Ada Sumur Zamzam Baru, Ini Kata Otoritas Masjidil Haram...

Ada Sumur Zamzam Baru, Ini Kata Otoritas Masjidil Haram...



WartaIslami ~ Kantor Kepresidenan untuk Urusan Dua Masjid Suci (Masjidil Haram dan Masjid Nabawi) telah membantah laporan tentang penemuan mata air baru yang terkait dengan Sumur Zamzam. Juru bicara kantor kepresidenan tersebut, Ahmad Al-Mansouri, mengatakan, bahwa sumber mata air yang terlihat dalam video viral yang beredar di media sosial adalah bagian dari sumur tua.

"Yang mana, sumur tua itu tidak ada hubungannya dengan sumur Zamzam," kata Mansouri. Dilansir dari Saudi Gazette, Rabu (13/12), penemuan sumber mata air baru tersebut terletak 40 meter dari sumber alami sumur Zamzam. Sumur Zamzam ini terletak 20 meter di sebelah timur Ka'bah.

Rekaman video dari sumber mata air itu kabarnya diunggah oleh seorang pekerja yang terlibat dalam pengerjaan penggalian yang tengah berlangsung di dekat sumur Zamzam. Dalam video itu, pekerja tersebut mengklaim bahwa sumur tua itu adalah sumber Zamzam yang baru ditemukan.



Resource Berita : ihram.co.id
Ini Menara Masjid Tertinggi di Dunia

Ini Menara Masjid Tertinggi di Dunia



WartaIslami ~ Masjid Hasan II di Casablanca, Maroko, tercatat sebagai masjid dengan menara tertinggi di dunia. Menaranya seakan mencakar langit dengan ketinggian mencapai 210 meter. Dirancang oleh arsitektur asal Prancis, Michel Pinseau, masjid ini dibangun oleh Bouyges pada 1980. Setiap malam, di puncak menara, diterdapat sinar laser yang mengarah ke Makkah.

Bangunannya megah dan luas yang menghadap ke perairan Atlantik. Masjid ini berdiri di sebuah semenanjung hasil reklamasi. Pembangunan Masjid Hasan II Maroko terinspirasi oleh ayat Alquran, "Singgasana Tuhan dibangun di atas air." Boleh dikata, ini merupakan tempat ibadah umat Islam terbesar kedua setelah Masjidil Haram di Makkah.

Itu cukup beralasan. Maklum, selain memiliki menara yang paling tinggi di dunia saat ini, Masjid Hasan II memiliki kapasitas yang amat besar yang bisa menampung lebih dari 30.000 jamaah. Jumlah ini meliputi sekitar 25.000 jamaah di dalam masjid, selebihnya di luar masjid. Sebagian lantainya menggunakan kaca sehingga setiap orang yang beribadah di masjid itu seakan-akan bisa bersujud di atas laut.

Tidak hanya itu, Masjid Hasan II juga dilengkapi dengan sentuhan modern, seperti kubah yang bisa bergerak, pemanas lantai, antigempa bumi, dan pintu elektrik. Interiornya secara khusus dirancang dan dibangun atas permintaan Raja Hasan II. Pada sebuah kesempatan, Raja Hasan II pernah berkata, "Aku ingin membangun masjid ini di atas air sebab singgasana Tuhan berada di atas air sehingga orang yang beriman akan mendatanginya untuk sembahyang dan memuji Sang Pencipta sembari merenungkan langit dan lautan yang diciptakan-Nya."


Resource Berita : republika.co.id
Memahami Amar Ma’ruf Nahi Munkar secara Benar

Memahami Amar Ma’ruf Nahi Munkar secara Benar



WartaIslami ~ Pada hakikatnya amar ma’ruf nahi munkar merupakan bagian dari upaya menegakkan agama dan kemaslahatan di tengah-tengah umat. Secara spesifik amar ma’ruf nahi munkar lebih dititiktekankan dalam mengantisipasi maupun menghilangkan kemunkaran, dengan tujuan utamanya menjauhkan setiap hal negatif di tengah masyarakat tanpa menimbulkan dampak negatif yang lebih besar.

Menerapkan amar ma’ruf mungkin mudah dalam batas tertentu tetapi akan sangat sulit apabila sudah terkait dengan konteks bermasyarakat dan bernegara. Oleh karena itu orang yang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar harus mengerti betul terhadap perkara yang akan ia tindak, agar tidak salah dan keliru dalam bertindak.

Syekh an-Nawawi Banten di dalam kitab beliau, Tafsir Munir berkata, “Amar ma’ruf nahi munkar termasuk fardlu kifayah. Amar ma’ruf nahi munkar tidak boleh dilakukan kecuali oleh orang yang tahu betul keadaan dan siasat bermasyarakat agar ia tidak tambah menjerumuskan orang yang diperintah atau orang yang dilarang dalam perbuatan dosa yang lebih parah. Karena sesungguhnya orang yang bodoh terkadang malah mengajak kepada perkara yang batil, memerintahkan perkara yang munkar, melarang perkara yang ma’ruf, terkadang bersikap keras di tempat yang seharusnya bersikap halus dan bersikap halus di dalam tempat yang seharusnya bersikap keras.” (Syekh an-Nawawi al-Jawi, Tafsir Munir, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2005, cetakan ketiga,  jilid II, halaman 59)

Terlebih dalam persoalan yang berpotensi menimbulkan problematika sosial keamanan yang lebih besar. Dalam kemungkaran seperti ini kewenangan amar ma’ruf nahi mungkar tidak diserahkan pada perseorangan ataupun kelompok, akan tetapi hanya diserahkan kepada pemerintah. Dan pemerintah harus menerapkan kebijakan atas dasar prinsip maslahat dengan tetap dilandasi nilai-nilai agama yang benar.

Tahapan Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Selain itu, beberapa tahapan atau prosedur harus dilakukan dalam realisasi pelaksanaan amar ma’ruf. Tidak semudah kita menaiki tangga, akan tetapi harus melalui tahapan yang paling ringan, baru kemudian melangkah pada hal yang agak berat.

Baginda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِّهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيْمَانِ

“Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran, maka hendaknya ia menghilangkannya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Orang yang tidak mampu _dengan lisannya_, maka dengan hatinya. Dan dengan hati ini adalah lemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Maksud dari hadits ini bukanlah seperti yang banyak disalahpahami oleh orang-orang yang beranggapan bahwa kalau mampu menghilangkan dengan tangan maka harus langsung dengan tangan. Anggapan seperti ini salah besar dan bertentangan dengan nilai rahmat (belas kasih) di dalam Islam. Akan tetapi pemahaman yang benar dari hadits di atas adalah, seseorang yang melihat kemunkaran dan ia mampu menghilangkan dengan tangan, maka ia tidak boleh berhenti dengan lisan jika kemungkaran tidak berhenti dengan lisan, dan orang yang mampu dengan lisan, maka ia tidak boleh berhenti hanya dengan hati.

Imam Muhyiddin an-Nawawi berkata di dalam kitab Raudlatut Thâlibîn:

ولا يكفي الوعظ لمن أمكنه إزالته باليد، ولا تكفي كراهة القلب لمن قدر على النهي باللسان

“Tidak cukup memberi nasihat bagi orang yang mampu menghilangkan kemunkaran dengan tangan. Dan tidak cukup ingkar di dalam hati bagi orang yang mampu mencegah kemunkaran dengan lisan.” (Muhyiddin Abu Zakariya an-Nawawi, Raudlatut Thâlibîn, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2005, cetakan kelima, jilid V, halamann 123).

Dalam proses amar ma’ruf nahi munkar, tetap harus mendahulukan tindakan yang paling ringan sebelum bertindak yang lebih berat. Syekh Abdul Hamid asy-Syarwani berkata di dalam kitabnya, Hasyiyah asy-Syarwani:

والواجب على الآمر والناهي أن يأمر وينهى بالأخف ثم الأخف. فإذا حصل التغيير بالكلام اللين فليس له التكلم بالكلام الخشن وهكذا كما قاله العلماء

“Wajib bagi orang yang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar untuk bertindak yang paling ringan dulu kemudian yang agak berat. Sehingga, ketika kemungkaran sudah bisa hilang dengan ucapan yang halus, maka tidak boleh dengan ucapan yang kasar. Dan begitu seterusnya).” (Syekh Abdul Hamid asy-Syarwani, Hasyiyah asy-Syarwani ala Tuhfahtil Muhtaj, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2003 cetakan keempat, jilid 7, halaman 217)

Dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar, seseorang harus lebih arif dan bijak karena terkadang dalam menghasilkan tujuan amar ma’ruf nahi mungkar, seseorang harus menghilangkannya sedikit demi sedikit, tidak memaksakan harus hilang seluruhnya dalam waktu seketika itu. Sayyid Abdullah ibn Husain ibn Tohir berkata:

ينبغي لمن أمر بمعروف أو نهى عن منكر أن يكون برفق وشفقة على الخلق يأخذهم بالتدريج فإذا رآهم تاركين لأشياء من الواجبات فليأمرهم بالأهم ثم الأهم فإذا فعلوا ما أمرهم به انتقل إلى غيره وأمرهم وخوفهم برفق وشفقة مع عدم النظر منه لمدحهم وذمهم وعطاءهم ومنعهم وإلا وقعت المداهنة وكذا إذا ارتكبوا منهيات كثيرة ولم ينتهوا بنهيه عنها كلها فليكلمهم في بعضها حتى ينتهوا ثم يتكلم في بعضها حتى ينتهوا ثم يتكلم في غيرها وهكذا.

“Bagi orang yang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar harus bersikap lembut dan belas kasih kepada manusia, ia harus bertindak pada mereka dengan bertahap. Ketika ia melihat mereka meninggalkan beberapa kewajiban, maka hendaknya ia memerintahkan pada mereka dengan perkara wajib yang paling penting kemudian perkara yang agak penting. Kemudian ketika mereka telah melaksanakan apa yang ia perintahkan, maka ia berpindah pada perkara wajib lainnya. Hendaknya ia memerintahkan pada mereka dan menakut-nakuti mereka dengan lembut dan belas kasih... begitu juga ketika mereka melakukan larangan-larangan agama yang banyak dan mereka tidak bisa meninggalkan semuanya, maka hendaknya ia berbicara kepada mereka di dalam sebagiannya saja hingga mereka menghentikannya kemudian baru berbicara sebagian yang lain, begitu seterusnya.” (al-Habib Zain bin Sumith, al-Minhaj as-Sawi, Jeddah, Dar al-Minhaj, 2006 cetakan ketiga, halaman 316-317)

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa:

  • Amar ma’ruf nahi munkar hukumnya fardlu kifayah.
  • Pada kemunkaran tingkat tertentu, hak amar ma’ruf hanya bisa dimiliki pemerintah bukan perseorangan atau kelompok.
  • Dilakukan semampunya tanpa memaksakan di atas kemampuan.
  • Pelaksanaannya harus bertahap dari hal yang paling ringan kemudian hal yang agak berat, dan seterusnya.
  • Tidak menimbulkan fitnah yang lebih besar bagi diri maupun orang lain.

Ketika kita lihat amar ma’ruf yang ada di Indonesia, mayoritas persyaratan tidak bisa terpenuhi dengan baik. Karena terkadang pelaksanaan yang seharusnya menjadi tugas pemerintah, secara sewenang-wenang dilakukan oleh oknum individu maupun kelompok. Belum cukup sampai di situ, cara, sasaran maupun media yang digunakan tidak mencerminkan amar ma’ruf yang beretika Islam.

Dengan realita seperti ini, amar ma’ruf tidak akan menjadi kemashlahatan, namun justru menimbulkan dampak negatif yang lebih besar dan menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat.

Wallahu a’lam.


Resource Berita : nu.or.id
Lima Rukun Nikah dan Penjelasannya

Lima Rukun Nikah dan Penjelasannya



WartaIslami ~ Sebagaimana kita ketahui, rukun adalah bagian pokok dari suatu perbuatan yang membuat perbuatan tersebut dinyatakan sah. Contohnya, shalat tidak akan sah tanpa takbiratul ihram, karena takbiratul ihram merupakan bagian pokok dari shalat tersebut.

Sementara dalam bab nikah, rukun nikah berarti bagian dari nikah itu sendiri yang mana ketiadaan salah satu diantaranya akan menjadikan nikah tersebut menjadi tidak sah.

Dikutip dari Imam Zakaria al-Anshari dalam Fathul Wahab bi Syarhi Minhaj al-Thalab (Beirut: Dar al-Fikr), juz II, hal. 41, rukun nikah tersebut ialah:

فَصْلٌ: فِي أَرْكَانِ النِّكَاحِ وَغَيْرِهَا. " أَرْكَانُهُ " خَمْسَةٌ " زَوْجٌ وَزَوْجَةٌ وَوَلِيٌّ وَشَاهِدَانِ وَصِيغَةٌ

“Pasal tentang rukun-rukun nikah dan lainnya. Rukun-rukun nikah ada lima, yakni mempelai pria, mempelai wanita, wali, dua saksi, dan shighat.

