Abdullah ibn Ma'sud, Sosok Paling Dekat dengan Karakter Nabi

Abdullah ibn Ma'sud, Sosok Paling Dekat dengan Karakter Nabi



WartaIslami ~ Abdullah bin Mas'ud menerima pelatihan unik di rumah Nabi. Lelaki itu meneladani berbagai kebiasaan Rasulullah. Banyak orang mengenal Abdullah sebagai sosok paling dekat dengan karakter Nabi. Oleh karena itu, dia adalah orang yang paling berpengetahuan tentang Syariah.

Tidak ada yang bisa menggambarkan hal ini lebih baik daripada cerita tentang orang yang datang ke Umar bin Khattab saat berdiri di dataran Arafah dan berkata:

"Saya telah datang, wahai Amirul Mukminin, dari Kufah di mana saya meninggalkan seorang pria yang mengisi salinan Alquran dari ingatan." Umar menjadi sangat marah dan mondar-mandir di samping untanya, menggerutu. "Siapa dia?" Dia bertanya.

"Abdullah ibn Mas'ud," jawab pria itu. Kemarahan Umar mereda dan dia kembali tenang. "Celakalah kamu," katanya pada pria itu. "Demi Tuhan, saya tidak tahu ada orang yang lebih baik memahami syariah daripada dia.

Umar bersama Abdullah bin Mas'ud Suatu malam Rasulullah Sedang mengobrol dengan Abu Bakar tentang situasi umat Islam. Umar pun bersama mereka. Saat Nabi pergi, keduanya juga pergi bersamanya dan saat mereka melalui masjid, ada seorang pria yang berdiri sambil berdoa yang tidak dikenal.

Nabi pun ikut berdiri dan mendengarkannya, lalu berpaling kepada keduanya dan berkata, Barang siapa ingin membaca Alquran dengan nyaring, maka tirulah cara membaca Ibnu Umm Abd.

Setelah shalat, saat Abdullah duduk berdoa, Nabi SAW bersabda, "Min talah, niscaya akan terkabul," Rasul mengulanginya hingga dua kali. Umar lalu menemui Abdullah dan mengatakan kabar baik bahwa Rasul akan menjamin doanya diterima Allah. Namun, ternyata Abu Bakar telah lebih dahulu menemuinya dan menyampaikan apa yang dikatakan Rasul.

Abdullah Ibn Mas'ud memperoleh berkah pengetahuan Alquran. Dia per nah bersumpah atas nama Allah bahwa setiap ayat yang diwahyukan dan sebab turunnya telah dike tahuinya. Jika pun ada orang selainnya, Abdullah akan bersamanya untuk mempelajari wahyu Allah yang belum diketahuinya tersebut.

Abdullah tidak melebih-lebihkan apa yang dia katakan tentang dirinya sendiri. Hanya kejujuran yang keluar dari mulutnya. Suatu ketika Umar bin Khattab bertemu dengan sebuah kafilah. Saat itu gelap gulita dan kafilah tidak bisa terlihat dengan benar. Umar memerintahkan seseorang untuk memanggil kafilah tersebut. Tanpa disangka, di dalamnya ada Abdullah Ibn Mas'ud.

"Dari mana Anda datang?" tanya Umar. "Dari lembah yang dalam," jawabnya. "Dan kemana kamu pergi?" tanya Umar. "Ke rumah kuno," terdengar jawabannya. "Ada orang terpelajar (alim) di antara mereka," kata Umar dan dia memerintahkan seseorang untuk bertanya kepada orang itu: "Bagian mana dari Alquran yang paling besar?" "'Tuhan, tidak ada tuhan kecuali Dia, Yang Hidup, Yang Tidak Tertidur." Abdullah bin Mas'ud bukan hanya penghafal Alquran, dia juga dikenal sebagai sosok terpelajar dan ahli ibadah. Sejarah mencatatnya sebagai sosok pejuang kuat dan pemberani.


Resource Berita : republika.co.id
5 Cara Ibadah Dan Berburu Pahala Saat Sedang Haid

5 Cara Ibadah Dan Berburu Pahala Saat Sedang Haid



WartaIslami ~ Bagi seorang wanita, haid merupakan kodrat yang di berikan Allah, dan pada masa haid pula wanita dilarang untuk melaksanakan beberapa ibadah. Namun masih ada ibadah yang boleh di lakukan untuk menggali pahala.

Beribadah dan memperbanyak pahala merupakan kewajiban setiap umat Islam. Namun saat haid, banyak ibadah yang dilarang. Lantas bukan berarti tidak ada ibadah yang bisa dilakukan ketika haid.

Nah, Berikut ini 5 Ibadah yang dilarang saat masa haid dan juga 5 ibadah yang diperbolehkan selama masa haid.

Ibadah yang dilarang dilakukan pada waktu haid.

1. Sholat

Semua ulama sudah sepakat, bahwa seorang wanita haid tidak diperkenakan untuk mendirikan salat, baik salat wajib maupun sunah. Bahkan tidak sah apabila tetap dilaksanakan.

Sesuai hadis Nabi, “Jika hadi datang, tinggalkan salat.”

2. Puasa

Diharamkan seorang wanita berpuasa saat ia haid.

Namun, ia wajib mengqada (mengganti) di lain waktu. Ini sesuai pernyataan Aisyah radhiallahu anha, “Apa bila yang demikian itu (haid) menimpa kami, maka kami disuruh (oleh Rasulullah) mengqada puasa namun tidak disuruh untuk mengqada salat,” (HR Muslim)

3. Tawaf

egitu juga saat menunaikan ibadah haji dan umrah, wanita haid dilarang untuk melakukan tawaf.

Aisyah Ra berkata,

“Aku datang ke kota Makkah dalam kondisi haid. Aku pun tidak melakukan tawaf dan sai antara Safa dan Marwa. Maka, hal itu kuadukan kepada Rasulullah Saw. Mendengar hal tersebut beliau bersabda, ‘Lakukanlah semua yang dilakukan oleh orang yang berhaji. Namun, jangan bertawaf sampai engkau suci.”

4. Berjima

Suami-istri yang berjima, merupakan ibadah yang bernilai berpahala tinggi.

Namun saat haid, hal ini dilarang. Allah berfirman, “Jauhilah para wanita itu saat sedang haid dan jangan mendekati mereka sebelum suci.”

Baca juga: Ya Allah, Apakah Kesusahan Tanpa Henti ini Ujian DariMu Ataukah Azab DariMU

Namun, sekedar bersentuhan, foreplay dan bercumbu tidak sampai jima diperbolehkan.

5. Berdiam di Masjid

Keempat imam mazhab sepakat, bahwa wanita yang sedang haid tidak diperbolehkan untuk duduk di masjid.

Dalilnya adalah sabda Rasulullah : “Sesungguhnya aku tidak menghalalkan masjid bagi wanita haid dan orang junub.” (HR Abu Daud).

Namun jika seorang melintas di dalam masjid untuk suatu keperluan, maka diperbolehkan.

Dalilnya, Rasulullah pernah memerintahkan Aisyah membawa khumrah (semacam sajadah) yang ada di masjid. Lalu Aisyah berkata,

“Sesungguhnya aku sedang haid.” Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya haidmu itu bukan berada di tanganmu.” (HR Muslim).

Bagi muslimah yang sedang haid pasti menginginkan untuk berburu pahala.

Berikut ini beberapa ibadah yang bisa dilakukan saat haid.

1. Membaca Alquran

Masalah ini menjadi perbedaan pendapat di antara ulama.

Beberapa ulama fikih mengharamkannya, namun menurut Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah membahas persoalan ini dalam kitabnya Majmu al Fatwa.

Menurut kesepakatan para ulama bahwa wanita tidak boleh membaca Alquran saat haid adalah hadis daif (lemah). Dengan demikian, wanita yang sedang haid diperbolehkan untuk membaca al-Quran.

2. Mendengarkan bacaan Alquran.

 Wanita yang sedang haid boleh mendengarkan bacaan alquran, seperti lewat Radio, TV, Handpone dll.

3. Membaca kalimat tayyibah

Wanita haid diperbolehkan untuk membaca kalimat-kalimat yang baik, seperti zikir, takbir, tahlil, tahmid, atau pun doa-doa yang disyariatkan pagi ataupun sore hari (al-ma’tsurat).

Wanita haid juga diperkenankan untuk membaca buku-buku ilmiah, seperti tafsir, fikih, ataupun hadis.

4. Mendengar ceramah.

Wanita haid juga diperbolehkan mendengarkan ceramah, asalkan tidak di dalam tempat shalat.

Seperti mendengarkan ceramah di depan TV atau radio. Di dalam kitab Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, Umu Athiah berkata,

“Rasulullah Saw pernah bersabda menyuruh keluar wanita – wanita dan anak – anak gadis yang berada di dalam rumah saat salat dua hari raya (salat Idul Fitri dan Idul Adha) supaya mereka dapat menyaksikan kebaikan dan seruan orang mukmin, dan jauhkanlah wanita haid dari musala (tempat lapang salat Hari Raya).”

5. Bersedekah

Mengeluarkan uang untuk berbagi dengan orang lain, dengan bersedekah, diperbolehkan dalam kondisi suci maupun haid.

Seperti menyiapkan makanan untuk orang yang berpuasa atau orang yang sedang mengaji, memberi santunan pada fakir miskin dll.

Nah itulah ibadah yang bisa kita lakukan saat sedang haid. Haid tak lantas menghalangi kita untuk mengumpulkan pundi-pundi pahala dari Allah SWT.



Resource Berita : wajibbaca.com
Wanita Disunnahkan Melaksanakan Shalat Gerhana di Masjid?

Wanita Disunnahkan Melaksanakan Shalat Gerhana di Masjid?



WartaIslami ~ Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Para wanita juga disunnahkan melaksanakan shalat khusuf (gerhana bulan) di masjid secara berjamaah. Mereka dilarang memakai parfum menyengat dan bersolek saat pergi ke masjid agar tidak menimbulkan fitnah. Lebih-lebih shalat ini untuk menggambarkan rasa takut terhadap tanda-tanda kebesaran Allah ini. Karena Allah takdirkan gerhana sebagai sarana membuat takut para hamba-Nya.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُخَوِّفُ بِهِمَا عِبَادَهُ

"Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang dan tidak pula karena hidupnya seseorang. Tapi, Allah Ta'ala menakut-nakuti hamba-Nya dengan keduanya." (Muttafaq ‘Alaih)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin Rahimahullah berpendapat bahwa para wanita juga ikut melaksanakan shalat gerhana di masjid. Alasannya, karena para istri-istri pada sahabat ikut serta melaksanakan shalat kusuf (gerhana) di masjid saat terjadi gerhana di zaman Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Selesai dari keterangan Syaikh Ibnu Utsaimin dalam fatwa berjudul “Hukmu Shalah al-Kusuf wa Hal Lil Mar'ati an Thushalliya fi al-Bait”.

Diriwayatkan dari Asma’ binti Abi Bakar Radhiyallahu 'Anhuma, ia berkata: Aku mendatangi ‘Aisyah –istri Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam- saat terjadi matahari. Saat itu manusia sedang shalat. Saat ia juga sedang berdiri shalat maka aku bertanya, “Apa yang menyebabkan orang-orang shalat?” lalu ia berisyarat dengan tangannya ke langit. Ia berkata: Subhanallahu (Maha suci Allah). Lalu aku bertanya, “Ayat (tanda kekuasaan Allah)?”. Aisyah mengiyakan dengan isyarat. Maka akupun ikut shalat. . . . (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dzahir hadir ini menunjukkan bahwa ‘Aisyah dan Asma’ shalat bersama Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Sebagaimana yang sudah maklum, perintah dalam Islam berlaku bagi laki-laki dan wanita kecuali ada dalil yang mengkhususkannya. Dan tidak ada dalil yang membedakan antara laki-laki dan wanita dalam shalat gerhana ini.

Utamanya, shalat khusuf (gerhana) dilaksanakan di masjid jami'. Masyarakat berkumpul di satu tempat untuk bersama-sama melaksanakan shalat dan menyimak khutbah dan naishat. Namun ini bukan keharusan.

