Belajar ‘Hakikat Taat’ kepada Abu Bakar

Belajar ‘Hakikat Taat’ kepada Abu Bakar



WartaIslami ~ BAGI Ahlus Sunnah Wal Jama’aah, tidak ada perbedaan mengenai keagungan sosok ini. Beliau adalah figur yang paling paling disayang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Selama hidup nabi, Khalifah pertama ini selalu bersama beliau baik susah maupun duka; kaya maupun papa; bahagia maupun sengsara. Begitu banyak keagungan yang dimiliki oleh sahabat yang berjuluk Ash-Ashiddiq ini, sampai-sampai beliau adalah di antara orang yang memiliki keistimewaan bisa masuk surga dari berbagai pintu (HR. Bukhari, Muslim).

Sebenarnya, masih banyak kelebihan lain yang tak mungkin disebut semua. Hanya saja, kalau mau belajar pada Abu Bakar, maka yang patut diteladani, kata kuncinya adalah: taat.

Ketika Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu  mencegah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu memerangi kaum yang murtad dan menolak membayar zakat, Abu Bakar dengan lantang menjawab, “Demi Allah! Seandainya mereka enggan membayar zakat walaupun hanya seutas tali onta, yang biasa mereka tunaikan pada Rasulullah, sungguh akan aku perangi mereka. Sesungguhnya zakat adalah hak harta, demi Allah! Akan aku perangi orang yang bembeda-bedakan antara shalat dan zakat.” (HR. Bukhari).

Peristiwa ini, merupakan di antara sekian peristiwa yang menggambarkan ketaatan Abu Bakar kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam.

Menurutnya, zakat merupakan perkara wajib, dan merupakan rukun Islam, karenanya sebagai umat Islam wajib membayarnya jika mampu dan tidak boleh membedakan status hukumnya dengan rukun-rukun lain yang sudah final. Bila tidak maka pondasi Islam akan hancur, dan tentu ini sangat membahayakan bagi kekokohan umat Islam yang ketika itu baru saja kehilangan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dengan pandangan dangkal dan tak teliti barangkali akan ada yang menganggap bapak Aisyah ini egois dan menolak nas yang sudah tetap berupa: larangan memerangi orang yang sudah bersyahadat dan shalat. Jika kita mempunyai pandangan demikian, perlu kiranya dipertimbangkan, diteliti kembali, bahkan dikoreksi. Abu Bakar radhilallahu ‘anhu  sama sekali tidak menolak nas yang sudah tetap; ia juga tidak egois apalagi berpikir pragmatis. Satu-satunya jawaban yang bisa menjelaskan sikap Abu Bakar ialah gelora ketaatan yang terjaga dengan baik di dalam jiwanya.

Sikap keras yang ditunjukkannya pada peristiwa ini, meski menyalahi karakter lemah lembut dan kasih sayang yang biasa ditampakkan, justru menggambarkan kapasitas ketaatan Abu Bakar kepada Allah subhanahu wata’ala dan Rasulnya shallallahu ‘alaihi wasallam. Pada setiap jengkal dari kehidupan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, spirit ketaatan akan selalu dirasakan. Beliau adalah sahabat yang terdepan dalam ketaatan dan praktiknya. Karenanya, tak heran jika anak Abu Kuhafah ini meraih “tropi kehormatan” menjadi orang yang paling dicintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari kalangan laki-laki.

Sebagai sahabat yang memiliki nalar kuat, saat itu Umar radhiyallahu ‘anhu memang sempat membantah pendapat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, karena Ia berlandaskan pada hadits: “Aku diperintah memerangi manusia, hingga mereka bersyahadat bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku utusan Allah…., jika mereka melakukan itu, maka darah dan harta mereka akan dilindungi.” (HR. Bukhari, Muslim).

Bila mau digambarkan, kira-kira logika Umar radhiyallahu ‘anhu demikian: Orang yang sudah bersyahadat itu dilarang diperangi. Sedangkan orang yang diperangi Abu Bakar itu, adalah orang yang bersyahadat dan bahkan melaksanakan shalat. Dengan demikian, kesimpulannya, memerangi orang bersyahadat itu dilarang karena menyalahi hadits di atas.

Namun pada faktanya, Abu Bakar tetap bersih keras memerangi mereka, karena ini bukan sekadar masalah logis atau tidak, di sana ada hal yang sangat penting yang melampau nalar atau logika, yaitu “ketaatan”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selama hidupnya tidak pernah membeda-bedakan antara kewajiban shalat dan zakat. Karena itu Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Demi Allah akan aku perangi orang yang membeda-bedakan antara shalat dan zakat!” Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, dengan spirit ketaatan yang dimiliki, memandang bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam selama hidup tidak pernah membedakan antara shalat dan zakat, karena itu kita harus menaatinya, jadi siapa saja yang tidak taat dengan ketetapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan membeda-bedakan tentang kewajibannya maka patut diperangi karena sama saja telah menolak masalah-masalah fundamental yang berkonsekuensi murtad dari agama. Lantaran mereka murtad, maka wajib diperangi.

Melalui dialog yang panjang akhirnya Al-Faruq radhiyallahu ‘anhu berlapang dada bahwa pendapat yang benar adalah pendapat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Pada realitanya, ketaatan ini berbuah kemenangan gemilang: negara kembali setabil dan persatuan semakin terjaga baik.

Dari peristiwa ini, kita bisa belajar kepada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu bagaimana sejatinya ketaatan.

Pertama, selama itu adalah perintah dari Al-Qur`an dan Hadits shahih, maka tidak ada reserve di dalamnya. Kedua, ketika taat berhadapan dengan logika, maka taat didahulukan, meski bukan berarti menafikan nalar sama sekali. Ketiga, ketaatan butuh bukti nyata, bukan sekadar retorika. Keempat, ketaatan membutuhkan nyali keberanian. Kelima, ketaata berbuah keberuntungan. Wallahu a’lam.*


Resource Berita : hidayatullah.com
Hendak Wafat, Ahli Ibadah Kisahkan Kengeriannya

Hendak Wafat, Ahli Ibadah Kisahkan Kengeriannya



WartaIslami ~ HABIB AL AJAMI ketika hendak wafat terlihat amat cemas, hingga ada yang menanyakan perihal tersebut,”Apa yang engkau takutkan wahai Habib?”

