Jika Al-Ghazali Hidup Sekarang, Inilah yang Dilakukan untuk Perbaiki Indonesia

Jika Al-Ghazali Hidup Sekarang, Inilah yang Dilakukan untuk Perbaiki Indonesia



WartaIslami ~ Pimpinan Ma’had Aly for Islamic Studies Raudlatul Muhibbin KH Luqman Hakim menyebutkan, pangkal persoalan yang ada di Indonesia saat ini seperti kemiskinan, keterbelakangan, perselisihan, maraknya hoaks, dan lain sebagainya adalah pendidikan. Jika pendidikan suatu bangsa baik, maka bangsa tersebut akan baik. Begitupun sebaliknya.

“Kalau Al-Ghazali hadir hari ini di Indonesia, pertama kali yang dia luruskan adalah dunia pendidikan,” kata Kiai Luqman selepas mengisi acara Seminar Internasional Pemikiran Imam Al-Ghazali di Jakarta Pusat, Jumat (19/1).

Kiai Luqman mengkritik sistem pendidikan di Indonesia yang tidak memiliki filosofi pendidikan. Jika merunut pendapat Imam Al-Ghazali, filosofi pendidikan didasarkan pada kemanfaatan suatu ilmu (ilmun nafi) untuk kehidupan di dunia dan sekaligus akhirat. Menurutnya, hal pertama yang dilakukan Imam Al-Ghazali jika hidup hari ini untuk Indonesia adalah memperbaiki pendidikan Indonesia

“Teori ilmun nafi (ilmu yang bermanfaat) sudah lama. Yang ada hanya di pesantren, dalam pendidikan nasional tidak ada,” paparnya.

Imam Al-Ghazali, imbuhnya, juga akan mendeteksi penyakit daripada bangsa ini. Setelah diketahui jenis penyakitnya, maka ia akan memberikan terapi dan pengobatan untuk menyembuhkan bangsa ini. Al-Ghazali berpendapat bahwa sumber daripada penyimpangan atau kemaksiatan seperti hedonis, materialis, dan syahwat adalah menuruti hawa nafsu (ar-ridlo anin nafs). 

“Di Indonesia sudah ada industri yang memanjakan nafsu. Itu produk dari tiga tadi (hedonis, materialis, dan syahwat). Ini akan beranak pinak dan menjadi kekuatan destruktif bagi perkembangan karakter bangsa.

Ia menambahkan, Imam Al-Ghazali akan menggunakan pisau analisa ar-ridlo anin nafs untuk menyelesaikan segala persoalan yang ada. Bahkan, di dunia modern seperti saat ini sekalipun.


Resource Berita : nu.or.id
Sejarah Nabi Muhammad : Wahyu Pertama yang Menggetarkan

Sejarah Nabi Muhammad : Wahyu Pertama yang Menggetarkan



WartaIslami ~ Dalam asuhan pamannya inilah Muhammad kecil tumbuh dewasa, anak yang membawa petunjuk telah menjadi seorang pemuda, berbekal kebenaran dan memancarkan cahaya. Dalam genggaman tangannya terdapat pelita hikmah, lisannya berisi berita gembira, dalam sorotan matanya tampak kesungguhan nyata, wajahnya bersinar menjanjikan kebahagiaan, dalam darahnya mengalir jiwa kepahlawanan sejati, menentang setiap kecongkakan dan keangkuhan. Kaum Quraisy mengenalnya dengan pengenalan yang sangat dalam, dia disebut al-Amin (orang yang jujur), dan semua Kabilah Arab telah rela memilihnya sebagai hakim dalam peletakkan Hajar aswad di Baitullah.

Setelah beranjak dewasa, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam nikah dengan seorang saudagar wanita kaya raya, bernama Khadijah binti Khuwailid. Dari pernikahan ini beliau dikarunia beberapa anak laki-laki dan perempuan, meskipun anak laki-lakinya wafat di masa kanak-kanak. Sejak sebelum menikah, Muhammad adalah seorang pria yang sering merenung, dan berpikir, kontemplasi (olah spritual), memikirkan fenomena alam dan lingkungan sekitarnya di tempat yang jauh dari keramaian.

Beliau berdoa kepada Tuhan agar menemukan sesuatu yang mencerahkan dirinya dan kaumnya. Kita mengetahui dari kariernya di belakang hari, bahwa Muhammad sangat prihatin akan keruntuhan moral yang sangat mengkhawatirkan di Makkah. Kebiasaan ini terus berlanjut setelah beliau menikah. Bahkan pada bulan Ramadhan, hal itu lebih ditingkatkannya lagi, disertai dengan membagikan makanan dan sedekah kepada fakir miskin yang membutuhkan. Hingga pada suatu malam di bulan Ramadhan, tahun 610 M, di sudut gua Hira, beliau dikejutkan oleh turunnya wahyu yang pertama dari Allah, sebagaimana hadits berikut ini:

Dari Aisyah Ummul Mukminin radliyallahu ‘anha, ia berkata: “Permulaan wahyu yang diterima oleh Rasulullah adalah ar-ru’ya ash-shalihah (mimpi yang baik) dalam tidur. Biasanya mimpi yang dilihatnya itu jelas laksana cuaca pagi. Kemudian beliau jadi senang menyendiri; lalu menyendiri di gua Hira untuk bertahannuts. Beliau bertahannuts, yaitu beribadah di sana beberapa malam, dan tidak pulang ke rumah isterinya. Dan untuk itu beliau membawa bekal. Kemudian beliau pulang kepada Khadijah, dan di bawahnya pula perbekalan untuk keperluan itu, sehingga datang kepada beliau Al-Haqq (kebenaran, wahyu) pada waktu beliau berada di gua Hira. Maka datanglah kepada beliau malaikat dan berkata, “Bacalah!” Jawab beliau, “Aku tidak bisa membaca.” Nabi bercerita, “Lalu malaikat itu menarikku dan memelukku erat-erat sehingga aku kepayahan.

Kemudian ia melepaskanku dan berkata lagi, “Bacalah!” dan aku menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Aku lalu ditarik dan dipeluknya kembali kuat-kuat hingga habislah tenagaku. Seraya melepaskanku, ia berkata lagi, “Bacalah!” Aku kembali menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Kemudian untuk ketiga kalinya ia menarik dan memelukku sekuat-kuatnya, lalu seraya melepaskanku ia berkata,

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ. خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ. اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ. الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

(1) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan; (2) Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah; (3) Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah; (4) Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qalam (pena); (5) Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. al-Alaq, 96:1-5)

Kemudian Nabi pulang ke rumah istrinya, Khadijah binti Khuwailid dengan hati gemetar ketakutan. Beliau memohon kepadanya, “Selimutilah aku!” Mereka menyelimuti beliau hingga hilanglah ketakutannya. Kemudian beliau bercerita kepada Khadijah, setelah diceritakannya apa yang baru dialaminya,ia berkata: “Sesungguhnya aku mencemaskan diriku.” Khadijah berkata, “Sama sekali tidak. Demi Allah, Allah selamanya tidak akan menghinakan engkau. Sesungguhnya engkaulah orang yang selalu menyambung tali persaudaraan, selalu menanggung orang yang kesusahan, selalu mengusahakan apa yang diperlukan, selalu menghormati tamu dan membantu derita orang yang membela kebenaran.”

Selanjutnya Khadijah pergi membawa beliau menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza, anak paman Khadijah. Waraqah adalah seorang Arab pemeluk agama Nasrani di zaman Jahiliyah. Ia pandai menulis kitab dalam bahasa Ibrani dan ia pun menulis Injil dengan bahasa Ibrani. Ia seorang tua yang buta. Khadijah berkata kepadanya, “Wahai anak pamanku, dengarkanlah cerita anak saudaramu ini. Waraqah bertanya kepada Nabi, “Wahai anak saudaraku, apakah yang kaulihat?”

Lalu beliau menceritakan apa yang beliau lihat dan alami di Gua Hira’. Kemudian Waraqah berkata lagi kepada beliau, “Itulah Namus (Jibril) yang pernah diutus Allah kepada Musa. Mudah-mudahan aku masih hidup di saat engkau diusir kaummu!” Maka Rasulullah bertanya, “Apakah mereka akan mengusirku?” Ia menjawab, “Ya, sebab setiap orang yang membawa seperti apa yang engkau bawa pasti dimusuhi orang. Jadi kelak engkau mengalami masa-masa seperti itu, dan jika aku masih hidup, aku pasti akan menolongmu sekuat tenagaku.” Tidak lama kemudian, Waraqah meninggal dan wahyu pun putus untuk sementara (fatrah al-wahy).

Menurut Ibnu Syihab dari Abu Salamah bin Abdirrahman, Jabir bin Abdillah al-Anshari menceritakan tentang terhentinya wahyu tersebut, bahwa Rasulullah bersabda:

بَيْنَا أَنَا أَمْشِي إِذْ سَمِعْتُ صَوْتًا مِنْ السَّمَاءِ فَرَفَعْتُ بَصَرِي فَإِذَا الْمَلَكُ الَّذِي جَاءَنِي بِحِرَاءٍ جَالِسٌ عَلَى كُرْسِيٍّ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ فَرُعِبْتُ مِنْهُ فَرَجَعْتُ فَقُلْتُ زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنْذِرْ إِلَى قَوْلِهِ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ

“Ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari atas, maka aku lihat ada malaikat yang pernah datang kepadaku di gua Hira, sedang duduk di atas kursi di antara langit dan bumi, maka takutlah aku padanya. Lalu aku pulang seraya berkata, “Selimutilah aku!” Lalu turunlah wahyu:

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ. قُمْ فَأَنذِرْ. وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ. وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ. وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ

Wahai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu berilah (manusia) peringatan, dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu sucikanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah!” (QS. al-Muddatsir, 74 :1-5).

Sesudah itu, wahyu pun turun terus-menerus.” (HR. Bukhari: 02, Muslim: 232). Pada wahyu yang kedua inilah, di usianya yang keempat puluh tahun, Muhammad diangkat sebagai Rasul, utusan Tuhan untuk membenahi tatanan umat manusia secara keseluruhan. Dalam hadits lainnya, diriwayatkan dari Aisyah Ummul Mukminin ra., bahwa Harits bin Hisyam r.a. telah bertanya kepada Rasulullah Katanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana cara wahyu datang kepada engkau?” Beliau menjawab:

أَحْيَانًا يَأْتِينِي مِثْلَ صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَيَّ فَيُفْصَمُ عَنِّي وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْهُ مَا قَالَ وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِي الْمَلَكُ رَجُلًا فَيُكَلِّمُنِي فَأَعِي مَا يَقُولُ قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا وَلَقَدْ رَأَيْتُهُ يَنْزِلُ عَلَيْهِ الْوَحْيُ فِي الْيَوْمِ الشَّدِيدِ الْبَرْدِ فَيَفْصِمُ عَنْهُ وَإِنَّ جَبِينَهُ لَيَتَفَصَّدُ عَرَقًا

“Kadang-kadang wahyu datang kepadaku seperti suara lonceng, itulah yang paling berat bagiku. Kemudian ia berhenti, dan aku sudah mengerti apa yang dikatakannya. Kadang-kadang malaikat datang kepadaku sebagai laki-laki, lalu ia berkata, maka aku mengerti apa yang diucapkannya.” Aisyah r.a. berkata: “Sungguh saya melihat wahyu turun kepada Nabi pada hari yang sangat dingin, lalu wahyu itu berhenti, dari kening beliau mengalir keringat.” (HR. Bukhari: 02, Muslim: 4304).

Yang dimaksud dengan ungkapan “seperti suara lonceng” ialah seperti bunyi lonceng besi yang gemerincing terdengar terus-menerus, bunyi yang bukan perkataan yang tersusun dari huruf-huruf. Wahyu melalui bentuk seperti ini, menunjukkan – menurut pendapat yang paling kuat – hadirnya malaikat. Dan kehadiran malaikat (yang menyampaikan wahyu) semacam inilah yang paling berat dirasakan Nabi dibanding kehadirannya dalam bentuk lain (sebagai seorang pria). Hal ini dapat dimengerti, sebab – sebagaimana dijelaskan oleh Filosof Ibnu Khaldun – pada saat itu terjadi suatu proses di mana kemanusiaan (Nabi) yang bersifat materi (jasmaniyah) lepas terkelupas sama sekali untuk kontak dengan alam malaikat yang bersifat rohani (ruhaniyah).(Rasyid Ridha, 1984: 185). Orang-orang yang pertama kali masuk Islam (as-sabiqun al-awwalun); Dari kalangan perempuan adalah istri Nabi sendiri yaitu Khadijah binti Khuwailid, dari kalangan pemuda yaitu Ali bin Abi Thalib, sedangkan dari kalangan pria dewasa adalah Abu Bakar bin Abi Quhafa, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah, Sa’ad bin Abi Waqqash, Zubair bin Awwam, Abu Ubaidah bin al-Jarrah, dan masih banyak lagi yang lain, dari penduduk Makkah yang memeluk Islam. Mereka memilih Islam sebagai jalan hidup dengan tulus dan ikhlas.