Jika wanita tidak ada mahram yang menyertainya ke masjid atau khawatir timbul fitnah dengan kepergiannya ke masjid karena terlalu malam, maka boleh dia melaksanakan shalat gerhana di rumahnya.

Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah pernah ditanya, “Apakah wanita boleh shalat kusuf (gerhana) sendirian di rumahnya? Apa yang utama baginya?”

Beliau menjawab:

لا بأس أن تصلي المرأة صلاة الكسوف في بيتها ؛ لأن الأمْر عام " فَصَلّوا وادْعُوا حتى ينكشف ما بِكم " ، وإن خرجت إلى المسجد كما فعل نساء الصحابة ، وصَلَّتْ مع الناس كان في هذا خير

Tidak apa-apa wanita shalat gerhana di rumahnya. Karena perintah datang secara umum, “Maka shalatlah dan berdoalah sehingga hilang gerhana dari kalian.” Dan jika ia keluar ke masjid sebagaimana istri-istri para sahabat dan shalat bersama orang-orang maka pelaksanaan semacam ini lebih baik.”

Jika di rumahnya terdapat beberapa wanita, -pendapat ini dinisbatkan kepada madhab Syafi’iyah- ia boleh mengerjakan secara berjamaah dengan mereka. Tidak disyariatkan khutbah bagi wanita. Namun sebagian mereka boleh memberi nasihat dan peringatan kepada lainnya. Wallahu A’lam.


Resource Berita : voa-islam.com
Hasan Gipo, Ketua PBNU Pertama yang Bikin Tak Berkutik Moso Sang Singa Podium PKI

Hasan Gipo, Ketua PBNU Pertama yang Bikin Tak Berkutik Moso Sang Singa Podium PKI

Hasan Gipo. 

WartaIslami ~ Hasan Gipo atau Hasan Basri lahir di Surabaya pada tahun 1869 di  Kampung Sawahan (sekarang Jl. Kalimas Udik). Ia lahir dari lingkungan keluarga santri kaya yang dikenal dengan nama keluarga Gipo. Bertempat tinggal di kawasan perdagangan elite di Ngampel yang bersebelahan dengan pusat perdagangan di Pabean, sebuah pelabuhan sungai yang berada di tengah kota Surabaya yang berdempetan dengan Jembatan Merah.

Keluarga Gipo yang berdarah Arab, merupakan saudagar kaya di daerah komplek Ampel, Surabaya. Hingga kampung tempat Gipo tinggal kemudian dikenal dengan Gang Gipo dan keluarga ini mempunyai makam keluarga yang dinamai makam keluarga, makam Gipo di kompleks Masjid Ampel. Gang Gipo sendiri kini berubah menjadi Jalan Kalimas Udik.

Sebagai seorang yang mampu secara ekonomi Hasan Gipo juga mendapatkan pendidikan cukup memadai selain belajar di beberapa pesantren di sekitar surabaya, juga sekolah di pendidikan umum ala Belanda. Meskipun mendapatkan pendidikan model Belanda tetapi jiwa kesantriannya masih sangat kental dan semangat kewiraswastaannya sangat tinggi. Sehingga kepemimpinan ekonomi di kawasan bisnis Pabean masih dipegang oleh keluarga itu, hingga masa Hasan Gipo.

Karena hampir seluruh kiai Jawa Timur merasa sebagai pengikut dan penerus Sunan Ampel, maka setiap saat mereka berziarah ke makam keramat di kota Surabaya itu. Kunjungan mereka itu banyak disambut oleh keluarga Gipo di Ampel. Persahabatan Hasan Gipo dengan para ulama yang telah dirintis kakeknya terus dilanjutkan. Sehingga ia sangat dikenal oleh kalangan ulama, sebagai saudagar, aktivis pergerakan dan administratur yang cerdik. Tidak sedikit pertemuan para ulama baik untuk bahtsul masail maupun untuk membahas perkembangan politik yang dibiayai dan difasilitasi oleh Hasan Gipo. Sebagai sesama penerus Sunan Ampel dan sesama sudagar membuat Hasan Gipo sering bertemu dengan KH Wahab Hasbullah dalam dunia pergerakan.

Sebagai seorang pedagang dan sekaligus aktivis pergerakan yang tinggal di kawasan elite Surabaya, hal itu sangat membantu pergerakan Kiai Wahab. Dialah yang selalu mengantar Kiai Wahab menemui para aktivis pergerakan yang ada di Surabaya, seperti HOS Cokroaminoto, Dr. Soetomo dan lain sebagainya. Di situlah Kiai Wahab dan Hasan Gipo berkenalan dengan para murid HOS Cokroaminoto seperti Soekarno, Kartosuwiryo, Muso, SK Trimurti dan masih banyak lagi. Di situlah para aktivis pergerakan nasional baik dari kalangan nasionais dan santri bertemu merencanakan kemerdekaan Indonesia.

Pertemuan antara Hasan Gipo dengan Kiai Wahab serta kiai lainnya makin intensif. Ia kemudian terlibat aktif dalam pendirian Nahdlatul Wathan (1914), walaupun tidak tercatat sebagai pengurus. Selanjutnya ia juga menjadi peserta diskusi dalam forum Taswirul Afkar (1916).

Karena itu pengetahuannya sangat teruji, dan kemapuan berargumentasinya sangat memukau. Selain itu ia juga telah aktif terlibat dalam Nahdlatut Tujjar (1918) yang memang bidangnya. Dalam forum semacam itu ia berkenalan dengan ulama lainnya makin intensif seperti Kiai Hasyim Asy’ari dan beberapa kiai besar lainnya di Jawa  yang telah lama menjalin pershabatan dengan keluarga Ampel itu.

Bahkan ketika para ulama membentuk Komite Hejaz dan akan mengirimkan utusan ke Makah, sumbangan Hasan Gipo juga sangat besar. Dialah yang mempelopori penghimpunan dana dan ia sendiri pun menyumbang sangat besar. Atas prestasinya yang banyak memberikan sumbangan dan memiliki kecakapan teknis dalam menangani administrasi organisasi serta penggalangan dana masyarakat.

Karena itu ketika Nahdlatul Ulama berdiri, dalam sebuah pertemuan terbatas yang dipimpin Kiai Wahab Hasbullah di kawasan Bubutan Surabaya ia langsung ditunjuk sebagai Hoftbestoor (Pengurus Besar) NU sebagai Ketua Tanfidziyah  dan usul itu langsung disetujui oleh Kiai Hasyim Asy’ari yang sebelumnya sudah sangat mengenal Hasan Gipo serta latar belakang keluarganya.

Walau sebagai pengurus NU bisnisnya tetap berkembang, bahkan kemudian juga dikembangkan ke sektor properti. Ia banyak memiliki perumahan, pertokoan dan pergudangan yang ini kemudian disewakan. Saat itu kebutuhan terhadap sarana bisnis tinggi, karena itu tingkat hunian propertinya juga tinggi, sehingga keuntungan yang diperoleh dari sini juga tinggi sehingga ia bisa menyumbang banyak ke NU, baik ketika Muktamar maupun untuk sosialisasi dan pengembangan NU ke daerah-daerah lain. Bisa dilihat, NU pun berkembang sangat cepat dari Surabaya. Pada tahun kedua NU telah menyebar di Jawa Tengah, bahkan pada tahun kelima telah menyebar ke Jawa Barat, bahkan ke Kalimantan dan Singapura.

Seperti dilukiskan Saifuddin Zuhri, menggabarkan Hasan Gipo sebagai sosok yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga gagah secara fisik. Karena itu ketika terjadi perdebatan tentang masalah teologi antara Kiai Wahab Hasbullah dengan Muso yang ateis itu bisa mengganti kedudukan Kiai Wahab yang bosan menghadapi Muso yang hanya bisa debat kusir tanpa nalar dan tanpa hujjah yang benar. Maka dengan gagah berani ia  melakukan  debat dengan Muso tokoh PKI yang dikenal sebagai Singa podium itu ditaklukkan. Setiap argumennya bisa dipatahkan sehingga alumni Moskwo dan anak didik Lenin itu keteteran. Tidak hanya itu Arek Suroboyo ini juga berani menantang Muso berkelahi secara fisik. Anehnya Muso yang biasanya brangasan itu tidak berani menghadapi tantangan Hasan Gipo.

Selain menguasai ilmu agama, setiap orang pesantren selalu menguasai ilmu kanuragan. Sebab ini bagian dari tradisi pesantren, dan tampaknya Hasan Gipo juga memiliki ilmu ini sehingga hal inilah yang membuat Muso ngeri menghadapi Hasan Gipo. Jabatan ketua Tanfidziyah itu dipegang Hasan Gipo selama dua masa jabatan. Baru pada Muktamar NU Ketiga 1929 di Semarang ia digantikan oleh KH. Noor sebagai ketua Tanfidziyah yang baru juga berasal dari Surabaya. Selanjutnya pada Muktamar NU ke 12 tahun 1937 di Malang kemudian KH Noor digantikan oleh KH Mahfud Shiddiq, kakak kandung KH Ahmad Shiddiq.

Pada periode awal ini, NU memang banyak diikuti oleh para pengusaha. Selain Hasan Gipo ada beberapa pengusaha besar yang masuk ke NU diantaranya Haji Burhan Gresik. Ia memiliki pabrik kulit dan persewaan rumah dan gudang. Kemudian adalagi pengusaha besar Haji Abdul Kahar Kawatan Surabaya, yang menguasai perdagangan pertanian di Jawa Timur. Kemudian ada H. Jassin, seorang pemilik pabrik garmen yang khusus diekspor ke India dan Pakistan. Mereka semuanya pernah aktif terlibat aktif dalam Nahdlatut Tujjar, maka ketika NU berdiri secara otomatis mereka bergabung ke NU.

Dengan demikian NU bisa berdiri mandiri tanpa bantuan dari kolonial, sehingga bebas menentukan gerak organisasinya dan mengatur pendidikan pesantren yang diselenggarakannya.

Pada periode awal ini selain menggiatkan bidang pendidikan, maka NU sangat peduli dengan usaha pengembangan ekonomi dengan membentuk berbagai syirkah. Usaha impor sepeda dari Eropa dirintis sejak tahun 1935 karena untuk mencukupi kebutuhan pasar dalam negeri dan tentunya sangat dibutuhkan sebagai sarana transportasi warga NU dalam mengembangkan jamiyah. Selain itu juga dibentuk badan pengimpor gerabah dan barang kebutuhan lainnya dari Jepang. Usaha itu terus dikembangkan, kemudian NU juga mulai masuk lebih serius dalam bidang industri percetakan dan lain sebaginya. Atas inisiatif para kiai dan para tujjar yang ada dalam tubuh NU pergerakan NU semakin gencar, sehingga dalam waku singkat menjadi organisasi besar.

Selain bisnis yang bersifat kolektif para pengurus NU sejak dari Kiai Hasyim Asy’ari, termasuk Kiai Wahab Hasbullah. Kiai As’ad Syamsul Arifin, Kiai Bisri, Kiai Muslih Purwokerto, mempunyai usaha sendiri-sendiri. Usaha itu dibangun selain untuk memenuhi ekonomi keluarga yang terpenting bisa menjadi kemandirian agar tidak minta bantuan pada pemerintah kolonial Belanda. Jajaran pimpinan NU terdiri dari orang-orang independen, tidak ada yang menggantungkan ekonominya pada birokrasi kolonial.

Karena itu sejak masa kemerdekaan kemandirian kiai dan NU tetap terjaga karena memiliki kemandirian secara ekonomi. Pembangunan ekonomi di sini ditempatkan sebagai strategi politik untuk menjaga kemandirian dan kebebasan warga dari ketergantungan dan tekanan dari penjajah.

Setelah tidak lagi menjadi Ketua Tanfidziyah PBNU, Hasan Gipo kembali mengembangkan bisnisnya hingga semakin besar. Sebagian hasil keuntungannya tetap disumbangkan pada NU dan pesantren. Sebab pada masa rintisan NU membutuhkan banyak dana, apalagi saat itu Muktamar dilaksanakan setiap tahun, maka sudah pasti Hasan Gipo tergerak untuk membantu pendanan Muktamar NU setiap kali diselenggarakan, baik di Surabaya maupun di luar Jawa.

