Belajar ‘Hakikat Taat’ kepada Abu Bakar

Belajar ‘Hakikat Taat’ kepada Abu Bakar



WartaIslami ~ BAGI Ahlus Sunnah Wal Jama’aah, tidak ada perbedaan mengenai keagungan sosok ini. Beliau adalah figur yang paling paling disayang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Selama hidup nabi, Khalifah pertama ini selalu bersama beliau baik susah maupun duka; kaya maupun papa; bahagia maupun sengsara. Begitu banyak keagungan yang dimiliki oleh sahabat yang berjuluk Ash-Ashiddiq ini, sampai-sampai beliau adalah di antara orang yang memiliki keistimewaan bisa masuk surga dari berbagai pintu (HR. Bukhari, Muslim).

Sebenarnya, masih banyak kelebihan lain yang tak mungkin disebut semua. Hanya saja, kalau mau belajar pada Abu Bakar, maka yang patut diteladani, kata kuncinya adalah: taat.

Ketika Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu  mencegah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu memerangi kaum yang murtad dan menolak membayar zakat, Abu Bakar dengan lantang menjawab, “Demi Allah! Seandainya mereka enggan membayar zakat walaupun hanya seutas tali onta, yang biasa mereka tunaikan pada Rasulullah, sungguh akan aku perangi mereka. Sesungguhnya zakat adalah hak harta, demi Allah! Akan aku perangi orang yang bembeda-bedakan antara shalat dan zakat.” (HR. Bukhari).

Peristiwa ini, merupakan di antara sekian peristiwa yang menggambarkan ketaatan Abu Bakar kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam.

Menurutnya, zakat merupakan perkara wajib, dan merupakan rukun Islam, karenanya sebagai umat Islam wajib membayarnya jika mampu dan tidak boleh membedakan status hukumnya dengan rukun-rukun lain yang sudah final. Bila tidak maka pondasi Islam akan hancur, dan tentu ini sangat membahayakan bagi kekokohan umat Islam yang ketika itu baru saja kehilangan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dengan pandangan dangkal dan tak teliti barangkali akan ada yang menganggap bapak Aisyah ini egois dan menolak nas yang sudah tetap berupa: larangan memerangi orang yang sudah bersyahadat dan shalat. Jika kita mempunyai pandangan demikian, perlu kiranya dipertimbangkan, diteliti kembali, bahkan dikoreksi. Abu Bakar radhilallahu ‘anhu  sama sekali tidak menolak nas yang sudah tetap; ia juga tidak egois apalagi berpikir pragmatis. Satu-satunya jawaban yang bisa menjelaskan sikap Abu Bakar ialah gelora ketaatan yang terjaga dengan baik di dalam jiwanya.

Sikap keras yang ditunjukkannya pada peristiwa ini, meski menyalahi karakter lemah lembut dan kasih sayang yang biasa ditampakkan, justru menggambarkan kapasitas ketaatan Abu Bakar kepada Allah subhanahu wata’ala dan Rasulnya shallallahu ‘alaihi wasallam. Pada setiap jengkal dari kehidupan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, spirit ketaatan akan selalu dirasakan. Beliau adalah sahabat yang terdepan dalam ketaatan dan praktiknya. Karenanya, tak heran jika anak Abu Kuhafah ini meraih “tropi kehormatan” menjadi orang yang paling dicintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari kalangan laki-laki.

Sebagai sahabat yang memiliki nalar kuat, saat itu Umar radhiyallahu ‘anhu memang sempat membantah pendapat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, karena Ia berlandaskan pada hadits: “Aku diperintah memerangi manusia, hingga mereka bersyahadat bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku utusan Allah…., jika mereka melakukan itu, maka darah dan harta mereka akan dilindungi.” (HR. Bukhari, Muslim).

Bila mau digambarkan, kira-kira logika Umar radhiyallahu ‘anhu demikian: Orang yang sudah bersyahadat itu dilarang diperangi. Sedangkan orang yang diperangi Abu Bakar itu, adalah orang yang bersyahadat dan bahkan melaksanakan shalat. Dengan demikian, kesimpulannya, memerangi orang bersyahadat itu dilarang karena menyalahi hadits di atas.

Namun pada faktanya, Abu Bakar tetap bersih keras memerangi mereka, karena ini bukan sekadar masalah logis atau tidak, di sana ada hal yang sangat penting yang melampau nalar atau logika, yaitu “ketaatan”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selama hidupnya tidak pernah membeda-bedakan antara kewajiban shalat dan zakat. Karena itu Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Demi Allah akan aku perangi orang yang membeda-bedakan antara shalat dan zakat!” Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, dengan spirit ketaatan yang dimiliki, memandang bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam selama hidup tidak pernah membedakan antara shalat dan zakat, karena itu kita harus menaatinya, jadi siapa saja yang tidak taat dengan ketetapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan membeda-bedakan tentang kewajibannya maka patut diperangi karena sama saja telah menolak masalah-masalah fundamental yang berkonsekuensi murtad dari agama. Lantaran mereka murtad, maka wajib diperangi.

Melalui dialog yang panjang akhirnya Al-Faruq radhiyallahu ‘anhu berlapang dada bahwa pendapat yang benar adalah pendapat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Pada realitanya, ketaatan ini berbuah kemenangan gemilang: negara kembali setabil dan persatuan semakin terjaga baik.

Dari peristiwa ini, kita bisa belajar kepada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu bagaimana sejatinya ketaatan.

Pertama, selama itu adalah perintah dari Al-Qur`an dan Hadits shahih, maka tidak ada reserve di dalamnya. Kedua, ketika taat berhadapan dengan logika, maka taat didahulukan, meski bukan berarti menafikan nalar sama sekali. Ketiga, ketaatan butuh bukti nyata, bukan sekadar retorika. Keempat, ketaatan membutuhkan nyali keberanian. Kelima, ketaata berbuah keberuntungan. Wallahu a’lam.*


Resource Berita : hidayatullah.com
Hendak Wafat, Ahli Ibadah Kisahkan Kengeriannya

Hendak Wafat, Ahli Ibadah Kisahkan Kengeriannya



WartaIslami ~ HABIB AL AJAMI ketika hendak wafat terlihat amat cemas, hingga ada yang menanyakan perihal tersebut,”Apa yang engkau takutkan wahai Habib?”

Habib Al Ajami yang merupakan ahli ibadah itu menjawab,”Aku hendak melakukan perjalanan yang aku belum pernah mengalaminya!  Aku hendak melalaui jalan yang belum pernah aku lalui! Aku hendak menghadap Tuan yang tidak pernah aku lihat sebelumnya! Aku hendak berada di suasana yang menakutkan yang belum pernah aku saksikan permisalannya!”

Ahli Ibadah Bashrah yang terkenal dengan keterkabulan doanya ini melanjutkan,”Aku hendak tinggal di tanah di bawah bumi, dan menetap di sana hingga hari kiamat, kemudian aku menghadap kepada ?Allah Ta’ala. Aku takut jika Dia bertanya,’Wahai Habib, tuntukkan kepada-Ku satu saja dari tasbih-mu yang engkau puji Aku dengannya selama 60 tahun yang terbebas sama sekali dari godaan syaitan.’ Maka apa yang hendak aku katakan? Aku tidak memiliki alasan lagi, dan aku akan mengatakan,’Wahai Rabb, di sini aku datang kepada-Mu dengan tangan terikat di leher untuk menyerahkan diri!'”

Inilah keadaan laki-laki yang beribadah kepada Allah selama 60 tahun, sibuk dengan amalan dan tidak pernah menyibukkan diri dengan dunia, lalu bagaimana dengan keadaan kita?! (Thabaqat Al Auliya, hal. 185-186)


Resource Berita : hidayatullah.com
Sayidah Nafisah, Ahli Ibadah yang Menggali Kubur Sendiri

Sayidah Nafisah, Ahli Ibadah yang Menggali Kubur Sendiri



WartaIslami ~ SAYIDAH NAFISAH merupakan wanita ahli ibadah dari kalangan ahlul bait sekaligus guru dari Imam As Syafi’i.  Wanita ini pindah dari Madinah menuju Mesir dan menetap di negeri itu selama 7 tahun hingga akhir hayatnya.

Di Mesir, Sayidah Nafisah tinggal di rumah Abu Ja’far Khalid dan menggali makamnya sendiri di dalam rumah. Tiap hari di siang dan malamnya Sayidah Hafisah turun ke dalam liang itu untuk melaksanan shalat dan membaca Al Qur’an. Al Qadha’i menyebutkan bahwa Sayidah Nafisah menghatamkan Al Qur`an di kubur itu sebanyak 1000 kali khatam.

Setelah wafat, jenazah Sayidah Nafisah pun dimakamkan di dalam rumahnya itu, yakni di liang lahat yang telah ia persiapkan sebelumnya. (Mursyid Az Zuwar ila Qubur Al Abrar, hal. 173,178)


Resource Berita : hidayatullah.com
Lapar Hingga Makan Rumput, Imam Al Bukhari Merahasiakan

Lapar Hingga Makan Rumput, Imam Al Bukhari Merahasiakan



WartaIslami ~ IMAM AL BUKHARI menyampaikan, ”Suatu saat aku melakukan perjalanan menuju tempat tinggal Adam bin Abi Iyas. Saat itu seluruh bekalku sudah habis, hingga aku makan rerumputan dan aku tidak memberitahukan perihal itu kepada siapa pun.

Imam Al Bukhari pun melanjutkan kisahnya,”Di hari ke tiga datanglah seseorang yang sama sekali tidak aku kenal, dia membawa kantong berisi dinar dan menyamapikan kepadaku,’gunakanlah ini untuk nafkahmu.”. (Siyar A’lam An Nubala, 12/448)*


Resource Berita : hidayatullah.com
Adakah yang Menangis Ketika Anggota Keluarganya Tidak Shalat?

Adakah yang Menangis Ketika Anggota Keluarganya Tidak Shalat?

Jagalah anak dan keluarga kita dari api neraka


WartaIslami ~ “NAK, bangun, sudah siang, ayo siap-siap pergi sekolah!” Itulah kata-kata seorang ibu paruh baya – sebut saja namanya Maimunah – setiap pagi hari membangunkan anak-anaknya yang duduk di bangku sekolah menengah. Mereka tinggal di Kuala Lumpur. Maimunah dan suaminya berasal dari nenek moyang dan keluarga kampung santri di Indonesia.

Itulah tugas Maimunah,  yang selalu membangunkan tepat pada hingga anaknya selesai mandi dan sarapan, dan langsung bergegas menuju sekolah mengendarai sepeda motornya agar tidak terlambat masuk. Pekerjaan ini dilakukan setiap hari selama bertahun-tahun.

Bahkan hingga salah satu anaknya telah tamat dan bekerja di sebuah toko di pusat kota, setiap hari kerja ia tetap membangunkannya di pagi hari tapi dengan sedikit perbedaan. “Nak, bangun, sudah siang, ayo siap-siap kerja!”

Maimunah sendiri setiap hari selalu bangun sebelum adzan Subuh untuk menyiapkan sarapan pagi. Sebelum melakukan tugas rutinnya tersebut dia shalat.

Meskipun demikian tidak pernah membangunkan anak-anaknya yang semuanya telah remaja dan menyuruh mereka melaksanakan shalat Subuh. Suaminya pun demikian. Itu waktu shalat Subuh. Sedangkan mulai sore hingga malam ketika sang suami dan anak-anaknya ada di rumah, Maimunah dan suaminya juga tidak menyuruh mereka untuk segera shalat Ashar, Maghrib dan Isya. Mereka masing-masing asyik dengan berbagai aktivitasnya seperti menonton TV, mengobrol dan mengunakan laptop dan HP  yang membuat mereka seringkali mengakhirkan shalat. Itu adalah pemandangan yang biasa di lingkungannya.

Sanak saudara dan kenalan Maimunah dan suaminya, serta teman-teman anaknya yang berasal dari kampung yang sama di Indonesia dan tinggal dalam satu lingkungan di Kuala Lumpur mayoritas juga melakukan hal yang sama.

Itulah gambaran sebagian kaum Muslimin zaman modern ini yang tinggal di Kuala Lumpur kota yang penduduknya sama dengan  penduduk Jakarta yang lumayan gila kerja.

Mereka yang berasal dari keluarga dan nenek moyang santri yang peduli pada shalat tapi telah memutuskan rantai generasi yang peduli pada shalat dengan tidak peduli pada anak-anaknya yang tidak peduli pada shalat.