Hari demi hari, dari waktu ke waktu, pengikut Nabi bertambah banyak. Mereka yang sudah Islam itu datang kepada beliau untuk menyatakan keislaman mereka sekaligus siap menerima ajaran-ajarannya. Gerak-gerik mereka itu tercium oleh kaum Quraisy yang ketika itu memegang otoritas penuh sebagai suku yang berkuasa di Makkah. Lebih-lebih setelah diketahui bahwa para pengikut Muhammad itu sangat membenci berhala-berhala dan dewa-dewa yang mereka sembah. Akhirnya, kaum paganisme ini mengobarkan api permusuhan kepada siapa saja yang masuk Islam. Akan tetapi, tumbuhnya agama Islam di perbukitan kota Makkah tidak dapat dibendung. Keimanan yang teguh dan keyakinan yang kuat menjadikan para pengikut Rasulullah rela berkorban demi mempertahankan agamanya. Hal itu membuat kaum musyrik Quraisy semakin membenci Muhammad dan ajarannya. Mereka mengira bahwa kata-kata Muhammad itu tidak lebih dari kata-kata pendeta atau filosof seperti Quss, Umayya, Waraqa, dan yang lain. Mereka sama sekali tidak menghiraukannya.

Tiga tahun kemudian sesudah kerasulannya, perintah Allah datang supaya Muhammad mengumumkan ajaran Islam yang masih disebarkan secara sembunyi-bunyi itu, bersamaan dengan turunnya wahyu:

وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ (214) وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (215) فَإِنْ عَصَوْكَ فَقُلْ إِنِّي بَرِيءٌ مِّمَّا تَعْمَلُونَ

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah: "Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan”. (QS. al-Syu’ara, 26: 214-216)

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ

“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (QS. al-Hijr, 15: 94)

Salah satu faktor yang mendongkrak perkembangan agama Islam secara pesat ini adalah keteledanan dari Nabi sendiri. Beliau sosok yang berbaik hati dan penuh kasih sayang. Beliau sangat rendah hati, berani membela yang benar, dan berperilaku sopan santun kepada sesamanya. Tutur kata beliau lemah lembut, selalu jujur dan berlaku adil kepada setiap orang. Tidak ada hak orang lain yang beliau langgar. Pandangan beliau terhadap orang yang lemah, miskin, papa, dan anak-anak yatim piatu, adalah bagaikan pandangan seorang bapak kepada anaknya sendiri yang penuh kasih sayang, lemah lembut, dan mesra. Itu semua menjadikan grand point untuk beliau dalam menjalankan misinya. (Husein Haikal, 1984:94-102).



Resource Berita : nu.or.id
Perbedaan Salaf, Salafi, dan Salafiyah

Perbedaan Salaf, Salafi, dan Salafiyah



WartaIslami ~ Membicarakan makna “salaf” tidak hanya terpaku pada satu makna. Sebagaimana yang kita tahu bahwa Bahasa Arab itu memiliki banyak makna dalam satu kata bakunya yang jika dikembangkan ke berbagai wazan, maka artinya pun beda, begitu juga denga perbedaan harakat.

Istilah ini sejak dulu sudah digunakan di Indonesia, contohnya pesantren salafiyah yang berarti metodenya masih menggunakan metode salaf dalam proses menyalurkan pengetahuan, yaitu sorogan dan bandongan atau dalam istilah ilmu hadits yaitu tahammul wal ada’ via qira’ah ‘ala syaikh (murid membaca kepada guru) atau sima’ min syaikh (guru yang membaca dan murid yang mendengarkan).

Akhir-akhir ini pula banyak kelompok yang mendakwahkan dirinya sebagai pengikut salafi. Jika ada sebagian orang desa mendengar istilah itu, maka langsung terbersit makna pesantren salafiyah yang tersebar di desa mereka, atau santri-santri pondok tersebut, padahal yang dimaksud bukanlah itu.

Mengutip dari kitab Nazarat fi Jauharatit Tauhid (yang disusun oleh Dr Abdul Hamid Ali Izz Al-Arab, Dr Shalah Mahmud Al-‘Adily, dan Dr Ramadhan Abdul Basith Salim, ketiganya dosen Al-Azhar Mesir), kita perlu membedakan ketiga istilah di atas karena satu di antara tiga istilah itu berbeda dengan yang lainnya.

Adapun istilah “Salaf” yaitu para sahabat, tabi’in dan atba’it tabiin yang hidup sampai batas 300 H. Merekalah sebaik-baiknya generasi, sebagaimana termaktub dalam hadits nabi SAW yang diriwayatkan Imam Bukhari dengan sanad dari Abdullah bin Mas’ud dari nabi SAW:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ يَجِئُ قَوْمٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمَيْنُهُ وَ يَمَيْنُهُ شَهَادَتُهُ

Artinya, “Sebaik-baik manusia adalah pada zamanku (sahabat), kemudian orang-orang setelah mereka (tabi’in), kemudian yang setelahnya lagi (atba’it tabi’in), kemudian akan datang suatu kaum yang persaksiannnya mendahului sumpahnya, dan sumpahnya mendahului persaksiannya.”

Meskipun definisi mereka sampai batas 300 H, di sini ada catatan penting yaitu keselarasan mereka dengan Al-Quran dan Hadits. Jika hanya hidup pada rentang masa 300 H tetapi kontradiksi dengan kedua pedoman ini, maka tidak disebut sebagai salaf. Salah satu contohnya adalah sekte musyabbihah yang hidup pada masa itu.

Musyabbihah adalah kelompok tekstualis dalam membaca Al-Quran dan hadits yang meyakini bahwa Allah serupa dengan makhluk-Nya, yaitu memiliki anggota tubuh antara lain bertangan, berkaki, bermulut, bermata, dan seterusnya.

Adapun “salafi” adalah mereka (ulama maupun orang biasa) yang datang setelah 300 H dan dinisbahkan pada kaum salaf yang telah disebutkan di atas, juga menganut manhajnya (metode). Istilah ini dapat dikaitkan dengan semua orang yang yang mengikuti manhaj salaf, bahkan kita pun bisa, namun itu terjadi jika memang benar-benar perilaku dan manhajnya berdasarkan salaf, bukan hanya menyandang titel salafi tetapi perilakunya berbeda.

Terakhir adalah salafiyyah yang difondasikan dan disusun oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (728 H) dan muridnya Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah (751H) dari Al-Quran, Hadits, perbuatan serta perkataan ulama salaf dan mengodifikasikannya dalam bentuk kitab khusus dan prinsip yang tetap. Unsur-unsur dalam kitab kedua ulama itu memang sudah ada sebelumnya, namun masih berserakan terpisah, kemudian barulah dikumpulkan.

Setelahnya munculah Muhammad bin Abdil Wahhab (1206 H) yang menyebarkan apa yang disusun oleh kedua ulama tadi, Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah Rahimahumallah di jazirah arab, ia berpegang teguh pada beberapa risalah dan ikhtisar yang dikutip dari kitab-kitab Ibnu Taimiyyah.

Mengutip dari kitab Nazarat fi Jauharatit Tauhid, terdapat catatan yang menurut saya penting dari perkataan salah seorang peneliti di dalam kitab Al-Fikrul Islamy Al-Hadits karya Dr Abdul Maqshud Abdul Ghani, “Jika kita membandingkan antara pemikiran Muhammad bin Abdul Wahhab dan Ibnu Taimiyyah dalam beberapa masalah akidah hampir keduanya sama dan tidak berbeda, kecuali Ibnu Taimiyyah telah merinci pendapatnya dan menguatkannya dengan dalil-dalil dan hujjah, serta membantah pendapat orang yang berseberangan dengannya dengan dalil dan sanad. Sedangkan Muhamad bin Abdul Wahhab hanya mennyebutkan keterangannya secara singkat saja.”

Hal yang menonjol dari ketiganya hanya dari segi waktu dan pijakan dalam berpegang pendapat, jika salafy itu memang orang-orang yang menisbahkan dirinya sebagai pengikut manhaj salaf atau Ahlussunah wal Jamaah, salafiyyah lebih condongnya disebut usaha regenerasi, meskipun dalam beberapa realitanya tidak begitu.

Sebagai warga Indonesia, banyak istilah naturalisasi dari bahasa lain yang kita gunakan di kehidupan keseharian secara umum, seperti tadi pondok pesantren salafiyah. Lagi-lagi kita harus mencermati suatu istilah berdasarkan makna, substansi, dan intisarinya. Jangan terpaku pada sisi zahirnya saja. Adakalanya suatu istilah berbeda antara praktik dan substansinya. Wallahu a’lam.


Resource Berita : nu.or.id
Alasan Kenapa Kitab Al-Ghazali Terus Hidup

Alasan Kenapa Kitab Al-Ghazali Terus Hidup



WartaIslami ~ Pimpinan Ma’had Aly for Islamic Studies Raudlatul Muhibbin KH Luqman Hakim mengatakan, karya-karya Al-Ghazali terus dikaji hingga hari ini meski kitab-kitabnya tersebut ditulis pada delapan abad lalu.

“Kita tidak pernah melihat karya di luar dunia Islam atau di dalam dunia Islam yang sehidup karya Al-Ghazali,” kata Kiai Luqman usai mengisi acara Seminar Internasional Pemikiran Imam Al-Ghazali di Jakarta Pusat, Jumat (19/1).

Menurut Kiai Luqman, salah satu alasan mengapa kitab-kitabnya terus dikaji hingga hari ini adalah karena Al-Ghazali menulis berdasarkan kebutuhan pembacanya. Seperti membuat klasifikasi kitab mulai dari yang paling dasar hingga yang paling tinggi.

“Anak remaja kalau belajar tasawuf kitabnya Bidayatul Hidayah. Naik dikit ada kitab Ayyuhal Walad, Kimyatus Sa’adah, dan Ihya’ Ulumiddin. Ketika orang hendak menjalani dunia sufi, kitabnya apa. Ia menulis utuh,” terangnya.

Kiai Luqman menambahkan, ada kitab Al-Ghazali yang bersifat amaliyah dan ada juga yang filosofis. Sehingga setiap kitabnya memiliki konsumennya masing-masing. Di samping itu, Al-Ghazali menulis suatu kitab dengan bahasa dan pembahasan yang menyentuh akar persoalan orang. Inilah yang menyebabkan kitab-kitab Al-Ghazali terus hidup.

“Kalau bahasa anak muda sekarang, orang mengatakan; ini (kitab-kitab Al-Ghazali) gue banget,” lanjutnya.

Al-Ghazali adalah satu dari sedikit ulama yang sangat produktif. Ia menulis banyak sekali kitab dengan berbagai macam genre, mulai dari fikih hingga tasawuf dan filsafat. Salah satu kitabnya yang paling masyhur dan fenomenal adalah Ihya Ulumiddin.


Resource Berita : nu.or.id
Kiai Idham Cholid dan Mobil Barunya

Kiai Idham Cholid dan Mobil Barunya



WartaIslami ~ Menjadi seorang pejabat setingkat anggota DPR RI memang menuntut mobilitas yang tinggi. Apalagi juga merangkap menjadi pengurus elit PBNU. Alat transportasi menjadi instrumen penting untuk mendukung kesibukan tersebut. Tetapi, di tahun 1950-an menjadi anggota DPR tak seperti saat ini. Kendaraan dinas tak ada dan alat transportasi umum pun tak banyak. Sedangkan untuk memiliki mobil sendiri, meski hanya mobil tua, sangat sulit. Gaji tak cukup untuk membelinya.

Keadaan seperti itu dialami pula oleh anggota DPR dari Partai NU. Dari delapan orang anggota DPR dari NU (1952-1955), hanya dua orang yang punya mobil pribadi, yaitu AS Bachmid dan AA Achsien. Itu pun mobil tua yang kerap kali mogok saat ditumpangi.

Untuk itu, Kiai Idham yang saat itu menjadi Ketua Lapunu (Lembaga Pemilihan Umum NU) menginginkan sebuah mobil. Ia memerlukannya untuk menunjang aktivitasnya yang sangat sibuk menjelang pemilu 1955. NU yang baru saja menjadi partai harus mempersiapkan segalanya dengan baik.

Ketika itu, Kiai Idham mendapat kiriman uang dari kampung halamannya. Uang tersebut, lantas dibelikan sebuah mobil dengan merk "Hilman" berwarna hijau tua. Ia membelinya dengan harga Rp. 18.000. Bukan mobil baru, tapi performanya masih sangat baik.

Mobil baru Kiai Idham itu dibawanya ke gedung parlemen. Ia mengabarkan hal tersebut kepada Kiai Saifuddin Zuhri, salah seorang anggota parlemen dari NU. Ia menunjukkan mobil barunya yang terparkir di bawah pohon beringin. Ia pun turut senang dengan mobil baru kawan seperjuangannya tersebut.

Sepulang dari gedung parlemen, Kiai Saifuddin berniat untuk menebeng mobil Kiai Idham. Tak lupa ia juga mengajak koleganya sesama anggota DPR dari NU, Kiai Ilyas. Ketiganya pun naik mobil berukuran kecil dengan empat tempat duduk itu.

