya, “bahwa mereka tidak akan kembali ke dunia.”

Inilah kondisi orang-orang terpilih yang syahid di jalan-Nya dalam rangka membela agama-Nya. Sebab kita masih hidup, mari lakukan amal serupa; sebab mereka yang akhiri hidup dengan amat manis pun menyesal dan ingin mengulangi amal kebaikannya ketika di dunia.


Resource Berita : kisahikmah.com
Jika Mereka Basahi Pipi dengan Air Mata, Kami Basahi Muka dengan Darah

Jika Mereka Basahi Pipi dengan Air Mata, Kami Basahi Muka dengan Darah



WartaIslami ~ Berbahagialah mereka yang berjihad di jalan Allah Ta’ala dari kalangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, sahabat, dan kaum muslimin, kemudian mendapatkan syahid dalam membela agama-Nya. Berbahagialah dengan balasan yang disediakan; surga lengkap dengan seluruh kenikmatan dan tujuh puluh bidadari.

Berbahagialah mereka, sebab akan berkembang pahalanya hingga Hari Kiamat, rezekinya senantiasa mengalir, terlindung dari fitnah kubur dan fitnah lainnya, serta diganjari lebih baik dari dunia dan seisinya.

Ketika berpamitan, Muhammad bin Ibrahim bin Abi Sakinah pernah mendiktekan syair jihad ini kepada ‘Abdullah bin al-Mubarak yang diteruskan kepada al-Fudail bin ‘Iyadh pada tahun 170-an Hijriyah di sebuah daerah bernama Tharsus.

WAHAI YANG BERIBADAH DI HARAMAIN (MAKKAH DAN MADINAH), ANDAI SAJA KAU MELIHAT KAMI,

NISCAYA ENGKAU SADAR; BAHWA ENGKAU BERMAIN-MAIN DALAM BERIBADAH.

Disebut bermain-main, karena orang-orang yang beribadah di dua Tanah Suci itu hanya mengejar keshalehan pribadi dan mengacuhkan panggilan jihad dalam rangka memperjuangkan agama dan kalimat Allah Ta’ala.

JIKA ORANG-ORANG MEMBASAHI PIPINYA DENGAN AIR MATA,

MAKA KAMI MEMBASAHI WAJAH KAMI DENGAN DARAH.

Saat orang-orang itu berpura-pura menangis, padahal sejatinya hati mereka tertawan dengan dunia, maka para mujahid yang berjuang di jalan Allah Ta’ala membasahi wajahnya dengan darah lantaran sabetan pedang, sayatan pisau, tusukan tombak, tembakan peluru, atau pun ledakan rudal dan bom.

ATAU, JIKA ORANG-ORANG MELELAHKAN KUDANYA (KENDARAAN) DALAM KEBATHILAN,

MAKA KUDA-KUDA KAMI MERASA KELELAHAN PADA PAGI HARI.

Banyak di antara mereka-dan sebagian kita-yang menggunakan kendaraan dalam bermaksiat kepada Allah Ta’ala. Di antara mereka ada yang berfoya-foya dengan kendaraan mewahnya, sedangkan yang lainnya menggunakannya dalam kesia-siaan dan menentang aturan-Nya.

BAU WANGI MENYERBAK UNTUK KALIAN,

SEDANG BAU WANGI YANG KAMI CIUM ADALAH TANAH PADA KUKU KUDA DAN DEBU YANG BAIK.

Ketika orang-orang yang lalai menarik lawan jenisnya dengan wewangian yang membuat jiwa terlena, atau orang-orang berwangi ria dalam pakaian dan apa yang tidak dibolehkan berlebihan padanya; wewangian para mujahid adalah debu gurun pasir di medan jihad dan tanah yang menempel di kuku dan sepatu kuda. Betapa beda bentuknya; namun yang lebih mulia adalah yang tampak tak berharga.

TELAH DATANG KEPADA KAMI UNGKAPAN NABI KAMI,

UNGKAPAN YANG BENAR DAN TIDAK BERBOHONG.

Mereka melakukan jihad sebagai pilihan hidup sebab meyakini janji Allah Ta’ala melalui Nabi-Nya. Maka mereka mensyukuri pilihannya, dan senantiasa berupaya menjaga niat agar senantiasa berada dalam ridha-Nya, meskipun banyak yang mencomooh sebab membenci amalannya itu.

TIDAK SAMA ANTARA DEBU KUDA ALLAH DI HIDUNG SESEORANG DAN ASAP API YANG BERKOBAR.

INILAH KITAB ALLAH YANG BERBICARA DI TENGAH-TENGAH KITA; BAHWA SYAHID TIDAK MATI ITU BUKANLAH (PERKATAAN) BOHONG.

Meski wewangiannya adalah debu, maka itu akan menjadi surga baginya. Sedangkan mereka yang harum mewangi dalam semerbak, sejatinya adalah neraka sebab niatnya tidak benar, bahkan beramal untuk menentang Allah Ta’ala dan aturan-Nya.


Resource Berita : kisahikmah.com
Beginilah Dahsyatnya Pertarungan Malaikat dan Iblis

Beginilah Dahsyatnya Pertarungan Malaikat dan Iblis



WartaIslami ~ Secara kasat mata, perang Badar al-Kubra dan peperangan-peperangan lainnya terjadi antara kaum Muslimin dengan orang-orang kafir. Tiada yang menginginkan terjadinya peperangan. Apalagi dalam barisan kaum Muslimin. Mereka melakukan ini karena Allah Ta’ala memerintahkannya. Dan terkait perintah Allah Ta’ala ini, tiada alasan untuk mengelak, meski diri tidak menyukainya. Itulah di antara makna terbaik dari kata taat.

Namun, jika melihat lebih mendalam, sejatinya ada pertarungan lain yang terjadi dalam peperangan Badar. Bukan saja antara kaum Muslimin dengan orang-orang kafir, tetapi juga antara malaikat yang mulia dengan iblis nan terlaknat.

Dan rupanya, pertempuran yang tidak bisa diindra ini jauh lebih dahsyat dari pertempuran yang terlihat. Bagaimanakah kejadiannya?

Bahwa Allah Ta’ala menurunkan ribuan malaikat untuk menolong kaum Muslimin. Ini merupakan satu di antara sekian banyak janji-jani Allah Ta’ala sebagaimana disebutkan dalam banyak ayat al-Qur’an yang mulia.

‘Abdullah bin ‘Abbas mengatakan, malaikat Jibril menyertakan lima ratus malaikat di salah satu sayapnya. Kemudian malaikat Mikail menyertainya dengan membawa lima ratus pasukan malaikat di sayapnya yang lain.

Ketika perang hendak berkecamuk, setan yang mewujud dalam sosok bernama Suraqah bin Malik berkata secara lantang guna menyemangati orang-orang kafir. Katanya pongah, “Tiada satu kaum pun yang mengalahkan kalian pada hari ini. Sungguh, aku akan menjadi pelindung bagi kalian.”

Rupanya, kalimat motivasi itu hanyalan bualan. Pasalnya, saat menyaksikan malaikat Jibril dan pasukannya, setan dan seluruh bala tentara laknatnya kabur tanpa permisi. “Ke mana kalian akan pergi?” tanya seseorang kepada setan yang mewujud dalam sosok Suraqah bin Malik.

Dengan ketakutan dan cemas yang menyeruak, Suraqah menjawab, “Sungguh, aku berlepas diri dari kalian semua. Aku bisa melihat apa yang tidak kuasa kalian saksikan.” Mereka kabur setelah sebelumnya berteriak menyemangati. Mereka bergegas pergi setelah sebelumnya meniupkan bualan kepada pasukan-pasukannya dari kalangan jin dan manusia.