Ikatan Islam akan Lepas

Fenomena yang sama bisa dengan mudah kita temui di mana saja termasuk di Tanah Air kita yang merupakan negeri dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia.

Banyak dari generasi Muslim sekarang yang berkartu identitas Muslim tapi tidak beridentitas Muslim karena menyia-nyiakan shalat bahkan meninggalkan shalat sehingga mudah terbawa arus zaman modern yang serba permisif di mana perbuatan maksiat dianggap wajar – dan tidak sungkan-sungkan dilakukan secara terbuka.

Sebut saja merokok, meminum minuman keras, penyalahgunaan narkoba, korupsi, perkelahian antar pelajar atau anggota DPR/D, berpacaran, berhubungan seks di luar nikah, terlibat dalam pemerkosaan, menjadi pelaku homoseksual, dan terlibat dalam pornografi baik sebagai pelaku maupun pemakai dilakukan secara terbuka dan terang-terangan.

Perbuatan-perbuatan keji dan munkar bertentangan dengan fitrah manusia. Dilakukan tanpa malu –bahkan—mengkampanyekan di publik.

Di tengah zaman gila seperti ini, obat  yang tepat menghindari perbuatan keji dan munkar adalah dengan shalat yang benar. Karena itu setiap individu sebaiknya  berusaha agar pribadi, keluarga dan generasi penerusnya terhindar darinya. Sesuai dengan informasi dan jaminan dari Allah, hanya ada satu cara yang efisien dan efektif agar terhindar darinya, yaitu bukan sekadar melaksanakan shalat yang baik dan benar.  Karena salah satu efek dari mendirikan shalat adalah terhindar dari perbuatan keji dan mungkar.

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS: Al-‘Ankabuut [29]:45)

Masalahnya, apakah  masih ada orang di zaman modern ini yang peduli, bersedih hati dan menangis ketika mendapati generasinya – terutama anak cucu, anggota keluarganya– menyia-nyiakan shalat seperti halnya Anas bin Malik yang mengetahui ada orang-orang pada masa hidup beliau menyia-nyiakan shalat?

Alkisah, Anas bin Malik, sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam yang terakhir kali wafat di usia yang panjang (99 tahun) sehingga mengetahui kondisi zaman setelah sekian lama Rasulullah wafat ada orang-orang yang menyia-nyiakan shalat.

Az-Zuhri berkata, “Saya datang kepada Anas bin Malik di Damaskus, kebetulan ia sedang menangis. Lalu saya bertanya, ‘Mengapa engkau menangis?’ Ia menjawab, ‘Saya tidak tahu lagi amal yang kudapati di masa Nabi yang masih diindahkan (dipedulikan) orang sekarang, selain shalat itu pun sudah disia-siakan orang.’ (Di dalam riwayat lain: ‘Kamu telah menyia-nyiakan apa yang kamu sia siakan.)”

Bukannya sekadar tidak peduli, bersedih dan menangis, tapi justru mendukung anak-anaknya mengakhirkan bahkan tidak melaksanakan shalat. Itu sudah biasa dan jamak terjadi di zaman ini seperti kisah di atas.

Fenomena zaman sekarang yang begitu banyak orang yang tidak hanya dari kalangan muda tapi juga yang tua di negeri-negeri Muslim yang menyia-nyiakan shalat sesuai dengan informasi yang disampaikan ayat berikut ini.

فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيّاً

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS: Maryam [19]:59)

Maryam beserta para nabi dan rasul yang disebutkan dalam surat Maryam ayat-ayat sebelum ayat ke 59 yakni Zakaria as, Yahya as, Isa as, Ibrahim as beserta para nabi dari keturunannya, Musa as, Harun as, Idris as, dan Nuh as – sebagaimana para nabi dan rasul lainnya – adalah  pribadi-pribadi yang ikhlas dalam menjalankan perintah Allah untuk mendapatkan ridha Allah. Kepribadian mereka dijelaskan dalam kalimat terakhir dari ayat ke 58 dalam surat yang sama:

إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَن خَرُّوا سُجَّداً وَبُكِيّاً

“Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS: Maryam [19]:58)

Namun generasi-generasi sesudah mereka menyia-nyiakan shalat tapi lebih mengutamakan hawa nafsu, kehidupan dunia dan kesenangan duniawi.

Ternyata bukan mereka saja. Umat Muhammad yang hidup di akhir zaman ini  juga melakukan hal yang sama. Ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad berikut.

Abu Said Al-Khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda: “Akan datang suatu generasi sesudah enam puluh tahun, mereka melalaikan shalat dan memperturutkan hawa nafsu, maka orang-orang ini akan menemui kecelakaan dan kerugian. Kemudian datang lagi suatu generasi, mereka membaca al-Qur’an tetapi hanya di kerongkongan (mulut) saja (tidak masuk ke hati) dan semua membaca al-Qur’an, orang mukmin, orang munafik dan orang-orang jahat dan fasik (tidak dapat lagi dibedakan mana orang mukmin sejati dan mana orang yang berpura-pura beriman).” (HR:Ahmad, Ibnu Hibban dan Hakim)

Dalam sebuah hadits lain, Rasulullah bersabda,  Abu Umamah al Bahiliy bahwa Rasulullah bersabda;  ”Ikatan-ikatan Islam akan lepas satu demi satu. Apabila lepas satu ikatan, akan diikuti oleh lepasnya ikatan berikutnya. Ikatan Islam yang pertama kali lepas adalah pemerintahan dan yang terakhir adalah shalat.” (HR: Ahmad)

Semoga di akhirat kelak, diri, keluarga, kerabat dan generasi penerus kita tidak dikumpulkan bersama Fir’aun dan Haman. Untuk itu senyampang nyawa masih dikandung badan ajak diri sendiri dan mereka untuk tidak mengabaikan shalat.

Allah telah mewajibkan shalat lima waktu kepada hamba-Nya. Kata Nabi, “Barangsiapa menunaikan shalat pada waktunya, maka di Hari Kiamat shalat itu akan menjadi cahaya dan bukti baginya. Dan barang siapa mengabaikannya, maka ia akan dikumpulkan bersama Fir’aun dan Haman.” (HR: Ibnu Hibban dan Ahmad).*


Resource Berita : hidayatullah.com
Beginilah Bantal Rasulullah, Bagaimana Bantal Kita?

Beginilah Bantal Rasulullah, Bagaimana Bantal Kita?

Bantal (ilustrasi)


WartaIslami ~ عن عائشة رضي الله عنها :كَانَ وِسَادَتُهُ الَّتِى ينَامُ عَلَيْهَا بِاللَّيْلِ مِنْ أَدَمِ حَشْوُهَا لِيْفٌ -الترمذي

Artinya: Dari Aisyah-radhiyallahu `anha-Bahwasannya bantalnya (Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam) yang mana beliau tidur di atasnya di malam hari (terbuat) dari kulit yang telah disama’, isinya daun korma. (Riwayat At Tirmidzi dan dihasankan oleh Al Hafidz As Suyuthi)

Hadits di atas menunjukkan bahwa Rasulullah Shallalahu Alaihi Wasallam memiliki kesempurnaan dalam zuhud, dan penolakan beliau terhadap dunia sekaligus perhiasannya serta berbangga terhadapnya.

Hadits di atas juga menunjukkan halalnya menggunakan bantal dan sejenisnya yang berupa alas serta tidur di atasnya. Akan tetapi para ulama menyatakan bahwa lebih utama bagi siapa saja yang sifat melasnya mendominasi, untuk tidak berlebih-lebihan dalam hal isi bantal atau alas. Karena hal itu menyebabkan banyaknya tidur dan lalai dari menyibukkan diri dari perkara-perkara kebaikan. Demikian penjelasan dari Al Allamah Abdur Ra’uf Al Munawi. (Faidh Al Qadir, 5/181)


Resource Berita : hidayatullah.com
Beredar Video Viral Lafal Allah Tampak saat Gerhana Bulan Tadi Malam di Banjarmasin

Beredar Video Viral Lafal Allah Tampak saat Gerhana Bulan Tadi Malam di Banjarmasin



WartaIslami ~ Banyak orang yang merasa kecewa karena semalam tak bisa melihat gerhana bulan Super Blue Blood Moon.

Beberapa daerah di Indonesia semalam diguyur hujan dan langit tertutup mendung.

Akibatnya beberapa orang tidak bisa mengamati fenomena langka di angkasa ini.

Namun untuk beberapa daerah yang cuacanya baik bisa dengan leluasa mengamati gerhana bulan Super Blue Blood Moon semalam.

Setelah 150 tahun, fenomena langka Supermoon kembali terjadi pada Rabu (31/1/2018).

Pada fenomena Supermoon ini, bulan menunjukkan beberapa fase.

Mulai dari gerhana total, hingga super blue moon.

Dilansir TribunStyle.com dari Huffington Post, Kamis (1/2/2018) menurut NASA, bulan akan 14 persen lebih terang dan besar dari biasanya.

Yang membuat fenomena ini menjadi semakin fenomenal lantaran terjadinya gerhana bulan total di waktu yang sama.

Artinya, supermoon dan blue moon akan melewati bayangan (umbra) bumi.

Proses gerhana bulan langka ini bisa diamati dari Indonesia secara jelas.

Tak terkecuali beberapa orang yang ada di wilayah Banjarmasin.

Mereka juga mengabadikan momen gerhana bulan langka ini tadi malam.

Setelah fenomena langka semalam ini terjadi, esoknya banyak bertebaran foto dan video gerhana bulan di media sosial.

Banyak sekali netizen yang membagikan foto dan video gerhana bulan Super Blue Blood Moon itu.

Ada satu video gerhana bulan yang menyita banyak perhatian netizen.

Video itu tak hanya menunjukkan keindahan gerhana bulan tadi malam.

Ada seperti lafal Allah yang terlihat di awan saat gerhana bulan itu terjadi.

Video ini disebarluaskan oleh akun Facebook Robi Candra Dinata pada Kamis (2/1/2018).

Postingan Robi Candra Dinata (Facebook)


Rekaman itu berasal dari akun @berkatgurukita.

Robi Candra Dinata menjelaskan bahwa video ini direkam di daerah Banjarmasin.

"Terdapat lafadz Allah saat gerhana bulan td malam ( Banjarmasin ), Masya Allah, Allahu Akbar" begitu tulis Robi Candra Dinata.

Akun instagram @berkatgurukita juga menulis caption seperti ini:

"Gerhana Super Moon. Sumber: dpt kiriman dr pangkalanbun
Sumber: Real Fotoan admin sendiri di pondok indah banjarmasin . pas admin baru datang diparkiran"

Entah video ini benar atau hanya editan semata tapi netizen telah membuatnya menjadi viral.

Baru 10 jam diunggah postingan itu sudah lebih dari 7 ribu kali dibagikan.

Bahkan video itu telah dilihat lebih dari 288 ribu kali.

Pada umumnya netizen yang berkomentar di video dan postingan itu menuliskan "Subhanallah..maha besar Allah."

Apakah kalian warga di Banjarmasin menyaksikan kejadian ini juga?

Lihat videonya berikut ini:



Resource Berita : tribunnews.com
Alhamdulillah, Mulai Februari 2018 Pramugari Tampil Menutup Aurat

Alhamdulillah, Mulai Februari 2018 Pramugari Tampil Menutup Aurat

Pramugari maskapai penerbangan PT Citilink Indonesia, Tia Khairul Nissa merasa aman dan nyaman memakai hijab di Bandara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang Aceh Besar, Rabu (31/1). 


WartaIslami ~ ACEH-Kesan pramugari cantik dengan busana yang ngepas dan lekukan tubuh, kini perlahan hilang. Tepatnya di Bumi Rencong, Aceh.

Satu diantaranya terlihat dari penampilan Tia Khairul Nissa yang tak lagi berpenampilan seksi. Kini ia merasa lebih nyaman. Pramugari Citilink Indonesia itu, sejak pekan lalu mulai berhijab.

Tia mengaku dengan berhijab dirinya lebih leluasa, bahkan terbebas dari pandangan ‘nakal’ para penumpang. Selain itu, berhijab memang kewajiban seorang muslimah.
Menurutnya, surat edaran Bupati Aceh Besar Mawardi Ali, tentang imbauan agar para pramugari berpakaian muslimah dan berhijab mulai Februari 2018 saat melayani penerbangan dari dan menuju Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM), Blang Bintang, Aceh Besar sangat membantu mereka.