Aktivitas Hasan Gipo terus dilanjutkan hingga menjelang wafatnya  pada tahun 1934 yang kemudian dimakamkan di kompleks pemakaman Sunan Ampel dalam pemakaman khusus keluarga Sagipoddin. Ia mempunyai tiga orang anak, yang kemudian melanjutkan usaha bisnisnya dan sekaligus sebagai penerus dinasti Gipo yang masih terus aktif hingga saat ini.


Resource Berita : dutaislam.com
Nasehat Gus Dur Kepada Modin Berkelas

Nasehat Gus Dur Kepada Modin Berkelas



WartaIslami ~ Namanya KH. Wahyudi, dia berasal dari keluarga sederhana. Tinggal di Desa Pacar Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan. Beliau adalah salah satu mudin di kampunya yang begitu aktif dalam menjalankan tugasnya, dari menjadi pencramah di masjid sampai mushola-mushola yang ada di kampungnya itu.

Selain aktif dalam syi'ar agama beliau juga aktif di organisasi, baik dulu sewaktu kecil di IPPNU, remaja mengikuti ANSOR dan dewasa ini adalah NU. Dan hebatnya jabatan ketua selalu ditempatinya.

Tak hanya itu, beliau juga aktif di politik. Dengan berpedoman khitthah NU,  "NU bukan milik siapa-siapa tapi NU ada dimana-mana," beliau memutuskan untuk masuk dalam partai (warna merah), selanjutnya disebut WM.  Beliau konsisten di partai ini, dari petama menggeluti politik sampai sekarang tak pernah ganti di partai WM ini, dan walhasil beliau menjadi DPRD wilayah Jawa tengah, sesuai kepribadiannya beliau, beliau ditempatkan dalam hal pendidikan dan keagamaan.

Pada suatu ketika saat beliau menjabat sebagai DPRD, beliau dimintai untuk Mulang (menghajar agama) oleh ketua DPD parpol tersebut. Serasa Mak jleb,,kaget bukan kepayang dan heranya beliau, beliau yang hanya berlatar belakang kiai ndeso merasa dirinya tak pantas dengan tugas tersebut. Tapi akhirnya sebelum memutuskan antara "iya" atau "tidak", sebagai kader NU yang menjunjung tinggi wejangan (petuah/saran) para sesepuh, beliau sowan dulu ke ketua PBNU pada saat itu adalah KH. Abdurrahman Wahid allauyarham atau yang biasa akrab disapa Gus Dur.

KH. Wahyudi menemui Gus Dur di Ciganjur tempat kantor PBNU berada dan menceritakan perihal masalahya tersebut. Beliau bertanya kepada Gus Dur. "Gus saya ini orang NU, saya ini disuruh mulang/nuturi anggota DPD partai WM di Semarang, yang notabene bukan org NU. bagaimana ini Gus?"

Gus Dur pun dengan santainya menjawab. "Bagus itu. Sampeyan kalau mulang di tempat orang-orangnya NU/para santri, itu sama saja sampeyan nguyahi segoro (menabur garam dilaut) artinya orang-orang yang sudah paham tentang agama kok digurui. Yaa lebih baik yang sperti itu."

"Laksanakan tugas mulia itu," tegas Gus Dur.

Kemudian Gus Dur pun memberi nasehat. "Kalau sampeyan mulang di manapun, jangan sekali-kali sampeyan meminta imbalan (upah). Tapi kalau ada yang memberi jangan sekali-kali menolaknya."

Mendengar nasehat yang pertama seakan Pak Wahyadi senyum kecut dan mendengar yang kedua kecutnya hilang. Hehehe.

Dan yang terakhir Gus Dur pun mendo'akan, agar ilmunya manfaat dan berkah kehidupanya. Pak Wahyudi pun mengamini dan pamitan untuk segera pulang.

Dengan modal silaturahmi ke kediaman Gus Dur, KH. Wahyudi pun memberanikan diri untuk meng-iya kan tawaran dari petingginya. Modin ini yang dulu hanya riwa-riwi di kampunya saja sekarang makin berkelas membagi ilmunya kepada para anggota dewan di kota besar sampai sekarang. sekian.


Resource Berita : dutaislam.com
Syarat dan Jenis Zakat Binatang Ternak

Syarat dan Jenis Zakat Binatang Ternak



WartaIslami ~ Di dalam fiqih, binatang ternak yang wajib dizakati hanya ada tiga macam, yaitu unta, sapi, dan kambing. Hal ini berdasarkan beberapa hadits yang menegaskan kewajiban zakat pada ketiga jenis binatang ternak tersebut. Mengapa hanya tiga macam binatang ini? Hikmah di baliknya antara lain karena banyaknya manfaat binatang-binatang tersebut bagi manusia; air susunya baik untuk kesehatan, mudah dikembang biakkan, dan lain sebagainya (Lihat An-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Mesir, al-Muniriyah, jilid V, halaman: 321).

Zakat binatang ternak tidak diwajibkan pada selain tiga jenis binatang ternak tersebut, berdasarkan sabda baginda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wassallam:

لَيْسَ عَلَى الْمُسْلِمِ فِى عَبْدِهِ وَلاَ فَرَسِهِ صَدَقَةٌ

“Bagi seorang muslim tidak menanggung beban zakat dari budak dan kudanya.” (HR. Muslim)

Begitu pula ayam, bebek, ikan dan lain sebagainya. Namun, bila selain tiga jenis binatang ternak tersebut diperdagangkan, maka dikenai kewajiban zakat perdagangan sesuai dengan ketentuan di dalam zakat tijarah (aset perdagangan).

Ketiga binatang ternak di atas wajib dizakati jika memenuhi empat syarat:

1. Mencapai nishab (batas minimum wajib zakat) seperti nishabnya sapi yang disebutkan di dalam satu riwayat hadits:

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ بَعَثَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْيَمَنِ فَأَمَرَنِي أَنْ آخُذَ مِنْ كُلِّ ثَلَاثِينَ بَقَرَةً تَبِيعًا أَوْ تَبِيعَةً وَمِنْ كُلِّ أَرْبَعِينَ مُسِنَّةً

“Dari Mu’adz ibn Jabal, ia berkata, ‘Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam mengutusku ke Yaman, kemudian beliau memerintahku untuk mengambil zakat dari setiap tiga puluh ekor unta, seekor unta berusia setahun, menginjak usia tahun keduanya, jantan atau betina, dan dari setiap empat puluh ekor unta, seekor unta berusia dua tahun,menginjak usia ketiga’.” (HR. At-Tirmidzi)

2. Melewati haul (setahun Hijriah) seperti sabda baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam:

وَلَيْسَ فِي مَالٍ زَكَاةٌ حَتَّى يَحُولَ عَلَيْهِ الْحَوْلُ

“Suatu harta tidak wajib dizakati kecuali telah melewati masa setahun.” (HR. Abu Dawud)

Syarat ketiga ini hanya berlaku bagi induknya saja. Sedangkan untuk anak-anak binatang tersebut, perhitungan haul-nya diikutkan pada induknya. Sehingga, jika induk sudah melewati setahun, maka anak-anaknya pun dihukumi haul, walaupun sebenarnya belum melewati setahun.

3. Digembalakan. Maksudnya, sepanjang tahun binatang ternak tersebut diberi makan dengan cara digembalakan di lahan umum atau lahan milik sendiri, tidak dengan dicarikan rumput. Dalam sebuah hadits disebutkan:

وَصَدَقَةُ الْغَنَمِ فِى سَائِمَتِهَاإِذَا كَانَتْ أَرْبَعِيْنَ إِلَى عِشْرِيْنَ وَمِائَةٍ شَاةٌ

“Zakat kambing yang digembalakan adalah satu ekor kambing ketika jumlahnya telah mencapai empat puluh sampai seratus dua puluh ekor.” (HR. Bukhari)

4. Tidak dipekerjakan, seperti untuk membajak sawah, mengangkut barang dan lain sebagainya. Di dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Imam an-Nawawi menjelaskan alasan binatang ternak yang dipekerjakan tidak wajib dizakati:

ولان العوامل والمعلوفة لا تقتنى للنماء فلم تجب فيها الزكاة كثياب البدن وأثاث الدار

“Karena sesungguhnya binatang ternak yang dipekerjakan dan binatang yang diberi makan dengan cara dicarikan rumput tidak semata-mata untuk dikembang-biakan, sehingga tidak wajib dizakati sebagaimana pakaian dan perabot rumah.” (An-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Mesir, al-Muniriyah, jilid V, halaman: 323)

Jika seseorang memiliki unta, sapi atau kambing yang telah memenuhi keempat syarat di atas, maka wajib dizakati. Semua ini menurut pendapat mazhab Syafi’i. Sedangkan menurut pendapat mazhab Malikiyah, syarat ketiga (digembalakan) dan syarat keempat (tidak dipekerjakan) tidak menjadi pertimbangan. Sehingga, apabila ketiga binatang ternak tersebut telah mencapai nishab dan melewati masa setahun (haul), maka wajib dikeluarkan zakatnya. (Lihat Muhammad ibn Abdullah al-Kharasyi, Syarh Mukhtashar Khalil). Wallahu a’lam.



Resource Berita : nu.or.id
Setelah Wahyu Tak Turun Lagi, Apa Tugas Jibril?

Setelah Wahyu Tak Turun Lagi, Apa Tugas Jibril?



WartaIslami ~ Dalam Kitab Al-Haba`ik fi Akhbaril Mala`ik yang ditulis oleh Jalaluddin As-Suyuthi terdapat pembahasan mengenai empat panglima malaikat yang mengelola urusan dunia. Dalam hal ini ia menghadirkan pelbagai macam riwayat, salah satunya adalah riwayat Ibnu Abi Hatim, Abus Syekh, dan Al-Baihaqi dari Ibnu Sabith.

Dalam riwayat tersebut dikatakan bahwa ada empat malaikat diberi tugas untuk mengelola dunia. Dari empat malaikat tersebut adalah Jibril yang salah satu tugasnya adalah mengurusi angin, Mikail mengurusi urusan hujan dan tumbuh-tumbuhan, dan Izrail diberi tugas mencabut nyawa. Sedang Israfil diberi tugas untuk menyampaikan perintah kepada mereka.

رُؤُوسُ الْمَلَائِكَةِ الْأَرْبَعةِ اَلَّذِينَ يُدَبِّرُونَ أَمْرَ الدُّنْيَا. (أَخْرَجَ) ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ وَأَبُو الشَّيْخِ فِى الْعُظْمَةِ وَالبَيْهَقِيُّ فِى الشُّعَبِ عَنِ ابْنِ سَابِطٍ قَالَ: يُدَبِّرُ أَمْرَ الدُّنْيَا أَرْبَعَةٌ : جِبْريلُ وَ مِيكَائِيلُ وَ مَلَكُ الْمَوْتِ وَ إِسْرَافِيلُ فَأَمَّا جِبْرِيلُ فَوُكِّلَ بِالرِّيَاحِ وَ الْجُنُودِ وَ أَمَّا مِيكَائِيلُ فَوُكِّلَ بِالْقَطْرِ وَ النَّبَاتِ وَ أَمَّا مَلَكُ الْمَوْتِ فَوُكِّلَ بِقَبْضِ الْأَرْوَاحِ وَ أَمَّا إِسْرَافِيلُ فَهُوَ يَنْزِلُ بِالْأَمْرِ عَلَيْهِمْ

Artinya, “Empat panglima malaikat yang mengurusi urusan dunia. Ibnu Abi Hatin dan Abus Syekh meriwayatkan dalam kitab Al-‘Uzhmah dan Al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman dari Ibnu Sabith ia berkata, ‘Empat Malaikat yang mengurusi urusan dunia yaitu Jibril, Mikail, Malaikat Maut, dan Israfil. Jibril diserahi untuk mengatur angin dan para tentara, Mikail diserahi untuk mengurus hujan dan tumbuh-tumbuhan, Malaikat Maut diserahi untuk mencabut nyawa, sedangkan Israfil diserahi tugas menyampaikan perintah kepada mereka,” (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Haba`ik fi Akhbaril Mala`ik, Beirut, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah, cetakan pertama, 1985 M/1405 H, halaman 16).