Dari pemaparan di atas bisa kita pahami bahwa rukun nikah ada lima, yakni:

1. Mempelai pria

Mempelai pria yang dimaksud di sini adalah calon suami yang memenuhi persyaratan sebagaimana disebutkan pula oleh Imam Zakaria al-Anshari dalam Fathul Wahab bi Syarhi Minhaj al-Thalab (Beirut: Dar al-Fikr), juz II, hal. 42:

و شرط في الزوج حل واختيار وتعيين وعلم بحل المرأة له "

“Syarat calon suami ialah halal menikahi calon istri (yakni Islam dan bukan muhrim), tidak terpaksa, ditertentukan, dan tahu akan halalnya calon istri baginya.”

2. Mempelai wanita

Mempelai wanita yang dimaksud ialah calon istri yang halal dinikahi oleh mempelai pria. Seorang laki-laki dilarang memperistri perempuan yang masuk kategori haram dinikahi. Keharaman itu bisa jadi karena pertalian darah, hubungan persusuan, atau hubungan kemertuaan.

3. Wali

Wali di sini ialah orang tua mempelai wanita baik ayah, kakek maupun pamannya dari pihak ayah (‘amm), dan pihak-pihak lainnya. Secara berurutan, yang berhak menjadi wali adalah ayah, lalu kakek dari pihak ayah, saudara lelaki kandung (kakak ataupun adik), saudara lelaki seayah, paman (saudara lelaki ayah), anak lelaki paman dari jalur ayah.

4. Dua saksi

Dua saksi ini harus memenuhi syarat adil dan terpercaya. Imam Abu Suja’ dalam Matan al-Ghâyah wa Taqrîb (Surabaya: Al-Hidayah, 2000), hal. 31 mengatakan, wali dan dua saksi membutuhkan enam persyaratan, yakni Islam, baligh, berakal, merdeka, lelaki, dan adil.”

5. Shighat

Shighat di sini meliputi ijab dan qabul yang diucapkan antara wali atau perwakilannya dengan mempelai pria.

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi shawab.



Resource Berita : nu.or.id
Empat Shalat yang Mewajibkan Imam Niat Berjamaah

Empat Shalat yang Mewajibkan Imam Niat Berjamaah



WartaIslami ~ Di dalam ibadah apa pun, bahkan dalam perbuatan-perbuatan yang secara lahir tidak termasuk kategori ibadah, niat merupakan satu unsur sangat penting yang menentukan nilai ibadah dan perbuatan itu. Suatu perbuatan disebut ibadah atau bukan, sebuah ibadah dinilai berkualitas atau tidak, sebuah perbuatan mubah bisa menjadi ibadah atau tidak, sangat ditentukan oleh kebenaran dan kebaikan niat pelakunya. Inilah salah satu pelajaran penting yang bisa dipetik dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

Artinya: “Sesungguhnya amal-amal perbuatan tergantung pada niatnya.” (HR. Imam Bukhari)

Di dalam shalat niat juga menjadi bagian terpenting yang bisa menentukan sah atau tidaknya shalat seseorang. Begitu pentingnya peranan niat di dalam shalat para ulama menentukan berbagai aturan yang mesti ditaati baik orang yang melakukan shalat tersebut menjadi seorang imam, makmum, ataupun shalat sendirian.

Di dalam madzhab Syafi’i orang yang shalat berjamaah bila berposisi sebagai makmum maka ia harus berniat sebagai makmum dengan menambahkan kata ma’mûman saat berniat di dalam hati berbarengan dengan takbiratul ihramnya. Bila makmum tidak berniat demikian namun gerakan shalatnya mengikuti gerakan shalatnya orang lain maka shalatnya tidak sah karena tidak adanya hubungan shalat dengan orang tersebut.

Namun bila ia berposisi sebagai imam ia tidak wajib niat berjamaah atau tidak wajib menambahkan kata imâman di dalam niatnya. Hanya saja shalat yang ia lakukan itu dianggap sebagai shalat sendirian, tidak dengan berjamaah. Karena setiap amal itu tergantung pada niatnya sebagaimana hadits di atas.

Akan tetapi, meskipun pada dasarnya seorang imam tidak wajib berniat sebagai imam namun ada shalat-shalat tertentu di mana seorang yang berposisi sebagai imam harus berniat sebagai imam bersamaan dengan takbiratul ihramnya.

Syekh Salim bin Sumair dalam kitabnya Safînatun Najâ menyebutkan ada 4 (empat) shalat di mana seorang imam harus berniat sebagai imam.

الذي يلزم فيه نية الإمامة أربع الجمعة والمعادة والمنذورة جماعة والمتقدمة في المطر

Artinya: “Ada 4 (empat) shalat yang mewajibkan berniat sebagai imam: shalat Jumat, shalat yang diulang, shalat jama’ah yang dinadzarkan, dan shalat jama’ taqdim karena hujan.”

Lebih lanjut Syekh Muhammad Nawawi Banten dalam kitabnya Kâsyifatus Sajâ menjelaskan keempat shalat tersebut sebagai berikut:

Pertama, shalat Jumat.

Seorang yang menjadi imam shalat Jumat baginya wajib berniat untuk menjadi imam. Bila ia tidak berniat demikian pada saat takbiratul ihram maka tidak sah niatnya yang juga berarti tidak sah pula shalat Jumatnya. Ini dikarenakan shalat Jumat harus dilakukan secara berjamaah. Bila imam di dalam niatnya tidak menyebutkan kata imâman maka ia dianggap shalat sendirian, tidak berjamaah.

Kedua, shalat mu’âdah atau shalat yang diulang.

Shalat yang diulang adalah shalat wajib yang telah dilakukan atau shalat sunah yang disunahkan dilakukan secara berjamaah yang untuk kedua kalinya dilakukan kembali secara berjamaah pada waktunya karena berharap pahala.

Alasan seseorang mengulang shalatnya secara berjamaah adalah karena shalat yang kedua dianggap lebih utama dari pada shalat yang pertama. Seperti ketika seseorang yang mengulang shalat secara berjamaah karena sebelumnya ia telah melakukan shalat tersebut namun sendirian, tidak berjamaah. Atau pada saat shalat yang pertama ia telah melakukannya secara berjamaah namun mengulangnya kembali secara berjamaah karena melihat shalat jamaah yang kedua ini lebih utama dibanding shalat jamaah yang pertama yang telah ia lakukan. Ini bisa karena pada shalat jamaah yang kedua jumlah jamaahnya lebih banyak, imamnya lebih alim atau wara’, tempatnya lebih mulia dan alasan lainnya.

Kesunahan mengulang shalat yang demikian didasarkan pada sebuah hadits riwayat Imam Nasai dan lainnya yang menceritakan adanya dua orang yang datang ke masjid pada waktu subuh namun tidak mengikuti shalat berjamaah bersama Rasul. Ketika Rasulullah bertanya kepada keduanya seusai shalat mereka menjawab, “Kami sudah shalat di rumah kami.” Maka kemudian Rasul bersabda:

فَلَا تَفْعَلَا، إِذَا صَلَّيْتُمَا فِي رِحَالِكُمَا، ثُمَّ أَتَيْتُمَا مَسْجِدَ جَمَاعَةٍ فَصَلِّيَا مَعَهُمْ، فَإِنَّهَا لَكُمَا نَافِلَةٌ

Artinya: “Jangan kalian lakukan (lagi). Bila kalian telah shalat di rumah kemudian kalian datang ke masjid yang sedang dilakukan shalat berjamaah maka shalatlah bersama mereka, karena bagi kalian itu adalah kesunahan.” (HR. Imam Nasai).

Bila pada shalat yang diulang ini sang pelaku berposisi sebagai imam maka ia wajib menyebutkan kata imâman dalam niatnya bersamaan dengan pengucapan takbiratul ihram.

Ketiga, shalat yang dinadzarkan secara berjama’ah.

Seseorang bernadzar bahwa bila ia mendapatkan apa yang dicita-citakan maka ia akan shalat subuh berjamaah, misalnya. Ketika apa yang ia citakan tercapai dan kemudian ia shalat berjamaah subuh untuk memenuhi nadzarnya, bila dalam shalat berjamaah itu ia berposisi sebagai imam maka ia mesti menambahkan kata imâman di dalam niatnya bersamaan dengan pengucapan takbiratul ihram. Bila tidak demikian maka ia dianggap shalat sendirian, tidak berjamaah, dan karenanya dianggap melakukan perbuatan dosa karena tidak memenuhi nadzarnya.

Keempat, shalat yang dilakukan secara jama’ taqdim karena hujan.

Sebagaimana diketahui bahwa pada waktu hujan yang sangat deras diperbolehkan menjama’ shalat secara jama’ taqdim di mana shalat yang kedua dilakukan pada waktu shalat yang pertama; shalat isya dilakukan pada waktu shalat madghrib dan shalat ashar dilakukan pada waktu shalat dhuhur.

Shalat jama’ taqdim karena hujan deras ini diperbolehkan bagi orang yang shalat berjamaah di masjid dan cukup jauh jarak antara masjid dan rumahnya, sehingga akan mendatangkan mudarat bila ia mesti berjalan bolak-balik ke masjid untuk melakukan shalat berjamaah. Bagi orang yang shalatnya tidak berjamaah, atau berjamaah namun tidak di masjid, atau berjamaah di masjid namun rumahnya tidak jauh tidak diperbolehkan melakukan jama’ taqdim ini.

Sebagai gambaran, ketika Anda sedang melakukan shalat madhrib berjamaah di masjid datang hujan yang sangat deras yang diduga kuat belum berhenti sampai dengan waktunya shalat isya. Karena rumah Anda cukup jauh dari masjid maka akan sangat merepotkan bila setelah shalat maghrib Anda pulang ke rumah lalu pergi lagi ke masjid untuk shalat isya berjamaah. Dalam keadaan demikian setelah shalat maghrib Anda diperbolehkan melakukan shalat isya secara jama’ taqdim.

Dalam keadaan seperti ini bila Anda berposisi sebagai imam maka Anda wajib menambahkan kata imâman di dalam niat berbarengan dengan takbiratul ihram untuk shalat isya-nya. Bila tidak maka shalat isya Anda tidaklah dianggap. Anda dianggap belum shalat isya, baik secara berjamaah maupun sendirian. Ini dikarenakan kebolehan menjama’ taqdim di waktu hujan lebat harus dengan berjamaah. Maka bila sang imam tidak berniat sebagai imam itu berarti ia tidak shalat secara berjamaah.

Wallahu a’lam.


Resource Berita : nu.or.id
Inilah Kezaliman yang Tak Dibiarkan oleh Allah

Inilah Kezaliman yang Tak Dibiarkan oleh Allah



WartaIslami ~ Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam kitabnya berjudul Sabîlul Iddikâr wal I’tibâr bimâ Yamurru bil Insân wa Yanqadli Lahu minal A’mâr (Dar Al-Hawi, Cet. II, 1998, hal.100), menjelaskan bahwa di antara hal-hal berat dan amat diperhitungkan oleh Allah pada hari kiamat adalah perbuatan zalim manusia terhadap manusia lainnya sebagaimana kutipan berikut ini:

واعلم أن مِنْ أشد الأشياء وأشقها في موقف القيامة: ظلم العباد، فإنه الظلم الذي لا يتركه الله

Artinya: “Ketahuilah bahwa di antara hal-hal berat dan sangat diperhitungkan pada hari kiamat adalah perbuatan zalim terhadap sesama manusia sebab hal ini merupakan kezaliman yang tidak akan dibiarkan oleh Allah.”

Apa yang diungkapkan Sayyid Abdullah Al-Haddad di atas didasarkan pada sebuah hadits marfu’ yang diriwayatkan dari Anas bin Malik radliyallahu ‘anh bahwa ada tiga macam kezaliman manusia. Salah satunya adalah kezaliman terhadap sesama manusia yang Allah tidak akan membiarkannya begitu saja. Kezaliman semacam ini akan terus diperhatikan oleh Allah sebagaimana penggalan hadits berikut ini:

وَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي لا يَتْرُكُهُ الله فَظُلْمُ الْعِبَادِ بَعْضِهِمْ بَعْضًا حَتَّى يُدَبِّرُ لِبَعْضِهِمْ مِنْ بَعْضٍ

Artinya: “Adapun kezaliman yang tidak akan dibiarkan oleh Allah adalah kezaliman manusia atas manusia lainnya hingga mereka menyelesaikan urusannya.”