“Alhamdulillah, saya merasa ini lebih nyaman dan aman. Karena kalau pakaian terbuka tidak enak,” kata Tia, Rabu (31/1/2018).

Keputusan Bupati Aceh Besar dinilainya tak menjadi beban. Bahkan Tia mengaku sangat mendukung keputusan tersebut.

“Aceh negeri Serambi Mekah, ya saya sangat mendukung dengan aturan itu. Pramugari yang lain juga responnya baik,” sebut Tia. “Tidak keberatan sama sekali, ini hal baik bagi kami,” ungkapnya.

Dengan adanya kebijakan itu, sangat membantu kita dalam melayani tamu. Setiap masuk tamu kita mengucapkan salam di awal, lalu dengan penampilan seperti ini, penumpangnya juga lebih ramah lebih menghormati. Misalnya sedikit terbuka kan juga tidak enak, tamu melihat kita berbeda,” katanya.
Bupati Aceh Besar, Mawardi Ali mengatakan akan terus memantau maskapai. Bila ada maskapai yang tidak indahkan imbauan tersebut, maka akan dibagikan hijab gratis bagi pramugari.

“Bila mereka tidak taati, kita terus berikan surat. Bila tidak indahkan aturan ini, maka akan dibagikan jilbab gratis untuk pramugari bila maskapai tidak mampu belikan jilbab,” sebutnya.

Katanya, sejauh ini semua maskapai menaati himbauan wajib pakaian muslimah dan jilbab bagi pramugari. “Saya tadi ketemu langsung dengan pimpinan maskapai penerbangan di bandara. 1 Febuari, Garuda gunakan hijab, Lion Air tinggal pemesan. Tidak ada persoalan saat ini,” disebutnya.


Resource Berita : pojoksatu.id
Inilah yang Dilakukan Ulama Besar saat Bertemu Guru Ngajinya Waktu Kecil

Inilah yang Dilakukan Ulama Besar saat Bertemu Guru Ngajinya Waktu Kecil



WartaIslami ~ IMAM SYAMSUDDIN AD DIMYATHI adalah ulama shalih dari Mesir yang mensyarah Al Minhaj An Nawawi yang wafat 921 H.

Meski seorang ulama besar di zamannya, namun Imam Syamsuddin Ad Dimyathi sangat tawadhu bagi siapa saja yang telah mengajarinya di waktu kecil.

Dimana suatu saat Imam Syamsuddin Ad Dimyathi bersama muridnya, Imam Abdul Wahhab Asy Sya’rani, melakukan perjalanan, namun sang guru segera turun dari kendaraan lalu mencium tangan seorang yang buta yang sedang dituntun anak perempuannya.

Lalu Imam Syamsuddin mengatakan kepada muridnya,”Ia telah membacakan kepadaku Al Qur`an dua hizb waktu aku masih kecil. Aku tidak mampu melawatinya sedangkan aku menunggangi kendaraan”. (Thabaqat Al Kubra, 2/ 323)


Resource Berita : hidayatullah.com
Inilah Orang yang Paling Berbakti kepada Orang Tua di Kufah

Inilah Orang yang Paling Berbakti kepada Orang Tua di Kufah



WartaIslami ~ Di Kufah waktu itu, tidak ada orang yang baktinya kepada orang tua lebih besar daripada Manshur bin Al Mu’tamir dan Imam Abu Hanifah.

Manshur bin Al Mu’tamir rajin mencari kutu yang tinggal di kepala ibunya. Sedangkan Imam Abu Hanifah bersedekah atas nama kedua orang tuanya setiap hari Jum’at sebanyak 20 dirham, 10 untuk sang ayah dan 10 untuk sang  ibu. Sedekah itu diberikan kepada para fakir.

Sedekah itu sendiri di luar sedekah yang diatasnamakan Imam Abu Hanifah kepada kedua orang tuanya di waktu-waktu lainnya. (Manaqib Imam Abi Hanifah li Al Qurdi, 5/2)


Resource Berita : hidayatullah.com
Untuk Apa Diciptakan Lalat? Inilah Jawaban Imam As Syafi’i

Untuk Apa Diciptakan Lalat? Inilah Jawaban Imam As Syafi’i



WartaIslami ~ Imam As Syafi’i kala itu duduk bersama Khalifah Al Ma’mun. Namun tiba-tiba Al Ma’mun bertanya kepada Imam As Syafi’i,”Wahai Muhammad, untuk Allah menciptakan lalat?”

“Untuk menghinakan para raja wahai Amirul Mu’minin.” Jawaban yang tiba-tiba terbesit di pikaran Imam As Syafi’i itu disampaikan.

Al Ma’mun pun tertawa. “Engkau menyaksikan ada seekor lalat hinggap di pipiku?” Tanya Al Ma’mun.

“Benar Amirul Mu’minin. Anda bertanya kepada saya namun saya tidak memiliki jawaban. Dan hal itu membuatku tersentak. Dan ketika aku menyaksikan ada seekor lalat hinggap di tempat yang tidak bisa disuntuh oleh siapa saja meski ia didukung oleh ratusan ribu pedang dan anak panah, maka dari itu aku pun memperoleh jawabannya.”

Khalifah Al Makmun pun menyampaikan rasa takjubnya dengan kecerdasan Imam As Syafi’i. (Manaqib As Syafi’i li Al Baihaqi, 1/156)


Resource Berita : hidayatullah.com
Mengusir Kantuk Cara Wanita Ahli Ibadah

Mengusir Kantuk Cara Wanita Ahli Ibadah



WartaIslami ~ Muadzah Al Adawiyah adalah ahli ibadah yang hidup semasa dengan Rabi’ah Al Adawiyah. Wanita ahli ibadah ini selalu menghidupkan malam dengan mendirikan shalat.

Seorang wanita yang berkhidmat kepada Muadzah mengkisahkan bahwa Muadzah Al Adawiyah menghidupkan malam dengan shalat. Jika datang rasa kantuk, maka ia bangkit dan berjalan berkeliling di dalam rumah sambil berakata,”Wahai jiwa! Tidur ada di hadapanmu! Kalau engkau telah wafat maka benar-benar panjang tidurmu di kubur dengan kerugian atau kegembiraan!”

Muadzah Al Adawiyah mengucapkan kata-kata tersebut hingga datang waktu fajar. (Thabaqat As Shufiyah, hal. 391)


Resource Berita : hidayatullah.com
Orang Shalih Tukang Bawa Sandal Para Sahabatnya

Orang Shalih Tukang Bawa Sandal Para Sahabatnya



WartaIslami ~ SYEIKH ABU FADHL AL AHMADI adalah orang shalih wali Allah sahabat dari Imam Abdul Wahab Asy Sya’rani. Syeikh Abu Fadhl merupakan ahli ibadah yang tawadahu, dimana beliau selalu menyediakan makanan dan pakaian para sahabatnya.

Bahkan Syeikh Abu Fadhl memberikan pelayanan kepada seluruh sahabatnya. Imam Abdul Wahab Asy Sya’rani menyatakan,”Ketika kami melakukan perjalanan ke piramid di Giza atau ke tempat lainnya ia membawakan sandal-sandal semua sahabatnya di dalam sebuah wadah kulit di atas pundaknya. Siapa menolak maka ia bersumpah atas nama Allah Ta’ala, sampai ia bisa membawakan sandalnya.” (Thabaqat As Sya’rani, 2/306)


Resource Berita : hidayatullah.com
Nikmatnya Dzikrullah, Jari Putus Tak Terasa Sakit

Nikmatnya Dzikrullah, Jari Putus Tak Terasa Sakit



WartaIslami ~ MUWAFFAQAH AL MAUSHILIYAH adalah wanita ahli ibadah di kalangan tokoh-tokoh besar kaum sufi.

Fath Al Maushili mengisahkan mengenai wanita ini, bahwa suatu saat ia jatuh dan jari jempolnya pun putus, namun ia malah tertawa.

Saat itu ada yang terheran dan bertanya,”Jarimu putus, sedangkan engkau malah tertawa?”

Muwaffaqah pun menjawab,”Manisnya mengingat-Nya, telah menghilangkan dari hatiku rasa sakitnya.” (Al Kawakib Ad Durriyah, 1/467)


Resource Berita : hidayatullah.com
Menyembunyikan Sedekah Cara Syeikh Zakariya Al Anshari

Menyembunyikan Sedekah Cara Syeikh Zakariya Al Anshari



WartaIslami ~ SYEIKH AL ISLAM ZAKARIYA AL ANSHARI didatangi seorang syarif (keturunan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam) dan berkata,”Wahai tuanku, sorbanku telah diambil orang tadi malam, berikanlah aku uang untuk membelinya.”

Saat itu, Syeikh Zakariya Al Anshari pun memberikan sejumlah uang, namun sang syarif mengembalikan uang itu, dan Syeikh Zakariya menerima kambali uangnya.

Syeikh Abdul Wahhab Asy Sya’rani murid Syeikh Zakariya pun menympaikan kepada sang guru,”Uang itu tidak cukup untuk membeli sorban.”

Syeikh Zakariya pun menjawab,”Yang saya tidak kehendaki adalah, syarif itu datang saat ada banyak orang, sedangkan Allah telah memberikan kepadaku kecintaan untuk bersedekah secara tersembunyi. Kalau sekiranya waktu itu tidak ada orang, maka aku akan memberikan kepadanya uang yang cukup untuk membeli sorban atau yang lebih banyak dari itu, demi kakeknya, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.”

Setelah kejadian itu, Syeikh Abdul Wahhab Asy Sya’rani pun bertemu dengan sang syarif, lalu ia pun menyampaikan kepada sang syarif perihal apa yang dilakukan gurunya, Syaikh Zakariya Al Anshari.

Sang syarif pun berkata,”Sesungguhnya Syeikh telah mengirim untukku sorban pada malam harinya. Inilah dia, ada di atas kepalaku.” (Lawaqih Al Anwar Al Qudsiyyah, hal.147)



Resource Berita : hidayatullah.com
Sembilan Mukjizat Musa

Sembilan Mukjizat Musa



WartaIslami ~ JIKA Allah Subhanahu Wata’ala menyebutkan sesuatu secara berulang-ulang dengan ulangan yang begitu banyak, pasti ada pesan yang amat sangat penting yang hendak disampaikanNya. Salah satu yang disebut sangat banyak itu adalah tentang Musa Alaihi Salam – yang penyebutannya di Al-Qur’an sampai sekitar 190-an kali. Ada apa dengan Nabi yang diajak bicara langsung oleh Allah di lembah yang suci Thuwa ini? Ada apa dengan 9 mukjizatnya? Ternyata semuanya amat sangat relevan dengan kehidupan di umat akhir Jaman ini.

Saya pernah menulis tentang Ekonomi Tsamudian – ekonominya bangsa Tsamud– yaitu ekonomi yang hanya dikuasai segelintir kelompok – 9 orang yang berbuat kerusakan di muka bumi (QS 27:48). Bukankah yang mengusai ekonomi kita juga tidak lebih dari 9 orang atau kelompok ini? Bahkan mereka sendiri yang membuat istilah untuk kelompoknya ini?

Bila untuk Kaum Tsamud diturunkan Nabi Saleh, untuk bangsa Mesir yang sudah sangat maju pada jamannya – kita bisa lihat peninggalan-peninggalannya hingga kini, ketika yang memimpin adalah Fir’aun kemajuan itu juga menimbulkan begitu banyak kerusaan dan kedzaliman. Oleh karenanya dibutuhkan Nabi sekelas Musa – yang diajak bicara langsung oleh Allah di lembah suci Thuwa. Dialog ini diabadikan dalam puluhan ayat yang sangat indah di Surat Thaha mulai ayat 11.

Bukan hanya diajak bicara langsung, Musa juga diberi sampai Sembilan Mukjizat untuk menaklukkan Fir’aun dan kaumnya (QS 17: 101). Menurut Ibnu Kathir 9 Mukjizat ini adalah terkait tongkatnya (QS 17 :17-21), tangannya (QS 17:22) , laut (QS 2:50 dan sejumlah ayat lainnya), kemarau yang sangat panjang (QS 7 : 130-132) dan selebihnya terkait lima hal yang disebut di Al-A’raf 133 yaitu angina topan, belalang, kutu, katak dan darah – air minum yang berubah menjadi darah.

Mukjizat nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  – berupa Al-Qur’an – yang didalamnya mengandung seluruh mukjizat Nabi-Nabi sebelumnya. Dan ini tentu diperlukan untuk menghadapi segala urusan kehidupan umat akhir jaman ini yang jauh lebih sophisticated ketimbang jamannya Fir’aun sekalipun.