Tugas lain yang diemban Jibril adalah memenuhi hajat atau kebutuhan manusia. Dalam sebuah riwayat Al-Baihaqi dari Tsabit dikatakan bahwa Allah mendelegasikan Jibril untuk mengurusi hajat manusia.

Apabila orang mukmin berdoa, Allah menahan Jibril sejenak untuk mengabulkan doanya. Hal ini terjadi karenak Allah senang mendengarkan lantunan doa orang Mukmin. Lainnya halnya apabila yang berdoa adalah orang kafir, maka Allah langsung mengintruksikan kepada Jibril untuk segara memenuhinya. Hal ini karena Allah tidak menyukai mendengar lantunan doanya.

وَأَخْرَجَ الْبَيْهَقِيُّ عَنْ ثَابِتٍ قَالَ بَلَغَنَا أَنَّ اللهَ تَعَالَى وَكَّلَ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ بِحَوائِجِ النَّاسِ، فَإِذَا سَأَلَ الْمُؤْمِنُ ، قَالَ يَا جِبْرِيلُ: احْبِسَ حَاجَتَهُ فَإِنِّي اُحِبُّ لِدُعَائِهِ، وَإِذَا دَعَا الْكَافِر، قَالَ يَا جِبْرِيلُ أَقْضِ حَاجَتَهُ فَإِنِّي أُبْغِضُ دُعَائَهُ

Artinya, “Al-Baihaqi meriwayatkan dari Tsabit, dia berkata, ‘Telah sampai kepadaku riwayat yang menyatakan bahwa Allah SWT mendelegasikan Malaikat Jibril AS dalam urusan memenuhi hajat hidup manusia. Apabila seorang Mukmin berdoa, maka Allah pun berkata kepada Jibril AS, ‘Wahai Jibril! Tahan dulu untuk memenuhi hajatnya karena Aku sungguh sangat senang mendengar lantunan doanya.’ Apabila orang kafir berdoa, Allah pun berkata kepadanya, ‘Wahai Jibril! Penuhi apa yang menjadi hajatnya karena sesungguhnya Aku tidak suka mendengar lantunan doanya,’’” (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Haba`ik fi Akhbaril Mala`ik, Beirut, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah, cetakan pertama, 1985 M/1405 H, halaman 24).


Resource Berita : dutaislam.com
Delapan Pelajaran Istimewa Hatim al-‘Asham Berguru 30 Tahun

Delapan Pelajaran Istimewa Hatim al-‘Asham Berguru 30 Tahun



WartaIslami ~ Sudah maklum adanya bahwa mencari ilmu hukumnya wajib, utamanya ilmu agama dan syariat yang menjadi kunci keberhasilan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Mencari ilmu sangat wajib bagi setiap orang muslim” (HR. Ath-Thabrani)

Sungguh beruntung sekali orang yang diberi kesempatan oleh Allah ta’ala untuk bisa belajar dan mengeyam pendidikan agama. Namun tidak semua orang mengerti terhadap cara dan tujuan yang benar di dalam mencari ilmu.

Oleh sebab itu, pentinglah kiranya bagi kita belajar dari teladan-teladan yang telah diwariskan oleh para pendahulu kita di dalam cara dan tujuan yang benar dalam mencari ilmu. Di antaranya adalah teladan yang diriwayatkan dari seorang ulama besar di masanya. Beliau adalah Hatim al-Asham, murid Syaqiq al-Balkhi radliyallahu ‘anhuma.

Suatu ketika Syaqiq bertanya kepada Hatim, “Berapa lama engkau menemaniku?”

Hatim menjawab, “Tiga puluh tiga tahun.”

“Lalu apa yang telah engkau pelajari dariku selama ini?” lanjut Syaqiq.

“Delapan pengetahuan,” jawab Hatim.

“Inna lillahi wa inna ilahi raji’un. Umurku telah habis bersamamu namun engkau tidak belajar kecuali delapan permasalahan,” jawab Syaqiq keheranan.

“Wahai guruku, aku tidak mempelajari selain delapan permasalahan itu, dan sungguh aku tidak suka berbohong,” Hatim meyakinkan.

“Sampaikan delapan permasalahan itu, agar aku mendengarnya,” lanjut Syaqiq.

Hatim berkata, “Aku melihat seluruh manusia. Kemudian aku melihat masing-masing dari mereka mencintai kekasihnya. Ia bersama kekasihnya tersebut hingga sampai kubur. Namun, ketika ia sudah sampai kubur, maka apa yang ia kasihi meninggalkannya. Maka aku jadikan amal-amal baik sebagai kekasihku. Sehingga, ketika aku masuk kubur, maka kekasihku masuk ke kubur bersamaku.”

“Bagus wahai Hatim. Lalu apa yang kedua?” sahut Syaqiq.

Hatim melanjutkan, “Aku melihat firman Allah azza wa jalla:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى، فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

“Dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Nazi’at: 40 - 41)

Aku yakin bahwa sesungguhnya firman Allah subhanahu wa ta’ala adalah benar. Maka aku memaksa nafsuku untuk menolak hawa (kesenangannya) hingga nafsuku tenang untuk taat kepada Allah ta’ala. Yang ketiga, sesungguhnya aku melihat seluruh manusia. Aku melihat setiap orang yang memiliki sesuatu yang berharga dan bernilai, maka ia akan mengangkat dan menjaganya. Kemudian aku melihat firman Allah azza wa jalla:

مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللهِ بَاقٍ

“Apa yang di sisi kalian akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.”(QS. An-Nahl: 96)

Sehingga, setiap aku memiliki sesuatu yang bernilai dan berharga, maka aku hadapkan kepada Allah agar tetap terjaga di sisi-Nya. Yang keempat, sesungguhnya aku melihat semua manusia ini. Aku melihat bahwa masing-masing dari mereka kembali ke harta, keturunan mulia, kemuliaan dan nasab. Aku renungkannya, ternyata semua itu tidak ada artinya. Kemudian aku melihat firman Allah ta’ala:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”(QS. al-Hujurat: 13)

Maka aku beramal taqwa berharap aku menjadi orang yang mulia di sisi Allah. Yang kelima, sesungguhnya aku melihat semua manusia ini. Sebagian dari mereka mencela sebagian yang lain, dan sebagian dari mereka melaknat sebagian yang lain. Penyebab semua ini adalah sifat dengki. Kemudian aku melihat firman Allah azza wa jalla:

نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

“Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.”(QS. Az-Zukhruf: 32)

Maka aku tinggalkan sifat dengki dan aku menjauh dari manusia. Aku yakin bahwa sesungguhnya pembagian sudah ada dari sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Maka aku menghindari permusuhan dengan manusia.

Keenam, aku melihat para manusia. Sebagian dari mereka berbuat zalim pada sebagian yang lain. Dan sebagian dari mereka memerangi sebagian yang lain. Kemudian aku kembali kepada firman Allah ta’ala:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, Maka anggaplah ia musuh(mu).”(QS. Fathir: 6)

Maka aku hanya memusuhi setan saja. Dan aku berusaha sekuat tenaga waspada dan berhati-hati padanya. Karena sesungguhnya Allah ta’ala telah bersaksi bahwa sesungguhnya setan adalah musuhku. Maka akutidak memusuhi makhluk selain setan.

Yang ketujuh, aku melihat para manusia, masing-masing dari mereka mencari serpihan roti hingga ada yang menghinakan diri sendiri untuk mendapatkannya. Dan mereka terjerumus ke dalam sesuatu yang tidak halal. Kemudian aku melihat firman Allah ta’ala:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللهِ رِزْقُهَا

“Dan tidak ada suatu binatang melata (makhluk hidup) pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya.”(QS. Huud: 6)

Maka aku yakin bahwa sesungguhnya aku merupakan salah satu dari dawwab (makhluk hidup) ini yang ditanggung rezekinya oleh Allah. Maka aku tersibukan dengan apa yang menjadi hak Allah ta’ala atas diriku, dan aku meninggalkan apa yang menjadi hakku di sisi-Nya.

Yang kedelapan, aku melihat para manusia berpasrah diri dan bertawakkal kepada makhluk. Sebagian tawakkal pada kebunnya, sebagaian lagi tawakkal pada dagangannya, sebagian lain tawakkal pada pekerjaannya, dan sebagian lain lagi mengandalkan kesehatan badannya. Semua makhluk tawakkal pada makhluk yang lain yang sama lemahnya dengannya. Kemudian aku kembali pada firman Allah ta’ala:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)

Maka aku berserah diri kepada Allah azza wa jalla. Aku yakin Allahlah Tuhan yang mencukupiku.”

Dengan senyum penuh bangga dan bahagia Syaqiq berkata, “Wahai Hatim, semoga Allah ta’ala memberi taufiq padamu. Sesungguhnya aku telah melihat ilmu-ilmu di dalam kitab Taurat, Injil, Zabur dan Al-Qur’an al-Adhim. Aku menemukan semua jenis kebaikan dan ajaran agama. Semuanya berkutat pada delapan permasalahan ini. Sehingga, orang yang mengamalkannya, maka sesungguhnya ia telah mengamalkan keempat Kitabullah.”

Semoga kita dapat mengambil kedelapan pelajaran penting yang telah disampaikan oleh Hatim al-Asham, amin ya rabbal alamin. Wallahu a’lam. (Moh. Sibromulisi)


Kisah diambil dari keterangan al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, Beirut, Dar al-Fikr al-Ilmiyah, cetakan kelima, jilid I, halaman 145 – 147.
Delapan Pelajaran Istimewa Hatim al-‘Asham Berguru 30 TahunIlustrasi (thesufi.com)
Sudah maklum adanya bahwa mencari ilmu hukumnya wajib, utamanya ilmu agama dan syariat yang menjadi kunci keberhasilan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Mencari ilmu sangat wajib bagi setiap orang muslim” (HR. Ath-Thabrani)

Sungguh beruntung sekali orang yang diberi kesempatan oleh Allah ta’ala untuk bisa belajar dan mengeyam pendidikan agama. Namun tidak semua orang mengerti terhadap cara dan tujuan yang benar di dalam mencari ilmu.

Oleh sebab itu, pentinglah kiranya bagi kita belajar dari teladan-teladan yang telah diwariskan oleh para pendahulu kita di dalam cara dan tujuan yang benar dalam mencari ilmu. Di antaranya adalah teladan yang diriwayatkan dari seorang ulama besar di masanya. Beliau adalah Hatim al-Asham, murid Syaqiq al-Balkhi radliyallahu ‘anhuma.

Suatu ketika Syaqiq bertanya kepada Hatim, “Berapa lama engkau menemaniku?”

Hatim menjawab, “Tiga puluh tiga tahun.”

“Lalu apa yang telah engkau pelajari dariku selama ini?” lanjut Syaqiq.

“Delapan pengetahuan,” jawab Hatim.

“Inna lillahi wa inna ilahi raji’un. Umurku telah habis bersamamu namun engkau tidak belajar kecuali delapan permasalahan,” jawab Syaqiq keheranan.

“Wahai guruku, aku tidak mempelajari selain delapan permasalahan itu, dan sungguh aku tidak suka berbohong,” Hatim meyakinkan.

“Sampaikan delapan permasalahan itu, agar aku mendengarnya,” lanjut Syaqiq.

Hatim berkata, “Aku melihat seluruh manusia. Kemudian aku melihat masing-masing dari mereka mencintai kekasihnya. Ia bersama kekasihnya tersebut hingga sampai kubur. Namun, ketika ia sudah sampai kubur, maka apa yang ia kasihi meninggalkannya. Maka aku jadikan amal-amal baik sebagai kekasihku. Sehingga, ketika aku masuk kubur, maka kekasihku masuk ke kubur bersamaku.”

“Bagus wahai Hatim. Lalu apa yang kedua?” sahut Syaqiq.