Kezaliman manusia terhadap manusia lainnya pada dasarnya merupakan urusan manusia karena termasuk dalam wilayah muamalah. Namun demikian, Allah tidak membiarkannya hingga pihak yang melakukan kezaliman menyelesaikan masalahnya, misalnya dengan konpensasi tertentu dan/atau meminta maaf kepada pihak yang dizalimi. Apabila hal ini tidak dilakukan hingga masing-masing meninggal dunia, maka Allah akan memperhitungkannya di akhirat.

Contoh-contoh perbuatan zalim kepada sesama manusia adalah sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA (lihat hadits di bawah), yakni antara lain mencaci maki orang lain  (شَتَمَ),  menuduh/memfitnah orang lain (قَذَفَ), memakan harta orang lain (أَكَلَ مَالَ), menumpahkan darah orang lain (سَفَكَ دَمَ), dan memukul orang lain (ضَرَبَ).

Sebagaimana dijelaskan dalam hadits dimaksud, Allah akan memperhitungkan dengan mengatur konpensasi dimana pahala dari amal-amal baik orang yang menzalimi seperti shalat, puasa dan zakat diberikan kepada orang yang dizalimi hingga perhitungannya mencapai titik impas atau lunas. Besarnya pahala yang diberikan sebanding dengan besarnya dosa yang dilakukannya.

Apabila besarnya dosa tidak sebanding dengan amal baiknya karena banyaknya orang yang dizalimi, maka dosa-dosa dari orang-orang yang dizalimi akan diberikan kepada orang yang menzalimi hingga mencapai titik impas. Apabila titik impas tidak tercapai, maka Allah SWT akan melemparkan orang yang menzalimi itu ke neraka. Orang seperti ini kemudian disebut orang bangkrut sebagaimana dimaksudkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA berikut ini:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ “أَتَدْرُوْنَ مَا الْمُفْلِسُ؟” قَالُوْا: اَلْمُفْلِسُ فِيْنَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ “إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي، يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هٰذَا، وَقَذَفَ هٰذَا، وَأَكَلَ مَالَ هٰذَا، وَسَفَكَ دَمَ هٰذَا، وَضَرَبَ هٰذَا. فَيُعْطِى هٰذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهٰذَا مِنٰ حَسَنَاتِهِ. فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ، قَبْلَ أَنْ يَقْضَى مَا عَلَيْهِ، أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ. ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ”

Artinya: “Sesungguhnya Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tahukah kalian siapakah yang dinamakan muflis atau orang bangkrut? Orang-orang menjawab: Orang bangkrut menurut pendapat kami ialah mereka yang tiada mempunyai uang dan tiada pula mempunyai harta benda. Nabi menjawab: Sesungguhnya orang bangkrut dari umatku ialah mereka yang datang pada hari kiamat dengan membawa amal kebaikan dari shalat, puasa, dan zakat. Tetapi mereka dahulu pernah mencaci maki orang lain, menuduh orang lain, memakan harta orang lain, menumpahkan darah orang lain dan memukul orang lain. Maka kepada orang yang mereka salahi itu diberikan pahala amal baik mereka; dan kepada orang yang lain lagi diberikan pula amal baik mereka. Apabila amal baik mereka telah habis sebelum hutangnya lunas, maka diambillah kesalahan orang yang disalahi itu dan diberikan kepada mereka; Sesudah itu, mereka akan dilemparkan ke dalam neraka.”

Jadi melakukan kezaliman kepada sesama manusia bukanlah persoalan sepele karena urusannya bisa sampai ke akhirat. Allah akan terus memperhatikan dan memperhitungkan kezaliman seperti ini. Oleh karena itu siapa pun hendaknya bersikap hati-hati kepada orang lain dengan menjaga lisan, tangan dan perbuatan lainnya agar terhindar dari perbuatan-perbuatan sebagaimana disebutkan dalam contoh-contoh diatas, yakni mencaci maki, memfitnah atau menuduh tanpa bukti, memakan harta orang lain seperti mencuri atau korupsi, membunuh secara tidak sah, dan melukai atau menyakiti orang lain baik secara fisik maupun non-fisik, dan sebagainya.


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta



Resource Berita : nu.or.id
Sedekah Itu Kekal, Ini Dalil dan Penjelasannya

Sedekah Itu Kekal, Ini Dalil dan Penjelasannya



WartaIslami ~ Sedekah dianjurkan oleh agama Islam. Sebagain dari nikmat Allah yang diberikan kepada kita hendaknya dibagikan juga kepada orang lain yang membutuhkan.

Kalau kita sudah bersedekah, dimana posisi sedekah itu?

Sebuah hadis yang disriwayatkan oleh Imam Ahmad menjelaskan posisi sedekah:

ﻋﻦ ﻋﺎﺋﺸﺔ، ﺫﺑﺤﻮا ﺷﺎﺓ، ﻗﻠﺖ: ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ، ﻣﺎ ﺑﻘﻲ ﺇﻻ ﻛﺘﻔﻬﺎ؟ ﻗﺎﻝ: " ﻛﻠﻬﺎ ﻗﺪ ﺑﻘﻲ ﺇﻻ ﻛﺘﻔﻬﺎ "

Aisyah berkata: "Para sahabat menyembelih kambing, wahai Rasul Allah, tidak ada yang tersisa kecuali bahu kambing?". Rasulullah menjawab: "Semuanya benar-benar kekal, kecuali bahu kambing" (HR Ahmad)

Tanpa penjelasan dari ulama akan sulit memahami apa yang terkandung dari hadis di atas. Penjelasan para ulama adalah sebagai berikut:

ﻗﺎﻝ اﻟﺴﻨﺪﻱ: ﻗﻮﻟﻬﺎ: ﻣﺎ ﺑﻘﻲ ﺇﻻ ﻛﺘﻔﻬﺎ، ﺃﻱ: ﺗﺼﺪﻗﻮا ﺑﻜﻠﻬﺎ ﺇﻻ ﻛﺘﻔﻬﺎ، ﻓﻤﺎ ﺑﻘﻲ ﺇﻻ ﻛﺘﻔﻬﺎ، ﻓﺄﺟﺎﺏ: ﺃﻥ ﻣﺎ ﺗﺼﺪﻗﺘﻢ ﺑﻪ ﻗﺪ ﺑﻘﻲ، ﻭﻣﺎ ﺗﺮﻛﺘﻢ ﻟﻨﻔﺴﻜﻢ ﻓﻬﻮ اﻟﺬﻱ ﻣﺎ ﺑﻘﻲ، ﻛﻤﺎ ﻫﻮ اﻟﻤﻮاﻓﻖ ﻟﻘﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ: {ﻣﺎ ﻋﻨﺪﻛﻢ ﻳﻨﻔﺪ ﻭﻣﺎ ﻋﻨﺪ اﻟﻠﻪ ﺑﺎﻕ} [ اﻟﻨﺤﻞ: 96]

Syekh As-Sindi mengatakan bahwa perkataan Aisyah "Tidaka ada yang tersisa kecuali bahu kambing" ialah para sahabat bersedekah kembing keseluruhan kecuali bahunya. Yakni tidak ada yang sisa kecuali bahu kambing.

Kemudian nabi menjawab bahwa apa yang kalian sedekahkan akan kekal dan apa yang kalian peruntukkan untuk kalian sendiri adalah yang tersisa (tidak kekal).

Sebagaimana dijelaskankan dalam Al Qur’an surat An-Nahl ayat 96: "Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.. " (An-Naĥl: 96)

Dengan demikian, sedekah kita diterima oleh Allah dan berada kekal disisi-Nya. Dan suatu saat sedekah itu akan dikembalikan kepada kita sebagai balasan atas perbuatan baik yang kita lakukan.


Resource Berita : dutaislam.com
Silsilah, Mursyid dan Murid

Silsilah, Mursyid dan Murid



WartaIslami ~ Michaela Ozelsel, penulis buku Spootlight dan Forty Days: The Diary of a Traditional Solitary Sufi Retreat, menyebut bahwa di atas semua latihan dan gemblengan spiritual, guru tetap menjadi sebuah sentral yang penting. Guru, kata Ozelsel, mewujudkan pengajaran sebagai representasi tradisi sebagai sesuatu yang hidup.

Guru saya, kata Ozelsel, “mengambarkan peran guru dengan analogi: Anda bisa memberi pertolongan pertama pada diri anda, dengan memasang perban pada luka. Tetapi Anda tidak bisa mengoperasi diri sendiri.” Guru adalah orang yang bisa melakukan dan membawa muridnya pada momen, dalam istilahnya Ozelsel, “penerobosan”, atau dalam kata-kata gurunya Ozelsel, “mengoperasi”. Dua frase itu, “penerobosan” dan “mengoperasi”, membawa kita pada imaji akan sebuah gerak atau laku yang menerabas kulit, luaran, sesuatu yang kasat mata; untuk kemudian menemui dan menemukan sesuatu yang tak kasat mata dari luar tetapi begitu indahnya jika sudah berada di dalam.

Tanpa guru, “penerobosan” itu menjadi kerja yang nyaris musykil, sebab orang memang tak bisa “mengoperasi” dirinya, kecuali jika ingin gunting operasi menyayat bagain-bagian penting yang bisa membikin sekarat. Itulah sebabnya, Rumi, pernah menulis salah satu parafrasenya yang termasyhur: “Siapa yang bepergian tanpa pemandu, niscaya memerlukan dua ratus tahun untuk perjalan sehari dua hari.”

Seorang guru sufi tak akan pernah mengajak muridnya langsung pada momen-momen krusial “puncak ruhani” atau momen “penyatuan ruhani” atau “hakikat-makrifat,” selain karena itu tidaklah mungkin, hal itu juga bisa berakibat fatal pada keselamatan fisik dan spiritual muridnya.

Seorang yang baru mulai berlatih diri di jalan sufisme ibarat orang yang sepanjang hayatnya hidup dalam sebuah ruangan yang gelap, pengap dan tanpa cahaya. Membiarkan atau mendadak mengajak seorang murid hanya dalam hitungan detik ke luar ruangan yang gelap itu, menuju tempat di mana matahari sedang terang benderang memanggang bumi, tidak hanya akan membuat sang murid kaget, tetapi bisa membuat mata murid itu menjadi buta seketika.

Karenanya dibutuhkan sejumlah penggemblengan. Dan itu dilakukan bertahap, pelan tapi pasti. Selain untuk melatih kesabaran, keikhlasan, dan tekad kuat, penggemblengan itu juga diperlukan untuk secara bertahap menanggalkan kedirian dan egoisme sang murid. Jika kedirian dan ego itu masih kuat melekat, itu berarti kehidupan dunia dengan segala jebakan hasrat masih belum sepenuhnya enyah dari hati dan dari kesadaran sang murid.

Guru adalah orang yang pelahan-lahan mengelupaskan ego dan kedirian itu. Dalam kata-kata seorang guru Naqsyabandiah, “Seorang guru sufi bertugas membuka kulit kebodohan yang menutupi diri sang murid. Sang guru hanya membersihkan karat-karat yang telah menutupi sumber cahaya yang terdapat dalam hati sang murid. Guru sufi tak memberi apa pun; ia hanya melepaskan sesuatu.”

Dalam jalan sufi, jangan berpikir bahwa tujuan bisa dicapai tanpa seorang guru. Menempuh jalan sendirian sangalah beresiko karena sekali kehilangan jejak, ancamannya adalah tersesat. Karena jalan sufi adalah tetap jalan yang bercabang-cabang, penuh kelok dan jebakan, seorang guru menjadi perlu karena ia bisa menjadi pemandu yang mengetahui jalan mana yang mesti ditempuh, karena sang guru adalah orang yang pernah melalui jalan itu sebelumnya.

Fokus sepenuhnya pada sosok sang guru tetap menjadi mutlak betapa pun sang guru tak ada di hadapan mata secara fisik. Johan Ter Haar, sewaktu meneliti hubungan guru-murid dalam tarekat Naqsyabandiah, menemukan istilah rabitah dalam vokabulari tarekat itu. Istilah itu merujuk pada laku seorang murid yang secara terus menerus bertatap muka dengan sang guru dalam pikirannya. Itu dilakukan tidak hanya agar dia bisa mencapai derajat kepatuhan yang total pada sang guru tetapi yang jauh lebih penting adalah agar sang murid tetap merasa kalau dirinya sedang merasa bersama gurunya.

Jika murid bisa terus memelihara laku itu secara konstan dan khidmat, ia akan sampai pada tahap di mana ia akan selau merasa dekat secara batin dengan gurunya yang secara fisik tak ada di samping atau di hadapannya dengan cara menyebut terus menerus, dengan berulang- ulang, penaka sedang berzikir, nama sang guru.

Itulah sebabnya silsilah para guru/mursyid dalam sebuah tarekat menjadi persoalan yang krusial. Silsilah para guru itu memiliki makna simbolis yang sangat penting karena silsilah itu memberikan semacam saluran menuju otoritas yang tertinggi, Sang Maha Puncak, lewat medium tradisi horizontal. Sedemikian pentingnya silsilah itu sehingga dalam sejumlah tarekat penulisan silsilah dan nama-nama leluhur guru mereka menjadi ritual yang punya kapasitas menjadi aktivitas yang sakral; menjadi semacam latihan spiritual.