Tetapi sebesar apapun urusan yang kita hadapi, apakah itu ekonomi, politik, budaya, pemikiran, kemajuan teknologi dlsb. metode untuk menghadapinya tetap merujuk pada petunjuk yang sama – yaitu Al-Qur’an. Dan hanya dengan Al-Qur’an yang tidak hanya dibaca dan dipahami tetapi juga dijadikan petunjuk dan nasihat/pelajaran inilah umat ini akan bisa mengalahkan apapun yang dihadapinya (QS 3:138-139).

Nah coba kita lihat aplikasinya dengan petunjuk yang terkait dengan Musa tersebut di atas. Sebelum diutus untuk menghadapi Fir’aun (QS 20 : 24), Musa dipanggil dahulu untuk menghadap langsung ke Allah di lembah suci Thuwa. Lalu Allah bertanya apa yang dimiliki Musa di tangan kanannya, “Dan apakah yang ada di tangan kananmu wahai Musa ?” (QS 20:17).

Mengapa Allah pakai bertanya, sedangkan  Dia Yang Maha Tahu? Pertanyaan ini tentu bukan untuk Allah sendiri. Ini bahasa Al-Qur’an yang karakternya sebagai huda atau petunjuk, jadi pertanyaan tersebut agar menjadi petunjuk bagi kita yang membacanya. Apa isi petunjukNya itu?


Ini bisa ditadaburi dari ayat-ayat sesudahnya. Ketika Musa mulai menjelaskan apa yang dia milikinya – yaitu tongkat biasa, yang dengan itu dia bersandar, merontokkan daun untuk memberi makan kambingnya dan perbagai keperluan lainnya (QS 20:18), maka berangkat dari yang sudah dimiliki Musa inilah – Allah angkat kepemilikannya menjadi tongkat serbaguna yang kelak dibutuhkan dalam perjalanan menghadapi Fir’aun.

Tongkatnya bisa menaklukkan sihir ular para penyihir Fir’aun, bisa digunakan untuk membelah laut menyelamatkan kaumnya dan menenggelamkan Fir’aun dan bala tentaranya. Dan bagi kaumnya sendiri, tongkat Musa juga bisa untuk memukul batu  dan menghadirkan 12 mata air bagi dua belas suku pengikutnya (QS 2:60).

Intinya adalah apapaun kekuatan di luar sana, ekonomi, politik, teknologi, pemikiran dlsb. insyaAllah akan bisa kita hadapi, tetapi untuk menghadapinya kita tidak bisa hanya dengan mengandalkan apa yang kita punya – apalagi kalau kita tidak memiliki apa-apa, setelah kita punya sesuatupun untuk mulai (sesuatu ini sebut saja Tongkat Musa) – kita tentu juga butuh agar Dia juga hadir dalam apapun perjuangan kita.

Sebagaimana Musa yang tidak mungkin menghadapi Fir’aun bila hanya dengan tongkatnya yang semula dia miliki saja, demikian pula perjuangan kita di bidang apapun – kita tidak akan pernah unggul bila hanya dengan mengandalkan apa yang kita miliki, kita butuh pertolonganNya untuk meng-upgrade  yang sudah kita miliki tersebut.

Bila Musa diupgrade Allah dengan dipanggil langsung dan berbicara denganNya, kita sudah dipanggil berulang-ulang olehNya untuk mendekat. Kita disuruhNya Sholat untuk mengingatNya ( QS 20:14), kita diberi petunjuk untuk minta pertolonganNya dengan sabar dan sholat (QS 2:45 dan 2:153).

Selain membangun kekuatan mulai dari apa yang kita miliki di bidang kita masing-masing, mohon pertolonganNya untuk meng-ugrade terus menerus kekuatan itu, kita juga diajari oleh Allah melalui Musa untuk berdakwah yang penuh kelembutan – terhadap Fir’aun sekalipun.

ٱذۡهَبۡ أَنتَ وَأَخُوكَ بِـَٔايَـٰتِى وَلَا تَنِيَا فِى ذِكۡرِى (٤٢) ٱذۡهَبَآ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ إِنَّهُ ۥ طَغَىٰ (٤٣) فَقُولَا لَهُ ۥ قَوۡلاً۬ لَّيِّنً۬ا لَّعَلَّهُ ۥ يَتَذَكَّرُ أَوۡ يَخۡشَىٰ (٤٤)

“Pergilah engkau beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayatKu (tanda-tanda kekuasaanKu), dan janganlah kamu berdua lalai terhadapKu. Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, karena dia telah benar-benar melampaui batas. Dan berbicaralah kamu kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar dan takut” (QS Toha [20]: 42-44).

Maka dari rangkian ayat-ayat mukjizat Musa tersebut di atas, kita bisa langsung introspeksi bila perjuangan kita di bidang apapun – belum bisa mengalahkan kekuatan jaman ini. Apa intropeksinya? Minimal di lima hal berikut  yang harus ada di check list kita.

  • Apakah kita sudah memulainya dari apa yang kita miliki atau ‘Tongkat Musa’ kita sendiri?
  • Apakah kita sudah menghadirkan pertolonganNya sehingga kita bisa bener-benar unggul diapa yang kita miliki tersebut?
  • Apakah kita sudah terus menerus mengingatNya?
  • Apakah kita sudah membentuk team yang kuat untuk mendampingi perjuangan kita?
  • Apakah kita sudah berlemah lembut dalam mengkomunikasikan apapun yang hendak kita sampaikan?

Kalau semuanya sudah, barulah kita insyaAllah siap untuk idzhab ila Fir’auna innahu thoghoo – di bidang kita masing-masing!

Penulis adalah Direktur Gerai Dinar



Resource Berita : hidayatullah.com
Al Samaha, Desa Khusus Wanita di Mesir, Pria Dilarang Masuk

Al Samaha, Desa Khusus Wanita di Mesir, Pria Dilarang Masuk



WartaIslami ~ Terletak sekitar 120 kilometer dari kota di Mesir selatan, Al Samaha adalah satu-satunya desa yang didedikasikan untuk para wanita, khususnya para janda, ibu tunggal dan anak-anak.

Pria tidak diijinkan memasuki desa. Jika ada wanita di desa yang sudah menikah, mereka akan disarankan keluar dari Al Samaha, tulis Al Arabiya English Ahad, (28/01/2018).

Ditempati  sekitar 303 ibu tunggal, desa ini terletak di tengah gurun di Edfu, dua jam perjalanan dari Aswan.

Dengan ratusan rumah, sebagian besar penduduknya terpinggirkan oleh masyarakat setelah musibah kematian atau perceraian mereka.

Pada tahun 1998 Kementerian Pertanian Mesir mengembangkan sebuah proyek desa kepada para ibu tunggal dengan menyediakan lahan yang memungkinkan mereka memelihara unggas dan ternak sebagai sumber pendapatan. Termasuk beternak ayam, dan kambing.

Di tempat ini, semua tanaman dapat tumbuh dengan kecuali tebu, dan jika terjadi pelanggaran, wanita tersebut tidak lagi diberi pupuk.


Koordinator proyek tersebut, Hamdi Al-Kashef, mengatakan hanya perempuan dan anak-anak yang boleh tinggal di desa tersebut, dan setiap keluarga menyediakan rumah dan enam hektar lahan pertanian, serta bantuan masyarakat internasional.

Semua keluarga juga dilengkapi dengan perabotan dan keperluan pertanian, serta beberapa pinjaman jangka pendek

“Proyek desa dimulai pada tahun 1998 ketika Kementerian Pertanian memutuskan untuk mengalokasikan dua desa baru kepada perempuan dan janda yang bercerai, ” kata Hamdi Al-Kashef,  kepada Al Arabiya.

Semua keluarga juga dilengkapi dengan perabotan dan keperluan pertanian, serta beberapa pinjaman jangka pendek. Pembangunan rumah bertingkat didanai melalui subsidi pemerintah, dan warganya diperbolehkan melakukan pembayaran secara angsuran.

Hamdi mengatakan saat wanita itu sudah menikah, semua tanah dan rumah akan dikembalikan kepada pemerintah untuk diserahkan ke ibu tunggal lain yang membutuhkan.

Proyek ini bertujuan untuk melestarikan masa depan bagi mereka yang kehilangan anggota keluarga mereka, dan untuk membantu perempuan yang kini menjadi pencari nafkah tunggal untuk anak-anak mereka.

“Proyek ini bertujuan untuk menjaga masa depan orang-orang yang kehilangan keluarga mereka dan untuk mendukung perempuan yang sekarang menjadi satu-satunya harapan anak-anak mereka,” katanya.

Ketua Asosiasi Wanita Selatan di Aswan, Safinaz Ibrahim mengatakan bahwa desa tersebut mewakili kekuatan wanita Mesir yang mampu menanggung beban tugas berat.

“Mereka tinggal di padang pasir di lingkungan yang sangat sulit, tanpa kebutuhan dasar. Tapi mereka bisa melewati semua tantangan ini untuk membesarkan anak-anak mereka, “katanya.*


Resource Berita : hidayatullah.com
Abdullah ibn Ma'sud, Sosok Paling Dekat dengan Karakter Nabi

Abdullah ibn Ma'sud, Sosok Paling Dekat dengan Karakter Nabi



WartaIslami ~ Abdullah bin Mas'ud menerima pelatihan unik di rumah Nabi. Lelaki itu meneladani berbagai kebiasaan Rasulullah. Banyak orang mengenal Abdullah sebagai sosok paling dekat dengan karakter Nabi. Oleh karena itu, dia adalah orang yang paling berpengetahuan tentang Syariah.

Tidak ada yang bisa menggambarkan hal ini lebih baik daripada cerita tentang orang yang datang ke Umar bin Khattab saat berdiri di dataran Arafah dan berkata:

"Saya telah datang, wahai Amirul Mukminin, dari Kufah di mana saya meninggalkan seorang pria yang mengisi salinan Alquran dari ingatan." Umar menjadi sangat marah dan mondar-mandir di samping untanya, menggerutu. "Siapa dia?" Dia bertanya.

"Abdullah ibn Mas'ud," jawab pria itu. Kemarahan Umar mereda dan dia kembali tenang. "Celakalah kamu," katanya pada pria itu. "Demi Tuhan, saya tidak tahu ada orang yang lebih baik memahami syariah daripada dia.

Umar bersama Abdullah bin Mas'ud Suatu malam Rasulullah Sedang mengobrol dengan Abu Bakar tentang situasi umat Islam. Umar pun bersama mereka. Saat Nabi pergi, keduanya juga pergi bersamanya dan saat mereka melalui masjid, ada seorang pria yang berdiri sambil berdoa yang tidak dikenal.

Nabi pun ikut berdiri dan mendengarkannya, lalu berpaling kepada keduanya dan berkata, Barang siapa ingin membaca Alquran dengan nyaring, maka tirulah cara membaca Ibnu Umm Abd.

Setelah shalat, saat Abdullah duduk berdoa, Nabi SAW bersabda, "Min talah, niscaya akan terkabul," Rasul mengulanginya hingga dua kali. Umar lalu menemui Abdullah dan mengatakan kabar baik bahwa Rasul akan menjamin doanya diterima Allah. Namun, ternyata Abu Bakar telah lebih dahulu menemuinya dan menyampaikan apa yang dikatakan Rasul.

Abdullah Ibn Mas'ud memperoleh berkah pengetahuan Alquran. Dia per nah bersumpah atas nama Allah bahwa setiap ayat yang diwahyukan dan sebab turunnya telah dike tahuinya. Jika pun ada orang selainnya, Abdullah akan bersamanya untuk mempelajari wahyu Allah yang belum diketahuinya tersebut.

Abdullah tidak melebih-lebihkan apa yang dia katakan tentang dirinya sendiri. Hanya kejujuran yang keluar dari mulutnya. Suatu ketika Umar bin Khattab bertemu dengan sebuah kafilah. Saat itu gelap gulita dan kafilah tidak bisa terlihat dengan benar. Umar memerintahkan seseorang untuk memanggil kafilah tersebut. Tanpa disangka, di dalamnya ada Abdullah Ibn Mas'ud.