Habib Al Ajami yang merupakan ahli ibadah itu menjawab,”Aku hendak melakukan perjalanan yang aku belum pernah mengalaminya!  Aku hendak melalaui jalan yang belum pernah aku lalui! Aku hendak menghadap Tuan yang tidak pernah aku lihat sebelumnya! Aku hendak berada di suasana yang menakutkan yang belum pernah aku saksikan permisalannya!”

Ahli Ibadah Bashrah yang terkenal dengan keterkabulan doanya ini melanjutkan,”Aku hendak tinggal di tanah di bawah bumi, dan menetap di sana hingga hari kiamat, kemudian aku menghadap kepada ?Allah Ta’ala. Aku takut jika Dia bertanya,’Wahai Habib, tuntukkan kepada-Ku satu saja dari tasbih-mu yang engkau puji Aku dengannya selama 60 tahun yang terbebas sama sekali dari godaan syaitan.’ Maka apa yang hendak aku katakan? Aku tidak memiliki alasan lagi, dan aku akan mengatakan,’Wahai Rabb, di sini aku datang kepada-Mu dengan tangan terikat di leher untuk menyerahkan diri!'”

Inilah keadaan laki-laki yang beribadah kepada Allah selama 60 tahun, sibuk dengan amalan dan tidak pernah menyibukkan diri dengan dunia, lalu bagaimana dengan keadaan kita?! (Thabaqat Al Auliya, hal. 185-186)


Resource Berita : hidayatullah.com
Sayidah Nafisah, Ahli Ibadah yang Menggali Kubur Sendiri

Sayidah Nafisah, Ahli Ibadah yang Menggali Kubur Sendiri



WartaIslami ~ SAYIDAH NAFISAH merupakan wanita ahli ibadah dari kalangan ahlul bait sekaligus guru dari Imam As Syafi’i.  Wanita ini pindah dari Madinah menuju Mesir dan menetap di negeri itu selama 7 tahun hingga akhir hayatnya.

Di Mesir, Sayidah Nafisah tinggal di rumah Abu Ja’far Khalid dan menggali makamnya sendiri di dalam rumah. Tiap hari di siang dan malamnya Sayidah Hafisah turun ke dalam liang itu untuk melaksanan shalat dan membaca Al Qur’an. Al Qadha’i menyebutkan bahwa Sayidah Nafisah menghatamkan Al Qur`an di kubur itu sebanyak 1000 kali khatam.

Setelah wafat, jenazah Sayidah Nafisah pun dimakamkan di dalam rumahnya itu, yakni di liang lahat yang telah ia persiapkan sebelumnya. (Mursyid Az Zuwar ila Qubur Al Abrar, hal. 173,178)


Resource Berita : hidayatullah.com
Lapar Hingga Makan Rumput, Imam Al Bukhari Merahasiakan

Lapar Hingga Makan Rumput, Imam Al Bukhari Merahasiakan



WartaIslami ~ IMAM AL BUKHARI menyampaikan, ”Suatu saat aku melakukan perjalanan menuju tempat tinggal Adam bin Abi Iyas. Saat itu seluruh bekalku sudah habis, hingga aku makan rerumputan dan aku tidak memberitahukan perihal itu kepada siapa pun.

Imam Al Bukhari pun melanjutkan kisahnya,”Di hari ke tiga datanglah seseorang yang sama sekali tidak aku kenal, dia membawa kantong berisi dinar dan menyamapikan kepadaku,’gunakanlah ini untuk nafkahmu.”. (Siyar A’lam An Nubala, 12/448)*


Resource Berita : hidayatullah.com
Adakah yang Menangis Ketika Anggota Keluarganya Tidak Shalat?

Adakah yang Menangis Ketika Anggota Keluarganya Tidak Shalat?

Jagalah anak dan keluarga kita dari api neraka


WartaIslami ~ “NAK, bangun, sudah siang, ayo siap-siap pergi sekolah!” Itulah kata-kata seorang ibu paruh baya – sebut saja namanya Maimunah – setiap pagi hari membangunkan anak-anaknya yang duduk di bangku sekolah menengah. Mereka tinggal di Kuala Lumpur. Maimunah dan suaminya berasal dari nenek moyang dan keluarga kampung santri di Indonesia.

Itulah tugas Maimunah,  yang selalu membangunkan tepat pada hingga anaknya selesai mandi dan sarapan, dan langsung bergegas menuju sekolah mengendarai sepeda motornya agar tidak terlambat masuk. Pekerjaan ini dilakukan setiap hari selama bertahun-tahun.

Bahkan hingga salah satu anaknya telah tamat dan bekerja di sebuah toko di pusat kota, setiap hari kerja ia tetap membangunkannya di pagi hari tapi dengan sedikit perbedaan. “Nak, bangun, sudah siang, ayo siap-siap kerja!”

Maimunah sendiri setiap hari selalu bangun sebelum adzan Subuh untuk menyiapkan sarapan pagi. Sebelum melakukan tugas rutinnya tersebut dia shalat.

Meskipun demikian tidak pernah membangunkan anak-anaknya yang semuanya telah remaja dan menyuruh mereka melaksanakan shalat Subuh. Suaminya pun demikian. Itu waktu shalat Subuh. Sedangkan mulai sore hingga malam ketika sang suami dan anak-anaknya ada di rumah, Maimunah dan suaminya juga tidak menyuruh mereka untuk segera shalat Ashar, Maghrib dan Isya. Mereka masing-masing asyik dengan berbagai aktivitasnya seperti menonton TV, mengobrol dan mengunakan laptop dan HP  yang membuat mereka seringkali mengakhirkan shalat. Itu adalah pemandangan yang biasa di lingkungannya.