Muhammad Taqi Ali Qalandar Kakorawi, seorang sufi dari India yang hidup pada abad 18, pernah memberi tuntunan atau cara teknis mengingat guru lewat melafalkan nama sang guru. Katanya, “Seorang murid, setelah mendapatkan nama-nama mursyid sebelum mursyidnya sendiri (berarti eyang gurunya) dalam sebuah tarekat yang dia ikuti, perlu menghafalnya hingga kepada Nabi Muhammad. Ini adalah salah satu syarat yang mesti dipenuhi oleh pencari di jalan ini…. Jika dia tidak berhasil menghadirkan hati dalam meditasinya dengan baik, maka yang pertama-tama harus diingatnya adalah mursyid-nya. Jika dia masih belum berhasil juga, dia harus mengingat guru dari gurunya. Demikian seterusnya, hingga jika perlu sampai kepada Nabi Muhammad.”

Dalam tradisi sufi, seperti contoh di atas, ketidakhadiran sang guru secara fisik sama sekali bukanlah alasan untuk melupakan dan tak mengingat-ingat gurunya. Sejumlah tarekat sufi bahkan meyakini bahwa penahbisan seseorang menjadi orang suci akan makin sempurna jika ia dibai’at seorang mursyid yang secara fisik sudah tak ada alias sudah meninggal.

Tareqat Naqsyabandiah dikenal sebagai salah satu tarekat yang punya kedekatan dengan tradisi pembai’atan oleh guru yang sudah meninggal. Tarekat ini punya istilahnya sendiri untuk menyebut fenomena pembai’atan secara gaib itu lewat kata “uwaysi” yang berarti pembaiatan yang tidak hanya dilakukan oleh guru yang masih hidup melainkan juga oleh guru yang sudah wafat atau bahkan oleh Nabi Khidir langsung.

Menurut Khwaja Muhammad, murid Baha al-Din Naqsyabandi, banyak syaikh Naqsyabandi turut serta uwaysi. Istilah uwaysi, lanjutnya, menunjuk pada para wali Allah yang secara lahir tidak memerlukan guru secara fisik, karena Nabi Muhammad menghargai mereka yang menjadikan bilik pribadinya tempat penempaan spiritual, tanpa melalui perantara dari siapa pun.

Tetapi pengertian uwaysi yang merujuk pada, salah satunya, pembaiatan oleh Muhammad langsung, sedikit sekali bisa dibenarkan, karena jika pun ada kasus seperti itu, orang percaya itu hanya menimpa segelintir orang saja. Menurut Abdurrahman Jami, contoh pembaiatan langsung oleh Muhammad, Sang Maha Guru Sufi, dialami oleh Jalaluddin Abu Yazid Purani (wafat 1457/58). Syaikh Ahmad Sirhindi juga pernah mengaku dibaiat langsung oleh Muhammad. Dalam kasus yang lebih baru, Syekh Ahmad Tijani juga demikian.

Karena saking jarangnya, maka istilah uwaysi biasanya hanya merujuk pada pembaitan yang dilakukan oleh syaikh/mursyid/guru yang sudah wafat. Dalam periode sejarah awal Nqasyabandiah, pembaiatan oleh guru yang sudah mendiang dipercaya dialami oleh Abu Yazid al-Bustami (wafat 875 M) yang dipercaya dibaiat oleh Ja’far as-Shadiq (wafat 1029 M) dan juga dialami oleh Abu al-Hasan Kharaqani yang dibaiat oleh mendiang al-Bustami. Tipe pembaiatan seperti ini jelas menjadi faktor yang menentukan Naqsyabandiah dan karena itu bisa menjelaskan bagaimana aspek-aspek sentral identitas itu diperkenalkan. Tetapi pada saat yang sama, pembaiatan oleh guru yang sudah mendiang melalui kontak spiritual mengakibatkan sejumlah sikap ketidaktundukkan pada guru yang masih hidup.

Baha al-Din Naqsyabandi juga menjadi orang yang mengelaborasi gagasan tentang pembelajaran spiritual itu ke dalam praktik kehidupan sufi. Seperti yang diulas oleh Ter Haar, Baha al-Din Naqsyabandi menyebut “kehadiran spiritual” seorang guru sebagai kekuatan yang dapat dicapai seorang sufi. Dia mendefinisikan konsentrasi (tawajjuh) dalam “kehadiran spiritual” mendiang guru sebagai maqam, yaitu sebuah tahap perjalanan mistik yang dapat diperoleh seorang salik (penempuh jalan mistik) lewat ikhtiarnya sendiri.



Resource Berita : dutaislam.com
Mbah Moen: "Sepiro Sholehe Anak, Tergantung Sepiro Sholihah Ibu'e"

Mbah Moen: "Sepiro Sholehe Anak, Tergantung Sepiro Sholihah Ibu'e"



WartaIslami ~ Mbah Moen sering ngendiko "sepiro sholehe anak, tergantung sepiro sholihah ibu'e" (keshalihan seorang anak, tergantung keshalihah ibunya). Mari kita simak kisah keluarga Syekh Abul Fadlol Senori. Beliau adalah salah satu guru Mbah Moen. Berikut kisah singkat beliau:

Mbah Denok bisa dibilang Ibu yang aneh, Ibu yang lebih memilih anaknya menjadi Ulama besar daripada memilih kekayaan yang sudah didepan mata.

Seorang Ibu yang bertahan dalam kemiskinan, ibu yang selalu berpuasa demi masa depan anak yang saat itu baru dikandungnya.

Hari itu beliau mencuci beras di sungai, entah karena lemah badannya yang gemetar menahan lapar, sehingga beras itu tumpah, atau karena tak sengaja tersenggol beliau yang sibuk mencuci pakaian.

Subhanallah bukan lagi berwujud beras, tetapi emas berkelipan itu sangat mengagetkan, namun hati yang senantiasa sadar akan keberadaan Allah itu segera menarik kesimpulan, bahwa dirinya sedang mengalami ujian, serta merta beliau menangis memohon ampun, bibir pucatnya berucap perlahan, hatinya bergetar,

"Wahai Tuhanku bukan ini yang aku pinta, emas ini bagiku bukanlah harapan, hamba hanya memohon kepadaMu jadikanlah janin dalam kandunganku ini lahir menjadi Ulama, jadikanlah ia kekasihMu dan panutan."

Mbah Denok itu adalah Ibu Mbah Abdus Syakur, seorang Ulama kuno yang mumpuni disegala bidang keilmuan.

Selanjutnya Mbah Syakur menurunkan dua orang putera dari janda Kiai Abdul Aziz yaitu Mbah Abul Fadlol senori dan Mbah Abul Khoir suwedang.

Keduanya adalah Ulama besar, Mbah Abul Fadlol terkenal sesudah wafatnya dengan berbagai kitab karangan yang menembus dunia pesantren Timur Tengah, sedangkan Mbah Abul Khoir lebih menonjol dalam bidang Tashowwuf dan Ulama Fiqih yang sangat kuat memegang priinsip di ujung zaman.

Mbah Abul Fadlol pada masa remajanya berguru kepada Mbah Hasyim Asy'ari Tebu ireng. Jangan ditanya soal apa yang telah beliau kuasai, karena semenjak kecil beliau telah suka melantunkan sya,ir-sya,ir yang terdapat di dalam kitab Ihya dengan hanya mendengar saja dari pengajian bapaknya.

Mbah Abul Fadlol tidak hanya mumpuni dalam bidang Ilmu Agama saja, tetapi entah dari mana ilmu itu beliau dapat, dizaman radio masih langka, beliau telah mampu membuat radio amatir, tentang ilmu kimia juga begitu, dengan caranya sendiri, beliau mampu membuat minyak wangi yang baunya tidak seperti bau minyak wangi pada umumnya, bahkan beliau telah mampu membuat syrup obat batuk yang konon sangat mujarab.

Beliau juga menguasai bahasa mandarin, konon beliau pernah bekerja di semarang sebagai kuli membuat jalan. Beliau memang tidak pernah menyukai kekayaan, setiap kerja yang dirintis laris, tiba tiba beliau tinggalkan begitu saja, dari mulai menjadi penjual tembakau, polangan, jual kain dan pekerjaan terakhirnya adalah sebagai reparasi radio dan jam tangan.

Jiwa Nasionalisme yang tinggi beliau warisi dari gurunya, yaitu Mbah Hasyim, pada setiap upacara 17 Agustus di kecamatan, beliau sempatkan dirinya pakai celana, sepatu dan ikut upacara di lapangan. Dan juga jangan tanya organisasi apa yang beliau ikuti dan istiqomahkan, NU adalah kebanggaan beliau sampai beliau diwafatkan.

(Sumber cerita dari menantunya Mbah Abul Fadlol sendiri, yaitu Kiai Minanurraohman)

***
Dalam keseharian beliau sanngat sederhana dan bersahaja, saking sederhananya ketika ta'ziah dalam wafatnya KH. Zuber Sarang beliau sempat dicueki atau tidak dihormati oleh orang karena songkok hitam yang dipakai tidak lagi hitam tapi telah berubah warna menjadi merah. Baju yang di kenakan lusuh, hingga orang acuh memandangnya.

Orang-orang baru tahu kalau itu adalah Mbah Dlol yang sangat terkenal itu. Setelah tanpa sengaja Mbah Maimun Zuber memergokinya di tengah jalan. Karuan saja KH. Maimun langsung menciumi tangan beliau dan menempatkannya pada tempat yang layak.

***
Sering sekali Mbah Maimoen memuji sang guru ketika mengaji adapun dalam tausiyah-tausiyah beliau. "Ojo isin dadi wong jowo, delok toh Mbah Fadhol Senori. ora tahu ngaji ning arab, tapi geneyo koq iso Alim ngalahno sing ning Arab. Alime koyok ngono, karangane kitab pirang-pirang." (jangan malu jadi orang Jawa, liuhatlah Mbah Fadhol Senori. Tidak pernah ngaji di Arab, tapi kenapa kok bisa Alim mengalahkan yang di Arab. Alimnya kayak gitu, karya kitabnya banyak sekali).


Resource Berita : dutaislam.com
Bocoran Malaikat Jibril: Inilah Hal Spesial yang Hanya Diberikan untuk Umat Muhammad

Bocoran Malaikat Jibril: Inilah Hal Spesial yang Hanya Diberikan untuk Umat Muhammad



WartaIslami ~ Mari bersyukur karena kita ditaqdirkan sebagai umat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Meski jauh dan tak pernah berinteraksi dengan pribadi nan mulia tersebut, kita harus bersyukur dengan senantiasa menjaga hidayah yang dianugerahkan oleh Allah Ta’ala kepada kita. Semoga hidayah itu abadi dan kelak mengantarkan kita menuju kematian yang husnul khatimah.

Ada banyak riwayat yang seharusnya membuat kita amat berbahagia sebagai umat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Salah satunya sebagaimana disebutkan dalam riwayat agung yang termaktub dalam Tafsir Ath-Thabari dan dinukil oleh Syeikh Abu Bakar Al-Thurthusy Al-Andalusi dalam Kitab Doa Tertua Al-Ma’tsurat.

Dalam riwayat ini, malaikat Jibril ‘Alaihis salam memberikan bocoran terkait keutamaan umat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Pasalnya, hal ini spesial. Hanya untuk umat Muhammad dan tak diberikan kepada umat Nabi yang lain.

“Wahai Muhammad,” kata Jibril ‘Alaihis salam menyampaikan firman Allah Ta’ala kepada Muhammad yang mulia, “Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku akan memberikan kepada umatmu apa yang tidak pernah Aku berikan kepada umat lain.’”

“Apakah itu, wahai Jibril?” tanya Nabi Muhammad Shalllalahu ‘Alaihi wa Sallam, antusias.

“(Karunia) itu adalah Firman Allah Ta’ala, ‘Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingatmu.’” (Qs. Al-Baqarah [2]: 152)

Betapa mulianya pribadi yang lisannya basah dengan kalimat Allah Ta’ala. Bahagianya mereka yang senantiasa diingat oleh-Nya sebagai balasan atas ingatnya mereka kepada Allah Ta’ala. Betapa beruntungnya mereka yang melalui waktu dengan dzikir hingga Allah Ta’ala memberikan keutamaan dan kemuliaan yang amat langka ini.

Sebagai penguat riwayat ini, sebuah atsar yang berasal dari tabi’in Tsabit Al-Bunani amatlah benderang. Tsabit menerangkan, seorang mukmin bisa mengetahui kapan dirinya diingat oleh Allah Ta’ala.

Ketika ditanya, Tsabit menerangkan, “Saat aku mengingat-Nya, Dia Ta’ala mengingatku.”