Lantas, bagaimana kita bisa mengetahui bahwa sosok Suraqah bin Malik dalam perang Badar adalah setan? “Ketika berita (kaburnya Suraqah bin Malik dari perang Badar) itu didengar oleh Suraqah bin Malik,” tutur Syeikh Ibnu Muflih al-Maqdisi, “dia (Suraqah bin Malik) membantah.” Kata Suraqah, “Aku baru mendengar berita kepergian kalian untuk berperang setelah kalian kalah.”

Artinya, Suraqah sama sekali tidak terlibat sedikit pun dalam perang Badar. Karenanya, jika ada sosok yang kini kita dapati sangat antuasias dalam memperjuangkan keburukan dan memprovokasi masyarakat untuk turut serta di dalamnya, mungkin kita perlu banyak membaca taawudz dan Ayat Kursi, siapa tahu ia merupakaan jelmaan setan yang terlaknat. Na’udzubillah.


Resource Berita : kisahikmah.com
Dari Tiga Mujahid Ini, Siapa yang Disebut Fi Sabilillah?

Dari Tiga Mujahid Ini, Siapa yang Disebut Fi Sabilillah?



WartaIslami ~ Dari sekian banyak orang yang beramal, amat sedikit yang bisa menghadirkan keikhlasan di dalam dirinya. Ada yang berhasil ikhlas di awal, tapi rusak saat beramal. Sebagian lainnya belum ikhlas saat beramal, berupaya sungguh-sungguh, dan ikhlas saat beramal. Tapi, ikhlasnya kabur setelah amal usai. Begitu seterusnya.

Membincang ikhlas, sejatinya memang sangat sukar. Selain urusan hati, ikhlas menjadi langka karena janji balasannya pun amat melimpah. Orang-orang yang ikhlas akan ditempatkan bersama para Nabi, orang-orang shalih, dan orang-orang jujur dalam kedudukan yang tinggi si surga-Nya kelak.

Soal ikhlas ini, sejatinya sudah selesai dibahas. Akan tetapi, kitalah yang tak boleh merasa cukup sebelum ajal benar-benar menjemput. Apalagi manusia akan dinilai berdasarkan kondisi akhir hidupnya. Sehingga, tak ada satu pun di antara kita yang boleh merasa puas, apalagi berbangga diri.

Datanglah seorang laki-laki shalih kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ia melaporkan tiga orang temannya yang ikut berjihad. Kepada Nabi, laki-laki ini menuturkan, “Orang pertama berjihad karena miskin. Ia ingin mendapatkan harta rampasan perang sehingga dapurnya bisa terus mengepul.”

Sedangkan yang kedua, “Orang ini berjihad karena perasaan tak mau dijajah. Ia tidak ingin kaumnya diperangi. Dan tidak berkehendak jika tidak ikut berjihad bersama kaumnya.” Dan yang ketiga, “Dia berjihad karena ingin disebut sebagai laki-laki yang gagah berani.”

Kelar menuturkan tiga sejawatnya yang ikut berjihad dengan masing-masing motifnya, laki-laki shalih yang tidak disebut namanya ini bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Dari ketiganya, siapakah yang layak disebut jihad fi sabilillah?”

Sekilas, kita melihat bahwa ketiga orang di atas tidak memenuhi syarat ikhlas. Motifnya bukan karena Allah Ta’ala dan Rasulullah, tapi harta, nasionalisme, dan gengsi agar disebut pemberani. Namun, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan dengan amat santun seraya menyampaikan, “Siapa pun (di antara ketiganya) yang berjihad untuk meninggikan kalimat Allah Ta’ala, maka dia (terhitung) fi sabilillah.”

Aduhai, jika demikian, apa yang menjadi landasan bagi sebagian kita untuk mudah menuduh orang lain tidak ikhlas dalam beramal hanya dari tampilan fisik dan niat yang kita ketahui? Bukankah soalan ikhlas murni antara dia dan Allah Ta’ala Yang Maha Mengetahui?


Resource Berita : kisahikmah.com
Kisah Su’ul Khatimah Saat Mengambil Cap Jempol Jenazah Ayah

Kisah Su’ul Khatimah Saat Mengambil Cap Jempol Jenazah Ayah



WartaIslami ~ Laki-laki kaya itu telah dimakamkan. Hartanya yang melimpah sangat cukup untuk seluruh anak dan cucunya. Karenanya sebelum meninggal, ia mengumpulkan anak-anaknya agar hidup rukun, penuh kasih sayang. Ia tak ingin anaknya berebut harta. “Laksanakanlah surat wasiat yang aku tinggalkan nanti,” pesannya kali itu.

Semua orang telah pulang dari pemakaman, termasuk anak-anak lelaki kaya itu. Tak lama setelah tiba di rumah, salah seorang dari mereka minta ijin kepada saudara-saudaranya. “Aku akan ke makam ayah,” tentu saja tidak ada alasan bagi saudara-saudaranya menolak keinginannya. Sangat wajar jika seorang anak pergi ke makam ayahnya. Mungkin ia perlu berziarah mendoakannya, atau ia belum bisa melupakan ayahnya.

Sudah sekian jam berlalu, tapi pria itu belum juga kembali dari makam. Saudara-saudaranya mulai cemas. “Ada apa dengan saudara kita? Jangan-jangan terjadi sesuatu dengannya…” Akhirnya mereka bersepakat menyusulnya ke makam.

Betapa terkejutnya mereka, makam ayah terlihat terbuka. Mereka lebih terkejut lagi ketika menyaksikan di dalam makam itu tergeletak saudara mereka di samping jenazah ayah. “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un… apa yang terjadi?”

Seketika, kesedihan yang bertumpuk menyergap jiwa mereka. Belum lama ayah meninggal, kini mereka kehilangan salah seorang saudaranya.

Tetapi ada yang aneh. Ada yang aneh dengan kematian saudara mereka. Ia tampak memegang sebuah surat wasiat yang baru dicap jempol. Sedangkan kain kafan ayah tampak terbuka, tangannya kelihatan. Dan jempolnya menyisakan tinta.

Rupanya saudara mereka berlaku curang. Ia datang ke makam ayahnya untuk memalsukan surat wasiat. Ia membongkar makam itu, membuka kain kafan jenazah ayahnya dan mengeluarkan tangannya untuk membubuhkan cap jempol pada surat wasiat palsu yang disiapkannya. Hanya saja, ia tak pernah tahu bahwa pada saat itu Malaikat Maut telah mengintainya. Ia pun menghembuskan nafas terakhir tepat setelah mendapatkan cap jempol itu.

Kisah yang pernah diceritakan Syaikh Mahmud Al Mishri ini menggambarkan dahsyatnya fitnah harta. Harta dunia menjadi godaan yang sangat besar bagi mayoritas orang, hingga mereka menempuh cara-cara yang tidak dibenarkan untuk memperolehnya. Rasulullah memperingatkan umatnya dalam sebuah hadits yang diriwayatkan At Tirmidzi,

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتنَةُ أُمَّتِي المَالُ

“Sesungguhnya setiap umat itu ada fitnahnya dan fitnah umatku adalah harta” (HR. Tirmidzi, menurut beliau hasan shahih)

Harta, ketika seseorang sudah cinta dunia, maka ia seperti air laut. Semakin diminum semakin haus. Semakin banyak harta semakin ia ingin harta lebih banyak lagi. Sudah mendapatkan warisan yang jumlahnya sangat banyak, masih saja merasa kurang dan iri dengan warisan saudaranya.

Maka benarlah doa orang-orang shalih: “Ya Allah… jadikanlah dunia hanya di tanganku, hanya dalam genggamanku, tidak berdiam di hatiku.”