Saat mobil mulai dinyalakan, Kiai Idham mulai memegang kemudi, ketidakberesan mulai terasa. Bukan mesin mobilnya yang tak beres, tapi sopirnya. Kiai Idham masih belum lancar mengemudi. Maklum, ia masih baru memiliki kendaraan roda empat itu.

Mobil yang dikendarai tersebut mulai keluar dari gedung parlemen menuju Jalan Pejambon. Jalannya tak lurus, tidak stabil. Pedal rem sering diinjak tiba-tiba, lalu disusul tancap gas tak kepalang tanggung. Bahkan, saat mendekati Stasiun Gambir mobilnya nyaris menyenggol pengendara sepeda.

Saat itu, sebagaimana kesaksian Kiai Saifuddin dalam buku Guruku Orang-Orang dari Pesantren, Kiai Ilyas yang duduk di sebelah sang sopir berteriak keras. Tak lama kemudian, ia meminta untuk turun.

"Ya akhi, kalau ada orang jual rokok di depan itu, berhenti!" seru Kiai Ilyas pada sang sopir.

Di depan penjual rokok itu, Kiai Idham menghentikan mobilnya. Kiai Ilyas turun. Bukannya membeli rokok sebagaimana anggapan si sopir dan penumpang lainnya, Kiai Ilyas malah ngelonyor. Ia mempercepat jalannya di atas trotoar.

"Mengapa? Hayo naiklah!" seru Kiai Saifuddin.

"Terima kasih! Jalan kaki lebih aman...!" jawab Kiai Ilyas.

Mendengar jawaban dari kawannya tersebut, Kiai Idham pun jengkel. Ia pun berteriak balik kepada Kiai Ilyas yang bergegas menuju arah Prapatan itu, "Penakut....!"

Kiai Ilyas tak peduli. Ia tetap bergegas. Kiai Saifuddin sebenarnya juga merasa takut dengan gaya menyetir Kiai Idham yang baru bisa itu. Tapi tak enak hati untuk ikut turun. Ia pun pindah ke depan menggantikan tempat yang ditinggal Kiai Ilyas. Kemudian perjalanan pun dilanjutkan dengan perasaan berdebar-debar.

Meski sampai di tujuan dengan selamat, namun membuat Kiai Saifuddin tak nyaman. Ia harus menahan pening di kepalanya karena gaya ugal-ugalan si sopir baru. Ia pun tak henti-hentinya merapal shalawat memohon perlindungan dan keselamatan kepada Allah SWT.

Begitulah risikonya nebeng. Jangan hanya memperhatikan mobilnya, tapi juga sopirnya jika tak ingin dibuat pening dan kalang kabut.


Resource Berita : nu.or.id
Khasiat Hebat Wirid Ratib Al Haddad

Khasiat Hebat Wirid Ratib Al Haddad



WartaIslami ~ Sebagai umat Islam kita telah mengetahui ada berbagai macam wirid baik itu yang diajarkan oleh Rasulullah secara langsung ataupun tak secara langsung (diajarkan ataupun diijazahkan oleh ulama). Salah satunya adalah Wirid Ratib Al-Haddad.

Wirid Ratib Al-Haddad adalah kumpulan dzikir harian yang disusun oleh Habib Abdullah Al-Haddad. Beliau adalah salah satu ulama besar di abad 12 H. Beliau dilahirkan di salah sebuah kampung di kota Tarim, Yaman pada malam ke-5 bulan Safar, tahun 1044 Hijrah. Tidak ada wali Allah yang meninggalkan dunia ini tanpa mewarisi sesuatu yang bermanfaatbagi umat Rasulullah Saw.

Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad telah mewarisi sebuah wirid yang dinamakan Ratib Al-Haddad. Beliau telah meningalkan sebuah senjata dan perisai ampuh untuk melawan kerusakan-kerusakan yang disebabkan gangguan jin dan manusia. Ratib Al-Haddad yang dibaca selepas sholat maghrib mampu mengamankan diri, keluarga, dan harta-benda orang yang membacanya. Segala macam jenis sihir, teluh, dan gangguan setan akan dilumpuhkan dan berbalik mengenai orang yang mengirimnya dengan izin Allah.

Ratib Al-Haddad berisi potongan surat-surat Al-Qur'an dan doa-doa yang diajarkan Rasulullah Saw di dalam Hadist Shahihnya. Berikut adalah keutamaan masing-masing isi dari Ratib Al-Haddad:

1. Keutamaan Surat Al-FatihahSurah Al Fatihah memiliki banyak sekali manfaat, diantaranya:

a. Fatihah menyamai pahala 2/3 Al-Qur'an.

b. Fatihah dan ayat kursi tidak dibaca oleh seorang hamba dalam satu rumah lalu pada hari itu dia terkena gangguan kekuatan mata manusia atau jin.

c. Barangsiapa yang membaca Fatihah dan Kursi, Allah haramkan jasadnya atas api neraka.
d. Siapa ingin agar Allah menyelamatkan dirinya dari penjaga neraka yang jumlahnya 19 hendaknya dia membaca basmallah.

e. Barang siapa yang membaca basmalah maka dicatat untuknya dalam setiap huruf 4000 kebaikan, dan dihapus darinya 4000 kejahatan, dan diangkat 4000 derajat.

f. Barang siapa membaca basmalah bersambung dengan Fatihah sekali maka Aku berikan ampunan padanya, Aku terima amal baiknya, Aku lebur dosa-dosanya, tidak akan Kubakar lidahnya dengan api, Aku berikan perlindungan dari siksa kubur, panik dan siksa hari kiamat (Hadist Qudsi).

2. Keutamaan Ayat Kursi
Ayat Kursi biasanya hanya digunakan oleh masyarakat awam untuk mengusir syetan, jin, dsb.
Sebenarnya ada beberapa manfaat dari ayat kursi ini, diantaranya:

a. Ayat kursi adalah ayat yang paling agung dalam Al-Qur'an.

b. Ayat kursi menjaga dirimu, keturunanmu dan menjaga rumahmu.

c. Bacaan ayat kursi pagi dan sore memberikan penjagaan dari jin dan syetan.

d. Bacaan ayat kursi sebelum tidur mengundang malaikat penjaga.

e. Bacaan ayat kursi sebelum tidur menjauhkan diri kita dari syetan sampai pagi.

f. Bacaan ayat kursi sekali menyamai pahala bacaan ¼ Al-Qur'an.

g. Barang siapa membaca ayat kursi setiap selesai shalat fardhu maka tiada pemisah antara dirinya dan surga kecuali mati.

h. Barang siapa membaca ayat kursi apabila hendak tidur, maka Allah berikan keamanan atas dirinya, tetangganya yang dekat dan yang jauh dan rumah-rumah sekitarnya.

3. Keutamaan Akhir Surat Al-Baqarah (Amanarrasuul…)
a. Allah tutup surat Al-Baqarah dengan dua ayat yang Allah berikanpadaku dari simpanan kekayaan-Nya yang dibawah Arsy. (Hadist)

b. Kedua ayat ini memasukan orang yang membacanya ke dalam surga.

c. Kedua ayat ini akan menjadikan Allah ridho pada orang yang membacanya.

d. Kedua ayat ini adalah satu Al-Qur'an.

e. Kedua ayat ini menyembuhkan (penyakit).f. Kedua ayat ini di cintai Allah.

4. Keutamaan Surat Al-Ikhlas
a. Barang siapa membaca surat Al-Ikhlas maka Allah haramkan daging orang tersebut atas api neraka.

b. Barang siapa tekun (istiqomah) atas bacaan Al-Ikhlas dan ayat kursi pada malam dan siang hari maka dia mendapat keridhoan Allah yang paling besar, dan ia akan bersama dengan para nabi dan dijaga dari godaan syetan.

c. Barang siapa masuk kedalam rumahnya lalu ia membaca surat Al-Ikhlas maka baginya pahala seperti orang yang membaca 1/3 Al-Qur'an. Barang siapa membaca surat Al-Ikhlas dua kali maka baginya seperti pahala orang yang membaca 2/3 Al-Qur'an. Barang siapa membaca surat Al-Ikhlas tigakali maka baginya seperti pahala orang yang membaca Al-Qur'an seluruhnya.

d. Barang siapa membaca surat Al-Ikhlas sekali maka Allah akan berikan keberkahan atas dirinya, siapa yang membaca dua kali makaAllah akan berikan keberkahan atasdirinya dan keluarganya, dan barang siapa membacanya tiga kalimaka Allah akan berikan keberkahan atas dirinya, keluarga dan tetangganya.

e. Barang siapa membaca surat Al-Ikhlas ketika sakit yang menjadikannya mati maka dia akan selamat dari fitnah kuburnya, dia akan selamat dari himpitan kubur, dan para malaikat akan menggotongnya dengan sayap mereka sampai melewati jembatan shirotol mustaqim menuju surga.

f. Rasulullah SAW mendengar seorang sahabat membaca surat Al-Ikhlas hinga tuntas lalu beliau bersabda : Dia layak (Berhak) masuk surga.

g. Barang siapa membaca surat Al-Ikhlas seratus ribu kali maka dia telah menebus dirinya dari Allah, lalu terdengar panggilan dari sisi Allah dilangit dan bumi bahwa si fulan adalah tamu Allah, siapa yangpunya hak kewajiban pada dirinya hendaknya mengambil langsung dari Allah.

5. Keutamaan Al-Muawwidzatain (Al-Falaq & An-Naas)
a. Paling baiknya bacaan guna memohon perlindungan.

b. Dari beberapa surat Al-Qur'an yang paling dicintai Allah.

c. Untuk menjinakan binatang yangliar.

d. Barang siapa ingin tergolong orang-orang baik dan selamat dari kejahatan manusia

e. hendaknya membaca setiap terbit matahari surat An-Naas hingga selesai.

6. Khasiat Dzikir PertamaLaa ilaaha ilallahu wahdahu laa syariikalahu lahul mulku walahul hamdu yuhyii wa yumiitu wa huwa 'alaa kulli syai-in qadiir(3x)"Tiada Tuhan yang sebenarnya berhak diibadahi, kecuali hanya Allah Yang Tunggal, tiada sekutu bagi-Nya, Dialah yang memiliki kerajaan ini dan memiliki segala puji. Dialah yang menghidupkan dan yang mematikan, dan Dialah yang sangat berkuasa atas segala sesuatu." 3x

a. Barang siapa membacanya makabaginya pahala sebesar pahala orang yang memerdekakan seorang budak dari keturunan Ismail as, ditulis baginya sepuluh amal kebaikan, dihapus darinya sepuluh dosa, diangkat sepuluh derajat dan dijaga dari godaan syetan sampai sore.

b. Dan jika membacanya pada waktu sore maka baginya pahala yang sama hingga pagi hari (Hadits).

c. Sebaik-baik bacaan yang dibaca Rasulullah SAW dan para nabi (Hadits).

d. Tidak ada satu amalanpun mampu mengalahkannya.

e. Tidak tersisa dengannya dosa. Allah memandang pada orang yangmembacanya dengan pandangan rahmat dan barang siapa mendapatkan pandangan rahmat maka dia tidak akan terkena siksa (Hadits).

7. Khasiat Dzikir KeduaSubhaanallaahi walhamdulillaahi walaa ilaaha illallaahu wallaahu akbar (3x)"Maha Suci Allah, dan segala puji hanya khusus bagi Allah, dan tiada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali hanyalah Allah dan Allah Tuhan Yang Maha Besar." 3x

a. Dalam Al-Qur'an bacaan ini disebut "AL-BAQIYATUS SHOLIHAT" sedang pahalanya amat sangat besar.

b) Rasulullah menamakan bacaan ini dengan "RIYADHUL JANAH" artinya kebun surga atau taman surga.

c) Rasullah mencintai bacaan ini lebih dari segala apa yang terkena sinar matahari.

d) Bacaan ini mengugurkan dosa hamba seperti gugurnya daun-daun dari atas pohon.

e) Bacaan ini adalah bacaan yang paling dicintai Allah.

f) Bacaan ini adalah tanaman surga.

g) Bacaan ini merupakan penyebabseorang hamba untuk mendapatkan surga.

h) Bacaan ini tergolong bacaan yang paling utama.

i) Pahala bacaan ini menyamai pahala orang yang memerdekakan seratus orang yang sedekah dengan kuda berkendali, berpelana di jalan Allah, juga menyamai pahala sedekah seratus onta.

j) Bacaan ini adalah benteng pemisah antara hamba dari api neraka.

k) Berat timbangan bacaan ini melebihi berat timbangan langit dan bumi.

l) Bacaan ini bisa mengganti kedudukan Al-Qur'an bagi orang yang tidak mampu membaca Al-Qur'an.m) Barang siapa membaca bacaan ini maka ditulis baginya dalam setiap huruf sepuluh amal kebaikan(Hadits).

n) Bacaan ini adalah bacaan yang dibaca bangsa jin ketika mengangkat benda-benda berat.

o) Bacaan ini juga bacaan yang dibaca Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail as ketika membangun Ka’bah, apabila mereka mebacanyaterangkatlah batu-batu besar itu dengan sendirinya.