Terkait makna Surat Al-Baqarah [2] ayat 152 ini, Said bin Jubair menerangkan seperti dikutip Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, “Ingatlah kepada-Ku dengan taat kepada-Ku, pasti Ku-ingat kalian dengan pemberian ampunan dari-Ku.”

Ya Allah, tolong kami untuk senantiasa mengingat nama-nama-Mu yang Agung.


Resource Berita : kisahikmah.com
Kisah yang Membuat Anda Bergegas Mendatangi Adzan

Kisah yang Membuat Anda Bergegas Mendatangi Adzan



WartaIslami ~ Salah satu hal yang membuat kita bersemangat untuk melakukan amal shalih adalah pengetahuan tentang manfaat yang terkandung di dalamnya. Semangat itu semakin besar saat kita berhasil menumbuhkan rasa cinta hingga dasarnya bukan lagi karena manfaat atau kurang manfaat.

Sebaliknya, saat tidak memiliki pengetahuan tentang manfaat suatu amal, hendak mengerjakan pun rasanya sangat berat. Tidak ada motivasi. Malas. Enggan. Bahkan tak jarang yang menolak dengan satu dan lain alasan.

Mendatangi adzan untuk shalat berjamaah, misalnya, merupakan amalan unggulan. Ianya merupakan kebiasaan oran-orang shalih lintas zaman. Satu langkah mendatanginya dijanjikan sebagai pengampunan dosa sedangkan langkah lainnya merupakan kafarat atas dosa-dosa yang dikerjakan.

Sayangnya, banyak kaum Muslimin akhir zaman yang malas mengerjakan amalan ini. Seperti ada beban berat yang mencegah atau tembok besar nan panjang yang menghalangi langkahnya menuju masjid.

Seorang tabi’in yang mulia bernama Said bin Musayyib pernah menuturkan, “Sudah tiga puluh tahun, setiap kali muadzin mengumandangkan adzan, aku sudah berada di dalam masjid.”

Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullahu Ta’ala dalam al-‘Ilal wa Ma’rifah ar-Rijal dan dikutip oleh Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah dalam mensyarah Risalah al-Mustarsyidin Imam al-Harits al-Muhasibi.

Apa rahasianya? Mengapa Said Musayyib bisa istiqamah mendatangi adzan bahkan sebelum muadzin mengumandangkannya? Apa yang menjadi pendorong hingga beliau istiqamah melakukan amalan ini selama 30 tahun atau 360 bulan atau sekitar 10.000 hari? Alasan apa yang bisa kita kemukakan hingga beliau rutin mendatangi sekitar 50.000 kali adzan sebelum muadzin mengumandangkannya?

Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah menjelaskan hal ini dengan mengatakan, “Ini adalah puncak dari perasaan diawasi oleh Allah Ta’ala. Sebab seorang hamba sahaya harus sudah siap di hadapan tuannya sebelum dipanggil, bukan setelah dipanggil baru dia datang.”

Sebuah perumpaan yang amat terang. Jika kita seorang sahaya, bukankah menjadi kewajiban untuk bergegas saat tuan kita memanggil? Dan jalan yang harus ditempuh agar bisa bergegas adalah dengan bersiap diri. Jangan sampai saat dipanggil, seorang sahaya justru sibuk dalam permainan yang tak bermanfaat secuil pun.

Wallahu a’lam.


Resource Berita : kisahikmah.com
Mushaf Utsmani, Ide Brilian Khalifah Utsman

Mushaf Utsmani, Ide Brilian Khalifah Utsman



WartaIslami ~ Alquran dan Khaliifah Utsman bin Affan bagaikan sebuah rangkaian mutiara yang tak terpisahkan. Utsman radhiyallahu anhu hidup dengan kecintaannya terhadap Alquran. Hari-harinya diisi oleh bacaan Alquran yang dikeluarkan dari mulutnya. Sampai syahidnya pun dalam keadaan ditemani oleh Alquran.

Di balik lantunan indah ayat suci Alquran yang sampai saat ini digunkan oleh seluruh umat Muslim didunia adalah ide brilian dari Utsman bin Affan. Di masa emas kekalifahannya,  Utsman menyatukan bacaan Alquran sehingga pada saat yang sama persatuan umat pun terjaga.

Dalam buku Kepemimpinan dan Keteladanan Utsman bin Affan yang ditulis oleh Fariq Gasim Anuz, dijelaskan alasan dibalik ide brilian dari Utsman, yaitu membuat sebuah Musaf. Pada awalnya terjadi suatu perselisihan atau perbedaan dalam membaca Alquran.

Ketika Hudzaifah bin Yaman memimpin pasukan yang terdiri dari penduduk Syam dan Irak pada masa pembebasan Armenia dan Azerbaijan. Saat itu, teerjadi perebatan antara penduduk Syam dan penduduk Irak dalam bacaa Alquran.

Penduduk Syam membacanya dengan qiraat Ubay bin Ka’ab. Maka terdengar berbeda oleh penduduk Irak yang biasa membacanya dengan qiraat Ibnu Mas’ud. Begitupun sebaliknya. Akibatnya mereka saling menyalahkan satu sama lain dengan sengit. Perdebatan itu membuat Hudzaifah merasa sangat khawatir.

Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata, “Hudzaifah bin Yaman datang kepada Utsman, waktu itu beliau sedang memimpin pasukan dari penduduk Syam dan Irak pada saat penaklukan Armenia dan Azerbaijan.

Perselisihan mereka dalam hal qiat (bacaan Alquran) membuat Hudzaifah sangat khawatir. Maka Hudzaifah pun berkata kepada Utsman, “Rangkullah umat ini, mereka berselisihan tentang Alquran sebagaimana perselisihan yang telah terjadi pada kaum Yahudi dan Nasrani.”

Khalifah Utsman menanggapi laporan tersebut dengan cara yang baik, dan segera bermusyawarah dengan beberapa orang sahabat di Madinah. Dan mereka sepakat untuk menyatukan bacaan Alquran untuk ,meredam dan meghindari terjadiya perselisihan di antara kaum Muslimin.


Resource Berita : republika.co.id
Rasheed: Yakinlah pada Allah dan Janganlah Khawatir

Rasheed: Yakinlah pada Allah dan Janganlah Khawatir



WartaIslami ~  Tumbuh menjadi dewasa dalam tradisi agama tertentu ternyata membuat seseorang tak merasakan kepuasan batin. Semakin lama dia menyelami ajaran agamanya semakin dalam dia menemukan kehampaan hati.

Hal itu dialami Rasheed asal Florida Amerika Serikat. Sejak kecil dia sudah diarahkan untuk taat menjalani keyakinan orang tua yang setiap akhir pekan selalu memanfaatkan waktu untuk beribadah. Dia pun diarahkan untuk mendalami pesan-pesan dalam kitab yang menjadi pedomannya.

Rasheed diharapkan dapat menjadi insan yang memahami dan menjalankan tradisi agama dari orang tuanya. Apa yang sudah diajarkan dan dijalani ayah dan ibunya harus Rasheed jalani dalam kehidupan sehari-hari.

Meski diarahkan untuk menjalani keyakinan tersebut, Rasheed ternyata menyempatkan diri untuk mempelajari agama lain. Dia tertarik dengan tradisi timur, seperti Budhisme, Taoisme, Hinduisme, dan lainnya.

Tentang Islam? Dia belum tertarik. Mungkin karena pengaruh pemberitaan sejumlah media massa di tempatnya yang kerap memberitakan Islam secara negatif. Ditambah lagi dengan analisis sejumlah tokoh dan intelektual yang kerap mendiskreditkan Islam.

Apakah Rasheed ikut menjelekkan Islam? Tidak. Daripada menghabiskan energi untuk mengikuti apa yang mereka lakukan, lebih baik melaksanakan hal lain yang positif. Alhasil, dia tidak mengkaji Islam. Dia biarkan orang lain mendalami risalah Ilahi itu.

Insiden 11 September yang merobohkan World Trade Center (WTC) Amerika Serikat menjadi perhatian berbagai kalangan. Masyarakat umum pun selalu membiarakan kejadian terse but sambil mengaitkannya dengan Islam. Tapi lagilagi, Rasheed belum tertarik untuk memeluk Islam.

Bermula dari teman

Suatu ketika teman dekatnya sejak sekolah membuat keputusan penting. Dia memutuskan untuk meninggalkan agama yang selama ini dianutnya dan mengucapkan dua kalimat syahadat, tanda seseorang telah memeluk Islam.

Rasheed bertanya-tanya, ada apa gerangan. Bagaimana bisa memeluk suatu keyakinan yang kerap menjadi sorotan negatif banyak orang. Islam te rus mendapatkan nilai buruk dari mas yarakat setempat karena selalu di kaitkan dengan terorisme dan radi kalisme yang menghantui masyarakat Barat.

Kejadian ini membuatnya menghabiskan banyak waktu untuk mendalami Islam. Ajaran apa itu? Siapa yang membawanya? Bagaimana sejarahnya bisa berkembang? Apa dampaknya bagi peradaban lain?

Rasheed mulai mencari jawaban semua pertanyaan itu secara perlahan. Pencarian ini tidak murni untuk mengkaji Islam, tapi lebih untuk sebuah ambisi untuk mengembalikan teman akrabnya kepada keyakinan sebelumnya.

Ketika mendalami Islam, dia membuat kajian dan tulisan. Ras heed selalu berdiskusi dengan te man nya. Perdebatan muncul di an tara keduanya, terutama masalah dok trindoktrin agama. Kemudian dia terus berdiskusi mengenai Islam dan semakin mendalami ajaran tersebut. Perlahan tapi pasti, benih cinta kepada Islam mulai tumbuh.

Rasheed mulai me nga gumi konsep tauhid yang menyuarakan keesaan Tuhan yang menjadi rujukan seluruh makhluk hidup di berbagai zaman. Bagaimana mungkin Allah memiliki keturunan? Bukankah Dia mahasempurna, sehingga tak satu pun makhluk di alam ini yang menyerupainya.

Sebelumnya dia meyakini Tuham seperti ajaran agama sebelumnya. Tetapi sebe narnya dia tak benar-benar memahami konsep ketuhanan dalam ajaran yang diyakininya. Lalu, bagaimana mungkin seseorang mempercayai sesuatu tetapi tidak dapat mengerti tentang hal itu.

Allah telah menurunkan para rasul dan nabi untuk membawa manusia kepada tauhid. Tapi apa yang terjadi? Banyak dari mereka yang justru mengingkari ajakan itu. Bahkan mereka tidak segan-segan memerangi para nabi dan rasul, seperti yang dilakukan Fir'aun terhadap Nabi Musa AS. Proses diskusi panjang inilah yang membawanya justru memeluk Islam.

Dia akhirnya menyadari bahwa tak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Kalimat syahadat dibacanya pada 2004. "Ya, saya tidak mencari kebenaran seperti yang dilakukan beberapa orang. Tetapi saya rasa Allah lah yang menuntun saya, Alhamdulillah,"tutur dia dalam sebuah wawancara.ed: erdy nasrul

Setelah Memeluk Islam

Jujur, setelah memeluk Islam hidupnya belum banyak berubah karena dia dibesarkan dengan kebiasaan yang baik. Gaya hidupnya pun tidak banyak berubah. Hanya saja, di dalam Islam dalam satu hari ada banyak ibadah yang dilakukan seperti shalat lima waktu. Dia juga berhenti makan daging babi.

Sebelum memeluk Islam, dia tidak pernah menjadi pecandu alkohol. Sehingga gaya hidup peminum memang tidak pernah dilakukannya. Ajaran ini adalah cara hidup yang sempurna. "Islam satu-satunya cara hidup yang harus diikuti orang. Ini adalah cara hidup yang lengkap yang tidak akan Anda temukan dalam agama lain,"jelas dia.

Risalah Ilahi ini merupakan yang paling logis dan tidak ditemukan pada agama lain. Islam adalah agama yang masuk akal. Di dalamnya terdapat pedoman hidup yang diperintahkan dan diatur oleh Allah SWT dengan sempurna.

Bagi mereka yang baru mengenal Islam, Rasheed menyarankan agar yakinlah pada Tuhan dan jangan khawatir. Jika memiliki teman Muslim, mereka dapat mengajari tentang Islam dan selalu bersedia untuk berdiskusi. "Jangan malu untuk meminta diajak ke masjid dan berbicara dengan imam masjid,"saran dia.

Jika seseorang memutuskan mengambil jalan Islam, maka selamatlah dia. Islam memiliki doa dan petunjuk agar sukses di kehidupan ini maupun akhirat. Rasheed menyarankan beberapa hal bagi mualaf maupun mereka yang baru mempelajari Islam. Pertama, setiap orang harus mewaspadai informasi apapun yang didapatkan terkait Islam. Jangan terburu-buru bergabung dengan sekte atau aliran tertentu berslogan dan terkait dengannya.