Sanak saudara dan kenalan Maimunah dan suaminya, serta teman-teman anaknya yang berasal dari kampung yang sama di Indonesia dan tinggal dalam satu lingkungan di Kuala Lumpur mayoritas juga melakukan hal yang sama.

Itulah gambaran sebagian kaum Muslimin zaman modern ini yang tinggal di Kuala Lumpur kota yang penduduknya sama dengan  penduduk Jakarta yang lumayan gila kerja.

Mereka yang berasal dari keluarga dan nenek moyang santri yang peduli pada shalat tapi telah memutuskan rantai generasi yang peduli pada shalat dengan tidak peduli pada anak-anaknya yang tidak peduli pada shalat.

Ikatan Islam akan Lepas

Fenomena yang sama bisa dengan mudah kita temui di mana saja termasuk di Tanah Air kita yang merupakan negeri dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia.

Banyak dari generasi Muslim sekarang yang berkartu identitas Muslim tapi tidak beridentitas Muslim karena menyia-nyiakan shalat bahkan meninggalkan shalat sehingga mudah terbawa arus zaman modern yang serba permisif di mana perbuatan maksiat dianggap wajar – dan tidak sungkan-sungkan dilakukan secara terbuka.

Sebut saja merokok, meminum minuman keras, penyalahgunaan narkoba, korupsi, perkelahian antar pelajar atau anggota DPR/D, berpacaran, berhubungan seks di luar nikah, terlibat dalam pemerkosaan, menjadi pelaku homoseksual, dan terlibat dalam pornografi baik sebagai pelaku maupun pemakai dilakukan secara terbuka dan terang-terangan.

Perbuatan-perbuatan keji dan munkar bertentangan dengan fitrah manusia. Dilakukan tanpa malu –bahkan—mengkampanyekan di publik.

Di tengah zaman gila seperti ini, obat  yang tepat menghindari perbuatan keji dan munkar adalah dengan shalat yang benar. Karena itu setiap individu sebaiknya  berusaha agar pribadi, keluarga dan generasi penerusnya terhindar darinya. Sesuai dengan informasi dan jaminan dari Allah, hanya ada satu cara yang efisien dan efektif agar terhindar darinya, yaitu bukan sekadar melaksanakan shalat yang baik dan benar.  Karena salah satu efek dari mendirikan shalat adalah terhindar dari perbuatan keji dan mungkar.

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS: Al-‘Ankabuut [29]:45)

Masalahnya, apakah  masih ada orang di zaman modern ini yang peduli, bersedih hati dan menangis ketika mendapati generasinya – terutama anak cucu, anggota keluarganya– menyia-nyiakan shalat seperti halnya Anas bin Malik yang mengetahui ada orang-orang pada masa hidup beliau menyia-nyiakan shalat?

Alkisah, Anas bin Malik, sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam yang terakhir kali wafat di usia yang panjang (99 tahun) sehingga mengetahui kondisi zaman setelah sekian lama Rasulullah wafat ada orang-orang yang menyia-nyiakan shalat.

Az-Zuhri berkata, “Saya datang kepada Anas bin Malik di Damaskus, kebetulan ia sedang menangis. Lalu saya bertanya, ‘Mengapa engkau menangis?’ Ia menjawab, ‘Saya tidak tahu lagi amal yang kudapati di masa Nabi yang masih diindahkan (dipedulikan) orang sekarang, selain shalat itu pun sudah disia-siakan orang.’ (Di dalam riwayat lain: ‘Kamu telah menyia-nyiakan apa yang kamu sia siakan.)”

Bukannya sekadar tidak peduli, bersedih dan menangis, tapi justru mendukung anak-anaknya mengakhirkan bahkan tidak melaksanakan shalat. Itu sudah biasa dan jamak terjadi di zaman ini seperti kisah di atas.

Fenomena zaman sekarang yang begitu banyak orang yang tidak hanya dari kalangan muda tapi juga yang tua di negeri-negeri Muslim yang menyia-nyiakan shalat sesuai dengan informasi yang disampaikan ayat berikut ini.

فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيّاً

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS: Maryam [19]:59)

Maryam beserta para nabi dan rasul yang disebutkan dalam surat Maryam ayat-ayat sebelum ayat ke 59 yakni Zakaria as, Yahya as, Isa as, Ibrahim as beserta para nabi dari keturunannya, Musa as, Harun as, Idris as, dan Nuh as – sebagaimana para nabi dan rasul lainnya – adalah  pribadi-pribadi yang ikhlas dalam menjalankan perintah Allah untuk mendapatkan ridha Allah. Kepribadian mereka dijelaskan dalam kalimat terakhir dari ayat ke 58 dalam surat yang sama:

إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَن خَرُّوا سُجَّداً وَبُكِيّاً

“Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS: Maryam [19]:58)

Namun generasi-generasi sesudah mereka menyia-nyiakan shalat tapi lebih mengutamakan hawa nafsu, kehidupan dunia dan kesenangan duniawi.

Ternyata bukan mereka saja. Umat Muhammad yang hidup di akhir zaman ini  juga melakukan hal yang sama. Ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad berikut.