The Zikr pun kemudian melantunkannya dalam nasyid Antara Dua Cinta:
Tuhan… leraikanlah dunia
yang mendiam di dalam hatiku
kerana di situ tidak kumampu
menghimpun dua cinta…


Resource Berita : kisahikmah.com
Kisah Kehebatan Soekarno di Negeri Arab

Kisah Kehebatan Soekarno di Negeri Arab



WartaIslami ~ Tidak ada yang memungkiri bahwa Soekarno adalah seorang pemimpin dan pemikir. Sebagai seorang pemimpin, Soekarno telah mampu menggerakkan jutaan masyarakat Indonesia pada saat itu untuk melawan penjajah dan membangun Indonesia yang merdeka. Soekarno juga adalah seorang pemikir.

Banyak gagasan-gagasan besar dan konsep-konsep dalam bernegara yang dicetuskan oleh Soekarno. Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, pemikiran-pemikiran soal revolusi, dan lainnya. Maka dari itu, banyak pemimpin dunia, termasuk Negara-negara Arab, yang kagum kepada Soekarno.

Kitab Al Audah ila Iktisyafi Tsauratina (Kitab Pemikiran Revolusi Presiden Soekarno) adalah salah satu pemikiran-pemikiran Soekarno dikaji dan dijadikan rujukan bagi masyarakat Arab. Kitab ini diterbitkan di Kairo pada 1959, dua tahun setelah diadakannya Konferensi Asia-Afrika di Bandung.

Pada saat ini, pemimpin terkuat di Negara-negara Timur Tengah adalah Presiden Mesir, Gamal Abdel Nasser. Ia didaulat sebagai pemimpin revolusi dunai Arab. Presiden Mesri tersebut sangat menghormati dan menjadikan Soekarno sebagai guru revolusinya. 

“Abdel Nasser menyatakan diri bahwa saya (Gamal Abdel Nasser) adalah murid ideologinya Soekarno,” Kata Direktur Islam Nusantara Center (INC) A Ginanjar Sya’ban.

Kitab Al Audah di atas adalah kumpulan pidato Soekarno yang disusun menjadi satu dan dibahasa Arabkan. Kitab tersebut diterbitkan atas perintah daripada Gamal Abdel Nasser.

Presiden Soekarno juga pernah diundang oleh Gamal Abdel Nasser untuk menyampaikan pidato dihadapan ribuan masyarakat Mesir di Aleksandria dalam rangka peringatan tiga tahun revolusi Mesir. Ribuan masyarakat Mesir berduyun-duyun dan meneriakkan nama Ahmad Soekarno manakala dia naik mobil bak terbuka dengan Gamal Abdel Nasser.

“Ahmad Soekarno, Pemimpin terkuat dan terbesar dari Timur Asia,” kata Ginanjar menirukan teriakan masyarakat Mesir.

Ketenaran nama Soekarno di negara-negara padang pasir tidak perlu diragukan lagi. Tidak sedikit nama jalan dan tempat di Negara-negara Arab tersebut yang menggunakan nama Ahmad Soekarno. Nama Ahmad Soekarno juga terukir di Ismailiyah, salah satu kota pelabuhan kecil di Mesir.

“Ada super market di sana, super market Ahmad Soekarno. Di Kota Kairo ada jalan namanya Ahmad Soekarno” cerita alumni Universitas Al Azhar Mesir itu.

Selain di Mesir, nama Soekarno juga dijadikan nama jalan di Maroko dan Pakistan. Di Rusia, nama Soekarno menjadi nama sebuah masjid. Sedangkan di Kuba, nama Soekarno diabadikan menjadi nama perangko.

Soekarno adalah eksportir ideologi. Istilah-istilah dan konsep revolusi yang dicetuskan oleh sang putera fajar tersebut dialih bahasakan menjadi Arab. Seperti Al Mabadi’ Al Khomsah (Pancasila), A Wihdah fi tanawwu’i (Bhinneka Tunggal Ika), Al Wathoniyah wa Diniyah wa Syuyu’iyah (Nasakom), Al Bayan Al Siyasi An Wihdah Al Isytirakiyyah wa Dimuqratiyyah (Manipol Usdek). Ideologi-ideologi tersebut dipelajari dan menjadi inspirasi masyarakat Arab.


Resource Berita : nu.or.id
Lima Riwayat Sunan Kalijaga di Pulau Lombok

Lima Riwayat Sunan Kalijaga di Pulau Lombok



WartaIslami ~ Mengatakan Wali Songo hanya terkenal di pulau Jawa itu sama halnya menyatakan bahwa sebutan santri itu hanya berlaku bagi mereka yang ormasnya Nadlatul Ulama (NU). Ini parah, karena pernyataan semacam itu mengafirmasi pendapat para orientalis dan indonesianis soal Islam di Indonesia.

Misalnya, M.C Ricklefs dalam Islamization and Its Opponents ( NUS, 2012) dengan asertif mengatakan bahwa tidak terdapat bukti historis yang sepenuhnya dapat dipercaya mengenai kesembilan wali tersebut (Wali Songo) serta karya-karya mereka. Artinya, wali Songo itu fiksi belaka, dongeng khas Jawa sehingga tidak faktual dan tidak mungkin dikenal di wilayah lain.

Pendapat Ricklefs ini niscaya berbeda dengan umat Islam Indonesia, yang meyakini bahwa Wali Songo itu suatu jaringan kekerabatan, keilmuwan, dan ingatan. Alhasil, kesembilan wali itu selalu terasa hidup di tengah mereka dengan cara memberikan makna baru mengenai koneksi keberislaman mereka dengan segala daya upaya (ijtihad) para wali membumikan Islam di Nusantara.

Sebut saja ziarah, haul, dan paling utama adalah mengamalkan ajaran mereka. Contoh amalan adalah mencintai agama sekaligus mencintai tanah air, menyemarakkan agama dengan langgam seni dan budaya, serta bersikap kreatif dalam mengarungi perubahan.

Lima Riwayat

Adalah sesuatu yang penting bahwa nama-nama seperti Sunan Bonang, Syekh Siti Jenar, Sunan Kalijaga, dan Sunan Giri Prapen, dikenal di berbagai daerah di Nusantara. Saya ingin menggenapkan dengan menceritakan lima riwayat tentang Sunan Kalijaga di Pulau Lombok,  yang tentu terkait pula dengan keberadaan sunan-sunan lain.

Pertama, di ujung Timur Pulau Lombok, di Desa Suwela, tidak berapa jauh dari Labuan Aji, pelabuhan yang menghubungkan Pulau Lombok dengan pulau Sumbawa, terdapat makam raja-raja Selaparang. Di areal pesareyan ini terdapat petilasan Patih Gadjah Mada yang yakini sebagai tempat bertemunya antara sang patih Majapahit dengan Sunan Kalijaga.

Para peziarah dari luar Pulau Lombok sering terlihat memanjatkan doa di sekitar petilasan ini. Seorang peziarah dari Jogja mengatakan kepada saya bahwa pertemuan dua tokoh yang tidak sezaman itu adalah tonggak penting dari penabalan Islam Nusantara.

Kedua, di sekitar makam Selaparang terdapat desa-desa yang terkait dengan mereka yang dimakamkan, seperti Pohgading dan Bagek Papan. Kedua desa ini meyakini bahwa leluhur mereka datang dari Jawa. Tidak persis, Jawa mana.

Berdasarkan catatan keluarga dan riwayat yang mereka rawat, pada abad-15 Masehi, tiba seorang bernama Djaya Prana yang mendarat di Labuan Tereng (dekat pelabuhan Lembar hari ini), kemudian melanjutkan perjalanan ke arah Timur sampai di Sumur Batu, di Bagek Papan, Lombok Timur.

Selang beberapa tahun, Djaya Prana disusul oleh adiknya yang bermana Wijaya Krama ke Lombok. Tokoh Djaya Prana ini dalam versi Jogajakrta dan Solo adalah kakak dari Sunan Kalijaga. Kedatangan Sunan Kalijaga ke Lombok untuk menemui kakaknya yang menetap di Lombok.