8. Khasiat Dzikir ketiga
Subhaanallaahi wa bihamdihii subhaanallaahil 'azhiim (3x)"Maha Suci Allah dengan segala puji kepada-Nya dan Maha Suci Allah Yang Maha Agung." 3x

a) Dua kalimat, ringan di lidah tapi sangat berat di atas timbangan amal (mizan), dan sangat dicintai Allah SWT.

b) Bacaan ini termasuk bacaan (dzikir) yang paling utama

c) Barangsiapa yang membacanya maka ditulis baginya 124.000 kebaikan

d) Bacaan ini lebih dicintai Allah daripada segunung emas yang di-infaqkan ikhlas dijalan Allah.

e) Allah akan melebur dosa-dosa orang yang membacanya sekalipunlebih banyak daripada buih diatas air laut.

f) Bacaan ini adalah doa yang dibaca oleh semua makhluk. Sebabbacaan ini Allah memberikan rezekipada seluruh makhluk

g) Bacaan ini jika dibaca: Subhaanallaahi wa bihamdihii subhaanallaahil 'azhiim astaghfirullah seratus kali setelah sholat sunnah fajar (qobla/sebelum subuh), maka dunia akan datang kepadamu dengan cara paksa, hingga kamu kewalahan menanggapinya.

9. Khasiat Dzikir keempatRabbanaghfirlanaa watub'alainaa innaka antat tawwaabur rahiim(3x)"Ya Allah ampunilah dosaku dan berikan aku tobat, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Penyayang." 3x"Barangsiapa yang membacanya, Allah akan menjadikan baginya keterbukaan dari segala yang buntu baginya, jalan keluar dari segala kesempitan, dan akan menganugrahkan rezeki dari arah yang tak diduga-duga" (Hadist).

10. Khasiat Dzikir kelimaAllahumma shalli 'alaa Muhammadin, Allaahumma shalli 'alaihi wa sallim(3x)"Wahai Tuhan kami, berilah shalawat/rahmat-Mu kepada Nabi Muhammad, Ya Tuhan Kami berilahshalawat/rahmat-Mu kepadanya dan kesejahteraan-Mu." 3xa. Sesungguhnya orang yang paling dekat denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling banyak membaca sholawat untukku. (Hadist)b. Barangsiapa membaca sholawat untukku dari umatku maka akan ditulis baginya sepuluh kebaikan dan dihapus darinya sepuluh dosa. (Hadist)c. Rasulullah SAW bersabda kepada Abu Kahil: Sesungguhnya barangsiapa membaca sholawat kepadaku setiap hari tiga kali sebab cinta dan rindu kepadaku, maka pantas bagi Allah untuk mengampuni dosa-dosanya malamitu dan siang harinya. (Hadist)d. Rasulullah SAW bersabda: sholawat kepadaku menepis kemiskinan dari orang yang membacanya. (Hadist)

11. Khasiat Dzikir keenamA'uudzu bikalimaatillahit taammaatimin syarri maa khalaq(3x)"Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna, dari kejahatan apa-apa yang diciptakan-Nya." 3xa. Barangsiapa membacanya tiga kali maka tidak akan membahayakan dirinya dari sesuatu apapun. (Hadist)b. Barangsiapa membacanya di sore hari, tidak akan membahayakan dirinya sesuatu pun sampai pagi, dan siapa yang membacanya pagi hari maka tidak akan membahayakannya dirinya sampai sore. (Hadist)c. Barangsiapa menempati suatu tempat lalu membaca bacaan ini, tidak akan membahayakan dirinya dari sesuatu apa pun hingga pergi meninggalkan tempat itu. (Hadist)d. Tergolong dzikir yang dahsyat dan manjur, apabila seseorang menekuninya maka segala urusannya akan lancar dan terpenuhi kebutuhannya.e. Menjaga jiwa dan raga dari rasa sakit.f. Barangsiapa membacanya di tengah malam akan menyaksikan hal-hal aneh dan ajaib.g. Melumpuhkan dan menaklukan musuh.

12. Khasiat Dzikir ketujuhBismillaahil ladziy laa yadhurru ma'asmihii syai-un fil ardhi walaa fis samaa'ii wahuwas samii'ul 'aliim.(3x)"(Aku menjalani hidup pada siang atau malam ini) Dengan nama Allahyang tidak ada sesuatu pun dapat memberi mudharat, baik di bumi maupun di langit dan Dia- lah Tuhan yang maha mendengar lagi maha mengetahui." 3xa. Barangsiapa yang membaca bacaan ini setiap pagi dan sore tigakali, tidak akan membahayakan dirinya dari sesuatu apapun (HR.Tirmidzi)b. Tidak akan terkena bencana yang datang mendadak dan tidak akan terkena stroke (HR.Abu Dawud)c. Penawar racun dan segala yang mematikand. Keselamatan dari musuh dan kekejamannya.e. Penjagaan bagi rumah dan isinyadari pencuri dan orang jahat

13. Khasiat Dzikir kedelapanRadhiitu billaahi rabba wa bil islaami diina wa bi Sayyidina Muhammadin Shalallaahu 'Alaihi Wasalaam nabiyyan wa rasuula(3x)"Kami rela Allah sebagai Tuhan kami, Islam sebagai agama kami, dan Nabi Muhammad SAW sebagaiNabi dan RasulMU." 3xa. Diriwayatkan dari sahabat Tsauban: barangsipa membacanyamaka dia berhak masuk surga. (hadist)b. Dari Abu Said Al-Khudry meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda: Barangsiapa ridho menjadikan Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad SAW sebagai nabinya maka ia berhak masuk surga. (Hadist)

14. Khasiat Dzikir kesembilanBismillaahi walhamdulillaahi wal khairu wasy-syarru bimasyii-atillaah(3x)"Dengan nama Allah dan segala punji hanya tertentu bagi Allah dan segala kebajikan dan kejahatan, ketentuan Allah." 3xa. Barangsiapa yang membacanya tidak akan tersisa dari dosa-dosanya sedikitpun (Hadist).b. Tidak ada seorang hamba yang membacanya, kecuali mencairlah syetan seperti mencairnya timah diatas bara api. (Hadist)c. Apabila seorang membacanya, dicatat untuknya pahala ibadah tujuh ratus tahun. (Hadist)d. Barangsiapa ingin selamat oleh Allah dirinya dari malaikat Zabaniyah yang sembilan belas (penjaga neraka) maka hendaknya dia membaca basmalah (Hadist)

15. Khasiat Dzikir kesepuluhAamannaa billaahi wal yaumil aakhiri tubnaa ilallaah baathinaw wa zhaahiran(3x)"Kami (menyatakan) beriman kepada Allah dan hari akhir, dan kami bertobat kepada Allah lahir maupun batin" 3xa. Rasulullah SAW bersabda: Ucapkanlah lalu istiqomahlahb. Barangsiapa merasakan was-was maka hendaklah dia membacanya. (Hadist)

16. Khasiat Dzikir kesebelasYaa rabbanaa wa'fu 'annaa wamhul ladziy kaana minnaa(3x)"Ya Tuhan kami, berilah kami maaf dan hapuskanlah apa – apa yang ada pada kami (dosa – dosa)."a. Allah tidak akan diminta sesuatu yang lebih Dia cintai daripada diminta Afiah (keselamatan) di dunia dan di akhirat. (Hadist)b. Memohon afiah tergolong doa yang paling utama dan padat maknanya.

17. Khasiat Dzikir keduabelasYaa dzal jalaali wal ikraam, amitnaa'alaa diinil Islaam(7x)"Wahai Tuhan yang mempunyai sifat Keagungan dan sifat Pemurah, matikanlah kami dalam lingkungan agama Islam." 7xa. Tekuni dan perbanyaklah bacaantersebut diatas. (Hadist)b. Rasulullah SAW mendengar seseorang membaca bacaan tersebut, maka beliau bersabda: kamu telah dikabulkan maka mintalah. (Hadist)

18. Khasiat Dzikir ketiga belasYaa qawiyyu yaa matiinu ikhfi syarrazh zhaalimiin(3x)"Ya Tuhan yang Maha Kuat lagi Maha Gagah, hindarkanlah kami dari kejahatan orang – orang zhalim." 3xa. Aman dan selamat dari gangguan orang-orang jahat dan dholim, perbuatan jahat manusia.b. Aman dan selamat dari gangguan bahaya binatang buas dan berbisa, kedengkian musuh, dari setiap marabahaya.c. Aman dan selamat dari murka Allah serta hukuman-Nya.d. Aman dan selamat dari apa saja yang membahayakan diri kita, membahayakan Islam dan kaum muslimin.

19. Khasiat Dzikir keempat belasAsh lahalllaahu umuural muslimiin sharafallaahu syarral mu'dziin(3x)"Semoga Allah memperbaiki semuaurusan kaum muslimin dan menghindarkan mereka dari kejahatan orang – orang yang sukamengganggu" 3xa. Membawa maslahat (manfaat yang sempurna) dan kebaikan segala urusan umat Islamb. Apabila maslahat telah didapat oleh seseorang, maka seluruh cita-cita dan keinginan dunia akhirat akan didapat.c. Mendapat ampunan Allah SWT menyeluruh bagi dirinya, keluarga maupun kaum muslimin.d. Menjadi sebab ia, yang membacanya, di cintai dan dikasihi oleh Allah SWT.e. Termasuk obat penyakit hati (dengki, iri hati, ghibah dsb)f. Mendapat bimbingan Allah SWT dalam menjalani kehidupan yang lurus.

20. Khasiat Dzikir kelima belasYaa 'aliyyu yaa kabiiru yaa 'aliimu yaa qadiiru yaa samii'u yaa bashiiruyaa lathiifu yaa khabiir(3x)"Ya Tuhan yang Maha Tinggi lagi Maha Besar, Maha Mendengar lagi Melihat, Maha Lemah Lembut lagi Maha Mengamati" 3xa. Setiap nama-nama Allah akan mengantarkan kita kesatu derajat/martabat dari sekian banyak martabat di sisi Allah.b. Rahasia dzikir Asma'ul Allah yang tak ternilai besarnya dan tak dapat diketahui bagaimana hakekatkemuliaan yang sebenarnya.

21. Khasiat Dzikir keenam belasYaa faarijal ham, yaa kaasyifal gham yaa mal li'abdihii yaghfir wa yarham(3x)"Wahai Tuhan yang melegakan dari duka cita, lagi melapangkan dada dari duka cita, lagi melapangkan dada dari rasa sempit. Wahai Tuhan yang suka mengampuni danmenyayangi hamba – hambaNya." 3xa. Diriwayatkan dari Ummil Mu'minin Aisyah ra.: Ayahku (Abu Bakar Shidiq ra) berkata kepadaku: maukah engkau aku ajari doa yang diajarkan Rasul kepadaku dan diajarkan nabi Isa as. Pada kaum Hawary. Seandainya engkau mempunyai hutang sebanyak gunung uhud niscaya Allah akan melunasinya? Aku menjawab: tentuaku mau, beliau berkata: bacalah dzikir ini (sebagaimana tersebut diatas)b. Agar Allah SWT menghapuskan kesedihannya.c. Agar Allah SWT melepaskan dari kesusahannya.d. Agar Allah SWT mengampuni kesalahannya dan dikasihani-Nya

22. Khasiat Dzikir ketujuh belas
Astaghfirullaaha rabbal baraayaa, astaghfirullaaha minal khathaaya(4x)"Aku mohon ampunan Allah Tuhan pencipta sekalian makhluk, aku mohon ampunan Allah dari kesalahan." 4xa. Maukah kalian aku beritahu tentang penyakit dan obat penyakitkalian? Ingatlah, sesungguhnya penyakit kalian adalah dosa, dan obatnya adalah istighfar. (Hadist)b. Barang siapa memperbanyak istighfar, Allah akan berikan untuknya ketenangan dari rasa bingung, jalan keluar dari segala kesempitan dan Allah akan memberikan rezekinya dari arah yang tidak terduga. (Hadist)c. Barangsiapa baca istighfar, tertanam untuknya satu tanaman disurga. (Hadist)d. Imam Ali Al-Khawwash berkata: Sesungguhnya istighfar itu memadamkan amarah Allah SWT dan tiada yang lebih manjur bagi orang yang diberhentikan dari kerjanya atau dipenjara atau hutangnya lebih dari istighfar

23. Khasiat Dzikir kedelapan belasLaa ilaaha illallaah(25/50/100 x)"Tiada yang wajib disembah selain Allah." (25/50/100 x)

a. Ibnu Abbas ra. meriwayatkan: diatas pitu surga tertulis Laa ilaaha illallaah Muhammad rasulullaah tidak aku siksa orang yang membacanyab. Ibnu Abbas ra. juga meriwayatkan: sehari semalam adal 24 jam, dan kalimat Laa ilaaha illallaah Muhammad Rasulullaahitu ada 24 huruf. Barangsiapa yang membacanya maka akan melebur setiap satu huruf, dosa dalam satu jam, maka tidak akan tersisa satu dosa pun apabila seseorang membacanya setiap hari atau setiap malam.

b. Barangsiapa yang akhir ucapannya ketika akan matiLaa ilaaha illallaah,maka dia akan masuk surga.

c. Barangsiapa membacaLaa ilaaha illallaahdengan ikhlas dari hatinya dan memanjangkan bacaansebab mengagungkannya, diampuni baginya 4000 dosa dari dosa besar. Sahabat bertanya : jika dia tidak punya dosa sebanyak itu? Rasul SAW menjawab: Diampuni untuknya dari dosa orang tua, keluarga dan tetangganya. (Hadist)Khasiat Umum Wirid Ratib Al-Haddad Habib Abdullah Al-Hadad mengatakan:a. Barangsiapa menekuni bacaan ratib ini, Allah akan memberikannyameninggal dalam keadaan husnul khotimah.

d. Ratib yang kami susun akan menjaga kota selama ratib tersebutdibaca.

e. Ratib kami ibarat pagar besi mengelilingi seluruh kota yang dibaca didalamnya ratib.

f. Dapat memperkuat dan menyelamatkan akidah atau keimanan seorang muslim dari berbagai macam aliran sesat.