Kedua, pelajari informasi yang didapatkan. Tidak perlu terlalu terburu-buru, karena informasi pertama biasanya baru permulaan jalan kebenaran yang akan dilalui. Ketika baru mulai, tidak bisa seseorang mencapai kebenaran tertinggi dalam waktu cepat. Ketiga, maksimalkan waktu dan terus sucikan niat untuk mencari kebenaran. Lakukan segala sesuatu hanya demi Allah terutama dalam beribadah.


Resource Berita : republika.co.id
Awal Mula Khalifah Utsman Satukan Bacaan Alquran

Awal Mula Khalifah Utsman Satukan Bacaan Alquran



WartaIslami ~ Di balik lantunan indah ayat suci Alquran yang sampai saat ini dibaca oleh Muslim hampir di seluruh dunia ada ide brilian dari seorang khalifah bernama Utsman bin Affan di dalamnya.
Mushaf yang saat ini kita pegang dan gunakan untuk membaca Alquran adalah hasil dari Utsman bin Affan dalam upayanya menyatukan bacaan Alquran.

Dalam buku Kepemimpinan dan Keteladanan Utsman bin Affan yang ditulis oleh Fariq Gasim Anuz, diceritakan bagaimana awal mula upaya Utsman dan sahabatnya dalam mewujudkannya.

Sebelumnya Utsman menerima laporan dari Hudzaifah terkait terjadinya perselisihan antara umatnya tentang Alquran. Khalifah Utsman menanggapi laporan Hudzaifah denga baik dan segera bermusyawarah dengan beberapa orang sahabat di Madinah.

Lalu mereka sepakat untuk menyatukan bacaan Alquran dengan membuat Musaf agar bacaan Alquran sama di antara umatnya. 

Pertama kali yang dilakukan Khalifah Utman adalah membentuk satu tim ahli untuk melaksanakan tugas penulisan Alquran. mayoritas ulama  berpendapat ada empat orang, yaitu Zaid bin Tsabit dari Anshar. Kemudian dari Quraisy, yaitu Abdullah bin Zubair, Said bin Ash, dan Abdurrahman bin Harits. Mereka semua adalah orang-orang yang berilmu dan teliti. Selain itu, ada pula yang berpendapat 5 orang dan 12 orang.

Setelah membentuk tim, Utsman mengutus seseorang kepada Ummul Mukminin Hafshah binti Umar bin Khathab radhiyallahu anhuma. Ia meminta sebuah mushaf Alquran yang dibukukan  di zaman Abu Bakar.
Tim penulis pun menjadikan mushaf tersebut sebagai acuan dalam menjalankan tugas mereka. Kemudia mereka menulis ulang berdasarkan perintah Utsman.

Khalifah Utsman sendirilah yang mengawasi proses kodifikasi Alquran ini. Utsman berkata pada tim panitia, “Jika kalian berbeda pendapat dengan Zaid bin Tsabit dalam hal apapun pada Alquran, maka tulislah dengan lisan Quraisy. Kerena Alquran diturunkan dengan lisan Quraisy.”

Lalu saat para sahabat di Madinah datang dan mengawasi proses kodifikasi, Zuhri mengatakan, “Mereka berbeda pendapat dalam At Taabuut atau At Taabuuh. Para penulis Quraisy berpendapat At Taabuut, sedangakan Zaid memilih At Taabuuh. Perbedaan ini sampai pada Utsman. Lalu Utsman memerintahkan, “Tulislah At Taabuut. Karena ia turun dengan lisan Quraisy.”

Orang-orang yang memiliki catatan langsung dari Rasulullah sallallhu alaihi wasallam mendatangi tim tersebut dan mengujinya dengan pedoman mushaf dari zaman Abu Bakar.

Setelah selesai Mushaf Utsmani ditulis, Zaid bin Tsabit membacanya berkali-kali sebelum mushaf itu disalin. Khalifah Utsmani juga ikut mengoreksi dan membacanya untuk memperkuat validitas mushaf induk tersebut.

Setelah selesai Mushaf Utsmani dibuat, Utsman bin Affan mengirim beberapa salinan dari mushaf induk ke wilayah-wilayah dalam kekuasaannya. Para ulama berbeda pendapat berapa jumlah mushaf yang ditulis Utsman. Pendapat yang mahsyur menyebutkan bahwa mushaf Alquran diperbanyak menjadi lima. Di kirim ke Makkah, Madinah, Kufah, Syam, dan satu lagi dipegang oleh Utsman sendiri. itulah yang kemudian dikenal dengan mushaf Al Imam.

Selain itu, ada juga pendapat yang paling kuat menyatakan bahwa mushaf tersebut digandakan menjadi enam. Empat di antaraya dikirim ke Makkah, Syam, Kufah, dan Bashrah, satu di Madinah. Mushaf itu dinamakan Al Madani Al’Aam.  Dan satu lagi dipegang Utsman.

Setiap mushaf yang dikirim itu disertai dengan pengajar yang mengajarkan kaum muslimin cara membacanya berdasarkan hadits-hadits shahih dan mutawir. Abdullah bin Sa’ib mengajarkan mushaf yang dikirim ke Mekkah, Mughirah bin Syiab mengajar di Syam, Abu Abdurrahman Sulami di Kufah, Amir bi Qash di Bashrah, Zaid bin Tsabit di Madinah.

Kemudian Utsman memerintahkan agar mushaf yang berbeda dihilangkan denga cara dibakar atau dicuci dengan air sampai tinta-tintanya hilang. Hal ini bertujuan agar kaum muslimin bersatu dalam satu mushaf.


Resource Berita : republika.co.id
Hukum Mengonsumsi Ikan Beserta Kotorannya

Hukum Mengonsumsi Ikan Beserta Kotorannya



WartaIslami ~ Ikan adalah salah satu menu makanan yang banyak disajikan di beberapa rumah makan. Rasanya yang lezat dan segar membuat jenis binatang laut ini digandrungi pecinta kuliner. Ikan yang dikonsumsi beraneka ragam. Ada yang berukuran besar seperti kakap dan gurame. Ada juga yang tergolong kecil seperti ikan teri.

Terkadang ikan yang sudah siap santap masih ditemukan kotorannya bisa jadi karena kurang bersih saat mengolahnya atau sulit dibersihkan. Alhasil, kotorannya ikut termakan, terlebih ikan yang berukuran kecil. Pertanyaannya kemudian, bagaimana hukum mengonsumsi ikan beserta kotorannya yang ikut termakan?

Ikan adalah jenis binatang halal, bahkan bangkainya. Rasulullah SAW bersabda tentang laut.

هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ

Artinya, “Laut adalah suci menyucikan airnya. Halal bangkai binatangnya,” (HR Abu Daud dan At-Tirmidzi dan disahihkan olehnya).

Meski bangkai ikan dihukumi suci dan halal, menurut pendapat yang kuat dalam madzhab Syafi’i, kotorannya tetap dihukumi najis.

Berkaitan dengan hukum mengonsumsi ikan yang ikut tertelan kotorannya, ulama berbeda pendapat. Menurut pendapat yang dikutip Imam Al-Qamuli dalam kitab Al-Jawahir dari pendapat kalangan Syafi’i tidak diperbolehkan baik ikan besar maupun kecil. Menurut Imam An-Nawawi dan Ar-Rafi’I, diperbolehkan untuk jenis ikan kecil, sebab sulitnya membersihkan kotoran di dalamnya.

Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu’in menegaskan.

وَنَقَلَ فِي الْجَوَاهِرِ عَنِ الْأَصْحَابِ لَا يَجُوْزُ أَكْلُ سَمَكٍ مُلِحَ وَلَمْ يُنْزَعْ مَا فِيْ جَوْفِهِ أَيْ مِنَ الْمُسْتَقْذَرَاتِ  وَظَاهِرُهُ لَا فَرْقَ بَيْنَ كَبِيْرِهِ وَصَغِيْرِهِ  لَكِنْ ذَكَرَ الشَّيْخَانِ جَوَازَ أَكْلِ الصَّغِيْرِ مَعَ مَا فِيْ جَوْفِهِ لِعُسْرِ تَنْقِيَّةِ مَا فِيْهِ

Artinya, “Al-Qamuli dalam kitab Al-Jawahir mengutip dari kalangan Syafi’i bahwa tidak diperbolehkan mengonsumsi ikan asin yang tidak dibersihkan kotoran-kotoran di dalamnya. Zhahir dari kutipan Al-Qamuli ini tidak membedakan antara ikan besar dan kecil. Tetapi dua guru besar madzhab Syafi’i (Al-Nawawi dan Ar-Rafi’i) menyebutkan, diperbolehkan mengonsumsi ikan kecil beserta kotoran di dalam perutnya, sebab sulitnya membersihkan kotoran tersebut.”

Bahkan menurut Imam Ar-Ramli, kebolehan mengonsumsi ikan beserta kotorannya juga berlaku untuk ikan yang besar. Syekh Ahmad bin Umar As-Syathiri dalam Syarah Bughyatul Mustarsyidin juz 1, halalaman 337 menegaskan.

وَقَدِ اتَّفَقَ ابْنَا حَجَرٍ وَزِيَادٍ وَ م ر وَغَيْرُهُمْ عَلَى طَهَارَةِ مَا فِيْ جَوْفِ السَّمَكِ الصَّغِيْرِ مِنَ الدَّمِ وَالرَّوْثِ وَجَوَازِ أَكْلِهِ مَعَهُ وَأَنَّهُ لَا يَنْجُسُ بِهِ الدُّهْنُ بَلْ جَرَى عَلَيْهِ م ر الْكَبِيْرَ أَيْضاً (قوله في الكبير أيضا) وَاعْتَمَدَ ابْنُ حَجَرٍ وَابْنُ زِيَادٍ عَدَمَ الْعَفْوِ عَمَّا فِيْ جَوْفِهِ مِنَ الرَّوْثِ لِعَدَمِ الْمَشَقَّةِ فِي إِخْرَاجِهِ إِذَا كَانَ كَبِيْراً.

Artinya, “Ibnu Hajar, Ibnu Ziyad dan Ar-Ramli sepakat sucinya (dalam arti ma’fu) darah dan kotoran ikan kecil dan diperbolehkan mengonsumsi ikan tersebut beserta darah dan kotorannya serta tidak dapat menajiskan minyak. Bahkan Ar-Ramli memberlakukan hukum tersebut untuk ikan besar juga. Sementara Ibnu hajar dan Ibnu Ziyad tidak menghukumi ma’fu kotoran ikan besar, sebab tidak ada masyaqqah (keberatan) dalam membersihkannya”.

Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa mengonsumsi ikan beserta kotorannya diperbolehkan menurut sebagian ulama. Tetapi bila masih memungkinkan membersihkan kotoran ikan saat mengolahnya (Jawa: mincati), maka hal tersebut lebih baik. Sebab keluar dari perbedaan ulama hukumnya sunah, terlebih menjaga kebersihan makanan juga merupakan perkara yang dianjurkan agama. Wallahu a‘lam.


Resource Berita : nu.or.id
Sejarah Kewalian Imam Junaid al-Baghdadi

Sejarah Kewalian Imam Junaid al-Baghdadi



WartaIslami ~ Bagi kalangan umat Muslim yang akrab dengan dunia tasawuf, tentu nama Syekh Abul Qasim Junaid al-Baghdadi sudah tak lagi asing di telinga mereka. Bagaimana tidak, ia begitu terkenal akan kewaliannya. Sampai-sampai, setiap kali membaca hadrah (pembacaan Surat Al Fatihah sebelum melakukan amalan mujahadah) para salik—sebutan bagi orang yang telah menempuh jaan tarekat—selalu mengkhususkan penyebutan nama Abul Qasim Junaid Al-Baghdadi tepat setelah penyebutan nama Suthanul Auliya' Syekh Abdul Qodir Al Jilani, sang raja wali.

Lantas, bagaimanakah sejarah kewaliannya hingga ia begitu masyhur, terkenal sebagai kekasih Allah?

Ternyata, ia sebenarnya merupakan seorang pegulat tangguh tak terkalahkan pada masanya. Ia juga sangat ditakuti oleh para lawannya. Hingga suatu ketika, sang raja pada masa itu mengadakan sayembara bahwa siapa saja yang dapat mengalahkan Abul Qasim akan mendapatkan hadiah yang begitu banyak.

Sayembara tersebut akhirnya terdengar juga oleh seorang lelaki paruh baya di salah satu sudut Kota Baghdad. Ia adalah seorang keturunan Rasulullah Muhammad sallallahu 'alaihi wasalam yang hidupnya begitu memprihatinkan. Sudah beberapa hari terakhir, keluarganya tak makan. Usianya juga sudah cukup tua, kira-kira 65 tahun. Namun, hal itu tak menciutkan nyalinya untuk mengikuti sayembara melawan Abul Qasim. Karena ia memiliki cara tersendiri.