Abu Said Al-Khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda: “Akan datang suatu generasi sesudah enam puluh tahun, mereka melalaikan shalat dan memperturutkan hawa nafsu, maka orang-orang ini akan menemui kecelakaan dan kerugian. Kemudian datang lagi suatu generasi, mereka membaca al-Qur’an tetapi hanya di kerongkongan (mulut) saja (tidak masuk ke hati) dan semua membaca al-Qur’an, orang mukmin, orang munafik dan orang-orang jahat dan fasik (tidak dapat lagi dibedakan mana orang mukmin sejati dan mana orang yang berpura-pura beriman).” (HR:Ahmad, Ibnu Hibban dan Hakim)

Dalam sebuah hadits lain, Rasulullah bersabda,  Abu Umamah al Bahiliy bahwa Rasulullah bersabda;  ”Ikatan-ikatan Islam akan lepas satu demi satu. Apabila lepas satu ikatan, akan diikuti oleh lepasnya ikatan berikutnya. Ikatan Islam yang pertama kali lepas adalah pemerintahan dan yang terakhir adalah shalat.” (HR: Ahmad)

Semoga di akhirat kelak, diri, keluarga, kerabat dan generasi penerus kita tidak dikumpulkan bersama Fir’aun dan Haman. Untuk itu senyampang nyawa masih dikandung badan ajak diri sendiri dan mereka untuk tidak mengabaikan shalat.

Allah telah mewajibkan shalat lima waktu kepada hamba-Nya. Kata Nabi, “Barangsiapa menunaikan shalat pada waktunya, maka di Hari Kiamat shalat itu akan menjadi cahaya dan bukti baginya. Dan barang siapa mengabaikannya, maka ia akan dikumpulkan bersama Fir’aun dan Haman.” (HR: Ibnu Hibban dan Ahmad).*


Resource Berita : hidayatullah.com
Beginilah Bantal Rasulullah, Bagaimana Bantal Kita?

Beginilah Bantal Rasulullah, Bagaimana Bantal Kita?

Bantal (ilustrasi)


WartaIslami ~ عن عائشة رضي الله عنها :كَانَ وِسَادَتُهُ الَّتِى ينَامُ عَلَيْهَا بِاللَّيْلِ مِنْ أَدَمِ حَشْوُهَا لِيْفٌ -الترمذي

Artinya: Dari Aisyah-radhiyallahu `anha-Bahwasannya bantalnya (Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam) yang mana beliau tidur di atasnya di malam hari (terbuat) dari kulit yang telah disama’, isinya daun korma. (Riwayat At Tirmidzi dan dihasankan oleh Al Hafidz As Suyuthi)

Hadits di atas menunjukkan bahwa Rasulullah Shallalahu Alaihi Wasallam memiliki kesempurnaan dalam zuhud, dan penolakan beliau terhadap dunia sekaligus perhiasannya serta berbangga terhadapnya.

Hadits di atas juga menunjukkan halalnya menggunakan bantal dan sejenisnya yang berupa alas serta tidur di atasnya. Akan tetapi para ulama menyatakan bahwa lebih utama bagi siapa saja yang sifat melasnya mendominasi, untuk tidak berlebih-lebihan dalam hal isi bantal atau alas. Karena hal itu menyebabkan banyaknya tidur dan lalai dari menyibukkan diri dari perkara-perkara kebaikan. Demikian penjelasan dari Al Allamah Abdur Ra’uf Al Munawi. (Faidh Al Qadir, 5/181)


Resource Berita : hidayatullah.com
Beredar Video Viral Lafal Allah Tampak saat Gerhana Bulan Tadi Malam di Banjarmasin

Beredar Video Viral Lafal Allah Tampak saat Gerhana Bulan Tadi Malam di Banjarmasin



WartaIslami ~ Banyak orang yang merasa kecewa karena semalam tak bisa melihat gerhana bulan Super Blue Blood Moon.

Beberapa daerah di Indonesia semalam diguyur hujan dan langit tertutup mendung.

Akibatnya beberapa orang tidak bisa mengamati fenomena langka di angkasa ini.

Namun untuk beberapa daerah yang cuacanya baik bisa dengan leluasa mengamati gerhana bulan Super Blue Blood Moon semalam.

Setelah 150 tahun, fenomena langka Supermoon kembali terjadi pada Rabu (31/1/2018).

Pada fenomena Supermoon ini, bulan menunjukkan beberapa fase.

Mulai dari gerhana total, hingga super blue moon.

Dilansir TribunStyle.com dari Huffington Post, Kamis (1/2/2018) menurut NASA, bulan akan 14 persen lebih terang dan besar dari biasanya.

Yang membuat fenomena ini menjadi semakin fenomenal lantaran terjadinya gerhana bulan total di waktu yang sama.

Artinya, supermoon dan blue moon akan melewati bayangan (umbra) bumi.

Proses gerhana bulan langka ini bisa diamati dari Indonesia secara jelas.

Tak terkecuali beberapa orang yang ada di wilayah Banjarmasin.

Mereka juga mengabadikan momen gerhana bulan langka ini tadi malam.

Setelah fenomena langka semalam ini terjadi, esoknya banyak bertebaran foto dan video gerhana bulan di media sosial.

Banyak sekali netizen yang membagikan foto dan video gerhana bulan Super Blue Blood Moon itu.

Ada satu video gerhana bulan yang menyita banyak perhatian netizen.

Video itu tak hanya menunjukkan keindahan gerhana bulan tadi malam.

Ada seperti lafal Allah yang terlihat di awan saat gerhana bulan itu terjadi.

Video ini disebarluaskan oleh akun Facebook Robi Candra Dinata pada Kamis (2/1/2018).

Postingan Robi Candra Dinata (Facebook)


Rekaman itu berasal dari akun @berkatgurukita.

Robi Candra Dinata menjelaskan bahwa video ini direkam di daerah Banjarmasin.

"Terdapat lafadz Allah saat gerhana bulan td malam ( Banjarmasin ), Masya Allah, Allahu Akbar" begitu tulis Robi Candra Dinata.

Akun instagram @berkatgurukita juga menulis caption seperti ini:

"Gerhana Super Moon. Sumber: dpt kiriman dr pangkalanbun
Sumber: Real Fotoan admin sendiri di pondok indah banjarmasin . pas admin baru datang diparkiran"

Entah video ini benar atau hanya editan semata tapi netizen telah membuatnya menjadi viral.

Baru 10 jam diunggah postingan itu sudah lebih dari 7 ribu kali dibagikan.