Hatim melanjutkan, “Aku melihat firman Allah azza wa jalla:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى، فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

“Dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Nazi’at: 40 - 41)

Aku yakin bahwa sesungguhnya firman Allah subhanahu wa ta’ala adalah benar. Maka aku memaksa nafsuku untuk menolak hawa (kesenangannya) hingga nafsuku tenang untuk taat kepada Allah ta’ala. Yang ketiga, sesungguhnya aku melihat seluruh manusia. Aku melihat setiap orang yang memiliki sesuatu yang berharga dan bernilai, maka ia akan mengangkat dan menjaganya. Kemudian aku melihat firman Allah azza wa jalla:

مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللهِ بَاقٍ

“Apa yang di sisi kalian akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.”(QS. An-Nahl: 96)

Sehingga, setiap aku memiliki sesuatu yang bernilai dan berharga, maka aku hadapkan kepada Allah agar tetap terjaga di sisi-Nya. Yang keempat, sesungguhnya aku melihat semua manusia ini. Aku melihat bahwa masing-masing dari mereka kembali ke harta, keturunan mulia, kemuliaan dan nasab. Aku renungkannya, ternyata semua itu tidak ada artinya. Kemudian aku melihat firman Allah ta’ala:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”(QS. al-Hujurat: 13)

Maka aku beramal taqwa berharap aku menjadi orang yang mulia di sisi Allah. Yang kelima, sesungguhnya aku melihat semua manusia ini. Sebagian dari mereka mencela sebagian yang lain, dan sebagian dari mereka melaknat sebagian yang lain. Penyebab semua ini adalah sifat dengki. Kemudian aku melihat firman Allah azza wa jalla:

نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

“Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.”(QS. Az-Zukhruf: 32)

Maka aku tinggalkan sifat dengki dan aku menjauh dari manusia. Aku yakin bahwa sesungguhnya pembagian sudah ada dari sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Maka aku menghindari permusuhan dengan manusia.

Keenam, aku melihat para manusia. Sebagian dari mereka berbuat zalim pada sebagian yang lain. Dan sebagian dari mereka memerangi sebagian yang lain. Kemudian aku kembali kepada firman Allah ta’ala:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, Maka anggaplah ia musuh(mu).”(QS. Fathir: 6)

Maka aku hanya memusuhi setan saja. Dan aku berusaha sekuat tenaga waspada dan berhati-hati padanya. Karena sesungguhnya Allah ta’ala telah bersaksi bahwa sesungguhnya setan adalah musuhku. Maka akutidak memusuhi makhluk selain setan.

Yang ketujuh, aku melihat para manusia, masing-masing dari mereka mencari serpihan roti hingga ada yang menghinakan diri sendiri untuk mendapatkannya. Dan mereka terjerumus ke dalam sesuatu yang tidak halal. Kemudian aku melihat firman Allah ta’ala:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللهِ رِزْقُهَا

“Dan tidak ada suatu binatang melata (makhluk hidup) pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya.”(QS. Huud: 6)

Maka aku yakin bahwa sesungguhnya aku merupakan salah satu dari dawwab (makhluk hidup) ini yang ditanggung rezekinya oleh Allah. Maka aku tersibukan dengan apa yang menjadi hak Allah ta’ala atas diriku, dan aku meninggalkan apa yang menjadi hakku di sisi-Nya.

Yang kedelapan, aku melihat para manusia berpasrah diri dan bertawakkal kepada makhluk. Sebagian tawakkal pada kebunnya, sebagaian lagi tawakkal pada dagangannya, sebagian lain tawakkal pada pekerjaannya, dan sebagian lain lagi mengandalkan kesehatan badannya. Semua makhluk tawakkal pada makhluk yang lain yang sama lemahnya dengannya. Kemudian aku kembali pada firman Allah ta’ala:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)

Maka aku berserah diri kepada Allah azza wa jalla. Aku yakin Allahlah Tuhan yang mencukupiku.”

Dengan senyum penuh bangga dan bahagia Syaqiq berkata, “Wahai Hatim, semoga Allah ta’ala memberi taufiq padamu. Sesungguhnya aku telah melihat ilmu-ilmu di dalam kitab Taurat, Injil, Zabur dan Al-Qur’an al-Adhim. Aku menemukan semua jenis kebaikan dan ajaran agama. Semuanya berkutat pada delapan permasalahan ini. Sehingga, orang yang mengamalkannya, maka sesungguhnya ia telah mengamalkan keempat Kitabullah.”

Semoga kita dapat mengambil kedelapan pelajaran penting yang telah disampaikan oleh Hatim al-Asham, amin ya rabbal alamin. Wallahu a’lam. (Moh. Sibromulisi)


Kisah diambil dari keterangan al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, Beirut, Dar al-Fikr al-Ilmiyah, cetakan kelima, jilid I, halaman 145 – 147.



Resource Berita : nu.or.id
Akhir Zaman, Inilah Kondisi Sungai Tiberias dari Waktu ke Waktu yang Menghawatirkan

Akhir Zaman, Inilah Kondisi Sungai Tiberias dari Waktu ke Waktu yang Menghawatirkan



WartaIslami ~ Siapa yang tidak mengenal sungai Tiberias? Ya sungai Tiberias adalah sungai air tawar yang terletak di antara bagian bawah dataran tinggi golan yang dikuasai Suriah dan Dataran timur kota Galilea Palestina. Sungai Tiberias juga sering dikaitkan dengan turunnya dajjal sebagai bagian tanda dari akhir dari zaman dan kiamat. Sebagaimana diberitakan oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bahwa turunnya permukaan air sungai Tiberias menjadi salah satu tanda-tanda kedatangan dajjal. Melihat hal ini, lalu bagaimanakah kondisi sungai Tiberias dari waktu ke waktu?

Sungai Tiberias merupakan sungai air tawar terbesar di Israel, sungai air tawar terendah pertama di dunia dan sungai terendah kedua setelah laut mati yang merupakan sungai air asin. Sungai ini memiliki luas sebesar 166 km2 (64 sq mi), kedalaman mencapai 43 m (141 kaki), dan terletak 211.315 meter (693.29 ft) di bawah permukaan laut. Garis pantai sungai ini membentang sepanjang 53 km dengan luas keseluruhan 166 km2.

Sumber pasokan air bersih bagi Palestina dan Israel juga berasal dari sungai Tiberias. Sungai ini menjadi tempat terpenting bagi seluruh umat Islam, nasrani dan yahudi. Tetapi kini sungai yang memiliki peran penting dalam kondisi yang menyedihkan. Pasalnya status debit air yang ada dalam sungai tersebut mengalami penurunan dari waktu ke waktu. Hal ini tentunya bukan hanya menyedihkan tetapi juga mengkhawatirkan mengingat berita yang disampaikan Rasulullah bahwasannya salah satu tanda kedatangan dajjal adalah dengan turunnya permukaan air sungai Tiberias.

Sejak tahun 2004 pemerintahan zionis membuat garis merah dan garis hitam untuk mengontrol debit air Danau. Hal yang mengejutkan terjadi, permukaan sungai mengalami penyusutan setinggi 16 meter. Menteri Pertanian Israel menyatakan secara terbuka melalui kantor berita mereka bahwa debit air danau Tiberias mengalami penyusutan yang mengkhawatirkan. Berita ini tentunya mengkhawatirkan bukan hanya bagi para zionis Israel tetapi juga bagi umat Islam mengingat hal ini sebagai tanda-tanda kedatangan dajjal yang kian dekat.

Danau yang diapit oleh dua Negara Islam yakni Palestina dan Suriah ini, menurut beberapa media, peristiwa ini merupakan kekeringan paling parah selama 100 tahun yang lalu. Efek dari perubahan iklim merupakan penyebab utama terjadinya kekeringan yang parah tersebut. Kekeringan yang dialami sungai Tiberias bukan hanya faktor perubahan iklim tetapi juga minimnya curah hujan yang hanya bisa mencapai 65 persen dalam lima tahun kebelakang. Selain itu juga, daya serap hujan yang rendah terjadi pada puncaknya tahun 2014 dan merupakan musim kering paling parah. Dikabarkan pula bahwa penurunan permukaan air Danau diperkirakan akan mencapai level paling mengkhawatirkan antara 700 kaki atau 213 meter di bawah permukaan laut.

Dilansir dari haaretz, seorang fotografer amatir bernama Ofer Moskowitz, yang berada di perbatasan Lebanon, mengatakan pendapatnya mengenai keadaan sungai Tiberias, “Sekali waktu, saya pernah melihat aliran air yang sangat deras, banyak tanaman tumbuh, banyak rumput dan pohon subur, aliran sungai yang sangat deras.”

Kabar-kabar tersebut menunjukkan bahwa saat ini kondisi sungai Tiberias semakin mengkhawatirkan. Oleh karenanya, kita perlu mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata’ala, berdoa, berserah diri, serta memperbanyak amalan dan ibadah. Hal ini mengingat keadaan sungai Tiberias yang mengkahawtirkan dan sebagai tanda-tanda akan datangnya dajjal yang tentunya juga sebagai tanda akan akhir zaman yang kian dekat.



Resource Berita : moslemcommunity.net
Kisah Ketika Nabi Isa Ingin Menjadi Umat Nabi Muhammad

Kisah Ketika Nabi Isa Ingin Menjadi Umat Nabi Muhammad



WartaIslami ~ Suatu hari, Nabi Isa berjalan menuju puncak sebuah gunung untuk beribadah. Disana, ia menemui batu besar putih yang warnanya mirip air susu.

Nabi Isa mengamati keindahannya dengan mengitarinya secara perlahan. Belum selesai mengitarinya, Allah kemudian berfirman, “Wahai Isa, senangkah engkau jika Aku menunjukkan padamu sesuatu yang menakjubkan?”

“Tentu, wahai Tuhanku.”

Tidak lama kemudian batu besar itu terbelah dengan sendirinya. Tampaklah di dalamnya seorang laki-laki yang sedang sholat, rambutnya telah memutih, di sisinya sebuah tongkat biru dan anggur segar.

Setelah beribadah, Nabi Isa menyapa lelaki tersebut. “Wahai Syekh, bagaimana Anda bisa bertahan hidup di dalam batu ini?”

“Bukankah Anda melihat anggur segar di hadapanku? Inilah rezekiku sepanjang hari,” kata manusia dari dalam batu itu.

“Sejak kapan Anda beribadah pada Allah di dalam batu ini?” tanya Nabi Isa kembali.

“Sejak empat ratus tahun lalu.”
“Ya Allah,” kata Nabi spontan dengan suara parau dan penuh rasa takjub. Putra Maryam itu melanjutkan,

“Sungguh, saya tidak mampu membayangkan ada makhluk Allah yang lebih mulia darimu.”

Kemudian Allah menurunkan wahyu pada Isa, “Sesungguhnya kelak akan datang suatu umat, yaitu umat Muhammad saw. Jika mereka beribadah pada-Ku dengan sungguh-sungguh, kedudukan mereka lebih mulia di sisi-Ku daripada orang yang beribadah selama empat ratus tahun ini.”

“Ya Allah, betapa beruntungnya umat Muhammad dan betapa bahagianya saya jika Engkau menjadikanku sebagai bagian dari umat Muhammad,” kata Nabi Isa separuh meminta.


Resource Berita : moslemcommunity.net
Hati-hati! Inilah Sujud Yang Bisa Membatalkan Shalat

Hati-hati! Inilah Sujud Yang Bisa Membatalkan Shalat



WartaIslami ~ Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan untuk melakukan sujud dengan bertumpu pada 7 anggota badan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain, juga dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Aku diperintahkan untuk bersujud dengan bertumpu pada tujuh anggota badan: dahi –dan beliau berisyarat dengan menyentuhkan tangan ke hidung beliau–, dua telapak tangan, dua lutut, dan ujung-ujung dua kaki…” (HR. Bukhari dan Muslim).

Berdasarkan hadis, tujuh anggota sujud dapat kita rinci:
• Dahi dan mencakup hidung.
• Dua telapak tangan.
• Dua lutut.
• Dua ujung-ujung kaki.