"Dari mana Anda datang?" tanya Umar. "Dari lembah yang dalam," jawabnya. "Dan kemana kamu pergi?" tanya Umar. "Ke rumah kuno," terdengar jawabannya. "Ada orang terpelajar (alim) di antara mereka," kata Umar dan dia memerintahkan seseorang untuk bertanya kepada orang itu: "Bagian mana dari Alquran yang paling besar?" "'Tuhan, tidak ada tuhan kecuali Dia, Yang Hidup, Yang Tidak Tertidur." Abdullah bin Mas'ud bukan hanya penghafal Alquran, dia juga dikenal sebagai sosok terpelajar dan ahli ibadah. Sejarah mencatatnya sebagai sosok pejuang kuat dan pemberani.


Resource Berita : republika.co.id
5 Cara Ibadah Dan Berburu Pahala Saat Sedang Haid

5 Cara Ibadah Dan Berburu Pahala Saat Sedang Haid



WartaIslami ~ Bagi seorang wanita, haid merupakan kodrat yang di berikan Allah, dan pada masa haid pula wanita dilarang untuk melaksanakan beberapa ibadah. Namun masih ada ibadah yang boleh di lakukan untuk menggali pahala.

Beribadah dan memperbanyak pahala merupakan kewajiban setiap umat Islam. Namun saat haid, banyak ibadah yang dilarang. Lantas bukan berarti tidak ada ibadah yang bisa dilakukan ketika haid.

Nah, Berikut ini 5 Ibadah yang dilarang saat masa haid dan juga 5 ibadah yang diperbolehkan selama masa haid.

Ibadah yang dilarang dilakukan pada waktu haid.

1. Sholat

Semua ulama sudah sepakat, bahwa seorang wanita haid tidak diperkenakan untuk mendirikan salat, baik salat wajib maupun sunah. Bahkan tidak sah apabila tetap dilaksanakan.

Sesuai hadis Nabi, “Jika hadi datang, tinggalkan salat.”

2. Puasa

Diharamkan seorang wanita berpuasa saat ia haid.

Namun, ia wajib mengqada (mengganti) di lain waktu. Ini sesuai pernyataan Aisyah radhiallahu anha, “Apa bila yang demikian itu (haid) menimpa kami, maka kami disuruh (oleh Rasulullah) mengqada puasa namun tidak disuruh untuk mengqada salat,” (HR Muslim)

3. Tawaf

egitu juga saat menunaikan ibadah haji dan umrah, wanita haid dilarang untuk melakukan tawaf.

Aisyah Ra berkata,

“Aku datang ke kota Makkah dalam kondisi haid. Aku pun tidak melakukan tawaf dan sai antara Safa dan Marwa. Maka, hal itu kuadukan kepada Rasulullah Saw. Mendengar hal tersebut beliau bersabda, ‘Lakukanlah semua yang dilakukan oleh orang yang berhaji. Namun, jangan bertawaf sampai engkau suci.”

4. Berjima

Suami-istri yang berjima, merupakan ibadah yang bernilai berpahala tinggi.

Namun saat haid, hal ini dilarang. Allah berfirman, “Jauhilah para wanita itu saat sedang haid dan jangan mendekati mereka sebelum suci.”

Baca juga: Ya Allah, Apakah Kesusahan Tanpa Henti ini Ujian DariMu Ataukah Azab DariMU

Namun, sekedar bersentuhan, foreplay dan bercumbu tidak sampai jima diperbolehkan.

5. Berdiam di Masjid

Keempat imam mazhab sepakat, bahwa wanita yang sedang haid tidak diperbolehkan untuk duduk di masjid.

Dalilnya adalah sabda Rasulullah : “Sesungguhnya aku tidak menghalalkan masjid bagi wanita haid dan orang junub.” (HR Abu Daud).

Namun jika seorang melintas di dalam masjid untuk suatu keperluan, maka diperbolehkan.

Dalilnya, Rasulullah pernah memerintahkan Aisyah membawa khumrah (semacam sajadah) yang ada di masjid. Lalu Aisyah berkata,

“Sesungguhnya aku sedang haid.” Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya haidmu itu bukan berada di tanganmu.” (HR Muslim).

Bagi muslimah yang sedang haid pasti menginginkan untuk berburu pahala.

Berikut ini beberapa ibadah yang bisa dilakukan saat haid.

1. Membaca Alquran

Masalah ini menjadi perbedaan pendapat di antara ulama.

Beberapa ulama fikih mengharamkannya, namun menurut Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah membahas persoalan ini dalam kitabnya Majmu al Fatwa.

Menurut kesepakatan para ulama bahwa wanita tidak boleh membaca Alquran saat haid adalah hadis daif (lemah). Dengan demikian, wanita yang sedang haid diperbolehkan untuk membaca al-Quran.

2. Mendengarkan bacaan Alquran.

 Wanita yang sedang haid boleh mendengarkan bacaan alquran, seperti lewat Radio, TV, Handpone dll.

3. Membaca kalimat tayyibah

Wanita haid diperbolehkan untuk membaca kalimat-kalimat yang baik, seperti zikir, takbir, tahlil, tahmid, atau pun doa-doa yang disyariatkan pagi ataupun sore hari (al-ma’tsurat).

Wanita haid juga diperkenankan untuk membaca buku-buku ilmiah, seperti tafsir, fikih, ataupun hadis.

4. Mendengar ceramah.

Wanita haid juga diperbolehkan mendengarkan ceramah, asalkan tidak di dalam tempat shalat.

Seperti mendengarkan ceramah di depan TV atau radio. Di dalam kitab Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, Umu Athiah berkata,

“Rasulullah Saw pernah bersabda menyuruh keluar wanita – wanita dan anak – anak gadis yang berada di dalam rumah saat salat dua hari raya (salat Idul Fitri dan Idul Adha) supaya mereka dapat menyaksikan kebaikan dan seruan orang mukmin, dan jauhkanlah wanita haid dari musala (tempat lapang salat Hari Raya).”

5. Bersedekah

Mengeluarkan uang untuk berbagi dengan orang lain, dengan bersedekah, diperbolehkan dalam kondisi suci maupun haid.

Seperti menyiapkan makanan untuk orang yang berpuasa atau orang yang sedang mengaji, memberi santunan pada fakir miskin dll.

Nah itulah ibadah yang bisa kita lakukan saat sedang haid. Haid tak lantas menghalangi kita untuk mengumpulkan pundi-pundi pahala dari Allah SWT.



Resource Berita : wajibbaca.com
Wanita Disunnahkan Melaksanakan Shalat Gerhana di Masjid?

Wanita Disunnahkan Melaksanakan Shalat Gerhana di Masjid?



WartaIslami ~ Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Para wanita juga disunnahkan melaksanakan shalat khusuf (gerhana bulan) di masjid secara berjamaah. Mereka dilarang memakai parfum menyengat dan bersolek saat pergi ke masjid agar tidak menimbulkan fitnah. Lebih-lebih shalat ini untuk menggambarkan rasa takut terhadap tanda-tanda kebesaran Allah ini. Karena Allah takdirkan gerhana sebagai sarana membuat takut para hamba-Nya.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُخَوِّفُ بِهِمَا عِبَادَهُ

"Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang dan tidak pula karena hidupnya seseorang. Tapi, Allah Ta'ala menakut-nakuti hamba-Nya dengan keduanya." (Muttafaq ‘Alaih)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin Rahimahullah berpendapat bahwa para wanita juga ikut melaksanakan shalat gerhana di masjid. Alasannya, karena para istri-istri pada sahabat ikut serta melaksanakan shalat kusuf (gerhana) di masjid saat terjadi gerhana di zaman Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Selesai dari keterangan Syaikh Ibnu Utsaimin dalam fatwa berjudul “Hukmu Shalah al-Kusuf wa Hal Lil Mar'ati an Thushalliya fi al-Bait”.

Diriwayatkan dari Asma’ binti Abi Bakar Radhiyallahu 'Anhuma, ia berkata: Aku mendatangi ‘Aisyah –istri Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam- saat terjadi matahari. Saat itu manusia sedang shalat. Saat ia juga sedang berdiri shalat maka aku bertanya, “Apa yang menyebabkan orang-orang shalat?” lalu ia berisyarat dengan tangannya ke langit. Ia berkata: Subhanallahu (Maha suci Allah). Lalu aku bertanya, “Ayat (tanda kekuasaan Allah)?”. Aisyah mengiyakan dengan isyarat. Maka akupun ikut shalat. . . . (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dzahir hadir ini menunjukkan bahwa ‘Aisyah dan Asma’ shalat bersama Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Sebagaimana yang sudah maklum, perintah dalam Islam berlaku bagi laki-laki dan wanita kecuali ada dalil yang mengkhususkannya. Dan tidak ada dalil yang membedakan antara laki-laki dan wanita dalam shalat gerhana ini.

Utamanya, shalat khusuf (gerhana) dilaksanakan di masjid jami'. Masyarakat berkumpul di satu tempat untuk bersama-sama melaksanakan shalat dan menyimak khutbah dan naishat. Namun ini bukan keharusan.

Jika wanita tidak ada mahram yang menyertainya ke masjid atau khawatir timbul fitnah dengan kepergiannya ke masjid karena terlalu malam, maka boleh dia melaksanakan shalat gerhana di rumahnya.

Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah pernah ditanya, “Apakah wanita boleh shalat kusuf (gerhana) sendirian di rumahnya? Apa yang utama baginya?”

Beliau menjawab:

لا بأس أن تصلي المرأة صلاة الكسوف في بيتها ؛ لأن الأمْر عام " فَصَلّوا وادْعُوا حتى ينكشف ما بِكم " ، وإن خرجت إلى المسجد كما فعل نساء الصحابة ، وصَلَّتْ مع الناس كان في هذا خير

Tidak apa-apa wanita shalat gerhana di rumahnya. Karena perintah datang secara umum, “Maka shalatlah dan berdoalah sehingga hilang gerhana dari kalian.” Dan jika ia keluar ke masjid sebagaimana istri-istri para sahabat dan shalat bersama orang-orang maka pelaksanaan semacam ini lebih baik.”

Jika di rumahnya terdapat beberapa wanita, -pendapat ini dinisbatkan kepada madhab Syafi’iyah- ia boleh mengerjakan secara berjamaah dengan mereka. Tidak disyariatkan khutbah bagi wanita. Namun sebagian mereka boleh memberi nasihat dan peringatan kepada lainnya. Wallahu A’lam.


Resource Berita : voa-islam.com
Hasan Gipo, Ketua PBNU Pertama yang Bikin Tak Berkutik Moso Sang Singa Podium PKI

Hasan Gipo, Ketua PBNU Pertama yang Bikin Tak Berkutik Moso Sang Singa Podium PKI

Hasan Gipo. 

WartaIslami ~ Hasan Gipo atau Hasan Basri lahir di Surabaya pada tahun 1869 di  Kampung Sawahan (sekarang Jl. Kalimas Udik). Ia lahir dari lingkungan keluarga santri kaya yang dikenal dengan nama keluarga Gipo. Bertempat tinggal di kawasan perdagangan elite di Ngampel yang bersebelahan dengan pusat perdagangan di Pabean, sebuah pelabuhan sungai yang berada di tengah kota Surabaya yang berdempetan dengan Jembatan Merah.

Keluarga Gipo yang berdarah Arab, merupakan saudagar kaya di daerah komplek Ampel, Surabaya. Hingga kampung tempat Gipo tinggal kemudian dikenal dengan Gang Gipo dan keluarga ini mempunyai makam keluarga yang dinamai makam keluarga, makam Gipo di kompleks Masjid Ampel. Gang Gipo sendiri kini berubah menjadi Jalan Kalimas Udik.

Sebagai seorang yang mampu secara ekonomi Hasan Gipo juga mendapatkan pendidikan cukup memadai selain belajar di beberapa pesantren di sekitar surabaya, juga sekolah di pendidikan umum ala Belanda. Meskipun mendapatkan pendidikan model Belanda tetapi jiwa kesantriannya masih sangat kental dan semangat kewiraswastaannya sangat tinggi. Sehingga kepemimpinan ekonomi di kawasan bisnis Pabean masih dipegang oleh keluarga itu, hingga masa Hasan Gipo.

Karena hampir seluruh kiai Jawa Timur merasa sebagai pengikut dan penerus Sunan Ampel, maka setiap saat mereka berziarah ke makam keramat di kota Surabaya itu. Kunjungan mereka itu banyak disambut oleh keluarga Gipo di Ampel. Persahabatan Hasan Gipo dengan para ulama yang telah dirintis kakeknya terus dilanjutkan. Sehingga ia sangat dikenal oleh kalangan ulama, sebagai saudagar, aktivis pergerakan dan administratur yang cerdik. Tidak sedikit pertemuan para ulama baik untuk bahtsul masail maupun untuk membahas perkembangan politik yang dibiayai dan difasilitasi oleh Hasan Gipo. Sebagai sesama penerus Sunan Ampel dan sesama sudagar membuat Hasan Gipo sering bertemu dengan KH Wahab Hasbullah dalam dunia pergerakan.