Demikina, semoga bermanfaat.


Resource Berita : dutaislam.com
Betapa Sering Dihukum Allah, Tapi Tidak Terasa

Betapa Sering Dihukum Allah, Tapi Tidak Terasa



WartaIslami ~ Seorang murid mengadu kepada gurunya: "Ustadz, betapa banyak kita berdosa kepada Allah dan tidak menunaikan hakNya sebagaimana mestinya, tapi saya kok tidak melihat Allah menghukum kita".

Sang Guru menjawab dengan tenang: "Betapa sering Allah menghukummu tapi engkau tidak terasa".

"Sesungguhnya salah satu hukuman Allah yang terbesar yang bisa menimpamu wahai anakku, ialah: Sedikitnya taufiq (kemudahan) untuk mengamalkan ketaatan dan amal amal kebaikan".

Tidaklah seseorang diuji dengan musibah yang lebih besar dari "kekerasan hatinya dan kematian hatinya".

Sebagai contoh:
Sadarkah engkau, bahwa Allah telah mencabut darimu rasa bahagia dan senang dengan munajat kepadaNya, merendahkan diri kepadaNya, menyungkurkan diri di harapannya..?
Sadarkah engkau tidak diberikan rasa khusyu' dalam shalat..?

Sadarkah engkau, bahwa  beberapa hari-hari mu telah berlalu dari hidupmu, tanpa membaca Al-Qur'an, padahal engkau mengetahui firman Allah:

"Sekiranya Kami turunkan Al-Qur'an ini ke gunung, niscaya engkau melihatnya tunduk, retak, karena takut kepada Allah".

Tapi engkau tidak tersentuh dengan Ayat Ayat Al-Qur'an, seakan engkau tidak mendengarnya...
Sadarkah engkau, telah berlalu beberapa malam yang panjang sedang engkau tidak melakukan Qiyamullail di hadapan Allah, walaupun terkadang engkau begadang...

Sadarkah engkau, bahwa telah berlalu atasmu musim musim kebaikan seperti: Ramadhan.. Enam hari di bulan Syawwal.. Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, dst.. tapi engkau belum diberi taufiq untuk memanfaatkannya sebagaimana mestinya..??
Hukuman apa lagi yang lebih berat dari itu..???

Tidakkah engkau merasakan beratnya mengamalkan banyak ketaatan (amal ibadah)..???
Tidakkah Allah menahan lidahmu untuk berdzikir, beristighfar dan berdo'a kepadanya..???
Tidakkah terkadang engkau merasakan bahwa engkau lemah di hadapan hawa nafsu..???
Hukuman apa lagi yang lebih berat dari semua ini..???

Sadarkah engkau, yang mudah bagimu berghibah, mengadu domba, berdusta, memandang ke yang haram..???

Sadarkah engkau, bahwa Allah membuatmu lupa kepada Akhirat, lalu Allah menjadikan dunia sebagai perhatian terbesarmu dan ilmu tertinggi..???

Semua bentuk pembiaran ini dengan berbagai bentuknya ini, hanyalah beberapa bentuk hukuman Allah kepadamu, sedang engkau menyadarinya, atau tidak menyadarinya...

Waspadalah wahai sahabatku, agar engkau tidak terjatuh ke dalam dosa dosa dan meninggalkan kewajiban kewajiban.

Karena hukuman yang paling ringan dari Allah terhadap hambaNya ialah:
"Hukuman yang terasa" pada harta, atau anak, atau kesehatan.

Sesungguhnya hukuman terberat ialah: "Hukuman yang tidak terasa" pada kematian hati, lalu ia tidak merasakan nikmatnya ketaatan, dan tidak merasakan sakitnya dosa.

Karena itu wahai sahabat-sahabatku, Perbanyaklah di sela sela harimu, amalan taubat dan istighfar, semoga Allah menghidupkan hatimu.


Resource Berita : dutaislam.com
Apa Itu Asal Usul Kisah Perang Zaman Akhir (Harmagedon)?

Apa Itu Asal Usul Kisah Perang Zaman Akhir (Harmagedon)?



WartaIslami ~ Belakangan beredar ustadz yang mengabarkan datangnya akhir zaman. Dan sebenarnya kalimat 'akhir zaman' di kenal dalam banyak agama. Di dalam agama Kristen misalnya dikenal peristiwa Harrmagedon.

Mengutip Wikipedia, kata Harmagedon yang disebut di Alkitab Kristen itu dianggap berasal dari kata bahasa Ibrani Har Megido (הר מגידו), yang artinya "Bukit Megido". Tempat yang dirujuk ini adalah sebuah dataran lembah yang disebut Megido, yang merupakan lokasi dari banyak pertempuran yang menentukan pada masa purbakala, (yakni Pertempuran di Megiddo).

Salah satunya yang terjadi pada 609 SM dan digambarkan dalam Kitab 2 Raja-raja 28-30 dan 2 Tawarikh 20-25, mengakibatkan kematian Yosia, seorang raja yang muda dan karismatis yang kematiannya mempercepat merosotnya dinasti Daud. Dan ini   mungkin sekali telah mengilhami kisah-kisah tentang datangnya kembali seorang Mesias dari garis keturunannya. Lembah ini ditandai oleh kehadiran gundukan-gundukan arkeologis atau tel, yang merupakan hasil akumulasi reruntuhan dari pemukiman Zaman Perunggu dan Zaman Besi yang berkembang antara 5.000 tahun lalu dan tahun 650 SM.

Sebagian orang, lanjut Wikipedia, memang telah mengatakan bahwa kata Armagedon merupakan contoh dari sebuah salah kaprah (biasanya kebetulan) yang belakangan memperoleh makna yang baru.mSatu-satunya tempat yang menyebutkan kata Armagedon dalam Alkitab muncul dalam Kitab Wahyu 16:16: "Lalu ia mengumpulkan mereka di tempat, yang dalam bahasa Ibrani disebut Harmagedon."

Namun Alkitab mencakup banyak nash yang merujuk kepada konsep tentang Armagedon. Namun rujukan nubuat Alkitab yang spesifik tidak menunjukkan secara jelas apakah peristiwa-peristiwa itu benar-benar akan terjadi di sini, atau apakah pengumpulan pasukan-pasukan itu hanya dianggap sebagai sebuah tanda.

Memang sejumlah pasukan Romawi pernah dikumpulkan di tempat itu untuk salah satu penyerangan mereka terhadap Yerusalem pada 67 M. Hal ini sesuai dengan penafsiran preteris tentang kejadian-kejadian dalam Wahyu 16:17-21 yang merujuk kepada kejadian-kejadian yang memuncak pada penghancuran Yerusalem pada tahun 70 M.

Sebuah penafsiran lainnya adalah kematian mendadak Yosia, seorang pembaharu agama pada usia 30-an yang memperlihatkan pengharapan besar untuk memperbarui negara teokratis Yahudi, yang menghasilkan mitos-mitos tentang kepulangannya dengan kemenangan. Yosia konon mati di tangan firaun Mesir Nekho II justru pada saat kerajaan Daud sedang naik setelah suatu masa kekacauan dan korupsi.

Kematiannya tersebut mempercepat kemerosotan faksi yang sangat monoteistik di Yudea pada tahun-tahun sebelum pembuangan Babel. Gagasan bahwa seorang raja keturunan Daud suatu hari akan kembali untuk berperang dan menang di Megiddo adalah sebuah contoh tentang mitos mengenai kepulangan yang kekal (the myth of eternal return).

Sebelum Perang Dunia II, Perang Dunia I biasanya dirujuk di koran-koran dan buku-buku sebagai "Armagedon", selain


Resource Berita : republika.co.id
Sejarah Nabi Muhammad : Yatim Piatu sejak Usia Enam Tahun

Sejarah Nabi Muhammad : Yatim Piatu sejak Usia Enam Tahun



WartaIslami ~ Kenabian dan kerasulan adalah karunia yang agung dari Allah yang diberikan kepada seseorang yang telah dipilihnya, tidak bisa dicapai dengan usaha manusia. Allah yang menentukan kepada siapa anugerah itu diberikan, kapan disampaikannya dan siapapula yang diberi kesanggupan oleh-Nya untuk menerima karunia itu.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang manusia berkebangsaan Arab yang dipilih oleh Allah untuk menerima anugerah yang agung itu. Ia dijadikan-Nya sebagai penutup segala nabi dan rasul, dengan membawa syariat yang sempurna yang bersifat kekal dan abadi. Ajarannya berlaku untuk semua umat manusia dalam berbagai ras, bangsa dan warna kulit. Ia merupakan risalah agama yang sempurna yang membangun peradaban yang tinggi bagi seluruh umat manusia. Sebelum kelahiran Nabi Muhammad, keadaan bangsa Arab dan bangsa-bangsa lain diliputi oleh kebodohan dan kejahilan. Mereka adalah bangsa yang menganut paganisme, penyembah patung dan berhala, padahal nenek moyang mereka berasal dari pengikut ajaran tauhid yang disampaikan oleh Nabi Ismail ‘alaihissalam. Suasana keberhalaan dan kemusyrikan sudah menyatu dan mendarah daging pada jiwa mereka. Sehingga Masjidil Haram yang suci itu menjadi ternoda dengan bergelantungnya berhala-berhala dan patung.

Di sekeliling Ka’bah yang berada di tengah-tengah Masjidil Haram ada kurang lebih 360 patung dan berhala yang mereka sembah. Setiap suku memiliki patung tersendiri sebagai sembahan dan perantara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Keadaan seperti itu telah mengotori Masjid dan kesucian Ka’bah dalam menjalani pelaksanaan ibadah yang murni kepada Allah. Kaum musyrikin menjadikan patung-patung itu sebagai Tuhan-tuhan mereka. Untuk patung-patung itu hewan dikurbankan dan nadzar ditunaikan, mereka memberikan ketaatan yang total pada patung-patung itu. Keadaaan seperti itulah yang mereka jalani meskipun apabila mereka ditanya “Siapa Tuhan yang mereka sembah”. Mereka menjawab “Tuhan kami adalah Allah, kami tidak menyembah patung-patung itu kecuali hanya perantara untuk mendekatkan diri kepada-Nya dengan taqarub yang amat dekat” (QS. Al-Zumar, 39: 3).

Dalam suasana yang sangat kacau penuh kesesatan yang disebut zaman jahiliyyah itu, terjadilah pernikahan agung, antara Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim al-Quraisyi dengan Aminah binti Wahab. Dari pernikahan yang mulia itu, Allah menakdirkan lahirnya manusia yang paling agung dalam sejarah dunia, yaitu Nabi Besar Muhammad pada hari senin tanggal 12 Rabiul Awwal Tahun Gajah, bertepatan dengan 20 April 570 M. Ketika Nabi masih berada dalam kandungan ibunya. Pada suatu saat ibundanya Siti Aminah, melihat cahaya yang terang benderang dari dirinya dan menerangi istana Kisra di negeri Syam. Ayah Nabi Muhammad Sayyid Abdullah bin Abdul Muthalib meningal dunia ketika beliau masih ada dalam kandungan ibunya.

Beberapa bulan setelah itu berbahagialah Sayyidah Aminah ibunda Nabi Muhammad dan Abdul Mutahalib, kakeknya atas kelahirannya yang diberi nama Muhammad, karena ia akan menjadi orang yang sangat terpuji di masa yang akan datang. Inilah manusia yang paling agung dan paling berpengaruh dalam sejarah kemanusiaan. Petunjuk telah lahir dan alam pun telah menjadi terang bercahaya. Zaman menyambut kelahirannya dengan senyum ceria. Muhammad kecil dipelihara oleh ibunya dan kemudian disusukan kepada Halimah al-Sa’diyah kaum Bani Sa’ad dari Bani Zuhrah sampai susuannya berakhir, kemudian kembali kepangkuan ibundanya atas tanggungan kakeknya Abdul Muthalib.