Bahkan video itu telah dilihat lebih dari 288 ribu kali.

Pada umumnya netizen yang berkomentar di video dan postingan itu menuliskan "Subhanallah..maha besar Allah."

Apakah kalian warga di Banjarmasin menyaksikan kejadian ini juga?

Lihat videonya berikut ini:



Resource Berita : tribunnews.com
Alhamdulillah, Mulai Februari 2018 Pramugari Tampil Menutup Aurat

Alhamdulillah, Mulai Februari 2018 Pramugari Tampil Menutup Aurat

Pramugari maskapai penerbangan PT Citilink Indonesia, Tia Khairul Nissa merasa aman dan nyaman memakai hijab di Bandara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang Aceh Besar, Rabu (31/1). 


WartaIslami ~ ACEH-Kesan pramugari cantik dengan busana yang ngepas dan lekukan tubuh, kini perlahan hilang. Tepatnya di Bumi Rencong, Aceh.

Satu diantaranya terlihat dari penampilan Tia Khairul Nissa yang tak lagi berpenampilan seksi. Kini ia merasa lebih nyaman. Pramugari Citilink Indonesia itu, sejak pekan lalu mulai berhijab.

Tia mengaku dengan berhijab dirinya lebih leluasa, bahkan terbebas dari pandangan ‘nakal’ para penumpang. Selain itu, berhijab memang kewajiban seorang muslimah.
Menurutnya, surat edaran Bupati Aceh Besar Mawardi Ali, tentang imbauan agar para pramugari berpakaian muslimah dan berhijab mulai Februari 2018 saat melayani penerbangan dari dan menuju Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM), Blang Bintang, Aceh Besar sangat membantu mereka.

“Alhamdulillah, saya merasa ini lebih nyaman dan aman. Karena kalau pakaian terbuka tidak enak,” kata Tia, Rabu (31/1/2018).

Keputusan Bupati Aceh Besar dinilainya tak menjadi beban. Bahkan Tia mengaku sangat mendukung keputusan tersebut.

“Aceh negeri Serambi Mekah, ya saya sangat mendukung dengan aturan itu. Pramugari yang lain juga responnya baik,” sebut Tia. “Tidak keberatan sama sekali, ini hal baik bagi kami,” ungkapnya.

Dengan adanya kebijakan itu, sangat membantu kita dalam melayani tamu. Setiap masuk tamu kita mengucapkan salam di awal, lalu dengan penampilan seperti ini, penumpangnya juga lebih ramah lebih menghormati. Misalnya sedikit terbuka kan juga tidak enak, tamu melihat kita berbeda,” katanya.
Bupati Aceh Besar, Mawardi Ali mengatakan akan terus memantau maskapai. Bila ada maskapai yang tidak indahkan imbauan tersebut, maka akan dibagikan hijab gratis bagi pramugari.

“Bila mereka tidak taati, kita terus berikan surat. Bila tidak indahkan aturan ini, maka akan dibagikan jilbab gratis untuk pramugari bila maskapai tidak mampu belikan jilbab,” sebutnya.

Katanya, sejauh ini semua maskapai menaati himbauan wajib pakaian muslimah dan jilbab bagi pramugari. “Saya tadi ketemu langsung dengan pimpinan maskapai penerbangan di bandara. 1 Febuari, Garuda gunakan hijab, Lion Air tinggal pemesan. Tidak ada persoalan saat ini,” disebutnya.


Resource Berita : pojoksatu.id
Inilah yang Dilakukan Ulama Besar saat Bertemu Guru Ngajinya Waktu Kecil

Inilah yang Dilakukan Ulama Besar saat Bertemu Guru Ngajinya Waktu Kecil



WartaIslami ~ IMAM SYAMSUDDIN AD DIMYATHI adalah ulama shalih dari Mesir yang mensyarah Al Minhaj An Nawawi yang wafat 921 H.

Meski seorang ulama besar di zamannya, namun Imam Syamsuddin Ad Dimyathi sangat tawadhu bagi siapa saja yang telah mengajarinya di waktu kecil.

Dimana suatu saat Imam Syamsuddin Ad Dimyathi bersama muridnya, Imam Abdul Wahhab Asy Sya’rani, melakukan perjalanan, namun sang guru segera turun dari kendaraan lalu mencium tangan seorang yang buta yang sedang dituntun anak perempuannya.

Lalu Imam Syamsuddin mengatakan kepada muridnya,”Ia telah membacakan kepadaku Al Qur`an dua hizb waktu aku masih kecil. Aku tidak mampu melawatinya sedangkan aku menunggangi kendaraan”. (Thabaqat Al Kubra, 2/ 323)


Resource Berita : hidayatullah.com
Inilah Orang yang Paling Berbakti kepada Orang Tua di Kufah

Inilah Orang yang Paling Berbakti kepada Orang Tua di Kufah



WartaIslami ~ Di Kufah waktu itu, tidak ada orang yang baktinya kepada orang tua lebih besar daripada Manshur bin Al Mu’tamir dan Imam Abu Hanifah.

Manshur bin Al Mu’tamir rajin mencari kutu yang tinggal di kepala ibunya. Sedangkan Imam Abu Hanifah bersedekah atas nama kedua orang tuanya setiap hari Jum’at sebanyak 20 dirham, 10 untuk sang ayah dan 10 untuk sang  ibu. Sedekah itu diberikan kepada para fakir.

Sedekah itu sendiri di luar sedekah yang diatasnamakan Imam Abu Hanifah kepada kedua orang tuanya di waktu-waktu lainnya. (Manaqib Imam Abi Hanifah li Al Qurdi, 5/2)


Resource Berita : hidayatullah.com
Untuk Apa Diciptakan Lalat? Inilah Jawaban Imam As Syafi’i

Untuk Apa Diciptakan Lalat? Inilah Jawaban Imam As Syafi’i



WartaIslami ~ Imam As Syafi’i kala itu duduk bersama Khalifah Al Ma’mun. Namun tiba-tiba Al Ma’mun bertanya kepada Imam As Syafi’i,”Wahai Muhammad, untuk Allah menciptakan lalat?”