Sebagai seorang pedagang dan sekaligus aktivis pergerakan yang tinggal di kawasan elite Surabaya, hal itu sangat membantu pergerakan Kiai Wahab. Dialah yang selalu mengantar Kiai Wahab menemui para aktivis pergerakan yang ada di Surabaya, seperti HOS Cokroaminoto, Dr. Soetomo dan lain sebagainya. Di situlah Kiai Wahab dan Hasan Gipo berkenalan dengan para murid HOS Cokroaminoto seperti Soekarno, Kartosuwiryo, Muso, SK Trimurti dan masih banyak lagi. Di situlah para aktivis pergerakan nasional baik dari kalangan nasionais dan santri bertemu merencanakan kemerdekaan Indonesia.

Pertemuan antara Hasan Gipo dengan Kiai Wahab serta kiai lainnya makin intensif. Ia kemudian terlibat aktif dalam pendirian Nahdlatul Wathan (1914), walaupun tidak tercatat sebagai pengurus. Selanjutnya ia juga menjadi peserta diskusi dalam forum Taswirul Afkar (1916).

Karena itu pengetahuannya sangat teruji, dan kemapuan berargumentasinya sangat memukau. Selain itu ia juga telah aktif terlibat dalam Nahdlatut Tujjar (1918) yang memang bidangnya. Dalam forum semacam itu ia berkenalan dengan ulama lainnya makin intensif seperti Kiai Hasyim Asy’ari dan beberapa kiai besar lainnya di Jawa  yang telah lama menjalin pershabatan dengan keluarga Ampel itu.

Bahkan ketika para ulama membentuk Komite Hejaz dan akan mengirimkan utusan ke Makah, sumbangan Hasan Gipo juga sangat besar. Dialah yang mempelopori penghimpunan dana dan ia sendiri pun menyumbang sangat besar. Atas prestasinya yang banyak memberikan sumbangan dan memiliki kecakapan teknis dalam menangani administrasi organisasi serta penggalangan dana masyarakat.

Karena itu ketika Nahdlatul Ulama berdiri, dalam sebuah pertemuan terbatas yang dipimpin Kiai Wahab Hasbullah di kawasan Bubutan Surabaya ia langsung ditunjuk sebagai Hoftbestoor (Pengurus Besar) NU sebagai Ketua Tanfidziyah  dan usul itu langsung disetujui oleh Kiai Hasyim Asy’ari yang sebelumnya sudah sangat mengenal Hasan Gipo serta latar belakang keluarganya.

Walau sebagai pengurus NU bisnisnya tetap berkembang, bahkan kemudian juga dikembangkan ke sektor properti. Ia banyak memiliki perumahan, pertokoan dan pergudangan yang ini kemudian disewakan. Saat itu kebutuhan terhadap sarana bisnis tinggi, karena itu tingkat hunian propertinya juga tinggi, sehingga keuntungan yang diperoleh dari sini juga tinggi sehingga ia bisa menyumbang banyak ke NU, baik ketika Muktamar maupun untuk sosialisasi dan pengembangan NU ke daerah-daerah lain. Bisa dilihat, NU pun berkembang sangat cepat dari Surabaya. Pada tahun kedua NU telah menyebar di Jawa Tengah, bahkan pada tahun kelima telah menyebar ke Jawa Barat, bahkan ke Kalimantan dan Singapura.

Seperti dilukiskan Saifuddin Zuhri, menggabarkan Hasan Gipo sebagai sosok yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga gagah secara fisik. Karena itu ketika terjadi perdebatan tentang masalah teologi antara Kiai Wahab Hasbullah dengan Muso yang ateis itu bisa mengganti kedudukan Kiai Wahab yang bosan menghadapi Muso yang hanya bisa debat kusir tanpa nalar dan tanpa hujjah yang benar. Maka dengan gagah berani ia  melakukan  debat dengan Muso tokoh PKI yang dikenal sebagai Singa podium itu ditaklukkan. Setiap argumennya bisa dipatahkan sehingga alumni Moskwo dan anak didik Lenin itu keteteran. Tidak hanya itu Arek Suroboyo ini juga berani menantang Muso berkelahi secara fisik. Anehnya Muso yang biasanya brangasan itu tidak berani menghadapi tantangan Hasan Gipo.

Selain menguasai ilmu agama, setiap orang pesantren selalu menguasai ilmu kanuragan. Sebab ini bagian dari tradisi pesantren, dan tampaknya Hasan Gipo juga memiliki ilmu ini sehingga hal inilah yang membuat Muso ngeri menghadapi Hasan Gipo. Jabatan ketua Tanfidziyah itu dipegang Hasan Gipo selama dua masa jabatan. Baru pada Muktamar NU Ketiga 1929 di Semarang ia digantikan oleh KH. Noor sebagai ketua Tanfidziyah yang baru juga berasal dari Surabaya. Selanjutnya pada Muktamar NU ke 12 tahun 1937 di Malang kemudian KH Noor digantikan oleh KH Mahfud Shiddiq, kakak kandung KH Ahmad Shiddiq.

Pada periode awal ini, NU memang banyak diikuti oleh para pengusaha. Selain Hasan Gipo ada beberapa pengusaha besar yang masuk ke NU diantaranya Haji Burhan Gresik. Ia memiliki pabrik kulit dan persewaan rumah dan gudang. Kemudian adalagi pengusaha besar Haji Abdul Kahar Kawatan Surabaya, yang menguasai perdagangan pertanian di Jawa Timur. Kemudian ada H. Jassin, seorang pemilik pabrik garmen yang khusus diekspor ke India dan Pakistan. Mereka semuanya pernah aktif terlibat aktif dalam Nahdlatut Tujjar, maka ketika NU berdiri secara otomatis mereka bergabung ke NU.

Dengan demikian NU bisa berdiri mandiri tanpa bantuan dari kolonial, sehingga bebas menentukan gerak organisasinya dan mengatur pendidikan pesantren yang diselenggarakannya.

Pada periode awal ini selain menggiatkan bidang pendidikan, maka NU sangat peduli dengan usaha pengembangan ekonomi dengan membentuk berbagai syirkah. Usaha impor sepeda dari Eropa dirintis sejak tahun 1935 karena untuk mencukupi kebutuhan pasar dalam negeri dan tentunya sangat dibutuhkan sebagai sarana transportasi warga NU dalam mengembangkan jamiyah. Selain itu juga dibentuk badan pengimpor gerabah dan barang kebutuhan lainnya dari Jepang. Usaha itu terus dikembangkan, kemudian NU juga mulai masuk lebih serius dalam bidang industri percetakan dan lain sebaginya. Atas inisiatif para kiai dan para tujjar yang ada dalam tubuh NU pergerakan NU semakin gencar, sehingga dalam waku singkat menjadi organisasi besar.

Selain bisnis yang bersifat kolektif para pengurus NU sejak dari Kiai Hasyim Asy’ari, termasuk Kiai Wahab Hasbullah. Kiai As’ad Syamsul Arifin, Kiai Bisri, Kiai Muslih Purwokerto, mempunyai usaha sendiri-sendiri. Usaha itu dibangun selain untuk memenuhi ekonomi keluarga yang terpenting bisa menjadi kemandirian agar tidak minta bantuan pada pemerintah kolonial Belanda. Jajaran pimpinan NU terdiri dari orang-orang independen, tidak ada yang menggantungkan ekonominya pada birokrasi kolonial.

Karena itu sejak masa kemerdekaan kemandirian kiai dan NU tetap terjaga karena memiliki kemandirian secara ekonomi. Pembangunan ekonomi di sini ditempatkan sebagai strategi politik untuk menjaga kemandirian dan kebebasan warga dari ketergantungan dan tekanan dari penjajah.

Setelah tidak lagi menjadi Ketua Tanfidziyah PBNU, Hasan Gipo kembali mengembangkan bisnisnya hingga semakin besar. Sebagian hasil keuntungannya tetap disumbangkan pada NU dan pesantren. Sebab pada masa rintisan NU membutuhkan banyak dana, apalagi saat itu Muktamar dilaksanakan setiap tahun, maka sudah pasti Hasan Gipo tergerak untuk membantu pendanan Muktamar NU setiap kali diselenggarakan, baik di Surabaya maupun di luar Jawa.

Aktivitas Hasan Gipo terus dilanjutkan hingga menjelang wafatnya  pada tahun 1934 yang kemudian dimakamkan di kompleks pemakaman Sunan Ampel dalam pemakaman khusus keluarga Sagipoddin. Ia mempunyai tiga orang anak, yang kemudian melanjutkan usaha bisnisnya dan sekaligus sebagai penerus dinasti Gipo yang masih terus aktif hingga saat ini.


Resource Berita : dutaislam.com
Nasehat Gus Dur Kepada Modin Berkelas

Nasehat Gus Dur Kepada Modin Berkelas



WartaIslami ~ Namanya KH. Wahyudi, dia berasal dari keluarga sederhana. Tinggal di Desa Pacar Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan. Beliau adalah salah satu mudin di kampunya yang begitu aktif dalam menjalankan tugasnya, dari menjadi pencramah di masjid sampai mushola-mushola yang ada di kampungnya itu.

Selain aktif dalam syi'ar agama beliau juga aktif di organisasi, baik dulu sewaktu kecil di IPPNU, remaja mengikuti ANSOR dan dewasa ini adalah NU. Dan hebatnya jabatan ketua selalu ditempatinya.

Tak hanya itu, beliau juga aktif di politik. Dengan berpedoman khitthah NU,  "NU bukan milik siapa-siapa tapi NU ada dimana-mana," beliau memutuskan untuk masuk dalam partai (warna merah), selanjutnya disebut WM.  Beliau konsisten di partai ini, dari petama menggeluti politik sampai sekarang tak pernah ganti di partai WM ini, dan walhasil beliau menjadi DPRD wilayah Jawa tengah, sesuai kepribadiannya beliau, beliau ditempatkan dalam hal pendidikan dan keagamaan.

Pada suatu ketika saat beliau menjabat sebagai DPRD, beliau dimintai untuk Mulang (menghajar agama) oleh ketua DPD parpol tersebut. Serasa Mak jleb,,kaget bukan kepayang dan heranya beliau, beliau yang hanya berlatar belakang kiai ndeso merasa dirinya tak pantas dengan tugas tersebut. Tapi akhirnya sebelum memutuskan antara "iya" atau "tidak", sebagai kader NU yang menjunjung tinggi wejangan (petuah/saran) para sesepuh, beliau sowan dulu ke ketua PBNU pada saat itu adalah KH. Abdurrahman Wahid allauyarham atau yang biasa akrab disapa Gus Dur.

KH. Wahyudi menemui Gus Dur di Ciganjur tempat kantor PBNU berada dan menceritakan perihal masalahya tersebut. Beliau bertanya kepada Gus Dur. "Gus saya ini orang NU, saya ini disuruh mulang/nuturi anggota DPD partai WM di Semarang, yang notabene bukan org NU. bagaimana ini Gus?"

Gus Dur pun dengan santainya menjawab. "Bagus itu. Sampeyan kalau mulang di tempat orang-orangnya NU/para santri, itu sama saja sampeyan nguyahi segoro (menabur garam dilaut) artinya orang-orang yang sudah paham tentang agama kok digurui. Yaa lebih baik yang sperti itu."

"Laksanakan tugas mulia itu," tegas Gus Dur.

Kemudian Gus Dur pun memberi nasehat. "Kalau sampeyan mulang di manapun, jangan sekali-kali sampeyan meminta imbalan (upah). Tapi kalau ada yang memberi jangan sekali-kali menolaknya."

Mendengar nasehat yang pertama seakan Pak Wahyadi senyum kecut dan mendengar yang kedua kecutnya hilang. Hehehe.

Dan yang terakhir Gus Dur pun mendo'akan, agar ilmunya manfaat dan berkah kehidupanya. Pak Wahyudi pun mengamini dan pamitan untuk segera pulang.