Tokoh Djaya Prana ini kemudian di makamkan di Pesareyan Sultan-Sultan Mataram Islam, Kotagedhe, Yogyakarta. Dalan versi serat Centhini, Djaya Prana atau Andaya Prana adalah nama lain dari Sunan Kalijaga.

Hal serupa disebutkan juga oleh Husien Djadjadiningrat, bahwa ketika berada di Cirebon, Sunan Kalijaga memakai nama Djaya Prana. Jadi dalam tafsiran sejumlah sumber, Djaya Prana dan Sunan Kalijaga adalah satu orang dengan dua nama.

Ketiga, terkait dengan penyempurnaan ilmu batin Sunan Kalijaga yang diterimanya dari Syekh Siti Jenar. Dalam beberapa serat disebutkan kalau Sunan Kalijaga adalah menantu sekaligus murid kesayangan Syekh Siti Jenar. Dalam mata rantai atau sanad tarekat Akmaliyah, terdapat sanad yang berujung di Syiekh Siti Jenar dan Sunan Kalijaga, baru kemudian bersambung ke ke Sultan Pajang sampai Sultan Agung.

Syekh Siti Jenar mengajarkan Martabat Tiga, tapi karena dinilai sangat ekstrem, maka oleh Sunan Kalijaga ditata-ulang menjadi Martabat Tujuh. Penjelasan tentang kronik Martabat Tiga dan Martabat Tujuh membutuhkan ruang tersendiri. Ketika Syekh Siti Jenar meninggal, Sunan Kalijaga memerlukan dirinya datang ke Pulau Lombok untuk menyempurnakan ilmu tarekatnya kepada Pangeran Sangupati, seorang murid Syekh Siti Jenar yang lebih senior.

Terjadilah pertemuan keduanya di desa Bayan, di bawah Kaki Gunung Rinjani. Bayan sendiri adalah tempat para ulama penganut tarekat Watu Telu (bukan Islam Watu Telu seperti dibincangkan selama ini).

Bukti pertemuan ini adalah adanya makam Pangeran Sangupati yang bersebelahan dengan Makam seorang yang disebut Sahid di sebelah Barat Masjid Pusaka Bayan. Nama “Bayan” sendiri adalah kode dari jaringan nama tempat (toponimi) yang didiami oleh para penganut ajaran Martabat Tiga Syekh Siti Jenar, di Jawa atau di mana pun.

Keempat, Sunan Kalijaga memiliki seorang putra kesayangan bernama pangeran Saridin. Tanpa alasan yang jelas, Pangeran Saridin menghilang, dan diperkirakan menuju arah ke Timur. Karena sangat sayang dengan putranya, Sunan Kalijaga mencarinya sampai ke arah Timur, tepatnya ke pulau Lombok.

Kelima, Sunan Bonang yang dikenal sebagai Syeikh Wahdat adalah guru dari Sunan Kalijaga juga. Salah satu kelebihan guru dan murid ini adalah memiliki ilmu seperti Nabi Yunus AS, akrab dengan para penguni laut.

Dalam banyak cerita disebutkan bagaimana Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga melintasi lautan dengan menumpangi seekor ikan besar yang menjadi sahabat setia mereka. Di sebutkan bahwa dalam suatu perjalanan, Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga singgah di beberapa tempat di pulau Lombok sehingga riwayat dua wali yang mengarungi lautan dengan menumpangi seekor ikan besar sangat terkenal di pulau Lombok.

Lima riwayat tentang keberadaan Sunan Kalijaga di Pulau Lombok menunjukkan bahwa Wali Songo adalah jaringan manakib keulamaan yang dikenal di Indonesia, tidak hanya di pulau Jawa. Wallahul Haadi ila Sawa’is Sabil.


Resource Berita : nu.or.id
Bendera NU Raksasa Seberat 6 Kuintal dari Lombok

Bendera NU Raksasa Seberat 6 Kuintal dari Lombok



WartaIslami ~ Sebelum dibuka Presiden Joko Widodo, Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama akan diawali dengan Pawai Ta’aruf dari Islamic Center sampai pusat pemmerintahan kota Mataram pada Rabu (22/11).

Ketua Panitia Daerah Munas dan Konbes NU H. Lalu Winengan mengatakan, pada pawai yang diikuti sekitar 10 ribu warga NU akan diwarnai pengarakkan bendera NU raksasa.

“Ukuran bendera raksasa itu 40 m x 60 m dengan berat sekitar 6600 kg, jadi 6 kuintal,” katanya di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Senin (20/11).

Bendera itu, lanjutnya, akan diarak seribu orang yang terdiri dari Banser, para santri, dan siswa-siswi Lembaga Pendidikan Ma’arif NU yang terbiasa di pasukan pengibar bendera.

Melibatkan orang sebanyak itu, menurut dia, karena bendera NU itu merupakan terbesar dan terberat yang pernah ada.

Ia menabahkan, di depan dan di belakang bendera itu akan ada pasukan yang membawa bendera merah putih dan NU dalam ukuran biasa. Di depan mereka akan ada 10 grup yang menabuh drum band dan 10 grup drum band pula di belakang mereka.

Koordinator pembuatan bendera itu,Muhammad Hirjan, membenarkan penjelasan Lalu Winengan. Namun, hal itu adalah opsi pertama. Karena cuaca mudah berubah, bisa jadi akan ada opsi lain, bendera itu tidak diarak, melainkan hanya dibentangkan di lapangan. 

Selain bendera itu, Panitia Daerah telah memasang sekitar 15 ribu bendera dan sekitar 1500 umbul-umbul dan banner di titik-titik strategis jalan kota Mataram, Nusa, sejak seminggu lalu. 

Pantauan NU Online, dari Bandara Internasional Lombok hingga memasuki Mataram, bendera dan umbul-umbul itu terpasang di pinggir jalan dengan jarak sekira tiap 3 sampai 4 meter. Di antara bendera-bendera itu terpampang potret-potret tokoh NU dari tingkat nasional dan daerah Lombok sendiri.

Di antara banner ada ucapan selamat datang peserta Munas dan Konbes NU 2017, khususnya kepada Presiden Joko Widodo yang dijadwalkan akan membuka kegiatan itu pada Kamis (23/11).


Resource Berita : nu.or.id
Amru, Hafal Alquran Ketika Masih Kafir

Amru, Hafal Alquran Ketika Masih Kafir



WartaIslami ~ Kecenderungan, kecintaan, dan tabi’at para sahabat terhadap agama, membuat mereka melakukan hal-hal yang terkadang sulit dilakukan manusia di zaman sekarang. Ada sahabat, bernama Amru bin Salmah ra yang dalam usia muda dan dalam keadaan kafir mampu menghafal banyak ayat Alquran.

Dikisahkan dari buku “Himpunan Fadhilah Amal” karya Maulana Muhammad Zakariyya al-Kandahlawi Rah.a bahwa Amru ra dan keluarganya tinggal di suatu tempat dekat jalan yang menuju Madinah. Orang-orang senantiasa melewati tempat itu. Jika ada yang kembali dari Madinah, mereka akan menanyai keadaan di sana, juga tentang orang yang mengaku nabi. Lalu orang-orang itu menjelaskan bahwa Nabi itu telah bersabda, “Telah turun kepadaku wahyu Ilahi. Ayat itu telah diturunkan.”

Ketika itu Amru ra masih kecil, dan selalu mengingat ayat-ayat yang diucapkan oleh orang-orang tersebut. Begitulah keadaannya sebelum masuk Islam, Amru ra telah banyak mengingat ayat-ayat Alquran.“Orang-orang Arab yang akan masuk Islam menunggu orang Makah masuk Islam. Ketika terbukti Makkah dapat dikuasai oleh kaum Muslimin, orang-orang berbondong-bondong memeluk Islam.”