“Untuk menghinakan para raja wahai Amirul Mu’minin.” Jawaban yang tiba-tiba terbesit di pikaran Imam As Syafi’i itu disampaikan.

Al Ma’mun pun tertawa. “Engkau menyaksikan ada seekor lalat hinggap di pipiku?” Tanya Al Ma’mun.

“Benar Amirul Mu’minin. Anda bertanya kepada saya namun saya tidak memiliki jawaban. Dan hal itu membuatku tersentak. Dan ketika aku menyaksikan ada seekor lalat hinggap di tempat yang tidak bisa disuntuh oleh siapa saja meski ia didukung oleh ratusan ribu pedang dan anak panah, maka dari itu aku pun memperoleh jawabannya.”

Khalifah Al Makmun pun menyampaikan rasa takjubnya dengan kecerdasan Imam As Syafi’i. (Manaqib As Syafi’i li Al Baihaqi, 1/156)


Resource Berita : hidayatullah.com
Mengusir Kantuk Cara Wanita Ahli Ibadah

Mengusir Kantuk Cara Wanita Ahli Ibadah



WartaIslami ~ Muadzah Al Adawiyah adalah ahli ibadah yang hidup semasa dengan Rabi’ah Al Adawiyah. Wanita ahli ibadah ini selalu menghidupkan malam dengan mendirikan shalat.

Seorang wanita yang berkhidmat kepada Muadzah mengkisahkan bahwa Muadzah Al Adawiyah menghidupkan malam dengan shalat. Jika datang rasa kantuk, maka ia bangkit dan berjalan berkeliling di dalam rumah sambil berakata,”Wahai jiwa! Tidur ada di hadapanmu! Kalau engkau telah wafat maka benar-benar panjang tidurmu di kubur dengan kerugian atau kegembiraan!”

Muadzah Al Adawiyah mengucapkan kata-kata tersebut hingga datang waktu fajar. (Thabaqat As Shufiyah, hal. 391)


Resource Berita : hidayatullah.com
Orang Shalih Tukang Bawa Sandal Para Sahabatnya

Orang Shalih Tukang Bawa Sandal Para Sahabatnya



WartaIslami ~ SYEIKH ABU FADHL AL AHMADI adalah orang shalih wali Allah sahabat dari Imam Abdul Wahab Asy Sya’rani. Syeikh Abu Fadhl merupakan ahli ibadah yang tawadahu, dimana beliau selalu menyediakan makanan dan pakaian para sahabatnya.

Bahkan Syeikh Abu Fadhl memberikan pelayanan kepada seluruh sahabatnya. Imam Abdul Wahab Asy Sya’rani menyatakan,”Ketika kami melakukan perjalanan ke piramid di Giza atau ke tempat lainnya ia membawakan sandal-sandal semua sahabatnya di dalam sebuah wadah kulit di atas pundaknya. Siapa menolak maka ia bersumpah atas nama Allah Ta’ala, sampai ia bisa membawakan sandalnya.” (Thabaqat As Sya’rani, 2/306)


Resource Berita : hidayatullah.com
Nikmatnya Dzikrullah, Jari Putus Tak Terasa Sakit

Nikmatnya Dzikrullah, Jari Putus Tak Terasa Sakit



WartaIslami ~ MUWAFFAQAH AL MAUSHILIYAH adalah wanita ahli ibadah di kalangan tokoh-tokoh besar kaum sufi.

Fath Al Maushili mengisahkan mengenai wanita ini, bahwa suatu saat ia jatuh dan jari jempolnya pun putus, namun ia malah tertawa.

Saat itu ada yang terheran dan bertanya,”Jarimu putus, sedangkan engkau malah tertawa?”

Muwaffaqah pun menjawab,”Manisnya mengingat-Nya, telah menghilangkan dari hatiku rasa sakitnya.” (Al Kawakib Ad Durriyah, 1/467)


Resource Berita : hidayatullah.com
Menyembunyikan Sedekah Cara Syeikh Zakariya Al Anshari

Menyembunyikan Sedekah Cara Syeikh Zakariya Al Anshari



WartaIslami ~ SYEIKH AL ISLAM ZAKARIYA AL ANSHARI didatangi seorang syarif (keturunan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam) dan berkata,”Wahai tuanku, sorbanku telah diambil orang tadi malam, berikanlah aku uang untuk membelinya.”

Saat itu, Syeikh Zakariya Al Anshari pun memberikan sejumlah uang, namun sang syarif mengembalikan uang itu, dan Syeikh Zakariya menerima kambali uangnya.

Syeikh Abdul Wahhab Asy Sya’rani murid Syeikh Zakariya pun menympaikan kepada sang guru,”Uang itu tidak cukup untuk membeli sorban.”

Syeikh Zakariya pun menjawab,”Yang saya tidak kehendaki adalah, syarif itu datang saat ada banyak orang, sedangkan Allah telah memberikan kepadaku kecintaan untuk bersedekah secara tersembunyi. Kalau sekiranya waktu itu tidak ada orang, maka aku akan memberikan kepadanya uang yang cukup untuk membeli sorban atau yang lebih banyak dari itu, demi kakeknya, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.”

Setelah kejadian itu, Syeikh Abdul Wahhab Asy Sya’rani pun bertemu dengan sang syarif, lalu ia pun menyampaikan kepada sang syarif perihal apa yang dilakukan gurunya, Syaikh Zakariya Al Anshari.