Dengan modal silaturahmi ke kediaman Gus Dur, KH. Wahyudi pun memberanikan diri untuk meng-iya kan tawaran dari petingginya. Modin ini yang dulu hanya riwa-riwi di kampunya saja sekarang makin berkelas membagi ilmunya kepada para anggota dewan di kota besar sampai sekarang. sekian.


Resource Berita : dutaislam.com
Syarat dan Jenis Zakat Binatang Ternak

Syarat dan Jenis Zakat Binatang Ternak



WartaIslami ~ Di dalam fiqih, binatang ternak yang wajib dizakati hanya ada tiga macam, yaitu unta, sapi, dan kambing. Hal ini berdasarkan beberapa hadits yang menegaskan kewajiban zakat pada ketiga jenis binatang ternak tersebut. Mengapa hanya tiga macam binatang ini? Hikmah di baliknya antara lain karena banyaknya manfaat binatang-binatang tersebut bagi manusia; air susunya baik untuk kesehatan, mudah dikembang biakkan, dan lain sebagainya (Lihat An-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Mesir, al-Muniriyah, jilid V, halaman: 321).

Zakat binatang ternak tidak diwajibkan pada selain tiga jenis binatang ternak tersebut, berdasarkan sabda baginda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wassallam:

لَيْسَ عَلَى الْمُسْلِمِ فِى عَبْدِهِ وَلاَ فَرَسِهِ صَدَقَةٌ

“Bagi seorang muslim tidak menanggung beban zakat dari budak dan kudanya.” (HR. Muslim)

Begitu pula ayam, bebek, ikan dan lain sebagainya. Namun, bila selain tiga jenis binatang ternak tersebut diperdagangkan, maka dikenai kewajiban zakat perdagangan sesuai dengan ketentuan di dalam zakat tijarah (aset perdagangan).

Ketiga binatang ternak di atas wajib dizakati jika memenuhi empat syarat:

1. Mencapai nishab (batas minimum wajib zakat) seperti nishabnya sapi yang disebutkan di dalam satu riwayat hadits:

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ بَعَثَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْيَمَنِ فَأَمَرَنِي أَنْ آخُذَ مِنْ كُلِّ ثَلَاثِينَ بَقَرَةً تَبِيعًا أَوْ تَبِيعَةً وَمِنْ كُلِّ أَرْبَعِينَ مُسِنَّةً

“Dari Mu’adz ibn Jabal, ia berkata, ‘Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam mengutusku ke Yaman, kemudian beliau memerintahku untuk mengambil zakat dari setiap tiga puluh ekor unta, seekor unta berusia setahun, menginjak usia tahun keduanya, jantan atau betina, dan dari setiap empat puluh ekor unta, seekor unta berusia dua tahun,menginjak usia ketiga’.” (HR. At-Tirmidzi)

2. Melewati haul (setahun Hijriah) seperti sabda baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam:

وَلَيْسَ فِي مَالٍ زَكَاةٌ حَتَّى يَحُولَ عَلَيْهِ الْحَوْلُ

“Suatu harta tidak wajib dizakati kecuali telah melewati masa setahun.” (HR. Abu Dawud)

Syarat ketiga ini hanya berlaku bagi induknya saja. Sedangkan untuk anak-anak binatang tersebut, perhitungan haul-nya diikutkan pada induknya. Sehingga, jika induk sudah melewati setahun, maka anak-anaknya pun dihukumi haul, walaupun sebenarnya belum melewati setahun.

3. Digembalakan. Maksudnya, sepanjang tahun binatang ternak tersebut diberi makan dengan cara digembalakan di lahan umum atau lahan milik sendiri, tidak dengan dicarikan rumput. Dalam sebuah hadits disebutkan:

وَصَدَقَةُ الْغَنَمِ فِى سَائِمَتِهَاإِذَا كَانَتْ أَرْبَعِيْنَ إِلَى عِشْرِيْنَ وَمِائَةٍ شَاةٌ

“Zakat kambing yang digembalakan adalah satu ekor kambing ketika jumlahnya telah mencapai empat puluh sampai seratus dua puluh ekor.” (HR. Bukhari)

4. Tidak dipekerjakan, seperti untuk membajak sawah, mengangkut barang dan lain sebagainya. Di dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Imam an-Nawawi menjelaskan alasan binatang ternak yang dipekerjakan tidak wajib dizakati:

ولان العوامل والمعلوفة لا تقتنى للنماء فلم تجب فيها الزكاة كثياب البدن وأثاث الدار

“Karena sesungguhnya binatang ternak yang dipekerjakan dan binatang yang diberi makan dengan cara dicarikan rumput tidak semata-mata untuk dikembang-biakan, sehingga tidak wajib dizakati sebagaimana pakaian dan perabot rumah.” (An-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Mesir, al-Muniriyah, jilid V, halaman: 323)

Jika seseorang memiliki unta, sapi atau kambing yang telah memenuhi keempat syarat di atas, maka wajib dizakati. Semua ini menurut pendapat mazhab Syafi’i. Sedangkan menurut pendapat mazhab Malikiyah, syarat ketiga (digembalakan) dan syarat keempat (tidak dipekerjakan) tidak menjadi pertimbangan. Sehingga, apabila ketiga binatang ternak tersebut telah mencapai nishab dan melewati masa setahun (haul), maka wajib dikeluarkan zakatnya. (Lihat Muhammad ibn Abdullah al-Kharasyi, Syarh Mukhtashar Khalil). Wallahu a’lam.



Resource Berita : nu.or.id
Setelah Wahyu Tak Turun Lagi, Apa Tugas Jibril?

Setelah Wahyu Tak Turun Lagi, Apa Tugas Jibril?



WartaIslami ~ Dalam Kitab Al-Haba`ik fi Akhbaril Mala`ik yang ditulis oleh Jalaluddin As-Suyuthi terdapat pembahasan mengenai empat panglima malaikat yang mengelola urusan dunia. Dalam hal ini ia menghadirkan pelbagai macam riwayat, salah satunya adalah riwayat Ibnu Abi Hatim, Abus Syekh, dan Al-Baihaqi dari Ibnu Sabith.

Dalam riwayat tersebut dikatakan bahwa ada empat malaikat diberi tugas untuk mengelola dunia. Dari empat malaikat tersebut adalah Jibril yang salah satu tugasnya adalah mengurusi angin, Mikail mengurusi urusan hujan dan tumbuh-tumbuhan, dan Izrail diberi tugas mencabut nyawa. Sedang Israfil diberi tugas untuk menyampaikan perintah kepada mereka.

رُؤُوسُ الْمَلَائِكَةِ الْأَرْبَعةِ اَلَّذِينَ يُدَبِّرُونَ أَمْرَ الدُّنْيَا. (أَخْرَجَ) ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ وَأَبُو الشَّيْخِ فِى الْعُظْمَةِ وَالبَيْهَقِيُّ فِى الشُّعَبِ عَنِ ابْنِ سَابِطٍ قَالَ: يُدَبِّرُ أَمْرَ الدُّنْيَا أَرْبَعَةٌ : جِبْريلُ وَ مِيكَائِيلُ وَ مَلَكُ الْمَوْتِ وَ إِسْرَافِيلُ فَأَمَّا جِبْرِيلُ فَوُكِّلَ بِالرِّيَاحِ وَ الْجُنُودِ وَ أَمَّا مِيكَائِيلُ فَوُكِّلَ بِالْقَطْرِ وَ النَّبَاتِ وَ أَمَّا مَلَكُ الْمَوْتِ فَوُكِّلَ بِقَبْضِ الْأَرْوَاحِ وَ أَمَّا إِسْرَافِيلُ فَهُوَ يَنْزِلُ بِالْأَمْرِ عَلَيْهِمْ

Artinya, “Empat panglima malaikat yang mengurusi urusan dunia. Ibnu Abi Hatin dan Abus Syekh meriwayatkan dalam kitab Al-‘Uzhmah dan Al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman dari Ibnu Sabith ia berkata, ‘Empat Malaikat yang mengurusi urusan dunia yaitu Jibril, Mikail, Malaikat Maut, dan Israfil. Jibril diserahi untuk mengatur angin dan para tentara, Mikail diserahi untuk mengurus hujan dan tumbuh-tumbuhan, Malaikat Maut diserahi untuk mencabut nyawa, sedangkan Israfil diserahi tugas menyampaikan perintah kepada mereka,” (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Haba`ik fi Akhbaril Mala`ik, Beirut, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah, cetakan pertama, 1985 M/1405 H, halaman 16).

Tugas lain yang diemban Jibril adalah memenuhi hajat atau kebutuhan manusia. Dalam sebuah riwayat Al-Baihaqi dari Tsabit dikatakan bahwa Allah mendelegasikan Jibril untuk mengurusi hajat manusia.

Apabila orang mukmin berdoa, Allah menahan Jibril sejenak untuk mengabulkan doanya. Hal ini terjadi karenak Allah senang mendengarkan lantunan doa orang Mukmin. Lainnya halnya apabila yang berdoa adalah orang kafir, maka Allah langsung mengintruksikan kepada Jibril untuk segara memenuhinya. Hal ini karena Allah tidak menyukai mendengar lantunan doanya.

وَأَخْرَجَ الْبَيْهَقِيُّ عَنْ ثَابِتٍ قَالَ بَلَغَنَا أَنَّ اللهَ تَعَالَى وَكَّلَ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ بِحَوائِجِ النَّاسِ، فَإِذَا سَأَلَ الْمُؤْمِنُ ، قَالَ يَا جِبْرِيلُ: احْبِسَ حَاجَتَهُ فَإِنِّي اُحِبُّ لِدُعَائِهِ، وَإِذَا دَعَا الْكَافِر، قَالَ يَا جِبْرِيلُ أَقْضِ حَاجَتَهُ فَإِنِّي أُبْغِضُ دُعَائَهُ

Artinya, “Al-Baihaqi meriwayatkan dari Tsabit, dia berkata, ‘Telah sampai kepadaku riwayat yang menyatakan bahwa Allah SWT mendelegasikan Malaikat Jibril AS dalam urusan memenuhi hajat hidup manusia. Apabila seorang Mukmin berdoa, maka Allah pun berkata kepada Jibril AS, ‘Wahai Jibril! Tahan dulu untuk memenuhi hajatnya karena Aku sungguh sangat senang mendengar lantunan doanya.’ Apabila orang kafir berdoa, Allah pun berkata kepadanya, ‘Wahai Jibril! Penuhi apa yang menjadi hajatnya karena sesungguhnya Aku tidak suka mendengar lantunan doanya,’’” (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Haba`ik fi Akhbaril Mala`ik, Beirut, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah, cetakan pertama, 1985 M/1405 H, halaman 24).


Resource Berita : dutaislam.com
Delapan Pelajaran Istimewa Hatim al-‘Asham Berguru 30 Tahun

Delapan Pelajaran Istimewa Hatim al-‘Asham Berguru 30 Tahun



WartaIslami ~ Sudah maklum adanya bahwa mencari ilmu hukumnya wajib, utamanya ilmu agama dan syariat yang menjadi kunci keberhasilan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Mencari ilmu sangat wajib bagi setiap orang muslim” (HR. Ath-Thabrani)

Sungguh beruntung sekali orang yang diberi kesempatan oleh Allah ta’ala untuk bisa belajar dan mengeyam pendidikan agama. Namun tidak semua orang mengerti terhadap cara dan tujuan yang benar di dalam mencari ilmu.

Oleh sebab itu, pentinglah kiranya bagi kita belajar dari teladan-teladan yang telah diwariskan oleh para pendahulu kita di dalam cara dan tujuan yang benar dalam mencari ilmu. Di antaranya adalah teladan yang diriwayatkan dari seorang ulama besar di masanya. Beliau adalah Hatim al-Asham, murid Syaqiq al-Balkhi radliyallahu ‘anhuma.

Suatu ketika Syaqiq bertanya kepada Hatim, “Berapa lama engkau menemaniku?”

Hatim menjawab, “Tiga puluh tiga tahun.”

“Lalu apa yang telah engkau pelajari dariku selama ini?” lanjut Syaqiq.

“Delapan pengetahuan,” jawab Hatim.

“Inna lillahi wa inna ilahi raji’un. Umurku telah habis bersamamu namun engkau tidak belajar kecuali delapan permasalahan,” jawab Syaqiq keheranan.

“Wahai guruku, aku tidak mempelajari selain delapan permasalahan itu, dan sungguh aku tidak suka berbohong,” Hatim meyakinkan.

“Sampaikan delapan permasalahan itu, agar aku mendengarnya,” lanjut Syaqiq.