Hari pertarungan telah tiba. Hingga saat itu, anehnya tidak ada seorang pun yang berani mendaftar melawan Abul Qasim. Maklum, seluruh penduduk kota sudah mengerti kehebatan Abul Qasim dalam bergulat. Mereka lebih memilih nyawa mereka daripada harus mati konyol demi memimpikan hadiah sayembara dari raja. Berbeda dengan lelaki dzurriyah rasul itu, ia tak gentar sama sekali. Demi keluarga yang sudah beberapa hari tak makan, ia rela mengorbankan nyawanya.

Saat ia mulai beradu pandang dengan Abul Qasim, saat melakukan penghormatan salam sebelum bertarung ia berbisik kepada Abul Qasim:

"Wahai Abul Qasim, aku tahu bahwa engkau adalah pegulat terhebat di kota ini. dan aku pun yakin bahwa aku tak akan mampu mengalahkanmu. Namun, tahukah engkau mengapa aku berani bertarung denganmu. Aku adalah cucu Rasulullah, namun kelurgaku sedang tertimpa kesusahan. Sudah beberapa hari terakhir aku dan kelurgaku tak mampu makan. Maka dari itu, aku memohon kepadamu agar engkau bersedia berlagak kalah hingga akhirnya hadiah sayembara itu ku dapat dan kelurgaku dapat makan.”

Mendengarnya, Abul Qasim begitu prihatin. Ternyata ada juga keturunan Rasulullah yang seperti itu. Akhirnya, dengan niatan memuliakan anak-cucu Rasulullah, ia turuti permohonan lelaki itu. Dan benar, lelaki tersebut sukses memenangkan sayembara dan kemudian membawa pulang hadiahnya untuk keluarga.

Sedang Abul Qasim harus menanggung malu bahwa pegulat terhebat di kota itu telah dikalahkan hanya dengan pukulan lelaki tua usia 65 tahun. Tapi hal itu tak membuat hati Abul Qasim kecewa sedikit pun. Ia justru bersyukur sudah dapat membantu cucu Nabi. Meskipun orang-orang sekota menghujatnya karena memang tidak tahu dan Abul Qasim pun merasa hal ini tidak perlu diberitahukan.

Hingga suatu malam yang indah, Abul Qasim  bermimpi ditemui oleh seorang lelaki yang ketampanannya tak dapat tergambarkan oleh kata-kata. Ia begitu penuh dengan cahaya. Namun, keteduhan wajahnya dan kewibawaannya tak membuat mata silau melihat pancaran cahaya dari dalam manusia terbaik sepanjang masa. Ya, ternyata ia adalah Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaih wasallam.

Dalam mimpinya itu, sang rasul berkata pada Abul Qasim bahwa mulai malam itu ia diangkat oleh Allah derajatnya menjadi waliyullah, kekasih Alah. Bukan karena kekuatannya, melainkan karena ia telah rela menolong dzurriyah rasul, anak-cucu keturunan sang utusan terkasih Allah, Muhammad sallallahu 'alaihi wasalam.

***

Subhanallah, lewat kisah tersebut dipetik hikmah bahwa memuliakan keturunan Rasulullah saja dapat mengangkat derajat manusia yang awalnya hanyalah seorang pegulat menjadi wali Allah yang terkenal seantero jagat. Tak ada salahnya jika kita mau untuk sekadar membaca shalawat di bulan Rabiul Awal ini dalam rangka memuliakan kelahiran Rasulullah. Tentu, andaikata hal itu ditampakkan, betapa manfaatnya tak dapat terkias oleh kata.

Kisah ini juga memberikan pesan bahwa menolong orang yang terdesak oleh kebutuhan merupakan sebuah kemuliaan. Imam Junaid al-Baghdadi memberi contoh tentang pentingnya memprioritaskan kepentingan orang lain daripada diri sendiri. Ia ikhlas mengorbankan gengsi dan popularitas prestasinya demi membantu orang lain memenuhi kebutuhan dasarnya.


Resource Berita : nu.or.id
Muzammil Hasballah akan Tampil di Dzikir Nasional 2017

Muzammil Hasballah akan Tampil di Dzikir Nasional 2017



WartaIslami ~ Menyambut akhir tahun 2017 dan  awal tahun 2018, Republika akan menggelar Festival Republik. Wakil Pemimpin Redaksi Harian Republika Nur Hasan Murtiaji mengatakan, secara keseluruhan, Festival Republik digelar tanggal 29-31 Desember 2017, bertempat di Masjid At-Tin Jakarta Timur.

“Festival Republik  mencakup acara bazaar, cerdas tangkas 5 Pilar, talk show, donor darah, fun science, Republikustik dan door prize. Puncak Festival Republik adalah Dzikir Nasional 2017 yang digelar pada Ahad (31/12) malam,” kata Nur Hasan Murtiaji pada acara silaturahim Panitia Dzikir Nasional 2017/ Festival Republik 2017 dengan Tim Majelis Az-Zikra dan Tim Masjid At-Tin di kantor harian Republika Jakarta, Selasa (12/12).

Salah satu pengisi acara Dzikir Nasional 2017 adalah imam muda alumnus ITB Bandung, Muzammil Hasballah. “Insya Allah, Ustaz Muzammil Hasballah akan bertindak sebagai imam shalat Maghrib dan Isya, juga nantinya akan sharing gagasan mengenai cara menghafal Alquran,” kata Hasan.

Tak hanya itu.  Muzammil  juga yang akan membacakan ayat-ayat suci Alquran pada saat pembukaan acara puncak Dzikir Nasional 2017. “Ia akan membacakan Surat Ar-Rahman,” ujar Hasan.

Muzammil Hasballah merupakan imam muda Indonesia asal Aceh yang dikagumi masyarakat. Suaranya merdu, mengingatkan pada sosok Syekh Abdurahman Al-Ausy, imam Masjidil Haram, Makkah.

Pimpinan PPPA Daarul Quran Ustaz Yusuf Mansur pernah mempertemukan  Muzammil Hazballah dengan Syekh Abdurrahman Al-Ausy. Ia meminta Muzammil memperdengarkan bacaannya di hadapan Syekh Abdurrahman Al-Ausy. Selesai mendengar qiraat Muzammil Hasballah, maka Syekh Abdurrahman Al-Ausy pun memeluknya.



Resource Berita : republika.co.id
Warga Arab Sambut Pembukaan Bioskop Seperti Hari Raya

Warga Arab Sambut Pembukaan Bioskop Seperti Hari Raya



WartaIslami ~ Keputusan Arab Saudi untuk membuka bioskop pertama kali setelah lebih dari 35 tahun disambut baik oleh pembuat film Arab. Pimpinan Masyarakat Saudi untuk Budaya dan Seni, Sultan Al-Bazie adalah salah satunya.

"Kini kami akan berkembang lebih baik dengan pekerjaan yang lebih baik juga," katanya seperti dilansir dalam Arab News.

Ia menuturkan bahwa budaya dan hiburan adalah pengalaman yang baik untuk keluarga. "Kami melakukan perjalanan ke Dubai dan Bahrain hanya untuk menonton film, sekarang kami akan memilikinya di Arab Saudi, Riyadh, Jeddah dan Dammam," lanjutnya.

Seorang produser dan pembuat film asal Saudi, Abdullah Qurashi mengatakan hal senada. "Ketika berita itu keluar, kami (para pembuat film, produser, sutradara dan aktor) saling memberi selamat dengan 'mabrouks' dan berciuman. Hal ini seperti hari raya!"

Sebelumnya, para pembuat film di Arab Saudi kesulitan menghadapi perbedaan dan skeptisisme (kecurigaan) dalam bisnis film mereka. "Sekarang menjadi pasar yang sesungguhnya. Ini akan menjadi sesuaitu yang memiliki pengaruh besar bagi ekonomi dab ini sangat bagus. Sekarabg saya dapat dengan percaya diri mendatangi para investor dan berkata, 'saya infin membuat film,' dan ini terdengar sepwrti bisnis yang jelas dan bukan hanya sebuah mimpi," lanjutnya.

Aktor dan sutradara Saudi Arabia berkata menilai keputusan itu adalah berita yang sangat bagus dan sesuai dengan Saudi 2030. Ia pun berharap Kementerian Kebudayaan dan Informasi Arab Saudi mendukung baik pria maupin wanita dalam kesempatan untuk memproduksi film.

"Ini Ini menjadi hal penting dimana pembuat film Arab Saudi akan mengambil film di luar negeri untuk memperluas cakrawala mereka dan menambah pengalaman mereka. Dukungan logistik dan finansial dari pemerintah menjadi sangat oenting untuk perkembangan ranah ini," lanjutnya.

Aktor Saudi Arabia, Khal d Yeslam mengatakan bahwa dengan adanya perubahan ini, tidak ada alasan lagi untuk bersaing dalam ranah yang lebih besar. "Saya ingin mencoba berbagai peran yang menunjukan perjuangan manusia. Secara global, semua manusia berjuang dan ini bisa mematahkan stereotip Saudi dan membuat orang di seluruh dunia berhubungan dengan kita. Ini akan menjembatani kesenjangan," lanjutnya.

Bioskop pertama di Arab Saudi akan hadir pada Maret 2018. Para ahli memprediksi bahwa 2030 mendatang akan ada lebih dari 300 bioskop di seluruh kerajaan Arab Saudi.


Resource Berita : ihram.co.id
Kemuliaan dan Ketakwaan Keluarga Ibrahim

Kemuliaan dan Ketakwaan Keluarga Ibrahim



WartaIslami ~ Bila melihat keterangan Surah Ash-Shaaffaat [37]: 100-111, tak ada satu pun penjelasan ayat yang menegaskan pelaksanaan lempar jumrah (jamarat) yang kini menjadi salah satu ritual (wajib haji) dalam pelaksanaan ibadah haji.

Namun, di balik ayat tersebut, terdapat kisah yang sangat mengharukan, sekaligus menunjukkan keteguhan hati dan iman dari orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Mengharukan karena seorang ayah akan menyembelih putra tercintanya, dan sangat didambakan, sebelumnya. Menunjukkan keteguhan iman, karena Ismail yang akan menjadi kurban, dengan penuh kepercayaan diri, dia menunjukkan bakti dan ketaatannya kepada Allah SWT. Begitu juga dengan Ibrahim AS. Perintah menyembelih Ismail, merupakan perintah Allah sebagai wujud ketakwaannya atas segala apa yang diperintahkan Allah.

Sebagaimana disebutkan, ketika Ibrahim AS bermaksud menyembelih Ismail, tiba-tiba datanglah setan menghampirinya. Setan bermaksud menggoda Nabi Ibrahim, agar menghentikan upayanya menyembelih Ismail. Namun, dengan penuh keyakinan dan ketakwaannya kepada Allah, Ibrahim tetap melaksanakan perintah itu. Ibrahim tahu bahwa tujuan setan adalah agar ia melanggar perintah Allah. Karena itu, Ibrahim lantas mengambil tujuh buah batu kerikil dan melemparkannya kepada setan (Iblis). Inilah yang dinamakan jumrah 'ula (pertama).

Tidak berhasil menggoda Ibrahim, setan lalu membujuk Siti Hajar agar segera melarang Ibrahim AS yang bermaksud menyembelih putranya tersayang, Nabi Ismail AS. Namun, Siti Hajar juga menolak dan melemparinya dengan batu ke arah setan. Lokasi ini sekarang merupakan tempat melontar jumrah wustha (pertengahan).

Kemudian, Iblis beralih menggoda Ismail AS yang dianggap masih rapuh (muda) keimanannya. Namun sebaliknya, Ismail justru menunjukkan perlawanan. Ia kukuh memegang keimanannya dan yakin dengan sepenuh hati akan perintah Allah SWT. Ismail tak ragu sedikit pun.

''Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.'' (QS 37 : 102).

Mereka bertiga (Ibrahim, Ismail, dan Siti Hajar), bersama-sama melempari Iblis dengan batu (jumrah aqabah). Allah SWT pun memuji upaya Nabi Ibrahim AS dan keluarganya. Mereka dianggap berhasil dalam menghadapi ujian Allah SWT.

Allah memuji Ibrahim dan Ismail. ''Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya, yang demikian itu benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kamu tebus anak itu dengan sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahtreraan dilimpahkan atas Ibrahim.' Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.'' (QS Al-Shaaffaat [37]:104-110).

Itulah peristiwa yang menjadi pelajaran bagi umat manusia, dan pelemparan batu itu menjadi kewajiban bagi setiap jamaah haji, sebagai bentuk teladan atas kemuliaan dan ketakwaan Nabi Ibrahim dan keluarganya. Jamarat menjadi simbol kemenangan anak manusia atas godaan dan bujukan setan (Iblis).