Ketika umur beliau mencapai usia 6 tahun, ketika ia mulai menanyakan ayahnya kepada ibundanya yang amat dicintainya, sampailah informasi padanya tentang kewafatan ayahnya. Ketika ia masih berada dalam kandungan, maka ia pun sadar bahwa dirinya adalah anak yatim. Pada usia itu beliau diajak ibundanya Aminah untuk berziarah ke Yastrib mengunjungi saudar-saudara kakeknya dari keluarga Najjar. Perjalanan ke Yatsrib ditemani Ummu Aiman seorang pembantu wanita yang disiapkan Abdullah sebelum beliau wafat. Sampai di Madinah, Muhammad kecil diajak berziarah ke suatu rumah tempat ayahnya dahulu meninggal, serta berziarah ke tempat kuburan ayahnya. Suasana itu dirasakan begitu berat dan mengharukan, apalagi bagi Muhammad kecil yng telah menjadi yatim. (Husein Haikal, 1998: 54).

Setelah beberapa lama tinggal di Madinah, Aminah, Muhammad, dan Ummu Aiman bersiap-siap untuk pulang ke Makkah. Dalam perjalanan pulang, ketika mereka sampai di kampung Abwa’, ibunda Aminah merasa sakit, yang kemudian meninggal dunia dan dikuburkan di tempat itu juga. Muhammad kecil kembali menghadapi cobaan yang sangat berat, ibarat luka belum sembuh karena ditinggalkan ayahahandanya, tergores luka baru dengan wafatnya ibunda yang sangat dicintainya. Muhammad kini menjadi seorang yang yatim dan piatu dalam usia 6 tahun. Kemudian Ummu Aiman membawanya pulang ke Makkah. Anak itu pulang sambil menangis dengan hati yang perih, hidup sebatang kara. Baru beberapa hari yang lalu ia menyaksikan rumah tempat ketika ayahnya wafat dan kuburan ayahnya, kini ia melihat sendiri di hadapannya, ibundanya pergi, wafat tidak kembali untuk selama-lamanya. 

Anak yang masih amat kecil itu mendapat cobaan yang sangat berat, memikul beban hidup yang memilukan, sebagai seorang anak yang yatim dan piatu. Dua tahun setelah beliau berada dalam asuhan dan bimbingan kakeknya Abdul Muthalib pun wafat. Sebelum meninggal dunia, Abdul Muthalib menyerahkan cucunya kepada anaknya yang sekaligus paman Nabi, yaitu Abu Thalib. Kemudian merawatnya dengan penuh kasih sayang. Ketika di Makkah Muhammad kecil dipelihara kakeknya Abdul Muthalib. Kakeknya sangat mencintainya, ia memeliharannya dengan penuh kasih sayang, sungguhpun demikian, peristiwa sedih sebagai anak yatim piatu itu bekasnya masih mendalam sekali pada jiwanya, sehingga dalam al-Qur’an disebutkan: “Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?” (QS. al-Dhuha, 93: 6).



Resource Berita : nu.or.id
Habib Luthfi Diminta Pimpin Thariqah Seluruh Dunia

Habib Luthfi Diminta Pimpin Thariqah Seluruh Dunia



WartaIslami ~ Rais Aam Jami’yyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) Habib Luthfi bin Yahya merasa bersyukur saat ini thariqah mampu memberikan contoh yang baik dalam menyatukan kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara.

“Alhamdulillah sepanjang ini thariqah di Indonesia menjadi percontohan dalam hal kesatuan ini,” ujar Habib Luthfi bin Yahya dalam penutupan Muktamar XII JATMAN di Pekalongan, Kamis, (18/1).

Menurut Habib Luthfi, di luar negeri kecemburuan sosial sangat mencolok. Tapi yang mulai dirintis Kiai Mushlih Mranggen dan sesepuh terdahulu bisa mempersatukan 41 thariqah al-mu’tabarah.

“Dan satu thariqah mempunyai banyak cabang. Jika ditotal jumlah thariqah seluruh dunia mencapai 300 cabang thariqah,” ungkapnya dilansir Jatman Event.

Habib Luthfi menyatakan, dirinya diminta untuk mempersatukan jam’iyah thariqah di seluruh dunia. “Maka saya sudah memuwasyarahkan dengan para muktamirin dari luar negeri,” tuturnya.

Hampir setiap kali Habib Luthfi berjumpa dan dikunjungi ulama-ulama thariqah dari luar negeri selalu diminta untuk memimpin thariqah seluruh dunia.

Bahkan dengan tegas di hadapan ratusan ribu hadirin Maulid Akbar Kanzus Sholawat, Syekh Umar Hadhrah dari Sudan menyatakan, “Habib Luthfi bin Yahya adalah Rais Aam thariqah seluruh dunia!”

Sudah dua kali Habib Luthfi mengadakan Konferensi Internasional ulama-ulama sufi, Januari dan Juli 2016, keduanya dilaksanakan di Pekalongan.

Para tamu luar negeri dari 40 negara merasakan hal yang sama bahwa Konferensi Bela Negara yang digagas JATMAN harus dicontoh oleh ulama seluruh dunia. Sudah waktunya ulama sufi menjadi tokoh pemersatu perdamaian dunia.

“Insyaallah bulan Maret akhir akan mengumpulkan thariqah seluruh dunia menjadi Muktamar Aam Thariqah se-Dunia. Rencananya akan diadakan di Jakarta atau Pekalongan, sehingga Indonesia menjadi muara thariqah seluruh dunia yang bersumber di Indonesia,” ucap Habib Luthfi di hadapan muktamirin di Pekalongan.


Resource Berita : nu.or.id
Kisah Dr. Said Ramadhan: Dari Cemas Jadi Optimis Mendengar Ayat Ini

Kisah Dr. Said Ramadhan: Dari Cemas Jadi Optimis Mendengar Ayat Ini



WartaIslami ~ Dr. Said Ramadhan, seorang da’i muda Mesir yang tersohor pada masanya, karena sering mengritik pemerintah Gamal Abdul Naser, ditutup akses-akses usaha ekonominya. Dia merasa sedih dan cemas karena tidak bisa membayangkan bagaimana akan mencukupi kebutuhan hidup istri dan anak-anaknya.

Ditengah kecemasannya itu, dia mendengar melalui radio seorang qari` sedang membaca ayat 32 surat Az-Zukhruf, “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami lah yang membagikan di antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”.

Mendengar bacaan ini, dia merasa seolah-olah ayat itu baru turun dan khusus ditujukan kepadanya. Maka segera hilanglah rasa cemas dalam hatinya, berubah menjadi optimisme, harapan dan penuh semangat memandang hari esok yang membentang di hadapannya.

Allah menjamin rezeki setiap makhluk yang diciptakanya. Jaminan itu dinyatakan dalam firman-Nya di surat Hud ayat 6. “Dan tidak ada satu hewan melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya, semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”. Hewan melata dalam ayat ini disepakati oleh para ahli tafsir maknanya adalah semua makhluk Allah termasuk manusia. Di dalam surat Al-Baqarah 212 dan An-Nur 38, Allah Juga menegaskan “Dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nyatanpa batas”.

Apakah rezeki dari Allah diberikan dengan sebab atau tanpa sebab, dengan syarat atau tanpa syarat? Dalam hal ini Imam Malik dan Imam Syafi’i mempunyai pandangan yang berbeda. Imam Malik berpendapat bahwa rezeki itu tanpa sebab. Dengan tawakkal, berserah diri kepada Allah, maka Allah akan menurunkan rezeki-Nya.

Hal ini didasarkan atas hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Jika kalian bertawakkal kepada Allah dengan tawakkal yang sebenar-benarnya, maka Allah akan memberi kaliaan rezeki, sebagaimana burung diberi rezeki, di pagi hari dia pergi dalam keadaan lapar, sore hari dia pulang dalam keadaan kenyang”.

Sedangkan Imam Syafi’i berpendapat bahwa rezeki itu dengan sebab, yaitu harus ada ikhtiar atau usaha. Dasarnya adalah hadis yang sama, tapi Imam Syafi’i memberikan penekanan pada bagian akhirnya, yaitu; “di pagi hari dia pergi dalam keadaan lapar, sore hari dia pulang dalam keadaan kenyang”. Jadi, burung pun tidak diam untuk mendapat rezeki.

Menurut riwayat, Imam Syafi’i pun pergi ke rumah gurunya itu untuk menyampaikan pendapatnya. Di tengah jalan di dekat pasar, bertemu dengan seorang kakek yang terengah-engah memanggul barang belanjaannya. Dia menawarkan diri untuk membantu memanggulnya. Setelah sampai di rumah, sang kakek memberinya sekeranjang korma. Imam Syafi’i membawa korma itu sebagai oleh-oleh untuk gurunya, dan menceritakan apa yang dialaminya sebagai bukti kebenaran pendapatnya bahwa rezeki itu ada sebabnya. “Kalau saya tidak membantu mengangkat barang, saya tidak akan memperoleh korma ini”. Imam Malik pun menjawab degan tenang, “Saya tidak kemana-mana dan tidak melakukan apa-apa, tapi dapat juga rezeki sekeranjang korma”.

Jadi siapa yang benar?
Keduanya benar. Rezeki adalah anugerah Allah. Ada yang diperoleh dengan usaha dan ada yang tidak. Ada yang harus diusahakan dan ada yang hanya ditawakkalkan. Banyak ayat di dalam Al-Qur`an yang mendorong manusia agar bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. “Jika shalat telah ditunaikan, bertebaranlah kalian di muka bumi, berusahalah untuk memperoleh karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kalian beruntung” (Al-Jumu’ah 10). “Supaya mereka makan dari buahnya dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka” (Ya` Sin 35). Wallohu A'lam.


Resource Berita : dutaislam.com
Makna Tersembunyi Kata "dengan" dalam Surat Al-Alaq Ayat 1

Makna Tersembunyi Kata "dengan" dalam Surat Al-Alaq Ayat 1



WartaIslami ~ Ayat Qur’an yang turun pertama kali kepada Nabi Muhammad adalah surat Al Alaq ayat 1: “Bacalah dengan menyebut nama tuhanmu”. Begitu ayat tersebut turun Nabi Muhammad dengan gemetar berkata: “Saya tidak bisa membaca”.

Apakah benar-benar tidak bisa membaca dan menyebut nama Allah?

“Tidak mudah menyebut nama Allah, bukan berarti nabi tidak mengenal Allah karena nabi sudah dicitakan sebelum segala sesuatu diciptakan. Maka nabi mengatakan saya tidak tahu, dalam arti kami belum tahu tata cara yang baik,” ungkap Kiai Masroni ketika memberikan arahan pada Muktamar Jam'iyyah Ahlith Thariqah Al Muktabarah An Nahdliiyah (Jatman) komisi Matan, Rabu (17/01/2018).

Menurut Kiai Masroni, setelah turun ayat tersebut Nabi kemudian menyebut bismillahhirraamanirrahim. Ini terihat tidak selaras karena perintahnya iqra namun nabi menyebut nama Allah. Ini menunjukkan serangkaian yang dalam tafsir disebut amil maknawiyin.

”Harus ada kata “dengan” ini adalah rangkaian. Maknanya, apapun yang kami lakukan dengan menyebut nama Allah,” katanya.

Dari sini, melakukan segala sesuatu dengan menyebut nama Allah akan dijamin oleh Allah. Sesuai dengan dalil bismillahi ma’asmihi syaiun fil ardi wa laa fissama wahuwasamiiul alim.

“Berjalan dengan menyebut nama Allah. Bekerja dengan menyebut nama Allah. Semuanya pas. Ketika menyebut nama allah dijamin,” katanya.

Lebih lanjut menurut Kiai Masroni, dengan menyebut  nama Allah (bismillah) dalam segala perbuatan sama halnya manusia menyebut tiga nama Allah yang agung yaitu Allah, Rahman, dan Rahim. Dengan itu, manusia terhidar dari bahaya karena tidak ada bahaya bersama Allah. Namun demikian, semuanya harus dilakukan dengan kesengajaan.

”Mengapa di kamar kecil kita haram menyebut nama Allah, karena tidak layak nama Allah ditempatkan yang begitu tidak layak. Ini syariat,” tuturnya.


Resource Berita : dutaislam.com
Cerita Lucu Muktamar XII Tentang Tas Keramat

Cerita Lucu Muktamar XII Tentang Tas Keramat



WartaIslami ~ Waktu itu Kamis dini hari usai acara pleno semua komisi Muktamar di Pendopo Lama. Banyak yang pulang. Aku juga pulang. Tapi harus mengambil motor butut di depan mushalla gedung itu. Melihat ada pimpinan sidang sub-komisi Matan yang akan pulang, aku menghampiri.

"Mas, masih ada tas kayak Muktamar kayak jenengan niku, boleh saya dapat untuk kenang-kenangan," kira-kira begitulah yang aku tanyakan kepada Mas yang ganetng tersebut setelah membuka belakang Kijang Innova, yang disebut ada tas Muktamar yang nganggur, tapi nihil adanya.

Mas ganteng itu akhirnya aku minta menemani ke suatu tempat yang bejibun ada tumpukan ribuan tas keramat bertuliskan Muktamar. Kami masuk ke gedung, setelah menyusuri lorong belakang, toilet dan sederet orang main ceki dan remi. Bertemu dengan penitia bagian bendahara.  Sangat ramah.