Praktek beliau ketika sujud, hidung dipastikan menempel di lantai. Sahabat Abu Humaid Radhiyallahu ‘anhu menceritakan cara shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menempelkan dahi dan hidungnya ke lantai…” (HR. Abu Daud dan dishahihkan al-Albani).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menekankan agar dahi dan hidung benar-benar menempel di lantai. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah tidak menerima shalat bagi orang yang tidak menempelkan hidungnya ke tanah, sebagaimana dia menempelkan dahinya ke tanah.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf 2710, Abdurrazaq dalam Mushannaf 2898, ad-Daruquthni dalam Sunannya 1335 dan dishahihkan Al-Albani).

Hadis ini menunjukkan, menempelkan hidung ketika sujud hukumnya wajib. Dan ini merupakan pendapat Imam Ahmad & Ibnu Habib (ulama Malikiyah). (al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 4/208).

Bagaimana Jika Ada salah Satu Anggota Sujud tidak Menyentuh Lantai?

Praktek semacam ini sangat sering kita jumpai di masjid. Yang sering menjadi korban adalah kaki. Bagian kaki tidak menempel tanah. Terutama ketika sujud kedua. Sehingga orang ini tidak sujud dengan bertumpu pada 7 anggota sujud.

Sebagian ulama menilai, sujud semacam ini batal, sehingga shalatnya tidak sah.

An-Nawawi mengatakan, “Untuk anggota sujud dua tangan, dua lutut, dan dua ujung kaki, apakah wajib sujud dengan menempelkan kedua anggota badan yang berpasangan itu? Ada dua pendapat Imam ‘alaihis salam-Syafii. Pendapat pertama, tidak wajib. Namun sunah muakkad (yang ditekankan). Pendapat kedua, hukumya wajib. Dan ini pendapat yang benar, dan yang dinilai kuat oleh as-Syafi’i Rahimahullah. Karena itu, jika ada salah satu anggota sujud yang tidak ditempelkan, shalatnya tidak sah.” (al-Majmu’, 4/208).

Keterangan yang sama juga disampaikan Dr. Sholeh al-Fauzan. Dalam salah satu fatwanya, beliau mengatakan: Orang yang sujud, namun salah satu anggota sujudnya tidak menempel tanah, maka di sana ada rincian:

Jika dia tidak menempelkan sebagian anggota sujud karena udzur yang menghalanginya untuk melakukan hal itu, seperti orang yang tidak bisa sujud dengan meletakkan salah satu anggota sujudnya, maka tidak ada masalah baginya untuk melakukan sujud dengan bertumpu pada anggota sujud yang bisa dia letakkan di tanah. Sementara anggota sujud yang tidak mampu dia letakkan, menjadi udzur baginya.

Namun jika dia tidak meletakkan sebagian anggota sujud tanpa ada udzur yang diizinkan syariat, maka shalatnya tidak sah. Karena dia mengurangi salah satu rukun shalat, yaitu sujud di atas 7 anggota sujud.Wallahua’lam.



Resource Berita : moslemcommunity.net
Ketika Angin Kencang Berhembus, Maka Berdzikirlah

Ketika Angin Kencang Berhembus, Maka Berdzikirlah



WartaIslami ~ Ketika angin kencang berhembus, Rasulullah ﷺ selalu berdzikir kepada Allah. Dan hal ini bisa kita tiru sebagai amal baik bagi kita.

Angin merupakan anugerah dari Allah SWT. Kehadirannya ada untuk memberikan manfaat yang luar biasa bagi makhluk hidup, termasuk manusia. Ketenangan dan kenyamanan serta kedamaian dapat kita rasakan dari hembusannya. Maka, sudah selayaknya kita patut bersyukur kepada Allah SWT.

Rasulullah ﷺ sebagai panutan bagi kita, selalu memberikan contoh yang baik kepada kita. Beliau akan memberikan jalan terbaik bagi kita agar memperoleh rahmat dari Allah SWT. Maka, tak ada keraguan lagi bagi kita untuk tidak mengikutinya. Begitu pula, terhadap apa yang ia lakukan ketika datangnya angin kencang yang berhembus.

Rasulullah ﷺ selalu berdzikir kepada Allah SWT ketika datangnya angin kencang berhembus. Hal ini merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah SWT yang telah menciptakan adanya angin. Seperti apa dzikir yang diutarakan oleh Rasul tersebut?

Aisyah RA berkata, “Apabila angin kencang berhembus, Rasulullah ﷺ mengucapkan, ‘Allahumma inni as aluka khairahaa wa khaira maa fiihaa wa khaira maa arsalta bihi wa a’uudzu bika min syarrihaa maa fii haa wa syarri maa arsalta bihi,’

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu akan kebaikannya, kebaikan yang dikandungnya dan kebaikan yang Engkau kirimkan bersamanya. Dan aku berlindung kepada-Mu akan kejahatannya yang dikandungnya dan kejahatan yang Engkau kirimkan bersamanya,” (HR. Muslim).


Resource Berita : moslemcommunity.net
Inilah Kalimat yang Paling Dicintai Allah

Inilah Kalimat yang Paling Dicintai Allah



WartaIslami ~ Kalimat ini sangat pendek. Jika diucapkan hanya 2 sampai 3 detik. Namun, kalimat ini merupakan kalimat yang paling dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pahalanya luar bisa.

Adalah Abu Dzar Al Ghifari yang pertama kali mendapat penjelasan keutamaan kalimat tersebut dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Lantas Abu Dzar pun menyampaikan dzikir agung itu kepada sahabat lainnya dan hari ini sampai kepada kita.

“Maukah aku kabarkan kepadamu kalimat yang paling dicintai Alah?”

Mendengar sabda Nabi itu, Abu Dzar langsung menyahut. “Tentu ya Rasulullah. Sampaikanlah kepadaku kalimat yang paling dicintai Allah.”

Rasulullah pun menyampaikan kalimat itu:

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ

Mahasuci Allah dengan memujiNya

Secara lengkap, berikut ini haditsnya:

عَنْ أَبِى ذَرٍّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَلاَ أُخْبِرُكَ بِأَحَبِّ الْكَلاَمِ إِلَى اللَّهِ ». قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِى بِأَحَبِّ الْكَلاَمِ إِلَى اللَّهِ. فَقَالَ « إِنَّ أَحَبَّ الْكَلاَمِ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ

Dari Abu Dzar, ia berkata, Rasulullah bersabda: “Maukah aku kabarkan kepadamu kalimat yang paling dicintai Alah?” Aku menjawab, “Tentu ya Rasulullah. Sampaikanlah kepadaku kalimat yang paling dicintai Allah.” Lalu berliau bersabda: “Sesungguhnya kalimat yang paling dicintai Allah adalah Subhanallahi wabihamdih (Mahasuci Allah dengan memujiNya)” (HR. Muslim)


Resource Berita : moslemcommunity.net
Kisah Ketika Imam Hambali Berguru Pada Seorang Pembantu

Kisah Ketika Imam Hambali Berguru Pada Seorang Pembantu



WartaIslami ~ Suatu ketika Imam Syafei (Sang Guru) dan Imam Hambali (Sang Murid) bertemu. Imam Hambali dengan segera menemui Imam Syafei begitu beliau mendengar Gurunya berkunjung ke Bagdad, kota tempat beliau tinggal. Lalu beliau mohon kepada Imam Syafei agar sudi memberikan waktu untuk beliau bisa menambah ilmu dari Sang Guru. Hal ini merupakan tradisi jaman dulu yang sangat elegan, meskipun sudah begitu tingginya ilmu Sang Murid, tetapi masih selalu menghormati gurunya dan tetap minta diberi pelajaran.

Imam Syafei berkata, “Hai Hambali, sebaiknya kamu minta pelajaran dulu dari pembantuku ini (seorang penggembala kambing) sebelum minta pelajaran kepadaku”.

Beliau mencoba menawar agar dapat belajar langsung dari Sang Guru, namun Sang Guru mengulangi perkataannya. Sebagai seorang murid yang taat pada guru, dia menuruti perintah sang guru meskipun ada yg mengganjal dihatinya.

Apa sih hebatnya pembantu yang cuma seorang penggembala  itu?

Untuk mengetahui kedalaman ilmu Pembantu ini, Imam Hambalipun bertanya, “Wahai saudara, apa pendapatmu tentang seseorang yg lupa pada saat shalat sehingga meninggalkan satu rakaat dan terus salam?”

Sang Pembantu menjawab,  “Apakah aku akan menjawab menurut pendapatmu atau pendapatku?”

Imam Hambali terkejut mendengar jawaban ini, bagamana mungkin seorang Pembantu bisa menawarkan pilihan jawaban. Hal eperti itu hanya biasa dilakukan oleh orang yng berilmu tinggi.

“Jawablah menurut pendapatku dan pendapatmu,” kata Imam Hambali.

Sang Pembantu pun menjawab, “Baiklah, kalau menurut pendapatmu (maksudnya Imam Hambali), apabila lupanya belum lama (kira-kira selama 2 rakaat), maka orang itu hanya perlu menambahkan satu rakaat yang tertinggal lalu sujud syahwi, tetapi kalau sudah cukup lama baru teringat, maka orang itu wajib mengulang shalatnya lalu sujut syahwi.”

Imam Hambali terkejut bagaimana  dia bisa  mengetahui hal itu dengan tepat.

“Nah kalau menurut pendapatku, apabila aku yang melakukan kesalahan tadi, aku juga akan melakukan hal yang sama seperti pendapatmu itu, tapi aku juga akan melakukan puasa satu tahun lamanya sebagai tebusan atas kesalahanku pada Tuhanku, karena aku merasa sangat takut dan malu telah lupa pada-Nya  dan memikirkan hal lain di dalam shalatku,” sambung pembantu itu.

Imam Hambali terperanjat dan terpana mendengar jawaban itu.

Sekarang ia baru menyadari betapa tingginya derajat orang ini, betapa luar biasa kuatnya rasa takut dan rasa malu orang ini kepada Tuhannya. Meskipun dia hanya seorang pembantu dan penggembala kambing, yang dimata orang lain mungkin dianggap rendah, tapi sang guru menyuruh Imam Hambali  untuk menimba ilmu kepadanya.  Itu semua karena keistimewaan yang ada pada dirinya.


Resource Berita : moslemcommunity.net
Kisah Gugatan Seorang Wanita yang Dijawab oleh Allah

Kisah Gugatan Seorang Wanita yang Dijawab oleh Allah



WartaIslami ~ “Wahai istriku, punggungmu seperti punggung ibuku.” Itulah kalimat yang membuat Khaulah gusar. Kalimat yang terucap dari bibir suaminya, Aus bin Shamit bin Qais. Aus memang tipe suami yang kasar.

Hari itu, Khaulah membantah perkataan Aus hingga terucaplah kalimat itu untuknya. Belum hilang rasa kesal Khaulah, sang suami malah datang kepadanya untuk menunaikan hajat.

“Tidak, wahai suamiku. Demi Allah, jangan engkau menggauliku sementara kau telah mengucapkan kalimat yang tidak menyenangkanku. Biarlah Allah dan Rasul-Nya yang memutuskan,” kata Khaulah menolak keinginan suaminya.

Khaulah memiliki nama lengkap Khaulah binti Tsa’Iabah bin Ashram bin Fahr. Ia adalah wanita yang fasih dan indah perkataannya. Dalam menghadapi sikap suaminya, Khaulah tidak bertindak semaunya sendiri. Ia memilih berhujjah pada Allah dan Rasulullah.

Maka, ia pun datang dan mengadu pada beliau. “Wahai Rasulullah, suamiku telah menghabiskan masa mudaku. Kuberikan padanya perutku hingga aku tak bisa beranak lagi, lalu ia malah menyakitiku dengan kata-katanya,” keluh Khaulah.

“Engkau adalah istrinya. Engkau tidak haram bagi suamimu,” jawab Rasulullah.

Khaulah sepertinya kurang puas. Ia bertanya sekali lagi. Namun jawaban yang ia terima tak jauh beda, “Aku tidak mengatakan engkau haram bagi suamimu.”

Khaulah yang makin gusar lalu menengadahkan tangan untuk berdoa. Ia mengadu kepada Allah atas apa yang ia alami. Masya Allah…. Allah Maha Mendengar doa hamba-Nya.