Resource Berita : ihram.co.id
MUI akan Pimpin Aksi Terbesar untuk Palestina 17 Desember

MUI akan Pimpin Aksi Terbesar untuk Palestina 17 Desember



WartaIslami ~ Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan menggelar aksi paling besar untuk Palestina di Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) 2017 pada Ahad (17/12) depan. Aksi Indonesia bersatu Bela Palestina Ini akan digelar untuk merespons Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump yang mengakui sepihak Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Kabar aksi ini dihembuskan oleh Ketua Umum GNPF Ulama, Ustaz Bachtiar Nasir dalam kegiatan orasi kemanusiaan Indonesia bersatu Bela Pastina di Masjid Raya Pondok Indah, Jalan Iskandar Muda, Jakarta Selatan, Selasa (12/12). "Alhamdulillah MUI akan pimpin aksi paling besar untuk Palestina. Sekarang sedang rapat," ujarnya saat dalam acara tersebut.

Sesaat kemudian, Ustaz Bachtiar Nasir menyampaikan pengumuman kembali yang awalnya aksi tersebut akan digelar Jumat (15/12) depan, akhirnya aksi tersebut diputuskan untuk dilakukan pada Ahad (17/12). "Setelah bermusyawarah dan berijtihad untuk kebaikan semua. Maka agenda Aksi Indonesia Bersatu untuk Bela Palestina akan dilaksnakan pada hari Ahad dimulai dari pukul 06.00 WIB sampai pukul 11.00 WIB, insya Allah semua selesai," kata piminan AQL ini.

Dengan hasil keputusan ini, Ustaz Bachtiar mengimbau kepada jamaah untuk menyebarkan informasi tersebut dengan seluas-luasnya. Menurut dia, jika selama ini aksi bela Palestina hanya dilakukan oleh kelompok-kelompok, saat ini umat Islam harus bersatu. "Kepada Muslimin dan Muslimat di seluruh Indonesia yang melakukan aksi-aksi kelompok lebih baik lakukan aksi itu bersatu," ucapnya. "Kita buktukan kepada dunia bahwa Indonesia yang terdepan dalam membela Palestina," imbuh Ustaz Bachtiar.



Resource Berita : republika.co.id
Kisah Perjuangan Berat Salman Al Farisi Mencari Nabi

Kisah Perjuangan Berat Salman Al Farisi Mencari Nabi



WartaIslami ~ Seperti namanya, Salman Al Farisi berasal dari Persia. Tepatnya wilayah Isfahan. Ia hidup di lingkungan keluarga kaya. Orang tuanya adalah kepala wilayah.

Salman dibesarkan di keluarga Majusi, penyembah api. Ia juga bertugas menjaga api peribadatan agar tetap menyala. Kendati demikian, Salman tidak puas dengan agamanya.

Suatu hari, Salman disuruh orang tuanya pergi ke ladang. Di tengah jalan, Salman melewati tempat peribadatan orang-orang Nasrani. Ia berhenti dan mengamati mereka. Kebimbangannya terhadap Majusi semakin menjadi. “Ini lebih baik daripada Majusi yang kuanut selama ini,” simpul Salman.

Sementara itu, orang tua Salman telah mengutus orang untuk menyusulnya karena sampai malam ia belum pulang. Sebelum pulang, Salman bertanya asal usul agama yang menarik hatinya itu. “Dari negeri Syam,” jawab mereka.

Sesampainya di rumah, Salman menjelaskan alasan keterlambatannya. Ia juga dengan jujur mengatakan bahwa dirinya tertarik dengan agama Nasrani. “Menurutku agama Nasrani lebih baik daripada agama kita” kata Salman kepada ayahnya. Sang ayah marah. Ia mengurung dan mengikat Salman.

Salman kemudian mengirim kabar kepada orang-orang Nasrani bahwa dirinya telah menganut agama mereka. Salman juga mengirim pesan, ia ingin pergi bersama ke Syam jika mereka kembali ke sana. Gayung bersambut. Mereka memenuhi permintaan Salman. Dengan caranya, Salman berhasil keluar dari kurungan ayahnya dan berangkat bersama ke Syam.

Sesampainya di Syam, Salman langsung mencari orang yang paling ahli dalam agama Nasrani. Mereka pun mempertemukannya dengan Uskup Gereja. Setelah menceritakan kondisinya, Salman pun diterima sebagai pelayan gereja dan murid Uskup. Sayangnya, Uskup itu bukan uskup yang baik. Ia mengumpulkan sedekah dari warga, tetapi ia pakai sendiri, tidak dibagikannya kepada orang-orang yang berhak menerima.

Setelah Uskup tersebut meninggal, penggantinya sangat taat beragama. Salman belum pernah menjumpai orang yang lebih zuhud dan lebih taat beragama daripada orang tersebut. Salman pun sangat menghormatinya. Ia terus membersamainya hingga uskup tersebut meninggal. “Anda tahu bahwa kematian pasti akan datang, apa yang harus kuperbuat sepeninggal Anda? Ke mana aku harus berguru?” tanya Salman menjelang akhir hidup uskup tersebut.
“Anakku,” jawab sang uskup, “hanya ada satu orang sepertiku, ia tinggal di Mosul”

Salman pun pindah ke Mosul dan menemui pendeta tersebut. Ia berguru padanya hingga sang pendeta meninggal. Seperti yang dilakukannya sebelumnya, ia bertanya ke mana harus berguru setelah itu. Pendeta itu merekomendasikan Salman untuk menemui seorang ahli ibadah di Nasibin. Salman berguru padanya hingga ahli ibadah itu meninggal. Sebelum ia meninggal, Salman juga bertanya kepadanya ke mana ia harus berguru setelah itu. “Pergilah ke Amuria, Romawi. Di sana ada seorang guru yang bisa kau temui.”

Salman pergi ke Amuria. Di sana, ia berguru hingga orang tersebut meninggal. Sama seperti sebelumnya, Salman bertanya ke mana ia harus berguru setelah itu. “Anakku,” jawab ahli ilmu itu sebelum mereka berpisah selamanya, “aku tidak menyuruhmu berguru ke siapapun. Sebab saat ini sudah diutus seorang Nabi. Ia akan datang berhijrah ke sebuah tempat yang dipenuhi dengan kurma. Tempat itu diapit dua bebatuan hitam. Jika kau sanggup, pergilah ke sana. Dia punya tanda-tanda yang jelas. Dia tidak menerima sedekah, tetapi menerima hadiah. Di pundaknya ada tanda kenabian. Jika engkau melihatnya, engkau pasti mengenalinya.”

Salman Al Farisi sangat bergembira. Ia memiliki harapan untuk mendapatkan kebenaran langsung dari sumbernya; Sang Nabi. Karenanya ia berupaya sekuat tenaga untuk bisa ke sana. Saat rombongan musafir Arab lewat, Salman meminta mereka membawa dirinya ke Arab. “Sebagai imbalannya, kalian mendapatkan sapi-sapi dan kambing-kambingku ini.”

Tawaran Salman diterima. Tetapi ia dikhianati. Sesampainya di daerah Wadil Qura, Salman dijual ke seorang Yahudi. Semula Salman mengira daerah itu adalah tujuan hijrah seperti yang digambarkan gurunya, tetapi ternyata bukan.

Salman kemudian dibeli oleh seorang Yahudi Bani Quraidhah, lalu dibawa ke Yatsrib, yang kelak dikenal dengan nama Madinah. Melihat Yatsrib, Salman yakin inilah tempat tujuannya. Dan benar, suatu hari saat ia memanjat pohon kurma, orang-orang berteriak mengabarkan ada Nabi yang hijrah dari Makkah dan telah sampai ke Quba. Salman bergegas turun dan memastikan kabar yang didengarnya. Sang majikan sempat marah karena Salman bertanya tentang Nabi itu.

Ketika hari mulai petang, Salman berangkat ke Quba dengan membawa makanan. “Tuan-tuan adalah musafir, aku membawa sedikit makanan sebagai sedekah. Aku kira ini bisa sedikit bermanfaat bagi tuan-tuan,” kata Salman sembari menaruh makanan itu di dekat mereka.

“Makanlah dengan menyebut nama Allah,” kata Rasulullah kepada para sahabatnya. Beliau sendiri tidak ikut memakan makanan tersebut.

“Ini tanda yang pertama, beliau tidak mau memakan sedekah,” kata Salman dalam hati.

Keesokan harinya, Salman kembali menemui mereka dengan membawa makanan juga. “Aku melihat Tuan tidak mau menerima sedekah, kini aku membawa makanan sebagai hadiah,” kata Salman kepada Rasulullah.

“Makanlah dengan menyebut nama Allah,” kata Rasulullah kepada para sahabatnya. Beliau juga turut memakan makanan tersebut.

“Ini tanda yang ketiga, beliau mau menerima hadiah,” kata Salman dalam hati.

Beberapa hari kemudian, Salman kembali datang menemui Rasulullah yang saat itu berada di pemakaman Baqi. Beliau bersama para sahabatnya sedang mengiringi jenazah.

Salman mengucap salam kepada Rasulullah dan berusaha melihat punggung beliau yang saat itu beliau memakai dua kain lebar; sarung dan baju. Rasulullah seperti tahu maksud Salman, beliau menyingkapkan kain burdah dari pundaknya dan terlihatlah tanda kenabian di punggungnya. Ini merupakan tanda kenabian ketiga.

Salman kemudian merangkul beliau sambil menangis. Pengembaraan dan pengorbanannya selama ini tidak sia-sia. Kini ia menemukan Nabi terakhir yang dicarinya. Ia pun menceritakan kisah hidupnya kepada Rasulullah dan kemudian bersyahadat di depan beliau.


Resource Berita : kisahikmah.com
Betapa Mulianya Keluarga Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib

Betapa Mulianya Keluarga Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib



WartaIslami ~ ‘Ali bin Abi Thalib adalah orang yang pertama masuk Islam dari kalangan anak-anak. Meski ayahnya bersikukuh dalah kekafiran hingga wafatnya, beliau justru mewakafkan diri untuk Islam sejak kecil hingga ajal menjemput. Beliau merupakan salah satu sahabat yang dijamin surga oleh Rasulullah Saw.

Kehidupan ‘Ali bin Abi Thalib adalah keberkahan. Dibina langsung oleh Rasulullah Saw, menjadi sepupu beliau, salah satu menantu terbaik Nabi dan juga sosok yang menggantikan Nabi di tempat tidur dalam peristiwa hijrah yang bermakna siap mati untuk agama Islam. Karenanya pula, banyak teladan yang berasal dari beliau dalam berbagai episode kehidupan.

Baik sebagai seorang hamba dalam ibadah, keberanian seorang prajurit di medan jihad, teladan persahabatan dan kehidupan sosial, hingga contoh yang senantiasa beliau hadirkan ketika menjadi Amirul Mukminin, Khalifah keempat kaum muslimin.

Kedermawanan adalah satu sifat beliau yang amat mulia. Dalam tahap terbaik, beliau rela memberikan jatah makanan berbuka puasa kepada mereka yang lebih membutuhkan selama tiga hari berturut-turut.

Hari itu, Sayyidina ‘Ali dan istrinya berpuasa. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau bernazar puasa selama tiga hari. Pada hari pertama, beberapa jam sebelum Maghrib, sudah ada dua potong roti untuk berbuka puasa. Dua potong roti itulah yang menjadi rezeki mereka sore itu.

Namun, beberapa saat sebelum waktu berbuka puasa menyapa, diketuklah pintu rumah kedua pasangan Rabbani ini. Rupanya, ada seorang pengemis yang meminta sedekah. Lantas, dengan ikhlas, ‘Ali memerintahkan istrinya untuk memberikan dua potong roti itu kepada pengemis. Alhasil, mereka berdua hanya berbuka puasa dengan meminum air putih.

Di hari kedua berpuasa, kejadian pada hari pertama terulang. Kali ini yang mengetuk pintunya adalah sesosok anak yatim. Kasihan. Ibalah hati ‘Ali. Maka, roti yang sudah siap disantap saat waktu berbuka tiba, langsung diberikan kepada anak yatim. Malam itu, keluarga ‘Ali kembali menikmati air putih sebagai menu berbuka puasa.

Kemudian pada hari ketiga, datanglah seorang tawanan perang tepat beberapa saat sebelum Maghrib berkumandang. Maka, kembali diberikanlah jatah berbuka sepasang suami istri itu kepada tawanan perang yang lebih membutuhkan makanan. Lagi-lagi mereka berbuka puasa dengan air putih.

Subhanallahi wal hamdulillahi wa laa ilaha illallahu wallahu akbar.

Sungguh, tidak akan mungkin melakukan hal mulia tersebut kecuali orang yang kuat imannya kepada Allah Ta’ala. Mustahil berlaku demikian, padahal dirinya juga membutuhkan, kecuali karena pelakunya adalah sosok shaleh yang menjadikan dunia sebagai terminal pemberhentian semata dan akhirat sebagai satu-satunya tujuan.


Resource Berita : kisahikmah.com
close
Banner iklan disini