Sang syarif pun berkata,”Sesungguhnya Syeikh telah mengirim untukku sorban pada malam harinya. Inilah dia, ada di atas kepalaku.” (Lawaqih Al Anwar Al Qudsiyyah, hal.147)



Resource Berita : hidayatullah.com
Sembilan Mukjizat Musa

Sembilan Mukjizat Musa



WartaIslami ~ JIKA Allah Subhanahu Wata’ala menyebutkan sesuatu secara berulang-ulang dengan ulangan yang begitu banyak, pasti ada pesan yang amat sangat penting yang hendak disampaikanNya. Salah satu yang disebut sangat banyak itu adalah tentang Musa Alaihi Salam – yang penyebutannya di Al-Qur’an sampai sekitar 190-an kali. Ada apa dengan Nabi yang diajak bicara langsung oleh Allah di lembah yang suci Thuwa ini? Ada apa dengan 9 mukjizatnya? Ternyata semuanya amat sangat relevan dengan kehidupan di umat akhir Jaman ini.

Saya pernah menulis tentang Ekonomi Tsamudian – ekonominya bangsa Tsamud– yaitu ekonomi yang hanya dikuasai segelintir kelompok – 9 orang yang berbuat kerusakan di muka bumi (QS 27:48). Bukankah yang mengusai ekonomi kita juga tidak lebih dari 9 orang atau kelompok ini? Bahkan mereka sendiri yang membuat istilah untuk kelompoknya ini?

Bila untuk Kaum Tsamud diturunkan Nabi Saleh, untuk bangsa Mesir yang sudah sangat maju pada jamannya – kita bisa lihat peninggalan-peninggalannya hingga kini, ketika yang memimpin adalah Fir’aun kemajuan itu juga menimbulkan begitu banyak kerusaan dan kedzaliman. Oleh karenanya dibutuhkan Nabi sekelas Musa – yang diajak bicara langsung oleh Allah di lembah suci Thuwa. Dialog ini diabadikan dalam puluhan ayat yang sangat indah di Surat Thaha mulai ayat 11.

Bukan hanya diajak bicara langsung, Musa juga diberi sampai Sembilan Mukjizat untuk menaklukkan Fir’aun dan kaumnya (QS 17: 101). Menurut Ibnu Kathir 9 Mukjizat ini adalah terkait tongkatnya (QS 17 :17-21), tangannya (QS 17:22) , laut (QS 2:50 dan sejumlah ayat lainnya), kemarau yang sangat panjang (QS 7 : 130-132) dan selebihnya terkait lima hal yang disebut di Al-A’raf 133 yaitu angina topan, belalang, kutu, katak dan darah – air minum yang berubah menjadi darah.

Mukjizat nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  – berupa Al-Qur’an – yang didalamnya mengandung seluruh mukjizat Nabi-Nabi sebelumnya. Dan ini tentu diperlukan untuk menghadapi segala urusan kehidupan umat akhir jaman ini yang jauh lebih sophisticated ketimbang jamannya Fir’aun sekalipun.

Tetapi sebesar apapun urusan yang kita hadapi, apakah itu ekonomi, politik, budaya, pemikiran, kemajuan teknologi dlsb. metode untuk menghadapinya tetap merujuk pada petunjuk yang sama – yaitu Al-Qur’an. Dan hanya dengan Al-Qur’an yang tidak hanya dibaca dan dipahami tetapi juga dijadikan petunjuk dan nasihat/pelajaran inilah umat ini akan bisa mengalahkan apapun yang dihadapinya (QS 3:138-139).

Nah coba kita lihat aplikasinya dengan petunjuk yang terkait dengan Musa tersebut di atas. Sebelum diutus untuk menghadapi Fir’aun (QS 20 : 24), Musa dipanggil dahulu untuk menghadap langsung ke Allah di lembah suci Thuwa. Lalu Allah bertanya apa yang dimiliki Musa di tangan kanannya, “Dan apakah yang ada di tangan kananmu wahai Musa ?” (QS 20:17).

Mengapa Allah pakai bertanya, sedangkan  Dia Yang Maha Tahu? Pertanyaan ini tentu bukan untuk Allah sendiri. Ini bahasa Al-Qur’an yang karakternya sebagai huda atau petunjuk, jadi pertanyaan tersebut agar menjadi petunjuk bagi kita yang membacanya. Apa isi petunjukNya itu?


Ini bisa ditadaburi dari ayat-ayat sesudahnya. Ketika Musa mulai menjelaskan apa yang dia milikinya – yaitu tongkat biasa, yang dengan itu dia bersandar, merontokkan daun untuk memberi makan kambingnya dan perbagai keperluan lainnya (QS 20:18), maka berangkat dari yang sudah dimiliki Musa inilah – Allah angkat kepemilikannya menjadi tongkat serbaguna yang kelak dibutuhkan dalam perjalanan menghadapi Fir’aun.

Tongkatnya bisa menaklukkan sihir ular para penyihir Fir’aun, bisa digunakan untuk membelah laut menyelamatkan kaumnya dan menenggelamkan Fir’aun dan bala tentaranya. Dan bagi kaumnya sendiri, tongkat Musa juga bisa untuk memukul batu  dan menghadirkan 12 mata air bagi dua belas suku pengikutnya (QS 2:60).

Intinya adalah apapaun kekuatan di luar sana, ekonomi, politik, teknologi, pemikiran dlsb. insyaAllah akan bisa kita hadapi, tetapi untuk menghadapinya kita tidak bisa hanya dengan mengandalkan apa yang kita punya – apalagi kalau kita tidak memiliki apa-apa, setelah kita punya sesuatupun untuk mulai (sesuatu ini sebut saja Tongkat Musa) – kita tentu juga butuh agar Dia juga hadir dalam apapun perjuangan kita.

Sebagaimana Musa yang tidak mungkin menghadapi Fir’aun bila hanya dengan tongkatnya yang semula dia miliki saja, demikian pula perjuangan kita di bidang apapun – kita tidak akan pernah unggul bila hanya dengan mengandalkan apa yang kita miliki, kita butuh pertolonganNya untuk meng-upgrade  yang sudah kita miliki tersebut.