Ayahnya dan beberapa orang kaumnya datang kepada Nabi SAW sebagai utusan. Beliau mengajari syariat-syariat Islam dan cara-cara shalat, juga cara shalat berjamaah. Nabi SAW bersabda, “Hendaknya yang berhak menjadi imam suatu kaum adalah yang paling banyak dan paling baik bacaan kitabullah (alquran), jika dalam bacaan sama, maka yang paling dahulu hijrah, jika mereka dalam hijrah sama, maka yang lebih dewasa. (HR. Muslim)

Karena Amru ra suka menghafal ayat-ayat Alquran melalui orang-orang yang lewat dari Madinah, maka ia lah orang yang paling banyak menghafal Alquran. “Setelah dicari di antara kami siapakah orang yang paling banyak hafal Alquran, ternyata tidak ada orang lain selainku. Akhirnya, akulah yang dijadikan imam oleh mereka. Ketika itu aku baru berumur 7 tahun. Apabila ada shalat jamaah atau shalat jenazah, akulah yang dijadikan imam.”

Mengenai anak kecil (yang belum baligh) mengimani orang dewasa merupakan masalah fiqih. Sebagian ulama ada yang membolehkannya, sebagian lagi ada yang membolehkannya jika terpaksa. Sebagian lagi ada yang berpendapat tidak dibolehkan sama sekali. Wallahualam


Resource Berita : republika.co.id
Ketika Cucu Rasulullah Diejek Orang Lain

Ketika Cucu Rasulullah Diejek Orang Lain



WartaIslami ~ Ini zaman di mana “mengejek” dibalas “ejekan”. Jadilah generasi saling mengejek. Lalu bedanya kita apa? Pastinya tidak ada bedanya. Alangkah indahnya menanyakan kepadanya, kemudian memberikan wejangan kepadanya. Banyak cara memberikan wejangan tanpa mengejeknya kembali.

Dan apabila mereka mendengar perkataan yang buruk, mereka berpaling darinya dan berkata, “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amal kamu, salam bagimu, kami tidak ingin (bergaul) dengan orang-orang bodoh” (Qs. al-Qashas [28]: 55).

Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, “salam,” (Qs. al-Furqan [25]: 63).

Dalam pepatah Arab yang terkenal, manakala sudah tepat bahwa ejekan itu tertuju kepada kita dan bukan kepada lain orang, maka bersikaplah: “Kesabaranku itu tuli walaupun telingaku bisa mendengar”. Maksudnya, ejekan itu tak bisa dipungkiri adanya, kita dengar dan mengusik hati kita, tapi bersikaplah seperti seorang tuli yang acuh atas ejekan itu.

Ada kisah menarik tentang sikap seorang berjiwa besar, namanya Baqir, yang diejek seseorang dengan sebutan “baqor”. Kata “baqar” dalam al-Qur’an merujuk kepada surah al-Baqarah, yang bermakna “Sapi”. Orang yang diejek itu merupakan cucu junjungan kita, Rasulullah SAW saat didatangi seseorang yang beragama Kristen.

Tiba-tiba ia berkata, “Kamu adalah Baqor (sapi)”.

Beliau menjawab, “Tidak, saya Baqir”.

“Kamu anak dari tukang masak itu?” Bentaknya.

“Benar, itulah pekerjaan ibuku.” Jawab Baqir tanpa memperlihatkan wajah yang musam.

“Kamu adalah putra dari wanita hitam yang berbuat nista.” Pungkasnya.

“Jika kamu benar, semoga Allah mengampuni ibuku. Jika kamu salah, semoga Allah mengampunimu.” Jawab Baqir.

Seketika orang itu menangis melihat kesabaran Al-Baqir dan meminta maaf kepada beliau. Saat itu juga ia masuk Islam.


Resource Berita : dutaislam.com
Debat Imam Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal Tentang Meninggalkan Shalat

Debat Imam Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal Tentang Meninggalkan Shalat



WartaIslami ~ Dalam kitab Tadzkirah al-Auliya’, Fariduddin Attar merekam diskusi Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal tentang kedudukan orang yang meninggalkan shalat. Diceritakan:

أنه ذهب أحمد بن حنبل إلي أنّ تارك صلاة واحدة عمدا يكفر, عملا بظاهر الحديث: (من ترك صلاة متعمّدا فقد كفر). قال له الشافعي رضي الله عنه: إذا ترك أحد صلاة عمدًا وكفر كما هو مذهبك, كيف يعمل ليرجع إلي الإسلام؟ قال: يصلي. قال الشافعي رضي الله عنه: فكيف تصحّ الصلاة من الكافر؟! فانقطع أحمد عن الكلام.

Madzhab Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan orang yang meninggalkan shalat satu kali saja dengan sengaja, dia dihukumi kafir. Dasarnya adalah zahir teks hadits: “Barangsiapa yang meninggalkan shalat dengan sengaja, dia telah kafir.”

Imam Syafi’i berkata kepadanya: “Jika seseorang yang meninggalkan shalat dengan sengaja dihukumi kafir seperti madzhabmu (pendapatmu), bagaimana cara orang tersebut kembali pada Islam?”

Imam Ahmad bin Hanbal menjawab: “Melakukan shalat.”

Imam Syafi’i berkata lagi: “Bagaimana mungkin shalat orang kafir dipandang sah?!”

Kemudian Imam Ahmad bin Hanbal diam, tidak mengatakan apa-apa lagi. (Fariduddin Attar, Tadzkirah al-Auliyâ’, alih bahasa Arab oleh Muhammad al-Ashîliy al-Wasthâni al-Syâfi’i (836 H), Damaskus: Darul Maktabi, 2009, hlm 272).

Perbedaan pendapat adalah hal yang lumrah dalam dunia akademik. Jika tidak ada perbedaan pendapat, khazanah keilmuan kita tidak akan sekaya ini. Kitab-kitab keagamaan akan terlihat ramping. Tidak ada kitab yang berjilid-jilid dan kaya informasi. Dari sudut pandang ini, perbedaan pendapat adalah rahmat, bentuk kasih sayang Tuhan yang Maha Berpengetahuan kepada umat manusia. Tinggal bagaimana kita melestarikannya.

Kisah di atas mengajarkan kita pentingnya untuk mengetahui bagaimana proses hukum fiqih terjadi. Misalnya hadits riwayat Imam Muslim yang mengatakan, “al-ghuslu yaum al-jum’ah wâjibun ‘ala kulli muhatalimin—mandi hari jumat wajib bagi setiap muslim yang telah baligh.”

Zahirnya jelas mengatakan kewajiban mandi Jumat, tapi mayoritas ulama menghukuminya sunnah, meski ada juga yang menghukuminya wajib seperti Madzhab Dzahiri. Kenapa hal ini bisa terjadi? Karena ulama tidak gegabah mengambil kesimpulan tanpa melakukan telaah mendalam. Dalam kasus mandi Jumat, para ulama harus mempertimbangkan zahir hadits lainnya.

مَنْ تَوَضَّأَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَبِهَا وَنِعْمَتْ وَمَنِ اغْتَسَلَ فَالْغُسْلُ أَفْضَلُ

“Barangsiapa yang berwudlu di hari jumat maka cukup baginya dan baik. Barangsiapa yang mandi jumat, maka mandi itu lebih utama.” (H.R. Imam Tirmidzi dan Imam Abu Daud)

Atas dasar hadits di atas, mayoritas ulama mengatakan bahwa mandi Jumat hukumnya sunnah, bukan wajib. Begitupun dengan diskusi Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal tentang kedudukan orang yang meninggalkan shalat.