Kami diminta oleh beliau menuliskan dua nama yang akan diberikan kenang-kenangan itu. Tapi kertas yang tertulis nama tesebut harus diserahkan kepada seseorang yang katanya bertanggungjawab juga atas gunungan tumpukan tas di bawah tangga itu. Kami perkenalkan diri dari PP MATAN.

"Sudah dapat rekomendasi dari atas dan bawah belum? Kalau belum, kami tidak bisa mengeluarkan," kata beliau, sambil main ceki. "Oh, begitu nggeh," balas Mas Ganteng yang berkali-kali mimpin sidang sub komisi MATAN sejak Jumat.

"Ya sudah bang, gak usah saja, aku hanya minta kok, tidak ngemis," kataku pada Mas Ganteng, lalu dia buang kertas bertuliskan dua nama atas nama PP MATAN, di selokan toilet yang kami lewati.

Aku yang sejak Sabtu datang, menemani tamu, dikasi ID Panitia Idaroh Wustho, hingga pernah diculik, disidang karena dianggap ngocar-ngocir jadual, padahal bukan, sempat dianggap Romli hanya karena ganti baju Batik cokelat Kudus, benar-benar merasakan, bahwa aku memang Romli.

Meski begitu, aku sangat bahagia mendengatar dawuh Abah soal MATAN. Andai tak datang, aku tidak merasakan bahagianya kehujanan naik motor butut hingga kenyang air jalanan selama empat jam. Alhamdulillah. Sampai rumah jam 8 Kamis malam.


Resource Berita : dutaislam.com
Mayat yang Berjalan

Mayat yang Berjalan



WartaIslami ~ Hati merupakan titik pusat manusia untuk bergerak dan merasakan fenomena di sekitarnya (sosial) serta untuk berkomunikasi penuh cinta dengan Sang Khalik, Allah SWT (transendental). Namun, apa jadinya jika fungsi hati seorang Muslim mati dan mengeras bagaikan karang di tengah gempuran ombak kencang?

Jika kondisi hati seorang Muslim seperti itu, tak salah jika ada yang menjulukinya sebagai mayat yang berjalan. Dalam Inna Ma'al Usri Yusran karya Muhammad Abdul Athi Buhairi, pernah ada yang menanyakan mengenai hal ini kepada Khudzaifah ibn al-Yaman RA. Ia menjawab, "Mayat yang hidup adalah orang yang tidak mengingkari kemungkaran dengan tangannya, lisannya, dan hatinya."

Seorang Muslim, jika tak ingin disebut mayat yang berjalan, mesti senantiasa menyadari kondisi dirinya; apakah setiap harinya ia selalu melakukan bermacam dosa atau tidak? Dan, apakah tangan, lisan, serta hatinya dipergunakan dengan baik atau tidak?

Jika membicarakan dosa, cakrawala paradigma kita mestilah luas melebihi dalamnya laut dan luasnya semesta. Selain musyrik terhadap Allah, ada banyak dosa yang berhubungan langsung dengan kehidupan (dosa sosial) yang menjadi tantangan bersama: kemiskinan, penguasa lalim yang korup, pemerkosaan, pembunuhan, hingga eksploitasi lingkungan. Semua dosa sosial itu mesti dijauhi dan diperangi bersama agar peradaban ini senantiasa dilindungi serta selalu ada dalam keberkahan Allah SWT.

Seperti yang telah disinggung di atas, posisi dan kondisi hati amatlah penting. Hati, jika telah mati rasa dan tak mampu menyerap segala sumber cinta serta semesta rasa di sekitarnya, pasti tak mampu melihat segala kemungkaran yang berlangsung di hadapannya. Ia telah menjelma mayat yang berjalan.

Allah berfirman, "Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahanam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah). Mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah). Mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (QS al-Araaf [7]: 179).

Celaka dan merugilah bagi mereka yang berani menutup rapat pintu hatinya dan menjadikannya keras membatu. Mereka diamdiam lupa bahwa hati merupakan karunia Allah SWT untuk mereka jadikan sebagai perangkat saling mengasihi dan mencintai. Apa jadinya dunia ini jika hidup tak saling mengasihi dan mencintai. Maka tak mengherankan jika fenomena manusia saling menumpahkan darah semakin menyeruak, itu tak lain sebab hatinya telah buta dan mengeras sedemikian rupa.

Berjuanglah di muka bumi dengan langkah kaki yang tulus serta ayunan tangan yang ikhlas. Berupayalah terus mencintai Allah dan sesama dengan menggunakan perangkat dari-Nya: hati bersih. Jangan biarkan kemungkaran menyeruak menyerang urat nadi nurani kemanusiaan kita yang amat luhur. Alangkah hina dan menjijikkan jika seorang Muslim membiarkan sesamanya ditindas oleh bermacam kemungkaran di muka bumi.

Akhirul kalam, agar tak menjadi mayat yang berjalan, seorang Muslim mesti senantiasa memaksimalkan fungsi hatinya kepada Allah sebagai pemilik semesta hingga kepada manusia sebagai sesamanya. Bagaikan aliran cahaya lampu yang berasal dari tegangan listrik yang kuat, seorang Muslim mesti pandai menjaga dan menguatkan tegangan arus ketakwaan kepada Allah agar cahaya dalam hatinya terus bersinar-mencerahkan. Maka dari itu, berjuang dalam menjaga cahaya hati amatlah penting. Perhatikanlah apa yang dikatakan Jalalludin Rumi, "Malaikat selamat karena pengetahuannya, binatang selamat karena ketidaktahuannya, di antara keduanya manusia terus berjuang." Wallahu a'lam.


Resource Berita : republika.co.id
Jeddah Bangun Menara Pencakar Langit Tertinggi di Dunia

Jeddah Bangun Menara Pencakar Langit Tertinggi di Dunia

Jeddah (ilustrasi)


WartaIslami ~ DUBAI -- Gedung pencakar langit tertinggi di dunia akan dibangun di Jeddah, Arab saudi. Pengembang real estat telah menandatangani kontrak dengan Saudi senilai 620 juta Saudi Riyal untuk pekerjaan infrastruktur di lokasi tersebut.

Kontrak tersebut diberikan kepada perusahaan lokal Al-Fouzan General Contracting Co. Jeddah Economic Co, konsorsium di balik proyek tersebut, mengatakan bahwa pekerjaan tersebut akan rampung dalam waktu 12 bulan.

Pembangunan Menara Jeddah, yang semula diproyeksikan senilai 1,2 miliar dolar, telah berlangsung selama beberapa tahun. Pejabat sebelumnya mengatakan, bahwa bangunan tersebut akan rampung pada 2020. Dalam pernyataannya, Jeddah Economic Company tidak mengatakan apakah jadwal tersebut masih dalam sesuai.

Proyek tersebut disusun saat perekonomian Saudi tengah berkembang pesat. Kini, proyek itu menghadapi lingkungan yang lebih sulit. Karena pasar real estat negara itu merosot lantaran kondisi ekonomi yang sulit, karena harga minyak yang rendah.

Menara Jeddah diproyeksikan mencapai ketinggian lebih dari 1.000 meter (3.281 kaki), mengalahkan Burj Khalifa di Dubai yang tingginya mencapai 828 meter. CEO Jeddah Economic Company, Mounib Hammoud, mengatakan bahwa pelaksanaan infrastruktur canggih dianggap sebagai langkah penting dalam memposisikan mega pembangunan ini sebagai proyek kelas dunia.

Hammoud mengatakan, pekerjaan berjalan sesuai dengan jangka waktu yang ditetapkan. Sementara bidang tanah akan tersedia dan siap untuk dikembangkan oleh investor lokal dan internasional dengan semua layanan dukungan dan utilitas yang mencakup infrastruktur mutakhir, pendinginan distrik, jaringan gas, pelengkapan dan penyelesaian jalan, ruang publik terbuka yang luas, taman dan elemen lain dari konsep kota cerdas yang ramah lingkungan.

"Proyek ini menawarkan menara tertinggi di dunia, lingkungan yang beragam, apartemen residensial untuk sebagian besar anggaran, tujuan mengisi waktu luang dan liburan dan pusat bisnis. Proyek Kota Ekonomi Jeddah akan menyandang pertumbuhan Jeddah dan akan menawarkan ribuan lapangan kerja bagi kaum muda Saudi di berbagai bidang," kata Hammoud, dilansir dari Arab News, Jumat (19/1).


Resource Berita : republika.co.id
Bolehkah Ibu Hamil Menjamak Shalat?

Bolehkah Ibu Hamil Menjamak Shalat?



WartaIslami ~ Kondisi hamil tua bagi keba nyakan kaum perempuan sa ngat melelahkan. Saat usia kandungan mendekati masamasa melahirkan, tenaga menjadi terkuras. Hal ini berdampak pada kurangnya kemampuan beraktivitas. Bah kan, ia terpaksa harus meninggal kan secara total pekerjaan yang sebelumnya kerap ia lakukan. Misalnya saja dalam soal aktivitas duniawi, wa nita karier memilih mengambil cuti menjelang kehamilannya.

Ada banyak lagi rutinitas yang mendesak ditinggalkan selama hamil. Lantas bagaimana dengan urusan shalat lima waktu? Bolehkan ibu hamil meninggalkan shalat dengan alasan hamilnya? Bila tidak, bolehkah menjamak shalat agar lebih mudah dan tak memberatkannya?

Perintah shalat adalah kewajiban mutlak yang tak boleh diabaikan. Bagi Muslim atau Muslimah yang telah akil dan balig berkewajiban menunaikan perintah tersebut apa pun kondisinya sesuai dengan batas kemampuan. “Se sungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orangorang yang beriman.” (QS an- Nisa:103).

Dengan demikian, menurut Yahya bin Syaraf An Nawawi dalam kitab Rau- dlat At Thalibin, ulama bersepakat bah wa wanita hamil tidak boleh me ning- galkan shalat lima waktu. Memang, sekali lagi, adakalanya para ibu hamil mendapatkan kesulitan. Mereka akan kesusahan, mulai dari mengambil air wudhu hingga saat pelaksanaan shalat. Karena itulah, muncul diskusi di ka lang an para ulama, boleh atau tidakkah wanita hamil menjamak shalat.

Permasalahan ini pada dasarnya kembali pada kaidah tentang boleh atau tidaknya menjamak karena alasan keberatan (masyaqqah) yang menyebabkan lemah (dha’f). Hamil adalah bentuk dari keberatan dengan akibatnya berupa ketidakberdayaan perempuan hamil. Bila tetap dipaksakan sha lat dengan segala ketentuannya seperti keadaan normal maka ini berarti memberikan beban di luar batas kemampuannya.

Ulama berbeda pendapat mengenai hukum menjamak shalat karena alasan keberatan dan ketidakberda ya an pada saat menetap atau sedang ti dak bepergian. Pendapat pertama me ngatakan, ibu hamil tidak boleh menjamak shalat dengan alasan tersebut.

Pandangan ini disampaikan oleh para ahli fikih dari Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan sebagaian besar pakar fikih. Di kalangan Mazhab Hanafi, secara khusus, sebagaimana dinukil Ibn Al Hammam dalam Syarah Fath Al Qadir, selain di dua tempat, yaitu Arafah dan Muzdalifah, tak boleh menjamak shalat bagi ibu hamil.

Sedangkan, menurut kelompok kedua, ibu hamil diperbolehkan menjamak shalat karena dua alasan di atas. Pendapat ini banyak disuarakan oleh ulama dari Mazhab Hanbali dan Al Qadhi Husain. Sebagian ulama hadis juga memilih pendapat ini. Akan tetapi, mereka memberikan satu syarat, yaitu tidak menjadikan dua alasan, yaitu masyaqqahdan dha’f, sebagai pembenaran untuk selalu menjamak shalat.

Adapun dalil yang dijadikan dasar oleh kelompok pertama, antara lain, hadis riwayat Jabir bin Abdullah. Da lam hadis tersebut dijelaskan, Jibril shalat dan menjadi imam bagi Rasulullah SAW selama dua hari berturutturut. Usai shalat, Jibril menjelaskan kepada Rasulullah tentang waktu pe laksanaan masing-masing shalat dan tak ada keterangan tentang boleh atau tidaknya didahulukan atau diakhirkan waktunya.

Sedangkan, kelompok yang kedua menggunakan hadis riwayat Ibnu Abbas dengan perawi salah satunya Habib bin Abi Tsabit. Hadis yang dinukil dalam Kitab Sahih Muslim tersebut mengisahkan bahwa konon Rasulullah SAW pernah menjamak antara shalat Zhuhur dan Ashar serta Maghrib dan Isya. Hal itu dikerjakan Rasulullah saat berada di Madinah dalam situasi normal. Bukan dalam keadaan berperang ataupun tengah turun hujan.