Bila Musa diupgrade Allah dengan dipanggil langsung dan berbicara denganNya, kita sudah dipanggil berulang-ulang olehNya untuk mendekat. Kita disuruhNya Sholat untuk mengingatNya ( QS 20:14), kita diberi petunjuk untuk minta pertolonganNya dengan sabar dan sholat (QS 2:45 dan 2:153).

Selain membangun kekuatan mulai dari apa yang kita miliki di bidang kita masing-masing, mohon pertolonganNya untuk meng-ugrade terus menerus kekuatan itu, kita juga diajari oleh Allah melalui Musa untuk berdakwah yang penuh kelembutan – terhadap Fir’aun sekalipun.

ٱذۡهَبۡ أَنتَ وَأَخُوكَ بِـَٔايَـٰتِى وَلَا تَنِيَا فِى ذِكۡرِى (٤٢) ٱذۡهَبَآ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ إِنَّهُ ۥ طَغَىٰ (٤٣) فَقُولَا لَهُ ۥ قَوۡلاً۬ لَّيِّنً۬ا لَّعَلَّهُ ۥ يَتَذَكَّرُ أَوۡ يَخۡشَىٰ (٤٤)

“Pergilah engkau beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayatKu (tanda-tanda kekuasaanKu), dan janganlah kamu berdua lalai terhadapKu. Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, karena dia telah benar-benar melampaui batas. Dan berbicaralah kamu kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar dan takut” (QS Toha [20]: 42-44).

Maka dari rangkian ayat-ayat mukjizat Musa tersebut di atas, kita bisa langsung introspeksi bila perjuangan kita di bidang apapun – belum bisa mengalahkan kekuatan jaman ini. Apa intropeksinya? Minimal di lima hal berikut  yang harus ada di check list kita.

  • Apakah kita sudah memulainya dari apa yang kita miliki atau ‘Tongkat Musa’ kita sendiri?
  • Apakah kita sudah menghadirkan pertolonganNya sehingga kita bisa bener-benar unggul diapa yang kita miliki tersebut?
  • Apakah kita sudah terus menerus mengingatNya?
  • Apakah kita sudah membentuk team yang kuat untuk mendampingi perjuangan kita?
  • Apakah kita sudah berlemah lembut dalam mengkomunikasikan apapun yang hendak kita sampaikan?

Kalau semuanya sudah, barulah kita insyaAllah siap untuk idzhab ila Fir’auna innahu thoghoo – di bidang kita masing-masing!

Penulis adalah Direktur Gerai Dinar



Resource Berita : hidayatullah.com
Al Samaha, Desa Khusus Wanita di Mesir, Pria Dilarang Masuk

Al Samaha, Desa Khusus Wanita di Mesir, Pria Dilarang Masuk



WartaIslami ~ Terletak sekitar 120 kilometer dari kota di Mesir selatan, Al Samaha adalah satu-satunya desa yang didedikasikan untuk para wanita, khususnya para janda, ibu tunggal dan anak-anak.

Pria tidak diijinkan memasuki desa. Jika ada wanita di desa yang sudah menikah, mereka akan disarankan keluar dari Al Samaha, tulis Al Arabiya English Ahad, (28/01/2018).

Ditempati  sekitar 303 ibu tunggal, desa ini terletak di tengah gurun di Edfu, dua jam perjalanan dari Aswan.

Dengan ratusan rumah, sebagian besar penduduknya terpinggirkan oleh masyarakat setelah musibah kematian atau perceraian mereka.

Pada tahun 1998 Kementerian Pertanian Mesir mengembangkan sebuah proyek desa kepada para ibu tunggal dengan menyediakan lahan yang memungkinkan mereka memelihara unggas dan ternak sebagai sumber pendapatan. Termasuk beternak ayam, dan kambing.

Di tempat ini, semua tanaman dapat tumbuh dengan kecuali tebu, dan jika terjadi pelanggaran, wanita tersebut tidak lagi diberi pupuk.


Koordinator proyek tersebut, Hamdi Al-Kashef, mengatakan hanya perempuan dan anak-anak yang boleh tinggal di desa tersebut, dan setiap keluarga menyediakan rumah dan enam hektar lahan pertanian, serta bantuan masyarakat internasional.

Semua keluarga juga dilengkapi dengan perabotan dan keperluan pertanian, serta beberapa pinjaman jangka pendek

“Proyek desa dimulai pada tahun 1998 ketika Kementerian Pertanian memutuskan untuk mengalokasikan dua desa baru kepada perempuan dan janda yang bercerai, ” kata Hamdi Al-Kashef,  kepada Al Arabiya.

Semua keluarga juga dilengkapi dengan perabotan dan keperluan pertanian, serta beberapa pinjaman jangka pendek. Pembangunan rumah bertingkat didanai melalui subsidi pemerintah, dan warganya diperbolehkan melakukan pembayaran secara angsuran.

Hamdi mengatakan saat wanita itu sudah menikah, semua tanah dan rumah akan dikembalikan kepada pemerintah untuk diserahkan ke ibu tunggal lain yang membutuhkan.

Proyek ini bertujuan untuk melestarikan masa depan bagi mereka yang kehilangan anggota keluarga mereka, dan untuk membantu perempuan yang kini menjadi pencari nafkah tunggal untuk anak-anak mereka.

“Proyek ini bertujuan untuk menjaga masa depan orang-orang yang kehilangan keluarga mereka dan untuk mendukung perempuan yang sekarang menjadi satu-satunya harapan anak-anak mereka,” katanya.

Ketua Asosiasi Wanita Selatan di Aswan, Safinaz Ibrahim mengatakan bahwa desa tersebut mewakili kekuatan wanita Mesir yang mampu menanggung beban tugas berat.

“Mereka tinggal di padang pasir di lingkungan yang sangat sulit, tanpa kebutuhan dasar. Tapi mereka bisa melewati semua tantangan ini untuk membesarkan anak-anak mereka, “katanya.*


Resource Berita : hidayatullah.com
close
Banner iklan disini