Imam Syafi’i tentunya tahu dasar argumentasi Imam Ahmad bin Hanbal. Tapi Ia pun tidak bisa mengabaikan hadits tentang larangan mudahnya mengkafirkan orang (HR. Imam Muslim): “man da’â rajulan bi al-kufr aw qâla ‘aduwwa Allah wa laisa kadzalik illâ hâra ilaih—barang siapa yang mendakwa seseorang dengan kekufuran, atau menyebutnya musuh Allah, sedangkan dia tidak seperti itu, hal tersebut akan kembali pada yang mengucapkannya.”

Dalam Madzhab Syafi’i, orang yang meninggalkan shalat bisa dikatakan kafir ketika dia meninggalkannya karena mengingkari kewajiban shalat (jâhidan li wujûbihi). Akan tetapi, jika meninggalkannya karena malas (kaslan) dan menyepelekan (tahâwun), orang tersebut tidak dihukumi kafir, tetapi berdosa. (Fariduddin Attar, 2009, 272).

Karena itu sangat penting untuk memahami keragaman hukum fikih untuk memperluas pengetahuan kita. Orang yang berpengetahuan luas, biasanya tidak akan mempersulit tapi mempermudah, seperti kisah ulama-ulama kita di masa lalu. Memberikan hukum yang paling mudah untuk masyarakat umum, dan memberikan hukum yang paling berat untuk dirinya sendiri.

Kisah di atas mengajarkan kita beberapa hal. Pertama, jangan mudah menyalahkan amalan orang lain, siapa tahu dia mempunyai dasar hukum dalam amalannya itu. Kedua, pentingnya mempelajari mekanisme pengambilan hukum fiqih (ushul fiqih), agar pemahaman kita terhadap zahir teks lebih dekat dengan pemahaman yang benar.

Ketiga, pentingnya mengetahui keragaman pendapat ulama. Ketika perbedaan pendapatnya masih dalam wilayah furu’iyyah, tidak perlu menyalahkan satu sama lain. Setiap pendapat memiliki dasarnya sendiri-sendiri.

Tergantung pada kekuatan nalar kita. Kita diberi kebebasan untuk memilih mana pendapat yang lebih kuat, meski belum tentu pendapat yang menurut kita lebih kuat, lebih benar dari pendapat lainnya.

Keempat, pintu taubat selalu terbuka. Imam Syafi’i enggan menyebut orang yang meninggalkan shalat sebagai orang kafir. Ia memandang semua manusia memiliki kesempatan yang sama untuk kembali kepada Allah. Pendekatannya tidak menakuti orang-orang yang terlanjur bermaksiat, tapi merangkul mereka.

Kelima, mencari kebenaran, bukan kemenangan. Pada akhir diskusi, Imam Ahmad bin Hanbal diam. Artinya, Ia membenarkan pendapat Imam Syafi’i. Ia tidak ngotot mempertahankan pendapatnya, tapi menerimanya dengan tidak melakukan bantahan. Karena yang mereka cari dari debat atau diskusi tersebu bukanlah kemenangan atau kemewahan intelektual, melainkan kebenaran.

Pertanyaannya, seberapa banyak kita luangkan waktu kita untuk belajar dengan guru yang benar-benar mumpuni? Jika belum, kenapa kita mudah mengomentari wilayah di luar keahlian kita, bahkan menyalahkannya? Semoga kita semua terhindar dari hal tersebut. Amin.


Resource Berita : nu.or.id
Menghafal atau Membaca Mushaf Al-Qur’an yang Lebih Utama?

Menghafal atau Membaca Mushaf Al-Qur’an yang Lebih Utama?



WartaIslami ~ Membaca Al-Qur’an bernilai ibadah. Nabi menyebutkan bahwa pembacanya mendapat sepuluh kebaikan untuk setiap hurufnya. Al-Qur’an pun menjadi kitab suci yang dihafal, terlebih untuk ibadah shalat karena setidaknya seorang Muslim perlu menghafal surat al-Fatihah dan beberapa surat pendek untuk menambah keutamaan shalat.

Menghafal Al-Qur’an hingga 30 juz tentu sebuah kemuliaan. Dengan menghafal Al-Qur’an, seorang Muslim diharapkan lebih memahami pesan keagamaan di dalamnya. Selain itu, banyak sekali hadis Nabi maupun petuah ulama yang menyebutkan bahwa menghafalkan Al-Qur’an mendapat suatu kelebihan dibanding yang tidak menghafalkan.

Terlepas dari semua itu, manakah yang lebih mulia, membacanya dengan cara hafalan atau bil ghaib, atau dengan cara melihat mushaf yang populer disebut bin nazhar?

Imam Jalaludin As Suyuthi mencatat tentang hal ini dalam kitabnya al-Itqân fi ‘Ulûmil Qur’ân. Sebagai satu kitab populer dalam kajian ilmu Al-Qur’an, Imam As-Suyuthi menyebutkan bahwa tujuan membaca Al-Qur’an yang paling utama itu adalah memahami dan men-tadabburi (merenungi) maknanya. Moco Al-Qur’an angen-angen sak maknane, sebagaimana dalam syair populer Tombo Ati.

Tentu saja bagi penghafal ataupun pembaca Al-Qur’an dengan mushaf, hal ini patut diperhatikan. Imam As Suyuthi lebih mengutamakan membaca secara bin nazhar daripada bil ghaib. Dengan membaca mushaf, menurut Imam As-Suyuthi, seseorang bisa memerhatikan betul huruf-huruf yang ada, sehingga tujuan tadabbur dan memahami makna Al-Qur’an ini bisa tercapai.

الْقِرَاءَةُ فِي الْمُصْحَفِ أَفْضَلُ مِنَ الْقِرَاءَةِ مِنْ حِفْظِهِ لِأَنَّ النَّظَرَ فِيهِ عِبَادَةٌ مَطْلُوبَةٌ.

“Membaca Al-Qur’an di mushaf itu lebih utama dari membacanya secara hafalan karena ketika melihatnya terdapat nilai ibadah tersendiri yang dicari.”

Kendati begitu, Imam an-Nawawi dalam kitabnya al-Adzkâr memberikan jalan tengah bahwa keutamaan membaca mushaf secara langsung atau secara hafalan tergantung masing-masing personal.

وَلَوْ قِيلَ إِنَّهُ يَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ الْأَشْخَاصِ فَيُخْتَارُ الْقِرَاءَةُ فِيهِ لِمَنِ اسْتَوَى خُشُوعُهُ وَتَدَبُّرُهُ فِي حَالَتَيِ الْقِرَاءَةِ فِيهِ وَمِنَ الْحِفْظِ وَيُخْتَارُ الْقِرَاءَةُ مِنَ الْحِفْظِ لِمَنْ يَكْمُلُ بِذَلِكَ خُشُوعُهُ وَيَزِيدُ عَلَى خُشُوعِهِ وَتَدَبُّرِهِ لَوْ قَرَأَ مِنَ الْمُصْحَفِ لَكَانَ هَذَا قَوْلًا حَسَنًا.

“Bagi orang yang menyatakan bahwa keutamaan cara membaca itu berbeda tergantung tiap orang, maka hendaknya orang yang mengetahui bahwa ia akan lebih khusyuk dan mudah bertadabbur dengan membaca mushaf secara langsung. Bagi yang membaca Al-Qur’an secara hafalan, dan lebih sempurna khusyuk dan tadabbur-nya, maka hendaknya membaca secara hafalan. Tapi jika orang yang menghafal ini membaca mushaf secara langsung, maka itu juga termasuk sesuatu yang baik.

Dari keterangan di atas, tentu hal yang penting adalah merutinkan membaca Al-Qur’an. Hafalan atau bin nazhar, tergantung dari kemampuan dan kesempatan masing-masing. Setelah bisa membaca, tentu seseorang berusaha semampunya dan sesempatnya, untuk mempelajari maknanya. Semoga Al-Qur’an menjadi penolong kita kelak. Wallahu a’lam.


Resource Berita : nu.or.id
Masihkah Manusia Bersyahwat di Padang Mahsyar?