Lantas, Ibnu Abbas pun ditanya apa alasan Rasulullah menjamak shalatshalat tersebut. Ia pun menjawab bah wa apa yang ditempuh oleh Rasulullah bertujuan agar tidak memberatkan umatnya. Imam Ahmad bin Hanbal pun kemudian mengomentari hadis riwayat Ibnu Abbas tersebut. Menurutnya, ketentuan ini merupakan dispensasi bagi mereka yang sakit dan menyusui. Termasuk dalam kategori ini ialah mereka yang mendapati kesulitan dan ketidakberdayaan. Dan, kondisi hamil, termasuk satu dari ke sekian bentuk ke su litan berhak atas rukhsah.


Resource Berita : republika.co.id
KH Abdurrahman Nawi Dapat Ijazah dari Syekh Nawawi dalam Mimpi

KH Abdurrahman Nawi Dapat Ijazah dari Syekh Nawawi dalam Mimpi



WartaIslami ~ Salah satu kenikmatan yang luar biasa adalah ketika seseorang bertemu dengan orang yang dicintainya. Kecintaan antara murid terhadap guru atau guru terhadap murid merupakan bukti kemurnian akhlak yang besar. Itulah yang dilakukan ulama-ulama salaf terdahulu yang saleh.

Kecintaan mereka terhadap Ulama tidak terbendung besarnya hingga dalam setiap langkah selalu diselipkan doa dan tawasul kepada guru-gurunya. Bahkan, saking besarnya mahabbah tersebut, dengan anugerah Allah, mereka dipertemukan lewat mimpi yang indah.

Hal ini dialami oleh KH Abdurrahman Nawi, salah satu kiai sepuh Betawi yang sampai kini, di usianya yang sudah sangat senja, ia masih semangat dalam berdakwah.
KH Abdurrahman Nawi merupakan Pimpinan Pondok Pesantren Al-Awwabin Depok, sekaligus menjabat sebagai Mustasyar PCNU Kota Depok, Jawa Barat.

Abuya--sapaan akrab KH Abdurrahman Nawi—dikabarkan sering kali dijumpai ulama-ulama salafus shalihin dalam mimpinya. Namun hal tersebut jarang sekali ia ceritakan. Baginya, hal tersebut hanya sebatas konsumsi pribadinya bukan konsumsi publik.

Namun, terkadang ada beberapa yang ceritakannya kepada orang-orang yang memang dipercayainya, dengan tujuan bukan untuk membanggakan diri, tapi untuk mendidik dan memberikan nasihat. Salah satu kisah yang didapati, bahwa Abuya pernah bermimpi didatangi oleh Syekh Nawawi Al-Bantani, salah seorang ulama besar Nusantara yang masyhur terkenal karena karya-karyanya.

Nama lengkap Syekh Nawawi adalah Muhammad Nawawi bin Umar bin Arabi bin Ali bin Jamad bin Janta bin Masbuqil al-Jaawi al-Bantani. Lahir di Tanara Tirtayasa Serang Banten pada tahun 1230 H/1813 M dan wafat di Mekkah pada 1314 H/1897 M. Adapun Abuya, nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Nawi bin Su’id. Lahir di Tebet Melayu Besar, pada hari Rabu 08 Desember 1337 H/1920 M.

Dari tahun kelahiran, antara Abuya dengan Syekh Nawawi Banten sangat jauh berbeda. Mereka tidak pernah bertemu secara fisik. Abuya hanya mengenal Syekh Nawawi dari guru-gurunya yang nasab keilmuannya itu tersambung sampai kepada jalur Syekh Nawawi hingga Rasulullah SAW dan dari karya-karya hebatnya.

Diceritakan oleh cucu Abuya, Imamuddin Mukhtar, bahwa setiap hari Abuya selalu menyempatkan diri membaca tawasul kepada para alim ulama, khususnya Syekh Nawawi Al-Bantani. Kepada santrinya pun, Abuya selalu mengamanatkan untuk tidak lepas dari bertawassul. Karena dalam sebuah riwayat dikatakan:
إِلْتَمِسُوْا البَرَكَةَ مِنْ ذَوِي البَرَكَةِ

“Hendaknya oleh kalian ambil keberkahan dari orang yang memiliki keberkahan.”

Suatu saat, ketika Abuya sedang asyik mudzakaroh dan muthola’ah kitab karya Syekh Nawawi, ia menikmati betul keindahan dan keluasan ilmu ulama asal Banten tersebut. Setelah asyik bercengkrama dengan kitab Syekh Nawawi, Abuya pun tertidur.

Dalam tidurnya, Abuya melihat dari kejauhan, datang seekor kuda yang ditunggangi oleh seorang kakek kurus yang sudah mengeriput kulitnya. Kakek tua itu mendatangi Abuya dengan mengenakan pakaian yang putih bersih dan bersinar.

“Hei, kamu tahu siapa aku?” Tanya seorang yang berkuda itu.

“Tidak, saya tidak tahu siapa Anda,” jawab Abuya kebingungan.

“Saya adalah Nawawi Al-Bantani,” jawa kakek tersebut sambil tersenyum.

Komunikasi harmonis pun terjalin dalam mimpi tersebut, hingga Syekh Nawawi mengijazahkan beberapa doa kepada Abuya. Hanya satu yang disebut oleh cucunya, yaitu doa yang hendak dibaca setiap selesai pengajian:


اللَّهُمَّ إِنِّي اِسْتَوْدَعْتُكَ وَ مَا قَرَأْتُهُ و مَا سَمِعْتُهُ و ما حَفِظْتُهُ فَارْدُدْهُ إِلَيَّ عِنْدَ حَاجَتِي إلَيْه


“Ya Allah, aku titip semua yang aku baca, semua yang aku dengar, dan semua yang aku hafal kepada-Mu. Lantas kembalikanlah itu semua ketika aku butuh dengannya.”

Ketika terbangun, betapa senangnya Abuya karena mendapat kenikmatan yang luar biasa, bertemu dengan Syekh Nawawi Al-Bantani, ulama sekaligus guru yang sangat dicintainya. Dengan kecintaan yang tulus dan murni, Allah turunkan anugrah-Nya dengan mempertemukan mereka walaupun hanya sebatas mimpi.

Karena itu, dalam setiap selesai pengajian, doa tersebut tidak jarang Abuya bacakan, dan kepada santrinya beliau ajarkan. (Ahmad Rifaldi, disarikan dari catatan Imamuddin Mukhtar, cucu Abuya KH Abdurrahman Nawi)


Resource Berita : nu.or.id
Ini Daftar Pimpinan Hasil Keputusan Muktamar XII Jatman dan Matan

Ini Daftar Pimpinan Hasil Keputusan Muktamar XII Jatman dan Matan

Habib Luthfi bin Yahya dan Dr Hamdani Mu'in sedang dipakaikan sorban oleh Habib Umar bin Hafidz (Foto: Istimewa)


WartaIslami ~  Hasil keputusan Muktamar ke XII Jamiyyah Ahlit Thariqah Al Mu'tabarah An Nahdliyyah (Jatman) mendaulat kembali Maulana Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya sebagai Rais Aam yang dipilih oleh Majelis Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) untuk periode lima tahun mendatang. Sebagaimana diumumkan pada hasil keputusan sidang pleno Muktamar, berikut susunanya:

1. Rois Aam : Maulana Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya.

Wakil Rois Aam KH. Ali Mas'adi

Katib Aam : KH. Zaini Mawardi

2. Mudir Aam: KH.  Wahfiudin Sakam, SE, MBA

Wakil Mudir Aam: Habib Umar Muthohar.

Sementara itu, Mahasiswa Ahlit Thariqah An Nahdliyyah (Matan) pada sidang komisi mengusulkan dua nama untuk menjadi calon ketuanya yakni Habib Husein bin Habib Lutfi dan Dr. Hamdani Mu'in, untuk ditetapkan salah satunya sebagai ketua oleh Rois Aam terpilih.

Habib Lutfi sebagai Rois Aam kemudian berbicara, beliau merasa belum waktunya dan tidak elok untuk mempromosikan putranya sebagai Ketua Matan, maka beliau mengukuhkan kembali Dr. Hamdani Mu'in sebagai Ketua Matan.

Lalu dalam kesempatan itu secara khusus beliau meminta Prof Abdul Hadi untuk menjadi Penasehat dan Pembina Matan Pusat.


Resource Berita : dutaislam.com
Jangan Lupakan Sedekah di Jum'at Mubarakah!

Jangan Lupakan Sedekah di Jum'at Mubarakah!



WartaIslami ~ Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Sedekah memiliki keutamaan sangat banyak dalam Al-Qur'an dan sunnah. Sedekah menjadi sebab datangnya ampunan untuk pelakunya, memadamkan kemurkaan Allah, menyelamatkannya dari neraka. Seseorang di hari kiamat berada di bawah naungan sedekahnya.

Sedekah akan menghindarkan dari bala’ dan musibah dunia dunia; serta menjadi obat penyembuh untuk penyakit hati dan fisik.

Orang yang bersedekah akan diberkahi hartanya dan meraih pahala besar melalui sedekahnya. Kelak di hari kiamat, ahli sedekah akan dipanggil untuk memasuki surga lewat pintu khusus; yaitu bab shodaqoh (pintu sedekah). Masih banyak keutamaan dan faidah lainnya dari sedekah.

Terkhusus di hari Jum’at sebagai hari ibadah, yang mana umat Islam didorong untuk meningkatkan amal shalih dan ketaatan di dalamnya, sedekah termasuk amal shaluh istimewa di dalamnya. Sejumlah ulama memberi perhatian serius terhadapnya. Disebutkan, sedekah di hari Jum’at lebih baik dan lebih besar pahalanya daripada hari-hari selainnya.

Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata tentang keutamaan hari Jum’at,

والصدقة فيه بالنسبة إلى سائر أيام الأسبوع كالصدقة في شهر رمضان بالنسبة إلى سائر الشهور

“Bahwasanya sedekah di hari Jum’at dibandingkan semua hari dalam sepekan seperti sedekah di bulan Ramadhan dibandingkan bulan-bulan selainnya.”

Beliau memberi kesaksian bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –Qaddasallahu ruhahu- apabila keluar shalat Jum’at membawa roti atau selainnya yang ada di rumahnya lalu menyedekahkannya secara sembunyi-sembunyi di jalan yang dilaluinya.

Beliau pernah mendengar gurunya tersebut berkata, “Jika Allah telah perintahkan kita bersedekah saat munajat (mengadakan pembicaraan khusus) dengan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, maka bersedekah sebelum bermunajat kepada Allah itu lebih utama dan besar fadhilahnya.”

Disebutkan dalam Tuhfah al-Habib ‘ala Syarh al-Khatib tentang hari Jum’at,

“Disunnahkan memperbanyak  sedekah dan berbuat kebaikan di siang dan malam hari Jum’at. Juga disunnahkan memperbanyak shalat atas Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wasallam di siang dan malam harinya berdasarkan khobar,

إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فِيهِ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ

"Sesungguhnya di antara hari kalian yang paling afdhal adalah hari Jum'at. Oleh karena itu perbanyaklah shalawat di hari Jum'at, karena shalawat akan disampaikan kepadaku”."

Disebutkan dalam hadits Ka’ab,

والصدقة فيه أعظم من الصدقة في سائر الأيام

“Sedekah di dalamnya lebih besar pahalanya daripada semua hari.” (HR. Abdurrazaq di Mushannafnya no 5558, hadits mauquf shahih dan memiliki hukum marfu’)

Ada sebagian ulama yang tidak sependapat adanya keistimewaan sedekah di hari Jum’at dari hari-hari selainnya semisal Syaikh Abdurrahman al-Sahim di almeshkat.net. Beliau di forum tanya jawab berjudul “Apakah Sedekah di Hari Jum'at Memiliki keutamaan dan Pahala Besar?" berkata, “Tidak boleh mengkhususkan sedekah Hari Jum’at. Karena menghususkan dan menetapkan hal itu butuh dalil. Tidak ada dalil menghususkan hari Jum’at dengan sedekah –wallahu a’lam.”

Beliau berhujah dengan hadits Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam,

لَا تَخُصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِي ، وَلَا تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الْأَيَّامِ ، إلَّا أَنْ يَكُونَ فِي صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ

“Menghususkan malam Jum’at untuk mengerjakan shalat dari malam-malam lainnya, dan janganlah menghususkan siang hari Jum’at untuk mengerjakan puasa dari hari-hari lainnya, kecuali bertepatan dengan puasa yang biasa dilakukan oleh salah seorang kalian.” (HR. Muslim, al-Nasai, al-Baihaqi, dan Ahmad)

Namun beliau tetap mengakui ada sebagian ulama menyebutkan keutamaan sedekah di hari Jum'at. Kemudian beliau menukil perkataan Ibnu Qoyim Rahimahullah di atas.

Penutup

Apabila kita perhatikan tentang keutamaan hari Jum’at –berupa ampunan, pengabulan doa, dan pahala besar bagi hamba-hamba beriman- juga termasuk fadhilah dari sedekah. Jika sedekah di keluarkan di hari Jum’a’t akan menyempurnakan fadhilah bagi pelakunya. Karenanya, jangan lupakan sedekah di hari Jum’at mubarakah! Wallahu A’lam.


Resource Berita : voa-islam.com
close
Banner iklan disini