Belum selesai Khaulah berdoa, Jibril datang menemui Rasulullah untuk menyampaikan wahyu. “Wahai Khaulah, Allah telah menurunkan satu ayat Al-Qur’an untukmu dan suamimu,” sabda Rasulullah Beliau kemudian membacakan surat al-Mujadalah ayat 1-3:

قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

الَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْكُمْ مِنْ نِسَائِهِمْ مَا هُنَّ أُمَّهَاتِهِمْ ۖ إِنْ أُمَّهَاتُهُمْ إِلَّا اللَّائِي وَلَدْنَهُمْ ۚ وَإِنَّهُمْ لَيَقُولُونَ مُنْكَرًا مِنَ الْقَوْلِ وَزُورًا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ

وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا ۚ ذَٰلِكُمْ تُوعَظُونَ بِهِ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Orang-orang yang menzhihar istrinya di antara kamu, (menganggap istrinya sebagai ibunya, padahal) tiadalah istri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. Orang-orang yang menzhihar istri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Mendengar sabda Rasulullah Khaulah bersyukur, namun juga bingung. Beliau meminta suaminya memerdekakan seorang budak, sedangkan Aus tidak memiliki budak.

“Suruhlah dia berpuasa dua bulan berturut-turut,” jawab Rasulullah.

“Dia laki-laki yang sudah tua, tidak akan sanggup berpuasa selama itu,” kata Khaulah.

“Kalau begitu, suruhlah ia memberi makan fakir miskin sebanyak 60 sha’ kurma.” jawab Rasulullah.

“Dia tak punya makanan sebanyak itu, wahai Rasulullah.” ujar Khaulah.

“Aku akan membantunya dengan setandan kurma,” kata Rasulullah lagi.

“Dan aku membantunya setandan lagi,” sambung Khaulah.

“Niatmu sungguh mulia. Lakukanlah untuk suamimu dan perlakukan dia dengan baik.” ujar Rasulullah.

Khaulah kembali ke rumahnya dengan hati yang puas. Kini tahulah ia putusan atas permasalahannya dengan sang suami. Meski semula hatinya kesal, namun pada akhirnya dengan tulus ia membantu suaminya menunaikan kafarat atas zhihar yang ditujukan kepadanya. Masya Allah, begitu mulia hati Khaulah binti Tsa’labah.



Resource Berita : moslemcommunity.net
Ladang Hijrah dan Taubat, Layanan Hapus Tato Gratis di Minati Ratusan Peserta

Ladang Hijrah dan Taubat, Layanan Hapus Tato Gratis di Minati Ratusan Peserta



WartaIslami ~ Dalam Islam perbuatan mentato tubuh dilarang atau diharamkan, salah satu hadits yang menyinggung soal mentato tubuh berbunyi:

“Allah melaknat orang-orang yang membuat tato, orang-orang yang minta dibuatkan tato, orang-orang yang mencabut bulu mata, orang-orang yang minta dicabut bulu matanya, dan orang-orang yang merenggangkan gigi untuk mempercantik wajah, dan mereka yang mengubah ciptaan Allah.” (HR. Muslim)

Tapi, banyak masyarakat tidak mengetahui larangan tersebut. Setelah mereka mulai belajar dan lebih dekat lagi dengan Islam mereka sadar apa yang dilakukan adalah sebuah kekeliruan dan dosa.

Mereka ingin taubat nasuha dengan berusaha menghapus dosa-dosa di masa lalu. Mereka perbaiki diri, mendatangi majelis ilmu atau pengajian, namun masih ada hal yang mengganjal pada dirinya karena adanya tato.

Mahalnya biaya menghapus tato menjadi salah satu penghambat mereka untuk melengkapi hijrahnya. Sebenarnya program hapus tato ini sudah banyak di klinik kecantikan dan beberapa tempat lainnya, tapi biayanya mahal. Tidak semua orang bisa menjangkaunya, sehingga hal ini dirasa memberatkan para sahabat hijrah.

Atas dasar itu Majelis Ta’lim Telkomsel (MTT) dan Islamic Medical Servieces (IMS) tergugah ingin membantu peserta hapus tato yang ingin hijrah dan sadar akan kesalahan dan kekeliuran yang selama ini mereka lakukan. Dengan itulah program Hapus Tato secara gratis ini digagas.

Sabtu (26 Januari 2018) lalu, IMS bekerja sama dengan MTT Telkomsel dan RSIA Ibnu Sina melaksanakan program hapus tato dengan target peserta 250 orang. Peserta yang akan ikut program ini harus melampirkan hasil cek kesehatan dari puskesmas atau intansi kesehatan resmi lainnya bahwa terbebas dari sejumlah penyakit.

Persyaratan lainnya adalah usia di atas 18 tahun, kondisi tubuh dalam keadaan fit, tidak memiliki gangguan ginjal, tidak dalam keadaan tensi rendah kurang dari 90/60 mmHg, tidak bertensi tinggi diatas 120/80mmHg, tidak memiliki gangguan pernapasan (sesak nafas, asma, dan alergi kulit), tidak gangguan pembekuan darah, tidak gangguan fungsi hati, dan tidak gila.

Hal lain yang perlu diperhatikan bagi peserta hapus tato adalah mereka siap untuk dibina. Karena hal ini juga tidak kalah pentingnya. Pembinaan para sahabat hijrah merupakan bagian dari program ini. Saat ini didata base kami sudah 500 orang lebih telah mendaftar untuk turut dihapus tatonya.

Guna memulai program tersebut terlebih dahulu Majelis Ta’lim Telkomsel (MTT) dan Islamic Medical Servieces (IMS) akan meluncurkan Ambulance Layanan Hapus Tato sekaligus operasi hapus tato di Masjid Cut Meutia, Menteng, Jakarta Pusat. Turut hadir dalam acara ini, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Salahudin Uno.

“Program layanan hapus tato MTT bertujuan untuk memfasilitasi sahabat hijrah dalam menghilangkan tato yang ada di tubuh sekaligus sebagai pembuktian hijrah secara hakiki. Dengan dihapusnya tato yang ada di dalam tubuh merupakan salah satu cara untuk menyempurnakan pelaksanaan ibadah harian.

Insyaallah program ini akan terus berlanjut untuk beberapa daerah di tanah air. Semoga memberikan manfaat yang besar bagi sahabat hijrah,” tutur Ketua Umum MTT, Wawan Budi Setiawan.


Resource Berita : moslemcommunity.net
Humor Bersama Nabi Muhammad SAW

Humor Bersama Nabi Muhammad SAW

Cak Nun dan Gus Mus, di tengah atas juga ada Gus Dur (Ilustrasi:Istimewa)


WartaIslami ~ Canda Rasulullah Ketika Sakit Kepala
Pada suatu hari, Rasulullah menemui Aisyah. Saat itu beliau dalam kondisi sakit kepala yang sangat berat. Ternyata di waktu yang sama Aisyah juga sedang mengeluhkan hal yang sama.

"Kepalaku sakit" kata Aisyah kepada Rasulullah.

"Aku juga, demi Allah wahai Aisyah, aku juga merasakan sakit kepala yang amat sangat" jawab Rasulullah. Lalu Rasulullah melanjutkan. "Apabila kamu meninggal dunia terlebih dahulu, maka tenanglah, aku akan mengurusmu, menyalati dan mengiringi jenazahmu."

Apa jawab Aisyah kemudian?
"Demi Allah, sungguh aku dapat menebak, jika memang itu terjadi, maka engkau akan berduaan dengan salah seorang istrimu di rumahku padasore harinya." kata Aisyah kemudian dengan nada merajuk. Rasulullah hanya tertawa mendengar perkataan Aisyah ini.

Kuda Terbang Aisyah
Ketika Rasulullah dalam perjalanan kembali pulang dari Perang Tabuk atau Khaibar, tiba-tiba angin berhembus kencang hingga menyingkap kain yang menutupi boneka mainan 'Aisyah. Melihat boneka-boneka mainan tersebut, Rasulullah bertanya "Wahai 'Aisyah, apa ini?". "Boneka mainan dan hiburanku," jawab 'Aisyah.

Nabi melihat diantara mainan itu terdapat kuda bersayap yang terbuat dari kain. Rasulullah pun bertanya lebih lanjut, "Apa itu yang berada diantara mainan ini?" 'Aisyah menjawab, "Kuda." "Lalu apa yang menempel di tubuhnya itu?" tanya Rasulullah lagi. "Dua sayap" jawab 'Aisyah.

Mendengar jawaban 'Aisyah ini, maka Rasulullah bertanya dengan sedikit keheranan "Kuda mempunyai dua sayap?" "Tidakkah engkau mendengarkisah tentang Nabi Sulaiman yang mempunya kuda bersayap?" jawab 'Aisyah menegaskan. Mendengar jawaban 'Aisyah ini, maka Rasulullah pun tertawa hingga terlihat gigi-gigi putihnya.

Aisyah Gugup Sama Umar
Ketika Aisyah sedang berbincang-bincang dengan seorang perempuan di rumahnya, tiba-tiba Rasulullah masuk ke dalam rumah. Saat itu Aisyah masih saja meneruskan perbincangannya dengan perempuan tersebut.

Beberapa saat kemudian Umar bin Khattab juga masuk. Begitu Umar memasuki rumah, Aisyah langsung terdiam menghentikan bicaranya dan duduk dengan tenang. Melihat perilaku Aisyah yang mendadak terdiam begitu melihat Umar, maka Rasulullah pun tertawa geli.

Karena penasaran, Umar pun bertanya"Wahai Rasulullah, apa yang membuatmu tertawa?"Rasulullah bukannya langsung menjelaskan alasan tertawanya kepada Umar, beliau malah mengajak Umar keluar dan berbicara tentang hallain. Umar pun berkata, "Demi Allah, aku tidak akan pergi hingga aku mendengar Rasulullah mengatakan alasannya kepadaku."

Rasulullah pun lalu memerintahkan Aisyah untuk mengatakan alasannya. Dan Aisyah pun menjelaskan alasannya kepada Umar, bahwa diam-diam dia selalu gugup dan ketakutan setiap kali berhadapan dengan sosok Umar.kenapa Aisyah sampai gugup dan ketakutan dengan sosok Umar bin Khattab? Ternyata ada ceritanya. Berikut ini:

Cerita Aisyah, Saudah dan Daging Kelinci
Suatu hari Aisyah menghidangkan daging kelinci yang telah dimasak secara khusus untuk Rasulullah. Kemudian Aisyah berkata kepada Saudah (sedang Rasulullah waktu itu sedang berada ditengah-tengah keduaistrinya ini).

"Wahai Saudah, makanlahdaging ini."Saudah enggan memakannya."kα♏ŭ mau makan atau aku akan melumurkan makanan ini ke mukamu?!" kata Aisyah agak mengancam. Saudah tetap diam dan enggan untuk makan.

Maka Aisyah meletakkan tangannya pada daging kelinci yang telah masak tersebut, lalumelumurkannya pada wajah Saudah.Rasulullah pun tersenyum melihat tingkah Aisyah sembari mengusapkan tangannya ke wajah Saudah."Sekarang lumurilah wajah Aisyah." Saudah Pun melakukannya. Lalu beliau tertawa lagi.Dalam keadaan demikian, tiba-tiba adasuara Umar bin Khattab "Wahai Abdullah... Wahai Abdullah..".

Mendengar suara Umar ini, Rasulullah mengira Umar akan masuk kedalam rumah sehingga cepat-cepat beliau berkata kepada kedua istrinya "Berdiri dan basuhlah wajah kalian berdua."Sejak kejadian itu, Aisyah merasa takut kepada Umar....karena Rasulullah sendiri pun segan kepadanya.

Biji Buah Kurma
Suatu ketika, Rasulullah saw dan para sahabat ra sedang ifthor. Setiap kali mereka makan sebuah kurma, biji- biji sisanya mereka sisihkan di tempatnya masing- masing. Beberapa saat kemudian, Ali menyadari bahwa dia memakan terlalu banyak kurma.

Biji- biji kurma sisa mereka menumpuk lebih banyak di sisi Ali dibandingkan di sisi Rasulullah. Maka Ali pun secara diam- diam memindahkan biji-biji kurma tersebut ke sisi Rasulullah.Kemudian Ali ra dengan tersipu-sipu mengatakan, “ Wahai Nabi, engkau memakan kurma lebih banyak daripada aku. Lihatlah biji-biji kurma yang menumpuk di tempatmu.”