Masihkah Manusia Bersyahwat di Padang Mahsyar?



WartaIslami ~ Dahulu saat masih kanak-kanak, kita mendapatkan kisah-kisah tentang adanya hari dikumpulkan di tempat yang luas bersama seluruh manusia (yaumul mahsyar). Di tempat ini, semua manusia akan dikumpulkan dalam keadaan telanjang.

Mendapatkan keterangan di atas, pikiran kita sebagai manusia normal pasti akan berpikir macam-macam. Lalu timbul berbagai pertanyaan di benak kita. Benarkah nanti saat di padang mahsyar, manusia akan bernafsu melihat lawan jenis telanjang?

Pertanyaan semacam ini sebenarnya sudah pernah ditanyakan oleh sahabiyah secara langsung kepada Rasulullah SAW tepatnya dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah RA.

قالت: سمعت رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يقول: (يحشر الناس يوم القيامة حفاة عراة غُرْلاً) قلت: يا رسول الله، الرجال والنساء جميعاً ينظر بعضهم إلى بعض؟، قال: (يا عائشة الأمر أشد من أن يُهمهم ذلك)، وفي رواية: (الأمر أهم من أن ينظر بعضهم إلى بعض)، متفق عليه.

Artinya, “Aisyah berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan tanpa sandal, telanjang tanpa pakaian dan tanpa disunat.’ Kemudian aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah para laki-laki dan perempuan saling memandang satu sama lain?’ Rasulullah pun menjawab, ‘Wahai Aisyah masalah yang akan dihadapi lebih penting dari pada hal itu.’ Dalam riwayat lain, ‘Masalah yang akan dihadapi lebih penting daripada sekedar saling melihat satu dengan yang lain,’” (HR Muttafaq Alaih).

Dengan sikapnya yang kritis, Aisyah telah terlebih dahulu bertanya tentang hal itu daripada kita. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya pada saat itu manusia memiliki nafsu untuk melihat dengan syahwat lawan jenisnya. Akan tetapi karena masalah yang akan dihadapi pada saat itu lebih berat daripada sekadar melihat lawan jenis, akhirnya manusia lebih fokus terhadap masalah besar tersebut sehingga saat itu sama sekali tidak terpikirkan oleh manusia untuk melihat lawan jenisnya.

Hadits di atas diperkuat dengan pendapat beberapa ulama, salah satunya adalah Imam Syamsuddin Al-Ramli dalam kitabnya, Nihayatul Muhtaj ila Syarhil Minhaj, menyatakan bahwa manusia pada saat itu tidak akan sempat berpikir demikian karena beban berat yang akan ditanggung setelahnya.

قَوْلُهُ : لَا يَعْرِفُ الرَّجُلُ أَنَّهُ رَجُلٌ إلَخْ ) أَيْ لِشِدَّةِ الْهَوْلِ وَانْتِظَارِهِ مَا يَحْصُلُ لَهُ مِنْ الْفَرَجِ مِنْ اللَّهِ تَعَالَى حَتَّى تَصِيرَ عَيْنَاهُ لِكَثْرَةِ تَطَلُّعِهِ لِمَا يَحْصُلُ كَأَنَّهُمَا فِي رَأْسِهِ

Artinya, “Maksud perkataan Nabi, ‘Seorang laki-laki tidak akan sadar bahwa dirinya laki-laki dan seterusnya,’ adalah karena intensitas ketakutan yang tinggi ada saat itu dan para manusia menunggu kelapangan yang ia dapatkan dari Allah sehingga matanya hanya sering memandang sesuatu yang ia pikirkan dalam kepalanya.”

Maka dari itu, saat dikumpulkan di padang mahsyar, semua orang mengalami ketakutan yang tinggi atas apa yang akan terjadi pada dirinya. Apakah Allah akan mengampuninya atau akan mengazabnya sehingga tidak ada keinginan sama sekali untuk berbuat yang tidak senonoh, walaupun semua oang dalam keadaan telanjang. Wallahu a‘lam.


Resource Berita : nu.or.id
Hukum Khutbah Berbahasa Indonesia

Hukum Khutbah Berbahasa Indonesia



WartaIslami ~ Salah satu syarat keabsahan shalat Jumat adalah didahului dengan dua khutbah. Kewajiban dua khutbah ini disepakati oleh seluruh ulama selain pendapat Hasan al-Bashri yang berpendapat bahwa hal itu sekadar berhukum sunnah.

Kewajiban khutbah Jumat berdasarkan hadits Nabi:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْطُبُ قَائِمًا ثُمَّ يَجْلِسُ ثُمَّ يَقُومُ فَيَخْطُبُ قَائِمًا

“Rasulullah Saw berkhutbah dengan berdiri kemudian duduk, kemudian berdiri lagi melanjutkan khutbahnya.” (HR Muslim)

Awal mulanya khutbah Jumat disyariatkan setelah pelaksanaan shalat Jumat. Kemudian berubah menjadi sebelum shalat. Saat penduduk Madinah mengalami lapar, datang Dihyah bin Khalifah al-Kalbi membawa barang dagangan dari Syam di saat mereka sedang mendengarkan khutbah Jumat Nabi Saw. Mereka sama beranjak dari tempat khutbah untuk menghampiri Dihyah, hingga tidak tersisa dari mereka kecuali 8 orang.

Melihat sahabatnya beranjak dari masjid, Nabi SAW bersabda, “Demi dzat yang jiwaku berada di kekuasaanNya. Andai mereka bubar semuanya, niscaya lembah menyalakan api untuk menimpa mereka.” Setelah peristiwa tersebut, khutbah Jumat diajukan sebelum pelaksanaan shalat Jumat (keterangan dari Sayyid Muhammad Abdullah al-Jardani, Fath al-‘Alam, juz 3, hal. 50-51, Dar al-Salam-Kairo, cetakan keempat tahun 1990).

Dalam madzhab Syafi’i, khutbah memiliki 5 rukun, yaitu membaca hamdalah, shalawat, wasiat takwa (tiga rukun ini wajib dibaca di kedua khutbah), ayat suci al-Qur’an dan doa untuk kaum Muslimin (2 rukun terakhir ini wajib dibaca di salah satu kedua khutbah).

Dalam membaca rukun-rukun tersebut, disyaratkan menggunakan bahasa Arab. Disyaratkan pula tartib dan terus menerus tanpa adanya pemisah (muwalah) di antara kelima rukun tersebut.

Namun, selain bacaan-bacaan khutbah yang menjadi rukun khutbah, diperbolehkan menggunakan bahasa non-Arab, seperti yang terlaku di negara kita, isi khutbah biasanya menggunakan bahasa Indonesia. Hal tersebut diperbolehkan dan tidak dapat memutus kewajiban muwalah (terus menerus) di antara rukun-rukun khutbah.