Hatim berkata, “Aku melihat seluruh manusia. Kemudian aku melihat masing-masing dari mereka mencintai kekasihnya. Ia bersama kekasihnya tersebut hingga sampai kubur. Namun, ketika ia sudah sampai kubur, maka apa yang ia kasihi meninggalkannya. Maka aku jadikan amal-amal baik sebagai kekasihku. Sehingga, ketika aku masuk kubur, maka kekasihku masuk ke kubur bersamaku.”

“Bagus wahai Hatim. Lalu apa yang kedua?” sahut Syaqiq.

Hatim melanjutkan, “Aku melihat firman Allah azza wa jalla:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى، فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

“Dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Nazi’at: 40 - 41)

Aku yakin bahwa sesungguhnya firman Allah subhanahu wa ta’ala adalah benar. Maka aku memaksa nafsuku untuk menolak hawa (kesenangannya) hingga nafsuku tenang untuk taat kepada Allah ta’ala. Yang ketiga, sesungguhnya aku melihat seluruh manusia. Aku melihat setiap orang yang memiliki sesuatu yang berharga dan bernilai, maka ia akan mengangkat dan menjaganya. Kemudian aku melihat firman Allah azza wa jalla:

مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللهِ بَاقٍ

“Apa yang di sisi kalian akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.”(QS. An-Nahl: 96)

Sehingga, setiap aku memiliki sesuatu yang bernilai dan berharga, maka aku hadapkan kepada Allah agar tetap terjaga di sisi-Nya. Yang keempat, sesungguhnya aku melihat semua manusia ini. Aku melihat bahwa masing-masing dari mereka kembali ke harta, keturunan mulia, kemuliaan dan nasab. Aku renungkannya, ternyata semua itu tidak ada artinya. Kemudian aku melihat firman Allah ta’ala:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”(QS. al-Hujurat: 13)

Maka aku beramal taqwa berharap aku menjadi orang yang mulia di sisi Allah. Yang kelima, sesungguhnya aku melihat semua manusia ini. Sebagian dari mereka mencela sebagian yang lain, dan sebagian dari mereka melaknat sebagian yang lain. Penyebab semua ini adalah sifat dengki. Kemudian aku melihat firman Allah azza wa jalla:

نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

“Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.”(QS. Az-Zukhruf: 32)

Maka aku tinggalkan sifat dengki dan aku menjauh dari manusia. Aku yakin bahwa sesungguhnya pembagian sudah ada dari sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Maka aku menghindari permusuhan dengan manusia.

Keenam, aku melihat para manusia. Sebagian dari mereka berbuat zalim pada sebagian yang lain. Dan sebagian dari mereka memerangi sebagian yang lain. Kemudian aku kembali kepada firman Allah ta’ala:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, Maka anggaplah ia musuh(mu).”(QS. Fathir: 6)

Maka aku hanya memusuhi setan saja. Dan aku berusaha sekuat tenaga waspada dan berhati-hati padanya. Karena sesungguhnya Allah ta’ala telah bersaksi bahwa sesungguhnya setan adalah musuhku. Maka akutidak memusuhi makhluk selain setan.

Yang ketujuh, aku melihat para manusia, masing-masing dari mereka mencari serpihan roti hingga ada yang menghinakan diri sendiri untuk mendapatkannya. Dan mereka terjerumus ke dalam sesuatu yang tidak halal. Kemudian aku melihat firman Allah ta’ala:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللهِ رِزْقُهَا

“Dan tidak ada suatu binatang melata (makhluk hidup) pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya.”(QS. Huud: 6)

Maka aku yakin bahwa sesungguhnya aku merupakan salah satu dari dawwab (makhluk hidup) ini yang ditanggung rezekinya oleh Allah. Maka aku tersibukan dengan apa yang menjadi hak Allah ta’ala atas diriku, dan aku meninggalkan apa yang menjadi hakku di sisi-Nya.

Yang kedelapan, aku melihat para manusia berpasrah diri dan bertawakkal kepada makhluk. Sebagian tawakkal pada kebunnya, sebagaian lagi tawakkal pada dagangannya, sebagian lain tawakkal pada pekerjaannya, dan sebagian lain lagi mengandalkan kesehatan badannya. Semua makhluk tawakkal pada makhluk yang lain yang sama lemahnya dengannya. Kemudian aku kembali pada firman Allah ta’ala:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)

Maka aku berserah diri kepada Allah azza wa jalla. Aku yakin Allahlah Tuhan yang mencukupiku.”

Dengan senyum penuh bangga dan bahagia Syaqiq berkata, “Wahai Hatim, semoga Allah ta’ala memberi taufiq padamu. Sesungguhnya aku telah melihat ilmu-ilmu di dalam kitab Taurat, Injil, Zabur dan Al-Qur’an al-Adhim. Aku menemukan semua jenis kebaikan dan ajaran agama. Semuanya berkutat pada delapan permasalahan ini. Sehingga, orang yang mengamalkannya, maka sesungguhnya ia telah mengamalkan keempat Kitabullah.”

Semoga kita dapat mengambil kedelapan pelajaran penting yang telah disampaikan oleh Hatim al-Asham, amin ya rabbal alamin. Wallahu a’lam. (Moh. Sibromulisi)


Kisah diambil dari keterangan al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, Beirut, Dar al-Fikr al-Ilmiyah, cetakan kelima, jilid I, halaman 145 – 147.
Delapan Pelajaran Istimewa Hatim al-‘Asham Berguru 30 TahunIlustrasi (thesufi.com)
Sudah maklum adanya bahwa mencari ilmu hukumnya wajib, utamanya ilmu agama dan syariat yang menjadi kunci keberhasilan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Mencari ilmu sangat wajib bagi setiap orang muslim” (HR. Ath-Thabrani)

Sungguh beruntung sekali orang yang diberi kesempatan oleh Allah ta’ala untuk bisa belajar dan mengeyam pendidikan agama. Namun tidak semua orang mengerti terhadap cara dan tujuan yang benar di dalam mencari ilmu.

Oleh sebab itu, pentinglah kiranya bagi kita belajar dari teladan-teladan yang telah diwariskan oleh para pendahulu kita di dalam cara dan tujuan yang benar dalam mencari ilmu. Di antaranya adalah teladan yang diriwayatkan dari seorang ulama besar di masanya. Beliau adalah Hatim al-Asham, murid Syaqiq al-Balkhi radliyallahu ‘anhuma.

Suatu ketika Syaqiq bertanya kepada Hatim, “Berapa lama engkau menemaniku?”

Hatim menjawab, “Tiga puluh tiga tahun.”

“Lalu apa yang telah engkau pelajari dariku selama ini?” lanjut Syaqiq.

“Delapan pengetahuan,” jawab Hatim.

“Inna lillahi wa inna ilahi raji’un. Umurku telah habis bersamamu namun engkau tidak belajar kecuali delapan permasalahan,” jawab Syaqiq keheranan.

“Wahai guruku, aku tidak mempelajari selain delapan permasalahan itu, dan sungguh aku tidak suka berbohong,” Hatim meyakinkan.

“Sampaikan delapan permasalahan itu, agar aku mendengarnya,” lanjut Syaqiq.

Hatim berkata, “Aku melihat seluruh manusia. Kemudian aku melihat masing-masing dari mereka mencintai kekasihnya. Ia bersama kekasihnya tersebut hingga sampai kubur. Namun, ketika ia sudah sampai kubur, maka apa yang ia kasihi meninggalkannya. Maka aku jadikan amal-amal baik sebagai kekasihku. Sehingga, ketika aku masuk kubur, maka kekasihku masuk ke kubur bersamaku.”

“Bagus wahai Hatim. Lalu apa yang kedua?” sahut Syaqiq.

Hatim melanjutkan, “Aku melihat firman Allah azza wa jalla:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى، فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

“Dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Nazi’at: 40 - 41)

Aku yakin bahwa sesungguhnya firman Allah subhanahu wa ta’ala adalah benar. Maka aku memaksa nafsuku untuk menolak hawa (kesenangannya) hingga nafsuku tenang untuk taat kepada Allah ta’ala. Yang ketiga, sesungguhnya aku melihat seluruh manusia. Aku melihat setiap orang yang memiliki sesuatu yang berharga dan bernilai, maka ia akan mengangkat dan menjaganya. Kemudian aku melihat firman Allah azza wa jalla:

مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللهِ بَاقٍ

“Apa yang di sisi kalian akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.”(QS. An-Nahl: 96)

Sehingga, setiap aku memiliki sesuatu yang bernilai dan berharga, maka aku hadapkan kepada Allah agar tetap terjaga di sisi-Nya. Yang keempat, sesungguhnya aku melihat semua manusia ini. Aku melihat bahwa masing-masing dari mereka kembali ke harta, keturunan mulia, kemuliaan dan nasab. Aku renungkannya, ternyata semua itu tidak ada artinya. Kemudian aku melihat firman Allah ta’ala:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”(QS. al-Hujurat: 13)

Maka aku beramal taqwa berharap aku menjadi orang yang mulia di sisi Allah. Yang kelima, sesungguhnya aku melihat semua manusia ini. Sebagian dari mereka mencela sebagian yang lain, dan sebagian dari mereka melaknat sebagian yang lain. Penyebab semua ini adalah sifat dengki. Kemudian aku melihat firman Allah azza wa jalla:

نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

“Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.”(QS. Az-Zukhruf: 32)

Maka aku tinggalkan sifat dengki dan aku menjauh dari manusia. Aku yakin bahwa sesungguhnya pembagian sudah ada dari sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Maka aku menghindari permusuhan dengan manusia.

Keenam, aku melihat para manusia. Sebagian dari mereka berbuat zalim pada sebagian yang lain. Dan sebagian dari mereka memerangi sebagian yang lain. Kemudian aku kembali kepada firman Allah ta’ala:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, Maka anggaplah ia musuh(mu).”(QS. Fathir: 6)

Maka aku hanya memusuhi setan saja. Dan aku berusaha sekuat tenaga waspada dan berhati-hati padanya. Karena sesungguhnya Allah ta’ala telah bersaksi bahwa sesungguhnya setan adalah musuhku. Maka akutidak memusuhi makhluk selain setan.

Yang ketujuh, aku melihat para manusia, masing-masing dari mereka mencari serpihan roti hingga ada yang menghinakan diri sendiri untuk mendapatkannya. Dan mereka terjerumus ke dalam sesuatu yang tidak halal. Kemudian aku melihat firman Allah ta’ala:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللهِ رِزْقُهَا

“Dan tidak ada suatu binatang melata (makhluk hidup) pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya.”(QS. Huud: 6)

Maka aku yakin bahwa sesungguhnya aku merupakan salah satu dari dawwab (makhluk hidup) ini yang ditanggung rezekinya oleh Allah. Maka aku tersibukan dengan apa yang menjadi hak Allah ta’ala atas diriku, dan aku meninggalkan apa yang menjadi hakku di sisi-Nya.

Yang kedelapan, aku melihat para manusia berpasrah diri dan bertawakkal kepada makhluk. Sebagian tawakkal pada kebunnya, sebagaian lagi tawakkal pada dagangannya, sebagian lain tawakkal pada pekerjaannya, dan sebagian lain lagi mengandalkan kesehatan badannya. Semua makhluk tawakkal pada makhluk yang lain yang sama lemahnya dengannya. Kemudian aku kembali pada firman Allah ta’ala:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)

Maka aku berserah diri kepada Allah azza wa jalla. Aku yakin Allahlah Tuhan yang mencukupiku.”

Dengan senyum penuh bangga dan bahagia Syaqiq berkata, “Wahai Hatim, semoga Allah ta’ala memberi taufiq padamu. Sesungguhnya aku telah melihat ilmu-ilmu di dalam kitab Taurat, Injil, Zabur dan Al-Qur’an al-Adhim. Aku menemukan semua jenis kebaikan dan ajaran agama. Semuanya berkutat pada delapan permasalahan ini. Sehingga, orang yang mengamalkannya, maka sesungguhnya ia telah mengamalkan keempat Kitabullah.”

Semoga kita dapat mengambil kedelapan pelajaran penting yang telah disampaikan oleh Hatim al-Asham, amin ya rabbal alamin. Wallahu a’lam. (Moh. Sibromulisi)


Kisah diambil dari keterangan al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, Beirut, Dar al-Fikr al-Ilmiyah, cetakan kelima, jilid I, halaman 145 – 147.



Resource Berita : nu.or.id
close
Banner iklan disini