Nabi pun tersenyum dan menjawab, “Ali, kamulah yang memakan lebih banyak kurma. Aku memakan kurma dan masih menyisakan biji-bijinya. Sedangkan engkau, memakan kurma berikut biji-bijinya”. (HR. Bukhori)

Anak Unta
Seseorang sahabat mendatangi Rasulullah SAW, dan dia meminta agar Rasulullah SAW membantunya mencari unta untuk memindahkan barang-barangnya. Rasulullah berkata : “Kalau begitu kamu pindahkan barang-barangmu itu ke anak unta di seberang sana”.

Sahabat bingung bagaimana mungkin seekor anak unta dapat memikul bebanyang berat.“Ya Rasulullah, apakah tidak ada unta dewasa yang sekiranya sanggup memikul barang-barang ku ini?”Rasulullah menjawab, “Aku tidak bilang anak unta itu masih kecil, yang jelas dia adalah anak unta. Tidak mungkin seekor anak unta lahir dari ibu selain unta”Sahabat tersenyum dan dia-pun mengerti canda Rasulullah. (Riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud dan At Tirmidzi. Sanad sahih).

Nenek-nenek Tidak Masuk Syurga
Rasulullah SAW juga pernah bergurau dengan nenek-nenek tua yang datang dan berkata, “Doakan aku kepada Allahagar Allah memasukkan aku ke surga .”Maka Nabi SAW berkata kepadanya, “Wahai Ummu Fulan! Sesungguhnya surga itu tidak dimasuki orang yang sudah tua .”Maka wanita tua itu pun menangis , karena ia memahami apa adanya.

Kemudian Rasulullah SAW memahamkannya, bahwa ketika dia masuk surga, tidak akan masuk surga sebagai orang yang sudah tua, tetapi berubah menjadi muda belia dan cantik.Lalu Nabi SAW membaca firman Allah SWT:“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (wanita-wanita surga) itu dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS Al Waqi’ah: 35-37).


Resource Berita : dutaislam.com
Imam An Nawawi Mencintai “Bubur Kisyk” Sekaligus Sahabatnya

Imam An Nawawi Mencintai “Bubur Kisyk” Sekaligus Sahabatnya

Hidangan Kisyk


WartaIslami ~ IMAM AN NAWAWI sangat menyukai makanan kisyk, yakni tepung gandum dan susu yang dikeringkan, lalu dimasak. Ketika Imam An Nawawi memasaknya, maka ia mengundang sahabatnya, yakni Alauddin Al Baji untuk makan bersama. Saat itu Al Baji mendapati hidangan kisyk dan air putih, sedangkan ia sendiri tidak terlalu menyukainya. Meski demikian,  Alauddin pun memenuhi undangan-undangan tersebut. Hingga sampai suatu saat Alauddin tidak memenuhi undangan makan kisyk bersama Imam An Nawawi.

Katika Alauddin tidak datang, Imam An Nawawi sendiri mendatangi sahabatnya itu dengan mambawa kisyk, lalu mengatakan,”Demi Allah wahai Syeikh Alauddin, aku mencintaimu dan mencintai kisyk, dan aku tidak mamasaknya kecuali ingin makan bersamamu. Dengan demikian, bisa engkau datang kepadaku, atau aku yang datang kepadamu.”

Imam Alauddin Al Baji pun membalas,”Demi Allah wahai Syeikh Muhyiddin, aku mencintamu, namun aku tidak mencintai kisyk.” (Thabaqat Asy Syafi’iyah Al Kubra, 10/341)


Resource Berita : hidayatullah.com
Menghafal Kitab Hingga Tenggorokan Berdarah

Menghafal Kitab Hingga Tenggorokan Berdarah



WartaIslami ~ SYEIKH ABDUL WAHHAB ASY SYA’RANI suatu saat disarankan oleh sang guru, yakni Syeikh Al Islam Zakariya Al Anshari untuk manghafal Raudh Ath Thalib, sedangkan sebelumnya Syeikh Asy Sya’rani telah hafal Minahaj Ath Thalibin. “Ia adalah kitab tebal”, jawab Syeikh Asy Sya’rani.

Syeikh Zakariya Al Anshari pun menjawab,”Bersegeralah dan bertawakallah, sesungguhnya setiap orang yang bersungguh-sungguhakan memperoleh bagiannya.”

Syeikh Asy Sya’rani pun mengahafal kitab tersebut, sampai di Bab Al Qadha, dan ia pun menggeluarkan darah karena kehabisan suara karena menghafal, sehingga sang guru pun menyarankan untuk berhenti. (Thabaqat Al Kubra, 2/223).*


Resource Berita : hidayatullah.com
Inilah Makkah Tahun 1850 dan Lembah Aala Khota Al Arab

Inilah Makkah Tahun 1850 dan Lembah Aala Khota Al Arab

Kota Makkah tahun 1850.


WartaIslami ~ Inilah gambaran mengenai lembah yang dahulu dilalui Nabi Muhammad selama hijrahnya dari Makkkah ke Madinah. Lembah itu adalah bernama  Aala Khota Al Arab (Di jalur orang Arab). Saat berdiri di lembah, suasananya membuatnya terasa seolah sudah tiba saatnya berhenti.

Membentang sepanjang 2720 meter, sang nabi mengambil rute yang membosankan ini dan bukan yang lain.Tempat ini juga  yang dikenal sebagai Lembah Majah. Di sana ada jalur hewan ternak sepanjang enam kilo meter. Pemandangan ini bisa dilihat melalui video di bawah ini,



Dahulu, setelah berhijrah ke Madinah dan kemudian membebaskan Makkah, pengambilalihan kota suci kelahiran nabi SAW adalah salah satu peristiwa terhebat dalam sejarah biografi Nabi dan dalam sejarah Semenanjung Arab.

Nabi Muhammad menghibur orang-orang Makkah pada hari besar itu, dia berkata: "Barangsiapa memasuki Masjidil Haram akan aman, siapapun yang memasuki rumah Abu Sufyan akan aman dan siapa pun yang menutup pintunya akan aman."

Dr. Khaled bin Abdullah Al-Zaid, Asisten Profesor di Departemen Sejarah di Universitas Umm Al-Qura di Makkah, mengatakan kepada Al Arabiya: "Ketika Nabi tiba di Towa Nah, dia membagi pasukannya untuk mengakses Makkah melalui gerbang Utara di Thanyat Kedaa (Al Johoon).

Dia masuk melalui Bab Al Salam (Al Salam Gate) dengan penuh sukacita dan penuh kepercayaan diri, kota tersebut menyerah kepadanya dan orang Quraisy menerima Islam;  Berbeda dengan hari dia harus ke luar dari situ melalui asrama Selatan yang cemas dan takut pada hari Hijrah ke Madinah.

"Khaled Ibn al-Walid datang melalui Thanyat Kudda di pintu masuk selatan Makkkah, yang sekarang disebut Ree'a al Rassam.Saat ini termasuk dalam Ekspansi Masjid Suci yang baru, "tambahnya.

Thanyat Kedaa juga dikenal sebagai Thanyat Al Maqbara (The Cemetery Fold) mengacu pada pemakaman Al Moallah. Kedaa juga dikenal sebagai Thanyat Azakher yang menyinggung tanaman Azkhar.

Kedaa atau Kudaa adalah pintu masuk dimana Khaled Ibn al-Walid melawan orang-orang kafir dan mungkin Al Shbayka Alley dipanggil setelah 'bentrokan' antara kedua tentara di sana.

Namun, ini berbeda dengan Thanyat Kudda lainnya yang mengarah ke Yaman, daerah Gunung Thor dan Mashaer yang juga dianggap di pintu masuk selatan Mekkah dan sekarang jalannya juga mengarah kembali ke Kuddai.

Khalid Ibn al-Walid bertempur dari sisi itu beberapa orang kafir Quraisy yang menolak dan dikalahkan olehnya. Sudah dipastikan bahwa Nabi telah memutuskan untuk menang atas Makkah melalui kedamaian dan dengan demikian menjadi kehendak Tuhan bahwa dia berhasil meraih kemenangan seraya mengampuni sebagian besar masyarakatnya.


Resource Berita : ihram.co.id
Tak Disangka, Ternyata Remaja Berambut Pirang Penjual Pentol itu Hafal 25 Juz Al-Qur'an

Tak Disangka, Ternyata Remaja Berambut Pirang Penjual Pentol itu Hafal 25 Juz Al-Qur'an



WartaIslami ~ Beberapa hari lalu kami sempat memberitakan seorang remaja berambut pirang yang viral di laman facebook. Remaja yang rambutnya di cat agak kuning tersebut mendadak viral setelah foto-fotonya diunggah oleh akun facebook Masjid Hasanuddin Madjedie.

Baru-baru ini akun facebook Masjid Hasanuddin Madjedie kembali menulis tentang remaja tersebut, rupanya remaja berambut pirang ini hafal 25 juz Al-Qur'an.

Berikut ulasan lengkap dari laman facebook Masjid Hasanuddin Madjedie yang kembali menghebohkan dunia maya:

"TERNYATA SEORANG PEMUDA PENJUAL PENTOL INI SUDAH HAFAL AL-QUR'AN 25 JUZ#

Masya Allah, Alahamdulillah..tepat selasa malam 25 Al Muharram 1438 H / 25 Oktober 2016 M pukul 21.10 wita.di depan rumah sakit ansari saleh banjarmasin pemuda penjual pentol ini berjualan di depan pagar rumah sakit..sungguh Allah maha baik saya bisa dipertemukan kembali dengan anak pemuda penjual pentol ini..saya pun mampir dan mendatangi beliau untuk membeli beberapa pentol nya..alhamdulillah pentol anak muda ini termasuk enak.seiring dengan membeli ini saya ajak bicara anak muda ini ternyata sangat mengharukan dan saya pun terdiam..bagaiman tidak terdiam anak muda penjual pentol ini bernama : Ahmad Arifin, Usia dia 16 tahun dia pernah pondok(Santri) di sidogiri pasuruan yang membuat saya terdiam dan malu dengan diri sendiri anak muda penjual pentol ini sudah"HAFAL AL QUR'AN 25 JUZ..

Allahu Akbar Akbar...saat itu saya langsung terdiam dan hampir menangis..

Melihat seorang anak muda,yang berpakaiaan nya biasa biasa saja bahkan seperti pakaiaan preman dan juga seorang penjual pentol gerobak..namun ternyata Masya Allah dia penghafal Al Qur'an sudah 25 Juz dan pernah jadi santri dipondok..

Ini sungguh jadi pelajaran buat kita semua..jangan pernah menilai sesorang dari luar nya saja tetapi ternyata diri nya mulia dengan Al Qur'an...

Masya Allah terasa hina sekali diri ini..terasa malu diri ini bila ada di dekat anak pemuda penjual pentol ini...malu diri ini yang masih tidak bisa mampu menjadikan Al Quran di dalam hidup ini...

Bahkan ketika saya mau pulang anak pemuda ini mengatakan dan memberi nasehat kepada saya bukan tugas kita untuk mencari berapa banyak dan sedikit rezeky itu tetapi tugas kita adalah bagaimana cara nya agar mendapatkan rezeky yang halal...Masya Allah...

Semoga Jualan pentol anak pemuda ini diberkahi Allah dan banyak pembelinya..buat kalian kalian bila ketemu anak ini dia berjualan mulai jam 03.00 siang mulai dari amd,kayu tangi dan didepan rumah sakit ansari saleh di malam nya ..mampir dan beli lah jualan anak ini..insya Allah pentol nya anak ini enak..

# Semoga ini bisa menjadi pelajaran dan motivasi buat kita semua #

Terimakasih banyak anak pemuda penjual pentol penghapal Al Qur'an..

Semoga Allah selalu memberikan rezeky dan diberkahi semoga juga selalu dalam lindungan Allah..

Terimakasih nasehat nya "

Foto : facebook.com / Masjid Hasanuddin Madjedie/editor foto 



Resource Berita : beritaislam.org
close
Banner iklan disini