Syekh Abu Bakr bin Syatha’ mengatakan:

وَشُرِطَ فِيْهِمَا عَرَبِيَّةٌ لِاتِّبَاعِ السَّلَفِ وَالْخَلَفِ ( قوله وشرط فيهما ) أَيْ فِيْ الْخُطْبَتَيْنِ وَالْمُرَادُ أَرْكَانُهُمَا كَمَا فِي التُّحْفَةِ ...الى أن قال....وَكَتَبَ سم مَا نَصُّهُ قَوْلُهُ دُوْنَ مَا عَدَاهَا يُفِيْدُ أَنَّ كَوْنَ مَا عَدَا الْأَرْكَانَ مِنْ تَوَابِعِهَا بِغَيْرِ الْعَرَبِيَّةِ لَا يَكُوْنُ مَانِعًا مِنَ الْمُوَالَاةِ اه قال ع ش وَيُفْرَقُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ السُّكُوْتِ بِأَنَّ فِي السُّكُوْتِ إِعْرَاضًا عَنِ الْخُطْبَةِ بِالْكُلِّيَّةِ بِخِلَافِ غَيْرِ الْعَرَبِيِّ فَإِنَّ فِيْهِ وَعْظًا فِي الْجُمْلَةِ فَلَا يَخْرُجُ بِذَلِكَ عَنْ كَوْنِهِ فِي الْخُطْبَةِ اهـ

“Disyaratkan dalam dua khutbah memakai bahasa Arab, maksudnya hanya rukun-rukunnya saja seperti keterangan dalam kitab al-Tuhfah, karena mengikuti ulama salaf dan khalaf. Syaikh Ibnu Qasim menulis, kewajiban memakai bahasa Arab terbatas untuk rukun-rukun khutbah memberi kesimpulan bahwa selain rukun-rukun khutbah yaitu beberapa materi yang masih berkaitan dengan khutbah yang diucapkan dengan selain bahasa Arab tidak dapat mencegah kewajiban muwalah di antara rukun-rukun khutbah. Syaikh Ali Syibramalisi mengatakan, hal ini dibedakan dengan diam yang lama yang dapat memutus muwalah karena di dalamnya terdapat unsur berpaling dari khutbah secara keseluruhan. Berbeda dengan isi khutbah dengan selain bahasa Arab yang di dalamnya terdapat sisi mau’izhah secara umum, sehingga tidak mengeluarkannya dari bagian khutbah.” (Syaikh Abu Bakr bin Syatha, I’ânatut Thâlibîn, juz.2, hal.117, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, cetakan ketiga, tahun 2007)

Demikianlah hukum berkhutbah dengan bahasa Indonesia, juga dengan bahasa-bahasa non-Arab lainnya. Ia diperbolehkan sepanjang rukun-rukun khutbah tetap menggunakan bahasa Arab. Semoga bermanfaat.


Resource Berita : nu.or.id
Tujuh Hal yang Dimakruhkan saat Wudhu

Tujuh Hal yang Dimakruhkan saat Wudhu



WartaIslami ~ Wudhu adalah salah satu hal yang harus dilakukan sebelum melakukan shalat. Wudhu merupakan sarana untuk membersihkan diri dari hadats kecil, yang mana membersihkan hadats kecil adalah bagian dari syarat sah shalat sehingga tanpa wudhu shalat yang dikerjakan tidak sah.

Selain memiliki rukun dan kesunahan, ada beberapa hal yang dimakruhkan ketika berwudhu. Musthafa Al-Khin dan Musthafa Al-Bugha menjelaskan secara rinci tujuh hal yang dimakruhkan dalam wudhu dalam karyanya yang berjudul Fiqhul Manhaji ala Madzhabil Imamis Syafi’i sebagaimana berikut:

Pertama, boros dalam menggunakan air atau terlalu sedikit menggunakan air. Hal tersebut dimakruhkan karena bertentangan dengan sunah.

Hal ini sebagaimana disebutkan bahwa Allah SWT berfirman:

ولا تسرفوا إنه لا يحب المسرفين

Artinya, “Janganlah kalian berperlaku boros karena sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang boros.”

Kedua, mendahulukan basuhan tangan kiri daripada tangan kanan, atau mendahulukan membasuh kaki kiri daripada kaki kanan. Hal ini dimakruhkan karena bertentangan dengan perilaku yang dipraktikkan oleh Nabi Muhammad SAW tentang kesunahan tayamun (mendahulukan anggota kanan).

Ketiga, mengusap anggota wudhu dengan handuk kecuali karena ada udzur, misalkan karena kedinginan sehingga ketika air wudhu dibiarkan saja mengalir di anggota wudhu akan menjadikan kita menggigil dan sakit.

Sebagaimana ketika diberikan handuk, Rasulullah SAW tidak mau memakainya, (HR Muslim).

Keempat, memukul wajah dengan air, karena hal tersebut dapat menghilangkan kemuliaan wajah.

Kelima, menambah jumlah basuhan lebih dari tiga kali dengan yakin (yakni bukan karena ragu telah membasuh sebanyak tiga kali atau tidak), atau sebaliknya, malah mengurangi dengan yakin.

Karena Rasulullah SAW pernah bersabda setelah berwudhu sebanyak tiga kali-tiga kali:

هكذا الوضوء فمن زاد علي هذا أو نقص فقد أساء وظلم

Artinya, “Beginilah cara berwudhu, barangsiapa yang menambah atau mengurangi (jumlah tiga kali setiap basuhan) maka dia telah berbuat buruk dan zhalim,” (HR Abu Dawud).

Menguatkan hadits di atas, Imam An-Nawawi dalam Majmu’-nya mengatakan bahwa hadits tersebut shahih. Ia juga mengatakan bahwa siapa yang melanggar hadits tersebut, berarti ia telah melanggar sunah.

ومعناه أن من اعتقد أن سنة أكثر من ثلاث أو أقل منها، فقد أساء وظلم، لأنه قد خالف السنة التي سنها النبي صلي الله عليه وسلم

Artinya, “Makna hadits tersebut bahwa barangsiapa yang berkeyakinan bahwa sunah adalah membasuh atau mengusap lebih dari tiga kali atau lebih sedikit, maka ia telah berbuat buruk dan zhalim karena ia telah melanggar sunah yang telah diajarkan Nabi Muhammad SAW.”

Keenam, meminta tolong orang lain untuk membasuhkan anggota badan kita tanpa uzur (misalnya karena sakit dan lain sebagainya), karena hal ini merupakan salah satu bentuk takabbur (kesombongan) yang dapat menghilangkan kesan peribadatan.

Ketujuh, terlalu banyak atau berlebih dalam berkumur atau menyerap air ke dalam hidung bagi orang yang berpuasa. Hal ini ditakutkan air masuk kedalam rongga tenggorokan dan membatalkan puasanya.

Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:

وبالغ في الإستنشاق الا أن تكون صائما

Artinya, “Berlebih-lebihlah dalam istinsyaq (menyerap air ke dalam hidung) kecuali ketika kalian sedang berpuasa.”

Selain tujuh hal di atas, Syekh Abdullah bin Abdurrahman Bafadhl Al-Hadhrami (wafat 918 H) dalam kitabnya yang berjudul Al-Muqaddimah Al-Hadhramiyyah juga memakruhkan menyela-nyelati jenggot yang tebal bagi orang yang sedang ihram, karena dikhawatirkan ada jenggot yang rontok setelah disela-selati.

Namun hal ini dibantah oleh Ibnu Hajar Al-Haitami (wafat 974 H) dalam Al-Minhajul Qawim yang merupakan syarah dari kitab Al-Muqaddimah Al-Hadhramiyyah.

ويكره ترك تخليل اللحية الكثة لغير المحرم "وتخليل اللحية الكثة للمحرم" لئلا يتساقط منها شعر وهذا ضعيف والمعتمد أنه يسن تخليلها حتى للمحرم لكن برفق

Artinya, “Hukumnya makruh jika tidak menyela-nyelati jenggot yang tebal bagi orang yang tidak berihram, juga dimakruhkan menyela-nyelati jenggot yang tebal bagi orang yang sedang ihram agar bulu jenggot tersebut tidak rontok. Tetapi pendapat ini lemah. Pendapat yang benar adalah tetap disunahkan menyela-nyelati jenggot bahkan bagi orang yang ihram, tetapi sebaiknya dilakukan dengan pelan-pelan.”

Hal-hal di atas memang merupakan hal yang makruh saja, yakni walaupun dikerjakan tidak membatalkan wudhu kita. Tetapi, akan lebih baik jika hal-hal yang dimakruhkan sebagaimana yang telah disebutkan di atas dijauhi dan dihindari agar wudhu kita mencapai kesempurnaan. Wallahu a‘lam.


Resource Berita : nu.or.id
close
Banner iklan disini